• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

PERTANIAN NON PANGAN / AGRICULTURAL RAW MATERIAL (%)

ASEAN 30.6 4.8 4.6 5.8 11.9 0.8 2.0 100.0 China 18.7 0.0 5.3 3.2 7.3 0.2 0.0 100.0 Indonesia 11.3 3.6 0.0 1.9 4.5 0.0 4.3 100.0 Malaysia 55.0 4.4 4.3 0.0 35.8 2.9 1.1 100.0 Thailand 15.3 4.4 1.0 8.4 0.0 0.6 0.7 100.0 Philipina 27.3 5.4 7.6 1.7 14.9 0.0 2.9 100.0 Singapura 68.5 5.3 29.4 28.9 8.0 0.3 0.0 100.0 Dunia 14.0 3.4 4.8 2.7 4.3 0.3 0.3 100.0

Sumber: UNCTAD, http:/www.unctad.org [24 Oktober 2011], diolah

Penelitian Sebelumnya Dampak Integrasi Ekonomi Regional

Meskipun mainstream teori ekonomi memprediksi pengaruh positif liberalisasi perdagangan terhadap peningkatan output dan kesejahteraan, tetapi studi Haryadi (2008) maupun Gingrich dan Garber (2010) menunjukkan adanya perbedaan efek liberalisasi antara negara maju dengan negara berkembang. Semakin tinggi derajat keterbukaan (degree of openness) suatu perekonomian, peran intervensi pemerintah menjadi semakin vital. Ini terkait dengan fakta bahwa antara pemerintah dengan pasar adalah saling melengkapi (complementary), walaupun bisa saja terjadi saling substitusi (Kueh et al. 2008). Tingginya degree of openness suatu negara berdampak pada tingginya resiko eksternal, sehingga akan berdampak pada volatilitas perekonomian di negara berkembang. Sedangkan pada negara maju, oleh karena besarnya government size mereka, maka volatilitas

perekonomian dapat direduksi. Hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh negara berkembang apalagi negara miskin.

Negara-negara miskin atau low income countries (LICs) umumnya berbasis sektor pertanian. Bagi negara-negara miskin, liberalisasi perdagangan dapat berpengaruh positif atau negatif terhadap sektor pertanian dan perekonomian mereka, tergantung pada kondisi spesifik perekonomian masing- masing negara. Respon sektor pertanian terhadap liberalisasi dapat berbeda jauh antar negara, tergantung pada kondisi umum pasar di rural sector, dan implementasi kebijakan pemerintah mereka. Sebagai contoh, liberalisasi dapat menstimulasi sektor pertanian di Kosta Rika, sementara di El Savador (negara tetangganya) justru sebaliknya (Gingrich dan Garber, 2010).

Bagi negara maju, integrasi ekonomi regional cenderung memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan bagi negara berkembang. Misalnya dalam menarik investasi, NAFTA (Canada, Amerika Serikat dan Meksiko) lebih baik dibanding AFTA (ASEAN FTA), MERCOSUR (Amerika Selatan) dan China- India (Ridwan, 2009). Sejalan dengan temuan tersebut, Susanto et al (2007) juga menunjukkan lebih banyak terjadinya trade creation (penciptaan pasar baru yang menguntungkan) dari pada trade diversion untuk Canada dan Amerika Serikat dibanding Meksiko dalam NAFTA. Sebagaimana diketahui, Canada dan Amerika Serikat merupakan negara maju yang memiliki pendapatan perkapita tinggi. Dengan model GTAP, Haryadi (2008) menunjukkan bahwa negara maju masih mendominasi perdagangan dunia baik untuk sektor industri maupun sektor pertanian sehingga pandangan yang menyatakan bahwa negara maju mengekspor produk industri dan negara berkembang mengekspor produk pertanian ternyata tidak terbukti. Kebijakan penghapusan hambatan perdagangan secara total akan menurunkan produksi domestik, menurunkan ekspor, serta meningkatkan impor pada negara-negara yang saat ini masih menerapkan hambatan tersebut.

Dampak CAFTA Terhadap Kinerja Sektor Pertanian Indonesia

Studi-studi yang dilakukan dengan menggunakan data sebelum pemberlakuan CAFTA (Feridhanusetiawan dan Pangestu, 2003; Chia, 2004; Park, 2006; dan Wang, 2007), umumnya memprediksi Indonesia bersama negara-negara anggota lainnya akan lebih banyak memperoleh manfaat (benefit) dari pada kerugian (loss). Demikian pula prediksi dampak liberalisasi secara umum oleh Abimanyu (2000) dengan menggunakan INDORANI, model CGE Indonesia yang berbasis dari ORANI (CGE Australia), liberalisasi perdagangan pertanian dan subsidi pemerintah berdampak positif terhadap output (PDB) dan konsumsi real. Namun studi-studi terkini menunjukkan dampak pemberlakuan CAFTA tidak merata di semua negara anggota, di mana Indonesia merupakan salah satu negara yang relatif tidak banyak memperoleh manfaat.

Prediksi Chia (2004), Feridhanusetiawan dan Pangestu (2003) dan

qualitative assesment Park (2006) menunjukkan besarnya keuntungan ekonomi (gains of economic) pemberlakuan CAFTA. Dengan memanfaatkan simulasi yang dilakukan oleh ASEAN-China Expert Group tahun 2001 yang menggunakan

Global Trade Analysis Project (GTAP) model, Chia (2004) memprediksi dampak eliminasi tarif dalam CAFTA, terhadap perdagangan, sektor-sektor ekonomi dan GDP. Dari sisi perdagangan, eksport ASEAN ke China akan meningkat sebesar

17

48 persen, sementara ekspor China ke ASEAN akan meningkat sebesar 55.5 persen. Diantara negara ASEAN, tambahan ekspor terbesar diperoleh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. Sedangkan China memperoleh tambahan ekspor ke Philipina dan Thailand. Baik ASEAN maupun China menunjukan penurunan nilai perdagangan mereka dengan USA dan Jepang. GDP ASEAN dan China diperkirakan akan meningkat masing-masing sebesar 0.9 persen dan 0.3 persen. Diantara negara ASEAN, Vietnam memiliki persentase peningkatan tertinggi (2.15 persen) sementara Indonesia mendapatkan peningkatan absolut tertinggi sebesar US$ 2.3 juta (1.12 persen).

Dampak logis dari integrasi ekonomi regional seperti CAFTA tentunya adalah peningkatan ekspor maupun impor negara-negara anggota. Prediksi Feridhanusetiawan dan Pangestu (2003) maupun deskripsi Wang (2007) menunjukkan optimisme bahwa peningkatan ekspor Indonesia akan lebih besar dari pada peningkatan impor. Berdasarkan simulasi yang dilakukan Feridhanusetiawan dan Pangestu (2003), dalam empat skenario perdagangan bebas yang dilakukan, diperkirakan ekspor Indonesia akan meningkat sekitar 29- 37 persen. Optimisme tersebut diperkuat dengan argumen kualitatif Park (2006) dengan landasan teori custom union Meade tahun1955. Park (2006) melihat CAFTA sebagai hubungan kompetisi dan kemitraan yang saling menguntungkan, baik dengan dengan alasan static factor maupun dynamic factor. Faktor statis yang dimaksud adalah kondisi pre-CAFTA, sebagaimana juga dikemukakan Achsani (2008), CAFTA adalah potensi pasar yang sangat besar. Selain itu

substitutability of products dalam arti sejenis tetapi tidak sama antara China dengan ASEAN, akan meningkatkan peluang untuk terjadinya trade creation. Sebelumnya, Vollrath (1999) menemukan permintaan impor produk pertanian negara-negara ASEAN tidak berbeda nyata antara sebelum dengan sesudah AFTA (ASEAN-FTA), karena produk yang relatif sejenis. Sementara faktor dinamis yang dimaksud Park (2006) adalah gains efficiency menuju kompetisi yang lebih besar atau bargaining position anggota CAFTA dalam perdagangan internasional, serta non-economic geopolitical factors.

Namun, tidak ada jaminan bahwa CAFTA akan berdampak positif bagi ASEAN, khususnya Indonesia (Tambunan, 2005). China bukanlah pasar ekspor utama ASEAN, meskipun dalam kurun 1993-2003 total ekspor ASEAN ke China sudah menujukan peningkatan yang pesat. Dari sisi China, ASEAN juga bukan mitra dagang yang penting jika dilihat dari share perdagangan mereka. Lebih dari separuh impor China berasal dari newly industrialized countries (NICs) dan Jepang. Impor ASEAN lebih besar dari pada ekspor ke China. Berdasarkan struktur perdagangan tersebut, China akan mengekspor lebih banyak lagi ke ASEAN jika FTA dijalankan. Performance perdagangan ASEAN dengan China berbeda antar negara anggota, maka implikasi CAFTA juga akan bervariasi diantara anggota.

Dalam dua dasawarsa terakhir ekspor China tumbuh sangat pesat, dan sudah mulai ada tanda-tanda kemacetan akibat kejenuhan pasar (Lijun, 2003). Dengan peningkatan kapasitas produksi jauh di atas kebutuhan domestik, China harus intensif mencari pasar baru untuk ekspor. Sasaran utamanya adalah negara sedang berkembang, dimana produk China memiliki keunggulan dalam hal harga yang murah dan kualitas yang lumayan (competitive price and reasonable quality)

dibanding harga produk yang mahal dari developed countries. Sementara dari sisi impor, China membutuhkan raw material dari mereka. Sebaliknya orientasi ASEAN menembus pasar China membutuhkan kerja keras, mencari celah produk ekspor yang dapat berkompetisi.

Model-model kuantitatif yang digunakan dalam analisa dampak CAFTA umumnya adalah model computable general equilibrium (CGE) yang menggunakan koefisien statis dari penelitian sebelumnya. Prediksi dilakukan berdasarkan pola atau perilaku sebelum CAFTA, yang sangat mungkin berubah strukturnya ketika CAFTA diberlakukan. Hasil simulasi dengan CGE setelah pemberlakuan CAFTA oleh Park et al (2008) menunjukkan hasil yang berbeda dengan studi-studi sebelumnya. Demikian pula simulasi yang dilakukan Ando (2008), maupun studi dengan model-model time series dengan VECM (Nongsina dan Hutabarat, 2007) serta kointegrasi (Sutijo, 2009) menunjukkan CAFTA tidak berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.

Simulasi yang dilakukan Ando (2008) dengan menggunakan model Global Trade Analysis Project (GTAP), salah satu model CGE, menunjukkan efek ASEAN+6 FTA terhadap pertumbuhan ekonomi dan economic welfare Indonesia relatif rendah. ASEAN+6 FTA yang dimaksud adalah free trade agreement

ASEAN dengan enam negara mitra dagang yakni China, Jepang, Korea, India, Australia dan Selandia Baru. Dengan simulasi full trade liberalization, various fasilitation measures dan technical cooperation to LDCs in all sector, diantara 6 negara ASEAN yang diteliti, efek ASEAN+6 FTA terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah yang terendah (Urutan: Vietnam, Malaysia, Thailand, Philipina, Singapura dan Indonesia). Sementara simulasi yang sama untuk efek

economic welfare per kapita (dalam US$); Singapura (2 519), Malaysia (635), Thailand (189), Philipina (64), Vietnam (45) dan Indonesia (41). Jika ASEAN+6 FTA diberlakukan untuk semua sektor termasuk pertanian, Ando (2008) memprediksi output pertanian dan pangan Indonesia meningkat 4.1 persen, lebih rendah dari Malaysia 25.1 persen dan China 4.7 persen. Sementara ekspor pertanian dan pangan Indonesia meningkat 33.9 persen, hampir sama dengan kenaikan impor 30.9 persen. Peningkatan ekspor China sangat fantastis mencapai 117.5 persen, dibanding kenaikan impor yang hanya 43.1 persen. Kinerja ekspor- impor pertanian dan pangan Indonesia diprediksi juga lebih rendah dari Malaysia yang peningkatan ekspornya 59.2 persen dengan peningkatan impor 40.4 persen.

Salah satu bagian terpenting dalam studi tentang CAFTA adalah tekanan kompetisi (competitive pressure) negara-negara ASEAN oleh China. Tongzon (2005) menemukan bahwa struktur ekspor China memiliki banyak kesamaan dengan ekonomi ASEAN. Dia menghitung ekspor top industri China yang merupakan 84 persen dari total ekspor, adalah juga ekspor utama industri ASEAN. Dengan keunggulan relatif pada unit labor cost, Roland-Holst dan Weiss (2004) memperkirakan ASEAN akan kehilangan pangsa ekspor yang substansial oleh China dalam 1995-2000.

Park et al. (2008) mengkuantifikasi potential trade and welfare effect dari

regional trade agreement (CAFTA) dengan menggunakan model computable general equilibrium (CGE). Impor dari China diperkirakan akan meningkat pada negara Indonesia, Philipina dan Singapura. Dampak CAFTA bervariasi antar

19

negara, tetapi cenderung lebih menguntungkan bagi negara yang berpendapatan tinggi. Kesejahteraan (welfare) Malaysia, Singapura da Thailand meningkat tinggi, sebaliknya Kamboja, Laos dan Myanmar justru akan turun. Dalam hal ini Indonesia diperkirakan sebagai salah satu negara yang tidak memperoleh keuntungan banyak dari CAFTA ini, karena dampaknya terhadap agregat output adalah negatif, serta peningkatan impor lebih tinggi dari peningkatan ekspor. Ekspor pertanian Indonesia diprediksi akan menurun, sedangkan ekspor produk pangan (termasuk dari industri pangan) meningkat. Gabungan keduanya, peningkatan ekspor Indonesia adalah yang terendah dibanding negara-negara ASEAN-6 lainnya. Sehingga Park, et al (2008) memprediksi ekspor produk pertanian Indonesia berpotensi untuk turun, kalah bersaing dengan Malaysia, Thailand, Philipina dan bahkan Vietnam, sebaliknya impor produk pertanian justru berpotensi untuk meningkat.

Temuan menarik lainnya diperoleh dari Sutijo (2009) yang meneliti ekspor-impor produk pertanian Indonesia dengan pendekatan model kointegasi. Peningkatan GDP negara Jepang dan USA tidak digunakan untuk mengimpor produk pertanian Indonesia, tetapi untuk mengimpor produk lainnya atau produk pertanian dari negara lain yang lebih kompetitif. Sutijo (2009) memang tidak meneliti bagaimana kondisinya untuk negara-negara CAFTA, tetapi memberikan peringatan penting bahwa ada kecenderungan Indonesia untuk terus mengimpor. Berdasarkan koefisien kointegrasi untuk model impor produk pertanian, hanya peningkatan nilai tukar rupiah (depresiasi, karena diukur dengan rupiah per US$) yang menyebabkan penurunan impor.

Nongsina dan Hutabarat (2007) menggunakan error correction model

(ECM) dan menemukan speed of adjustment dari persamaan ekspor adalah 0.29 dan persamaan impor adalah 0.79, yang berarti bahwa penyesuaian ekspor untuk kembali ke kondisi ekuilibrium lebih lambat dibandingkan impor. Nilai speed of adjustment mengimplikasikan bahwa adanya kebijakan liberalisasi baik dalam bentuk duties (pajak ekspor dan bea masuk) dan kebijakan komprehensif menyebabkan laju pertumbuhan impor lebih cepat dari pada ekspor. Memang lebih mudah bagi importir untuk langsung melakukan impor dibanding eksportir merelokasi sumber daya atau faktor produksi untuk mengatasi fluktuasi yang terjadi ketika mengekspor. Berarti ekspor mengalami kendala dari sisi penawaran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pendapatan luar negeri dan domestik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekspor dan impor. Harga relatif yang mencerminkan daya saing memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekspor dan impor sehingga terbukanya akses pasar global dengan adanya liberalisasi mengimplikasikan bahwa daya saing perlu terus ditingkatkan.

Hasil tersebut didukung oleh Irawan (2009) yang sependapat bahwa yang menentukan permintaan ekspor Indonesia bukanlah dari sisi permintaan (luar negeri). Pendapat tersebut didasari atas penelitiannya yang menunjukan tidak signifikannya hubungan kausalitas antara nilai tukar efektif riil, harga ekspor dan belanja konsumsi dunia terhadap permintan komoditas ekspor Indonesia dengan menggunakan granger-causality. Sehingga kebijakan-kebijakan berupa deregulasi ataupun liberalisasi pasar yang diyakini akan langsung meningkatkan kinerja ekspor ternyata tidak terbukti. Hampir dua dekade pemerintah melakukan deregulasi dan liberalisasi pasar, pangsa pasar ekspor Indonesia di dunia baru

mencapai 0.84 persen lebih rendah dari China (5.88 persen) atau Malaysia (1.33 persen) yang tergolong berhati-hati dan “pilih-pilih” dalam meliberalisasi pasarnya.

Dampak positif yang diharapkan dari integrasi ekonomi regional adalah adanya saling ketergantungan yang sama-sama menguntungkan antar negara anggota. Temuan Lau dan Lee (2008) dengan menggunakan granger causality test modifikasi Wald (MWALD) yang dikembangkan Toda dan Yamamoto tahun 1995 menyebutkan saling ketergantungan (interdependence) ekonomi terjadi antar anggota CAFTA, tetapi Indonesia dan Philipina tidak termasuk di dalamnya. Lau dan Lee (2008) menemukan pola hubungan kausalitas diantara negara-negara anggota CAFTA, yaitu hanya tiga negara (Malaysia, Singapura dan Thailand) yang memperlihatkan adanya bi-directional causality dengan China. Secara ekonomi, itu berarti bahwa Malaysia, Singapura, Thailand dan China saling melengkapi satu sama lain dan berpeluang besar untuk menguatkan eksistensi ekonomi mereka. Sementara Indonesia dan Philipina terpisah dari kelompok tersebut. Salah satu kemungkinan sebabnya adalah instability ekonomi dan politik di kedua negara tersebut (Lau dan Lee, 2008). China dalam hal ini tetap menjadi kunci kesuksesan perekonomian negara-negara anggota CAFTA. Sebagai tambahan, China tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia dan Philipina, sebaliknya China yang memperoleh manfaat dari keduanya.

Tabel 9 Ringkasan Beberapa Penelitian Sebelumnya

Peneliti Metode dan

Data Fokus Temuan

(1) (2) (3) (4) Vollrath, T.L. (1999) Econometric model, 1970-1995 AFTA, dan RTAs lainnya

Peningkatan perdagangan lebih banyak intra- regional. Untuk AFTA, intra-regional trade tidak meningkat karena competitive, not complementary, sesama produsen pertanian. Abimanyu, A (2000) CGE, INDORANI Liberalis asi pertanian

Liberalisasi perdagangan pertanian dan subsidi pemerintah berdampak positif terhadap output (PDB) dan konsumsi real.

Feridhanusetiawan dan M. Pangestu. (2003)

GTAP, CGE CAFTA CAFTA berdampak positif, ekspor Indonesia akan meningkat sekitar 29-37 persen

Chia Siow Yue. (2004) GTAP, ASEAN- China Expert Group, 2001

CAFTA CAFTA berdampak positif terhadap ekspor dan PDB Indonesia dan ASEAN. Indonesia

mendapatkan tambahan ekspor terbesar dan peningkatan absolut PDB tertinggi. Tongzon, J. (2005)

CAFTA --Tekanan kompetisi ASEAN oleh China. Struktur ekspor China hampir sama dengan ASEAN.

Tambunan, T. (2005)

1980-2003 CAFTA China akan mengekspor lebih banyak lagi ke ASEAN jika FTA dijalankan.

Park, D. 2006. qualitative assessment

CAFTA CAFTA sebagai hubungan kompetisi dan kemitraan yang saling menguntungkan, baik dengan dengan alasan static factor maupun

21 Nongsina, F.S. dan M. Hutabarat. 2007. 1980-2006 Liberalis asi

Speed of adjustment dari persamaan ekspor > persamaan impor, berarti ekspor mengalami kendala dari sisi penawaran.

Oktaviani, R, E. Puspitawati and Haryadi (2008) CGE, GTAP v6 Liberalis asi pertanian ASEAN

-Dampak terhadap trade balance Indonesia positif, Real GDP negatif tidak signifikan (tidak berubah), peningkatan welfare terendah dari 6 negara ASEAN

-Perlu trade facilities policy dan proteksi sensitive/high sensitive.

Haryadi (2008) CGE, GTAP v6.2

Liberalis asi

Negara maju lebih diuntungkan dibanding negara berkembang. Dampak terhadap output, GDP riil Indonesia negatif, Thailand, Malaysia, Philipina, Vietnam dan China positif

Park, D., I. Park, G.E.B. Estrada. (2008)

GTAP CAFTA Dampak CAFTA lebih menguntungkan negara berpendapatan tinggi.

Dampaknya terhadap agregat output Indonesia adalah negatif, peningkatan impor lebih tinggi dari peningkatan ekspor.

Ando, M. (2008) CGE, GTAP database, ASEAN+6

ASEAN +6 FTA

- pertumbuhan ekonomi dan economic welfare

Indonesia terendah diantar negara ASEAN - output pertanian dan pangan Indonesia

meningkat 4.1 persen, lebih rendah dari Malaysia 25.1 persen dan China 4.7 persen. Ridwan. (2009) Gravity model, panel 25 negara, 1982-2006 AFTA, Investasi

Integrasi Ekonomi ASEAN mendorong

peningkatan investasi di negara-negara ASEAN, karena adanya peningkatan daya saing dan kemudahan investasi. Gingrich, C. D. and J.D. Garber. (2010) Weeks’mode l, 1966-2004 Liberalis asi

liberalisasi dapat berdampak positif atau negatif terhadap negara berkembang tergantung pada kondisi spesifik ekonomi negara bersangkutan. Tambunan, T (2011) 2000-2008 Trade liberaliza tion, Indonesi a, SMEs

SMEs Indonesia tidak memiliki kekuatan ekspor, karena kurangnya: teknologi, skill, pengetahuan, pembiayaan dan perantara ekspor. Liberalisasi perdagangan berdampak negatif terhadap SMEs Indonesia

Vanzetti, D., N. R. Setyoko, N.N Que and R. Trewin (2011) CGE, GTAP v7 ACFTA, Indonesi a, Vietnam

Proteksi masih dibutuhkan. Proteksi sensitive/high sensitive Vietnam lebih efektif dibanding Indonesia. Ferrianta, Y., N.Hanani, B. Setiawan and W.Muhaimin (2012) Econometric , Persamaan Simultan 2SLS. ACFTA, Indonesi a, Jagung

- Impor meningkat, harga domestik naik, permintaan domestik naik, dan produksi relatif tidak berubah.

- ACFTA berdampak negatif terhadap ekonomi jagung Indonesia, 2010-2015 Aslam, M. (2012) RCA, IIT.

1995-2010

ASEAN- China FTA

Trade dan investment ASEAN-China diversion ASEAN-China FTA tidak meningkatkan total gain negara ASEAN, ekspor menurun, karena kompetisi antar negara.

Supriana, T (2013) Gravity model, panel 7 negara, 2002-2010. CAFTA, internal trade of China- ASEAN

Dampak CAFTA: Singapore, Malaysia (+, sig), China and Thailand (+, not sign), Indonesia is having negative but not significant effect, Philipina ( -, not sig)

Ranking perolehan manfaat dari CAFTA sama dengan ranking pertumbuhan TFP.

Pangestuty, F.W. and E.Yusida (2013) Simultan, 3SLS, 61 obs ACFTA, Jatim, SMIs

Efektivitas Kebijakan Fiskal

Efektivitas kebijakan fiskal dalam meningkatkan performa sektor pertanian dapat diukur melalui keberhasilannya menjalankan 2 (dua) fungsi, sebagai discretionary policy dan automatic stabilizer. Meminjam kerangka berpikir Ducanes, et al (2006), dalam discretionary policy efektivitas kebijakan fiskal diukur dengan besarnya multiplier dalam perekonomian (size of the multipliers), sedangkan dalam automatic stabilizers diukur dengan kekuatannya (magnitude) dalam menstabilkan gejolak dalam perekonomian. Dua hal tersebut terkait dengan bagaimana kebijakan fiskal dapat melipatgandakan output (perekonomian secara umum maupun sektor pertanian) dan mengendalikan harga (inflasi) maupun harga produk pertanian.

Peringatan dini studi-studi yang telah diuraikan di atas tentang konsekuensi tantangan menghadapi integrasi ekonomi regional tersebut sudah semestinya direspon dengan kebijakan pemerintah yang efektif. Kebijakan fiskal merupakan salah satu alternatif yang sangat mungkin untuk dilakukan. Berbeda dengan kebijakan fiskal di Thailand yang efektif meningkatkan kinerja sektor pertanian (Jaroensathapornkul dan Tongpan, 2007), secara umum kebijakan fiskal di Indonesia dinilai oleh Darsono (2008) tidak efektif dalam upaya memperbaiki kinerja sektor pertanian dan agroindustri. Jaroensathapornkul dan Tongpan (2007) dengan data triwulanan tahun 1997-2004 menggunakan persamaan simultan, menunjukkan sektor pertanian Thailand bukan hanya dipengaruhi oleh anggaran pemerintah yang dirancang untuk pertanian, tetapi juga oleh belanja pemerintah secara umum. Belanja pemerintah berpengaruh terhadap tingkat suku bunga, nilai tukar, harga dan pendapatan yang kemudian mempengaruhi sektor pertanian. Namun Jaroensathapornkul dan Tongpan (2007) tidak melihat efek dari integrasi ekonomi regional dan dinamika perekonomian eksternal. Padahal dengan perekonomian yang semakin terbuka, belanja pemerintah belum tentu berdampak besar seperti dalam temuannya.

Darsono (2008), dengan VECM, menunjukkan bahwa secara umum kebijakan fiskal tidak efektif memperbaiki kinerja sektor pertanian dan agroindustri. Dorongan fiskal belum optimal dan bertendensi menurun (undervalue) untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian dan agroindustri, karena adanya gejala kurang tepat sasaran (missalocation) dan kurang fokus pada fasilitas publik pertanian (seperti infrastuktur pertanian dan agroindustri) dan strategi pertumbuhan jangka panjang (seperti penelitian dan pengembangan pertanian). Instrumen kebijakan fiskal yang berpengaruh kuat, direspon positif, dan efektif dalam mempengaruhi variabilitas dan peningkatan kinerja sektor pertanian dan agroindustri adalah: penerimaan pajak penghasilan, penerimaan pajak pertambahan nilai, anggaran penelitian dan pengembangan pertanian, anggaran infrastruktur pertanian, dan desentralisasi fiskal.

Perbedaan efektivitas kebijakan fiskal dapat ditemukan dalam banyak studi sebelumnya. Secara umum, hal-hal yang menyebabkan perbedaan efektivitas kebijakan fiskal tersebut antara lain adalah derajat keterbukaan perekonomian suatu negara, perilaku pemerintah dalam kebijakan fiskal, serta perilaku rumah tangga dan swasta. Beberapa kondisi lain yang dapat mendukung efektivitas kebijakan fiskal antara lain adalah infrastruktur fisik dan sosial (Benin et al.,

23

2008; Gaiha, 2010; Hussein et al., 2009), kelembagaan (Debrun dan Kumar, 2007; Dabla-Noris et al., 2010; Kyriacou dan Oriol, 2010) dan harmonisasi dengan kebijakan moneter (Hemming et al., 2002; Mankiw, 2002; Romer, 2006). Keterbukaan Ekonomi

Model Mundel-Flemming (Mundell, 1963) dengan kerangka model IS-LM Keynesian memprediksi efektivitas kebijakan fiskal terhadap perekonomian. Studi literatur yang dilakukan Hemming et al (2002) merangkum berbagai teori dan studi sebelumnya, menyimpulkan bahwa fiscal multiplier akan positif atau besar ketika; ada kelebihan kapasitas (excess capacity), perekonomian tertutup atau terbuka dengan fixed exchange rate, dan rumah tangga memiliki keterbatasan time horizons atau pembatasan likuiditas. Sementara Ilzetski et al. (2010) mengujinya dengan data triwulanan 44 negara dan membuktikan bahwa fiscal multipliers pada

open economies lebih rendah dari pada closed economies. Dalam open economies, fiscal multiplier relatif besar pada perekonomian dengan predetermined exchange rate tetapi nol pada perekonomian dengan flexible exchange rates.

Perbedaan efektivitas kebijakan fiskal tersebut terkait apa yang disebut sebagai crowding out effect. Crowding out adalah reduksi private investment yang terjadi karena peningkatan pinjaman pemerintah. Jika peningkatan belanja pemerintah dan atau penurunan penerimaan pajak (yang menyebabkan defisit anggaran) dibiayai dengan hutang yang meningkatkan tingkat suku bunga, sehingga private investment menurun. Pada perekonomian tertutup, itu terjadi karena peningkatan tingkat suku bunga (akibat ekspansi fiskal) yang menurunkan investasi. Sedangkan pada perekonomian terbuka dengan flexible exchange rate

dan perfect capital mobility, crowding out terjadi karena apresiasi nilai tukar domestik yang menurunkan net ekspor (Mankiw, 2002; Romer, 2006; Hemming

et al, 2002). Jadi secara teoritis, semakin tinggi tingkat keterbukaan ekonomi maka efektivitas kebijakan fiskal akan semakin menurun.

Heath (2010) meneliti efek kebijakan fiskal terhadap real interest rate, dengan menggunakan dynamic panel data, 59 negara dalam kurun waktu 1970 hingga 2006. Ditemukan bahwa perubahan dalam national savings berpengaruh