• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADILAN DAN KESETARAAN GENDER JALAN SURGA UNTUK KITA SEMUA

Dalam dokumen Jurnal Sosial dan Keagamaan walisongo (Halaman 30-45)

Oleh

Ahmad Sarkawi⃰

[email protected]

Abstrak

Tulisan ini membahas tentang bagaimana seharusnya keadilan dan kesetaraan gender diaplikasikan dalam ritualitas dan rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Keadilan dan kesetaraan gender disini diarahkan untuk menghapus budaya patriakhi yang melegalkan dan melanggengkan tindak kekerasan laki-laki kepada perempuan, diskriminasi, marginalisasi, sub-ordinasi, dan bahkan labelisasi. Reinterpretasi doktrin teologis dan advokasi hukum dalam penghapusan pembatasan ruang gerak perempuan di ranah publik menjadi hal mutlak dalam upaya menciptakan keadilan dan kesetaraan gender. Dan yang paling urgen dari semua itu adalah kesadaran kita bahwa persoalan gender tidak semata urusan perempuan, peran aktif dan kesadaran kaum laki-laki menjadi tonggak utama permasalahan ini.

Kata kunci: gender, patriarkhi, seks, keadilan, kesetaraan.

Pendahuluan

Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia dinilai tidak lagi hanya menyentuh ranah ekonomi, politik, hukum, atau psikologis, tapi juga sudah menyentuh ranah ideologi, agama, dan kepercayaan. Sebut saja serangan diskriminatif yang kerap dialami oleh Ahmadiyah dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) belakangan ini. Maraknya peristiwa kekerasan berbasis intoleransi ini telah menjadikan perempuan dan anak turut sebagai pihak yang dirugikan.1

Seorang perempuan yang pada saat penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah, sedang hamil sembilan bulan memberikan kesaksian bahwa ketika massa merusak rumah dan menjarah barang dagangannya, ia mendengar massa penyerang menyatakan “urang kitu heula” (maksudnya kita perkosa dulu) yang ditimpali penyerang lain “Da keur keureuneh” (dia lagi hamil) namun penyerang lain menyatakan “Keun bae keur keurreuneh oge dan henceut na mah teu bareuh” (tidak apa-apa hamil juga, vaginanya tidak bengkak. Maksudnya membesar seperti perut perempuan hamil). Setelah kejadian itu pada hari ketiganya perempuan itu melahirkan namun liang vaginanya tidak membuka dengan baik karena akibat dari pemerkosaan yang dilakukan penyerang.2 Agama, tingkat pendidikan, status sosial, budaya dan bahasa di setiap tempat pasti berbeda; tapi keadaan dan dampak konflik bagi perempuan di setiap abad dan di semua tempat adalah sama.3

Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di wilayah domestik seperti kekerasan dalam rumah tangga, tetapi kekerasan terhadap perempuan terjadi di wilayah publik. Jumlah

Dosen UII Yogyakarta

1 Dwi Rubiyanti Khofifah, Aksi Perempuan Melawan Kekerasan berbasis Agama, pubdate : 25/11/10 2 Tim Penulis, Perempuan Ahmadiyah dalam Laporan Pemantauan HAM Komnas perempuan, Perempuan dan Anak Ahmadiyah: Korban Diskriminasi berlapis, 2008, 12

3 Julius Lawata, “Fakta Tak Terlihat Posisi Perempuan dalam Konflik Sosial di Maluku.” dalam. Jurnal Perempuan 33: Perempuan dan Pemulihan Konflik, 2004, 11-12

M O M E N T U M kekerasan terhadap perempuan yang tercatat ditangani lembaga pengada layanan meningkat

setiap tahun (tahun 2001-2008). Tahun 2009 peningkatan jumlah kekerasan terhadap perempuan mencapai 143.586 kasus atau naik 263% dari jumlah kekerasan terhadap perempuan tahun lalu (54.425).4 Pola kekerasan yang cukup menonjol pada tahun 2009 adalah kekerasan psikis dan seksual terjadi di tiga ranah yaitu, keluarga atau relasi personal, komunitas dan negara. Korban kekerasan dalam rumah tanggal (KDRT) yang cukup menonjol adalah kekerasan terhadap istri (96%). Dan usia korban cenderung lebih muda (dari kelompok usia 13-18 tahun). Sedang karateristik usia pelaku antara usia produktif yaitu usia 25 – 40 tahun.5

Wajah kekerasan terhadap perempuan di Indonesia seperti benang kusut yang susah diuraikan, kekerasan terjadi dimanapun, tak ada lagi ruang yang nyaman dan tenang untuk

perempuan berdialektika dan merasakan indahnya dunia seperti lirik lagunya Iwan Fals “aku ingin nyanyikan lagu, tanpa kemiskinan dan kemunafikan, tanpa air mata dan kesengsaraan. Agar perempuan dapat melihat surga”,6 ketidakadilan dan ketidaksetaraan terhadap perempuan menjelajah di setiap dimensi kehidupan manusia, maka dengan itu paper sederhana ini akan mencoba untuk berbagi kepada kita semua untuk menguak tabir ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dan upaya untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender sebagai jalan surga untuk kita semua.

Menguak Tabir Ketidakadilan dan Ketidaksetaraan Gender.

a. Seks dan Gender

Konsep seks dan gender pada prinsipnya adalah sebuah konsep yang membedakan jenis kelamin yang dimiliki manusia. Secara umum, seks membedakan jenis kelamin manusia karena perbedaan alat-alat biologis yang dimilikinya. Sementara gender membedakan jenis kelamin manusia berdasarkan pembedaan peran-peran sosial yang bersumber pada alat-alat biologis yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan.

1. Seks

Seks pada umumnya tidak bisa berubah, kecuali dioperasi, bersifat umum atau universal, artinya berlaku dimana-mana. Seks atau jenis kelamin biologis yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah7 :

4 Tim Penulis, Tak hanya di Rumah: Pengalaman Perempuan akan kekerasan di Pusaran Relasi kekuasaan yang timpang, dalam Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2009. 2010, 5

5 Ibid.

6 Iwan Fals, “Serenade.“ dalam Tim Penulis, Modul Pelatihan untuk Menumbuhkan dan Meningkatkan Sensitifitas Keadilan Gender, 2005, 54

7 Tim penulis, “Bahan Bacaan Untuk Modul Gender.”, dalam Modul Pendidikan Gender Untuk Perempuan Marginal, 2006, 151

M O M E N T U M Laki-laki secara biologis memiliki:

1. Penis

2. Testis (buah zakar) 3. Sperma

4. Kelenjar Prostate 5. Hormon testosterone

Dua organ yang disebut pertama biasanya disebut jenis kelamin primer pada laki-laki. Dan tiga organ berikutnya adalah jenis kelamin sekunder.

Perempuan secara biologis memiliki: 1. Rahim

2. Vagina 3. Kelenjar susu 4. Sel telur (ovum) 5. Haid

6. Hormon estrogen

Empat organ yang disebut pertama biasanya disebut jenis kelamin primer pada perempuan, sedangkan dua organ berikutnya adalah jenis kelamin sekunder.

2. Gender

Kata gender berasal dari bahasa latin, yaitu “genus”, berarti tipe atau jenis. Gender

adalah pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal fisik, sifat, peran, posisi, tanggung jawab, akses, fungsi, kontrol, yang dibentuk atau dikonstruksi secara sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: budaya, agama, sosial, politik, hukum, pendidikan, media, seni dan lain sebagainya.8 Karena gender merupakan hasil konstruksi sosial, maka gender bisa berubah sesuai dengan konteks waktu, tempat dan budaya. Tetapi sampai saat ini masyarakat menganggap gender sebagai sesuatu yang alamiah, sudah seharusnya demikian, dan merupakan ketentuan Tuhan, sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan atau digugat.9 Keyakinan semacam ini telah mendarah daging dalam masyarakat karena adanya proses sosialisasi yang sangat panjang lewat berbagai macam pranata sosial diantaranya institusi keluarga, agama, adat, dan sosial kemasyarakatan. Berdasarkan konsep gender ini, umumnya perempuan dan laki-laki telah dibedakan identitas, strata, dan perannya dalam masyarakat seperti di bawah ini10:

Perempuan Laki-laki Sifat  Lembut  Pemalu  Sabar  Emosional  Pendiam  Keibuan  Gagah  Pemberani  Kasar  Bijaksana  Bertanggung jawab  Pintar  Agresif Peran/ Fungsi

 Mengurus rumah tangga  Pencari nafkah tambahan  Melahirkan

 Menyusui  Hamil

 Pencari nafkah utama  Pelindung

 Menjadi panutan

8 Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformsi Sosial, 1996 9 Ibid.

M O M E N T U M

Posisi Ibu rumah tangga Yang dipimpin Kepala keluarga Pemimpin

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, perbedaan seks dan adalah11:

Seks Gender

Seks adalah alami Gender bersifat sosial budaya dan merupakan buatan manusia

Seks bersifat bilogis, ini mengacu pada perbedaan yang kelihatan dalam alat kelamin dan perbedaan dalam hubungan dengan fungsi prokreasi

Gender bersifat sosial budaya dan ini mengacu pada kualitas feminin dan maskulin, pola perilaku, peran, tanggung jawab dan lain-lain.

Seks bersifat tetap, ini sama di setiap tempat.

Gender merupakan variable, dapat berubah dari waktu ke waktu, dari satu budaya ke budaya yang lain, dari satu keluarga ke keluarga yang lain.

3. Dampak konsep gender

Pembagian yang ketat antara peran, posisi, tugas, dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki telah menyebabkan ketidakadilan terhadap perempuan dan laki-laki. Misalnya laki-laki yang diposisikan sebagai kepala keluarga oleh masyarakat, disatu sisi karena posisinya ini ia misalnya bisa mendapatkan akses atas pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan perempuan, tetapi disisi lain jika ia tidak bekerja atau menganggur ia akan dilecehkan oleh masyarakat. Inilah salah satu dampak konsep gender terhadap laki-laki. Sedangkan untuk perempuan, karena ia diposisikan sebagai ibu rumah tangga maka ia dibebankan tanggung jawab untuk mengurus rumah tangga dan mengasuh anak yang membutuhkan energi dan waktu yang banyak. Dampak ketidakadilan gender ini dalam masyarakat yang sangat patriakhis lebih dirasakan oleh kaum perempuan dibandingkan dengan laki-laki.12 Seperti yang terjadi pada perempuan Ahmadiyah yang mengalami perkosaan oleh penyerang jemaat Ahmadiyah, perempuan Ahmadiyah13 di perkosa karena dianggap perempuan yang lemah, dan kerena keperempuannya pula ia diperkosa atau diperlakukan tidak senonoh.

b. Faktor penyebab dan pelestari Ketidakadilan gender

Factor-faktor yang melanggengkan ketidakadilan gender dalam masyarakat antara lain adalah :

1. Akar masalah penindasan terhadap perempuan.

11 Kamla Bhasin, Understanding Gender, 2000

12 Tim penulis, “Bahan Bacaan Untuk Modul Gender., 123.

13 Tim Penulis, “Perempuan Ahmadiyah.“ dalam Laporan Pemantauan HAM Komnas Perempuan, Perempuan dan Anak Ahmadiyah: Korban Diskriminasi Berlapis, 2008, 12

M O M E N T U M Menurut analisis feminis, akar masalah ketertindasan perempuan adalah budaya

patriakhi. Budaya patriakhi adalah budaya yang menomorsatukan laki-laki di segala bidang yang mengakibatkan perempuan tersubordinasi dan mengalami penindasan. Budaya patriakhi bekerja dan terimplementasi melalui berbagai cara dalam kehidupan sehari-hari baik pada tingkat pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Budaya ini telah mempengaruhi dengan sangat kuat relasi laki- laki dan perempuan dalam masyarakat dan telah mengakibatkan terjadinya diskriminasi, ketidakadilan, dan sebagainya terhadap sebagian besar perempuan. Beberapa bukti yang dapat dilihat sebagai bukti kuatnya pengaruh budaya patriakhi dalam kehidupan sehari-hari adalah:

a. Penafsiran Agama

Kalangan feminis hampir seluruhnya sepakat bahwa agama khususnya, Islam, Yahudi dan Kristen adalah wilayah yang seksis. Artinya, agama- agama tersebut adalah agama dengan citra Tuhan yang laki-laki, yang pada ujung-ujungnya mensahkan superioritas laki-laki atas perempuan. Posisi agama yang merupakan unsur kesadaran sosial dan determinan atas pelbagai tradisi yang ada di masyarakat, membuat pandangan tentang superioritas laki-laki itu memperoleh justifikasi dari agama.14

Apa yang biasanya disebut para feminis dengan “Ketidakadilan gender”

yang dijustifikasi agama ini, menjadi pangkal penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki. Citra Tuhan yang laki-laki, diakui atau tidak, adalah yang paling jelas sekaligus paling tak kentara pengaruhnya dalam pemahaman keagamaan.15 Adanya teks-teks suci keagamaan yang secara harfiah memposisikan laki-laki sebagai pihak superior yang kemudian ditafsirkan secara literalistik-skripturalistik oleh para muffasir klasik semakin memperkukuh pandangan tentang seperioritas laki-laki atas perempuan. Banyak penafsiran agama yang sangat merugikan perempuan dan melanggengkan pembagian peran, fungsi, posisi perempuan dan laki- laki dalam keluarga dan masyarakat.16 Dampak penafsiran yang semacam itu menyebabkan adanya pembatasan-pembatasan bagi perempuan, seperti

14 Nurul Agustina, ”Tradisionalisme Islam dan Feminisme” dalam Jurnal Ulumul Qur‟an, No. 5 dan 6, Vol V. 1994, 53.

15 Carol P Christ dan Judith Plascow, ed., Woman Spirit Rising: A Feminist Reader in Religion (San Fransisco: Harper & Row Publishing, 1979), 4

16 Dalam Kitab Talmud disebutkan bahwa akibat pelanggaran Eva (Hawa) di surga maka kaum perempuan secara keseluruhan akan menanggung sepuluh beban penderitaan, yaitu: (1) Perempuan akan mengalami siklus menstruasi, yang sebelumnya tidak pernah dialami Eva (2) Perempuan yang pertama kali melakukan persetubuhan akan mengalami sakit (3) Perempuan akan mengalami penderitaan dan mengasuh dan memelihara anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan perawatan, pakaian, kebersihan, dan pengasuhan sampai dewasa. Ibu merasa risih manakala pertumbuhan anak-anaknya tidak seperti yang diharapkan (4) Perempuan akan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri (5) Perempuan akan merasa tidak leluasa bergerak ketika kandungannya berumur tua (6) Perempuan akan merasa sakit pada waktu melahirkan (7) Perempuan tidak boleh mengawini lebih dari satu laki- laki (8) Perempuan masih akan merasakan keinginan hubungan seks lebih lama sementara suaminya sudah tidak kuat lagi (9) Perempuan sangat berhasrat melakukan keinginan berhubungan seks terhadap suaminya, tetapi amat berat menyampaikan hasrat itu kepadanya (10) Perempuan lebih suka tinggal dirumah.

M O M E N T U M misalnya pembatasan dalam cara berpakaian, menjadi pemimpim,17dan

mengakses dunia publik.18 Selain itu juga dapat mendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan (misalnya suami memukul istri dengan alasan mendidik, laki-laki boleh poligami, 19 perempuan haram hukumnya menolak ajakan suami untuk bersetubuh.20 Perempuan dikucilkan dalam komunitas gereja jika hamil sebelum menikah tanpa prosedur pengadilan, perempuan harus menjaga kesucian, dan masih banyak yang lainnya). Itulah sebabnya, dalam pandangan mereka, melalui pencitraan ini pada laki-laki ada tugas sebagai nabi, ulama, imam, guru sufi dan semacamnya. Laki-laki juga berperan dalam jihad, azan, imam sholat, khutbah, persaksian, wali pernikahan, sampai perceraian dan rujuk. Sementara perempuan tidak. Sehingga secara teologis superioritas laki-laki atas perempuan semakin kokoh.21 Pandangan yang mengakui ketidaksetaraan gender inilah yang kemudian melahirkan perbedaan peran gender secara fungsional dalam kehidupan sosial, dan melalui proses yang sangat panjang pada akhirnya memunculkan berbagai pemasungan terhadap perempuan dalam kehidupan. Ruang publik akhirnya dianggap sebagai milik laki-laki, sedangkan kaum perempuan ditempatkan dalam ruang domestik.22

b. Adat-adat lokal

Adat-adat lokal yang memberikan kekuasaan kepada laki-laki untuk memiliki perempuan. Sehingga ketika masih muda perempuan dianggap milik bapaknya, setelah menikah milik suaminya, ketika tua milik anak laki- lakinya. Bagi masyarakat jawa perkawinan merupakan salah satu fase yang penting dalam menjalani proses kehidupan. Bagi anak perempuan, perkawinan pertama akan segera dipersiapkan saat setelah haid pertamanya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa seorang perempuan yang tidak segera menikah maka dirinya berarti seorang perempuan “nakal”, oleh karena itulah beberapa catatan Hildred Geertz mengungkapkan bahwa dalam keluarga tradisional masalah tersebut dipecahkan dengan mengawinkan anak perempuan justru sebelum akil balig, yakni ketika masih berumur 9 atau 10 tahun.23 Karena laki-laki bertugas sebagai pemimpin, pelindung, pengayom, maka kewajiban perempuan dilekatkan dengan tiga nilai kebaikan, yakni merak ati, gemati,

17 Ayat al-rijal qawwamu „ala al-nisa‟ (QS. Al-Nisa‟: 34) misalnya, dipahami oleh para mufassir klasik sebagai penegasan atas keunggulan kaum laki-laki atas kaum perempuan. Kata “qawwamun” dalam ayat diatas biasanya di artikan sebagai “penanggung jawab, pemimpin, penguasa, penjaga atau pelindung perempuan.

18 Ayat “dan hendaklah kamu tetap berdiam di rumah kamu” (QS. Al-Ahzab: 33)

19 Ayat “Nikahilah perempuan yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An-Nisa‟: 3)

20 Hadist “Dari Abu Hurairah ra., dia berkata: Rasululullah SAW bersabda: “apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat peraduan, kemudian istrinya menolak, maka malam itu ia berada dalam kemurkaan Allah, bahkan para malaikat melaknatnya sampai datangnya pagi.”. (HR. Bukhari dan Muslim)

21 Abdul Mustaqim, Paradigma Tafsir Feminis Membaca Al-Qur‟an dengan Optik Perempuan: Studi Pemikiran Riffat Hasan tentang Isu Gender dan Islam, 2008, 114-115

22 Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformsi sosial, 21-23 23 Hildred Geertz, Keluarga Jawa, 1963, 59

M O M E N T U M lan luluh, bertutur sapa dengan santun, pandai mengatur pakaian yang

pantas, murah senyum, luwes gerak geriknya dan lumampah anut wirama, bertindak sesuai dengan irama.24 Dalam tradisi jawa, perempuan memang layak untuk menempati posisi dipilih seperti pemikiran R. Ng. Ranggawarsito dalam Serat Cemporet :

“karantenpun pawestri, muhung minangka embanan wadhahing satya kaot denten ugering sesatnya, azas wonten ing pria, wanodya bebasanipun swarga manut kewala”. 25

(R.Ng. Ranggawarsito: 1980) Sejalan dengan serat tersebut, ada beberapa watak perempuan yang menjadi pertimbangan laki-laki yaitu: bobot,26 bibit, 27 dan bebet.28 Superioritas laki-laki terhadap perempuan dalam masyarakat jawa sangatlah kuat sehingga perempuan jawa kerap mengalami sub-ordinasi (konco wingking), diskriminasi, kekerasan, marginalisasi dan labeling dalam masyarakatnya.

c. Sistem pendidikan

Sistem pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam melanggengkan ketidakadilan gender ini lewat kurikulumnya yang bias gender misalnya melalui buku-buku pelajaran yang bias gender sebagaimana tergambar dalam kalimat “Bapak pergi ke Kantor, ibu memasak didapur” telah memperkuat konstruksi bahwa perempuan berada di ranah domestik dan laki-laki diranah publik. Harus disadari sejak awal bahwa kurikulum yang ada tidak berpihak kepada perempuan. Dengan demikian, menghasilkan produksi pengetahuan dan cara pengajaran serta bahasa yang berpihak kepada laki-laki.29 Konsep kurikulum, pertama: pendidikan anak perempuan disiapkan menjadi seorang “lady” bagaimana bersikap baik, beretika. Kedua: anak perempuan disiapkan untuk menjadi seorang perempuan yang baik, dan bagaimana menjadi perempuan yang patuh serta beragama yang kuat. Perkembangan berikutnya kurikulum untuk anak perempuan disiapkan untuk menjadi istri yang baik dengan segala pengajaran keterampilan domestik serta pengetahuan tentang kesehatan umum. Selanjutnya pada abad ke 20 kurikulum untuk anak perempuan berubah lagi menjadi terfokus pada pendidikan praktis, seperti mengetik,

24 Suwardi Endraswara, Rasa Sejati: Misteri Seks Dunia kejawen, 2006, 68-70 25 Ibid., 64-65

26 Bobot artinya perempuan perlu diketahui dengan jelas asal-usul keturunannya yang terbagi tujuh macam yakni: (1)Keturunan darah biru atau bangsawan jawa yang masih memiliki derajat dalam hidupnya (2) Keturunan para ahli agama (3) Keturunan petapa atau pendeta (4) Keturunan para ilmuwan (5) Keturunan para tukang yang memilik keterampilan dalam bidang seni (6) Keturunan prajurit atau tentara (7) Keturunan para petani yang memiliki etos kerja tinggi dalam mengelola sawah.

27 Bibit maksudnya Kualitas hayati yang dipertahankan adalah masalah keturunan. 28 Bebet artinya perempuan harus memiliki budi pekerti yang baik.

M O M E N T U M pendidikan resepsionis, sekretaris dan sebagainya.30 Dampak dari konsep

pendidikan yang dikembangkan oleh sistem pendidikan tersebut, membuat semakin menguatnya ketidakadilan gender terhadap perempuan.

d. Sistem Hukum

Sistem hukum yang bias gender memperkuat pembagian peran gender dalam merugikan perempuan. Misalnya UU perkawinan Nomor 1 tahun 1974 menyebutkan bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga telah menyebabkan pemerintahan menetapkan pekerja perempuan tidak mendapatkan tunjangan keluarga karena bukan kepala keluarga. Akibatnya upah yang dibawa pulang oleh perempuan lebih kecil dibandingkan dengan upah laki-laki dengan pekerjaan yang sama karena mereka mendapatkan tunjangan keluarga. Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mengungkapkan, ternyata ada 189 kebijakan pemerintah baik di tingkat pusat hingga tingkat daerah, yang diskriminatif terhadap perempuan. Kebijakan atau peraturan daerah tersebut merampas kebebasan berekspresi, hak rasa aman karena mengkriminalisasi perempuan.31

e. Sistem Politik

Sistem politik formal yang ada saat ini belum kondusif bagi perempuan untuk berpartisipasi di dalamnya. Walaupun tidak ada larangan perempuan berpolitik, tetapi dalam prakteknya kesempatan perempuan untuk menduduki posisi-posisi politik masih sangat dibatasi. Sulit dibayangkan perempuan akan sukses dalam sistem politik kekinian kecuali bila ia memang sudah mapan secara ekonomi dan dapat menunjukkan sikap Money Talk. Siapa yang pada akhirnya dapat masuk dalam pemilihan kepala daerah dalam politik perempuan? Paling tidak dapat diidentifikasi tiga hal :

a. Mereka yang memiliki akses ekonomi yang luas atau dari kalangan ekonomi mapan.

b. Mereka yang mempunyai etnis atau ras dan golongan agama tertentu yang diminati.

c. Mereka yang mempunyai hubungan kekeluargaan yang kuat (KKN) dengan penentu kebijkan.32

f. Sistem ekonomi

Sistem ekonomi yang tidak adil telah menempatkan perempuan sebagai objek dan menjadi korban di dalamnya. Misalnya sistem ekonomi kapitalis yang mengutamakan pengumpulan modal secara otomatis akan meminggirkan kelompok-kelompok miskin terutama perempuan yang tidak mampu bersaing di pasar bebas. Akibatnya perempuan akan semakin miskin dan tertinggal. Mereka hanya dijadikan alat dan komoditi yang dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

30 Ibid., 424

31 Andy Yentriayani, Ternyata Ada 189 Kebijakan Diskriminasikan Perempuan, Pubdate: 26/11/10 08:56 32 Gadis Arivia, Feminisme: Sebuah Kata Hati, 291

M O M E N T U M 2. Institusi-institusi yang melanggengkan ketidakadilan gender.

Beberapa institusi yang melanggengkan ketidakadilan gender di antaranya adalah:

a. Keluarga

Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang mensosialisasikan nilai-nilai yang mengutamakan kaum laki-laki yang terlihat dari perlakuan yang berbeda yang diberikan keluarga terhadap anak laki-laki dan perempuan. Misalnya anak laki-laki boleh bermain dengan bebas sementara anak perempuan harus membantu ibunya di rumah.

b. Media Massa

Sosialisasi dan penyebaran informasi media massa merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk menyebarkan dan mensosialisasikan konsep gender yang merugikan salah satu jenis kelamin dalam hal ini perempuan. Misalnya melalui film, iklan, dan sinetron disosialisasikan bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi karena perempuannya sendiri yang mengundang seperti memakai pakaian yang seronok, dan lain-lain.

c. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender

Masalah ketidakadilan gender ini dalam masyarakat dimana nilai-nilai patriakhi masih sangat kuat, akan lebih banyak dialami oleh kaum perempuan dibandingkan laki-laki. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang biasanya dialami oleh perempuan adalah33 :

1. Marginalisasi

Marginalisasi adalah proses pemiskinan perempuan yang mengakibatkan kemiskinan perempuan secara sosial maupun ekonomi. Misalnya, penggunaan mesin-mesin dalam sektor pertanian telah mengakibatkan perempuan di pedesaan telah kehilangan pekerjaan mereka.

2. Diskriminasi

Pembedaan perlakuan terhadap seseorang atau sekelompok orang dikarenakan jenis kelamin, ras, agama, status sosial, atau suku. Misalnya, salah satu bentuk diskriminasi berbasis gender adalah memberikan keistimewaan kepada anak laki-laki untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Atau pembedaan upah buruh perempuan dan buruh laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama.

3. Kekerasan

Kekerasan terhadap perempuan adalah serangan terhadap fisik, psikis dan

Dalam dokumen Jurnal Sosial dan Keagamaan walisongo (Halaman 30-45)