• Tidak ada hasil yang ditemukan

83Me n e tapkan tu ju an dan s as aran : Mencapai tujuan dan sasaran yang

perencanaan KOlaBOraTiF

83Me n e tapkan tu ju an dan s as aran : Mencapai tujuan dan sasaran yang

disepakati bersama merupakan tonggak penting dalam merancang rencana aksi kolaboratif. Tujuan harus dideinisikan secara jelas bersama dengan indikator SMART (Speciic, Measurable, Achievable, Relevant and Time-bound) yang memungkinkan pemantauan kemajuan (lihat halaman 96).

Me n ge m ban gkan s ke n ario : Skenario yang menelusuri dampak dari berbagai

pendekatan pelaksanaan yang berbeda di bawah beragam kondisi (misalnya jalur perubahan iklim yang berbeda) dapat mendukung para pemangku kepentingan dalam perencanaan kolaboratif. Ada berbagai perangkat yang dapat mendukung para pemangku kepentingan dalam mengembangkan skenario alternatif terhadap skenario business as usual. Sebagian bersifat kualitatif, dengan menggunakan penilaian sistematis dari para pemangku kepentingan, pendapat ahli dan pemetaan partisipatif. Sebagian lainnya lebih bersifat kuantitatif, seperti perangkat Integrated Valuation of Ecosy stem Services and Tradeoffs (InVEST) yang memungkinkan pengambil keputusan untuk menilai trade-off alternatif pilihan pengelolaan terhadap jasa ekosistem90. Perangkat ini saat ini terdiri dari 16 model InVEST yang berbeda yang disesuaikan dengan ekosistem terestrial, air tawar, dan laut. Para pemangku kepentingan mengembangkan ‘skenario’ spasial dari potensi penggunaan lahan/ tutupan lahan dan/ atau habitat laut dan penggunaan laut masa depan, biasanya dalam bentuk peta.

Pe re n can aan tata ru an g dan zo n as i: Perencanaan tata ruang yang

melibatkan berbagai pemangku kepentingan merupakan bagian penting dari perencanaan kolaboratif. Menyepakati berbagai jenis penggunaan lahan yang berbeda di dalam lanskap dan pada zona berbeda (misalnya untuk tujuan konservasi, produksi atau budaya) dapat membantu mengurangi konlik dan menjaga jasa lingkungan dan nilai budaya yang penting. Land Use Planning for Multiple Environmental Services (LUMENS) adalah perangkat perencanaan penggunaan lahan partisipatif yang menyatukan para pelaku untuk secara berkelompok menemukan cara-cara yang disesuaikan secara lokal untuk mengurangi emisi, memperbaiki mata pencaharian dan meningkatkan jasa ekosistem. Hal ini sedang diujicobakan oleh World Agroforestry Centre (ICRAF) di enam belas kabupaten di Indonesia di lima provinsi91.

Me n ye pakati in te rve n s i prio ritas : Setelah spektrum intervensi yang

menjanjikan telah diidentiikasi, penting untuk memprioritaskan apa yang akan dilaksanakan tergantung pada kapasitas, kepentingan dan harapan pemangku kepentingan. World Agroforestry Centre (ICRAF) telah mengembangkan perangkat SHARED (Stakeholder Approach to Risk Inform ed and Evidence Based Decision Making) guna memungkinkan tata kelola lanskap dan mendukung prioritas intervensi lanskap (lihat halaman 84). Sebagai bagian dari ini, para pelaku juga harus menyepakati bagaimana pendanaan akan dialokasikan di seluruh intervensi dan mitra.

Me n ye pakati pe ran dan tan ggu n g jaw ab pe m an gku ke pe n tin gan :

Sebuah pertimbangan penting untuk menghindari kebingungan dan konlik dalam pelaksanaan pengelolaan lanskap terpadu adalah untuk memastikan bahwa semua pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang jelas tentang peran dan tanggung jawab mereka masing-masing (pelaksanaan, pemantauan, pelaporan). Satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan mengembangkan nota kesepahaman antara para pemangku kepentingan. Kesepakatan kolaboratif spesiik antara para pemangku kepentingan (misalnya yang melibatkan komitmen pendanaan), dapat diwujudkan dalam bentuk kontrak.

84

sTUdi KasUs BerBasis BUKTi dan penGamBilan

KepUTUsan inKlUsiF di TUrKana, KenYa

Dipimpin oleh World Agroforestry Centre (ICRAF), Stakeholder Approach to Risk Informed and Evidence-Based Decision-Making (SHARED) telah dikembangkan untuk menggeser budaya pengambilan keputusan di tingkat nasional, daerah dan lokal dengan menjembatani sektor dan lembaga dalam rangka mempercepat hasil- hasil pembangunan berkelanjutan. Kerangka kerja ini mempertemukan proses, bukti dan perangkat untuk membantu menggerakkan paradigma pengambilan keputusan menuju integrasi antar lembaga, lintas sektoral, dan inklusif. SHARED muncul dari kebutuhan bagi para pengambil keputusan dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, tingkat dan afiliasi untuk memiliki ‘ruang’ berinteraksi dan menginterogasi bukti, untuk memahami risiko dan implikasi pembangunan yang berkaitan dengan potensi pilihan investasi dan hasil keputusan. SHARED menawarkan fasilitasi bertarget untuk memastikan komunikasi yang kohesif di berbagai kelembagaan, tingkat politik dan sistem pengetahuan.

Salah satu penerapan proses SHARED terdapat di Turkana, Kenya, di mana tanggung jawab untuk rencana pembangunan diwenangkan ke tingkat daerah. Turkana menggunakan pendekatan SHARED untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan sementara mengembangkan Rencana Pembangunan Terpadu Daerah (County Integrated Development Plan) tahunan. Bekerja sama erat dengan UNICEF dan ICRAFxiii, Pemerintah Daerah Turkana memutuskan untuk a) melihat data, bukti dan tren dengan menggunakan Perangkat Dukungan Diagnostik dan Keputusan Ketahanan (Resilience Diagnostic and Decision Support Tool) yang dikembangkan oleh ICRAF GeoScience Lab guna menentukan lanskap prioritas dan investasi mata pencaharian; b) secara kolektif menetapkan kriteria untuk menguji alokasi guna memaksimalkan kemajuan menuju hasil pembangunan daerah; dan c) mengembangkan mekanisme untuk keterlibatan masyarakat yang lebih besar dalam pengumpulan, analisis dan penggunaan data dalam pengambilan keputusan lokal. Dengan menggunakan proses

SHARED, Turkana menjalankan pendekatan xiii Upaya Turkana dibiayai oleh USAID melalui Technical Consortium for Enhancing Resilience in the Horn of Africa, serta UNICEF dan ICRAF. unggulan untuk pengambilan keputusan yang berbasis bukti dan inklusif, serta menentukan patokan untuk pengambilan keputusan di seluruh 47 wilayah di Kenya.

Perangkat SHARED telah membantu para pelaku memahami keterkaitan dari sektor sosial ekonomi dan biofisik serta telah mendukung pengembangan pendekatan lanskap bagi pengambilan keputusan, menandai pergeseran dari sektor tradisional tertentu atau alokasi investasi yang digerakkan oleh donor. Constance L. Neely, Sabrina Chesterman dan Tor-G Vagen World Agroforestry Centre

© L if e h o u se im a g e / G e tt y I m a g e s 2 0 15

86

Setelah para pemangku kepentingan menyepakati tujuan, mengidentiikasi skala aksi, dan m en gem ban gkan ren can a kolaboratif, pen tin g un tuk

m em pertim ban gkan bagaim an a ren can a in i dapat dilaksan akan secara efektif92. Ruan g lin gkup dan tin gkat detail yan g term asuk di dalam ren can a kolaboratif akan bervariasi. Serin g kali sebuah ren can a aksi akan m en gatur in terven si yan g akan dilaksan akan secara in depen den oleh berbagai pem an gku kepen tin gan (lihat halam an 8 2), serta sebagian yan g akan dilaksan akan bersam a-sam a. Ren can a kerja dan an ggaran terperin ci akan perlu dikem ban gkan oleh m ereka yan g bertan ggun g jawab atas pelaksan aan in terven si m asin g-m asin g. Para pem an gku kepen tin gan yan g m em im pin in isiatif lan skap perlu m em ain kan peran aktif gun a m ewujudkan pelaksan aan . In isiatif lan skap beroperasi di dalam skala waktu gen erasi dan dapat m en ghadapi ban yak kon disi yan g berubah (m isaln ya perubahan sosial, lin gkun gan , ekon om i dan kelem bagaan di dalam lan skap). Beberapa tin dakan m un gkin tidak akan berbuah selam a beberapa tahun ke depan , m elem ahkan doron gan un tuk perluasan gun a pen in gkatan . Oleh karen a itu, pelaksan aan ren can a aksi kolaboratif yan g berhasil m em butuhkan upaya un tuk m em pertahan kan perhatian pem an gku kepen tin gan dan m en jaga m om en tum (m isaln ya m elalui strategi kom un ikasi yan g efektif), serta dukun gan un tuk m em perkuat ikatan dan kom itm en di an tara para pem an gku kepen tin gan . J ika tim bul m asalah, perlu ada cara-cara untuk menyelesaikan konlik, menyesuaikan rencana terhadap kon disi baru, dan m em pertahan kan dukun gan dan visibilitas politik. Fasilitator lan skap m un gkin perlu m en gatur struktur un tuk m em fasilitasi koordin asi an tara para pem an gku kepen tin gan (m isaln ya pertem uan rutin ), dan un tuk m elacak apakah aksi yan g diren can akan telah dilaksan akan secara efektif gun a m en capai apa yan g pada awaln ya diten tukan (lihat halam an 8 8 ).

pelaKsanaan YanG eFeKTiF

sTUdi KasUs pelaKsanaan penGelOlaan

lansKap TerpadU di lari, KenYa

KENVO (Kijabe Environment Volunteers), didirikan pada tahun 1996 oleh para pemimpin pemuda lokal untuk mengatasi percepatan degradasi hutan di sub-distrik Kijabe di Lereng Curam Hutan Kikuyu, salah satu dari hutan alam Kenya yang tersisa. Organisasi berbasis masyarakat yang baru berdiri ini memobilisasi masyarakat yang terletak berdekatan dengan kawasan hutan yang terancam untuk bergabung dalam kampanye akar rumput yang memantau, melindungi dan memulihkan sumber daya hutan. Penduduk, yang menghargai bahwa sumber daya ini adalah penting bagi mata pencaharian mereka, melakukan perlindungan dan pelestarian hutan. Keberhasilan awal menunjukkan sinergi dari secara bersamaan mengupayakan pelestarian ekosistem, produksi berkelanjutan dan menjaga mata pencaharian lokal, serta menyoroti nilai dari memanfaatkan kapasitas tertentu dari perempuan dan pemuda.

Pada tahun 2006, salah satu pemimpin KENVO berpartisipasi dalam sebuah kursus kepemimpinan pertanian ramah lingkungan, yang memicu minat dalam menerapkan pemikiran lanskap di dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Secara khusus, KENVO mulai terlibat aktif dengan petani dan pasar pertanian, perbankan dan lembaga pemerintah. KENVO menugaskan seorang ilmuwan dari Museum Nasional Kenya untuk melakukan survei keanekaragaman hayati asli di wilayah produksi pertanian dari lanskap ini, yang mengungkapkan jauh lebih dari yang diharapkan. Hal ini menghasilkan antusiasme untuk memajukan praktik-praktik berkelanjutan dan insentif pasar untuk pertanian yang lebih ramah terhadap keanekaragaman hayati. Kegiatan petani kecil baru meliputi praktik-praktik wanatani, integrasi pepohonan dan semak-belukar ke dalam pertanian untuk buah, bahan bakar, pakan ternak, dan manfaat kesuburan; pembiakan lebah, berinvestasi dalam sarang lebah yang ditingkatkan, standar mutu dan pembesaran madu untuk meningkatkan nilai pasar; penggembalaan ternak tanpa merumput; produksi teh; dan tanaman lokal dengan nilai gizi yang tinggi

87