Oleh
Ashabul Fadhli⃰
Abstrak
Hingga saat ini tradisi dan budaya masyarakat Arab masih berakar pada budaya patriarkhi. Regulasi tentang pelarangan wanita sebagai saksi pada kasus tertentu mengundang para pemikir untuk mengkaji kembali hukum Islam dalam kaitannya dengan hak-hak dasar wanita yang dijamin dalam HAM. Tujuannya untuk meninjau kembali apakah pelarangan itu muncul dari doktrin agama atau dari budaya patriarkhi. Studi mengenai hal ini sangat penting karena pelarangan kepada wanita untuk menjadi saksi berarti tindakan kejahatan pada hak asasi wanita.
Kata kunci: hak asasi, wanita, saksi
Pendahuluan
Pembagian peran yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan seyogyanya tidak sejalan dengan pemahaman Al Qur‟an. Dalam surat QS. Al Hujarat (49):13 Allah SWT menegaskan bahwa setiap manusia mempunyai status yang sama di sisi-Nya tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit dan perbedaan-perbedaan yang bersifat given lainnya.
Secara tekstual Al Qur‟an menyebutkan bahwa nilai kesaksian perempuan tidak lebih dari setengah kesaksian laki-laki. Hal itu disebabkan perempuan diindikasikan mempunyai kelemahan dalam faktor ingatan. Karena itu kesaksian perempuan harus dikuatkan oleh kesaksian seorang perempuan yang lain untuk menguatkannya, karena boleh jadi ia lupa, lalu memberikan kesaksian lebih dari yang sebenarnya atau kurang darinya.1
Keadaan yang menempatkan lemahnya posisi perempuan sebagai saksi menghadirkan resistensi. Beberapa sarjana muslim beranggapan, ayat yang menjadi landasan atas kesaksian perempuan merupakan permasalahan terkait dengan dimensi normatif-universal dan praktis- temporal. Tafsir ayat tersebut perlu dikritisi dan diinterpretasi lagi, karena nash tersebut terkesan tidak adil dan mensubordinasi perempuan. Akibatnya, terdapat dua pemahaman yang terkonstruk di masyarakat tentang kesaksian perempuan dewasa ini. Pertama, Perempuan sama sekali tidak berhak memberikan saksi dalam hal perkawinan, perceraian, dan jinayah. Kedua Meskipun dibolehkan, namun kesaksian tersebut hanya dihargai separuh dari kesaksian laki- laki.
Secara sederhana penulis mengidentifikasi pandangan-pandangan terhadap teks yang tidak melegalkan kesaksian perempuan, sekaligus mencoba membandingkannya dengan kaca mata lain yang mendukung dilegalkannya kesaksian perempuan yang ditinjau dari sisi
⃰
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
1 “…Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya…”. Lihat, QS. Al Baqarah (2):282
M O M E N T U M historisnya. Pelarangan kesaksian seorang wanita perlu dikaji kembali karena -selain karena
bias gender- implikasi pandangan ini berpengaruh besar bagi kehidupan wanita di dalam proses interaksi sosial. Poin inilah yang akan penulis telaah dengan cara meninjau kembali peran Islam dalam melindungi hak-hak perempuan sebagai pelaku sejarah.
Interpretasi Bias Gender
An Na‟im menjelaskan bahwa ayat-ayat Al Qur‟an, terutama yang turun di periode madinah (pasca hijrah ke Madinah), menggambarkan bahwa laki-laki memiliki status sosial yang lebih tinggi dibanding perempuan.2 Laki-laki adalah superior dan wanita adalah inferior. Inferioritas perempuan menimbulkan kegamangan kaum feminis, apalagi inferioritas itu berakar dari ayat-ayat yang turun di periode Madinah seperti surat An Nisa‟ ayat 34 berisi tentang
“Laki-laki sebagai pemimpin dan pelindung perempuan”.3
ىلع اىم ىق لاجزلا
ءاسنلا
“Laki-laki memiliki kelebihan satu tingkat dari istrinya”.4
ةجرد نهيلع ل اجزللو “Laki-laki memperoleh warisan lebih banyak”.5
نييثنلاا ظح لثم زكذلل “Laki-laki menjadi saksi yang efektif di banding perempuan”.6
لضت نأ ءادهشلا نم نوضرت نمم ناتأرماو لجرف نيلجر انوكي مل نإف مكلاجر نم نيديهش اودهشتساو ىرخلأا امهادحإ ركذتف امهادحإ
Persoalan normatif-akademik yang melanda pemikiran Thaha, mengantarkan muridnya, An Na‟im, untuk mengembangkan sebuah teori tentang Makkah dan Madinah, yang sejatinya telah lebih dahulu dikupas secara mendalam oleh Thaha. Menurut An Na‟im, Mahmoud Thaha membedah suatu pengujian secara terbuka terhadap isi Al Qur‟an dan sunnah yang melahirkan tingkat risalah Islam, yaitu periode Makkah dan Madinah. Bagi Thaha, pesan Makkah merupakan pesan yang abadi, monumental, yang menjunjung martabat kemanusiaan, tanpa membedakan jenis kelamin (gender), keyakinan keagamaan, ras, dan lain-lain. Pesan ini ditandai dengan persamaan laki-laki dan perempuan dan kebebasan penuh untuk memilih dalam beragama dan berkeyakinan. Perilaku demikian oleh An Na‟im disebut dengan istilah
‘ishmah, yaitu prilaku ketika orang bisa memilih tanpa ancaman kekerasan.7
An Na‟im memberikan tawarannya terhadap nash-nash yang dianggap misoginis terhadap perempuan, salah satunya tentang kesaksian perempuan. An Na‟im menawarkan untuk menghapus nash (naskh) teks periode Madinah dan beralih menggunakan teks periode
2 Abdullahi Ahmed An Na‟im, Dekontruksi syariah: Menuju Metode Pembaharuan yang Memadai (Yogyakarta: LKIS, 1994), 101-117.
3 QS. al-Nisa‟ (4): 34 4 QS. al Baqarah (2) : 228 5 QS. al-Nisa‟ (4) :11 6 QS. al Baqarah (2) : 228
M O M E N T U M Makkah yang menurutnya lebih cocok dengan isu-isu kontemporer, seperti HAM dan
demokratisasi serta tindakan bias gender. An Na‟im menamakan pemikirannya itu dengan “Evolusi Syari’ah”. Atas dasar itu, An Na‟im bersama-sama dengan Mahmoud Thaha memperjuangkan konsep persamaan dan kesetaraan (equal) dengan dibolehkannya perempuan menjadi saksi dengan pertimbangan tertentu. Menurut An Na‟im, dengan masih mengikuti tesis gurunya, prinsip interpretasi yang evolusioner tidak lain adalah dengan membalikkan proses nasakh atas ayat-ayat Madaniyyah dengan ayat-ayat Makiyyah sehingga teks-teks masa lalu dapat digunakan untuk masa sekarang.8
Terlepas dari itu semua, bias gender dalam Al Qur‟an lebih disebabkan oleh struktur bahasa arab sendiri. Apalagi budaya patriarkhi yang begitu mengakar dan mendominasi cara pikir masyarakat saat itu. Seakan-akan Tuhan merestui deskriminasi gender dan perlakuan dalam pempedaan peran dan sikap terhadap manusia, misalnya qul huwallahu ahad. Kata huwa adalah kata ganti maskulin, tidak pernah menggunakan kata ganti feminin (hiya). Demikianlah struktur bahasa arab, yang digunakan sebagai bahasa Al Qur‟an.
Pemahaman terhadap teks yang dianggap bias gender, perlu disikapi dengan melakukan metode analisis teks secara komperhensif, baik itu yang bersumber dari Al Qur‟an maupun dari naskah-naskah lain. Beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti darimana teks itu diperoleh, bagaimana autentitas dan orisinalitas teks itu, teks aslinya dari bahasa apa, siapa yang menerjemahkannya, bagaimana dengan terjemahannya, atas sponsor siapa teks dan penerjemahan itu, dan lain sebagainya, harus mempunyai sumber dan penjelasan yang aktual.
Ada beberapa teori yang dapat digunakan dalam menganalisa sebuah teks, antara lain teori semantik,9 teori semiotik,10 dan teori hermeneutik.11 Disamping itu setiap teks tidak akan lepas dari tiga unsur pokok, yaitu (1) sang pencipta bahasa (wadi), (2) sang pengguna atau peminjam bahasa (musta’mil), (3) sang pemaham teks (hamil).
Diagram di samping menjelaskan bahwa, mujtahid/penulis teks (author) mempunyai peran sebagai jalur utama dalam menafsirkan sebuah teks yang kemudian akan diterima, dibaca dan dikonsumsi masyarakat luas (pembaca teks/reader). Artinya, apa yang didapatkan masyarakat harus sejalan dengan jalur utama karena berkaitan erat dengan keontentikan pemahaman terhadap isi teks. Setelah memahami
8 Syafiq Hasyim, Hal Yang Tak Terpikirkan Tentang Isu-Isu Perempuan Dalam Islam (Jakarta: Mizan, 2001), 254.
9 Semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan arti, seluk beluk, dan pergeseran makna pada kata. Dalam prakteknya, semantik mirip dengan analisa mufradat dalam kajian ilmu tafsir.
10 Semiotik adalah ilmu yang mempelajari lambang atau tanda dalam kaitannya dengan proses interaksi sosial. Ilmu ini berfungsi untuk menganalisa kaitannya antara tanda dengan realitas, dan sejauhmana tanda itu menghadirkan realitas.
11 Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani yang berarti “penafsir” atau “penerjemah”. Ilmu ini digunakan untuk menafsirkan teks-teks masa silam dan menerangkan perbuatan seseorang sebagai pelaku sejarah. Agar nuansa sebuah teks masa silam itu dapat dimengerti dan dapat dijelaskan secara paripurna, paling tidak dalam prakteknya harus dilakukan dua langkah strategis, yaitu: Pertama, teks masa silam (yang akan ditafsirkan) harus dilihat sebagai satu kesatuan yang koheren. Kedua, teks harus ditafsirkan setelah kajian historis mengenai perbuatan-perbuatan pelaku/actor diungkap dengan jelas berdasarkan data-data historis.
M O M E N T U M kerangka berfikir di atas, seyogyanya para author tidak akan terjebak lagi dengan ayat-ayat
yang sifatnya ‘am dan ayat-ayat yang sifatnya khas. Karena setiap ditemukannya perbedaan dalam memahami teks, author dapat melakukan reinterpretasi secara kontekstual yang dapat meminimalisir penafsiran bercorak deskriminatif.
Selanjutnya, dalam penelusuran sejarah tentang peradaban masyarakat arab, digambarkan bahwa budaya arab dipengaruhi oleh peradaban Mesopotamia. Peradaban tersebut menjadi peradaban pertama saat itu yang turut membentuk karakter budaya dan masyarakat bangsa Arab yang berpegang teguh dengan patriarkhi.
Bangsa Arab tentu tidak dapat dipisahkan dengan sejarah klasik Mesoptamia, yang letaknya bersebelahan dengan Jazirah Arab. Mesoptamia dianggap sebagai titik tolak sejarah peradaban dan kebudayaan manusia. Segala bentuk tradisi dan kebudayaan masyarakat Mesoptamia saat itu, memberikan pengaruh besar kepada seluruh masyarakat diseluruh belahan bumi hingga sekarang.
Kejayaan Mesoptamia berlansung dari tahun 3500-2400 SM. Ketika itu pola masyarakatnya masih berburu untuk laki-laki dan meramu untuk perempuan. Ciri masyarakat saat itupun masih Egaliter. Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan belum diporeh data yang cukup memadai, namun dapat diperkirakan kaum perempuan tidak sedominan laki- laki. Misalnya, Nabi Ibrahim yang dianggap kalangan ilmuwan sebagai bapak “patriarkhi” yang memerankan praktek poligami, dan dari padanya lahir dua orang nabi yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.
Sekitar tahun 1800 muncul seorang tokoh berwibawa bernama Hammurabi, yang diperkirakan wafat tahun 1750 SM, membangun kerajaan dan mengembangkan masyarakat multi-kota dan berbagai perkembangan lain. Untuk menciptakan suasana yang tertib dan aman, Hammurabi membuat peraturan-peraturan hukum yang kemudian disebut Hukum Hammurabi (hammurabi code). Hukum Hammurabi ini pernah dikenal sebagai hukum Mesoptamia dan menjadi salah satu naskah hukum pertama yang lebih lengkap dalam sejarah umat manusia.
Menarik untuk diperhatikan, bahwa Hukum Hammurabi banyak memberikan pengaruh terhadap nilai-nilai kemasyarakatan di wilayah Timur Tengah, yang kemudian direkam dalam kitab klasik, termasuk diantaranya adalah Kitab Talmud. Menariknya lagi, dalam struktur ini perempuan selalu menjadi yang kedua (the second sex) di setiap level masyarakat tersebut. Pemberian hak-hak istimewa kepada laki-laki (previlledge) dan pembatasan terhadap hak-hak perempuan (subordinasi) telah ditemukan dalam Hukum Hammurabi, seperti ayah atau suami dalam suatu keluarga memegang peranan utama dan kewenangan yang tak terbatas. Tidak sah suatu perkawinan tanpa restu dan izin dari ayah, seperti ditegaskan dalam Hukum Hammurabi pasal 128:
“Jika seorang laki-laki melaksanakan perkawinan, tetapi tidak membuat kontraktertulis kepada pihak calon istrinya (dalam hal ini diwakili ayahnya), maka perempuanj itu tidak sah sebagai istrinya”.
Dalam kehidupan keluarga, hak-hak laki-laki lebih diutamakan daripada perempuan, misalnya:
“Bilamana seorang perempuan gagal menjadi istri yang baik, sering keluyuran, melalaikan tugas-tugasnya di rumah, dan melecehkan suaminya, maka perempuan tersebut harus dilemparkan ke dalam air”.
M O M E N T U M Dari pasal-pasal di atas menggambarkan bahwa kawasan Timur Tengah jauh sebelum
datangnya Islam sudah terjadi ketimpangan gender yang menonjol.
Pengaruh riwayat “israilliyat”12 juga mempengaruhi terhadap penafsiran teks-teks dalam pelbagai kitab tafsir dan hadist. Boleh jadi cerita itu bersumber dari pengikut agama Yahudi atau Nasrani yang saat itu sudah masuk Islam, atau secara penyusupan secara sistematis untuk mengacaukan ajaran Islam. Akhirnya, timbul kesemrautan dalam mencari orisinalitas tafsir yang murni berasal dari ajaran Islam sendiri, karena ketiga agama tersebut sama-sama agama samawi, Islam mempunyai beberapa tema ajaran yang mirip, terutama menyangkut masalah prananata sosial.
Banyak contoh kisah israilliyat yang bias ditemukan dalam penafsiran Al Qur‟an, salah satunya tentang asal-usul perempuan. Hikayat yang banyak beredar cenderung menceritakan unsur negatif terhadap perempuan. Perempuan terkesan sebagai ciptaan kedua (second sex) dan subordinasi karena ia tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Perempuan ditimpakan kesalahan dalam drama kosmis yang menyebabkan manusia jatuh ke bumi, oleh karena itu perempuan lebih banyak menanggung resiko dalam konsep dosa warisan tersebut. Ayat-ayat ini dijelaskan secara panjang lebar dalam ajaran Talmud.
Idealnya, hasil penafsiran yang akan dibukukan/dikodifikasi sebagai fiqih, harus sejalan kontektualisasinya dengan ruang dan waktu saat ini. Sebagai penafsir atau pemikir moderat, tentunya mereka dalam menafsirkan juga tidak lepas dari kondisi sosial budaya tempat mereka hidup. Apalagi hasil kitab-kitab fiqih yang telah terkodifikasikan, pada umumnya, adalah kumpulan-kumpulan atau catatan-catatan seorang murid kepada gurunya yang didominasi oleh pemikir laki-laki, yang sudah barang tentu akan melahirkan fikih yang bercorak patriarkhis.
Baru setelah Islam berkembang luas dan melampaui kurun waktu, maka dengan sendirinya ajaran-ajaran dalam kitab-kitab tadi dipersoalkan, terutama kaum perempuan yang hidup di luar ruang lingkup masyarakat sebelumnya. Keberatan mereka sangat beralasan, tradisi dan budaya yang berkembang saat ini tidak bisa disamaratakan dengan sosio-kultur sebelumnya, dimana perempuan saat itu belum banyak mengalami perubahan dan kemajuan. Para feminis Muslim, seperti Fatima Mernissi dan Riffat Hasan, secara terang-terangan menggugat kitab-kitab fikih klasik yang bernada misoginis (merendahkan wanita). Bahkan Fatima juga menggugat sejumlah hadist, termasuk diantaranya hadis riwayat Bukhari,13 dan menilainya sebagai hadist-hadist misoginis.
Patriarkhi Masyarakat Arab
Menurut catatan sejarah, peradaban masyarakat Arab di kawasan Timur Tengah dahulunya menganut sistem “Patriarkhi”14
(al-mujtama’ al-abawi). Otoritas bapak/suami
menempati posisi yang dominan dan peran pentingnya dalam keluarga. Bapak atau suami bertanggung jawab atas kebutuhan, keselamatan, dan keberlangsungan keluarga. Ibu atau istri hanya ikut dan terlibat sebagai anggota keluarga dalam suatu rumah tangga. Untuk itu, bapak
12 Israilliyat adalah cerita-cerita yang bersumber dari ajaran agama samawi sebelum Islam datang, agama Yahudi dan Nashrani.
13 Fatimah Mernissi, Women and Islam (Oxford: Basil Blackwell, 1991), 49-61.
14 Patriarkhi diartikan sebagai sistem masyarakat yang menelususri garis keturunan melalui pihak bapak (suami). Sebaliknya matriarki, kelompok masyarakat yang menelusuri garis keturunan dari pihak ibu (istri).
M O M E N T U M dan laki-laki pada umumnya mendapatkan hak istimewa sebagai konsekuensi dari tanggung
jawab mereka yang sedemikian besar dibanding pihak istri atau perempuan pada umumnya. Bahkan nama bagi anak-anaknya diambil dari nama bapaknya (patrilineal). Dalam masyarakat ini, jenis kelamin laki-laki memperoleh keuntungan secara budaya, sedangkan perempuan mengalami beberapa pembatasan dan tekanan.
Dalam karyanya yang terkenal, Neopatriarchy, A Theory of Distorted Change in Arab Society, Hisham Sharabi membedakan model patriarkhi masyarakat arab dan masyarakat non arab. Ia menggambarkan secara sistematis perkembangan model patriarkhi masyarakat arab yang dibaginya menjadi enam tahapan, yaitu: (1) Pra Islam, (2) Era Nabi Muhammad SAW (3) Era Dinasti Umayyah dan Abasyiyah (4) Era kekuasaan para sultan dan kerajaan-kerajaan kecil (5) Era kekuasaan Utsmani (6) Era Neopatriarkhi.15
Model patriarkhi pra Islam, dianggap sebagai suatu tradisi arab kuno yang banyak berpengaruh terhadap sejarah patriarkhi sesudahnya. Menurut Sharabi, kehadiran Islam mengakibatkan terjadinya perombakan secara radikal terhadap sistem patriarkhi yang tadinya berorientasi sempit menjadi luas. Sekalipun dalam prakteknya, menurut feminis muslim masih terkadang melenceng dari ideologi ummah16menjadi praktek kabilah besar. Hal ini disebabkan karena masih terlihatnya praktek penindasan terhadap kaum perempuan.17
Bentuk-bentuk penyimpangan konsep ummah menurut Fatimah Mernissi antara lain munculnya kekerasan laki-laki terhadap perempuan sejak masa awal Islam, yakni setelah Rasulullah meninggal. Dalam suatu riwayat dijelaskan Umar pernah memukul istrinya hingga terduduk di tanah, dan juga mengutip sejumlah mufassir klasik seperti at-Thabari yang membenarkan pemukulan terhadap istri berdasarkan Al Qur‟an dan sunnah Surah An Nisa‟: 34. Mernisi menyayangkan pendapat at-Thabari karena Rasulullah sendiri tidak pernah berlaku kasar terhadap istri-istrinya, dan bahkan ia sendiri menentang semua tindak kekerasan terhadap perempuan.18
Beberapa ayat Al Qur‟an bahkan menyebutkan adanya tradisi pembunuhan bayi-bayi perempuan hidup-hidup. (QS. An Nahl (16): 58-59, QS. At Takwir (81): 8-9). Alasannya adalah karena kelahiran anak perempuan akan menambah beban ekonomi dan bisa mencoreng muka atau memalukan keluarga. Keadaan ini biasanya berlaku pada keluarga miskin dan marginal. Realitas posisi subordinat perempuan juga diinformasikan dalam surat An Nisa‟: 34. Ayat ini menjelaskan bahwa kepemimpinan atau kekuasaan domestik, apalagi publik, berada di tangan laki-laki. Al-Qur‟an menyatakan bahwa hal itu karena laki-laki memiliki kelebihan setingkat lebih tinggi dibanding perempuan dan karena fungsi ekonomi ada di tangan laki-laki. Yang menarik adalah bahwa teks tersebut tidak menjelaskan secara eksplisit tentang kelebihan laki-laki atas perempuan.
15 Lebih lanjut baca Hisham Sharabi, Neopatriarchy, A Theory of Distorted Change in Arab Society (New York: Oxford, 1988).
16 Kata Ummah berasal dari bahasa arab yang artinya menuju, berniat, bermaksud dan bertujuan. Kata ummah juga mengandung arti gerakan, ketetapan, kesadaran serta jalan yang jelas. Namun, dalam konteks ini ummah lebih dimaksudkan sebagai sekelompok masyarakat yang terdiri dari sejumlah invindu yang mempunyai dasar kepercayaan dan tujuan yang sama, bahu membahu dalam suasana kedamaian, bergerak untuk mencapai tujuan yang sama.
17 Hisham Sharabi, Neopatriarchy, 29-32. 18 Fatimah Mernissi, Women and Islam, 155-157.
M O M E N T U M Nabi Muhammad sejak awal terlihat lebih mengutamakan pertimbangan rasional dan
professional daripada pertimbangan emosional dan tradisional dalam menjalankan tradisinya. Nabi juga sering mempercayakan sesuatu kepada perempuan yang menurut adat dan tradisi arab tidak lazim, seperti mempercayakan Rabi‟ bint Mu‟awwizh dan Umm „Athiyyah19
sebagai perawat korban yang luka di medan peperangan disamping bertugas sebagai juru masak. Bahkan Nabi juga pernah memerintahkan Umm Waraqah menjadi imam shalat di lingkungan keluarganya.
Beberapa penjelasan tentang kondisi perempuan di atas, meskipun tidak merupakan kondisi yang menyeluruh, setidaknya dapat menggambarkan sebuah wajah patriarkhis dalam konstruksi sosial-budaya masyarakat Arab pra Islam. Di atas landasan konstruksi sosial inilah Al-Qur‟an hadir untuk membangun konstruksi sosial-budaya baru ke arah yang lebih beradab dan berkeadilan. Dan seperti sudah dikemukakan, konstruksi sosial baru yang ingin diwujudkan Al-Qur‟an ditempuh melalui cara-cara yang tidak revolusioner, tidak radikal, tidak instan dan anti kekerasan. Meskipun demikian pembaca teks-teks Al-Qur‟an yang kritis dan cerdas akan menjumpai bahwa transformasi yang dilancarkan Al-Qur‟an sesungguhnya dapat dipandang progresif dan terlalu modern untuk zamannya.
Perlindungan terhadap hak-hak manusia
Sejatinya, manusia adalah makhluk bebas yang mempunyai tugas dan tanggung jawab. Manusia mempunyai hak dan kewajiban yang keduanya berafiliasi pada kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah keadilan yang ditegakkan atas dasar persamaan (egaliter) yang obyektif. Artinya, tugas yang diemban tidak akan terwujud tanpa adanya kebebasan, sementara kebebasan secara eksistensial tidak terwujud tanpa adanya tanggung jawab itu sendiri.20 Ide tentang kebebasan tersebut kemudian dikenal dengan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Ide ini menekankan pada hubungan vertikal, terutama dipengaruhi oleh sejarah pelanggaran kode etik kemanusiaan, baik kejahatan terhadap hak sipil (baca: perempuan) dalam konteks sosial dan budaya.
Al Qur‟an menyebutnya dengan peran dan keutamaan makhluk sosial. Manusia akan ditempatkan sebagai makhluk yang memilki kemuliaan dan keutamaan, memiliki harkat dan martabat yang tinggi, sebagaimana dinyatakan dalam surat QS. Al-Isra (17):70 sebagai berikut:
لًايي نِ دْ وَ اوَندْ وَلوَ دْنرَّ نِم رٍزينِثوَك ىوَلوَع دْ هُااوَندْلرَّ وَ وَو نِااوَ نِرِّيرَّللا وَننِم دْ هُااوَندْقوَسوَر وَو نِزدْ وَ دْلا وَو نِرِّزوَ دْلا نِ دْ هُااوَندْلوَ وَح وَو وَ وَد نِنوَ اوَندْمرَّزوَك دْ وَ وَل وَو Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, kami angkut mereka didaratan dan dilautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan.
Derivasi HAM dalam Islam, dikenal dalam beberapa term atau istilah yang dapat dijumpai dalam al-dlaruriyat al-khamsah atau yang disebut juga al-Huquq al-Insaniyah fi al- Islam (hak-hak asasi manusia dalam Islam). Secara epistemologi, term tersebut merupakan kerangka dari grand theory of Islamic legal theory atau maqasid al-syari’ah, yang berarti
19 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender: Perspektif Al Qur’an (Jakarta: Paramadina,, 2001), 121-122.
M O M E N T U M tujuan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum Islam.21 Sementara menurut
Wahbah al Zuhaili, Maqasid al-Syari’ah berarti nilai-nilai dan sasaran syara' yang tersirat dalam segenap atau bagian terbesar dari hukum-hukum-Nya. Nilai-nilai dan sasaran-sasaran itu dipandang sebagai tujuan dan rahasia syari‟ah, yang ditetapkan oleh syariat dalam setiap ketentuan hukum.22 Menurut Syathibi tujuan akhir hukum tersebut adalah satu, yaitu mashlahah atau kebaikan dan kesejahteraan umat manusia.23Sejalan dengan itu, kandungan al- Huquq al-Insaniyah fi al-Islam menjadi hal yang paling esensial sebagai konsep pokok pelaksaan HAM dalam Islam, term-term itu adalah:
1. Hifdzu al-Nafs wa al-Irdatau Hak Untuk Hidup, QS Al An‟am (6):151 2. Hifdzu al-‘Aql atau Hak Persamaan Derajat, QS Al Hujurat (49):13 3. Hifdzu al-Nasl atau Hak memperoleh keadilan, QS Al Maidah (5):2 4. Hifdzu al Mal atau Hak Perlindungan milik QS Al Baqarah (2):188 5. Hifdzu al-Din atau Hak Kebebasan Beragama QS Al Baqarah (2):256
Dalam Al Qur‟an, prinsip-prinsip penegakan HAM seperti keadilan, persamaan derajat,