• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadilan Historis

Bab ini mengeksplorasi respon historis terhadap peninggalan kekejaman di masa lalu dan pertanyaan tentang peran apa yang dimainkan oleh pertanggungjawaban historis dalam transisi menuju demokrasi. Transisi – dari sefinisinya – menunjukkan adanya diskontinuitas sejarah. Perang, revolusi dan pemerintahan represif merupakan masa-masa gelap dalam sejarah suatu bangsa yang mengancam kontinuitasnya. Pertanyaan yang timbul adalah: secara deskriptif, bagaimana masyarakat memperlakukan masa-masa cacat sejarah tersebut? Sejauh mana peran respon historis terhadap pemerintahan otoriter di masa lalu? Dan secara normatif, dalam hal apa pertanggungjawaban historis merupakan hal yang korektif dan mendorong liberalisasi?

Suatu pandangan yang populer di kalangan analis politik kontemporer adalah bahwa penyidikan dan dokumentasi sejarah yang mengasimilasikan masa lalu yang buruk merupakan hal yang diperlukan untuk mengembalikan kolektivitas pada masa-masa perubahan politik yang radikal. Klaim mereka adalah bahwa dengan menemukan “kebenaran” tentang kesalahan-kesalahan negara di masa lalu, seperti melalui konstitusi baru atau pengadilan suksesor, hal tersebut membantu untuk meletakkan dasar bagi tatanan politik yang baru.

[P]emerintahan penerus memiliki kewajiban untuk menyelidiki dan menentukan fakta-fakta, sehingga kebenaran diketahui dan dijadikan bagian dari sejarah suatu bangsa ... Perlu ada pengetahuan dan pengakuan: peristiwa-peristiwa di masa lalu harus diakui keberadaannya secara resmi dan diungkapkan secara terbuka. Pengungkapan kebenaran .... merespon tuntutan untuk mendapatkan keadilan dari para korban dan memfasilitasi rekonsiliasi nasional.1

Seperti klaim normatif konstitusi dan pengadilan di masa transisi, klaim normatif untuk menyusun dokumentasi sejarah yang resmi adalah bahwa ia memungkinkan pergeseran menuju tatanan yang lebih liberal. Penyusunan sejarah kolektif tentang masa lalu yang represif dianggap meletakkan dasar yang diperlukan untuk masyarakat demokratis yang baru. Dikatakan bahwa proses ini mutlak diperlukan untuk transisi menuju demokrasi: sejarah transisional yang diarahkan pada masa depan yang lebih baik menggambarkan suatu proses dialektis dan progresif. Pandangan ini mewarisi semangat dari masa lalu, dari masa pencerahan – Immanuel Kant hingga Karl Marx, yang menganggap bahwa sejarah bersifat menguniversalkan dan memberikan penebusan. Dalam pandangan ini, sejarah adalah pengajar dan hakim, dan kebenaran sejarah itu sendiri merupakan keadilan. Pandangan tentang potensi liberalisasi dari sejarah inilah yang mendorong argumen kontemporer untuk pertanggungjawaban sejarah dalam transisi. Namun, asumsi bahwa “kebenaran” dan “sejarah”

1

Alice H. Henkin, “Conference Report”, dalam State Crimes: Punishment or Pardon, dalam Alice H. Henkin (ed.), Queenstown, Md: Aspen Institute, 1989, 4-5. Terdapat banyak penganjur pandangan ini dalam komunitas diplomatik dan hak asasi manusia. Lihat misalnya Margaret Popkin dan Naomi Roht-Arriaza, “Truth as Justice: Investigatory Commissions in Latin America”, Law and Social Inquiry 20 (Musim Dingin 1995): 79. Lihat juga José Zalaquett, “Balancing Ethical Imperatives and Political Constraints: The Dilemma of New Democracies Confronting Past Human Rights Violations”, Hastings Law Journal 43 (1992): 1425; Timothy Garton Ash, The File: A Personal History, New York : Random House, 1997.

adalah hal yang satu dan yang sama2 menunjukkan suatu kepercayaan tentang adanya suatu sejarah yang otonom dan objektif tentang masa lalu, di mana konteks politik masa kini tidak memiliki peran dalam pembentukkannya. Namun, teori modern tentang pengetahuan sejarah menentang konsepsi ini.3 Bila sejarah disusun secara interpretatif,4 tidak ada pemahaman atau “pelajaran” yang tunggal, jelas dan mutlak tentang masa lalu, namun yang ada adalah pengakuan terhadap sejauh mana pemahaman tentang sejarah bergantung pada kondisi politik dan sosial.

Bagian-bagian dari sejarah dalam masa demikian, seperti akan ditunjukkan di bawah, tergantung tidak hanya pada peninggalan sejarah dan politik di suatu wilayah, namun juga pada konteks khas transisi tersebut. Pandangan ideal tentang sejarah transisional sebagai “dasar”, atau sebagai titik awal, mengabaikan tinjauan sejarah yang sudah ada. Tinjauan sejarah yang disusun pada masa transisi tidaklah berdiri sendiri, namun didukung oleh narasi nasional yang telah ada. Latar belakang berupa ingatan kolektif yang sudah ada menentukan suatu masyarakat. Kebenaran transisional dikonstruksikan secara sosial dalam proses ingatan kolektif. Seperti tercermin pada praktik-praktik masyarakat dalam masa tersebut, tinjauan sejarah tidaklah terlalu bersifat mendasar sebagaimana ia bersifat transisional.

Masa transisi adalah bagian dari sejarah yang diciptakan secara sadar. Masa tersebut adalah masa penciptaan sejarah dalam suatu konteks yang cenderung terpolitisasi dan didorong oleh kepentingan politik. Politik memiliki implikasi epistemiknya. Kaitan erat antara penyalahgunaan kekuasaan dan pengendalian pengetahuan dijelaskan secara mendalam oleh Friedrich Nietzsche dan Michel Foucault.5 Namun, bahkan intuisi modern menolak penyelidikan sejarah yang secara eksplisit dipolitisasi, karena hal tersebut bertentangan dengan pandangan ideal suatu filsafat sejarah yang dianggap merdeka dari pengaruh politik. Jadi, penyelidikan sejarah dalam masa transisi merupakan tantangan yang sukar. Sifat sejarah yang dipolitisasi, terkait dengan pemerintahan represif, diungkapkan oleh respon-respon dalam transisi. Meskipun tinjauan-tinjauan sejarah masing-masing dikaitkan dengan rezim politik yang berbeda, penggunaan pengetahuan dalam politik biasanya dikaburkan oleh para pemegang kekuasaan. Narasi sejarah selalu ada; semua rezim dikaitkan dan dikonstruksikan oleh suatu rezim “kebenaran”.6 Perubahan rezim politik dengan demikian berarti perubahan serupa dalam rezim kebenaran.

Ingatan kolektif adalah proses merekonstruksi masa lalu dengan cara pandang masa kini.7 Namun, proses rekonstruksi ini memiliki bentuknya yang khas pada masa transisi. Pada

2

Lihat R.G. Collingwood, The Idea of History, New York: Oxford University Press, 1994. 3

Lihat Peter Novick, That Noble Dream: The “Objectivity Question” and the American Hostorical Profession, Cambridge: Cambridge University Press, 1988. Tentang narasi sejarah, lihat Hayden White, The Content of the Form: Narrative Discourse and Historical Representation, Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1987, 13. 4

Lihat H.G. Gadamer, Truth and Method, New York: Crossroad, 1989. 5

Untuk diskusi lebih mendalam tentang peran ingatan dalam pembentukan masyarakat, lihat Friedrich Nietzsche,

On the Genealogy of Morals, terjemahan Walter Kaufmann dan R.J. Hollingdale, New York: Vintage Books, 1967; Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977, terjemahan Colin Gordon et al., New York: Pantheon Books, 1980.

6

Lihat Foucault, Power/Knowledge.

7

Untuk karya mendasar tentang konstruksi ingatan kolektif, lihat Maurice Halbwachs, On Collective Memory,

terjemahan Lewis A. Coser, Chicago: University Press, 1992. Dari perspektif sosiologi, lihat Iwona Irwin-Zarecka, Frames of Remembrance: The Dynamics of Collective Memory, New Brunswick, N.J: Transaction Publishers, 1994; Natalie Zeman Davis dan Randolph Stern (eds.), “Memory and Countermemory”,

masa-masa transformatif, kaitan antara konstruksi sejarah kolektif dan politik dicoba untuk diputuskan sekaligus dikaitkan dengan erat. Konstruksi sejarah pada masa-masa transformasi politik diciptakan dengan menarik garis diskontinuitas, namun pada saat yang sama, tetap ada kontinuitas sejarah dan politik hingga titik tertentu. Sejarah transisional memiliki narasinya sendiri, namun mengaitkan dan mengambil benang-benang sejarah yang telah ada. Perimbangan antara diskontinuitas dan kontinuitas, sebagaimana akan terlihat, adalah hal yang mendefinisikan praktik penciptaan sejarah transisional, membuatnya perlu dilakukan dengan hati-hati, sementara sekaligus memberinya potensi transformatif yang sesungguhnya.

Suatu pemahaman tentang bagaimana politik yang sedang mendemokratiskan dirinya mempengaruhi konstruksi sejarah pada masa transformasi politik yang substansial pada akhirnya dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang peran sejarah dalam masa biasa. Pertanyaan tentang tinjauan sejarah pada masa perubahan politik yang mendasar adalah bagian dari pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat menciptakan kebenaran yang disepakati bersama. Konsensus epistemik dalam masyarakat dianggap diciptakan oleh mekanisme transmisi kebudayaan; arti kebenaran dalam masyarakat mensyaratkan pemahaman bersama hingga titik tertentu.8 Namun, dalam transisi, pemahaman bersama ini sering kali rapuh atau malah tidak ada. Apa yang terjadi bila suatu pemerintahan runtuh seperti terjadi pada masa represi? Siapakah pemegang otoritas pada masa transisi? Masalah yang muncul dalam masa perubahan politik radikal timbul dari ketiadaan kesamaan pandangan. Dalam masa ini, tidak ada pandangan tentang politik dan sejarah yang dimiliki bersama. Dalam transisi, kesamaan pandangan yang membentuk dasar bagi konsensus sosial yang baru diharapkan bisa timbul dari tinjauan terhadap sejarah.

Bagaimana cara masyarakat mengkonstruksikan masa lalu mereka sedemikian rupa sehingga dipahami secara bersama sebagai kebenaran tentang pengalaman bersama? Bagaimana mereka menentukan apa yang sebenarnya terjadi pada masa sejarah yang penuh perdebatan tentang kejahatan negara? Di bawah ini, proses-proses yang dilaksanakan dalam konstruksi sejarah transisi akan dibahas. Karena teori kontemporer menekankan kaitan prinsip interpretif pada konteks sosial dan politiknya, sejarah transisional menunjukkan kaitan tinjauan sejarah yang tertulis dengan bentuk dan format legal yang terjadi. Pertanggungjawaban yang didapatkan dari sejarah transisional diciptakan oleh bentuk-bentuk dan praktik-praktik dalam suatu sistem hukum. Sejarah transisional mengungkapkan bagaimana bentuk dan praktik hukum tertentu memungkinkan produksi sejarah dan mentransformasi kebenaran. Sejarah transisional juga menjelaskan kepada kita tentang peran sejarah dalam perubahan politik menuju sistem yang liberal.

Pengalaman beberapa negara yang dibahas dalam bab ini menjelaskan berbagai bentuk pertanggungjawaban sejarah. Di sini dijelaskan bagaimana masyarakat mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana mengkonstruksikan suatu kisah milik bersama dalam perubahan politik yang radikal. Juga dijelaskan tentang berbagai cara masyarakat transisional menyusun sejarah bersama, dan peran hukum dalam konstruksi tersebut. Ingatan kolektif diciptakan dalam kerangka kerja, melalui simbol dan ritual. Dalam transisi, kerangka kerja

University of Minnesota Press, 1994; Susan A. Crane, “Writing the Individual Back into Collective Memory”,

American Historical Review 20 (1997): 1372. Untuk perspektif antropologi historis, lihat Gerald Silder dan Gavin Smith (eds.), Between History and Histories: The Making of Silences and Commemorations, Toronto: University of Toronto Press, 1997.

8

Untuk penjelasan tentang pandangan ini, lihat Steven Shapin, A Social History of Truth, Chicago: University of Chicago Press, 1994.

yang lazim – politik, agama, sosial – mendapatkan ancaman; sehingga hukum beserta kerangka dan prosesnyalah yang menyusun sebagian terbesar dari ingatan kolektif. Pada masa transisi, hukum berperan penting dalam membentuk ingatan sosial. Narasi sejarah transisional diciptakan melalui berbagai tindakan legal, seperti pengadilan terhadap rezim lama, atau badan-badan birokratik yang bersidang untuk mengungkapkan sejarah, dan berbagai respon legal lainnya yang mencoba menemukan kebenaran. Terakhir, kisah-kisah independen lainnya didapatkan dari inisiatif para jurnalis atau sejarawan, meskipun kisah-kisah ini pun bersumber dari hukum sebagai otoritas dan batasannya.

Kisah sejarah dalam masa transisi politik mengambil berbagai bentuk. Sumber dan bentuk kebenaran transisional beragam: pengadilan, komisi kebenaran, sejarah resmi. Analisis di sini menunjukkan suatu fakta yang selalu ada namun terutama menonjol pada masa transisi: “Masing-masing masyarakat memiliki rezim kebenarannya, ‘politik umum’ kebenarannya; yaitu diskursus yang diterima secara umum dan berfungsi sebagai kebenaran”.9 Berbagai rezim kebenaran, yaitu susunan kebenaran, amat terlihat jelas dalam konteks transisional. Substansi rezim kebenaran transisional bergantung pada sifat rezim kebenaran yang telah ada, dan sejauh mana terjadi transformasi yang kritis. Sumber-sumber justifikasi sejarah transisional menentukan arah transformasi politik. Melalui kerangka hukum, bahasa, prosedur dan peristilahan dalam keadilan, rekonstruksi ini bisa berjalan maju. Di bawah ini dijelaskan beberapa contoh konstruksi ingatan kolektif dalam transisi.

Sejarah Hukum: Keadilan Historis dan Pengadilan Pidana

Sejak dulu, proses pengadilan memiliki peran terpenting dalam penyusunan sejarah transisional. Sejarah bertindak sebagai “hakim” dalam proses peradilan pidana. Dalam perdebatan kontemporer tentang keadilan transisional, masalah tersebut sering kali ditempatkan dalam kerangka “penghukuman atau amnesti”. Penghukuman dikaitkan dengan ingatan kolektif, dan ketiadaan hukuman dikaitkan dengan amnesti kolektif.10

Pertimbangkanlah peran penghukuman dalam usaha untuk mencapai keadilan historis. Pengadilan adalah suatu bentuk upacara yang lazim terjadi dalam penyusunan sejarah kolektif. Namun selain itu, pengadilan juga merupakan cara terpenting untuk memproses peristiwa-peristiwa yang kontroversial.11 Tujuan peradilan pidana umumnya adalah untuk menentukan tanggung jawab individual dan untuk menentukan kebenaran tentang suatu peristiwa yang menimbulkan kontroversi. Meskipun nilai penting proses pengadilan pidana untuk menemukan kebenaran ini bervariasi antara sistem dan budaya hukum yang berbeda,12 pada masa transisi, peran pengadilan untuk menyelesaikan kontroversi sejarah tidak bisa dibantah.

9

Foucault, Power/Knowledge, 131. 10

Untuk kritik terhadap penggunaan pengadilan pidana untuk tujuan ingatan kolektif, lihat Mark J. Osiel, “Ever Again: Legal Remembrance of Administrative Massacre”, University of Pennsylvania Law Review 144 (1995): 463.

11

Tentang peran pengadilan sebagai ritus dalam ingatan sosial, lihat Paul Connerton, How Societies Remember, Cambridge: Cambridge University Press, 1989.

12

Bandingkan Mirjan Damaska, “Evidentiary Barriers to Conviction and Two Models of Criminal Procedure: A Comparative Study”, University of Pennsylvania Law Review 121 (1973): 506, 578-86 (menganggap bahwa sistem kontinental lebih mementingkan penemuan kebenaran), dengan John H. Langbein, “The German Advantage in Civil Procedure”, University of Chicago Law Review 52 (1985): 823.

Karena transisi merupakan masa konflik politik dan sejarah yang terkait, pengadilan suksesor sering kali diadakan sebagai cara utama untuk mendapatkan keadilan historis. Pengadilan suksesor juga sering kali dilakukan untuk menyusun tinjauan sejarah dalam masa transisi politik; bahkan sering kali inilah tujuan utamanya. Melalui pengadilan, usaha untuk menemukan kebenaran sejarah ditempatkan dalam kerangka pertanggungjawaban dan usaha untuk menemukan keadilan. Dalam beberapa aspeknya, penggunaan pengadilan untuk melakukan penyelidikan sejarah tentang hal-hal kontroversial sesuai dengan intuisi kita tentang fungsi epistemik penghukuman. Namun, sejarah transisional melalui pengadilan pidana melampaui pemahaman kita tentang peran pengadilan secara umum dalam pertanggungjawaban pidana, namun ia tetap dibentuk oleh cara pandang pengadilan tersebut. Dalam konteks ini, pertanggungjawaban terhadap masa lalu mempengaruhi dan menyusun suatu pandangan tentang keadilan historis. Sejarah transisional pasti akan menyusun suatu tinjauan yang spesifik tentang masa lalu suatu negara yang kontroversial.

Dalam tinjauan sejarah di proses peradilan pidana, kebenaran ditemukan bersama dengan keadilan, dan dengan demikian berperan dalam proses delegitimasi rezim pendahulu, dan melegitimasi rezim penerus. Meskipun keruntuhan militer atau politik bisa menjatuhkan pemimpin yang menindas, bila rezim tersebut tidak didiskreditkan secara terbuka, ideologi politiknya bisa bertahan. Jadi, perdebatan di abad ke-18 tentang apakah raja Louis XVI perlu diadili dilihat oleh Thomas Paine sebagai kesempatan untuk mengungkapkan “kebenaran” tentang kejahatan pemerintahan monarki: “Bila ia, sang raja, dilihat ... sebagai seorang tertuduh yang pengadilannya bisa mendorong negara-negara lain di dunia untuk mengetahui dan membenci sistem monarki yang mengerikan, serta rencana busuk dan intrik dalam pemerintahan mereka sendiri, maka ia perlu diadili”.13 Pengadilan suksesor penting lainnya, baik terhadap penjahat perang di Nuremberg atau junta militer Argentina, kini terutama diingat bukan karena hukuman yang mereka jatuhkan terhadap individu-individu, namun tentang peran mereka dalam menyusun catatan yang abadi tentang tirani negara.

Proses pidana suksesor memungkinkan berbagai representasi sejarah dari peninggalan masa lalu yang kejam. Pengadilan memungkinkan representasi sejarah kolektif dengan jelas, melalui penciptaan kembalinya dan dramatisasi tentang masa lalu, dalam proses pidana. Terlebih lagi, tinjauan sejarah ini biasanya dicatat dalam transkrip tertulis, yang sering kali diterbitkan. Pada masa kontemporer, kemungkinan representasional ini sangat meningkat dengan media massa dan penyiaran proses pengadilan melalui televisi, yang menjadikannya bagian dari budaya populer. Catatan tertulis dan lainnya dari pengadilan dan keputusan merupakan representasi yang abadi.

Bagaimana proses pidana mengkonstruksikan kebenaran?14 Tidak ada jawaban tunggal, karena berbagai aspek penemuan kebenaran dihasilkan dari berbagai bagian dalam proses pidana. Sebagai contoh, pengadilan pidana memungkinkan penyusunan catatan sejarah dengan standar kepercayaan hukum yang tinggi: dalam jurisprudensi Anglo-Amerika,

13

Michael Walzer (ed.), dan Marian Rothstein (penrj), Regicide and Revolution: Speeches at the Trial of Louis XVI, New York: Cambridge University Press, 1974, 129.

14

Untuk penelitian tentang kaitan prosedur pidana dengan kebenaran, lihat catatan kaki 12 di atas. Untuk pembicaraan tentang teori prosedur pidana “ekspresif”, lihat Ruti Teitel, “Persecution and Inqusition: A Case Study”, dalam Irwin P. Stotzky (ed.), Transition to Democracy in Latin America: The Role of the Judiciary, Boulder: Westview Press, 1993.

“kebenaran yang tidak diragukan”.15 Contoh utamanya adalah pengadilan dan keputusan di Nuremberg. Bukti-bukti kekejaman dalam pengadilan tersebut, yang sebagian besar berasal dari arsip Jerman sendiri, mencakup 10 ribu dokumen tentang pembuatan kebijakan. Terdapat preferensi untuk merujuk pada dokumen sebagai barang bukti, karena pengakuan dianggap memiliki kecenderungan politisasi. Menurut Penuntut Umum Robert Jackson, “kita tidak akan meminta Anda untuk mendakwa orang-orang ini atas kesaksian musuh-musuh mereka”. The

Trials of War Criminals Before the Nuremberg Military Tribunals merupakan suatu catatan

permanen tentang kebijakan penindasan Nazi, yang masih digunakan oleh para sejarawan dan pakar lainnya.16

Contoh lain yang lebih modern adalah pengadilan junta militer Argentina pada tahun 1983, yang memungkinkan pengungkapan masa lalu negara tersebut secara terbuka. Pengadilan terhadap junta militer ini, karena sistem hukum Argentina mengikuti sistem Eropa, merupakan pengadilan pertama yang dilakukan secara terbuka. Selama pengadilan junta ini, untuk pertama kalinya setelah kejatuhan pemerintahan militer, tindakan-tindakan penindasan oleh militer diungkapkan ke masyarakat melalui media secara terbuka selama jangka waktu yang cukup lama. Kebenaran tentang apa yang terjadi ditentukan dari kesaksian para korban dan dilengkapi oleh organisasi non-pemerintah internasional, kelompok hak asasi manusia dan pemerintah asing – semuanya menunjukkan kekejaman rezim lama.17

Sebuah pengadilan suksesor lainnya, terhadap mantan “kaisar” Afrika Tengah, Jean-Bedel Bokassa, juga penting dalam hal representasinya tentang kediktatoran yang telah berlalu. Setelah satu dekade pemerintahan represif, Bokassa digulingkan oleh Prancis dan diadili untuk tindakan-tindakan kekejaman, termasuk pembantaian politik dan bahkan kanibalisme. Melalui siaran televisi dan radio di seluruh negara tersebut, pengadilan panjang terhadap Bokassa menciptakan narasi lisan yang jelas tentang kekejaman kediktatorannya.18 Pada akhirnya, meskipun diberikan amnesti, pelaporan luas tentang proses pengadilan tersebut menjamin bahwa pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan rezim Bokassa tidak akan dilupakan. Kekuatan pengadilan dalam membentuk ingatan kolektif dilihat dari perannya untuk membuat konstruksi sosial pengetahuan tentang suatu masa untuk jangka yang panjang.

Kekuatan peradilan pidana dalam konstruksi sejarah mungkin paling jelas tergambar dalam kaitan antara proses pidana yang berkaitan dengan Perang Dunia Kedua dan kisah-kisah tentang masa tersebut. Penulisan sejarah (historiografi) pasca-perang merujuk pada pentingnya pengadilan dalam memandang dan menciptakan pemahaman sejarah. Kekuatan representasi legal dalam konstruksi pemahaman sejarah ilmiah dan populer tentang kekejaman masa perang tampak dalam arah pemahaman sejarah hingga kini. Pemahaman sejarah dan legal tentang penindasan berkembang secara sejajar, menunjukkan fungsi kuat hukum dalam konstruksi sejarah di masa transisi. Pemahaman sejarah awal tentang penindasan Nazi bersesuaian dengan pemahaman hukum tentang pertanggungjawaban yang dikonstruksikan pada pengadilan pasca-perang. Pemahaman tentang pertanggungjawaban terhadap penindasan di masa perang dimulai dengan memusatkan perhatian terhadap individu pada jajaran

15

In re Winship, 397 US 358, 364 (1970); lihat John Calvin Jeffries, Jr. dan Paul B. Stephan III, “Defenses, Presumptions and Burden of Proof in Criminal Law”, Yale Law Journal 88 (1979): 1325, 1327.

16

Lihat Norman E. Tutorow (ed.), War Crimes, War Criminals and War Crimes Trials: An Annotated Bibliography and Source Book, New York: Greenwood Press, 1986, 18.

17

Lihat Human Rights Watch, An Americas Watch Report: Truth and Partial Justice in Argentina, an Update, New York: Human Rights Watch, 1991.

18

kekuasaan tertinggi. (Pemahaman ini kemudian akan bergeser, yaitu bahwa pertanggungjawaban lebih tersebar pada seluruh jajaran). Dengan demikian, di Nuremberg, kejahatan yang terberat adalah “penyelenggaraan perang yang agresif”, dan yang diadili adalah para petinggi militer. Bersamaan dengan sidang-sidang pengadilan awal terhadap para eselon tertinggi militer Jerman, mazhab sejarah pada masa itu pun memandang tanggung jawab sebagai suatu hal yang top down (dari atasan ke bawahan). Mazhab “intensionalis” ini menganggap kebijakan Nazi didominasi oleh Hitler; maka tanggung jawab untuk kekejaman di masa perang harus dibebankan pada para petinggi.

Seiring jalannya waktu, timbullah pemahaman hukum yang lebih jelas tentang tanggung jawab, yang berjalan bersama dengan perubahan dalam pemahaman sejarah. Setelah Nuremberg, pengadilan-pengadilan Control Council No. 10 menunjukkan konstruksi pertanggungjawaban yang memindahkan beban tanggung jawab kejahatan perang dari jajaran tertinggi militer Jerman ke para elite sipilnya. Interpretasi sejarah dari masa ini bergeser dari mazhab intensionalis, yang menganggap tanggung jawab terkonsentrasi (pada satu orang), ke mazhab fungsionalis, yang menganggap tanggung jawab tersebar luas di seluruh sektor masyarakat Jerman, seperti di negara-negara lainnya.19 Pengadilan tingkat bawah menunjukkan pergeseran pemahaman yang serupa. Persidangan Eichmann berlangsung bersama dengan penulisan The Destruction of the European Jews oleh Raul Hilberg pada tahun 1961. Pada dekade-dekade selanjutnya, pengadilan diterapkan pada para kolaborator, juga bagian jajaran kekuasaan yang lebih rendah. Kolaborator masa perang diadili di

Dokumen terkait