• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENERIMA PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kondisi Geografis

KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENERIMA PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

Tingkat Pendidikan

Karakteristik sosial ekonomi penerima program dapat dilihat dari tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan responden dalam penelitian ini dilihat dari sekolah formal terakhir yang pernah diikuti responden. Tingkat pendidikan penerima program pembinaan dan pendampingan UMKM CSR PT Aneka Tambang Tbk Unit Pascatambang Cikotok mayoritas tidak tamat SD bahkan ada juga responden yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. Berikut jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan.

Tabel 9 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan

Kategori n %

Rendah (Tidak Tamat SD/TamatSD) 22 91.7

Tinggi (Tamat SMP/SMA) 2 8.3

Jumlah 24 100.0

Tabel 9 menunjukkan tingkat pendidikan penerima program adalah tidak tamat SD yaitu pada kategori rendah dengan persentase sebesar 91.7 persen. Terdapat 8.3 persen penerima program yang berada pada kategori tinggi yaitu tamatan SMP dan SMA. Pengelompokkan tingkat pendidikan hasil penelitian ini berdasarkan fakta di lapangan. Tingkat pendidikan formal responden tergolong rendah disebabkan pada waktu dahulu akses pendidikan sulit. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan responden berikut.

“...Ah neng, Bapak mah boro-boro. Tamat SD oge henteu. Baheula mah hararese arek sakola oge.”(JY, 60 tahun).

Selain itu juga ada responden yang tidak pernah sama sekali mengenyam bangku pendidikan formal, hal ini dibuktikan dengan pernyataan responden berikut.

“...Bapa mah teu pernah sakola neng. teu pernah ngarasakeun sakola kumaha. Asup SD geh henteu.”(PN, 64 tahun)

Tingkat Pendapatan

Karakteristik ekonomi penerima program dapat dilihat dari tingkat pendapatan. Tingkat pendapatan merupakan pemasukan uang yang diterima oleh keluarga yang berasal dari usaha yang sedang dijalankannya. Kategori tingkat pendapatan dibagi menjadi dua yakni rendah dan tinggi. Kategori tinggi jika pendapatan responden diatas Rp2 600 000. Sedangkan kategori rendah jika pendapatan responden dibawah Rp2 600 000. Rata-rata pendapatan responden yaitu Rp2 000 000 per bulan dari hasil usaha yang dijalankannya selama

responden mengikuti program pendampingan dan pembinaan UMKM. Berikut adalah hasil tingkat pendapatan responden.

Tabel 10 Jumlah dan persentase tingkat pendapatan penerima program pendampingan dan pembinaan UMKM CSR PT Aneka Tambang Tbk Unit Pascatambang Cikotok

Kategori n %

Rendah 9 37.5

Tinggi 15 62.5

Jumlah 24 100.0

Tabel 10 menunjukkan bahwa pendapatan penerima program sebagian besar termasuk dalam kategori tinggi dengan persentase sebesar 62.5 persen. Sedangkan responden dengan kategori rendah dengan persentase sebesar 37.5 persen. Pendapatan yang ditanyakan oleh peneliti adalah pendapatan yang didapatkan dari hasil usaha pendampingan dan pembinaan UMKM, bukan dari hasil yang lain. Pendapatan mereka memang tidak bisa dipastikan setiap bulannya, karena tergantung produksi yang dihasilkan oleh responden dan juga tergantung dengan permintaan pasar. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut:

“...Berapa ya neng, soalnya tidak tentu. Jadi tidak bisa dipastikan. Kalo permintaan banyak berarti dapat untungnya banyak, tapi kalo permintaan pasar sedikit, jadi sedikit juga untungnya. Tapi memang ada perbedaan sih sebelum sama sesudah adanya pendampingan dari Antam. Alhamdulillah aja. Sebelum ada pendampingan kira- kira pendapatan ibu kalo di total sekitar Rp500.000, tapi setelah ada pendampingan Alhamdulillah jadi Rp3.000.000 soalnya dibantu pemasarannya neng. Tapi sekarang setelah gak aktif lagi, ibu juga jarang bikin keripik lagi neng. (AD, 54 tahun)

Namun, selain pernyataan diatas, ada juga responden yang mengatakan bahwa pendapatannya tidak ada perbedaannya, sebelum dan sesudah adanya pendampingan. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden sebagai berikut.

“...Ah enggak ada bedanya neng, segitu-gitu aja, sebelum aya pendampingan pendapatan Bapak tinu nyadap gula paling mun ditotal Rp500.000, setelah aya pendampingan oge mun ditotal Rp500.000 wae neng, da gula mah kumaha menang loba

henteuna”(SP, 40 tahun)

Dari kedua pernyataan responden tersebut memiliki perbedaan pendapatan. Berdasarkan data di lapangan, responden yang kedua memang tidak ikut rutin setiap kegiatan yang diadakan oleh PT Aneka Tambang Tbk Unit Pascatambang Cikotok. Responden tersebut hanya ikut di awal-awal saja, tanpa mengikuti kelanjutan program.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Karakteristik sosial penerima program dapat dilihat dari jumlah tanggungan keluarga. Pengkategorian jumlah tanggungan keluarga dibagi menjadi rendah dan tinggi. Data tersebut digolongkan berdasarkan fakta di lapangan. Kategori rendah adalah keluarga yang memiliki jumlah tanggungan keluarga kurang dari tiga orang. Kategori tinggi adalah keluarga yang memiliki jumlah tanggungan keluarga lebih dari dan sama dengan tiga orang.

Tabel 11 Jumlah dan persentase responden menurut jumlah tanggungan keluarga

Kategori n %

Rendah 5 20.9

Tinggi 19 79.1

Jumlah 24 100.0

Tabel 10 menunjukkan jumlah tanggungan keluarga responden termasuk dalam kategori tinggi dengan persentase 79.1 persen. Jumlah anggota keluarga yang masih manjadi beban tanggungan rata-rata sebanyak 4 orang (berada pada kategori tinggi).

Motif Berwirausaha

Motif berwirausaha merupakan alasan responden memulai usaha mereka. Motif berwirausaha digolongkan menjadi dua yaitu dikategorikan rendah jika ikut-ikutan berwirausaha karena melihat keberhasilan usaha orang lain dan dikategorikan tinggi jika karena kesadaran sendiri untuk meningkatkan pendapatan/kesejahteraan hidup.

Tabel 12 Jumlah dan persentase responden menurut motif berwirausaha

Kategori n %

Rendah 1 4.1

Tinggi 23 95.9

Jumlah 24 100.0

Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa lebih banyak responden yang memulai usaha karena kesadaran sendiri untuk meningkatkan pendapatan mereka (95.84 persen). Tingkat pendidikan responden yang rendah membuat keahlian yang mereka miliki terbatas, sehingga mereka tidak bisa bekerja di lapangan pekerjaan formal dan memilih untuk membuka usaha sendiri. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden berikut.

“...Ibu pengen kerja neng tapi bingung mau kerja apa, soalnya kan ibu mah pendidikan aja rendah. Makanya ibu milih untuk usaha tempe. (SH, 54 tahun)

Dari seluruh responden, hanya satu yaitu Ibu PL yang mengatakan memiliki motif berwirausaha karena ikut-ikutan meilihat keberhasilan usaha kakaknya. Awalnya beliau tidak memiliki ketertarikan dalam berwirausaha, hanya saja melihat kakaknya yang memiliki usaha tempe, akhirnya Ibu PL sejak kecil diajarkan bagaimana membuat tempe. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden berikut.

“...Iya neng, dulu ibu ikut-ikutan kakak aja pengen nyoba. Soalnya sekolah aja enggak tamat. Kalo mau kerja yang lain kan susah ya neng. Makanya Ibu ikut belajar usaha sama Kakak, dan sekarang kan ada pendampingan juga dari Antam tapi Ibu mah kurang aktif neng, males kumpul-kumpulnya.” (PL, 59 tahun)

Pengalaman Berwirausaha

Pengalaman berwirausaha merupakan lamanya responden menjadi wirausaha. Pengalaman berwirausaha digolongkan menjadi dua kategori yaitu rendah dan tinggi. Dikategorikan tinggi jika pengalaman berwirausaha lebih besar atau sama dengan 30 tahun dan dikategorikan rendah jika pengalaman berwirausaha kurang dari 30 tahun.

Tabel 13 Jumlah dan persentase responden menurut pengalaman berwirausaha

Kategori n %

Rendah 8 33.3

Tinggi 16 66.7

Jumlah 24 100.0

Berdasarkan tabel 13, sebanyak 16 orang atau 66.7 persen tergolong kategori tinggi. Hal ini dikarenakan pelaku UMKM memiliki pengalaman berwirausaha cukup lama. Pengalaman berwirausaha menjadi modal tersendiri bagi pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya. Hal ini dibuktikan oleh pernyataan responden berikut.

“...Atuh neng, bapa mah sebelum ada pendampingan dari Antam juga udah punya usaha, Bapa mah mulai nyadap tahun 1963 sampai ka ayena. Ti bujangan keneh tos mulai nyadap. Tapi ayena mah emang beda neng, tadina kan Bapa bikin gula biasa, ayena mah bikin gula semut, diajarkeun ku pendamping ti Antam sareng UGM”(AH, 65 tahun)

Selain pernyataan responden AH, ada juga pernyataan dari responden RS sebagai berikut.

“...Bapak baheula ngen tamat sakola SD. Mulai jualan pangsit ti tahun 1975 nepi ka ayena. Ti mulai make alat tradisional anu sorangan sampai

PERAN PENDAMPING PROGRAM