• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian.41

Pemecahan suatu isu hukum melalui penelitian hukum memerlukan pendekatan-pendekatan tertentu sebagai dasar pijakan untuk menyusun argumen yang tepat. Adapun macam – macam pendekatan dalam penelitian hukum, yaitu pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach).

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Pendekatan perundang-undangan (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan (isu hukum) yang sedang dihadapi. Pendekatan perundang-undangan ini dilakukan dengan mempelajari konsistensi/kesesuaian antara Undang-Undang Dasar dengan Undang-Undang, atau antara Undang-Undang yang satu dengan Undang-Undang yang lain.

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan

41 Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, Andi, Yogyakarta, 2000, h.4.

untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.42 Penelitian ini bertitik tolak dari suatu pengertian bahwa penelitian pada hakekatnya mencakup kegiatan pengumpulan data, pengelolaan data, analisis data dan kontruksi data yang semuanya dilaksanakan secara sistematis dan konsisten. 43 Data adalah gejala yang akan dicari untuk diteliti, gejala yang diamati oleh peneliti dan hasil pencatatan terhadap gejala yang diamati oleh peneliti.44

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian normatif, yang mengkaji hukum tertulis dengan berbagai aspek seperti teori, sejarah, filosofi, perbandingan, struktur dan komposisi, lingkup dan materi, konsistensi, penjelasan umum dan penjelasan pada tiap pasal, formalitas dan kekuatan mengikat suatu perundangan.45 Penelitian dilakukan dengan cara menganalisa bahan pustaka atau data sekunder berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder,46 berupa peraturan-peraturan perundang-undangan yang mengatur perpanjangan HGU dan pendaftaran hak atas tanah khususnya hak milik maupun hak guna usaha.

42Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, h.43. (untuk selanjutnya disingkat “Soerjono Soekanto-II”).

43 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Peran dan Penggunaan Perpustakaan di Dalam Penelitian Hukum, PDHUL, Jakarta, 1979, h.1-2. (untuk selanjutnya disingkat “Soerjono Soekanto-III”)

44 Ibid.

45Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 2006, h.140.

46Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu penelitian akan menggambarkan secara rinci dan sistematis mengenai objek yang diteliti.47 Mekanisme hukum perpanjangan HGU, faktor yang menyebabkan terbitnya SHM pada tanah HGU dalam masa perpanjangan dan upaya penyelesaian yang dapat dilakukan jika terjadi sengketa akan diuriakan secara rinci dan sistematis dalam penelitian ini.

2. Bahan Hukum

Data penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan bahan-bahan hukum primer, sekunder maupun tersier yang dikumpulkan melalui studi dokumen dan kepustakaan yang terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoriatif artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer mempunyai kekuatan yang mengikat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.48

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum primer yaitu buku ilmu hukum, tesis, disertasi, jurnal hukum, laporan hukum, makalah, dan media cetak atau elektronik. Bahan hukum sekunder yang digunakan adalah yang merupakan publikasi tentang hukum yang bukan dokumen resmi, seperti hasil seminar atau pertemuan ilmiah yang relevan dengan penelitian ini.

47 Soerjono Soekanto-III, h.10.

48Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2006, h.141.

c. Bahan hukum tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang relevan untuk melengkapi data dalam penelitian ini, yaitu seperti kamus umum, kamus hukum, majalah-majalah, dan internet.49 serta bahan-bahan di luar bidang hukum yang berkaitan guna melengkapi data.

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (library research) dan wawancara. Alat pengumpulan data yang digunakan, yaitu studi dokumen untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisa data primer yakni peraturan perundang-undangan maupun peraturan-peraturan kementerian yang mengatur tentang pendaftaran perpanjangan HGU dan penerbitan sertipikat hak atas tanah, serta upaya yang dapat dilakukan jika terjadi sengketa terkait penerbitan SHM di atas tanah HGU dalam masa perpanjangan. Teknik dan pengumpulan data penelitian juga dilakukan dengan wawancara terhadap Rizki Alisyahbana yang merupakan Bagian Hukum dan Agraria PTPN III.

4. Alat Pengumpul Data

Penelitian ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library research), dimana penelitian dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui

49Jhonny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia, Jakarta,

pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan, literatur-literatur, tulisan-tulisan para pakar hukum, bahan kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.50 5. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.51 Dalam penelitian hukum normatif, maka maksud pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis, sistematisasi yang berarti membuat klasifikasi terhadap bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.52

Penelitian ini menggunakan analisis dengan metode kualitatif dengan penarikan kesimpulan berupa penarikan kesimpulan deduktif. Penalaran deduktif deduktif atau deduksi adalah merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan.

50Riduan, Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bina Cipta, Bandung, 2004, h.97.

51Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, h.106.

52Soerjono Soekanto-II, op.cit. h.25.

BAB II

KEABSAHAN PENDAFTARAN HAK GUNA USAHA PTPN III MEMBANG MUDA

A. Pendaftaran Tanah di Indonesia 1. Pengertian Pendaftaran Tanah

Salah satu tujuan pendaftaran tanah di Indonesia adalah untuk menjamin kepastian hukum kepemilikan tanah. Dasar pendaftaran tanah mengenai jaminan kepastian hukum hak atas tanah telah diatur dalam Pasal 19 UUPA, yaitu :

1. Untuk menjamin kepastian hukum, oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia, menurut ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintah.

2. Pendaftaran tanah tersebut pada ayat (1) meliputi : a. pengukuran, perpetaan, dan pembukuan tanah;

b. pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;

c. pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.

Pasal 19 UUPA tersebut ditujukan kepada Pemerintah sebagai suatu instruksi agar di seluruh wilayah Indonesia diadakan pendaftaran tanah yang bersifat "rechts-kadaster", yang artinya bertujuan menjamin kepastian hukum. Pendaftaran itu akan diselenggarakan dengan mengingat pada kepentingan, serta keadaan Negara dan masyarakat, keperluan lalu-lintas sosial ekonomi dan kemungkinan-kemungkinannya dalam bidang personil dan peralatannya..53

Berdasarkan ketentuan Pasal 19 UUPA tersebut, maka dapat diketahui bahwa kepastian hukum meliputi :

a) kepastian mengenai subyek hak atas tanah, yaitu kepastian mengenai orang atau badan hukum yang menjadi pemegang hak atas tanah tersebut;

b) kepastian mengenai obyek hak atas tanah, yaitu kepastian mengenai letak tanah, batas-batas tanah, panjang dan lebar tanah.

Pemberian jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan memerlukan tersedianya perangkat hukum tertulis yang lengkap, jelas, dan dilaksanakan secara konsisten, serta penyelenggaraan pendaftaran tanah yang efektif.54 Ketersediaan perangkat hukum tertulis, menyebabkan pihak-pihak yang berkepentingan akan dengan mudah mengetahui kemungkinan yang tersedia baginya untuk menguasai dan menggunakan tanah yang diperlukannya, cara memperoleh, hak-hak, kewajiban, serta larangan-larangan apa yang ada dalam menguasai tanah dengan hak-hak tertentu, sanksi apa yang dihadapinya jika diabaikan ketentuan-ketentuan yang bersangkutan, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan penguasaan dan penggunaan tanah yang dimiliki.

Sebagaimana amanat Pasal 19 ayat 1 UUPA, maka diundangkan untuk pertama kali Peraturan Pemerintah nomor 10 Tahun 1961 (untuk selanjutnya disingkat PP 10/1961) yang memuat ketentuan-ketentuan tentang Pendaftaran Tanah, agar tujuan kepastian hukum pendaftaran tanah dapat diwujudkan.

PP 10/1961 tidak mengatur secara khusus tentang defenisi pendaftaran tanah, berbeda halnya dengan PP 24/1997. Menurut Pasal 1 Angka 1 PP 24/1997, defenisi pendaftaran tanah adalah :

54 Urip Santoso, Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas Tanah, Cetakan 2, Kencana , Jakarta, 2010, h.2 (untuk selanjutnya disingkat “Urip Santoso-III”).

“rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian, serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian sertipikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.”

Berdasarkan pengertian pendaftaran tersebut, maka dapat diketahui bahwa terdapat beberapa unsur pendaftaran tanah, yaitu :

a) Adanya serangkaian kegiatan b) Dilakukan oleh pemerintah

c) Secara terus menerus berkesinambungan d) Secara teratur

e) Bidang tanah dan satuan rumah susun f) Pemberian surat tanda bukti hak

g) Hak-hak tertentu yang membebaninya. 55

PP 24/1997 telah menggunakan asas publisitas dan asas spesialitas. Asas publisitas tercermin dengan adanya pendaftaran tanah yang menyebutkan subyek haknya, jenis haknya, peralihan dan pembebanannya. Sedangkan asas spesialitas tercermin dengan adanya data-data fisik tentang hak atas tanah tersebut seperti luas tanah, letak tanah, dan batas-batas tanah.56

Asas publisitas dan asas spesialitas ini dimuat dalam suatu daftar guna dapat diketahui secara mudah oleh siapa saja yang ingin mengetahuinya, sehingga siapa saja yang ingin mengetahui data-data atas tanah itu tidak perlu lagi mengadakan penyelidikan langsung ke lokasi tanah yang bersangkutan karena segala data-data

55Urip Santoso-III, Op.Cit., h.14.

56 Effendi Perangin-angin, Praktek Permohonan Hak Atas Tanah, Rajawali Press, Jakarta,

tersebut dengan mudah dapat diperoleh di Kantor Pertanahan. Oleh karenanya setiap peralihan hak atas tanah tersebut dapat berjalan lancar dan tertib serta tidak memakan waktu yang lama.57

Berdasarkan hal-hal diatas, maka secara jelas diketahui bahwa maksud dan tujuan pemerintah mendaftarkan tanah atau mendaftarkan hak atas tanah adalah guna menjamin adanya kepastian hukum berkenaan dengan hal ihwal sebidang tanah, yaitu dalam rangka pembuktian jika ada sengketa dan atau dalam rangka membuka hal ihwal tanah tersebut. Disinilah letak hubungan antara asas publisitas dan asas spesialitas dalam pelaksanaan suatu pendaftaran tanah atau pendaftaran hak atas tanah di Indonesia.58

Menurut A.P.Parlindungan sebagaimana dikutip oleh Urip Santoso, pendaftaran tanah berasal dari kata “cadastre” yang dalam bahasa Belanda disebut kadaster. Cadastre adalah suatu istilah teknis untuk suatu record (rekaman) yang menunjukkan kepada luas, nilai dan kepemilikan (atau lain-lain atas hak) terhadap satu bidang tanah. Cadastre juga berfungsi untuk memberikan uraian dan identifikasi dari sebidang tanah, serta sebagai rekaman yang berkesinambungan dari suatu hak atas tanah. 59

2. Tujuan dan Sistem Pendaftaran Tanah di Indonesia

57 Ibid..

58Bachtiar Effendi, Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Peraturan-Peraturan Pelaksanaannya, cet. 1, edisi kedua, Alumni, Bandung, 1993, h.20-21

59Urip Santoso-III, Op.Cit.,h.12.

Tujuan pendaftaran tanah di Indonesia dinyatakan secara tegas dalam Pasal 3 PP 24/1997, yaitu :

a) untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun, dan hak-hak lain yang terdaftar, agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;

b) untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;

c) untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.

Pendaftaran tanah merupakan realisasi salah satu tujuan UUPA, dimana tugas untuk melakukan pendaftaran tanah pada prinsipnya dibebankan kepada pemerintah dan para pemilik tanah mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan haknya. Kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia dilakukan melalui 2 (dua) cara, yaitu :

a) Pendaftaran tanah secara sistematik

Pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek pendaftaran yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan. Pendaftaran tanah secara sistematik diselenggarakan atas prakarsa pemerintah berdasarkan pada suatu rencana kerja jangka panjang dan tahunan serta dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan oleh Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional.

b) Pendaftaran tanah secara sporadik

Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau masal. Pendaftaran tanah secara sporadik dilaksanakan atas permintaan atau inisiatif dari pemilik tanah secara individual atau juga dilakukan oleh beberapa pemilik tanah secara masal dengan biaya dari pemilik tanah itu sendiri.60

60Adrian Sutedi, Kekuatan Hukum Berlakunya Sertipikat Sebagai Tanda Bukti Hak Atas

Penerapan sistem pendaftaran di suatu negara tergantung pada asas hukum pertanahan dan sistem publikasi yang digunakan dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah oleh negara yang bersangkutan. Ada 2 (dua) macam sistem pendaftaran tanah, yaitu :

a) Sistem pendaftaran akta (registration of deeds) b) Sistem pendaftaran hak (registration of title).

Persamaan dari kedua sistem pendaftaran tersebut adalah baik dalam sistem pendaftaran akta maupun sistem pendaftaran hak, setiap pemberian atau menciptakan hak baru serta pemindahan dan pembebanannya dengan hak lain harus dibuktikan dengan suatu akta. Dalam akta tersebut dimuat data yuridis tanah yang bersangkutan antara lain perbuatan hukumnya, haknya, penerima haknya, dan hak apa yang dibebankan. Dalam kedua sistem pendaftaran tersebut akta merupakan sumber data yuridis.

Adapun perbedaan kedua sistem pendaftaran tersebut adalah :

a)Pada sistem pendaftaran akta, pendaftaran berarti mendaftarkan peristiwa hukumnya, yaitu peralihan haknya dengan cara mendaftarkan akta. Akta itulah yang didaftar oleh pejabat pendaftaran tanah yang bersifat pasif. Sistem pendaftaran akta tidak melakukan pengujian kebenaran data yang disebut dalam akta yang didaftar.

b)Pada sistem pendaftaran hak, pemegang hak yang terdaftar adalah pemegang hak yang sah menurut hukum, sehingga pendaftaran berarti mendaftarkan status seseorang sebagai pemegang hak atas tanah. Setiap penciptaan hak baru dan perbuatan-perbuatan hukum yang menimbulkan perubahan kemudian juga harus dibuktikan dengan suatu akta, tetapi dalam penyelenggaraan pendaftarannya bukan akta yang didaftar melainkan haknya yang diciptakan dan perubahan-perubahan kemudian dan akta hanya merupakan sumber datanya. Dalam sistem pendaftaran hak, pejabat pendaftaran tanah bersifat aktif, dimana sebelum dilakukan pendaftaran hak oleh pejabat pendaftaran tanah,

dilakukan pengujian kebenaran data yang dimuat dalam akta yang bersangkutan.61

Dalam sistem pendaftaran tanah, dikenal 2 (dua) jenis asas, yaitu : a) Asas Itikad Baik

Asas itikad baik menyatakan bahwa, orang yang memperoleh sesuatu hak dengan itikad baik akan tetap menjadi pemegang hak yang sah menurut hukum.

Pendaftaran tanah memiliki tujuan melindungi orang yang dengan itikad baik untuk memperoleh suatu hak dari orang yang disangka sebagai pemegang yang sah.

Perlindungan terhadap orang yang beritikad baik tersebut, memerlukan pendaftaran umum yang mempunyai kekuatan bukti sehingga asas ini dipakai untuk memberi kekuatan pembuktian bagi peta dan daftar umum yang ada di kantor pertanahan.

Sistem pendaftaran tanah yang digunakan dalam asas ini adalah sistem positif.

Dalam sistem positif, daftar umumnya mempunyai kekuatan bukti, sehingga orang yang terdaftar adalah pemegang hak yang sah menurut hukum. Kelebihan yang ada pada sistem positif adalah adanya kepastian dari pemegang hak, oleh karena itu ada dorongan bagi setiap orang untuk mendaftarkan haknya. Kekurangan sistem positif adalah pendaftaran yang dilakukan tidak lancar dan dapat saja terjadi bahwa pendaftaran atas nama orang yang tidak berhak dapat menghapuskan hak orang lain yang berhak.

b) Asas Nemo Plus Juris

61Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia : Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Cet. 3, Djambatan , Jakarta, 2005,

Asas Nemo Plus Juris menyatakan bahwa orang tidak dapat mengalihkan hak melebihi hak yang ada padanya. Ini berarti pengalihan hak oleh orang yang tidak berhak adalah batal. Asas Nemo Plus Juris bertujuan memberikan perlindungan kepada pemegang hak yang sebenarnya, sehingga pemegang hak yang sebenarnya akan selalu dapat menuntut kembali haknya yang terdaftar atas nama siapapun.

Sistem pendaftaran tanahnya disebut sistem negatif.

Dalam sistem negatif, daftar umum tidak mempunyai kekuatan bukti, sehingga terdaftarnya seseorang dalam daftar umum tidak merupakan bukti bahwa orang tersebut yang berhak atas hak yang telah didaftarkan. Kekurangan dari sistem negatif bahwa orang yang terdaftar tersebut akan menanggung akibatnya, bila hak yang diperoleh orang tersebut berasal dari orang yang tidak berhak. Kekurangan sistem negatif tersebut, pada akhirnya menyebabkan orang menjadi tidak mau untuk mendaftarkan hak. Kelebihan sistem pendaftaran negatif, bahwa pendaftaran dapat dilakukan lancar atau cepat dan pemegang hak yang sebenarnya tidak dirugikan, walaupun orang yang terdaftar bukan orang yang berhak.62

Sistem pendaftaran tanah juga berkaitan dengan kegiatan publikasi berupa penyajian data yang dihimpun secara terbuka bagi umum di Kantor Pertanahan berupa daftar-daftar dan peta, sebagai informasi bagi umum yang akan melakukan perbuatan hukum mengenai tanah yang terdaftar. Sejauh mana orang boleh mempercayai kebenaran data yang disajikan dan sejauh mana hukum melindungi kepentingan orang yang melakukan perbuatan hukum mengenai tanah yang haknya

62 Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya, Cet. 2, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, h.117-118 (untuk selanjutnya disingkat “Adrian Sutedi-II”)

sudah didaftar tergantung pada sistem publikasi yang digunakan dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah oleh negara yang bersangkutan. Secara umum dikenal dua sistem publikasi, yaitu sistem publikasi positif dan sistem publikasi negatif.

a) Sistem Publikasi Positif

Dalam sistem publikasi positif, orang yang mendaftar sebagai pemegang hak atas tanah tidak dapat diganggu gugat lagi haknya. Negara sebagai pendaftar menjamin bahwa pendaftaran yang sudah dilakukan adalah benar. Konsekuensi penggunaan sistem ini adalah bahwa dalam proses pendaftarannya harus benar-benar diteliti bahwa orang yang mengajukan pendaftarannya memang berhak atas tanah yang didaftarkan tersebut, dalam arti ia memperoleh tanah ini dengan sah dari pihak yang benar-benar berwenang memindahkan hak atas tanah tersebut dan batas-batas tanah tersebut adalah benar adanya.Negara menjamin kebenaran data yang disajikan.

63

Sistem ini mengandung ketentuan-ketentuan yang merupakan perwujudan ungkapan “title by registration” atau “dengan pendaftaran diciptakan hak”, pendaftaran menciptakan suatu “indefeasible title” atau “hak yang tidak dapat diganggu gugat”, dan “the register is everything” atau “untuk memastikan adanya suatu hak dan pemegang haknya cukup dilihat buku tanahnya”. Sekali didaftar pihak yang dapat membuktikan bahwa dialah pemegang hak yang sebenarnya kehilangan

haknya untuk mendapatkan kembali tanah yang bersangkutan. Jika pemegang hak atas tanah kehilangan haknya, maka ia dapat menuntut kembalihaknya. Jika pendaftaran terjadi karena kesalahan pejabat pendaftaran, ia hanya dapat menuntut pemberian ganti kerugian (compensation) berupa uang, sehingga negara menyediakan yang disebut suatu “assurance fund”.64

Sistem publikasi positif selalu menggunakan sistem pendaftaran hak, sehingga mutlak adanya register atau buku tanah sebagai bentuk penyimpanan dan penyajian data yuridis dan sertipikat hak sebagai surat tanda bukti hak. Dalam sistem pendaftaran hak, pejabat pendaftaran tanah mengadakan pengujian kebenaran data sebelum membuat buku tanah serta melakukan pengukuran dan pembuatan peta.

Sistem publikasi positif ini akan menghasilkan suatu produk hukum yang dijamin kebenarannya oleh pemerintah dan oleh karena itu tidak bisa diganggu gugat, sehingga dapat disimpulkan bahwa segi negatif dalam sistem publikasi positif adalah tertutup kemungkinan bagi pihak-pihak yang merasa sebagai pemegang hak yang sebenarnya untuk melakukan gugatan atau tuntutan terhadap segala sesuatu yang telah tercatat dalam sertipikat tersebut karena negara menjamin kebenaran data yang disajikan.

Secara umum, stelsel positif dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut :

1) Pejabat Pembuat Akta Tanah diberikan tugas untuk meneliti secara materiil dokumen-dokumen yang diserahkan dan berhak untuk menolak pembuatan akta.

2) Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya berhak menolak melakukan pendaftaran jika pemilik tidak mempunyai wewenang mengalihkan haknya.

64Ibid

Campur tangan Pejabat Pembuat Akta Tanah dan Kantor Pertanahan terhadap peralihan-peralihan hak atas tanah memberikan jaminan bahwa nama orang yang terdaftar benar-benar yang berhak tanpa menutup kesempatan kepada yang berhak sebenarnya untuk masih dapat mempersoalkannya.65

b) Sistem Publikasi Negatif

Dalam sistem publikasi negatif, negara hanya bersifat pasif menerima apa yang dinyatakan oleh pihak yang meminta pendaftaran. Oleh karena itu,

Dalam sistem publikasi negatif, negara hanya bersifat pasif menerima apa yang dinyatakan oleh pihak yang meminta pendaftaran. Oleh karena itu,

Dokumen terkait