• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ALTERNATIF

Dalam dokumen Jurnal Sosial dan Keagamaan walisongo (Halaman 96-109)

Oleh Abdul Muis⃰

[email protected]

Abstrak

Tulisan ini mengulas tentang urgensi model pendidikan pesantren sebagai resep generik yang menyadarkan masyarakat dari jejaring disorientasi hidup yang sudah menggurita. Konteks kehidupan masyarakat yang sudah tergilas oleh globalisasi menjadikan kompleksitas masalah semakin rumit dan mengalami kekeringan akan nilai-nilai spritualitas yang sejatinya menjadi kebutuhan rohani bagi manusia. Pesantren tidak lagi mengalami dikotomisasi keilmuan antara ilmu agama dan ilmu umum melainkan sudah terintegrasi secara proporsional. Sehingga peran pesantren sebagai pendidikan alternatif mampu memberikan tawaran solusi bagi pemenuhan kebutuhan dua unsur dalam diri manusia yaitu kebutuhan materi dan spritualitas. Selain itu pendidikan pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia dengan akar sejarahnya diyakini siap menghadapi tantangan dan memberikan jalan keluar atas krisis manusia modern.

Kata kunci: pesantren, orientasi, ideal, perubahan.

Pendahuluan

Sejak lima dasawarsa terakhir wacana seputar Pesantren sebagai institusi atau lembaga pendidikan menunjukkan perkembangkan yang cukup signifikan di komunitas ilmiah.1 Hal ini tercermin dari intensitas wacana, kajian dan maraknya penelitian para ahli akan peranan, fungsi

Dosen Universitas Negeri Jember

1 Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri”, sedangkan pondok berarti

rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu”. Di samping itu, “pondok” mungkin juga

berasal dari bahasa Arab “fanduk” yang berarti “hotel atau asrama”. Ada beberapa istilah yang ditemukan dan

sering digunakan untuk menunjuk jenis pendidikan Islam tradisional khas Indonesia atau yang lebih terkenal dengan sebutan pesantren. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya dipergunakan istilah pesantren atau pondok, di Aceh dikenal dengan istilah dayah atau rangkung atau meunasah, sedangkan di Minangkabau akrab dengan sebutan surau. (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 1990), 18. Secara terminologi banyak sekali yang telah mendefinisikan pesantren. Abdurrahman Wahid misalnya, memaknai pesantren secara teknis, a place where santri (student) lives, sedangkan Abdurrahman

Mas’oed menulis, “the word pesantren stems from “santri” which means one who seeks Islamic knowledge.

Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live in and acquire

knowledge”. Bila ditinjau dari tata bahasa Indonesia, kata pesantren berasal dari kata “santri” yang berarti orang

yang mencari pengetahuan Islam. Meskipun demikian umumnya kata pesantren mengacu kepada suatu tempat di mana santri menghabiskan waktunya untuk tinggal dan memperoleh pengetahuan. H.M. Arifin, M. Ed., Kapita Selekta Pendidikan Umum dan Islam (Jakarta: Bina Aksara, 1991), 240. Bandingkan dengan Zamakhsyari Dhofier, Tradisi, 44. dan Sudjoko Prasodjo, dkk., Profil Pesantren (Jakarta: LP3ES, Cet. III, 1982), 61.

M O M E N T U M

dan sumbangsing pesantren sebagai “institusi kultural”2dan “sub kultur”3

terhadap pendidikan masyarakat Indonesia.

Model pendidikan di pesantren sangat unik. Dikatakan unik, karena pesantren memiliki karakteristik tersendiri yang khas di tengah dinamika pendidikan formal yang menjamur di seantero penjuru negeri. Keunikan model pendidikan pesantren terletak pada penanaman budi pekerti dan pendalaman akan eksistensi diri yang secara praktis manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat, dan bahkan mengakar dalam proses interaksi sosial. Tentunya hal ini jauh berbeda dengan mayoritas pendidikan formal saat ini yang sudah menjadi lahan bisnis dan berorientasi pasar (market oriented). Bahkan dalam catatan sejarah dikatakan bahwa pesantren acap kali menjadi penggerak dinamika sosial kemasyarakatan, tak terkecuali menjadi garda terdepan dalam melawan kolonialisme.

Selain sebagai model pendidikan tertua yang ada di belahan nusantara, pesantren juga merupakan institusi pendidikan yang memiliki andil besar dalam mewujudkan dan membangun NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Saking sentralnya, peran pesantren dalam pembangunan bangsa, tidak heran bila pakar pendidikan sekelas Ki Hajar Dewantoro dan Dr. Soetomo pernah mencita-citakan model sistem pendidikan pesantren sebagai model pendidikan nasional. Bagi mereka, model pendidikan pesantren adalah kreasi cerdas budaya Indonesia yang berkarakter dan patut untuk adaptasikan keseluruh lini pendidikan.

Nur Cholis Madjid mengungkapkan bahwa seandainya Indonesia tidak mengalami penjajahan, maka pertumbuhan sistem pendidikan Indonesia akan mengikuti jalur pesantren sebagaimana terjadi di Barat yang hampir semua universitas terkenal cikal bakalnya adalah perguruan-perguruan yang berorientasi kepada keagamaan. Sebagai contoh, sebut saja universitas Harvard. Jika kita bersandar kepada apa yang dikatakan oleh Cak Nur, kita bisa menyimpulkan bahwa seandainya kolonialisme tidak menduduki bumi pertiwi, maka universitas-universitas yang ada di Indonesia akan berorientasi kepada keagamaan. Mungkin yang ada adalah Univ. Tremas, Univ. Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Univ. Annuqoyah dan seterusnya, bukan UI, ITB, UGM, UNAIR dan lain sebagainya.4

Yang menarik untuk ditelaah adalah mengapa Pesantren -baik sebagai lembaga pendidikan maupun lembaga sosial- masih tetap survive hingga saat ini? Padahal sebelumnya banyak pihak yang memperkirakan pesantren tidak akan bertahan lama di tengah perubahan dan dinamika masyarakat Indonesia yang sudah tergiring ke dalam lorong-lorong meterialisme- hedonistik. Dan bahkan sebagain tokoh nasional memprediksikan bahwa pesantren akan tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan formal, berlabel modern, yang penuh daya pikat duniawiyah. Sutan Takdir Ali Syahbana adalah salah satu tokoh yang menilai pesantren dengan nada pesimis. Ia mengungkapkan bahwa sistem pendidikan pesantren harus ditinggalkan. Menurutnya mempertahankan sistem pendidikan pesantren sama artinya dengan

2 Institusi kultural yang dimaksud disini adalah pesantren sebagai lembaga yang melahirkan budaya khas yang punya karakter tersendiri dan bersikap inklusif atau membuka diri terhadap pengaruh dan dinamika realitas. Hadi Mulyo. Pesantren dan perubahan sosial (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1985), 99.

3 Untuk menunjuk kepada lembaga yang bertipologi unik dan berbeda dari pola kehidupan pendidikan secara umum di negeri ini, lihat misalnya: Abdurrahman Wahid, Asal Usul Tradisi Keilmuan Pesantren“dalam JurnalPesantren” (Jakarta, 1984), 39.

M O M E N T U M mempertahankan keterbelakangan dan kejumuan kaum muslimin.5 Tidak sedikit pula yang

dengan nada sinis mengungkapkan bahwa sistem pendidikan pesantren hanyalah fosil masa lampau yang tidak mungkin lagi mampu berperan dan atau berkompetisi di tengah kompleksitas dinamika kehidupan global.

Penilaian pesimis seperti Sultan Takdir di atas timbul karena ketidakakuratan dalam melihat fungsi dan peranan pesantren di masyarakat. Pesantren dipahami secara reduksionis, yaitu hanya dipandang sebagai lembaga tua yang tidak lebih dari sekedar bengkel akhlak. Dalam konteks ini, pesantren tidak dilihat secara integral sebagai sebuah lembaga yang adaftif terhadap dinamika jaman dan menjadi motor penggerak proses interaksi sosial yang kompleks. Titik inilah yang akan dikupas dalam tulisan ini.6

Karakter dan Kecenderungan Baru di Pesantren

Sebagai lembaga, pesantren adalah wahana publik yang diwarisi, mewarisi dan memelihara kontinuitas budaya dan tradisi Islam yang dikembangkan para ulama dari masa ke masa. Dalam dinamika dan kompleksitas arus perjalanan sejarah yang panjang tersebut pesantren senantiasa melakukan adjustment dan readjustment doktrin-doktrinnya agar sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap lulusannya (santri). Inilah salah satu faktor kenapa pesantren mampu survive dalam setiap perubahan masyarakat, bahkan menjadi motor penggerak proses interaksi sosial.

Ada beberapa karakter dan kecenderungan baru yang menyebabkan pesantren mampu eksis dalam dunia pendidikan, dan bahkan menjadi wahana potensial yang dapat menggantikan model-model pendidikan formal. Tegasnya, dengan karakter dan kecenderungan baru ini pesantren berpotensi besar menjadi lembaga pendidikan alternatif ideal7 -menggantikan pendidikan formal (non-pesantren)- bagi masyarakat yang sudah jenuh dengan dinamika perubahan zaman yang mendorong dunia pendidikan pada orientasi pasar dan penafian doktrin agama.8 Adapun karakter dan kecenderungan tersebut antara lain:

5 Ibid., xiii. Bandingkan dengan Wildan Burhan A: Kini ada pesantren khalaf (modern), seperti pesantren Hayatan Thayyibah (Sukabumi), Darul-Ulum (Bogor), Husnul-Khotimah (Kuningan, Jawa Barat), Darunnajah dan Darurrahman (Jakarta), Darussalam Gontor (Ponorogo, Jawa Timur), al-Mu’min (Ngruki), as-Salam, al- Zaitun (Solo, Jawa Tengah), Pesantren Thawalib-Padang Panjang (Sumatera Barat), dan lain-lain. Pesantren khalaf bercirikan, 1) memiliki manajemen dan administrasi dengan standar modern; 2) tidak terikat atau tersentral pada figur kiai; 3) memiliki pola dan sistem pendidikan modern dengan perpaduan kurikulum antara mata pelajaran berbasis ilmu agama dan mata pelajaran berbasis pengetahuan umum. Di Indonesia, pesantren jenis khalaf ini tidak banyak. Jumlahnya sekitar 878 pesantren.

6 Pesantren pada awalnya merupakan “bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan jaman. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah, bila dirunut kembali sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da’i. lihat: Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan LKIS, 1999), 138. Akan tetapi dalam proses perkembanganya saat ini dimana terjadi persentuhan akibat globalisasi Pesantren semakin adaptif seiring dengan tuntutan perubahan zaman.

7 Lembaga pendidikan alternatif ideal yang dimaksud adalah bahwa pesantren secara kosenptual mampu memberikan dua hal yang dibutuhkan oleh manusia yaitu kebutuhan duniawi dan juga kebutuhan ruhani dimana pesantren saat sedang dalam proses integrasi kajian keilmuan. Selain itu ciri khas lembaga pendidkan Islam Indonesia ini memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak masyarakat yang ingin menyekolahkan anak-anaknya.

8 Menurut Mastuhu bahwa pesantrean dapat dijadikan salah satu alternatif ideal dikarenakan Pendidikan Islam (pesantren, madrasah, ect) sedang dalam proses Pembaharuan yang meliputi tiga hal, yaitu: (1)Usaha menyempurnakan sistem pendidikan pesantren, (2) Penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan (3) Upaya

M O M E N T U M 1. Relasi Simbiosis Masyarakat dan Pesantren

Karakter khas pesantren yang membedakannya dari lembaga pendidikan lain adalah adanya relasi simbiosis mutualisme yang langsung antara masyarakat dan pesantren. Dimana dalam relasi tersebut nilai-nilai yang diaplikasikan di pesantren mampu menjadi motor penggerak proses interaksi sosial, dan bahkan nilai-nilai tersebut mangakar kuat di masyarakat. Karena itu menjadi wajar jika Nurcholis Madjid9 mengungkapkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki lingkungan dan sekaligus menjadi milik lingkungannya. Untuk mendeskripsikan keeratan relasi fungsional antara pesantren dengan lingkungannya, para pemuka agama acap kali menggunakan surat Ibrahim : 24 – 25. (Laksana pohon yang baik, akarnya kokoh dan rantingnya menjulang kelangit, pohon itu memberi buah setiap musim dengan idzin Allah SWT).

2. Panca Jiwa

Prinsip hidup yang tumbuh dan mengakar kuat di pesantren adalah Panca Jiwa,10 yakni berupa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukuwah islamiyah dan menjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan Barat. Lihat lebih lengkap Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam (Ciputat: PT Logas Wacana Ilmu, 1999), 226.

9 Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren, xiv

10 Secara eskpilisit penjelasan tentang panca jiwa yaitu: (a) Keikhlasan, bermakna pemurnian diri dari segala yang kotor dalam beribadah dan berperilaku untuk dirinya maupun orang lain. Benar-benar "sepi ing pamrih" lahiriah maupun batiniah. Hanya kepada Allah segala yang ada pada dirinya dan yang dilakukan dalam hidup ini, jauh dari perhitungan imbalan atau balasan. Kyai, pembantu, guru-guru, pengurus sampai para santri tidak berfikir mengharapkan balas budi, termasuk tidak karena takut dibenci, dicaci maki, ingin disukai, dipuja puji. Santri besar ikhlas menyayangi santri kecil dan yang kecil ikhlas menghormati yang besar karena Allah, "lillaah". Iblis-iblis Internasional mencoba terus untuk mengganggu keikhlasan. Maka tauhid menjadi nyawa dalam kegiatan sampai derajat semurni-murninya. Banyak santri senang menantang diuji keikhlasannya, untuk ketinggian derajatnya. (b) Kesederhanaan, adalah watak dan tanda orang berjiwa besar, sanggup hidup sesuai dengan keadaannya, meninggalkan dan mengusir hedonisme bisikan Iblis-iblis International dan Agen-agennya agar pesantren berbuat neka-neka atau macem-macem sesuai desainnya, kemudian dikendalikannya, sampai terlena. Kekuatan jiwa kesederhanaan memusingkan penjajah dan budak-budak keenakan kemewahan semu karena masih terjajah! Makan, pakaian mode-mode, warna dsb. Sampai potongan rambutpun memilih kesederhanaan. Kendaraan pun seperlunya bukan jor-joran, berlomba-lomba menunjukkan "hasil korupsi, kolusi, nepotisme"nya, buah penindasannya, upah kedholimannya, kepada wong cilik. Maka kepalsuan nampak bila ada santri/alumni pesantren yang berperilaku demikian. "Kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit" bukannya "kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah". (c) Ukhuwah Islamiyah, jiwa persaudaraan atas dasar ajaran Islam. Paling disengiti kaum "lan tardlaa" adalah ayat ukhuwah. Tapi ayat Al-Qur`an terjaga terus, tak akan berubah atau terhapus selamanya. Banyaknya aliran yang muncul dan mungkin akan muncul yang baru lagi tidak mengganggu ukhuwah. Terbukanya pintu ijtihad bagi yang berhak merupakan jiwa luasnya toleransi dalam bingkai ukhuwah. Penjajah sengaja membesar-besarkan perbedaan kecil ini untuk mengobok-obok ukhuwah, tapi gagal atau hasil yang dicapai jauh dari target minimal dibanding upaya dan dana yang dikerahkan. Iri dengki ini turun temurun dan tampaknya tak henti-henti. Pesantren tetap berukhuwah bukan karena apa-apa tapi taat total pada tuntunan Allah Sang Penuntun SWT. (d) Berdikari, Jiwa Menolong Diri Sendiri. Alangkah jengkelnya mereka yang coba-coba mengatur, menjajah dengan sistem dan kiat-kiat yang menggelikan bahkan menjijikkan. Serigalawan, serigalawati manca negara dan domestik kluyuran keluar masuk pondok pesantren untuk menjajah. Memuakkan! Untung tidak "diludahi" para santri yang berpanca jiwa. Sistem pengajaran, pendidikan, pembinaan pengasuhan pondok pesantren tidak mudah menerima masukan yang selamanya "wajib" diwaspadai karena dikhawatirkan ada unsur penjajahan oleh kaum musyrik "najis". (d) Kebebasan, Jiwa bebas memilih tanpa ada paksaan bahkan anti pemaksaan. Meskipun tampaknya benar, baik dan bermanfaat pondok pesantren bebas menerima atau menolak kehadirannya masuk ke dalam. Pondok pesantren selamanya tidak akan pernah mengenal mayoritas-minoritas dalam menentukan kebijakan. Ini pula yang dengan intensif diupayakan, dipaksakan oleh penjajah dan agen, budak, kaki tangan dan murid-muridnya. Tidak berhasil!!! Kyai sudah merancang dengan pasti amal yang diridlai Allah dan kenistaan yang dimurkai-Nya, "sumber ridla maupun murka"-Nya sesuai referensi yang diyakini dan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya. Kebebasan adalah rohmat, penjajahan/intervensi adalah adzab.

M O M E N T U M kebebasan. Menurut Subahar,11 Hakekat pendidikan pesantren sebenarnya terletak

pada pembinaan jiwa ini, bukan pada yang lain, karenanya hasil pendidikan di pesantren akan mencetak jiwa yang kokoh yang sangat menentukan falsafah hidup santri di hari kemudian, artinya, mereka tidak sekedar siap pakai tetapi yang lebih penting adalah siap hidup.

3. Relasi Surgawi Santri dan Kyai.

Kyai bagi santri tidak sekedar ustadz ta’lim (guru pembelajaran ilmu), tetapi juga sebagai ustadzta’dzib (guru akhlak) dan ustadztarbiyah (guru yang menjadi teladan). Dia tidak sekedar menyampaikan informasi keislaman, tetapi juga menyalakan etos Islam dalam setiap jiwa santri, dan bahkan mengajarkan sekaligus membimbingnya pada taqarrub ilalloh (mendekatkan diri kepada Allah). Karena itu seorang kyai memiliki tanggung jawab ganda terhadap santrinya, di kehidupan sosial dan kehidupan spiritual.

4. Model Pengasramaan.

Di pesantren, terdapat istilah santri mukim, yaitu santri diasramakan dalam satu tempat yang sama dengan fasilitas yang sama pula. Tujuan utama pengasramaan ini adalah untuk menghapus sekat-sekat atau jurang perbedaan antara santri yang berasal dari keluarga kaya dengan santri yang berasal dari keluarga miskin. Dengan penghapusan sekat ini setiap santri didik untuk tidak mengagungkan kekayaan dan agar proses komunikasi antar santri tidak tersekat oleh garis turunan orang tuanya. Selain itu, model pengasramaan memudahkan kyai untuk memantau langsung perkembangan keilmuan para santri, dan yang paling urgen dari model pengasramaan ini adalah diterapkannya pola pendampingan untuk melatih pola prilaku dan kepribadian para santri

5. Fleksibel dan Adaptif

Menurut Hadi Mulyo, salah satu faktor yang menjadikan pesantren tetap eksis dan berpotensi besar untuk menjadi lembaga pendidikan alternatif di masa yang akan datang adalah karena pesantren senantiasa fleksibel dan adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di dalam realitas pragmatis masyarakat. Di lingkungan pesantren fleksibilitas dan pola adaftif pesantren dikukuhkan dalam slogan yang berbunyi “al muhafadatu ala al qodim al soleh wal ajdu bil jadidil aslah” (mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih baik).12

Kekhawatiran banyak pihak yang memprediksi pesantren akan kehilangan nilai relevasinya di tengah kehidupan sosial yang terus berubah, saat ini secara perlahan mulai rontok. Kekhawatiran itu sendiri terjadi karena mereka hanya menilai bahwa pesantren hanya berkutat pada lima eleman pokok pesantren yang dianggap menjadi sumber kejumudan, yaitu, Penjajah terkecoh tatkala upayanya seakan diterima ternyata ditertawakan ayam-ayam betina. Lihat lebih lengkap: http://www.madinatunnajah.sch.id/berita-151-makna-prinsip-panca-jiwa-pesantren.html diakses tanggal 18 Mei 2013.

11 Abd Halim Subahar. Pesantren Gender. Laporan Penelitian DIP STAIN Jember tahun 2002.Hal. 5. 12 Hadi Mulyo, Pesantren dan perubahan sosial (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1985), 99

M O M E N T U M kyai, masjid, pondok, pengajian kitab klasik dan santri. Bila kita tinjau saat ini perkembangan

pesantren jauh lebih pesat melampaui apa yang dikhawatirkan. Clifford Greertz, Martin Bruinessen, Zamakzary Dhofir dan Zeimek mengungkapkan bahwa peran dan fungsi pesantren jauh melaupawi skema awal pendirian pesantren, ia sudah bergerak dan menaungi berbagai sektor, mulai dari pusat keterampilan, perguruan tinggi, pusat olah raga, kantor administrasi, perpustakaan, laboratorium, pusat pengembangan bahasa, koperasi, balai pengobatan, pemancar radio, hingga penerbita.13

Pun, dalam kurikulum pendidikan, kini pesantren tidak hanya fokus pada pendalaman kitab- kitab klasik (baca : ilmu agama), tetapi juga mengintegrasikan berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan kontemporer, termasuk aneka keterampilan praktis untuk menunjang profesionalisme santri. Dikhotomi ilmu agama dan ilmu umum sudah tidak populer lagi, dan bahkan kini beberapa pesantren sudah mendirikan lembaga pendidikan formal yang basisnya adalah integrasi dan interkoneksi disiplin ilmu, sebut saja UNDAR Jombang, Pondok Pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat, STIKES Al-Qadiri Jember, dan lain sebagainya.

Adapun sikap dan modus operandi setiap pesantren dalam menghadapi perubahan sistem pendidikan (modernisasi) relatif berbeda-beda. Tentunya hal ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Sikap dan modus operandi pondok pesantren tersebut secara garis besar bisa di golongkan menjadi tiga kelompok, yaitu: (a) Pondok pesantren yang menolak sistem baru dan tetap mempertahankan sistem tradisionalnya (b) Pondok pesantren yang mempertahankan sistem tradisionalnya, dan memasukkan sistem baru dalam bentuk sekolah yang bercorak klasikal, seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Institut/Sekolah Tinggi; (c) Pondok pesantren yang tetap mengajarkan kitab klasik, namun di lingkungan pondok menyelenggarakan sekolah umum, seperti SD, SMP, SMA dan Universitas,14

Bila ditinjau dari sistem pengajaran, banyak pesantren yang sudah memadukan model salaf dan model madrasi. Dalam konteks ini, selain tetap mempertahankan sistem sorogan, wetonan, sistem klasikal dan penjenjangan, pesantren juga menyelenggarakan pendidikan dengan model-model pembelajaran yang umum dikenal di sekolah-sekolah formal. Demikian juga dari sisi managemen kelembagaan, perubahan akan kita temukan dari berbagai hal, utamanya perubahan pola kepemimpinan lembaga. Dari yang sentralistik, hirarkis dan singgle fighter menjadi pola kepemimpinan kolektif dan demokratis.

Lebih jauh kita juga dapat menyaksikan refungsionalisasi lembaga pesantren, misalnya dari sekedar fungsi pendidikan dan sosial, saat ini berkembang pula menjadi lembaga yang bergerak di bidang ekonomi, pengkaderan, public service, dan lain sebagainya. Dengan refungsionalisasi tersebut, pesantren pada gilirannya tidak sekedar memainkan fungsi-fungsi tradisionalnya –media dan wahana transformasi ilmu-ilmu keislaman, pemeliharaan tradisi Islam serta inkubator ulama dan cendikia-, tetapi juga telah menjadi alternatif pembangunan yang berpusat pada masyarakat itu sendiri (People centered development), Pusat

13 Kontowijoyo. Paradigma Islam : Interpretasi untuk aksi (Bandung: Mizan, 1991), 251. Lihat juga dalam Sujoko Prasojo. Peran Pesantren dan Pengembangan Pendidikan, makalah pada seminar Pesantren di PP Al Amin Sumenep Tahun 1982 tidak diterbitkan.

14 Atmaturida, Sistem Pengelolaan Pondok Pesantren (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2001), 28.

M O M E N T U M pengembangan ilmu dan pembangunan bangsa yang berorientasi pada nilai (Value oriented

development), Pembangunan lembaga (Institution development) dan kemandirian (Self reliance and sustainability).15

Dengan berbagai perkembangan baru yang terus bergerak (walau terkesan hati-hati dan cenderung gradual evolusioner), pesantren menurut Azyumardi Azra jelas bukan saja mampu bertahan atau survive, tapi lebih dari itu, dengan penyesuaian, akomodasi dan perubahan yang dilakukannya, pada gilirannya pesantren mampu mengembangkan diri dan bahkan kembali menempatkan dirinya pada posisi sentral sebagai pusat pencerahan, pusat penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan tehnologi tepat guna, pusat usaha penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup, pusat emansipasi wanita dan pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.16

Perkembangan Pesantren

Kendati bersifat evolusioner, dengan langkah yang mantap pesantren -khususnya di Jawa- terus mengalami perkembangan dan kemajuan yang konstan, dari tahun ke tahun mereka mampu menarik minat masyarakat dan stakeholder untuk berbondong-bondong memasukkan putra putrinya ke lembaga tersebut, tidak hanya dari sekitar wilayah pesantren berada, tetapi juga berkembang lintas pulau, bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia dan Brunai Darus Salam. Hal tersebut selain disebabkan faktor internal pesantren yang terus melakukan pembenahan dan konsolidasi, juga disebabkan faktor eksternal dimana lembaga pendidikan modern tidak mampu secara nyata melahirkan generasi-generasi muda tangguh sesuai dengan cita-cita bangsa. Generasi bangsa kini sudah terjebak di dalam sistem pendidikan yang berorientasi pada pasar kerja yang ujung pangkalnya untuk pemenuhan gaya hidup materialistik dan hedonistik. Padahal tujuan dan arah pendidikan adalah mencetak kader-kader

Dalam dokumen Jurnal Sosial dan Keagamaan walisongo (Halaman 96-109)