A.A Manik Pratiwi 1)
Putu Diah Kesumadewi, S.ST.Par., M.Par 2)
Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Dalam industri pariwisata diperlukan kerjasama pelaku pariwisata dalam memenuhi kebutuhan wisatawan saat berwisata di suatu daerah. Keberadaan transportasi online yang belum diterima oleh transportasi konvensional perlu disikapi secara cepat oleh pemerintah daerah. Hal ini untuk menghindari keributan dan tindak kriminalisasi pada driver transportasi online. Tujuan penelitian ini mengkaji persepsi pelaku pariwisata dan wisatawan terhadap keberadaan transportasi online dalam industri pariwisata Bali. Mengkaji kebijakan yang harus diterapkan oleh pemerintah daerah dalam menyikapi keberadaan transportasi online dalam industri pariwisata Bali. Lokasi penelitian di kawasan pariwisata Kabupaten Badung dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Berbeda dengan wisatawan yang memberikan respon positif terhadap keberadaan transportasi online, driver transportasi konvensional justru memberikan respon negatif terhadap keberadaan transportasi online. Wewenang untuk mengatur transportasi online ke pemerintah daerah diharapkan dapat mencegah keributan yang terjadi antara transportasi online dan transportasi konvensional.
Kata kunci : Transportasi online, Industri pariwisata, Bali
1. PENDAHULUAN
Transportasi online di Provinsi Bali berkembang dengan cepat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya driver transportasi online. Perkembangan transportasi online ini dibarengi dengan penolakan transportasi online di beberapa kawasan pariwisata di Bali. Pelarangan tersebut dilakukan oleh sopir taksi konvensional yang berbekal SK Gubernur No.551/2783/DPIK yang berisi pelarangan sementara operasional Uber Taxi dan Grab Car di Pulau Bali sampai ada petunjuk teknis dari pemerintah pusat (industri.bisnis.com). Dalam industri pariwisata diperlukan kerjasama pelaku pariwisata dalam memenuhi kebutuhan wisatawan saat berwisata di suatu daerah. Keberadaan
transportasi online yang belum diterima oleh transportasi konvensional perlu disikapi secara cepat oleh pemerintah daerah. Hal ini untuk menghindari keributan dan tindak kriminalisasi pada driver transportasi online. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana persepsi pelaku pariwisata dan wisatawan terhadap keberadaan transportasi online dalam industri pariwisata Bali? 2. Kebijakan apa yang harus
diterapkan oleh pemerintah daerah dalam menyikapi keberadaan transportasi online dalam industri pariwisata Bali?
Keutamaan penelitian ini adalah bagaimana mengelola transportasi online dan transportasi konvensional agar dapat bekerjasama sehingga bersama-sama dapat mendukung industri pariwisata Bali. Jadi dari penelitian ini akan dapat ditemukan kebijakan yang dapat diterapkan oleh pemerintah daerah dalam menyikapi keberadaan transportasi online dalam industri pariwisata Bali.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Transportasi Online
Transportasi online adalah alat transportasi yang menggunakan penerapan teknologi dalam hal pencarian penumpang, pembayaran dan sebagainya sehingga memudahkan pengguna transportasi online pada saat keadaan mendesak ataupun keadaan terburu-buru. Contoh transportasi online yang sangat marak di Indonesia adalah Ojek Online dan Taksi Online. Permasalahan yang Muncul Akibat Transportasi Online
Permasalahan yang kerap kali muncul adalah pertikaian antar pengemudi transportasi konvensional dengan transportasi online. Permasalahan utamanya adalah orang lebih memilih transportasi online yang relative lebih murah dan lebih mudah untuk dicari daripada transportasi konvensional yang ada. Dalam masalah ini sebaiknya kedua belah pihak saling mengulurkan tangan dan membangun kerjasama untuk bisnis yang lebih baik kedepannya. Dengan adanya penerapan teknologi pada transportasi yang memudahkan dan menarik banyak minat orang lain untuk menggunakan transportasi online, ditambah dengan banyaknya transportasi yang tersedia sehingga semakin banyak keuntungan yang didapat.
III. METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung (observasi), wawancara mendalam (depth interview), penyebaran angket (questioner). Penyajian hasil analisis data dapat dilakukan, baik secara formal (dalam bentuk tabel) maupun informal (dalam bentuk naratif).
IV. PEMBAHASAN
Persepsi Pelaku Pariwisata dan Wisatawan terhadap Keberadaan Transportasi Online dalam Industri Pariwisata Bali
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti melalui wawancara kepada driver transportasi online GoJek, Grab, dan Uber dapat dilihat bahwa wisatawan mulai tertarik menggunakan transportasi berbasis aplikasi untuk mengantarkannya ke suatu tempat ketika wisatawan tersebut berlibur di Bali. Fenomena yang dapat dilihat adalah wisatawan mulai melibatkan keberadaan internet sebagai kebutuhan untuk perjalanan termasuk mencari informasi dan transportasi selama berlibur di Bali.
Hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara menyatakan bahwa wisatawan menggunakan transportasi online karena sudah mendapatkan referensi dari teman atau kenalan yang sudah pernah menggunakan transportasi online baik di Bali ataupun luar Bali. Terdapat juga alasan budaya yang sudah terbiasa dalam memesan atau membeli secara online. Faktor persaingan harga juga merupakan faktor yang mempengaruhi karena wisatawan merasa lebih murah menggunakan transportasi online
! !
dibandingkan transportasi konvensional. Wisatawan lebih menyukai harga yang pasti yang ditampilkan aplikasi transportasi online daripada harus tawar-menawar pada transportasi konvensional dengan harga yang tidak pasti. Selain itu, variabel persepsi keamanan dan kepercayaan terhadap internet merupakan variabel yang penting bagi wisatawan, karena wisatawan merasa aman ketika memesan transportasi online yang mana identitas dari driver dapat diketahui pada aplikasi dan berada pada naungan perusahaan yang jelas dan terdaftar dan wisatawan dapat memberikan penilaian dan komentar pada layanan driver sesudah menggunakan transportasi online.
Berbeda dengan wisatawan yang memberikan respon positif terhadap keberadaan transportasi online, driver transportasi konvensional justru memberikan respon negatif terhadap keberadaan transportasi online. Sebagai pelaku pariwisata, driver transportasi konvensional beralasan bahwa masyarakatlah yang berhak berpartisipasi dalam industri pariwisata Bali. Dalam hal penyediaan sarana pendukung pariwisata seperti transportasi sudah disediakan oleh penduduk lokal di tiap daerah wisata. Penolakan transpotasi online di Kabupaten Badung yang merupakan daerah pariwisata terlihat dari banyaknya poster penolakan transportasi online di jalan menuju objek wisata di Kabupaten Badung.
DAFTAR PUSTAKA
Adler, Hans A, 1980. Evaluasi Ekonomi Proyek-Proyek Pengangkutan. (Terjemahan Paul SItohang). UI Press. Jakarta.
Djamin, Zulkarnain, 1993. Perencanaan dan analisa Proyek. Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Hadinoto, Kusudianto. 1996. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata. Jakarta: UI Press.
Kamalludin, Rustian, 2003. Transportasi Karakteristik, Teori dan Kebijakan. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
Bisnis. Bandung: : CV. Alfabeta.
Yoeti, Oka A. 1985. Budaya Tradisional yang Nyaris Punah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan !