sTUdi KasUs pOTensi TransFOrmasi:
63Platform berbagai pemangku kepentingan (m ulti-stakeholder platform , MSP)
merupakan perangkat yang berguna untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu badan pengambil keputusan untuk mengatasi masalah- masalah pengelolaan sumber daya. Sebagai badan pengambil keputusan, MSP biasanya digunakan untuk penyelesaian konlik (misalnya konlik atas akses sumber daya), demokratisasi (misalnya untuk memberikan suara yang lebih kuat kepada kelompok-kelompok minoritas), atau untuk mengembangkan strategi pra- kompetisi untuk menangani masalah atau peluang tingkat lanskap64.
Dalam hal pengelolaan lanskap terpadu, MSP memberikan ruang kepada pemangku kepentingan untuk berbagi informasi, mengembangkan pemahaman bersama tentang banyak masalah, menegosiasikan hasil, dan bekerja sama memutuskan dan melaksanakan rencana aksi untuk mengelola sumber daya di suatu lanskap tertentu dengan cara yang menjaga kelestariannya. MSP dapat sangat berbeda-beda dalam hal amanat (misalnya sukarela atau wajib), pelembagaan, dan lingkup. Biasanya MSP diawali oleh satu atau dua kelompok pemangku kepentingan dan dengan satu tema kunci atau lebih, tetapi sering kali berkembang untuk mencakup berbagai tujuan65. Kepemimpinan mereka dapat berubah dari waktu ke waktu.
Melalui pengadaan ruang khusus untuk diskusi dan berbagi informasi, MSP dapat membantu membangun kepercayaan di antara berbagai pemangku kepentingan, berkontribusi untuk mengatasi ketidakseimbangan kekuasaan, dan memfasilitasi pembelajaran kolektif. Misalnya, anggota-anggota masyarakat setempat, perwakilan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta mengakui bahwa kepercayaan yang dibangun selama delapan tahun terakhir melalui partisipasi mereka dalam platform New Generation Plantations (Perkebunan Generasi Baru)xi sangatlah penting untuk memulai dialog di mana pemangku kepentingan terbuka untuk mendengarkan dan belajar dari satu sama lain, dan memikirkan solusi yang menguntungkan mereka semua. Tanpa kepercayaan ini, menyepakati mekanisme pengambilan keputusan dan mencapai konsensus dapat menjadi tantangan.
Menetapkan proses berbagai pemangku kepentingan yang sah sangatlah penting sebelum tujuan ditetapkan dan rencana pengelolaan lanskap dikembangkan (lihat halaman 80 ). J ika tidak, terdapat risiko bahwa proses tersebut menjadi salah satu konsultasi, bukan pengambilan keputusan kolektif, atau bahwa para pemangku kepentingan yang tidak dilibatkan akan menghalangi rencana aksi.
Tantangan terhadap MSP yang efektif mencakup memastikan partisipasi berarti semua pemangku kepentingan, dan melibatkan pemangku kepentingan yang kuat yang mungkin kurang memiliki dorongan untuk bergabung, walaupun partisipasi mereka sangat penting untuk efektivitas pelaksanaan rencana pengelolaan. Para pelaku terpinggirkan (misalnya masyarakat adat, kaum perempuan) atau yang tidak terorganisasi (misalnya petani setempat) mungkin akan membutuhkan dukungan dan peningkatan kapasitas untuk terlibat dalam diskusi. Mempertahankan momentum dan kemauan politik, dan mengelola harapan yang berbeda-beda yang dimiliki oleh pemangku kepentingan yang berpartisipasi juga dapat memberikan tantangan; oleh karenanya pemimpin yang kompeten dan fasilitator yang ahli sangatlah penting untuk efektivitas MSP.
memBenTUK plaTFOrm BerBaGai pemanGKU KepenTinGan
xi Sebagai con toh platform berbagai pem an gku kepen t- in gan sektoral, dialog-dialog New Gen eration Plan tation s telah m en doron g pen gelolaan lan skap perkebun an secara terpadu di Brasil, Chili, Afrika Selatan dan Republik Rakyat Tion gkok. WWF m em - ben tuk NGP Platform pada tahun 20 0 7. NGP m em pertem ukan perusahaan -peru- sahaan perkebun an utam a, beberapa lem baga pem erin tah yan g m en gelola dan m en gatur perkebin an dan beberapa kelom pok m asyarakat setem pat yan g hidup di dan / atau dari hutan . Platform tersebut berupaya un tuk m em en garuhi perusa- haan dan pem erin tah lain un tuk m em buat keputusan yan g ber- tan ggun g jawab secara lin gkun gan dan sosial ten tan g pen gelolaan perkebun an m ereka. Lihat http:/ / n ewgen - eration plan tation s. org/
64
sTUdi KasUs penGemBanGan plaTFOrm BerBaGai pemanGKU KepenTinGan
di wilaYah danaU naivasha, KenYa
Danau Naivasha adalah perairan tawar terbesar kedua di Kenya dan menopang industri hortikultura yang sedang berkembang, merepresentasikan sekitar 70% dari ekspor bunga potong di Kenya dan 2–3% dari PDB negara tersebut66. Danau tersebut menopang industri perikanan, sektor pariwisata dan tempat penginapan yang sedang berkembang, serta industri susu dan daging sapi. Produksi energi panas bumi tumbuh pesat dan memberikan kontribusi 280 MW kepada jaringan energi negara tersebut67. Daerah tangkapan danau tersebut terutama digunakan untuk pertanian skala kecil yang
bersama-sama memproduksi banyak hasil
pertanian segar bagi pasar lokal di Kenya68,69. Jumlah penduduk di wilayah tersebut tumbuh pesat, dengan 650.000 orang di tahun 2009, dan estimasi laju pertumbuhan 13% selama satu dekade ini70. Wilayah danau tersebut memiliki kekayaan keanekaragaman hayati, yang terdiri dari lokasi Ramsar, Kawasan Burung Internasional, menara air utama dan taman nasional. Keragaman pemangku kepentingan, zona ekologi dan kegiatan ekonomi, ketersalinghubungan antara daerah tangkapan atas dan bawah, serta kondisi iklim yang tidak dapat diprediksi membuat wilayah danau yang relatif kecil ini (3.400 km2) menjadi pelik dan rentan terhadap konflik akses dan kualitas sumber daya alam. Kekeringan parah pada tahun 2009 melambungkan kebutuhan atas pendekatan terpadu terhadap pengelolaan sumber daya alam menjadi tindakan.
Para pemangku kepentingan yang sebelumnya menentang, bergabung untuk mengembangkan visi bersama untuk Wilayah Danau Naivasha, dan proses ini didukung oleh komitmen politik di tingkat tertinggi71. Bersama-sama, perubahan-perubahan positif ini menghasilkan pengukuhan Imarisha Lake Naivasha Management Board pada bulan Mei 201172.
Imarisha Board adalah suatu kemitraan antara pemerintah dengan sektor swasta (PPP), yang
ditunjuk oleh Pemerintah Kenya untuk jangka waktu tiga tahun. Badan tersebut beranggotakan berbagai sektor pemerintah termasuk sektor air, kehutanan, peternakan, baik di tingkat lokal dan nasional, maupun sektor swasta (misalnya dari sektor hortikultura, bisnis dan pariwisata), pemilik ternak, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok masyarakat (misalnya Water Resource Users Association, Lake Naivasha Riparian Association, Community Forest Association, dan Beach Management Units Association). Ketuanya ditunjuk oleh pemerintah.
Pada tahun 2011, langkah pertama badan ini adalah membentuk sekretariat yang umum dikenal sebagai Imarisha Naivasha, yang diberi tugas untuk meningkatkan kerja sama di antara semua pemangku kepentingan, mengoordinasikan kegiatan dan kepentingan di wilayah tersebut, memantau kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang mengatur lingkungan hidup, serta mengembangkan dan menegakkan kode etik. Badan tersebut juga mengembangkan dan melaksanakan Perwalian untuk menerima sumber daya keuangan dari dalam dan luar Kenya guna mendukung pelaksanaan amanat Imarisha Naivasha.
Pada tahun 2015, Imarisha Naivasha diberikan status program khusus langsung di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Struktur PPP Imarisha Naivasha, posisinya sebagai program khusus dalam struktur pemerintahan, serta fungsinya sebagai sebuah lembaga pemantauan dan koordinasi lanskap, menjadikannya sebuah entigas unik untuk pengelolaan sumber daya alam.
Rencana Aksi Pembangunan Berkelanjutan 2012–2017, yang dikembangkan oleh Imarisha Board, memandu kegiatan-kegiatan PPP tersebut. Rencana aksi tersebut berfokus pada empat hasil yang dianggap paling penting untuk restorasi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di wilayah danau tersebut, yaitu pengelolaan zona- zona riparian, pengelolaan daerah tangkapan yang lebih luas, penguatan fungsi kelembagaan sumber
65