Oleh
Syaibatul Hamdi⃰
Abstrak
Pelaksanaan pidana cambuk merupakan implementasi diterapkannya Syari‟at Islam
di Aceh, pidana cambuk dipandang sebagai pidana yang ideal dalam pelaksanaan syariat Islam. Pidana cambuk ini dijatuhkan bagi tindak pidana tertentu yang telah diatur dalam qanun sebagai turunan dari Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Salah satu qanun yang telah disahkan adalah Qanun Nomor 13 Tahun 2003 tentang Maisir (Perjudian). Namun, dalam kenyataannya masih terdapat pendapat pro dan kontra dan ada yang menganggap pelaksanaan pidana cambuk tersebut melanggar hak asasi manusia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah pelaksanaan pidana cambuk bagi pelanggar maisir/perjudian sudah sesuai dengan tujuan pemidanaan dalam hukum Islam dan apakah pelaksanaan Qanun Nomor 13 Tahun 2003 tentang Maisir (Perjudian) telah sesuai dengan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM). Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, yaitu mengkaji aturan yang tertera dalam Qanun No. 13 Tahun 2003 tentang Maisir (perjudian) dan dihubungkan dengan tujuan pemidanaan serta prinsip hak asasi manusia dalam Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidana cambuk bagi pelanggar maisir (perjudian) telah sesuai dengan tujuan pemidanaan dalam hukum Islam yaitu bertujuan untuk memberikan pelajaran melalui efek malu karena pelaksanaanya dilakukan didepan umum yang pada akhirnya menjadi contoh bagi orang lain agar tidak melakukan hal yang serupa. Penerapan pidana cambuk juga telah sesuai dan tidak melanggar hak asasi manusia karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan dan melalui putusan
pengadilan.
Kata kunci: cambuk, maisir, hak asasi manusia.
Pendahuluan
Negara Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) dan bukan negara kekuasaan (machtstaat). Oleh karena itu, setiap penyelenggaraan negara dan pemerintahannya selalu harus didasarkan pada peraturan dan perundang-undangan yang ada. Ketentuan ini terdapat dalam Penjelasan UUD 1945. Sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia menurut UUD 1945, mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.1
⃰ Dosen STAI Teungku Dirundeng Meulaboh Aceh Barat
1 UUD 1945 Pasal 18 menyebutkan “Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa”
M O M E N T U M Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menurut Undang-
undang Dasar 1945 harus mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa tersebut dengan pemberian otonomi khusus, agar pemerintahan daerah lebih leluasa dalam menjalankan dan mengelola pemerintahannya sendiri, untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Setelah UUD 1945 diamandemen, klausul tersebut tercantum dalam Pasal 18 B Ayat (1) disebutkan “Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa yang diatur dengan undang-undang”.
Penegasan yang tertera dalam UUD 1945 hasil amandemen melahirkan berbagai peraturan dan perundang-undangan yang mengatur mengenai pelaksanaan otonomi daerah termasuk di Aceh. Secara yuridis formal, pengaturan Syari‟at Islam di Aceh didasarkan pada UU No 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Kedua Undang- undang ini menjadi dasar kuat bagi Aceh untuk menjalankan Syari‟at Islam. Dengan hal ini menandakan bahwa Syari‟at Islam adalah bagian dari kebijakan negara yang diberlakukan di Aceh. Oleh karena itu, dalam konteks pengaplikasian Syari‟at Islam tersebut tidak terlepas dari tanggung jawab dan peran negara.2
Melihat sejarah masa lalu, pengaruh hukum Islam sangat kuat terhadap masyarakat Aceh sehingga tak terpisahkan dari adat/kebiasaan masyarakat. Hal ini seperti dikemukakan pula oleh ahli adat di Aceh, bahwa Hukom ( hukum Islam atau hukum yang disusun bersumberkan Al Qur‟an dan Hadist), dan Adat (hukum adat yang merupakan aturan-aturan hasil pemikiran manusia) telah menyatu menjadi satu hukum seperti zat dengan sifat. Penyatuan keduanya yang seperti zat dengan sifat itu, dibakukan dengan hadih maja yang berbunyi : Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut, lage mata itam ngon mata puteh, dalam rumusan tersebut hukum dan adat telah menyatu seperti zat dengan sifat atau seperti mata hitam dengan mata putih, keduanya tidak dapat dipisahkan.3
Sejarah telah membuktikan bahwa Kerajaan Iskandar Muda (1607-1636) di Aceh merupakan salah satu kerajaan besar yang terdapat di nusantara, jauh sebelum Indonesia lahir. Kerajaan Aceh pada masa itu sangat konsisten mengembangkan agama Islam dan sebagai pusat pengembangannya dibangun beberapa diantaranya Beit Rahman (sekarang dikenal dengan Mesjid Baiturrahman) yang terletak di lingkungan Istana Sultan Iskandar Muda. Pengaruh agama Islam telah menyusup kepada seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan pemerintahan, hukum, politik, ekonomi, kesenian dan keseluruh aspek kehidupan pribadi. Pada saat itu Aceh tak ubahnya sebuah miniatur kehidupan Jazirah Arab di Timur yang kental dengan budaya Islam, oleh karena itu Aceh dinamakan Serambi Mekkah. Nilai Islam bukan hanya dogma yang ada dalam Alqur‟an dan Hadist, akan tetapi terjelma dalam perkataan dan perbuatan.4
2 Syahrizal, dkk, Konstruksi Implementasi Syari’at di Nanggroe Aceh Darussalam dalam
Dimensi Pemikiran Hukum Dalam Implementasi Syari’at Islam di Aceh, Dinas Syari‟at Islam Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, 2007, 2.
3 T. Djuned, “Pengaruh Hukum Islam Terhadap Pembentukan Hukum Adat” QANUN No. 39 Edisi
Agustus, Unsyiah Press, Banda Aceh, 2004, 265. 4 Ibid
M O M E N T U M Bercermin dari sejarah masa lalu, sesuai dengan keinginan masyarakat Aceh dari tahun
ke tahun setelah melewati proses sejarah yang sangat panjang, Aceh yang merupakan salah satu provinsi paling ujung di Barat Indonesia mulai menerapkan syariat Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Dalam pelaksanaan Syari‟at Islam di Aceh tidak mencukupi dengan UU No. 44 Tahun 1999 dan UU No. 11 Tahun 2006, tetapi juga dibutuhkan Qanun5 sebagai wujud pengimplementasian dari Undang-undang tersebut.
Qanun tersebut lahir dari pemberian otonomi daerah yang seluas-luasnya kepada Daerah Istimewa Aceh untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri. Salah satu Qanun yang lahir adalah Qanun No. 13 Tahun 2003 tentang Maisir (Perjudian) yang bertujuan untuk mencegah segala sesuatu perbuatan serta keadaan yang mengarah kepada taruhan dan dapat berakibat kepada kemudharatan bagi pihak-pihak yang bertaruh dan orang-orang/lembaga yang ikut terlibat dalam taruhan tersebut,6 jika itu dilanggar maka akan diancam dengan hukuman („uqubat) cambuk di muka umum.
Pelaksanaan qanun tersebut timbul berbagai persoalan hukum termasuk di dalamnya dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Isu ini diwacanakan oleh KOMNAS hak asasi manusia maupun LSM-LSM lainnya yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Mereka menganggap bahwa hukuman cambuk tersebut melanggar hak asasi manusia karna menyiksa fisik dari seseorang yang menurut meraka itu tidak boleh terjadi tanpa melihat penyebabnya sehingga hukuman tersebut diterapkan. Dari uraian di atas jelas bahwa yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelaksanaan pidana cambuk bagi pelanggar maisir/perjudian sudah sesuai dengan tujuan pemidanaan dalam hukum Islam ,dan apakah pelaksanaan Qanun Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Maisir (Perjudian) telah sesuai dengan prinsip hak asasi manusia.
Metode Penelitian
a. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normative, penulis mengkaji aturan yang tertera dalam Qanun No. 13 Tahun 2003 tentang Maisir (perjudian) dan dihubungkan dengan tujuan pemindanaan dalam Islam sehingga dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam menegakkan Qanun tersebut dapat terjawab.
b. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Bahan hukum yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum sekunder (perpustakaan). Data skunder ini dapat diperoleh dengan menelusuri beberapa bahan hukum yaitu bahan hukum primer, skunder maupun tersier.
c. Analisis Data
Data yang diperoleh melaui studi kepustakaan tersebut, selanjutnya dilakukan pengolahan data, yakni kegiatan untuk mengadakan sistematika terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Hal tersebut dilakukan untuk memilah dan memilih data guna memperoleh pemahaman yang utuh tentang hukum Islam dan konsep hak asasi manusia.
5 Qanun yang merupakan bahasa lain dari peraturan daerah (PERDA). 6 Lihat Qanun No. 13 tahun 2003 tentang Maisir (Perjudian)
M O M E N T U M Data yang diperoleh tersebut akan dianalisis secara kualitatif7 untuk sampai kepada
sebuah kesimpulan, sehingga pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat terjawab.
Landasan Teoritis serta Konsep Maisir dan Hak Asasi Manusia
Maisir berasal dari kata yasara atau yusr yang artinya mudah, atau dari kata yasar yang artinya kekayaan. Maisir atau perjudian adalah salah satu bentuk permainan yang mengandung unsur taruhan dan orang yang menang dalam permainan itu berhak mendapatkan taruhan tersebut. Maisir adalah permainan yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan kesenangan tanpa bersusah payah.8 Maisir ini disamping diancam dengan pidana juga merupakan dosa besar di sisi Allah SWT.
Maisir termasuk salah satu perbuatan mungkar yang dilarang dalam syariat Islam serta bertentangan pula dengan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat Aceh, karena perbuatan tersebut dapat menjerumuskan seseorang kepada perbuatan maksiat lainnya. Oleh karena itu, Maisir termasuk salah satu perbuatan jarimah, yaitu perbuatan terlarang yang dapat diancam dengan ta’zir yang berupa hukuman badan yang dikenakan atas terpidana karena melakukan perbuatan terlarang.
Di Aceh maisir (perjudian) merupakan maksiat yang tidak dikenakan hukuman hudud dan hukuman kafarah. Bentuk tindak pidana maisir ini termasuk dalam kategori jarimah ta’zir yang jumlah hukumannya tidak terbatas tergantung kepada penguasa dalam menetukan jenis dan bentuk hukumannya. Sifat dari hukuman ta‟zir ini adalah memberikan pelajaran dan efek malu bagi sipelaku kejahatan dan bagi masyarakat agar tidak melakukan hal yang pernah dilakukan oleh pelaku, ini tentunya sesuai dengan teori relatif (tujuan hukum pidana) yang menekankan pada teori relatif detterence, yaitu teori yang menekankan pada tujuan untuk mempengaruhi atau mencegah orang lain agar tidak melakukan kejahatan.
Berbicara masalah sejarah dan dasar awal perlindungan hak asasi manusia, umumnya kita akan terbayang atau melirik pada magna charta 1215 di Inggris, yang pada tahun 1927 disempurnakan menjadi Bill of Human Right. Di Prancis pada tahun 1976 lahir Deklaration Des Droests De I; Home et Citoyen, (pernyataan hak-hak manusia dan negara) yang terkenal dengan semboyan Liberte, Egalite dan Fraternite.9
Hak asasi manusia tidak hanya didasarkan pada rujukan makna charta Inggris dan lain- lain. Namun jauh sebelum itu lebih kurang enam abad sebelumnya Islam telah
7 Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannnya tidak diperoleh melaui prosedur statistic atau bentuk hitungan lainnya. Lihat Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Basic of Qualitative Research: Grounded Theory Prosedures and Techniques, terj. Muahammad Shodiq dan Imam Muttaqien menjadi Dasar- dasar Penelitian Kualitatif: Tata Langkah dan Teknik-tehnik Teoritasi Data (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 4.
8 Al-yasa‟ Abu Bakar dan Sulaiman M. Hasan Perbuatan Pidana dan Hukumannnya dalam Provinsi NAD. Banda Aceh, Dinas Syariat Islam Provinsi NAD, 40.
9 Tim Pengkajian Fakultas Hukum UID, ” Deklarasi Hah-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of
Human righat) ditinjau dari segi pancasila UUD 1945 atas Dasar Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah Tuhan Maha Esa (Jakarta: Universitas Islam, 1994), 11.
M O M E N T U M memperkenalkan dan menerapkan prinsip-prinsip hak asasi manusia, baik melalui ketentuan
Al-quran maupun hadist-hadist nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.10
Menurut Muladi hak asasi manusia dapat dikelompokkan dalam empat pandangan yang secara sederhana bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Universal-absolute
Pemahaman yang memandang bahwa hak asasi manusia sebagai nilai universal. Mereka tidak menghargai sama sekali profil budaya yang melekat pada masing- masing bangsa.
2. Universal-relative
Pemahaman yang memandang bahwa hak asasi manusia sebagai masalah universal, namun demikian pengecualian yang didasarkan atas asas-asas hukum internasional tetap diakui keberadaannya.
3. Particularistic-absolute
Pemahaman yang memandang bahwa hak asasi manusia sebagai persoalan masing- masing bangsa tanpa memberikan alasan kuat, khususnya dalam melakukan penolakan terhadap berlakunya dokumen internasioanal.
4. Partikularistik-relatif
Pemahaman yang memandang bahwa hak asasi manusia disamping sebagai masalah universal, juga sebagai masalah nasional masing-masing bangsa. Berlakunya dokumen internasional harus diselaraskan, diserasikan, diseimbangkan serta memperoleh dukungan dan tatanan dalam budaya bangsa.11
Bagi Indonesia, khususnya di Aceh, pandangan terakhir cenderung di anut, dengan berusaha mencari titik dialogis dengan ketiga pandangan lainnya. Alasan utama diadopsinya pandangan yang terakhir adalah karena masyarakat Aceh melaksanakan syariat Islam, yang rutinitas dan ritualitas masyarakatnya berbeda dengan masyarakat yang lain.
Pandangan Partikularistik-relatif sejalan dengan teori Relavitisme Budaya (Cultural Relativism Theory). Konsep yang menegaskan tentang relativisme budaya, yaitu konsep yang mengasumsikan bahwa kebudayaan merupakan satu-satunya sumber keabsahan hak atau kaidah moral. Karena itu hak asasi manusia dianggap perlu dilihat dari konteks kebudayaan masing-masing negara, semua kebudayaan mempunyai hak hidup serta martabat yang sama yang harus dihormati.
Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia
Konsep hukum memiliki beberapa pengertian, terutama dalam pemikiran barat. Ada pendekatan teologis yang dilakukan oleh para ahli pada abad pertengahan. Pandangan yang berkembang pesat setelah lahirnya teori hukum alam dari Hugo de Groot. Dan bahkan para
10 Dede Rosyada dkk, Pendidikan Kewarganegaraan, Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, Cet. I (Jakarta : ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2000), 220.
11 Iskandar A. Gani, Refleksi Penegakan Hukum dan HAM di Aceh: Kajian Yuridis Pelanggaran HAM dan Evaluasi Penegakan HAM hingga 2008 (Banda Aceh, Perpustakaan Nasional, 2009), 61.
M O M E N T U M akademisi berpendapat bahwa jauh sebelumnya, sudah banyak ahli yang berpendapat bahwa
hukum yang tertinggi adalah hukum yang berasal dari Tuhan.
Hukum-hukum yang berkembang di komunitas pemikir dan ilmuwan barat memiliki batasan yang lebih sempit dibandingkan dengan apa yang terdapat dalam hukum Islam. Keluasan hukum Islam bisa kita lihat dari aturan-aturan yang berkembang di masyarakat Islam yang tidak hanya mengulas urusan hukum positif belaka, tetapi masalah relasi sosial, etika, ekonomi dan bahkan hukum-hukum yang berkaitan dengan kehidupan mendatang (hukum ukhrowi). Konsep hukum Islam dan hukum yang berkembang di dunia barat tentunya jauh berbeda. Di barat hukum terkebiri pada aturan-aturan yang mengatur gerak-gerik tingkah laku manusia secara normatif dan berdasarkan pada data-data empirik belaka.
Konsep hak asasi manusia terus mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya konsep hukum yang dikembangkan oleh para ahli hukum barat. Dengan berpijak pada realitas, mereka terus melakukan ekplorasi dan kajian-kajian hukum yang penuh dengan aroma penindasan kaum bangsawan. Selain itu, perubahan hukum di barat sering dipicu oleh semangat pemberontakan kaum papa (proletar) terhadap kaum borjuasi dan para politisi yang memanfaatkan otoritas gereja. Patriotisme kaum papa yang terkoordinir secara massif menumbuhkan suatu tatanan hukum baru yang bersifat liberal, hukum yang dalam perkembangannya berbasis pada pengagungan hak asasi manusia. Sayangnya, karena kontrol negara menjadi lemah, pemahaman hak asasi ini mendorong masyarakat dunia untuk tunduk pada demokrasi liberal dan menutup model-model konstitusi lain.
Menurut penulis, konsep hak asasi manusia lebih bersifat individual dan harus diimbangi dengan adanya suatu aturan yang menetapkan kewajiban-kewajiban tertentu. Seringkali seseorang lupa memenuhi kewajibannya tetapi selalu mempermasalahkan hak-hak yang dimilikinya. Baharuddin Lopa mengatakan, Human Right selalu terkait dengan hak individu dan hak masyarakat. Ada yang bertanya kenapa tidak disebut hak dan kewajiban asasi.12 Peneliti sependapat dengan Baharudin, hak merupakan suatu konsep yang harus disandingkan dengan kewajiban, bahkan kewajiban harus didahulukan dan menjadi prasyarat untuk memperoleh hak..
Dalam kaitan dengan perlindungan hak asasi manusia, hukum memang bersifat paradoksal. Di satu sisi, hukum pidana melindungi hak asasi manusia dengan melanggar hak asasi manusia, karena itu hukum pidana tampak seperti pisau yang ber mata dua. Di sisi lain, isu global tentang hak asasi manusia telah melahirkan ambivalensi penegak hukum dalam bertindak untuk menegakan hukum, yang dalam prosesnya berpengaruh terhadap penerapan norma-norma hukum ke dalam pasal-pasal perundang-undangan. Salah satunya adalah di dalam mengartikan konsep hak asasi manusia secara universal. Konsep yang menyatakan bahwa semua manusia dianggap sama dan semua hukum yang mengatur manusi harus disamakan.13
Hukum dan hak asasi manusia seperti dua sisi pada satu keping mata uang, berlawanan namun tidak bisa dipisahkan. Ketika hukum ditegakkan, maka akan ada perampasan hak-hak tertentu dari seseorang. Apabila hak asasi manusia harus dipermasalahkan, bukan tidak mungkin kepastian hukum menjadi semakin lemah.
12 Baharuddin Lopa, Al-Qur’an dan Hak Asasi Manusia Seri Tafsir Al-Qur’an Bil Ilmi (Yogyakarta. Dhana Bakti Primayasa. 1996), 5.
M O M E N T U M
Pidana Cambuk Bagi Pelanggar Maisir
Dalam hukum pidana Islam, pemidanaan ataupun pidana lain baik itu berbentuk pidana cambuk maupun bentuk pidana lainnya, secara istilah ini di sebut dengan ’uqubah. Sedangkan terminologi ’uqubah adalah sebutan bagi sesuatu yang menyakitkan atau tidak menyenangkan yang dikenakan atau ditimpakan kepada pelaku tindak pidana kejahatan dalam rangka mencegah (menghalagi) pelaku, atau sesuatu yang tidak menyenangkan/menyakitkan yang di syari‟atkan oleh Allah swt ataupun mencegah timbulnya berbagai kerusakan ataupun mufasit.14 Tujuan pemidanaan dalam Islam berbeda pandangan ulama namun intinya tetap sama dalam hal substansinya. Menurut Abdul Aziz Amir tujuan pokok dari penjatuhan ’uqubat adalah :
1) Sebagai pencegahan dan pelarangan (ar-raddu wa al-zajru), yaitu menahan sipelaku agar tidak terus menerus melakukannya, disamping mencegah orang lain untuk tidak melakukan tindak pidana.
2) Perbaikan / pendidikan dan pemaksaan (al-islah wa al-tahdzib), yaitu memberi pelajaran dan mengusahakan kebaikan terhadap diri si pelaku tindak pidana (jarimah), sehingga upaya untuk menjatuhkan diri dari perbuatan pidana tidak semata-mata karena takut akan pidana, akan tetapi lebih dari itu karena kesadaran diri akan keburukan- keburukan dalam perbuatan pidana tersebut untuk mendapatkan ridha Allah swt.15
Para ahli hukum Islam mengkarifikasi tujuan yang luas dari syariah adalah sebagai berikut:
1) Menjamin keamanan dari kebutuhan hidup merupakan tujuan pertama dan utama dari syariah. Ini merupakan hal betapa kehidupan manusia sangat tergantung sehingga tidak bisa di pisahkan.
2) Menjamin keperluan hidup (keperluan skunder) atau di sebut hajiyyat. Ini mencakup hal yang penting bagi ketentuan itu dari berbagai fasilitas untuk penduduk dan memudahkan kerja keras dan beban tanggung jawab.
3) Membuat perbaikan yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan urusan-urusan hidup secara lebih baik.16
Dari segi pembuat hukum, menurut Juhaya S. Praja bahwa tujuan hukum Islam ada tiga, yaitu keharusan berbuat atau tidak, memilih antara melakukan atau tidak dan melakukan atau tidak karena ada atau tidak adanya keharusan keberadaan hukum tersebut. Ketiga tujuan ini dilihat dari segi tingkat dan peringkat kepentingannya bagi manusia, sehingga tujuan dari hukum Islam dari segi pembuat hukum itu dapat di bagi kedalam tujuan primer atau diarruriy, tujuan sekunder atau al-haajiy dan tujuan tersier atau al-tahsi’niy.17
Dalam persfektif Abdul Qadir ‟Audah, tujuan dari hukum pidana Islam dapat diklarifikasi ke dalam tiga bentuk yaitu:18
14 Alumad Warso Munawwir Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressi, 2003), 23. 15 Abdul Aziz Dahlan,‘Al-Ta’zir fi al-Syari’ah Islamiah (Kairo: Darul-Fikr, 1969), 293-294. 16 Arif Furqan dkk ”Islam Untuk Disiplin Ilmu Hukum, 78.
17 Ibid., 79.
M O M E N T U M 1. Menjamin keamanan terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup sebagai tujuan pertama dan
utama (dhaaruriat). Ini merupakan sarana atau bentuk yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia secara umum. Jika kebutuhan-kebutuhan itu tidak terjamin, akan terjdi kekacauan dan ketidaktertiban di segala aspek kehidupan.
2. Menjamin kebutuhan-kebutuhan hidup manusia yang bersifat skunder (hajjiyat). Ini merupakan hal yang penting dan dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat untuk memudahkan mereka dalam hidup bermasyarakat. Ketiadaan fasilitas-fasilitas tersebut akan menyebabkan kesulitan-kesulitan bahkan ketidakteraturan hidup dalam masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan ini terdiri dari hal-hal yang menyingkirkan kesulitan-kesulitan dari masyarakat dan membuat hidup mereka menjadi mudah. Hukum yang di maksud untuk menjamin kebutuhan hidup ini disebut dengan al-hukm al-hajj.
3. Membuat perbaikan-perbaikan bagi kehidupan masyarakat agar segala urusan sosial mereka menjadi lebih baik (tahsiniat). Ketiadaan perbaikan-perbaikan ini tidak membawa kekacauan dan anarkis, dan juga tidak membawa kesulitan-kesulitan hidup sebagaimana dua hal di atas. Sebab, perbaikan hanyalah upaya yang menyenangkan hidup dalam setiap urusan masyarakat. Kebutuhan tahsiniat mencakup kebajikan (virtues), cara-cara yang baik (good manner), dan setiap hal yang melengkapi bagi peningkatan pola hidup. Hukum yang di maksud memelihara kehidupan hidup masyarakat ini disebut dengan al-hukm al-tahsini.
Para ulama menyimpulkan bahwa tujuan pemidanaan di dalam hukum Al-qur‟an mencakup salah satu dari tiga tujuan, atau gabungan dari ketiganya yaitu:
1. Pembalasan atas kejahatan atau perbuatan pidana yang dilakukan 2. Memberi efek jera, sehingga tidak mengulangi perbuatan pidana