• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Usaha Budidaya Jamur Tiram

Karakteristik usaha pengolahan limbah bag log dilihat dari beberapa aspek. Aspek tersebut antara lain sumber bahan baku, proses produksi, skala usaha, dan rantai pemasaran. Aspek-aspek ini merupakan indikator yang dapat menggambarkan karakteristik usaha.

Sumber Bahan Baku

< 6 Tahun 13% 6 - 15 Tahun 10% 16 - 25 Tahun 32% 26 - 35 Tahun 22% > 35 tahun 23% < 500 m 58% 500 - 1.500 m 42%

42

Bahan baku yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah bag log

yang terbuat dari serbuk gergaji. Bag log berfungsi sebagai media tanam jamur tiram. Bag log ini kemudian akan diisi dengan bibit jamur yang kemudian akan dimasukkan ke dalam ruang pemeliharaan. Pelaku usaha biasa membeli bibit jamur seharga Rp 1.800 untuk pemakaian terhadap 10 bag log. Untuk bag log

jamur sendiri, pelaku usaha membuat bag log sendiri tidak seperti usaha lain yang membeli bag log jadi maupun bag log yang sudah di beri bibit jadi. Bahan baku membuat bag log di antaranya serbuk gergaji, kapur, gips, dedak, tepung jagung, dan air. Biaya untuk membeli serbuk gergaji sebanyak 100 kg adalah Rp 4.000, kapur Rp 1.000/kg, gipsum seharga Rp 45.000 untuk 25 kg, dedak Rp 2.100 – Rp 2.500/kg, dan tepung jagung Rp 5.000/kg.

Proses Produksi

Proses produksi pembuatan jamur tiram terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan. Proses yang dilakukan merupakan tahapan seperti penyaringan serbuk gergaji, proses pencampuran bahan, pengemasan media, sterilisasi, inokulasi, inkubasi dan tahapan penumbuhan. Uraian kegiatan yang dilakukan dalam proses budidaya jamur tiram adalah sebagai berikut:

1. Penyaringan serbuk gergaji

Sebelum digunakan serbuk gergaji terlebih dahulu harus melalui proses penyaringan. Hal ini bertujuan untuk memisahkan serbuk gergaji yang kasar dengan serbuk gergaji yang halus. Proses penyaringan umumnya menggunakan kawat kasa bagi usaha berskala kecil atau mesin pengayak bagi usaha skala besar. 2. Proses pencampuran bahan

Bahan baku dicampur dengan persentase dedak 15 persen dan kapur 25 persen. Campuran ini kemudian dilembabkan dengan air 60 – 70 persen. Proses pencampuran dilakukan secara manual dengan tangan dan dengan alat seperti sekop, cangkul, atau mixer.

3. Pengemasan media

Media produksi dimasukkan ke dalam plastik polipropilen dengan ukuran 17x25 cm, 17x30 cm atau 18x30 cm masing-masing dengan kepadatan tertentu. Media yang kurang padat akan menyebabkan hasil panen yang tidak optimal

43 karena media cepat busuk sehingga produktifitas akan rendah, untuk menghindari hal tersebut dalam proses pewadahan adonan dalam plastik dipadatkan atau dipress dengan menggunakan botol, kayu, atau ditekan dengan tangan.

4. Sterilisasi

Setelah media dipadatkan maka proses selanjutnya adalah sterilisasi. Sterilisasi merupakan proses yang dilakukan untuk menonaktifkan mikroba yang dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80º-90ºC selama 6-8 jam. Setelah itu bag log jamur kemudian ditumpuk dan didiamkan selama 12 jam dalam ruang pendingin yang kemudian juga berfungsi sebagai ruang inokulasi.

5. Inokulasi

Inokulasi merupakan kegiatan memindahkan sejumah kecil miselium jamur ke dalam media tanam yang telah disediakan. Inokulasi dilakukan dalam ruangan yang steril untuk mencegah masuknya bakteri. Setelah diinokulasi bag log kemudian disumbat kapas dan dipindahkan ke ruang inkubasi.

6. Inkubasi

Inkubasi merupakan proses menempatkan bag log yang telah diisi bibit jamur ke dalam ruangan dengan kondisi tertentu agar miselium dapat memutih dan penuh dengan sempurna. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan miselium jamur sekitar 22-28°C dengan kelembaban 60–70 persen. Inkubasi dilakukan sampai seluruh permukaan dalam bag log berwarna putih merata. Media akan tampak putih merata antara 40-60 hari sejak dilakukan inokulasi.

7. Penumbuhan

Media tumbuh jamur yang sudah putih oleh miselia jamur sudah siap untuk dilakukan penumbuhan tubuh buah jamur dengan cara membuka plastic media tumbuh yang sudah penuh miselia. Satu sampai dua minggu setelah media dibuka akan tumbuh bakal buah. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut akan tumbuh optimal selama 2-3 hari. Kondisi suhu optimal dalam proses pertumbuhan tubuh buah adalah pada suhu 16-22ºC dengan kelembaban 80-90 persen. Setelah itu dilakukan pemanenan lima hari setelah bakal buah tumbuh. Ukuran jamur yang sudah siap dipanen adalah dengan diameter 5-10 cm.

44

Skala Usaha

Penentuan skala usaha home industry budidaya jamur dapat dilihat dari beberapa aspek manajemen dan keuangan, tenaga kerja, dan modal. Aspek manajemen dan keuangan menurut Partomo dan Soejoedono (2004) usaha kecil dari segi manajemen pemilik usaha yang juga bertindak sebagai pengelola, tidak adanya perencanaan tertulis dalam menjalankan usaha, kurang adanya pencatatan atau pembukuan dan sangat tergantung dari pelanggan dan pemasok di sekitar usaha. Aspek jumlah tenaga kerja yang ada pada home industry ini terdiri dari empat orang. Menurut Anderson dalam Partomo dan Soejoedono (2004), usaha kecil adalah usaha yang memiliki tenaga kerja yang berkisar antar 1-9 orang. Tenaga kerja yang berjumlah empat orang ini dua diantaranya merupakan pekerja tetap (laki-laki dan perempuan) sedangkan dua lainnya pekerja honorer (laki-laki) yang bertugas membuat bag log dan melakukan pembibitan. Sistem gaji untuk pekerja tetap laki-laki Rp 500.000/bulan sedangkan untuk perempuan Rp 300.000/bulan. Pekerja honorer pembuatan bag log digaji Rp 50/log dan tenaga kerja pembibitan Rp 75/log. Modal home industry ini diperoleh dari iuran anggota dan bantuan dari pemerintah. Berdasarkan sistem usaha yang dikelola sendiri, tenaga kerja yang terdiri dari empat orang, dan modal yang kecil maka home industry ini termasuk usaha skala kecil.

Pemasaran Produk

Di dalam memasarkan produk jamur tiram putih, home industry Cijulang Asri bersama-sama dengan pelaku budidaya jamur tiram lainnya melakukan kerjasama dengan tengkulak. Kerjasama tersebut dilakukan agar distribusi hasil panen terjamin. Tengkulak tersebut biasanya menjual kembali ke pedagang pasar di daerah Cisarua, Bogor, Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

Dokumen terkait