• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 GAMBARAN UMUM DAN HASIL ESTIMASI MODEL EKONOMETRIKA

KOMODITAS NON PERTANIAN

4. Karet dan Kelompoknya (SITC 23)

Karet merupakan komoditas ekspor utama dalam pertanian non pangan, sehingga perilakunya dianalisis secara terpisah. Sebagai produsen karet terbesar di dunia bersama Thailand, tentu impor karet Indonesia sangat kecil, biasanya karet sintetis. Oleh karena itu pembahasan lebih banyak pada ekspor karet Indonesia. Ekspor karet Indonesia dipengaruhi oleh fluktuasi harga karet dunia. Ketika harga karet dunia meningkat, sementara harga produsen di Indonesia relatif tidak berubah, maka daya saing ekspor karet Indonesia meningkat. Dengan kata lain, karet Indonesia memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage). Dalam kasus ini permintaan impor karet dari Indonesia meningkat.

Koefisien tarif impor dalam persamaan ekspor karet Indonesia, tidak signifikan. Ini menunjukkan bahwa meskipun penghapusan tarif diprediksi meningkatkan kinerja ekspor karet, namun peningkatannya tidak signifikan. Variabel yang paling berpengaruh terhadap ekspor karet adalah produksi karet. Koefisien produksi karet signifikan secara statistik. Ekspor karet sangat sensitif terhadap produksi dengan koefisien elastisitas 3.30 (ASEAN) dan 4.65 (ROW). Tingginya koefisien elastisitas produksi pada persamaan MRBRI menunjukkan bahwa CAFTA bukanlah pasar utama karet Indonesia.

Sama seperti pertanian non pangan pada umumnya, koefisien YA dan YR negatif. koefisien PDB rill ASEAN (YA) PDB riil rest of the world (YR) negatif dalam persamaan impor pertanian non pangan ASEAN dari Indonesia. Koefisien yang negatif berarti bahwa peningkatan pendapatan kedua kelompok negara tersebut justru menurunkan permintaan impor mereka terhadap produk pertanian non pangan dari Indonesia. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah trend peningkatan pendapatan negara-negara maju terkini utamanya digerakkan oleh sektor jasa, seperti perdagangan, komunikasi, telekomunikasi. Sektor-sektor tersebut tidak banyak menggunakan agricultural raw material sebagai input (bahan baku) mereka.

Tabel 26 Hasil Estimasi Parameter Model Perdagangan Pertanian Indonesia dalam CAFTA, Sub Blok Perdagangan Karet (SITC23)

Variabel Keterangan Estimasi t-stat p-

value

Elastisitas

Parameter SR LR

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Impor Karet/SITC23 Indonesia dari China (MRBIC)

Intercept Intercept -24.962 -1.90 0.0740

YIt PDB riil Indonesia 0.0002 5.67 <.0001 3.72

TMRICt Pajak impor karet Id dari Cn -0.297 -0.47 0.6460 -0.35 Impor Karet/SITC23 Indonesia dari ASEAN (MRBIA)

YIt PDB riil Indonesia 0.0002 9.07 <.0001 2.43

TMRIAt Pajak impor karet Id dari As -1.938 -4.93 0.0001 -1.07

EXRIAt EXRI/EXRA -1.164 -1.39 0.1826 -0.37

Impor Karet/SITC23 Indonesia dari ROW (MRBIR)

YIt PDB riil Indonesia 0.001 3.38 0.0035 1.05

TMRIRt Pajak impor karet Id dari Rw -8.227 -2.45 0.0257 0.00

EXRIt Nilai tukar Rp/US$ -0.007 -1.59 0.1302 -0.19 Impor Karet/SITC23 ASEAN dari Indonesia (MRBAI)

Intercept Intercept -164.142 -1.51 0.1536

YAt PDB riil ASEAN -0.001 -1.83 0.0893 -1.77 -3.14

TMRAIt Pajak impor karet As dari Id -7.273 -1.28 0.2209 -0.35 -0.63

QRBIt Produksi karet Indonesia 6.468 3.07 0.0084 3.30 5.87

PWRBt Harga karet dunia 0.968 3.56 0.0031 0.83 1.47

PPIt IHP pertanian Id -0.544 -1.60 0.1323 -0.39 -0.69

MRBAIt-1 Lag 1 MRBAI 0.437 3.52 0.0034

Impor Karet/SITC23 China dari Indonesia (MRBCI)

Intercept Intercept -418.03 -4.55 0.0003

YCt PDB riil China 0.001 4.63 0.0003 2.71

TMRCIt Pajak impor karet Cn dari Id -0.138 -0.09 0.9280 -0.01

PWRBt Harga karet dunia 1.285 1.90 0.0754 0.68

PPIt IHP pertanian Id -1.888 -2.09 0.0529 -0.83

Impor Karet/SITC23 ROW dari Indonesia (MRBRI)

Intercept Intercept 5051.754 0.96 0.3550

YRt PDB riil ROW -0.001 -1.76 0.1026 -8.39 -32.16

TMRRIt Pajak impor karet Rw dari Id -1753.890 -0.84 0.4181 -0.50 -1.91

QRBIt Produksi karet Indonesia 107.601 2.46 0.0288 4.65 17.83

PWRBt Harga karet dunia 7.755 1.89 0.0810 0.56 2.16

PPIt IHP pertanian Id -8.938 -1.31 0.2143 -0.54 -2.08

EXRRt Rataan nilai tukar ROW/US$ 11.887 1.75 0.1036 2.00 7.68

MRBRIt-1 Lag 1 MRBRI 0.739 3.13 0.0080

Keterangan: Id= Indonesia; As=ASEAN, Cn=China, Rw=ROW=Rest of the world 5. Sawit dan Kelompoknya (SITC 42)

Selain karet, kelapa sawit juga merupakan komoditas ekspor andalan Indonesia. Tujuan ekspor sawit Indonesia utamanya adalah ke Eropa. Ekspor sawit ke ASEAN hanya ke Singapura dan Malaysia. Salah satunya karena sebagian perkebunan sawit di Indonesia, dimiliki oleh pengusaha Malaysia. Sementara ekspor sawit ke China sementara ini masih kecil, namun berpotensi untuk meningkat sejalan dengan permintaan impor sawit China yang elastis terhadap peningkatan PDB riil mereka. Variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap ekspor kelapa sawit Indonesia adalah PDB riil negara mitra, pajak ekspor dan harga kelapa sawit dunia. CAFTA bukanlah pasar utama ekspor kelapa sawit Indonesia. Respon impor mereka dari Indonesia untuk setiap persen kenaikan PDB riil jauh lebih rendah dibandingkan respon impor ROW. Elastisitas

99 PDB riil terhadap permintaan kelapa sawit Indonesia berturut-turut adalah 3.75 (ROW), 1.59 (ASEAN) dan 1.57 (China).

Tabel 27 Hasil Estimasi Parameter Model Perdagangan Pertanian Indonesia dalam CAFTA, Sub Blok Perdagangan Sawit (SITC42)

Variabel Keterangan Estimasi t-stat p-value Elastisitas

Parameter SR LR

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Impor Sawit/SITC42 Indonesia dari China (MPLIC)

Intercept Intercept -0.716 -1.68 0.1145

YIt PDB riil Indonesia 0.001 3.59 0.0027 4.45 3.02

TMPICt Tarif impor sawit Id dr Cn -0.053 -1.42 0.1765 -0.97 -0.66

PWPLt Harga sawit (CPO) dunia -0.001 -1.39 0.1844 -1.08 -0.74

TMPIAt Tarif impor sawit Id dr As 0.049 1.28 0.2210 0.86 0.59

MPLICt-1 Lag 1 MPLIC -0.470 -2.00 0.0638

Impor Sawit/SITC42 Indonesia dari ASEAN (MPLIA)

Intercept Intercept 87.156 2.41 0.0283

YIt PDB riil Indonesia 0.001 1.21 0.2451 0.53 0.75

TMPIAt Tarif impor sawit Id dr Cn -3.8854 -2.10 0.0523 -0.66 -0.93

EXRIt Nilai tukar Rp/US$ -0.0081 -3.99 0.0011 -1.37 -1.93

MPLIAt-1 Lag 1 MPLIA 0.2888 1.74 0.1008

Impor Sawit/SITC42 Indonesia dari ROW (MPLIR)

Intercept Intercept -13.6193 -1.75 0.1018

YIt PDB riil Indonesia 0.001 3.62 0.0028 3.62 6.75

TMPIRt Tarif impor sawit Id dr Rw -0.798 -0.78 0.4484 -0.46 -0.86

EXRIt Nilai tukar Rp/US$ -0.002 -2.24 0.0419 -1.09 -2.03

EXRRt Rtrt nilai tukar ROW/US$ 0.070 2.71 0.0168 2.07 3.85

TMPIAt Tarif impor sawit Id dr As 0.774 0.69 0.5009 0.47 0.88

MPLIRt-1 Lag 1 MPLIR 0.463 1.59 0.1336

Impor Sawit/SITC42 ASEAN dari Indonesia (MPLAI)

Intercept Intercept -271.815 -0.85 0.4074

YAt PDB riil ASEAN 0.002 3.91 0.0016 1.59 6.30

TMPAIt Tarif impor sawit As dr Id -48.077 -2.87 0.0124 -0.88 -3.49

TXPt Pajak ekspor sawit -5.758 -2.89 0.0118 -0.13 -0.50

PWPLt Harga sawit (CPO) dunia 1.210 4.38 0.0006 0.97 3.86

PPIt IHP pertanian Id -3.525 -3.77 0.0021 -0.71 -2.80

MPLAIt-1 Lag 1 MPLAI 0.748 8.20 <.0001

Impor Sawit/SITC42 China dari Indonesia (MPLCI)

Intercept Intercept -419.754 -1.74 0.1057

YCt PDB riil China 0.001 2.78 0.0155 1.57 3.44

TMPCIt Tarif impor sawit Cn dr Id -1.787 -0.33 0.7484 -0.08 -0.18

TXPt Pajak ekspor sawit -5.549 -3.63 0.0031 -0.14 -0.31

PWPLt Harga sawit (CPO) dunia 0.927 3.65 0.0030 0.85 1.87

PIt IHK umum Id -4.163 -1.75 0.1038 -0.90 -1.97

EXRIt Nilai tukar Rp/US$ 0.004 0.26 0.7980 0.05 0.10

MPLCIt-1 Lag 1 MPLCI 0.544 3.34 0.0054

Impor Sawit/SITC42 ROW dari Indonesia (MPLRI)

Intercept Intercept -9209.400 -3.46 0.0042

YRt PDB riil ROW 0.001 3.21 0.0068 3.75 7.84

TMPRIt Tarif impor sawit Rw dr Id -79.217 -0.44 0.6707 -0.14 -0.29

TXPt Pajak ekspor sawit -19.782 -1.82 0.0916 -0.09 -0.18

PWPLt IHP pertanian Id 5.271 2.97 0.0109 0.83 1.73

EXRRt Rtrt nilai tukar ROW/US$ -1.905 -0.51 0.6175 -0.21 -0.43

EXRIt Nilai tukar Rp/US$ -0.242 -3.22 0.0067 -0.54 -1.12

MPLRIt-1 Lag 1 MPLRI 0.522 4.72 0.0004

Seperti halnya karet, ketika harga kelapa sawit dunia meningkat, sementara harga produsen di Indonesia relatif tidak berubah, maka daya saing ekspor kelapa sawit Indonesia meningkat. Dengan kata lain, kelapa sawit Indonesia memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dan permintaan impor karet dari Indonesia meningkat. Meskipun begitu, kebutuhan domestik tetap harus diperhatikan. Dalam hal ini, instrumen pajak ekspor CPO/kelapa sawit (TXP) efektif digunakan. Koefisien TXP dalam ketiga persamaan ekspor kelapa sawit Indonesia, negatif dan signifikan. Berarti bahwa instrumen ini efektif untukm menahan laju ekspor kelapa sawit, ketika permintaan domestik juga meningkat.

Blok Harga

Secara umum fluktuasi harga merupakan fungsi dari kuantitas supply dan pendapatan (representasi permintan). Kuantitas supply terdiri dari supply domestik dan impor. Penelitian ini lebih concern pada sisi permintaan akhir, dalam arti harga produk pertanian lebih banyak dipengaruhi oleh permintaan- penawaran outputnya dibandingkan fluktuasi harga inputnya. Hasil estimasi secara lengkap ditampilkan dalam Tabel 28 berikut.

Tabel 28 Hasil Estimasi Parameter Model Perdagangan Pertanian Indonesia dalam CAFTA, Blok Harga

Variabel Keterangan Estimasi t-stat p-value Elastisitas

Parameter SR LR

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

IHK Non Makanan (PNFI)

Intercept Intercept -53.1945 -1.10 0.2905

MOIWt Impor non pertanian -0.0007 -0.76 0.4564 -0.28 -1.37

XOIW Ekspor non pertanian 0.0016 2.07 0.0559 0.85 4.11 CNFIt Konsumsi non makanan 0.0003 0.30 0.7660 0.11 0.51

YIt PDB riil Indonesia 0.0001 0.13 0.9021 0.10 0.48

PNFIt-1 Lag 1 IHK non makanan 0.7923 4.02 0.0011 IHK Makanan (PFI)

Intercept Intercept 1.9334 0.19 0.8552

MFIWt Impor pangan -0.0048 -2.14 0.0495 -0.16 -0.21

XFIWt Ekspor pangan 0.0013 1.73 0.1049 0.11 0.13

CFIt Konsumsi makanan 0.0003 1.37 0.1914 0.16 0.19

PNFIt IHK non makanan 0.7156 6.47 <.0001 0.70 0.88

PFIt-1 Lag 1 IHK makanan 0.2001 1.74 0.1031 IHP Pertanian (PPI)

Intercept Intercept 255.7142 4.10 0.0009

MAIWt Impor pertanian non pangan -0.0559 -3.56 0.0029 -0.84 -0.92

XAIWt Ekspor pertanian non pangan 0.0106 2.43 0.0283 0.34 0.37

CAIt Prtnian non pangan sbg input -0.0081 -3.21 0.0059 -1.67 -1.81

PIt IHK umum 0.9833 4.38 0.0005 0.93 1.00

PPIt-1 Lag 1 IHP pertanian 0.0769 0.41 0.6908

Harga konsumen non pangan dipengaruhi oleh permintaan produk non pertanian domestik dan luar negeri, penawaran domestik, tingkat pendapatan dan harga sebelumnya. Meningkatnya impor komoditas non pertanian (MOIW) meningkatkan supply produk non pertanian domestik, sehingga harga konsumen

101 non pertanian menurun. Tabel 28 menunjukkan harga mengalami penurunan 0.28 persen untuk setiap 1 persen kenaikan impor. Sebaliknya peningkatan permintaan domestik (konsumsi non makanan domestik, CNFI) dan permintaan luar negeri (ekspor, XOIW), menurunkan tingkat supply domestik yang mendorong kenaikan harga. Harga konsumen non makanan akan meningkat sebesar 0.11 persen dan 0.85 persen masing-masing untuk setiap persen kenaikan konsumsi domestik dan luar negeri (ekspor). Faktor lain yang mempengaruhi harga konsumen non makanan adalah tingkat pendapatan dan harga sebelumnya.

Harga konsumen komoditas pangan dipengaruhi oleh permintaan produk pangan domestik dan luar negeri, penawaran domestik, harga non makanan serta harga-harga sebelumnya. Meningkatnya impor komoditas pangan (MFIW) meningkatkan supply pangan domestik, sehingga harga konsumen pangan menurun. Tabel 28 menunjukkan harga mengalami penurunan 0.16 persen untuk setiap 1 persen kenaikan impor. Sebaliknya peningkatan permintaan domestik (konsumsi makanank, CFI) dan permintaan luar negeri (ekspor, XFIW), menurunkan tingkat supply domestik yang mendorong kenaikan harga. Harga konsumen makanan akan meningkat sebesar 0.16 persen dan 0.11 persen masing- masing untuk setiap persen kenaikan konsumsi domestik dan luar negeri (ekspor). Kecenderungan pola fluktuasi harga makanan di Indonesia, senada dengan pendapat Snell, et al (1997) bahwa harga komoditas pangan cenderung mengikuti pergerakan harga komoditas non pangan. Fakta empiris lainnya adalah kenaikan harga pangan domestik hampir selalu diselesaikan dengan penambahan impor. Oleh karena itu, terepresentasikan dalam model bahwa peningkatan impor merupakan salah satu instrumen penurunan harga.

Harga produsen pertanian dipengaruhi oleh permintaan produk pertanian non pangan domestik dan luar negeri, penawaran domestik, harga-harga ditingkat konsumen dan harga sebelumnya. Fungsi pokok produk pertanian adalah sebagai bahan makanan dan bahan baku sektor industri. Terkait fungsinya sebagai bahan makanan, maka harga produsen pertanian akan meningkat sejalan dengan peningkatan harga konsumen. Sedangkan terkait dengan fungsinya sebagai bahan baku industri yang sebagian besar untuk memenuhi permintaan luar negeri, maka harga produsen pertanian juga akan meningkat sejalan dengan peningkatan ekspor. Impor produk pertanan non pangan merupakan kompetitor produk pertanian domestik. Semakin banyak impor, permintaan produk domestik akan menurun dan harga juga menurun.

Blok Kinerja Sektor Pertanian

Kinerja pertanian dapat diukur dari beberapa aspek, yakni aspek produksi, stabilisasi, perdagangan dan kesejahteraan. Aspek perdagangan (ekspor-impor) dan aspek stabilisasi (harga) dianalisis dalam blok tersendiri. Aspek produksi terdiri dari PDB sektor pertanian beserta komponen inputnya (modal dan tenaga kerja), produksi agricultural raw material dan produksi pangan. Sementara aspek kesejahteraan diantaranya upah riil dan produktivitas tenaga kerja (PDB per tenaga kerja). Hasil estimasi selengkapnya ditampilkan dalam Tabel 29 dan 30.

Ketenagakerjaan di sektor pertanian dapat dibedakan menjadi dua; buruh dan petani (wirausaha). Jumlah buruh pertanian naik jika upah sektor pertanian

naik. Jika upah non pertanian naik relatif terhadap upah pertanian, maka pekerja pertanian berpindah profesi ke sektor non pertanian. Sektor pertanian tidak lagi menarik. Peningkatan taraf pendidikan (lama sekolah) cenderung menurunkan minat sebagai petani. Terlihat dari koefisien lama sekolah (SCHI) yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak diminati oleh tenaga kerja terdidik. Sementara jumlah wirausaha dipengaruhi oleh harga produsen pertanian sebelumnya dan infrastruktur. Infrastruktur yang memadai mendorong minat penduduk untuk membuka usaha (pertanian). Beberapa hal yang menyebabkan minat sebagai petani menurun baik wirausaha maupun buruh: 1) tidak ada kebanggaan sebagai petani, bahkan dalam keluarga petani sendiri, 2) tidak ada stimulus harga, 3) membutuhkan kesabaran karena sektor pertanian tidak cepat menghasilkan dan 4) permasalahan akses, baik akses distribusi maupun permodalan.

Tabel 29 Hasil Estimasi Parameter Model Perdagangan Pertanian Indonesia dalam CAFTA, Blok Kinerja Ketenagakerjaan Sektor Pertanian

Variabel Keterangan Estimasi t-stat p-

value

Elastisitas

Parameter SR LR

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Upah Riil Pertanian (WAGI)

Intercept Intercept -19.875 -4.64 0.0002

YAGIt PDB sektor pertanian riil 0.0004 3.13 0.0060 0.37 0.49

WIt Tingkat upah riil 0.485 15.46 <.0001 1.07 1.38

WAGIt-1 Lag 1 upah di pertanian riil 0.228 4.14 0.0007 Pekerja di Sektor Pertanian / Agricultural Employess (LPAGI)

Intercept Intercept 14476.800 2.25 0.0401

POPIt Jumlah penduduk 122.070 1.75 0.1009 0.83 1.38

SCHIt Lama sekolah pnduduk dws -1944.330 -1.89 0.0783 -0.68 -1.12

WAGIt Upah di pertanian riil 65.275 0.97 0.3495 0.06 0.10

WIt Tingkat upah riil -35.685 -0.84 0.4153 -0.08 -0.13

LPAGIt-1 Lag 1 pekerja di pertanian 0.394 1.79 0.0933 Wirausaha di Sektor Pertanian / Agricultural Employers (LEAGI)

Intercept Intercept 9011.228 2.32 0.0330

ROADIt Paved roads 3.714 0.06 0.9497 0.01 0.02

PPIt-1 Lag IHP pertanian 10.350 2.71 0.0147 0.08 0.12

LEAGIt-1 Lag 1 wirausaha pertanian 0.361 1.92 0.0720 Investasi di Sektor Pertania (IAGI)

Intercept Intercept 26314.070 2.58 0.0200

KAGIt-1 Lag 1 stok kapital pertanian -0.434 -2.38 0.0300 -12.57

RLIt Sk bunga pinjaman riil -12.884 -0.27 0.7878 -0.02

YIt PDB riil Indonesia 0.075 2.87 0.0112 4.55

LEAGIt Wirausaha di pertanian 0.103 0.32 0.7514 0.52

Sektor pertanian merupakan sektor yang padat karya, paling banyak menyerap tenaga kerja. Penambahan tenaga kerja di sektor pertanian dapat dikatakan sudah mencapai titik jenuh. Yang lebih dibutuhkan sektor pertanian saat ini adalah modal. Terlihat dari elastisitas stok kapital yang lebih tinggi dibanding tenaga kerja. Tingginya elastisitas stok kapital menunjukkan bahwa penggunaan kapital dalam proses produksi sektor pertanian belum mencapai titik optimal. Investasi di sektor ini layak diprioritaskan. Investasi atau perubahan capital stock di sektor pertanian memiliki pola yang mirip dengan pola investasi swasta.

103 Peningkatan investasi di sektor pertanian dapat terjadi karena penurunan suku bunga pinjaman, kenaikan jumlah wirausaha serta peningkatan tingkat pendapatan.

Selain penambahan modal, peningkatan output sektor pertanian dapat diakselerasi dengan wirausaha. Kehadiran wirausaha di sektor pertanian secara tidak langsung juga menambah stok kapital, karena setiap wirausaha tentu bersamaan dengan investasinya. Selain itu, wirausaha di sektor pertanian pula juga sering kali terlibat langsung dalam proses produksi, sebagai pekerja. Sementara pengaruh penambahan buruh tani terhadap output hanya signifikan ketika dikontrol dengan “kualitas”nya. Tanpa interaksi dengan variabel lama sekolah sebagai representasi kualitas, pengaruh tenaga kerja justru tidak signifikan.

Tabel 30 Hasil Estimasi Parameter Model Perdagangan Pertanian Indonesia dalam CAFTA, Blok Kinerja Produksi Sektor Pertanian

Variabel Keterangan Estimasi t-stat p-

value

Elastisitas

Parameter SR LR

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Produksi Pangan (QFI)

Intercept Intercept 16.286 1.69 0.1101

PFIt-1 Lag 1 IHK makanan 0.042 0.84 0.4104 0.04 0.23

PPIt-1 Lag 1 IHP pertanian 0.032 0.80 0.4322 0.03 0.18

QFIt-1 Lag 1 produksi pangan 0.815 6.60 <.0001 Produksi Pertanian Non-Pangan (QAI)

Intercept Intercept 14.836 0.81 0.4310

PPIt IHP pertanian 0.010 0.17 0.8670 0.01 0.05

XAIWt Total ekspor pert non pangan 0.003 2.43 0.0264 0.09 0.44

QAIt-1 Lag prod prtanian non pangan 0.797 3.18 0.0055 PDB Riil Sektor Pertanian (YAGI)

Intercept Intercept -21772.6 -12.51 <.0001 KAGIt Stok kapital pertanian 0.308 4.11 0.0007 1.03

LEAGIt Wirausaha di pertanian 0.546 2.65 0.0167 0.32

SCHLPAGIt Pekerja di pert * lama sklh 0.036 2.66 0.0165

Temuan penting lain dalam kinerja sektor pertanian adalah rendahnya respon produksi pangan maupun pertanian non pangan (agricultural raw material) terhadap kenaikan harga. Kenaikan harga pangan tidak mampu direspon secara optimal oleh produsen pangan. Demikian pula kenaikan harga produsen pertanian juga tidak dapat respon secara optimal oleh produsen pertanian non pangan. Terbukti dengan koefisien elastisitasnya yang terbilang rendah. Koefisien elastisitas harga produsen pertanian (PPI) terhadap produksi pertanian non pangan (QAI) hanya 0.01. Demikian pula koefisien PPI dan harga konsumen pangan (PFI) terhadap produksi pangan (QFI) masing-masing hanya 0.03 dan 0.04. Berarti bahwa kenaikan harga pangan yang tinggi akhir-akhir ini belum mampu dimanfaatkan oleh produsen domestik untuk meningkatkan produksi. Temuan ini konsisten dengan perkembangan data impor pangan Indonesia yang cenderung terus meningkat.

Validasi

Dari hasil validasi menggunakan Root Mean Square Error (RMSE) dan koefisien U-Theil, secara umum model valid untuk digunakan dalam peramalan. Namun ada beberapa persamaan yang perlu hati-hati dalam menganalisa, karena memiliki RMSE dan U-Theil yang relatif tinggi. Persamaan-persamaan tersebut adalah RLI, RDI dan MPLIR (RMSE tertinggi) dan RLI, MPLIR dan NCII (U- Theil tertinggi). Berarti bahwa persamaan-persamaan tersebut adalah yang paling rendah validitasnya dalam melakukan peramalan. MPLIR merupakan persamaan dengan error sistematik (UM) tertinggi. Berarti bahwa penyimpangan nilai rata- rata hasil estimasi dari data aktualnya (nilai pengamatannya) untuk MPLIR tergolong tinggi. Hal ini disebabkan karena nilai MPLIR sangat kecil dan variasi antar waktu sangat fluktuatif. Meskipun validitas persamaan MPLIR rendah yang berpengaruh pada validitas MPLIW, namun tidak menganggu validitas model secara keseluruhan. Nilai MPLIR sangat kecil, karena impor kelapa sawit (dan produk turunannya) Indonesia dari rest of the world sangat kecil, hampir tidak ada.

Tabel 31 RMSE dan Koefisien U-Theil Model Perdagangan Pertanian Indonesia dalam CAFTA, 2005-2011.

Variabel Endogen N RMSE (%)

MSE Decomposition

Proportions Koefisien U-Theil Bias Var Covar

(UM) (US) (UC)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. Total PDB real (YI) 7 1.193 0.00 0.15 0.85 0.0060

2. Konsumsi makanan (CFI) 7 2.787 0.21 0.21 0.59 0.0127

3. Konsumsi non makanan (CNFI) 7 5.885 0.00 0.49 0.51 0.0299

4. Konsumsi (CI) 7 2.596 0.05 0.38 0.56 0.0134

5. Disposable income (YDI) 7 0.968 0.02 0.22 0.76 0.0049

6. Investasi swasta (ISI) 7 5.436 0.03 0.05 0.91 0.0222

7. Pajak CAFTA (TAXCAFTA) 7 8.208 0.00 0.26 0.74 0.0376

8. Pajak Non CAFTA (TAXNCAFTA) 7 4.648 0.02 0.04 0.94 0.0208

9. Penerimaan pajak (TAXI) 7 4.260 0.04 0.09 0.87 0.0210

10.Total revenue pemerintah (GRI) 7 3.084 0.04 0.01 0.94 0.0149

11.Belanja rutin (GERI) 7 3.815 0.31 0.18 0.51 0.0217

12.Belanja modal (GEII) 7 45.138 0.02 0.21 0.78 0.1048

13.Subsidi (GESI) 7 12.396 0.55 0.02 0.43 0.0549

14.Total belanja pemerintah (GEI) 7 3.641 0.09 0.08 0.83 0.0181

15.Nilai tukar rupiah (EXRI) 7 14.495 0.03 0.29 0.68 0.0706

16.Suku bunga pinjaman riil (RLI) 7 362.900 0.40 0.07 0.53 0.5276

17.Suku bunga deposito riil (RDI) 7 201.600 0.00 0.16 0.84 0.2281

18.Net capital inflows (NCII) 7 69.616 0.00 0.06 0.94 0.2761

19.Impor raw agri id dr cn (MAIA) 7 6.158 0.00 0.01 0.99 0.0298

20.Impor raw agri id dr as (MAIC) 7 44.488 0.28 0.21 0.51 0.1052

21.Impor raw agri id dr rw (MAIR) 7 9.044 0.04 0.21 0.75 0.0461

22.Impor raw agri as dr id (MAAI) 7 34.974 0.04 0.38 0.58 0.1745

23.Impor raw agri cn dr id (MACI) 7 17.449 0.02 0.25 0.73 0.0756

24.Impor raw agri rw dr id (MARI) 7 74.333 0.01 0.44 0.55 0.2593

25.Total impor raw agri (MAIW) 7 7.449 0.01 0.74 0.25 0.0370

26.Total ekspor raw agri (XAIW) 7 57.021 0.02 0.43 0.55 0.2162

27.Impor pangan id dr cn (MFIA) 7 11.579 0.00 0.03 0.96 0.0515

28.Impor pangan id dr as (MFIC) 7 10.814 0.29 0.23 0.48 0.0623

29.Impor pangan id dr rw (MFIR) 7 5.249 0.20 0.34 0.46 0.0229

30.Impor pangan as dr id (MFAI) 7 12.417 0.00 0.42 0.58 0.0603

31.Impor pangan cn dr id (MFCI) 7 6.350 0.25 0.16 0.59 0.0283

105

Variabel Endogen N RMSE (%)

MSE Decomposition

Proportions Koefisien U-Theil Bias Var Covar

(UM) (US) (UC)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

33.Total impor foods (MFIW) 7 5.717 0.15 0.00 0.85 0.0266

34.Total ekspor foods (XFIW) 7 4.764 0.02 0.38 0.59 0.0274

35.Impor non agri id dr cn (MOIA) 7 10.412 0.05 0.38 0.57 0.0510

36.Impor non agri id dr as (MOIC) 7 9.431 0.05 0.02 0.93 0.0425

37.Impor non agri id dr rw (MOIR) 7 5.073 0.04 0.03 0.93 0.0224

38.Impor non agri as drid (MOAI) 7 3.465 0.13 0.01 0.87 0.0181

39.Impor non agri cn dr id (MOCI) 7 9.461 0.05 0.10 0.85 0.0415

40.Impor non agri rw dr id (MORI) 7 5.517 0.30 0.25 0.45 0.0310

41.Total impor non agri (MOIW) 7 6.830 0.02 0.18 0.80 0.0307

42.Total ekspor non agri (XOIW) 7 4.764 0.28 0.16 0.56 0.0267

43.Impor sawit id dr cn (MPLIA) 7 38.096 0.05 0.08 0.87 0.1611

44.Impor sawit id dr as (MPLIC) 7 59.959 0.01 0.30 0.69 0.2321

45.Impor sawit id dr rw (MPLIR) 7 136.900 0.78 0.05 0.17 0.3870

46.Impor sawit as drid (MPLAI) 7 22.806 0.01 0.73 0.26 0.0770

47.Impor sawit cn dr id (MPLCI) 7 5.915 0.13 0.08 0.79 0.0345

48.Impor sawit rw dr id (MPLRI) 7 16.974 0.29 0.21 0.50 0.0608

49.Total impor SITC 42 (MPLIW) 7 52.311 0.71 0.00 0.29 0.1932

50.Total ekspor SITC 42 (XPLIW) 7 14.811 0.27 0.31 0.42 0.0505

51.Impor karet id dr cn (MRBIA) 7 21.682 0.03 0.51 0.46 0.1226

52.Impor karet id dr as (MRBIC) 7 75.488 0.00 0.70 0.30 0.1948

53.Impor karet id dr rw (MRBIR) 7 18.362 0.02 0.00 0.98 0.0824

54.Impor karet as drid (MRBAI) 7 12.365 0.00 0.02 0.98 0.0585

55.Impor karet cn dr id (MRBCI) 7 14.932 0.01 0.66 0.32 0.0559

56.Impor karet rw dr id (MRBRI) 7 32.704 0.31 0.16 0.53 0.1221

57.Total impor SITC23 (MRBIW) 7 17.243 0.01 0.02 0.97 0.0792

58.Total ekspor SITC23 (XRBIW) 7 26.751 0.26 0.23 0.51 0.1037

59.Total ekspor (XI) 7 3.917 0.02 0.01 0.97 0.0194

60.Total impor (MI) 7 5.215 0.01 0.12 0.87 0.0238

61.Total net ekspor (NXI) 7 6.634 0.12 0.45 0.43 0.0435

62.IHP Pertanian (PPI) 7 17.410 0.01 0.48 0.52 0.0817

63.IHK Makanan (PFI) 7 2.514 0.41 0.23 0.37 0.0149

64.IHK Non Makanan (PNFI) 7 4.964 0.10 0.74 0.16 0.0292

65.IHK Umum (PI) 7 3.567 0.18 0.61 0.22 0.0223

66.Upah pekerja pertanian (WAGI) 7 4.854 0.02 0.02 0.96 0.0179

67.Stok kapital (KAGI) 7 0.710 0.33 0.30 0.37 0.0037

68.Bekerja di pertanian (LAGI) 7 1.327 0.17 0.27 0.56 0.0066

69.Jumlah buruh tani (LPAGI) 7 4.381 0.02 0.27 0.71 0.0214

70.Jumlah petani (LEAGI) 7 6.106 0.01 0.25 0.74 0.0305

71.Investasi di pertanian (IAGI) 7 18.474 0.38 0.00 0.61 0.0703

72.Prod pertanian non pangan (QAI) 7 15.637 0.01 0.63 0.36 0.0781

73.Produksi pangan (QFI) 7 3.153 0.02 0.47 0.52 0.0157

74.PDB riil pertanian (YAGI) 7 0.665 0.08 0.21 0.71 0.0033

6 INTEGRASI EKONOMI REGIONAL, KEBIJAKAN FISKAL