Lan skap berkelan jutan dapat m en ghasilkan berbagai m acam produk dan jasa den gan n ilai ekon om i. Nam un , hal in i serin g kali tidak din ilai secara sem estin ya di pasar, m en in gkatkan kem un gkin an keputusan pen ggun aan lahan yan g m en garah ke hasil n egatif. Bagian in i akan m en yoroti peluan g un tuk m em ban tu m en gubah pasar terkait dan pada akhirn ya m en in gkatkan dasar pem ikiran bisn is un tuk gerakan m en uju lan skap berkelan jutan .
Un tuk m en capai in i, in form asi yan g lebih baik ten tan g n ilai dan asal produk dan jasa dari lan skap berkelan jutan harus tersedia un tuk pelaku pasar terkait. H al in i dapat dicapai m elalui cara-cara sukarela atau wajib, dan peran gkat relevan mencakup sejumlah skema sertiikasi produk tungngal yang sangat m atan g (m isaln ya Forest Stew ardship Coun cil) serta sistem sertiikasi baru dan berkem ban g (lihat halam an 134).
Kedua, ada kebutuhan un tuk m en in gkatkan perm in taan produk dan jasa dari lan skap berkelan jutan . H al in i dapat dicapai den gan m em an faatkan kom itm en pada keberlan jutan dari perusahaan yan g sem akin bertam bah pada um um n ya (lihat halam an 131), dan den gan m en dukun g pen gem ban gan pasar un tuk produk yan g lebih beragam di dalam sebuah lan skap (lihat halam an 138 ). Beberapa katalisator dapat m en yam paikan dam pak poten sial yan g luas den gan m em ben tuk atau m em perkuat pasar un tuk produk dan jasa yan g han ya dapat benar-benar diberikan di tingkat lanskap – contoh termasuk REDD+ di tingkat yurisdiksi n asion al atau sub-n asion al (lihat halam an 136), dan in sen tif ekon om i un tuk jasa perlin dun gan daerah aliran sun gai un tuk daerah aliran sun gai besar. Katalisator lain n ya, seperti ekowisata (lihat halam an 139), tidak sem ata-m ata beroperasi di tin gkat lan skap, tetapi den gan pen dekatan yan g tepat dapat m en yam paikan hasil yan g kuat m en uju lan skap berkelan jutan . Pada akhirn ya, pen gelolaan lan skap terpadu cen derun g m en jadi pen dekatan yan g diperlukan un tuk m en yam paikan sem ua peluan g in i ke m asa depan .
Katalisator yan g term asuk di sin i tidak bersifat kom prehen sif, tetapi m en un jukkan beberapa peluan g kun ci un tuk m em an faatkan kekuatan pasar un tuk m en dukun g lan skap berkelan jutan .
penGanTar
Ada keharusan yan g sem akin berkem ban g di an tara badan -badan usaha di seluruh dun ia un tuk m em aham i dan m en gelola dam pak lin gkun gan dan sosial yan g m elekat di dalam pen goperasian , ran tai pasokan dan in vestasi m ereka. H al in i didoron g oleh apresiasi risiko reputasi, legislatif dan operasion al yan g berkem ban g yan g berkaitan den gan dam pak in i140 dan m an faat dari m en jadi pen ggerak awal dalam pasar yan g terus-m en erus berubah.
Den gan dem ikian , sem akin ban yak perusahaan besar m en gam bil kom itm en yan g am bisius dan kebijakan terkait keberlan jutan . Misaln ya, Un ilever telah berkom itm en un tuk m en guran gi separuh dari jejak lin gkun gan n ya (m isaln ya, pen ggun aan air, GRK, lim bah padat) pada tahun 20 20 . Perusahaan in i juga telah m en jadi pem im pin dalam kom itm en awaln ya un tuk ran tai pasokan bebas deforestasi141. Kom itm en juga dapat dibuat oleh kelom pok perusahaan . Misaln ya, Con sum er Goods Forum (CGF) adalah sebuah koalisi yan g terdiri dari pen gecer, produsen , pen golah dan pedagan g di sektor kayu, bahan bakar dan serat yan g sem akin berkem ban g den gan pen jualan gabun gan yan g m en capai lebih dari 3 triliun dolar AS142 yan g berusaha un tuk m en guran gi secara bertahap deforestasi dari ran tai pasokan m ereka un tuk m en capai n ol bersih deforestasi pada tahun 20 20143.
Kom itm en in i dapat m en jadi katalisator pen tin g dalam tran sisi m en uju lan skap berkelan jutan . Pertam a, den gan m en girim kan sin yal yan g kuat kepada pasar global bahwa hari-hari produksi dan pen gadaan yan g tidak berkelan jutan akan segera berakhir, m en gin sen tifkan pelaku di seluruh ran tai pasokan un tuk m em perbaiki praktik-praktik, term asuk m elalui pen gelolaan lan skap terpadu. Kedua, m elalui kom itm en oleh produsen besar itu sen diri, yan g akan kem udian perlu m em im pin dalam pelaksan aan praktik-praktik produksi yan g lebih berkelan jutan . Masih perlu dilihat bagaim an a kom itm en tersebut dapat m en garah ke in sen tif yan g lebih baik bagi produsen petan i kecil, yan g saat in i memegang persentase produksi yang signiikan dalam lanskap kunci, tetapi yan g m asih belum terlibat dalam agen da n ol deforestasi.
Terlepas dari kem ajuan terkin i di balik jan ji n ol deforestasi, m isaln ya dalam Deklarasi H utan New York (lihat halam an 41), han ya sebagian kecil yan g m em pen garuhi ran tai pasokan kom oditas risiko hutan yan g m elibatkan perusahaan -perusahaan , seperti dagin g sapi, pulp dan kertas, kedelai, dan kelapa sawit. Dari 250 perusahaan yan g baru-baru in i din ilai oleh in isiatif pem erin gkat Forest 50 0144, han ya 8 % yan g m em iliki kom itm en n ol atau n ol bersih di seluruh kom oditas risiko hutan .
Selan jutn ya, ada ban yak ham batan un tuk pelaksan aan kom itm en in i di tin gkat tapak, bukan han ya karen a kom pleksitas ran tai pasokan , yan g dapat m en gaburkan hubun gan an tara pem beli poten sial yan g m un gkin m em iliki kebijakan n ol deforestasi dan lan skap produksi yan g terhubun g den gan m ereka.
KOmiTmen KOrpOraT
SABMiller, salah satu produsen bir terbesar di dunia, sedang beralih menuju pendekatan produksi yang lebih kolaboratif dengan pemangku kepentingan lainnya di sebuah lanskap. Hal ini karena pertumbuhan masa depannya sebagian besar bergantung pada memperluas produksinya dalam pasar berkembang di mana sumber daya terbatas dan harus mendukung berbagai permintaan yang bersaing. Secara khusus, SABMiller bergantung pada pasokan air bersih baik untuk produksi minuman dan budidaya tanaman. Namun, air adalah sumber daya lokal dan, jika penggunaan air SABMiller menjadi tidak terkendali, hal tersebut dapat memperburuk kelangkaan air di banyak lanskap. Hal ini dapat mengakibatkan baik risiko operasional (misalnya seperti biaya operasi yang lebih tinggi karena pasokan air yang menyusut dan hasil panen yang lebih rendah), serta risiko reputasi karena ketegangan dan masyarakat lokal atas ketahanan air. Dalam mengatasi risiko ini, SABMiller telah membuat sejumlah komitmen korporat tingkat tinggi, termasuk mengurangi penggunaan air per hektoliter bir sebesar 25% dari level di tahun 2008 ke tahun 2015 sebagai bagian dari program globalnya yang berjudul “Ten Priorities: One Future”.
Sebagai bagian dari mencapai komitmen SABMiller ini, bekerja sama dengan WWF dan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, telah membentuk Water Futures Partnership, yang mendukung perusahaan-perusahaan untuk terlibat dalam aksi kolaboratif dengan masyarakat sipil lokal, perwakilan pemerintah, badan usaha lokal, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengatasi risiko air bersama.
sTUdi KasUs saBmiller dan waTer FUTUres parTnership
Di Afrika Selatan, Water Futures Partnership memfokuskan kegiatannya di perkebunan hop di Southwestern Cape, yang dianggap sebagai lanskap yang paling berisiko untuk produksi Pabrik Bir Afrika Selatan. Dengan membentuk jejak airxv kemitraan ini mampu mengidentifikasi risiko air bersama bagi berbagai pemangku kepentingan termasuk badan usaha, masyarakat dan pemerintah dalam lanskap, serta mengembangkan rencana aksi kolaboratif untuk mitigasi risiko tersebut, seperti menghapus pohon yang invasif dan mengonsumsi sejumlah besar air dari daerah aliran sungai145.
132
xv Suatu jejak air mengacu pada jumlah air bersih yang digunakan dalam produksi atau pasokan barang dan jasa yang digunakan oleh orang atau kelompok tertentu
Skema sertiikasi ramah lingkungan dan pelabelan ramah lingkungan m em un gkin kan produsen un tuk m en dem on strasikan dan m em prom osikan keberlanjutan dari sistem produksi mereka. Sistem sertiikasi memveriikasi bahwa stan dar produksi (m isaln ya stan dar keberlan jutan sukarela) sedan g dipatuhi, dan label m en gom un ikasikan atribut lin gkun gan atau sosial dari produk terten tu kepada kon sum en akhir. Mereka didoron g oleh organ isasi n on -pem erin tah yan g berkein gin an un tuk m en doron g kon sum en un tuk m en ggun akan daya beli m ereka un tuk m em beli produk-produk yan g diproduksi secara berkelan jutan dan adil secara sosial.
Tidak ada standar atau skema sertiikasi yang saat ini menilai hasil keberlan jutan di skala lan skap, m eskipun beberapa organ isasi sedan g m en gem ban gkan keran gka baru un tuk bergerak ke arah tersebut (lihat di bawah). Dalam kebanyakan skema sertiikasi, badan independen yang memveriikasi kepatuhan produsen individu dengan standar, dan sertiikasi bersifat spesiik terhadap penguasaan lahan individu tertentu. Meskipun ribuan dari penguasaan lahan tersebut bersertiikasi, mereka biasanya tersebar di seluruh lan skap atau n egara yan g bercam pur den gan pen guasaan lahan yang tidak bersertiikasi. Namun beberapa skema mencakup kriteria yang dapat secara tidak lan gsun g m en dukun g lan skap berkelan jutan (m isaln ya keterlibatan m asyarakat atau pen didikan ten tan g kon servasi kean ekaragam an hayati di dalam skema sertiikasi).
Dalam ran gka m en dukun g keberlan jutan dalam skala lan skap, pen dekatan lanskap baru untuk sertiikasi dan pelabelan mulai bermunculan. Di Lembah Luan gwa, Zam bia, Com m un ity Markets for Con servation (COMACO) Com pan y m en yediakan dukun gan pen yuluhan dan akses ke pasar bern ilai tin ggi bagi m asyarakat ren tan yan g berada di sekitar tam an n asion al, sebagai gan ti kom itm en un tuk m en ggun akan praktik-praktik pertan ian berkelan jutan dan kesepakatan un tuk m en ghen tikan perburuan146. Para pen erim a dipilih berdasarkan desain dari ren can a pen gelolaan lan skap kolaboratif. Beberapa dari produk in i m eliputi m adu, beras, selai kacan g, kedelai, dan kacan g tan ah, diberi m erek dan dijual den gan m en ggun akan label “It’s W ild!”. H al in i m em berikan sin yal bahwa produk in i berasal dari petan i kecil di Zam bia yan g telah m en gadopsi praktik-praktik pertan ian berkelan jutan sem en tara m elestarikan dan m em ulihkan ekosistem dan alam liar147.
Sebuah tantangan utama dengan menghadirkan standar, sertiikasi dan label ke skala lan skap adalah kom pleksitas pem an tauan . In i m erupakan area di mana berbagai organisasi sertiikasi sedang membuat kemajuan. Misalnya, Veriied Carbon Standard bekerja sama dengan negara dan mitra produsen un tuk m en gem ban gkan sebuah keran gka kerja baru, Lan dscape Sustain able Production Stan dard (LSPS), yan g m en gukur perbaikan sosial, lin gkun gan , dan ekon om i di dalam lan skap (lihat halam an 134). In i m en gakui bahwa tidak semua kegiatan dapat disertiikasi berkelanjutan di dalam sebuah lanskap, dan berfokus pada sertiikasi berbasis hasil. Di sisi lain, perangkat Natural Ecosystem Assessm en t oleh Rain forest Allian ce m elaksan akan pem an tauan gabun gan di tin gkat lan skap, pertan ian dan petak tan ah (lihat halam an 135).
serTiFiKasi dan pelaBelan lansKap BerKelanJUTan
Verified Carbon Standard (VCS) sedang mengembangkan sebuah kerangka kerja baru – Landscape Sustainable Production Standard (LSPS) – untuk memfasilitasi penilaian hasil kunci skala lanskap sosial, lingkungan dan ekonomi dari upaya produksi berkelanjutan di seluruh dunia. Berdasarkan pengalaman dalam mengembangkan dan mengujicobakan standar Jurisdictional and Nested REDD+, VCS telah melihat bagaimana kerangka kerja semacam ini dapat berfungsi sebagai perangkat yang berguna untuk meningkatkan upaya tingkat proyek atau lahan pertanian, sementara mendorong penyebaran kebijakan dan tindakan pelengkap yang mendorong pengelolaan lahan berkelanjutan skala besar. Standar semacam ini juga telah membentuk peluang untuk menghubungkan kinerja terverifikasi dengan berbagai sumber pembiayaan. Demikian pula, LSPS dimaksudkan untuk mendukung perancangan dan pelaksanaan efektif dari inisiatif produksi berkelanjutan yang beroperasi di berbagai skala, sementara juga mendorong pembiayaan publik dan swasta serta insentif lainnya untuk wilayah pelaksana.
LSPS akan memungkinkan pengukuran, pemantauan dan pelaporan yang dirampingkan dari metrik skala lanskap kunci, seperti yang berkaitan dengan deforestasi, emisi GRK, air, mata pencaharian, dan produktivitas, sementara membantu menentukan bagaimana dimensi dari keberlanjutan ini berinteraksi, termasuk potensi sinergi dan trade-off yang layak dipertimbangkan. Alih-alih menggunakan model sertifikasi tradisional yang berfokus pada konsumen akhir, LSPS akan menyediakan platform untuk memantau dan melaporkan kemajuan bertahap dari waktu ke waktu, untuk mengidentifikasi risiko dan peluang keberlanjutan, serta menyediakan informasi berharga kepada para pengambil keputusan dan pelaku rantai pasokan, termasuk investor dan pembeli komoditas.
LSPS juga akan memungkinkan para pelaku di seluruh lanskap termasuk pemerintah, produsen dan masyarakat sipil, untuk menyelaraskank pada tujuan gambaran besar bersama, dan bekerja sama demi
sTUdi KasUs landscape sUsTainaBle prOdUcTiOn sTandard Oleh veriFied carBOn
sTandard
mencapai dan mendemonstrasikan kinerja lanskap yang luas. Misalnya, perusahaan barang konsumen dan pembeli komoditas lainnya dapat menggunakan LSPS untuk mengidentifikasi wilayah pasokan hijau yang akan membantu mereka memenuhi komitmen nol deforestasi, meminimalkan risiko reputasi, dan memenuhi/menyampaikan tujuan keberlanjutan internal. Penerbit obligasi hijau dan investor dampak dapat dengan cara serupa menggunakan LSPS untuk mengidentifikasi wilayah dan peluang investasi yang menarik, untuk menyaring risiko (lanskap) makro, serta untuk mendemonstrasikan kinerja investasi “hijau” secara kredibel. LSPS juga dapat digunakan oleh pendonor dan bank pembangunan untuk mengidentifikasi wilayah dan inisiatif yang dapat menerima manfaat dari pendanaan berdasarkan kemajuan dan potensi untuk mendorong manfaat skala besar.
VCS bekerja sama dengan mitra, termasuk Rainforest Alliance dan Solidaridad, untuk mengembangkan dan memulai LSPS di lanskap kunci di Amerika Latin, Afrika dan Asia.
Dalam upaya menjadikan pertanian lebih efisien, tidak mencemarkan dan merusak alam liar dan ekosistem, Rainforest Alliance telah menyediakan pelatihan bagi para petani tentang praktik- praktik terbaik berdasarkan standar Sustainability Agriculture Network (SAN), dan kemudian memberikan sertifikasi kepada lahan pertanian yang telah mengadopsi praktik-praktik ini. Sementara sebagian besar dari fokus kegiatan ini berada di skala pertanian, banyak petani dan pembeli tanaman bersertifikasi juga ingin memahami dan mendokumentasikan bagaimana perubahan praktik ini berdampak pada tujuan lebih luas di skala lanskap, seperti melindungi daerah aliran sungai dan melestarikan alam liar.
Untuk membantu mencapai hal ini, Rainforest Alliance telah mengembangkan Natural Ecosystem Assessment (NEA), yang merupakan perangkat yang digunakan untuk menilai kondisi ekosistem alami dan semi-alami di dalam dan di dekat lahan pertanian yang bekerja sama dengan Rainforest Alliance.
NEA bekerja dengan melacak perubahan di vegetasi dalam lahan pertanian, termasuk keragaman dan struktur pohon, penggunaan lahan di dalam dan di dekat lahan pertanian bersertifikasi; dan dampak lebih luas pada perambahan hutan, pelestarian dan konektivitas. Pemantauan dilaksanakan di skala lanskap, lahan pertanian, dan petak lahan, dan biasanya terjadi sebelum dan setelah pelatihan dan sertifikasi. Hasil dari NEA dapat membantu menjawab pertanyaan tentang perubahan tutupan lahan, sejauh mana praktik-praktik tertentu menyediakan habitat bagi alam liar, dan mengevaluasi perbedaan antara lahan pertanian bersertifikasi dan tidak bersertifikasi (misalnya, perambahan di kawasan lindung). Penilaian ini juga dapat dengan mudah disesuaikan dengan tujuan spesifik dari inisiatif tertentu148.