• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEABSAHAN PENDAFTARAN HAK GUNA USAHA PTPN III

C. Keabsahan Pendaftaran Hak Guna Usaha PTPN III Membang Muda

Perusahaan PT. Perkebunan Nusantara III terdiri dari beberapa perusahaan yang bercikal bakal dari perkebunan-perkebunan yang berada diwilayah Sumatera Utara dan sekitarnya milik perusahaan Belanda yang dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1958, kemudian menjadi Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara, Perusahaan Perkebunan Karet Negara, Perusahaan Perkebunan Negara Aneka Tanaman, Perusahaan Perseroan dan terakhir dileburnya tiga perusahaan perseroan yaitu: PTP III, PTP IV dan PTP V menjadi perseroan PT.

Perkebunan Nusantara disingkat PTPN III pada tahun 1996.

Sejarah perjalanan PTPN III dapat dibedakan dalam 2 (dua) tahap waktu, yakni sebelum nasionalisasi dan setelah nasionalisasi. Perseroan PTPN III dan kebun-kebunnya asal-usulnya adalah dari perusahaan-perusahaan Perkebunan Belanda, yaitu :

a) N.V.Handelsvereninging, Amsterdam, berkedudukan di Kerajaan Belanda, Kantor Administrasi di Jakarta, untuk kebun Bandar Betsy dan kebun Bangun;

b) N.V.Verenigde Deli Mijen, berkedudukan di Kerajaan Belanda, kantor Administrasi di Medan, untuk Kebun Rantau Prapat dan Kebun Sarang Ginting;

c) N.V.Verenigde Deli Mijen, berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi di Medan, untuk : a. Kebun Rambutan berasal dari Perkebunan Sungai Simujur, b. Silau Dunia berasal dari perkebunan Bandar Negeri, c. Gunung Monako berasal dari perkebunan Bandar Bedjamboe;

d) N.V. Cultuur Mij. De Oostkust, berkedudukan di Kerajaan Belanda, kantor Administrasi di Tebing Tinggi untuk kebun Gunung Pamela, Gunung Para dan Gunung Monako;

e) N.V.Rotterdam Tapanoeli Cultuur Mij, berkedudukan di Kerajaan Belanda, kantor Administrasi di Batang Toru (untuk kebun Hapesong) f) N.V.Cultuur Kwaole, berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor

Administrasi di Membang Moda (untuk kebun Labuhan Haji);

g) N.V. Rubber Cultur Mij Amsterdam, berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi di Medan, untuk kebun Sei Silau, kebun Bandar Selamat, Membang Muda, kebun Rambutan, kebun Sungai Dadap, kebun Sungai Mangkei dan kebun Sei Putih;

h) N.V. Cultuur Mij Tanah Raja, berkedudukan di Indonesia, kantor direksi di Perbaungan, untuk kebun Tanah Raja;

i) N.V. Cultur Mij. Serbadjadi, berkedudukan dikerajaan Belanda, kantor Administrasi di Medan, untuk kebun Ambalutu berasal dari perkebunan Ambalutu dan Sungai Kepas;

j) N.V. Silau Soematera Rubber Mij, berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi di Medan untuk kebun Silau Dunia;

k) N.V. Holland Soematra Rubber Cultuur Mij. Berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi FA. H. G. Th. Crone di Medan, untuk kebun Rambutan berasal dari perkebunan Sungai Bamban;

l) N.V. Cultuur Mij Merbau Zuid, berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi N. V. Sinembah Mij di Tanjung Morawa untuk kebun Rambutan berasal dari perkebunan Priok;

m) N.V. Hessa Rubber Mij. berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi N.V. Sinembah Mij di Tanjung Morawa, untuk kebun Sungai Dadap, berasal dari perkebunan Hessa;

n) N.V. Cultuur Mij. Priok, berkedudukan di kerajaan Belanda, kantor Administrasi N.V. Sinembah Mij di Tanjung Morawa, untuk kebun Rambutan, berasal dari perkebunan Priok.110

PP No.24 Tahun 1958 tanggal 16 April 1958 menempatkan perusahaan-perusahaan perkebunan/pertanian milik Belanda dibawah penguasaan Republik Indonesia dan berdasarkan PP No.19 Tahun 1959 ditentukan perusahaan pertanian/perkebunan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi. Selanjutnya Perusahaan Perkebunan Belanda tersebut diletakkan dibawah Badan Nasional Perusahaan Belanda dan setiap perkebunan yang dinasionalisasi tersebut didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Baru. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 1961 tanggal 26 April 1961 didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara I disingkat PPN Sumut I, berkedudukan di Medan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 1961 tanggal 26 April 1981 didirikan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara II (PPN Sumut II), berkedudukan di Medan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 1961 tanggal 26 April 1961 didirikan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara III (PPN Sumut III), berkedudukan di Medan. PPN Sumut III merupakan peleburan dari Perusahaan Perkebunan Negara Baru Pusat Perkebunan Negara :

a) Perkebunan Teh Bah Butong b) Perkebunan Teh Bah Birung Ulu

c) Perkebunan Kelapa Sawit Dolok Sinumbah d) Perkebunan Kelapa Sawit Tonduhan e) Perkebunan Kelapa Sawit /Teh Pagar Jawa

110 Kusbianto, Penyelesaian Sengketa Tanah Perkebunan pada Areal Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan di Sumatera Utara, Disertasi, Medan : FH-USU, 2016,

h.128-f) Perkebunan Kelapa Saawit/Serat Bah Jambi

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 1961 tanggal 26 April 1961 didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara IV (PPN Sumut IV) dan berkedudukan di Medan. PPN Sumut IV merupakan peleburan dari Perusahaan Perkebunan Negara Baru:

a) Perkebunan Karet Rambutan b) Perkebunan Karet Sungai Putih c) Perkebunan Karet Sungai Mangkai d) Perkebunan Karet Bandar Selamat

e) Perkebunan Karet/Kelapa Sawit Sungai Dadap f) Perkebunan Karet Sungai Silau

g) Perkebunan Karet Hessa

h) Perkebunan Karet Membang Muda i) Perkebunan Karet Labuhan Hadji j) Perkebunan Karet Hanna.112

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 147 Tahun 1061 tanggal 26 April 1961 didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara V (PPN Sumut V) dan berkedudukan di Medan. PPN Sumut V merupakan peleburan dari Perusahaan Perkebunan Negara Baru;

111 Ibid.,h.131-132.

112 Ibid.h.132.

a) Perkebunan Karet Limau Mungkur b) Perkebunan Karet Tandjong Garbus c) Perkebunan Karet Melati

d) Perkebunan Kelapa Sawit/Karet Adolina Ulu/Ilir e) Perkebunan Sawit/Karet Tanah Radja

f) Perkebunan Karet Sungai Bamban g) Perkebunan Karet Priok

h) Perkebunan Karet Sungai Simudjur i) Perkebunan Karet Sarang Ginting j) Perkebunan Karet Bandar Negeri k) Perkebunan Karet Serbadjadi.113

Sesuai dengan PP No.148 Tahun 1961 tanggal 26 April 1961 didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara VI (PPN Sumut VI) dan berkedudukan di Medan. PPN Sumut VI merupakan peleburan dari Perusahaan Perkebunan Brau (PPN Baru);

a) Perkebunan Kelapa Sawit/Tjoklat Pabatu b) Perkebunan Kelapa Sawit Tindjowan c) Perkebunan Kelapa Sawit Hengeloo d) Perkebunan Kelapa Sawit Gunung Bayu e) Perkebunan Kelapa Sawit Mayang

f) Perkebunan Kelapa Sawit Tandjong Itam Ulu/Ilir.114

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 1961 tanggal 26 April 1961 didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara VII, berkedudukan di Medan. PPNN Sumut VII merupakan peleburan dari Perusahaan Perkebunan Baru :

a) Perkebunan Karet Gunung Para b) Perkebunan Karet Gunung Pamela

113 Ibid.,h.133.

c) Perkebunan Karet Gunung Monaco d) Perkebunan Karet Dolok Ulu e) Perkebunan Karet Naga Radja f) Perkebunan Karet Bandar Bedjambu g) Perkebunan Karet Silau Dunia.115

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 1961 tanggal 26 April 1961 didirikan Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Sumatera Utara VIII (PPN Sumut VIII), berkedudukan di Medan. PPN Sumut VIII merupakan peleburan dari Perusahaan Perkebunan Negara Baru.

Tanah-tanah yang menjadi Hak Guna Usaha di PTPN III secara historis adalah bekas konsesi dari perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda yang dinasionalisasi tahun 1958 diatur dalam Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 (LN.

1958-162) juncto PP No.19 Tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Pertanian/Perkebunan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi (Penjelasan TLN No. 1746).

Tanah-tanah areal untuk lahan perkebunan milik perseroan perkebunan PTPN III adalah Hak Guna Usaha dari tanah-tanah Hak Guna Usaha asal konversi hak-hak barat milik perkebunan bangsa Belanda. Menurut Keputusan Presiden No.32 Tahun 1979 tentang Pokok-pokok Kebijaksanaan Dalam Rangka Pemberian Hak Baru atas Tanah Asal Konversi Hak-hak Barat, antara lain disebutkan tanah Hak Guna Usaha yang jangka waktunya akan berakhir, selambat-lambatnya pada tanggal 24 September 1980 sebagaimana yang dimaksud dalam UUPA No. 5 Tahun 1960, pada saat berakhirnya hak yang bersangkutan menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh

115 Ibid.,h.134.

Negara. Hak Guna Usaha asal konversi hak barat yang dimiliki oleh perusahaan milik negara diberi pembaharuan ha katas tanah yang bersangkutan.116

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1979 Tentang Permohonan dan Pemberian Hak Baru atas Tanah Asal Konversi Hak-hak Barat telah diperbaharui dalam bentuk sertifikat yang dikeluarkan oleh Kantor Sub Direktorat Agraria Kabupaten tempat masing-masing Kebun di Sumatera Utara kepada PTPN III. Hak Guna Usaha masing-masing kebun terbit mulai tahun 1980 ke tahun 1984 yang akan berakhir tahun 2001 dan tahun 2005.

Pendaftaran Hak Guna Usaha terdiri dari 2 (dua) tahap. Tahap pertama didasarkan pada ketentuan Pasal 31 UUPA juncto Pasal 6 PP 40/1996. Pasal 31 UUPA menentukan bahwa, “hak guna usaha terjadi karena penetapan Pemerintah.”

Ketentuan tersebut dipertegas kembali dengan ketentuan Pasal 6 PP 40/1996 bahwa,

“Hak Guna Usaha diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuk.”

Kewajiban pendaftaran HGU pada Kantor Pertanahan ditentukan dalam Pasal 32 UUPA juncto Pasal 7 PP 40/1996. Pasal 32 UUPA menentukan, bahwa :

a) Hak guna-usaha, termasuk syarat-syarat pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak tersebut, harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19.

b) Pendaftaran termaksud dalam ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai peralihan serta hapusnya hak guna usaha, kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir.

Pasal 7 PP 40/1996 menentukan, bahwa pemberian Hak Guna Usaha :

116Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah,

a) Wajib didaftar dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan.

b) Hak Guna Usaha terjadi sejak didaftar oleh Kantor Pertanahan dalam buku tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c) Sebagai tanda bukti hak kepada pemegang Hak Guna Usaha diberikan sertifikat hak atas tanah.

Ketersediaan perangkat hukum tertulis, menyebabkan pihak-pihak yang berkepentingan akan dengan mudah mengetahui kemungkinan yang tersedia baginya untuk menguasai dan menggunakan tanah yang diperlukannya, cara memperoleh, hak-hak, kewajiban, serta larangan-larangan apa yang ada dalam menguasai tanah dengan hak-hak tertentu, sanksi apa yang dihadapinya jika diabaikan ketentuan-ketentuan yang bersangkutan, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan penguasaan dan penggunaan tanah yang dimiliki.

Ketentuan Pasal 32 UUPA juncto Pasal 7 PP 40/1996 tersebut dilakukan untuk menjamin kepastian hukum pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 UUPA. Pemberian jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, khususnya pendaftaran HGU memerlukan tersedianya perangkat hukum tertulis yang lengkap, jelas dan dilaksanakan secara konsisten, serta penyelenggaraan pendaftaran tanah yang efektif.

HGU diberikan paling lama dalam jangka waktu 35 tahun dan dapat diperpanjang sampai dengan paling lama 25 tahun, yang disesuaikan dengan permintaan dan keadaan perusahaan pemohon perpanjangan HGU.117 Dari ketentuan tersebut, maka dapat diketahui bahwa pemegang HGU atas tanah, dimungkinkan untuk menguasai dan mengusahai tanah HGU maksimal atau paling lama 70 tahun.

117Pasal 29 UUPA

Defenisi perpanjangan hak dapat diketahui dari beberapa ketentuan seperti PP 40/1996, Kepmen 21/1996 dan Peraturan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999. Pasal 1 Angka 6 PP 40/1996 mendefenisikan HGU perpanjangan hak sebagai “penambahan jangka waktu berlakunya sesuatu hak tanpa mengubah syarat-syarat dalam pemberian hak tersebut.”

Pasal 1 angka 7 Keputusan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun 1994 Tentang Tata Cara Perolehan Tanah Bagi Perusahaan (untuk selanjutnya disingkat “Kepmen 21/1994”) mendefenisikan perpanjangan hak sebagai “penetapan pemerintah untuk menambah waktu berlakunya suatu hak atas tanah dalam jangka waktu tertentu.” Pasal 1 Angka 9 Peraturan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 mendefenisikan perpanjangan hak sebagai, “penambahan jangka waktu berlakunya suatu hak atas tanah tanpa mengubah syarat dalam pemberian hak tersebut, yang permohonannya dapatdiajukan sebelum jangka waktu berlakunya hak yang bersangkutan.”

Dari ketiga defenisi yang tersebut, maka dapat diketahui bahwa permohonan perpanjangan jangka waktu HGU merupakan permohonan yang diajukan agar jangka waktu berlaku HGU ditambah, dengan tanpa adanya perubahan terhadap syarat-syarat pemberian HGU atas tanah yang sebelumya telah dipenuhi oleh pemohon.

Pengajuan permohonan perpanjangan Hak Guna Usaha diajukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional setempat118,

dimana dalam hal ini oleh karena objek tanah yang dimohonkan perpanjangannya terletak di Kabupaten Labuhan Batu Utara, maka Kantor Pertanahan setempat yang dimaksud adalah Kantor Pertanahan Labuhan Batu Utara.

Syarat yang harus dilampirkan dalam permohonan perpanjangan tersebut, diatur dalam Pasal 16 Ayat 3 Kepmen 21/1994, yaitu :

a) Keterangan diri pemohon, yang berupa Kartu Tanda Penduduk untuk pemohon

b) perorangan atau akte pendirian yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman untuk pemohon Badan Hukum.

c) Surat Persetujuan Penanaman Modal Bagi Perusahaan yang menggunakan fasilitas Penanaman Modal.

d) Fotocopy Sertipikat Hak Guna Bangunan yang akan diperpanjang atau diperbaharui dengan disertai Surat Keterangan Pendaftaran Tanah yang terbaru.

e) Surat Pernyataan pemohon bahwa tanahnya masih dimanfatkan sesuai dengan tujuan peruntukan penggunaan semula atau dalam hal ada perubahan pemanfaatan harus sesuai dengan ketentuan tata ruang yang berlaku.

f) Tanda lunas pembayaran PBB untuk tahun tagihan yang terakhir.

Tujuan perpanjangan HGU tersebut juga dipertegas oleh ketentuan Pasal 18 Ayat 1 Kepmen 21/1994 yang menentukan bahwa :

“untuk pemberian perpanjangan Hak Guna Usaha tidak diperlukan pemeriksaan tanah oleh Panitia Pemeriksaan Tanah B, melainkan cukup dilengkapi dengan laporan konstatasi yang ditandatangani oleh Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional setempat dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya permohonan secara lengkap.”

Permohonan pendaftaran perpanjangan jangka waktu HGU wajib dilakukan selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sebelum jangka waktu HGU berakhir dan dicatat

dalam buku tanah Kantor Pertanahan.119 Syarat perpanjangan jangka waktu menurut Pasal 9 Ayat 1 PP 40/1996, yaitu :

a) Tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat dan tujuan pemberian hak tersebut;

b) Syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak;

c) Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak.

Menurut Pasal 9 Ayat 2 PP 40/1996, Hak Guna Usaha dapat diperbaharui atas permohonan pemegang hak, jika memenuhi syarat :

a) tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat dan tujuan pemberian hak tersebut.

b) syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak.

c) pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak.

PTPN III memiliki beberapa perusahaan perkebunan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan salah satunya terletak di Desa Perkebunan Membang Muda, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhan Batu Utara Propinsi Sumatera Utara yang dikenal dengan nama PTPN III Membang Muda.

Sebagaimana diuraikan dalam Surat Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara No.525/1702.F tanggal 4 Desember 2002, maka PTPN III Membang Muda mengusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat dan tujuan pemberian HGU, sebagai perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit dan karet. PTPN III Membang Muda hingga saat pengajuan permohonan perpanjangan HGU,

berdasarkan hasil klasifikasi perkebunan besar termasuk kebun kelas II atau berkategori baik.

PTPN III Membang Muda memperoleh HGU berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Agraria tanggal 6 Februari 1980 No.SK.17/HGU/DA/80 seluas ±3.050 Ha (lebih kurang tiga ribu lima puluh hektar). PTPN III Membang Muda kemudian bermaksud mengajukan permohonan perpanjangan jangka waktu HGU pada tanggal 20 Desember 2002 dengan surat permohonan nomor III.11/X/1472/2002.

Menurut pertimbangan BPN sebagaimana dimuat dalam Surat Keputusan BPN Nomor 119/HGU/BPN/2005, PTPN III Membang Muda wajib melakukan kembali pendaftaran HGU untuk pertama kali, bukan proses perpanjangan HGU. Hal tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Panitia Pemeriksaan Tanah B, sebagaimana dimuat dalam Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah B Propinsi Sumatera Utara No.05/PPT/B/2004 pada tanggal 10 September 2004, menunjukkan bahwa HGU yang diperoleh PTPN III Membang Muda tersebut, tidak pernah didaftarkan HGU pada Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhan Batu Utara, sehingga tanah dimaksud, kembali berada dalam status sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.

BPN kemudian memproses permohonan sebagai permohonan pendaftaran HGU pertama kali yang ditindaklanjuti dengan diadakan pengukuran kembali oleh Panitia Pemeriksaan Tanah B (Panitia B). Hasil pengukuruan menunjukkan bahwa di atas tanah yang dimohon terdapat areal yang dipergunakan untuk perluasan

perkampungan dan garapan masyarakat seluas 15,31 Ha, Rencana Umum Tata Ruang Aek Kanopan seluas 328,87 Ha, fasilitas umum berupa Sekolah Dasar 3 seluas 1,61 Ha, Sekolah Menengah Umum seluas 14,16 Ha, jalan seluas 13,86 Ha, PT.Telkom seluas 0,35 Ha dan jembatan timbang Departemen Perhubungan seluas 1 Ha atau seluruhnya seluas 377,21 Ha untuk diusulkan dikeluarkan dari luas areal tanah yang dimohon. Menurut hasil pengukuran Panitia B, luas areal tanah HGU yang dapat dimohonkan menjadi seluas 2.624,19 Ha.

Pengukuran kembali dilakukan BPN dengan pertimbangan bahwa, Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Agraria tanggal 6 Februari 1980 No.SK.17/HGU/DA/80 belum merupakan bukti bahwa PTPN III Membang Muda telah memperoleh HGU atas tanah dimaksud. Penerbitan SK tersebut wajib diikuti dengan pendaftaran HGU di Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhan Batu Utara, agar PTPN III secara sah menjadi pemegang HGU atas tanah dimaksud.

PTPN III Membang Muda sebagai pemegang HGU dibuktikan dengan Sertipikat Hak Guna Usaha yang diterbitkan oleh Kantor Badan Pertanahan Kabupataen Labuhan Batu Utara. PTPN III Membang Muda terdaftar sebagai pemegang Hak Guna Usaha atas tanah seluas 2.624,9 Ha yang terletak di Desa Perkebunan Membang Muda, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhan Batu Utara Propinsi Sumatera Utara, sebagaimana terdaftar dalam Sertipikat Hak Guna Usaha No.12 tanggal 22 Januari 2008 berdasarkan Surat Keputusan BPN Nomor 119/HGU/BPN/2005.

Kewajiban pendaftaran HGU pada Kantor Pertanahan ditentukan dalam Pasal 32 UUPA juncto Pasal 7 PP 40/1996. Pasal 32 UUPA menentukan, bahwa :

a) Hak guna-usaha, termasuk syarat-syarat pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak tersebut, harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19.

b) Pendaftaran termaksud dalam ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai peralihan serta hapusnya hak guna usaha, kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir.

Pasal 7 PP 40/1996 menentukan, bahwa pendaftaran Hak Guna Usaha : a) Wajib didaftar dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan.

b) Hak Guna Usaha terjadi sejak didaftar oleh Kantor Pertanahan dalam buku tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c) Sebagai tanda bukti hak kepada pemegang Hak Guna Usaha diberikan sertifikat hak atas tanah.

Pertimbangan BPN tersebut dinilai sesuai dengan ketentuan Pasal 28 Ayat 1 UUPA, dimana yang menjadi objek pendaftaran HGU adalah hak yang dikuasai langsung oleh negara, sehingga dapat pula diketahui bahwa objek hak guna usaha yang pendaftarannya tidak dilakukan atau tidak sesuai dengan persyaratan perundang-undangan akan kembali menjadi tanah yang dikuasai secara langsung oleh negara.

PTPN III Membang Muda wajib mendaftarkan kembali bidang tanah yang dimohonkan pada Kantor Pertanahan setempat sebagaimana mekanisme pendaftaran HGU untuk pertama kali, bukan melakukan mekanisme pendaftaran perpanjangan HGU.

BAB III

UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA YANG DAPAT DILAKUKAN PTPN III MEMBANG MUDA TERKAIT PENERBITAN SHM DI ATAS

TANAH HGU PTPN III MEMBANG MUDA A. Penyelenggara dan Pelaksana Pendaftaran Tanah

Pasal 19 UUPA menentukan bahwa pendaftaran tanah diselenggarakan oleh Pemerintah dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (BPN). BPN adalah lembaga pemerintah non departemen yang mempunyai tugas di bidang pertanahan dengan unit kerja yaitu Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Propinsi dan Kantor Pertanahan di Kota/Kabupaten.120

Tugas pokok BPN adalah melaksanakan tugas pemerintah di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral, seperti tercantum dalam Pasal 2 Perpres 10/2006. Pelaksanaan pendaftaran tanah dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan, kecuali mengenai kegiatan-kegiatan tertentu yang ditugaskan kepada pejabat lain, yaitu kegiatan yang pemanfaatannya bersifat nasional atau melebihi wilayah kerja Kepala Kantor Pertanahan, misalnya pengukuran titik dasar dan pemetaan fotogrametri.

Dalam melaksanakan tugas tersebut Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan pejabat lain yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu menurut PP 24/1997 dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.

120 Irawan Soerodjo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah Di Indonesia, Arkola, Surabaya 2003,

Pasal 9 Ayat 1 PP 24/1997 menyebutkan, bahwa dalam melaksanakan pendaftaran secara sistematik Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh Panitia Ajudikasi, yang dibentuk oleh Menteri Negara Agraria / Kepala BPN atau pejabat yang ditunjuk. Ajudikasi merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendaftaran tanah untuk pertama kali, meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya.121

Dalam melaksanakan pendaftaran tanah secara sistematik diperlukan bantuan suatu Panitia Ajudikasi, karena pada umumnya pendaftaran secara sistematik bersifat massal dan besar-besaran, sehingga dengan demikian tugas rutin Kantor Pertanahan tidak akan terganggu.

Susunan Panitia Ajudikasi berdasarkan Pasal 8 Ayat 2 PP 24/1997 terdiri dari :

1. Seorang Ketua Panitia, merangkap anggota yang dijabat oleh seorang pegawai Badan Pertanahan Nasional.

2. Beberapa orang anggota yang terdiri dari :

a) Seorang pegawai Badan Pertanahan Nasional yang mempunyai kemampuan pengetahuan di bidang pendaftaran tanah.

b) Seorang pegawai Badan Pertanahan Nasional yang mempunyai kemampuan pengetahuan di bidang hak-hak atas tanah.

c) Kepala Desa / Kelurahan yang bersangkutan dan atau seorang Pamong Desa / Kelurahan yang ditunjuk.

Keanggotaan Panitia Ajudikasi dapat ditambah dengan seorang anggota yang sangat diperlukan dalam penilaian kepastian data yuridis mengenai bidang-bidang tanah di wilayah desa / kelurahan yang bersangkutan.122

121 Pasal 1 Angka 8 PP 24/1997.

122 Pasal 8 Ayat 3 PP 24/1997.

Dalam melaksanakan tugasnya Panitia Ajudikasi dibantu oleh satuan tugas pengukuran dan pemetaan, satuan tugas pengumpul data yuridis dan satuan tugas administrasi yang tugas, susunan dan kegiatannya diatur oleh Menteri.123 Tugas dan wewenang Panitia Ajudikasi berdasarkan Pasal 52 PMNA/KBPN No.3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP 24/1997, yaitu :

1. Menyiapkan rencana kerja ajudikasi secara terperinci;

2. Mengumpulkan data fisik dan dokumen asli data yuridis semua bidang tanah yang ada di wilayah yang bersangkutan serta memberikan tanda penerimaan dokumen kepada pemegang hak atau kuasanya.

2. Mengumpulkan data fisik dan dokumen asli data yuridis semua bidang tanah yang ada di wilayah yang bersangkutan serta memberikan tanda penerimaan dokumen kepada pemegang hak atau kuasanya.

Dokumen terkait