6 INTEGRASI EKONOMI REGIONAL, KEBIJAKAN FISKAL DAN KINERJA SEKTOR PERTANIAN
POS PENGELUARAN KOMPOSISI PENGELUARAN PEMERINTAH(%)
Dasar SIM07 SIM08 SIM09 SIM10 SIM11
Rutin (GERI) 44 40 40 40 40 40
Modal (GEII) 18 20 20 25 30 30
Subsidi (GESI) 20 20 25 20 15 10
Lainnya (GEOI) 18 20 15 15 15 20
2. Nilai dasar: nilai prediksi jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya pada struktur pengeluaran pemerintah yang ada (rata-rata 2005-2011) yaitu Rutin : Modal : Subsidi : Lainnya = 44 : 18 : 20 : 18
Pergeseran alokasi anggaran belanja pemerintah dalam prakteknya tidak semudah skenario matematis. Ada beberapa keterbatasan dalam pergeseran alokasi pengeluaran pemerintah ini. Belanja rutin (GERI) erat terkait dengan operasional penyelenggaraan negara, oleh karena itu porsinya relatif rigid (kaku), sulit untuk digeser. Selain itu adanya ketentuan undang-undang tentang keharusan 20 persen anggaran untuk pendidikan, serta adanya kewajiban dalam membayar bunga hutang. Oleh karena itu pergeseran tidak dapat dilakukan secara ekstrim, hanya beberapa skenario saja yang mungkin dilakukan.
Tiga opsi skenario yang rasional adalah SIM 09, 10 dan 11. Ketiga skenario tersebut diprediksi memberikan kinerja perekonomian dan sektor pertanian yang lebih baik dibanding skenario-skenario lainnya. SIM 10 dan 11 memprioritaskan pada belanja modal dengan perbedaan alokasi subsidi, sementara SIM 09 mempertahankan porsi subsidi.
Untuk memperoleh gambaran apakah belanja modal atau subsidi yang seharusnya lebih diprioritaskan, dapat dilakukan dengan membandingkan SIM 08, 09 dan 10. Ketiga simulasi ini melakukan skenario porsi GERI dan GEOI yang sama, serta GEII dan GESI berbeda. Output tertinggi berturut-turut adalah SIM 10, SIM 09 dan SIM 08, sesuai dengan urutan belanja modal. Berdasarkan hasil ini, maka alokasi pengeluaran selayaknya diprioritaskan untuk belanja modal dibanding subsidi. Untuk memperoleh gambaran apakah subsidi diperlukan dalam masa integrasi ekonomi regional, dapat dilakukan dengan membandingkan SIM 10 dengan SIM 11. Kedua simulasi ini melakukan skenario porsi GERI dan GEII yang sama, serta GESI dan GEOI yang berbeda. Dalam SIM 10 dengan porsi subsidi yang lebih besar, output lebih tinggi dibanding SIM 11 yang belanja lainnya lebih besar. Berdasarkan hasil ini, maka alokasi pengeluaran untuk subsidi masih berperan penting.
Hasil simulasi menunjukkan pengeluaran lain (bunga pinjaman) tidak efektif untuk meningkatkan output. Simulasi-simulasi dengan skenario porsi pengeluaran lain yang relatif besar, semuanya memberikan hasil output yang lebih rendah. Hasil ini tidak mengejutkan dan tidak jauh berbeda dengan penelitian- penelitian sebelumnya. Abdullah et al, (2009), Hadiwibowo (2010) dan Hussein et al, (2009), sebelumnya telah meneliti bahwa alokasi anggaran pemerintah untuk pembangunan seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan akan meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan alokasi anggaran untuk non pembangunan seperti pertahanan dan cicilan hutang berpengaruh negatif terhadap keduanya .
Untuk peningkatan performa makro ekonomi dalam integrasi ekonomi regional (CAFTA), sebaiknya pemerintah memprioritaskan pengeluaran untuk belanja modal (GEII). Peningkatan output (YI) tertinggi terjadi pada SIM 10 yang memberikan porsi tinggi untuk belanja modal, namun tetap memberikan porsi belanja subsidi yang memadai (lebih dari 10 persen). Pentingnya peran subsidi, menunjukkan perekonomian Indonesia masih digerakkan oleh konsumsi. Ini diperkuat oleh data BPS (2013), bahwa konsumsi menyumbang sekitar 50-60 persen dalam pembentukan PDB triwulanan tahun 2012-2013. Jadi dalam integrasi ekonomi regional, belanja modal untuk meningkatkan output masih
125 harus diimbangi dengan subsidi meningkatkan daya beli dan mendorong konsumsi.
Kinerja sektor pertanian lebih inelastis dibanding perekonomian secara umum. Fluktuasi peningkatan/penurunan kinerja sektor pertanian lebih kecil dibanding non pertanian. Tabel 39 menunjukkan secara umum dengan berbagai skenario simulasi, sektor pertanian berkembang ketika porsi belanja modal (GEII) tinggi. Berarti bahwa sektor pertanian sekarang ini membutuhkan sarana publik (infrastruktur). Peningkatan PDB riil sektor pertanian (YAGI) tertinggi terjadi pada SIM 10 yang memberikan porsi tinggi untuk belanja modal dan subsidi. Porsi yang lebih tinggi lagi pada subsidi memang mampu meningkatkan konsumsi tetapi tidak diikuti oleh peningkatan produksi (SIM 08). Subsidi bahan bakar dan energi terutama untuk rumah tangga (bukan untuk industri dan jasa) meningkatkan disposable income. Namun peningkatan disposable income mereka umumnya dibelanjakan bukan untuk produk pertanian, melainkan produk non pertanian yang sebagian besar adalah impor. Subsidi input pertanian, jika tidak diikuti dengan kenaikan harga output, tidak mampu menstimulus produksi.
Ketika seluruh tarif CAFTA dibebaskan, ekspor maupun impor hampir pasti akan meningkat. Kebijakan fiskal diharapkan mampu meningkatkan kinerja perdagangan, meningkatkan ekspor dan menahan laju impor. Namun masalah perdagangan belum dapat dijawab dengan optimalisasi komposisi fiskal.
Hasil simulasi belum memberikan informasi yang konsisten untuk dapat dianalisa. Kebijakan yang dipilih selayaknya disesuaikan dengan tujuan yang diinginkan sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 19. Jika fokus pada pengendalian harga saja, maka SIM 08 yang dipilih, sebaliknya jika prioritas pada output maka SIM 09 dan SIM 11 yang dipilih. Beberapa kebijakan dapat memberikan dampak positif untuk beberapa indikator, seperti SIM 10 (output dan perdagangan) serta SIM 07 (harga dan perdagangan). Namun tidak ada yang dapat menyelesaikan semua masalah. Oleh karena indikator utama perekonomian adalah output, maka SIM 10 merupakan alternatif yang paling disarankan.
Gambar 19. Diagram Pilihan Kebijakan Pengalokasian Anggaran Pemerintah Kinerja sektor pertanian dan perekonomian secara umum dalam era CAFTA dapat ditingkatkan salah satunya dengan realokasi belanja pemerintah.
Diagram pilihan kebijakan
PDB NERACA PERDAGANGAN HARGA PANGAN (KONSUMEN) SIM 09 SIM 11 SIM 08 SIM 07 SIM 10
Belanja modal menjadi prioritas, namun dengan constraint subsidi tetap harus ada minimal 15 persen untuk menjaga konsumsi dan belanja rutin sekurang-kurangnya 40 persen. Pentingnya belanja modal terutama untuk pembenahan infrastruktur, stimulus riset dan inovasi serta pengembangan teknologi. Sementara subsidi masih diperlukan terutama untuk kebutuhan dasar bagi penduduk miskin yang sebagian besar beraktivitas di sektor pertanian. Ketimpangan pendapatan di Indonesia cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan pendapatan kelas menengah. Sementara penduduk kelas pendapatan bawah (miskin) masih belum beranjak. Oleh karena itu perlu diberikan perlindungan bagi mereka terutama untuk kesehatan dan pendidikan. Harapannya adalah pendapatan mereka dapat digunakan untuk konsumsi kebutuhan dasar lainnya serta buat investasi usahanya. Perlu digarisbawahi bahwa kasus ini hanya untuk realokasi pengeluaran agar optimal, tanpa menambah besaran fiskal. Untuk kasus penambahan besaran fiskal dijelaskan berikutnya.
Prioritas Penambahan Anggaran
Dengan melihat perbedaan kinerja ekonomi dan pertanian untuk alokasi anggaran yang berbeda, maka ekspansi fiskal melalui penambahan pengeluaran pemerintah perlu diprioritaskan pada pos pengeluaran yang tepat. Secara rata-rata pengeluaran pemerintah jika diukur dalam nilai US$ tahun 2000, meningkat hampir sebesar 2 milyar US$ per tahun. Untuk menentukan prioritas penambahan anggaran, maka disimulasikan untuk titik-titik ekstrim seperti pada simulasi 12 hingga 16 berikut. Dipilih simulasi penambahan dalam bentuk absolut, bukan dalam relatif (persentase kenaikan) karena besaran awal tiap pos pengeluaran tidak seimbang. Pos pengeluaran yang nilainya kecil, dengan persentase kenaikan yang sama, kenaikannya akan kecil, sehingga dampaknya tidak seimbang dengan pos pengeluaran yang nilai awalnya besar.
Hasil simulasi ex-ante dalam Tabel 40, menunjukkan jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya, penambahan belanja modal (SIM 14) dapat meningkatkan kinerja ekonomi dan pertanian yang lebih baik dibanding penambahan belanja-belanja yang lain. Rata-rata PDB riil tahun 2016-2020 diperkirakan akan 0.75 persen lebih tinggi dibanding tanpa ekspansi fiskal. PDB riil sektor pertanian juga diperkirakan akan lebih tinggi sebesar 2.22 persen dari sebelumnya. Ada indikasi belanja pemerintah saling berkomplemen dengan investasi swasta. Terbukti dengan peningkatan investasi swasta ketika belanja pemerintah meningkat. Ini tidak berbeda dengan penelitian Kwan (2006) yang menyimpulkan secara rata-rata konsumsi pemerintah dan swasta saling bersubstitusi di 9 negara Asia Timur, tetapi di Indonesia dan Singapura justru berkomplemen. Dampak negatif pengeluaran pemerintah terhadap investasi swasta karena tingginya tingkat suku bunga (crowding out effects), kurang lebih sama dengan crowding in effects tingginya konsumsi terkait dengan reduction of household risk dan uncertainty (Hur et al, 2010).
Kinerja sektor pertanian ketika tarif intra CAFTA dibebaskan, umumnya lebih tinggi ketika ada ekspansi fiskal, dibandingkan dengan tanpa ekspansi. Output sektor pertanian, investasi di sektor pertanian dan produktivitas tenaga kerja meningkat dengan adanya ekspansi fiskal. Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian relatif kecil, karena petumbuhan sektor non
127 pertanian yang lebih tinggi, sementara upah riil sektor pertanian umumnya lebih rendah dari non pertanian. Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian justru lebih tinggi pada buruh/pekerja pertanian dibanding wirausaha (bekerja sendiri maupun pengusaha). Ini di duga terjadi pada pertanian tanaman pangan, akibat semakin menyempitnya lahan pertanian sehingga banyak petani yang tidak memiliki lahan. Terlihat dengan peningkatan indeks produksi pertanian non pangan (QAI), umumnya berskala besar, yang masih tinggi ketika dilakukan ekspansi fiskal.
Tabel 40 Dampak Ekspansi Fiskal Penambahan Pengeluaran Pemerintah Sebesar US$ 2 Milyar(konstan 2000) terhadap Kinerja Ekonomi dan Pertanian Indonesia, Jika CAFTA Diberlakukan Sepenuhnya, 2016-2020.
Indikator Kinerja Unit Nilai Dasar Perubahan (%) SIM 12 SIM 13 SIM 14 SIM 15 SIM 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) A. MAKROEKONOMI
PDB Riil (YI) Juta US$ 371,681.0 0.38 0.32 0.75 0.14 -0.21
Konsumsi Pangan (CFI) Juta US$ 88,723.8 3.19 3.05 3.37 3.40 2.66
Konsumsi Non Pangan (CNFI) Juta US$ 102,171.0 4.50 4.35 4.70 4.72 3.92
Penerimaan Pajak (TAXI) Juta US$ 35,855.9 5.62 5.57 5.97 5.39 5.07
Net Capital Inflows (NCII) Juta US$ 3,751.4 2.46 2.44 2.56 2.39 2.29
Nilai Tukar (EXRI) Rp/US$ 13,249.3 2.22 2.20 2.26 2.21 2.12
Investasi Swasta (ISI) Juta US$ 64,532.5 4.50 3.34 5.09 4.54 -0.45
B. PERDAGANGAN
Neraca Perdagangan (NXI) Juta US$ 68,198.0 -0.22 -0.13 0.34 0.40 -0.53
Total Ekspor (XI) Juta US$ 196,454.0 0.03 0.28 0.53 0.55 0.03
Total Impor (MI) Juta US$ 128,256.0 0.17 0.50 0.64 0.62 0.33
Impor Non Pangan (MAIW) Juta US$ 1,656.2 15.79 15.67 16.62 15.28 14.45
Ekspor Non Pangan (XAIW) Juta US$ 10,457.1 1.60 1.59 1.64 1.60 1.53
Impor Pangan (MFIW) Juta US$ 6,625.5 16.72 16.57 17.67 16.15 15.21
Ekspor Pangan (XFIW) Juta US$ 29,536.4 2.89 2.86 2.95 2.89 2.75
Impor Non Pertanian (MOIW) Juta US$ 102,359.0 -2.60 -2.66 -2.58 -2.47 -2.76
Ekspor Non Pertanian (XOIW) Juta US$ 119,259.0 -0.46 -0.46 -0.47 -0.45 -0.44
Impor Sawit/SITC 42 (MPLIW) Juta US$ 65.5 -28.5 -28.3 -28.7 -28.8 -27.9
Ekspor Sawit/SITC 42 (XPLIW) Juta US$ 15,580.2 -9.63 -9.58 -9.79 -9.60 -9.35
Impor Karet/SITC 23 (MRBIW) Juta US$ 704.9 3.70 3.66 4.11 3.39 3.11
Ekspor Karet/SITC 23 (XRBIW) Juta US$ 8,849.9 -10.3 -10.3 -10.2 -10.3 -10.4
C. STABILISASI
Harga Produsen Pertanian (PPI) 2000=100 394.3 1.29 1.29 1.24 1.29 0.91
IHK Makanan (PFI) 2000=100 398.9 0.25 0.23 0.35 0.18 0.35
IHK Non Makanan (PNFI) 2000=100 408.9 0.17 0.17 0.37 0.02 0.15
Harga Konsumen Umum (PI) 2000=100 404.5 0.18 0.17 0.33 0.07 0.21
D. PERTANIAN
PDB Pertanian Riil (YAGI) Juta US$ 41,798.4 2.08 2.06 2.22 1.99 0.67
Produksi Non Pangan (QAI) 2000=100 190.1 4.37 4.38 4.39 4.38 1.18
Produksi Pangan (QFI) 2000=100 194.8 -0.26 -0.25 -0.24 -0.24 -0.28
Stok Kapital Pertanian (KAGI) Juta US$ 118,921.0 1.64 1.61 1.78 1.54 1.41
Buruh/Karywan Pertanian (LPAGI) Ribu Org 33,371.2 0.12 0.12 0.13 0.12 0.11
Wirausaha Pertanian (LEAGI) Ribu Org 20,144.3 -0.18 -0.17 -0.20 -0.17 -0.15
E. PENDAPATAN
Upah Riil Pertanian (WAGI) US$/bln 21.5 2.25 2.23 2.37 2.16 2.05
Produktivitas T.Kerja (YAGI/LAGI) Juta US$ 781.1 2.07 2.05 2.21 1.98 0.66
Produktivitas Kapital (YAGI/KAGI) Juta US$ 351.5 0.44 0.44 0.43 0.45 -0.72
Keterangan:
- Angka 2000 diperoleh dari rata-rata pengeluaran pemerintah jika diukur dalam nilai US$ tahun 2000,
meningkat sebesar 1999 juta US$ per tahun.
- Nilai dasar: nilai prediksi jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya
- Simulasi: SIM 12: GEI+2000 SIM 13: GERI+2000
Indikator kinerja pertanian yang ideal adalah pertumbuhan output yang tinggi dan harga produk pertanian dan pangan yang murah. Gambar 20 menempatkan posisi kelima skenario peningkatan pengeluaran pemerintah menurut dampaknya terhadap PDB riil sektor pertanian dan harga pangan. SIM 12 (peningkatan belanja total) dan SIM 13 (peningkatan belanja rutin) dapat dikatakan sebagai kebijakan netral yang berdampak pada peningkatan output dan harga pada kisaran medium. Jika concern pada pertumbuhan dan memberi toleransi pada kenaikan harga, maka SIM 14 (peningkatan belanja modal) adalah pilihan terbaik. Sebaliknya jika fokus pada pengendalian harga meskipun pertumbuhan relatif rendah, maka SIM 15 (peningkatan subsidi) layak dipertimbangkan.
Gambar 20 Alternatif Pilihan Prioritas Peningkatan Pengeluaran Pemerintah
Temuan yang menarik adalah meskipun ekspansi fiskal telah dilakukan, namun dampaknya terhadap produksi pangan tetap negatif. Salah satu alasannya adalah tidak mampu menstimulus investasi swasta di sektor pangan karena inefektivitas anggaran untuk pertanian. Anggaran pertanian lebih banyak terkuras untuk mengejar swasembada produk tertentu seperti beras, gula dan daging sapi yang sulit untuk dicapai. Sementara komoditas pangan lainnya juga potensial untuk dikembangkan. Selain itu, porsi belanja modal relatif rendah dibanding belanja rutin dan bantuan sosial. Sebagai gambaran, dalam Lampiran Kepres No 29 Tahun 2013 Tentang Rincian Anggaran Pemerintah Pusat, alokasi anggaran Ditjen Tanaman Pangan, Kementan sebesar Rp 2.72 Trilyun, namun Rp 2.07 Trilyun (75.4 persen) diantaranya adalah untuk belanja sosial, sisanya untuk belanja pegawai Rp 61.5 Milyar, belanja barang Rp 603.5 Milyar, dan belanja modal hanya Rp 3.8 Milyar. Sementara anggaran Ketahanan Pangan sebesar Rp 526.2 Milyar, 37.8 persen diantaranya adalah untuk bantuan sosial. Skenario peningkatan belanja sektor pertanian tidak dapat dilakukan dalam penelitian ini karena model yang dibangun didesign mengikuti alur pemikiran macroeconomic linkage to agriculture, yang tidak membahas pengeluaran pemerintah secara sektoral.
129 Pilihan Instrumen Kebijakan
Ekspansi fiskal dalam upaya untuk peningkatan perekonomian, dapat dilakukan dengan dua instrumen; peningkatan belanja pemerintah dan atau pemotongan pajak. Dalam sepuluh tahun terakhir ini pengeluaran pemerintah rill diukur dengan nilai US$ tahun 2000, rata-rata naik US$ 1.999 juta per tahun, atau hampir dua milyar. Jika CAFTA sepenuhnya diberlakukan, kemudian pengeluaran pemerintah naik sebesar US$ 2 milyar atau dilakukan pemotongan pajak sebesar itu, dampaknya terhadap kinerja pertanian tampak pada Tabel 41.
Tabel 41 Dampak Pengeluaran dan Penerimaan Pemerintah terhadap Kinerja Ekonomi dan Sektor Pertanian Indonesia, Jika CAFTA Diberlakukan Sepenuhnya, 2016-2020.
Indikator Kinerja Unit Nilai Dasar
Perubahan (%)
SIM17 SIM18 SIM19 SIM20
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
A. MAKROEKONOMI
PDB Riil (YI) Juta US$ 371,681.0 0.50 0.87 0.61 0.62
Konsumsi Pangan (CFI) Juta US$ 88,723.8 3.43 4.21 3.66 4.38
Konsumsi Non Pangan (CNFI) Juta US$ 102,171.0 4.76 5.60 5.01 5.78
Net Capital Inflows (NCII) Juta US$ 3,751.4 2.49 2.59 2.52 2.52
Nilai Tukar (EXRI) Rp/US$ 13,249.3 2.24 2.33 2.27 2.32
Investasi Swasta (ISI) Juta US$ 64,532.5 4.62 4.97 4.73 4.99
B. PERDAGANGAN
Neraca Perdagangan (NXI) Juta US$ 68,198.0 0.34 -0.22 0.17 -0.30
Total Ekspor (XI) Juta US$ 196,454.0 0.54 0.55 0.54 0.55
Total Impor (MI) Juta US$ 128,256.0 0.65 0.95 0.74 1.01
Impor Non Pangan (MAIW) Juta US$ 1,656.2 16.10 16.97 16.36 16.41
Ekspor Non Pangan (XAIW) Juta US$ 10,457.1 1.62 1.69 1.64 1.69
Impor Pangan (MFIW) Juta US$ 6,625.5 17.00 17.99 17.30 17.37
Ekspor Pangan (XFIW) Juta US$ 29,536.4 2.92 3.06 2.96 3.06
Impor Non Pertanian (MOIW) Juta US$ 102,359.0 -2.51 -2.21 -2.42 -2.09
Ekspor Non Pertanian (XOIW) Juta US$ 119,259.0 -0.46 -0.47 -0.46 -0.45
Impor Sawit/SITC 42 (MPLIW) Juta US$ 65.5 -28.69 -29.60 -28.96 -29.84
Ekspor Sawit/SITC 42 (XPLIW) Juta US$ 15,580.2 -9.70 -9.96 -9.78 -9.92
Impor Karet/SITC 23 (MRBIW) Juta US$ 704.9 3.79 4.10 3.89 3.76
Ekspor Karet/SITC 23 (XRBIW) Juta US$ 8,849.9 -10.28 -10.18 -10.25 -10.22
C. STABILISASI
Harga Produsen Pertanian (PPI) 2000=100 394.3 1.24 1.17 1.22 1.17
IHK Makanan (PFI) 2000=100 398.9 0.03 0.10 0.05 0.03
IHK Non Makanan (PNFI) 2000=100 408.9 0.46 0.56 0.49 0.42
IHK Umum (PI) 2000=100 404.5 0.24 0.33 0.27 0.22
D. PERTANIAN
PDB Pertanian Riil (YAGI) Juta US$ 41,798.4 2.12 2.24 2.15 2.15
Produksi Non Pangan (QAI) 2000=100 190.1 4.37 4.38 4.37 4.38
Produksi Pangan (QFI) 2000=100 194.8 -0.26 -0.25 -0.25 -0.24
Stok Kapital Sektor Pertanian (KAGI) Juta US$ 118,921.0 1.67 1.81 1.72 1.71
Buruh/Karyawan Pertanian (LPAGI) Ribu Org 33,371.2 0.12 0.13 0.13 0.13
Wirausaha Pertanian (LEAGI) Ribu Org 20,144.3 -0.18 -0.20 -0.19 -0.19
E. PENDAPATAN
Upah Riil Pertanian (WAGI) US$/bln 21.5 2.28 2.39 2.31 2.30
Produktivitas T. Kerja (YAGI/LAGI) Juta US$ 781.1 2.11 2.24 2.15 2.14
Produktivitas Kapital (YAGI/KAGI) Juta US$ 351.5 0.43 0.42 0.43 0.43
Keterangan:
- Angka 2000 diperoleh dari rata-rata pengeluaran pemerintah riil, meningkat sebesar 1999 juta US$ per tahun. - Nilai dasar: nilai prediksi jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya.
- Simulasi:
SIM 17: GEI naik US$2M, semua dibiayai dari pajak (TMCAFTA=0, GRI+2000, TAXI+2000, NTAXI+0, GEI+2000) SIM 18: GEI naik US$2M, dibiayai dari non pajak (TMCAFTA=0, GRI+2000, TAXI+0, NTAXI+2000, GEI+2000) SIM 19: GEI naik US$2M, rasio tax:nontax=7:3(TMCAFTA=0, GRI+2000, TAXI+1400, NTAXI+600, GEI+2000) SIM 20: Pajak turun US$2M, tanpa menurunkan GEI (TMCAFTA=0, GRI+0, TAXI-2000, NTAXI+2000, GEI+0)
Dalam integrasi ekonomi regional, ekspansi fiskal baik melalui pengeluaran pemerintah maupun pemotongan pajak, keduanya berdampak positif terhadap kinerja ekonomi dan sektor pertanian. PDB riil dan PDB riil sektor pertanian dengan kebijakan fiskal lebih tinggi dari pada tanpa perubahan kebijakan fiskal. Demikian pula untuk perdagangan internasional, crowding out
penurunan output oleh penurunan net ekspor ternyata tidak sepenuhnya terjadi. Untuk peningkatan kinerja produksi, instrumen fiskal melalui peningkatan pengeluaran pemerintah lebih berperan dari pada pemotongan pajak, jika dibiayai dari non pajak. SIM 18 lebih baik dibanding SIM 20. Non pajak yang dimaksud adalah penerimaan dari sumber daya alam, privatisasi, laba BUMN dan penyertaan modal lainnya serta penerimaan bukan pajak lainnya, selain dari hutang. Sumber pembiayaan dari hutang akan merubah komposisi pengeluaran lain (GEOI) menjadi lebih besar sehingga dampak fiskal menjadi lebih kecil. Namun, jika penambahan pengeluaran pemerintah sepenuhnya dibiayai dari pajak (SIM17), dampaknya justru lebih rendah dibanding pemotongan pajak (SIM20). Hal ini mengindikasikan adanya inefisiensi anggaran belanja. Namun dalam prakreknya, pemotongan pajak dan tidak ada peningkatan belanja sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, komposisi pembiayaan pajak : non pajak sebesar 70:30 masih relevan untuk diterapkan, karena menghasilkan indikator yang lebih baik dari pada jika sepenuhnya dibiayai dari pajak.
Untuk kinerja stabilisasi, instrumen pajak lebih berperan dibanding pengeluaran pemerintah. Harga-harga sebagai indikator stabilisasi pada Simulasi 20 (pemotongan pajak) lebih baik (lebih stabil) dibanding Simulasi 17, 18 dan 19 (peningkatan pengeluaran pemerintah). Pengeluaran pemerintah meningkat ekivalen dengan peningkatan pelayanan dan pengadaan sarana publik. Ketika pengeluaran pemerintah dibiayai dari non pajak, berarti bahwa biaya input per unit menjadi lebih murah, sektor produksi menjadi lebih efisien, sehingga harga- harga relatif lebih murah.
Pre-Kondisi Infrastruktur
Kebijakan fiskal pada hakikatnya adalah intervensi pemerintah dalam perekonomian melalui sisi permintaan. Ekspansi fiskal dapat berpengaruh besar ketika terdapat infrastruktur yang mendukung, baik infrastruktur fisik dan sosial (Benin et al., 2008; Gaiha, 2010; Hussein et al., 2009), maupun kelembagaan (Debrun dan Kumar, 2007; Dabla-Noris et al., 2010; Chand dan Moene, 1999; Martinez-Vazquez dan Boex, 2006; Kyriacou dan Oriol, 2010). Tabel 42 memperlihatkan perbandingan dampak ekspansi fiskal, antara tanpa skenario dan dengan skenario infrastruktur. Besaran skenario dalam bagian ini utamanya ditujukan untuk melihat arah perubahan dampak ekspansi fiskal terhadap kinerja ekonomi dan pertanian, ketika ada perbaikan infrastruktur.
Dengan besaran fiskal yang sama, skenario tersedianya infrastruktur yang lebih baik, diprediksi memberikan kinerja ekonomi makro yang lebih baik. Infrastruktur yang lebih baik menarik investasi lebih besar, memberikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta stabilisasi harga. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa peningkatan infrastruktur, baik infrastruktur fisik (SIM 21 dan 22), infrastruktur sosial (SIM 23 dan 24), maupun kelembagaan (SIM 25) membuat kebijakan fiskal lebih efektif. Hal ini disebabkan karena biaya produksi
131 dan distribusi dalam perekonomian yang lebih efisien. Perekonomian yang lebih efisien dapat meningkatkan daya saing dalam perdagangan internasional. Terlihat dari keseluruhan skenario simulasi, peningkatan kualitas infrastruktur diikuti oleh peningkatan ekspor, terutama dari kelompok agricultural raw material dan all foods item (pangan).
Tabel 42 Dampak Peningkatan Kualitas Infrastruktur terhadap Kinerja Ekonomi dan Sektor Pertanian Indonesia, Jika Pengeluaran Pemerintah Meningkat US$ 2 Milyar (Konstan 2000) dan CAFTA Diberlakukan Sepenuhnya, 2016-2020.
Indikator Kinerja Unit Nilai Dasar Perubahan (%) SIM 21 SIM 22 SIM 23 SIM 24 SIM 25 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) A. MAKROEKONOMI
PDB Riil (YI) Juta US$ 373,090.0 0.60 0.71 0.52 0.65 0.51
Konsumsi Pangan (CFI) Juta US$ 91,553.2 0.44 0.51 0.34 0.47 0.37
Konsumsi Non Pangan (CNFI) Juta US$ 106,771.0 0.50 0.59 0.41 0.54 0.44
Penerimaan Pajak (TAXI) Juta US$ 37,871.0 0.41 0.51 0.37 0.46 0.34
Net Capital Inflows (NCII) Juta US$ 4,673.4 -1.93 -1.63 -2.14 -1.79 -1.90
Nilai Tukar (EXRI) Rp/US$ 16,184.4 2.27 2.38 1.87 2.31 2.13
Investasi Swasta (ISI) Juta US$ 67,439.3 3.43 3.83 2.78 3.60 3.07
B. PERDAGANGAN
Neraca Perdagangan (NXI) Juta US$ 68,044.7 -0.77 -0.79 -0.25 -0.76 -0.69
Total Ekspor (XI) Juta US$ 196,513.0 0.23 0.23 0.27 0.23 0.23
Total Impor (MI) Juta US$ 128,469.0 0.76 0.77 0.54 0.76 0.72
Impor Non Pangan (MAIW) Juta US$ 1,917.7 -5.39 -4.79 -1.33 -4.91 -5.19
Ekspor Non Pangan (XAIW) Juta US$ 10,624.8 0.65 0.66 0.61 0.65 0.63
Impor Pangan (MFIW) Juta US$ 7,733.5 0.66 0.92 0.52 0.79 0.48
Ekspor Pangan (XFIW) Juta US$ 30,389.1 1.22 1.23 1.10 1.22 1.18
Impor Non Pertanian (MOIW) Juta US$ 99,694.6 0.54 0.52 0.18 0.51 0.49
Ekspor Non Pertanian (XOIW) Juta US$ 118,711.0 0.00 -0.01 -0.01 0.00 0.00
Impor Sawit/SITC 42 (MPLIW) Juta US$ 46.9 -5.64 -5.67 -4.60 -5.61 -5.38
Ekspor Sawit/SITC 42 (XPLIW) Juta US$ 14,079.1 -2.51 -2.54 -2.19 -2.51 -2.42
Impor Karet/SITC 23 (MRBIW) Juta US$ 731.0 0.22 0.34 0.19 0.29 0.15
Ekspor Karet/SITC 23 (XRBIW) Juta US$ 7,937.5 -7.97 -7.84 -7.05 -7.86 -7.89
C. STABILISASI
Harga Produsen Pertanian (PPI) 2000=100 399.4 7.21 7.11 6.13 7.11 7.11
IHK Makanan (PFI) 2000=100 399.9 -0.80 -0.75 -0.73 -0.78 -0.83
IHK Non Makanan (PNFI) 2000=100 409.6 -0.12 -0.05 -0.02 -0.07 -0.15
IHK Umum (PI) 2000=100 405.2 -0.38 -0.30 -0.30 -0.33 -0.40
D. PERTANIAN
PDB Pertanian Riil (YAGI) Juta US$ 42,668.9 1.47 1.46 0.78 1.44 1.39
Produksi Non Pangan (QAI) 2000=100 198.4 0.50 0.50 0.45 0.50 0.50
Produksi Pangan (QFI) 2000=100 194.3 0.72 0.72 0.67 0.72 0.72
Investasi Sektor Pertanian (KAGI) Juta US$ 4,313.8 8.28 8.57 8.17 8.40 8.01
Bekerja di Pertanian (LAGI) Ribu Org 53,521.0 0.68 0.60 -4.69 0.60 0.60
Buruh/Karyawan Pertanian (LPAGI) Ribu Org 33,412.4 0.08 0.08 -8.32 0.08 0.08
Wirausaha Pertanian (LEAGI) Ribu Org 20,108.7 1.69 1.47 1.35 1.47 1.48
E. PENDAPATAN
Upah Riil Pertanian (WAGI) US$/bln 22.0 1.37 1.35 0.74 1.33 1.29
Produktivitas T.Kerja (YAGI/LAGI) Juta US$ 797.2 0.79 0.85 5.74 0.83 0.78
Produktivitas Kapital (YAGI/KAGI) Juta US$ 353.0 0.36 0.30 -0.29 0.31 0.31
Keterangan:
Nilai Dasar: Nilai prediksi jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya, ekspansi fiskal US$2M, tanpa skenario infrastruktur. Simulasi: Nilai prediksi jika CAFTA diberlakukan sepenuhnya, ekspansi fiskal US$2M, dengan beberapa skenario kondisi infrastruktur, sebagai berikut:
SIM 21: Infrastruktur fisik yang lebih baik, persentase jalan beraspal (ROAI) 5 persen lebih besar. SIM 22: Infrastruktur fisik yang lebih baik, penggunaan energi per GDP (ENGI) 5 persen lebih kecil. SIM 23: Infrastruktur sosial, rata-rata lama sekolah penduduk dewasa 1 tahun lebih lama.
SIM 24: Infrastruktur sosial, jumlah entrepreneur 5 persen lebih banyak.
Infrastruktur fisik berupa peningkatan kualitas jalan dan akses energi diprediksi mampu meningkatkan nilai tambah (PDB) sektor pertanian. Dengan peningkatan kualitas kedua infrastruktur fisik tersebut, PDB sektor pertanian diprediksi lebih tinggi 1.47 persen dan 1.46 persen dari pada tanpa peningkatan kualitas infrastruktur fisik. Tingginya PDB tersebut disebabkan karena peningkatan stok kapital sekitar 8.28 persen dan 8.27 persen dan peningkatan produktivitas pekerja 0.79 persen dan 0.85 persen.
Infrastruktur sosial berupa peningkatan 1 tahun lama sekolah (pendidikan) dan 5 persen jumlah wirausaha, juga memberikan dampak positif terhadap kinerja sektor pertanian. Peningkatan pengeluaran pemerintah yang disertai dengan peningkatan tingkat pendidikan (lama sekolah) 1 tahun (SIM 23) diprediksi menurunkan minat pekerja terhadap sektor pertanian. Jumlah pekerja di sektor pertanian diperkirakan jauh lebih rendah. Hal ini menunjukkan sektor pertanian tidak diminati oleh penduduk berpendidikan tinggi, termasuk dalam keluarga petani sendiri. Namun output sektor pertanian diprediksi lebih tinggi karena peningkatan stok kapital dan produktivitas pekerja. Peningkatan pengeluaran pemerintah yang disertai dengan kenaikan jumlah wirausaha sebesar 5 persen (SIM 24) diprediksi mampu meningkatkan kinerja sektor pertanian. PDB sektor pertanian diprediksi akan lebih tinggi sekitar 1.44 persen. Namun kenaikan jumlah wirausaha secara umum, justru berpotensi menurunkan wirausaha di sektor pertanian, salah satunya karena pendapatan pada sektor non pertanian yang dinilai lebih menjanjikan.
Infrastruktur kelembagaan yang dimaksud adalah rule of the game
perekonomian yang dalam penelitian ini direpresentasikan oleh indeks kualitas regulasi pemerintah. Peningkatan indeks kualitas regulasi sebesar 0.25 poin (rentang nilai -2.5 sampai dengan 2.5), memberikan PDB sektor pertanian 1.39 persen lebih tinggi. Lebih tingginya PDB tersebut disebabkan karena jumlah wirausaha sektor pertanian yang lebih tinggi 1.46 persen, stok kapital sektor pertanian lebih tinggi 8.01 persen, serta produktivitas yang lebih tinggi 0.78 persen, dibandingkan tanpa peningkatan kualitas regulasi.
Secara teori, infrastruktur berperan dalam peningkatan efisiensi perekonomian melalui kemudahan-kemudahan yang ditimbulkannya dalam pemerolehan bahan baku serta distribusi output produksi. Efisiensi tersebut salah satunya tercermin dalam indikator harga. Seluruh skenario simulasi perbaikan infrastruktur (SIM 21-SIM 25), umumnya memprediksi penurunan harga ketika kualitas infrastruktur meningkat. Penurunan harga di tingkat konsumen serta kenaikan harga di tingkat produsen mengindikasikan consumer surplus yang lebih tinggi. Untuk sektor pertanian, skenario terbaik adalah perbaikan infrastruktur fisik jalan (SIM 21). Dalam skenario ini, peningkatan output sektor pertanian, kenaikan harga produk pertanian di tingkat produsen, serta penurunan harga di tingkat konsumen paling tinggi dibanding skenario lain. Ini mengindikasikan adanya peningkatan pendapatan petani. Jadi, untuk peningkatan kinerja sektor pertanian, kebijakan fiskal akan efektif jika kondisi infrastruktur fisik (jalan) dalam kondisi baik.