6 INTEGRASI EKONOMI REGIONAL, KEBIJAKAN FISKAL DAN KINERJA SEKTOR PERTANIAN
A. Pertanian Non Pangan (Agricultural Raw Material)
ASEAN 613.9 645.8 5.20 ASEAN 373.2 384.4 3.00
China 2,324.3 2,475.9 6.52 China 173.1 335.5 93.82
ROW 7,315.6 7,335.4 0.27 ROW 910.2 936.3 2.87
Dunia 10,253.8 10,457.1 1.98 Dunia 1,456.4 1,656.2 13.72
B. Pangan (All Foods Items)
ASEAN 8,009.5 8,407.7 4.97 ASEAN 2,522.3 2,711.3 7.49 China 2,558.0 2,871.7 12.26 China 1,774.8 1,956.8 10.25 ROW 18,053.7 18,256.9 1.13 ROW 1,910.3 1,957.4 2.47 Dunia 28,621.1 29,536.4 3.20 Dunia 6,207.3 6,625.5 6.74 C. Non Pertanian ASEAN 24,969.5 29,354.3 17.56 ASEAN 35,456.6 40,570.9 14.42 China 10,483.7 11,633.5 10.97 China 28,586.8 38,675.0 35.29 ROW 78,192.5 78,271.1 0.10 ROW 26,464.8 23,113.1 -12.66 Dunia 113,646.0 119,259.0 4.94 Dunia 90,508.1 102,359.0 13.09 D. Sawit (SITC 42) ASEAN 2,609.2 3,173.1 21.61 ASEAN 29.4 25.7 -12.42 China 1,619.7 1,719.2 6.14 China 1.1 1.4 22.61 ROW 10,918.5 10,687.9 -2.11 ROW 37.8 38.4 1.63 Dunia 15,147.3 15,580.2 2.86 Dunia 68.3 65.5 -4.06 E. Karet (SITC 23) ASEAN 340.1 403.4 18.61 ASEAN 62.1 77.2 24.25 China 1,201.8 1,204.1 0.19 China 41.9 44.9 7.14 ROW 7,226.4 7,242.3 0.22 ROW 603.0 582.8 -3.35 Dunia 8,768.2 8,849.9 0.93 Dunia 707.0 704.9 -0.30 Keterangan:
Perubahan: persentase selisih nilai prediksi jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya (full-CAFTA), dengan nilai dasar. ROW= rest of the world.
Jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya pada akhir tahun 2015 (Tabel 33), maka peningkatan ekspor 2016-2020 tertinggi secara persentase adalah ke China sebesar 6.52 persen. Impor dari China terutama bahan tekstil pada periode yang sama juga meningkat sangat tinggi secara persentase, namun secara absolut relatif berimbang. Ekspor-impor pertanian non pangan dengan ASEAN juga mengalami peningkatan dengan peningkatan ekspor lebih tinggi secara absolut mauput relatif dari pada peningkatan impor.
Produk pangan (all foods item)
Jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya pada akhir tahun 2015, maka ekspor pangan Indonesia tahun 2016-2020 diprediksi meningkat 3.20 persen. CAFTA bukanlah pasar utama komoditas pangan Indonesia, terlihat dari ekspor terbesar ke rest of the world. Ekspor utama komoditas pangan Indonesia adalah kopi, kakao, teh, rempah-rempah, tuna dan udang (selain kelapa sawit). Ekspor pangan ke China mengalami peningkatan tertinggi sebesar 12.26 persen, demikian pula dengan impor sebesar 10.25 persen. Meskipun nilai impor pangan Indonesia relatif kecil (dibanding ekspor), namun sebagian besar adalah komoditas strategis (kebutuhan pokok) penduduk. Produk yang dimaksud diantaranya beras (dari Thailand dan Vietnam) dan gula (Vietnam), bawang merah dan putih (China),
daging sapi, susu, kedelai, serta gandum untuk terigu (rest of the world). Demikian pula untuk komoditas jagung, impor akan meningkat tinggi dibanding peningkatan ekspornya (Ferrianta, et al., 2012). Peningkatan impor pangan dari China 2016-2020 relatif lebih rendah dibanding awal pemberlakuan CAFTA, seiring dengan telah banyaknya produk pangan Chna di pasar Indonesia. Impor dari China tersebut terutama buah-buahan dan sayuran dapat diamati dengan meningkatnya jeruk, apel dan pear China di pasar domestik pada tahun-tahun tersebut. Secara umum, pemberlakuan CAFTA meningkatkan ekspor dan impor komoditas pangan, dengan laju peningkatan impor yang cenderung lebih tinggi. Produk non pertanian
Untuk produk non pertanian, penghapusan tarif intra CAFTA diprediksi mampu meningkatkan arus perdagangan antara Indonesia, ASEAN dan China. Ekspor Indonesia ke ASEAN meningkat 17.56 persen, ke China meningkat 10.97 persen, sementara ke negara lainnya naik 0.10 persen. Impor Indonesia dari ASEAN maupun China meningkat tinggi masing-masing 14.42 persen dan 35.29 persen, sebaliknya impor dari negara lainnya justru menurun. Peningkatan impor yang tinggi dari China terjadi pada produk elektronik, komunikasi, suku cadang dan mainan.
Kelapa Sawit, Karet dan kelompoknya
Kelapa sawit dan karet merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia. Penghapusan tarif akan meningkatkan ekspor Indonesia ke ASEAN dan China, tetapi pasar utama kelapa sawit dan karet masih di luar CAFTA. Peningkatan ekspor kelapa sawit ke ASEAN terutama ke Malaysia, karena sebagian perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah milik pengusaha Malaysia. Selebihnya, baik sawit maupun karet banyak diekspor ke Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.
Gambar 17 memperlihatkan perkembangan perdagangan Indonesia dengan ASEAN dan China tahun 1995-2011 serta prediksi jika tahun 2015 seluruh tarif intra CAFTA dibebaskan. Perkembangan ekspor-impor pertanian Indonesia relatif bagus dibanding non pertanian. Namun ada kecenderungan trend kenaikan impor pangan yang lebih tinggi dibanding ekspor, justru ketika CAFTA diberlakukan sepenuhnya. Hal ini merupakan indikasi bahwa proteksi (pengenaan tarif) pada sejumlah komoditas pangan strategis yang dilakukan pemerintah adalah tepat, sejalan dengan temuan Oktaviani, et al (2008) bahwa proteksi untuk sensitive/high sensitive relevan untuk perlindungan rumah tangga pertanian. Penghapusan tarif CAFTA berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia selain produk kelapa sawit dan karet, tetapi impor juga akan meningkat tinggi. Fakta ini yang disebut oleh Tambunan (2005) tidak ada jaminan bahwa CAFTA akan berdampak positif bagi ASEAN, termasuk Indonesia. ASEAN adalah ekspansi pasar China yang mulai jenuh pasca pertumbuhan ekonomi dan ekspornya yang sangat cepat dalam dua dasawarsa terakhir ini (Lijun, 2003). Ini terlihat dari peningkatan impor Indonesia dari China yang sangat tajam untuk komoditas pangan dan komoditas non pertanian. Produk pertanian dan pangan Indonesia bersaing dengan sesama ASEAN, sementara produk manufaktur China mudah masuk ke pasar ASEAN termasuk Indonesia. Artinya dinamika perdagangan regional cenderung mengarah
115 pada “China threat to ASEAN” yang diperkirakaan oleh Tambunan (2005), atau competitive pressure bagi ASEAN (Tongzon, 2005).
Gambar 17 Nilai Aktual, Prediksi Model dan Peramalan Perdagangan Indonesia dengan ASEAN dan China, 1995-2020.
Penyebab lainnya adalah terkait dengan teknologi yang direpresentasikan dengan total factor productivity dan akses perusahaan untuk ekspor. Supriana (2013) menentukan peringkat negara-negara CAFTA menurut besarnya dampak terhadap perdagangan: Singapura, Malaysia (positif dan signifikan), Thailand, China (positif, tidak signifikan), Indonesia (negatif, tidak signifikan) dan Philipina (negatif, signifikan). Hasil ini sama dengan peringkat tingkat pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP) negara bersangkutan. Sementara Tambunan (2011) menyoroti masalah kurangnya akses terhadap ekspor terutama bagi perusahaan menengah dan kecil, selain teknologi, skill, pengetahuan dan pembiayaan.
Trade Creation atau Trade Diversion
Efek dari integrasi ekonomi regional dalam custom union theory adalah terjadinya trade creation atau trade diversion. Untuk kasus Indonesia dalam integrasi ekonomi regional China-ASEAN, dampaknya terhadap perdagangan ditampilkan dalam Tabel 34, yang dihitung berdasarkan Tabel 33 di atas.
Tabel 34 Dampak Integrasi Ekonomi Regional China-ASEAN terhadap Trade Creation dan Trade Diversion Indonesia, 2005-2020
Kelompok Komoditas Tahun
2005-2011 2012-2015 2016-2020
(1) (2) (3) (4)
Pertanian Non Pangan
Intra-CAFTA trade creation creation creation Import trade creation creation creation Export trade creation creation creation
Pangan
Intra-CAFTA trade creation creation creation Import trade diversion creation creation Export trade diversion creation creation
Non Pertanian
Intra-CAFTA trade creation creation creation Import trade diversion diversion diversion Export trade creation creation creation
Keterangan: Tipologi trade creation dan trade diversion dibedakan menurut Trotignon (2010)
Intra-CAFTA umumnya trade creation, berarti bahwa pemberlakuan CAFTA mampu meningkatkan volume perdagangan antar anggota. Namun pemberlakuan integrasi ekonomi regional ini menyebabkan import trade diversion
untuk kategori produk non pertanian. Impor produk non pertanian dari rest of the world menurun, digantikan oleh perdagangan sesama anggota. Sementara ekspor cenderung trade creation, kecuali kategori pangan. Export trade creation berarti bahwa peningkatan ekspor sesama anggota tidak menurunkan ekspor ke negara di luar anggota.
Alasan Kinerja Sektor Pertanian Tidak Membaik Pasca CAFTA Indonesia diprediksi belum mampu memperoleh manfaat ekonomi seperti yang diharapkan dari pemberlakuan intergrasi ekonomi regional CAFTA. Dampak negatif dari CAFTA terhadap ekonomi dan sektor pertanian Indonesia ini tidak
117 sejalan dengan theoretical wisdom perdagangan internasional, maka perlu ditelaah lebih lanjut apa penyebabnya. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab mengapa Indonesia belum mampu memanfaatkan pemberlakuan CAFTA, adalah faktor tantangan tekanan kompetisi dan kekakuan pasar domestik dalam merespon peluang. Tekanan kompetisi telah diingatkan sebelumnya oleh Roland- Holst dan Weiss (2004) dan Tongzon (2005). Sementara kekakuan pasar domestik sangat terkait dengan low productivity dan inefisiensi yang secara spesifik dijabarkan sebagai berikut;
Pertama, masalah teknologi. Indonesia belum mampu memetik manfaat dari pemberlakuan CAFTA salah satunya karena rendahnya teknologi yang digunakan relatif terhadap negara mitra, kurangnya skill worker dan lemahnya pengetahuan terkait dengan potensi bisnis dalam pasar global (Tambunan, 2011; Supriana, 2013). Sebagai ilustrasi, laut Indonesia sangat luas dengan kekayaan yang melimpah. Namun teknologi penangkapan ikan nelayan Indonesia yang sebagian besar masih tradisional, tidak kompetitif dengan negara lain yang penangkapan dan penyimpanannya lebih modern. Impor barang modal yang dilakukan juga perlu dikaji lebih mendalam apakah barang modal tersebut masih produktif (ekonomis) atau barang bekas yang nilai ekonomisnya sudah jauh berkurang.
Ke dua, kurangnya inovasi. Inovasi merupakan salah satu modal penting dalam berkompetisi. Kurangnya inovasi terlihat dari data patent application
Indonesia yang relatif rendah dibanding negara sesama anggota CAFTA (Tabel 35). Jumlah patent application Indonesia lebih rendah dibanding Thailand, Malaysia, Singapura, terlebih China. Tentu angka ini semakin kontras jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar.
Tabel 35 Banyaknya Pemakaian Hak Patent (Patent Application) Beberapa Negara CAFTA, 2005-2011 Negara 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005- 2011 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) China 210,501 245,161 289,838 314,604 391,177 526,412 2,151,020 Singapura 9,163 9,951 9,692 8,736 9,773 9,794 65,714 Thailand 6,261 6,818 6,741 5,857 1,937 3,924 37,878 Malaysia 4,800 2,372 5,303 5,737 6,383 6,452 37,333 Indonesia 4,612 4,422 5,125 4,540 5,638 5,838 34,479 Philipina 3,257 3,473 3,311 2,997 3,393 3,196 21,978 Vietnam 2,402 3,585 3,483 3,143 3,582 3,560 21,948
Sumber: World Development Indicator, melalui http:/data.worldbank.org/data-catalog/world-development- indicators [4 April 2014]
Ke tiga, permasalahan akses ekspor. Permasalahan yang sering dialami terutama bagi small medium enterprise (SMEs) adalah akses terhadap ekspor. Selama ini ekspor harus dilakukan melalui perantara, baik melalui eksportir maupun perjanjian sub kontrak dengan perusahaan besar (Tambunan, 2011). Pemberian fasilitas ekspor seperti kemudahan kredit dan sejenisnya diprediksi mampu meningkatkan dampak CAFTA terhadap perekonomian Indonesia (Oktaviani et al., 2008), karena pembiayaan untuk ekspor selama ini menjadi kendala terutama bagi SMEs (Tambunan, 2011).
Ke empat, infrastruktur dan sistem logistik. Kondisi infrastruktur dan sistem logistik yang kurang memadai menyebabkan inefisiensi ekonomi, high-cost
dan menjadi tidak kompetitif di pasar global. Produksi menjadi tidak elastis terhadap harga. Produsen tidak bisa merespon (menangkap peluang pasar) ketika terjadi kenaikan harga global maupun depresiasi rupiah. Sementara di perekonomian domestik, impor naik untuk stabilisasi, tetapi produsen domestik tidak terdorong untuk tumbuh. Infrastruktur dan sistem logistik Indonesia yang kurang memadai ditunjukan pada Tabel 36. Peringkat infrastruktur Indonesia adalah ke-56, lebih buruk dari Vietnam dan hanya lebih baik dari Philipina. Sementara indeks performa logistik secara keseluruhan Indonesia berada pada peringkat ke-53. Dalam kondisi yang seperti ini, ketika CAFTA diberlakukan sepenuhnya, maka dapat diduga bahwa Indonesia menjadi tidak kompetitif.
Tabel 36 Logistik Performance Index Beberapa Negara Anggota CAFTA , 2014
Indikator Ket Negara Singa pura Mala ysia Chin a Thai land Viet nam Indone sia Philipi na (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) LOGISTIC PERFORMANCE INDEX Skor 4.00 3.59 3.53 3.43 3.15 3.08 3.00 Rank 5 25 28 35 48 53 57 Customs Skor 4.01 3.37 3.21 3.21 2.81 2.87 3.00 Rank 3 27 38 36 61 55 47 Infrastructure Skor 4.28 3.56 3.67 3.40 3.11 2.92 2.60 Rank 2 26 23 30 44 56 75
International shipments Skor 3.70 3.64 3.50 3.30 3.22 2.87 3.33
Rank 6 10 22 39 42 74 35
Logistics quality and competence Skor 3.97 3.47 3.46 3.29 3.09 3.21 2.93
Rank 8 32 35 38 49 41 61
Tracking and tracing Skor 3.90 3.58 3.50 3.45 3.19 3.11 3.00
Rank 11 23 29 33 48 58 64
Timeliness Skor 4.25 3.92 3.87 3.96 3.49 3.53 3.07
Rank 9 31 36 29 56 50 90
Sumber: World Bank (2014), melalui http:/lpi.worldbank.org [1 Juli 2014]
Ke lima, kebijakan fiskal yang belum mendukung. Pengeluaran pemerintah sekarang ini masih cenderung mengarah pada peningkatan konsumsi. Porsi pembiayaan rutin (belanja pegawai, barang dan jasa) serta subsidi menyedot lebih dari 60 persen anggaran. Sementara belanja modal untuk riset, inovasi, pengembangan teknologi dan perbaikan infrastruktur relatif masih rendah, rata- rata hanya 19.8 persen dari total anggaran. Porsi ini lebih rendah dibanding China, Singapura, Malaysia dan Thailand (Tabel 37).
Tabel 37 Komposisi Belanja Pemerintah Beberapa Negara CAFTA, 2005-2011
Negara
Komposisi Belanja Pemerintah (%) Belanja Pegawai,
Barang dan Jasa Belanja Modal Subsidi Belanja Lainnya
(1) (2) (3) (4) (5) China 32.07 51.04 15.32 1.56 Singapore 64.76 31.62 3.45 0.17 Malaysia 38.90 30.47 24.53 6.10 Thailand 51.39 18.54 22.25 7.83 Indonesia 44.10 17.85 19.84 18.21 Philippines 47.33 14.50 15.83 22.34
Sumber: World Development Indicator, melalui http:/data.worldbank.org/data-catalog/world- development-indicators [4 April 2014]
119 Dengan kondisi yang telah disebutkan di atas, maka intervensi pemerintah sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Namun prediksi teoritis Mundell-Flemming menyebutkan kebijakan fiskal tidak efektif dalam
open small economy, nilai tukar mengambang dan mobilitas modal tidak terbatas. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya menguji apakah kebijakan fiskal masih efektif dalam era integrasi ekonomi regional, serta alternatif-alternatif kebijakan yang terbaik dalam era tersebut. Fenomena tersebut dapat diilustrasikan dalam Gambar 18 berikut.
Gambar 18 Alasan Kinerja Sektor Pertanian Indonesia Tidak Meningkat pada Era CAFTA
Efektivitas Kebijakan Fiskal dalam Integrasi Ekonomi Regional CAFTA Tabel 38 membagi simulasi dalam 3 (tiga) periode waktu: 2005-2011 sebagai evaluasi pengalaman historis, 2012-2015 (dimulainya penurunan tarif beberapa sensitive/high sensitive list CAFTA dan menjelang ASEAN Economic Community 2015), dan 2016-2020 untuk prediksi ke depan seandainya akhir tahun 2015 full-CAFTA diberlakukan. Efektivitas kebijakan fiskal diukur dengan perubahan kinerja ekonomi dan pertanian oleh kenaikan pengeluaran pemerintah. Dikatakan lebih efektif jika dengan kenaikan pengeluaran pemerintah sama, menghasilkan indikator-indikator kinerja yang lebih baik.
Hasil simulasi menunjukkan efektivitas kebijakan fiskal ketika full-CAFTA
cenderung lebih rendah dibanding sebelumnya. Meskipun masih efektif untuk meningkatkan kinerja perekonomian, namun efektivitas (dampak positif) kebijakan fiskal menurun ketika diberlakukan integrasi ekonomi regional. Hal itu
Produktivitas Rendah
Inefisiensi
Dukungan Kebijakan yang Baru
dari Pemerintah Teknologi Inovasi Belanja Modal Fasilitas Ekspor Infrastruktur & Sistem Logistik Daya Saing Rendah & Rigiditas Pasar Domestik Kebijakan Pemerintah Saat Ini
Tekanan Kompetisi:
ditunjukkan oleh dampak ekspansi fiskal terhadap PDB riil dan PDB riil sektor pertanian dalam CAFTA yang lebih rendah dibanding sebelum full-CAFTA. Tabel 38 Dampak Kenaikan Pengeluaran Pemerintah 10 Persen terhadap Kinerja
Sektor Pertanian, Sebelum dan Sesudah CAFTA (dalam persen).
Indikator Kinerja Unit
2005-2011 2012-2015 2016-2020 Tarif Berla ku1) Full CAFT A2) Tarif 20111) Full CAFT A2) Tarif 20111) Full CAFT A2) SIM 01 SIM 02 SIM 03 SIM 04 SIM 05 SIM 06 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) A. MAKROEKONOMI
PDB Riil (YI) Juta US$ 1.56 1.85 3.41 1.74 2.25 1.04
Konsumsi Pangan (CFI) Juta US$ 0.53 0.45 1.31 0.51 1.23 0.48
Konsumsi Non Pangan (CNFI) Juta US$ 0.68 0.63 1.39 0.58 1.44 0.52
Penerimaan Pajak (TAXI) Juta US$ 1.18 1.09 2.01 0.20 1.29 -0.02
Net Capital Inflows (NCII) Juta US$ 6.74 6.39 6.18 0.62 3.98 -0.10
Nilai Tukar (EXRI) Rp/US$ 1.47 1.14 1.79 0.48 3.12 -0.04
Sk Bunga Deposito Riil (RDI) % 1.99 0.94 0.54 -0.08 0.16 -0.14
Investasi Swasta (ISI) Juta US$ -0.84 -0.02 -0.20 0.95 -0.53 1.41
B. PERDAGANGAN
Neraca Perdagangan (NXI) Juta US$ -0.30 0.65 -1.80 -0.65 -1.81 -0.01
Total Ekspor (XI) Juta US$ -0.10 -0.12 0.03 0.03 -0.30 -0.01
Total Impor (MI) Juta US$ 0.10 0.04 0.99 0.28 0.10 0.18
Impor Non Pangan (MAIW) Juta US$ 3.69 3.78 6.92 0.98 8.68 0.94
Ekspor Non Pangan (XAIW) Juta US$ 1.60 0.05 0.21 2.07 1.47 -0.03
Impor Pangan (MFIW) Juta US$ 3.46 3.78 4.66 0.72 3.89 0.28
Ekspor Pangan (XFIW) Juta US$ -0.01 -0.17 0.14 0.02 0.15 0.01
Impor Non Pertanian (MOIW) Juta US$ -0.25 -0.25 0.79 0.29 -0.25 0.19
Ekspor Non Pertanian (XOIW) Juta US$ -0.08 -0.11 -0.01 0.01 -0.03 0.01
Ekspor Sawit/SITC 42 (XPLIW) Juta US$ -0.91 -0.51 -0.34 -0.31 -2.27 -0.04
Impor Karet/SITC 23 (XRBIW) Juta US$ -1.39 0.05 0.66 -1.49 -5.00 -0.29
C. STABILISASI
Harga Produsen Pertanian (PPI) 2000=100 0.05 0.41 -1.60 0.55 1.08 0.27
Harga Konsumen Makanan (PFI) 2000=100 1.02 1.40 -0.03 0.06 0.13 0.05
Harga Kons Non Makanan (PNFI) 2000=100 1.55 1.90 0.42 0.06 0.25 -0.03
Harga Konsumen Umum (PI) 2000=100 1.31 1.65 0.21 0.06 0.21 0.03
D. PERTANIAN
PDB Pertanian Riil (YAGI) Juta US$ 0.33 0.29 0.43 0.05 0.34 -0.10
Produksi Non Pangan (QAI) 2000=100 0.13 0.00 -0.06 0.27 0.68 0.00
Produksi Pangan (QFI) 2000=100 0.00 0.07 -0.06 0.06 0.10 0.00
Investasi Sektor Pertanian (IAGI) Juta US$ 2.87 2.85 21.49 2.88 11.05 0.11
Stok Kapital Pertanian (KAGI) Juta US$ 0.50 0.47 0.48 0.05 0.44 0.00
Buruh/Karyawan Pertanian (LPAGI) Ribu Org 0.01 0.01 0.01 0.00 0.01 -0.01
Wirausaha Pertanian (LEAGI) Ribu Org -0.05 0.03 0.00 0.09 0.21 0.02
E. PENDAPATAN
Upah Riil Pertanian (WAGI) US$/Bln 0.16 0.06 0.16 0.03 0.16 -0.09
Produktivitas (YAGI/LAGI) Juta US$ 0.33 0.28 0.42 0.02 0.25 -0.10
Keterangan: 1)
dibandingkan dengan rata-rata nilai sebelum CAFTA diberlakukan sepenuhnya, tanpa kebijakan fiskal
2)
dibandingkan dengan rata-rata nilai jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya, tanpa kebijakan fiskal. SIM01: Pengeluaran pemerintah naik 10 persen dan tarif berlaku.
SIM03, SIM05: Pengeluaran pemerintah naik 10 persen dan tarif 2011.
SIM02, SIM04, SIM06: Pengeluaran pemerintah naik 10 persen dan full-CAFTA.
Kenaikan/penurunan suku bunga dihitung dalam persen poin.
Simulasi peningkatan 10 persen pengeluaran pemeritah berdampak terhadap peningkatan PDB riil sektor pertanian sebesar 0.33 persen (2005-2011), 0.43 persen (2012-2015) dan 0.34 persen (2016-2020). Selanjutnya skenario jika (seandainya) ekspansi fiskal tersebut dilakukan dalam kondisi full-CAFTA, dampaknya terhadap PDB riil sektor pertanian menurun menjadi 0.29 persen
121 (2005-2011), 0.05 persen (2012-2015) dan negatif 0.10 persen (2016-2020). Sesuai prediksi teoritis, reduksi output tersebut terjadi karena penurunan net ekspor akibat penguatan nilai tukar secara relatif.
Efektivitas pengeluaran pemerintah yang lebih rendah, bukan berarti tidak diperlukan dalam masa integrasi ekonomi regional. Intepretasinya adalah diperlukan besaran ekspansi fiskal yang lebih besar dalam integrasi ekonomi regional dibanding sebelumnya. Ini terkait dengan volatilitas perekonomian akibat pengaruh eksternal yang lebih besar. Kueh et al. (2008) menemukan adanya hubungan jangka panjang antara trade openness dengan government size
(pengeluaran pemerintah). Peningkatan keterbukaan ekonomi melalui integrasi ekonomi regional bisa jadi menimbulkan kerentanan yang lebih besar bagi small economy akibat fluktuasi eksternal. Dalam kondisi demikian, kebijakan fiskal berperan sebagai stabilisator sekaligus stimulator perekonomian domestik, untuk mereduksi resiko eksternal dan untuk proteksi infant industry domestik.
Temuan ini menunjukkan bahwa prediksi Mundell-Flemming model bahwa kebijakan fiskal tidak efektif dalam small open economy, tidak sepenuhnya berlaku untuk kasus integrasi ekonomi regional Indonesia. Hal ini disebabkan karena integrasi ekonomi regional hanya merupakan sebagian dari keterbukaan ekonomi. Selain itu, asumsi lain seperti free capital mobility dan floating exchange rate tidak sepenuhnya terjadi. Masih dilakukan kontrol terhadap mobilitas kapital. Tidak ada satu negara pun yang murni menganut flexible atau
floating exchange rate (Kimakova, 2006). Meskipun searah dengan mainstrean teori ekonomi dan studi literatur Hemming et al (2002), ekspansi fiskal meningkatkan suku bunga riil, namun menurut studi empiris Heath (2010) efeknya kecil. Efek kecil karena salah satu tujuan fiskal adalah menarik investasi, maka tingkat suku bunga tentunya akan dikendalikan (Hadiwibowo, 2010). Keterbukaan ekonomi dapat meningkatkan investasi melalu peningkatan daya saing (Ridwan, 2009), crowding out yang terjadi akibat kenaikan suku bunga akan tereduksi oleh spill over lintas batas (Claeys et al., 2008).
Jadi, efektivitas kebijakan fiskal menurun ketika diberlakukan integrasi ekonomi regional, sementara perannya dianggap vital untuk mereduksi volatilitas akibat gejolak eksternal. Oleh karena itu perlu dicarikan kondisi yang membuat kebijakan fiskal lebih efektif meskipun dalam kerangka integrasi ekonomi regional.
Alternatif-alternatif Kebijakan Fiskal dalam Integrasi Ekonomi Regional Kebijakan fiskal dapat mempengaruhi sektor pertanian melalui beberapa jalur. Belanja modal mempengaruhi kinerja sektor pertanian melalui peningkatan efisiensi. Pembangunan infrastruktur, penyediaan sarana publik, serta pembelian barang modal yang dilakukan pemerintah dapat memperlancar distribusi serta meningkatkan efisiensi perekonomian. Hal itu akan mempengaruhi harga serta daya saing ekspor. Belanja modal pemerintah akan semakin efektif ketika berkomplemen (saling melengkapi dan mendukung) dengan swasta. Namun, beberapa riset masih ambigu apakah investasi pemerintah di Indonesia saling melengkapi atau justru bersubstitusi dengan investasi swasta. Belanja rutin berupa
belanja pegawai, barang (bukan modal) dan jasa, mempengaruhi kinerja sektor pertanian melalui peningkatan disposable income. Selain meningkatkan output karena barang yang diminta, belanja rutin juga meningkatkan pendapatan pegawai dan keluarganya. Demikian pula subsidi akan meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat. Peningkatan daya beli tentu meningkatkan konsumsi pangan, konsumsi non pangan serta permintaan terhadap barang impor. Ketiganya berpengaruh terhadap ekspor-impor, harga domestik, kembali mempengaruhi output.
Sementara itu, belanja pemerintah membutuhkan pembiayaan. Sumber pembiayaan selain pajak adalah dengan penjualan obligasi pemerintah yang akan mempengaruhi tingkat suku bunga. Tingginya suku bunga deposit dapat menarik arus modal masuk, namun tingginya suku bunga pinjaman akan meningkatkan beban investor. Peningkatan beban investor menurunkan minat investasi swasta (termasuk untuk sektor pertanian) yang tentu mereduksi output perekonomian. Sementara tingginya arus modal masuk menyebabkan apresiasi nilai tukar yang mempengaruhi ekspor-impor pertanian, biaya input (dari impor) dan harga domestik komoditas pertanian dan pangan.
Jalur keterkaitan antara kebijakan fiskal dengan sector pertanian tersebut mempengaruhi perbedaan efektivitas kebijakan fiskal yang sering ditemukan dalam banyak studi sebelumnya. Dalam tinjauan teori telah diuraikan beberapa hal yang nenpengaruhi efektivitas kebijakan fiskal. Beberapa hal yang diduga menentukan efektivitas kebijakan fiskal tersebut, diantaranya adalah optimalisasi anggaran, prioritas penambahan belanja pemerintah, instrument dan sumber pembiayaan yang tepat, kondisi infrastruktur (fisik, sosial, kelembagaan) yang memadai, harmonisasi dengan kebijakan lain (moneter) serta ketepatan waktu. Kondisi spesifik tiap negara bisa jadi berbeda. Hasil estimasi dan simulasi model ekonometrika untuk Indonesia, diuraikan dalam pembahasan di bawah ini.
Alternatif Alokasi Anggaran
Untuk mereduksi volatilitas ekonomi, Kueh et al (2008) menyarankan pengeluaran pemerintah yang lebih besar sejalan dengan peningkatan tingkat keterbukaan. Sementara sumber pembiayaan pengeluaran pemerintah utamanya berasal dari pajak. Pembebasan tarif melalui integrasi ekonomi regional mengurangi penerimaan pajak. Penerimaan dari non pajak bisa berupa penerimaan dari sumber daya alam, privatisasi BUMN, hutang dan sejenisnya yang dalam beberapa hal kontra produktif dengan perekonomuan negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu solusinya adalah mengoptimalkan belanja pemerintah. Belanja yang optimal menghasilkan output yang optimal, penerimaan pajak meningkat, maka sumber pembiayaan untuk pengeluaran pemerintah berikutnya dapat teratasi.
Dalam laporan IMF, secara umum postur pengeluaran pemerintah dapat dibedakan menjadi 4 (empat) bagian; belanja pegawai, barang dan jasa atau sering disebut sebagai belanja rutin (GERI), belanja modal (GEII), subsidi (GESI) dan pengeluaran lainnya seperti pembayaran bunga dan sejenisnya (GEOI). Dalam rentang waktu 2005-2011, rata-rata komposisi pos pengeluaran pemerintah berturut-turut adalah 44:18:20:18. Porsi GERI adalah 44 persen, GEII 18 persen, GESI 20 persen dan GEOI 18 persen. Walaupun hasil simulasi untuk tahun 2016-
123 2020 dalam full-CAFTA, komposisinya berubah menjadi 48:14:19:19. Untuk menentukan pos pengeluaran yang semestinya diprioritaskan, dilakukan simulasi 07-11 yang hasilnya ditampikan pada Tabel 39.
Tabel 39 Dampak Pergeseran Alokasi Pengeluaran Pemerintah terhadap Kinerja Sektor Pertanian Indonesia, Jika CAFTA Diberlakukan Sepenuhnya, 2016-2020 (dalam persen).
Indikator Kinerja Unit Nilai Dasar Perubahan (%) SIM 07 SIM 08 SIM 09 SIM 10 SIM 11 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) A. MAKROEKONOMI
PDB Riil (YI) Juta US$ 368,745.0 -0.15 0.02 0.25 0.52 0.01
Konsumsi Pangan (CFI) Juta US$ 90,533.3 -0.38 0.66 0.17 -0.33 -1.38
Konsumsi Non Pangan (CNFI) Juta US$ 105,515.0 -0.42 0.70 0.18 -0.35 -1.47
Penerimaan Pajak (TAXI) Juta US$ 37,454.7 -0.47 -0.04 0.22 0.48 0.04
Net Capital Inflows (NCII) Juta US$ 4,552.3 -1.22 -0.04 0.57 1.18 0.00
Nilai Tukar (EXRI) Rp/US$ 16,112.8 -0.62 0.38 0.27 0.15 -0.85
Investasi Swasta (ISI) Juta US$ 62,217.1 2.01 0.11 2.01 1.50 1.00
B. PERDAGANGAN
Neraca Perdagangan (NXI) Juta US$ 68,378.8 0.32 -0.44 -0.15 0.14 0.91
Total Ekspor (XI) Juta US$ 197,011.0 0.00 0.01 0.00 -0.01 -0.02
Total Impor (MI) Juta US$ 128,633.0 -0.17 0.25 0.08 -0.10 -0.51
Impor Non Pangan (MAIW) Juta US$ 1,776.8 -1.11 0.01 0.55 1.10 -0.02
Ekspor Non Pangan (XAIW) Juta US$ 10,663.6 -0.06 0.04 0.02 0.00 -0.09
Impor Pangan (MFIW) Juta US$ 7,485.9 -1.20 0.00 0.54 1.08 -0.12
Ekspor Pangan (XFIW) Juta US$ 30,589.5 -0.11 0.08 0.04 0.00 -0.19
Impor Non Pertanian (MOIW) Juta US$ 99,757.9 -0.10 0.33 0.05 -0.23 -0.66
Ekspor Non Pertanian (XOIW) Juta US$ 118,767.0 0.02 0.01 -0.01 -0.02 -0.01
Impor Sawit/SITC 42 (MPLIW) Juta US$ 46.1 0.60 -1.17 -0.20 0.77 2.55 Ekspor Sawit/SITC42 (XPLIW) Juta US$ 13,907.8 0.27 -0.13 -0.11 -0.08 0.33 Impor Karet/SITC23 (MRBIW) Juta US$ 720.8 -0.54 -0.14 0.25 0.64 0.24 Impor Karet/SITC 23 (XRBIW) Juta US$ 7,312.0 -0.13 0.03 0.08 0.12 -0.03
C. STABILISASI
Harga Prod Pertanian (PPI) 2000=100 397.2 0.07 -0.05 -0.05 -0.05 0.07
IHK Makanan (PFI) 2000=100 394.8 -0.13 -0.03 0.05 0.13 0.03
IHK Non Makanan (PNFI) 2000=100 405.7 -0.25 -0.10 0.10 0.32 0.15
IHK Umum (PI) 2000=100 401.0 -0.20 -0.07 0.07 0.22 0.10
D. PERTANIAN
PDB Pertanian Riil (YAGI) Juta US$ 42,935.4 -0.19 -0.02 0.08 0.18 0.01
Produksi Non Pangan (QAI) 2000=100 199.3 -0.01 0.00 0.01 0.02 -0.08
Produksi Pangan (QFI) 2000=100 195.7 0.00 -0.01 0.00 -0.03 0.02
Investasi Sktr Pertanian (IAGI) Juta US$ 4,379.9 -1.64 0.21 0.86 1.51 -0.33
Buruh Pertanian (LPAGI) Ribu Org 33,423.8 -0.01 0.00 0.00 0.01 0.00
Wirausaha Pertanian (LEAGI) Ribu Org 20,410.0 0.03 0.00 -0.02 -0.03 0.00
E. PENDAPATAN
Upah Riil Pertanian (WAGI) US$/bln 22.1 -0.17 -0.02 0.07 0.17 0.01
Produktivitas (YAGI/LAGI) Juta US$ 797.6 -0.19 -0.02 0.09 0.19 0.01
Keterangan:
1. Skenario simulasi pergeseran alokasi pengeluaran pemerintah