• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karir Politik Umar bin Abdul Aziz

Awal Kepemimpinannya

A. Karir Politik Umar bin Abdul Aziz

Sebelum terjun ke dunia politik, Umar bin Abdul Aziz adalah seorang ulama' muda yang kedalaman ilmunya diakui oleh para ulama' hari itu. Dibandingkan ulama'-ulama' lain, Umar bin Abdul Aziz memiliki kelebihan, yaitu kedekatannya dengan para khalifah. Hal ini tidaklah mustahil terjadi, karena ia sendiri adalah keturunan keluarga kerajaan Bani Umayyah.

Ayahnya, Abdul Aziz, adalah gubernur di Mesir. Pamannya, Abdul malik, adalah khalifah kelima. Demikian saudara-saudara sepupunya, juga khalifah-khalifah menggantikan pamannya. Oleh sebab itu, Umar bin Abdul Aziz memiliki peran dan pengaruh besar dalam memberikan

masukan dan nasehat kepada para petinggi negara.

1. Umar bin Abdul Aziz pada Masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik bin Marwan adalah saudara kandung ayah Umar, Abdul Aziz. Tepatnya, ia adalah pamannya. Sejak Umar masih usia belia, Abdul Malik sudah menaruh perhatian yang lebih kepadanya. Abdul Malik sering memperlakukan Umar dengan istimewa, melebihi perlakuannya kepada anak-anaknya. Hingga akhirnya Abdul Malik menikahkannya dengan puterinya, Fatimah binti Abdul Malik.

Abdul Malik sering memberikan amanah kepada Umar bin Abdul Aziz. Hal itu dimaksudkan agar dirinya mulai belajar tentang kepemimpinan. Namun Abdul Malik tidak mengamanahkan ja-batan kepadanya, karena saat itu usianya masih terlalu belia.

2. Umar bin Abdul Aziz pada Masa Khalifah Walid bin Abdul Malik

Sepeninggal Abdul Malik bin Marwan, diangkatlah Walid bin Abdul Malik sebagai khalifah menggantikan ayahnya. Pada kekhilafahan Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diberi amanah untuk menjadi gubernur di Madinah. Tepatnya pada bulan Rabi'ul Awal, tahun 87 H.

Kemudian pada tahun 91 H, Thaif digabung ke Madinah dibawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Dengan begitu, ia memimpin seluruh wilayah Hijaz.

Ketika menjadi gubernur di Madinah inilah Umar bin Abdul Aziz mengadakan proyek perlua-san Masjid Nabawi atas instruksi langsung dari Walid bin Abdul Malik. Luasnya saat itu menjadi seratus dziro' kali seratus dziro'. Selain itu, masih atas perintah Walid bin Abdul Malik, Umar mem-berikan ornamen dan hiasan pada Masjid Nabawi. Padahal sebenarnya Umar bin Abdul Aziz kurang menyukai hal itu.

Selama menjadi gubernur di Madinah, Umar bin Abdul Aziz tidak lupa untuk mendekati para ulama' disana, mengajak mereka bermusyawarah memikirkan masa depan ummat Islam. Selain itu ia juga tetap kritis dalam menyikapi setiap kebijakan khalifah di Damaskus. Terlebih lagi jika kebija-kan itu berkaitan dengan Hajjaj bin Yusuf, salah seorang yang memiliki hubungan dekat dengan khalifah. Umar bin Abdul Aziz tidak bermaksud iri padanya. Ia hanya tidak menyukai tindakan politi-knya yang semena-mena, kejam, dan dhalim kepada ummat Islam.

Ada satu peristiwa yang paling disessali Umar bin Abdul Aziz sepanjang hayatnya saat menjadi gubernur di Madinah. Peristiwa itu adalah penyiksaan Khubaib bin Abdillah bin Zubair, cucu Asma' binti Abu Bakar, sehingga menyebabkannya meninggal.

Ada satu peristiwa yang paling disessali Umar bin Abdul Aziz sepanjang hayatnya saat menjadi gubernur di Madinah. Peristiwa itu adalah penyiksaan Khubaib bin Abdillah bin Zubair, cucu Asma' binti Abu Bakar, sehingga menyebabkannya meninggal.

Peristiwa itu berawal ketika Khubaib membacakan sebuah hadits dha'if dari Rasulullah Saw. "Jika keturunan Abul 'Ash (Bani Umayyah) telah sampai generasi ketiga puluh, maka mereka akan menjadikan hamba Allah sebagai budak dan menjadikan harta Allah hanya berputar pada mereka."

Mendengar itu, Walid bin Abdul Malik segera memerintahkan Umar bin Abdul Aziz selaku gu-bernur di Madinah untuk mencambuknya seratus kali dan memenjarakannya. Umar pun mencam-buknya sebanyak seratus kali dan menyediakan air dingin di sebuah tungku kemudian menyiram-kannya pada Khubaib di pagai hari yang dingin. Hingga akhirnya Khubaib meninggal.

Umar bin Abdul Aziz sangat menyesali peristiwa itu. Setiap kali mengingatnya, maka ia menangis dan merasa bersalah. Hingga akhirnya ia pergi meninggalkan kota Madinah.

Ada riwayat yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz mengundurkan diri dari kepemim-pinan di Madinah. Namun riwayat yang lain mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz dipecat.

3. Umar bin Abdul Aziz pada Masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik

Pada masa kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik, terbuka lebar peluang bagi Umar bin Abdul Aziz untuk menggeluti dunia politik. Sulaiman mengangkatnya sebagai menterinya, dewan syuronya serta teman dekatnya dimanapun ia berada. Dalam sebuah kesempatan Sulaiman pernah berkata tentang kedekatannya denga Umar bin Abdul Aziz, "Jika orang ini (yaitu Umar bin Abdul Aziz) tidak ada disampingku, maka tidak ada orang lain yang bisa memahamiku."

Sulaiman merasa dekat dengan Umar bin Abdul Aziz lantaran beberapa sebab. Diantaranya adalah kepribadiannya yang kokoh, mandiri, tidak terpengaruh dengan orang di sekitarnya. Kepri-badian ini sangat kontras sekali dengan kepriKepri-badian Walid, saudaranya. Kemudian Sulaiman selalu merasa puas dengan setiap masukan yang diberikan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Kedekatan yang sangat mesra itu tidak disia-siakan oleh Umar bin Abdul Aziz untuk mentrans-fer pemahan dan idiologinya kepada khalifah. Umar bin Abdul Aziz banyak memberikan warna dalam kebijakan-kebijakan pemerintahan. Diantaranya adalah; pemecatan para pegawai yang ang-kat oleh Hajjaj bin Yusuf, seperti Khalid al-Qisri (gubernur di Makkah) dan Utsman bin Hayyan (gubernur di Madinah). Selain itu juga masalah penekanan untuk melakukan shalat berjamaah tepat pada waktunya.

Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari Sa'id bin Abdul Aziz bahwasanya Walid mengakhirkan shalat Dhuhur dan Ashar. Ketika Sulaiman menjadi khalifah, ia menyampaikan kepada masyarakat atas

usulan Umar, "Sesungguhnya shalat telah dimatikan, maka hidupkanlah kembali." 1

Selain itu, Umar bin Abdul Aziz tetap kritis mengoreksi kebijakan-kebijakan Sulaiman yang se-kiranya tidak sesuai dengan ajaran al-Qur'an maupun sunnah Rasulullah Saw.