• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberhasilan Indonesia dalam Pelaksanaan Aksi Ilkim

PERTUMBUHAN HIJAU BERKELANJUTAN

3.1.4 Keberhasilan Indonesia dalam Pelaksanaan Aksi Ilkim

Upaya untuk menangani permasalahan perubahan iklim atau lebih dikenal sebagai aksi iklim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Posisi

examples, tercermin dalam beberapa berikut.

• Implementasi sama pentingnya dengan peningkatan ambisi.

Indonesia memandang aksi nyata merupakan hal yang penting dan bahkan lebih penting dibandingkan dengan peningkatan komitmen dan janji yang tidak diwujudkan secara nyata;

• Indonesia leading by example, dengan capaian terutama di sektor berbasis lahan sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden dalam Pidato di COP26 Glasgow;

• Pentingnya sinergi aksi iklim dengan berbagai kepentingan lain, seperti poros maritim, TPB, ekonomi hijau, dan pertumbuhan hijau yang berkelanjutan.

Indonesia memiliki perjalanan panjang dalam partisipasi aktifnya di isu perubahan iklim, baik di tingkat internasional maupun nasional.

Perubahan iklim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan dan merupakan elemen penting yang sangat berpengaruh terhadap pencapaian berbagai tujuan dalam TPB. Salah satu peran penting Indonesia dalam isu iklim di tingkat internasional adalah dengan menjadi Presiden COP13 tahun 2007 di Bali yang telah menghasilkan Bali Action Plan yang merupakan pengakuan atas aksi iklim negara berkembang dan menjadi titik awal upaya penanganan iklim global di bawah Persetujuan Paris.

COP13 juga menjadi tonggak penting dalam aksi adaptasi serta menjadi titik awal upaya penanganan perubahan iklim melalui aksi di sektor kehutanan melalui Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD+).

Indonesia telah meratifikasi 3 (tiga) kesepakatan multilateral mengenai penanganan perubahan iklim, yaitu:

• Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC) melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change

Perubahan Iklim) sebagai negara Non-Annex I;

• Protokol Kyoto melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim)

• Persetujuan Paris dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan Iklim).

Persetujuan Paris memiliki pendekatan yang berbeda dengan Protokol Kyoto dengan adanya komitmen dari semua negara pihak dalam bentuk nationally determined contribution (NDC) untuk menurunkan emisi GRK, menekan terjadinya perubahan iklim, dan melakukan adaptasi atas dampak perubahan iklim. Indonesia telah menyampaikan NDC pertama (First NDC) pada November 2016 dengan komitmen untuk menurunkan emisi GRK sebesar target 29% dengan upaya sendiri dan hingga 41% dengan dukungan internasional dari emisi business as usual pada 2030. NDC Pertama Indonesia juga memasukkan komitmen untuk melakukan adaptasi di sektor-sektor rentan. Pada Juli 2021, Indonesia menyampaikan dokumen updated NDC tanpa perubahan angka target penurunan emisi GRK. Di dalam dokumen ini, fokus diberikan kepada target 41% dengan mencari peluang kerja sama internasional untuk mencapainya. Komitmen adaptasi dalam dokumen ini ditekankan pada pentingnya peningkatan ambisi iklim melalui aksi mitigasi global untuk dapat meningkatkan komitmen adaptasi. Di dalam dokumen ini juga ditambahkan peran penting sektor kelautan dalam aksi adaptasi, serta pengembangan Sistem Registri Nasional (SRN) yang memiliki peran strategis dalam upaya pengendalian perubahan iklim.

menyampaikan dokumen Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050) kepada Sekretariat UNFCCC pada Juli 2021. Dokumen ini mencakup visi jangka panjang (long-term vision) aksi iklim Indonesia, yang pada intinya menyatakan, implementasi LTS-LCCR selama periode 2021-2030 akan mengikuti implementasi dokumen Updated NDC Indonesia dan selanjutnya, akan diupayakan pencapaian NZE pada 2060 atau lebih awal.

Dalam COP26 Glasgow yang berlangsung pada akhir Oktober hingga pertengahan November 2021, Indonesia menyampaikan keberhasilan di sektor kehutanan dan lahan. Indonesia juga memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan dukungan dan kerja sama internasional untuk melakukan transisi energi menuju energi bersih dan terbarukan. Capaian di sektor kehutanan dan lahan ini juga menjadi bukti leading by examples sebagaimana yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam World Leaders Summit on Forest and Land Use. Elemen-elemen penting dalam pidato tersebut termasuk:

• Komitmen Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi dengan target net carbon sink sektor kehutanan dan lahan pada tahun 2030;

• Tingkat kebakaran hutan di Indonesia turun menjadi 82 persen di tahun 2020, sementara emisi GRK dari hutan dan tata guna lahan ditekan hingga 40,9 persen di tahun 2019 dibandingkan tahun 2015;

• Deforestasi hutan di Indonesia pada tahun 2020 mencapai tingkat terendah dalam 20 tahun terakhir di saat dunia tahun lalu kehilangan 12 persen lebih banyak hutan primer dibanding tahun sebelumnya, dan ketika banyak negara maju justru mengalami kebakaran hutan dan lahan terbesar sepanjang sejarah;

• Pentingnya memadukan pertimbangan lingkungan dengan ekonomi dan sosial dalam kebijakan pengelolaan hutan

dengan masyarakat seperti yang dilaksanakan melalui Program Perhutanan Sosial;

• Keberhasilan ini dicapai karena Indonesia menempatkan aksi iklim dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan.

Di dalam pidato ini juga disampaikan perspektif Indonesia untuk menjadikan hutan bagian dari aksi iklim global dengan isu penting sebagai berikut.

• Perhatian harus mencakup seluruh jenis ekosistem hutan, tidak hanya hutan tropis, tapi juga hutan iklim sedang dan boreal.

Indonesia juga telah mengubah paradigma, dari manajemen produk hutan menjadi manajemen lanskap hutan, sehingga pengelolaan area hutan menjadi lebih menyeluruh;

• Indonesia juga melakukan restorasi ekosistem mangrove yang berperan dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Indonesia memiliki lebih dari 20 persen total area mangrove dunia, dengan luasan 3,3 juta hektar. Indonesia memiliki program untuk memulihkan 600 ribu hektar hutan mangrove yang rusak hingga tahun 2024;

• Mekanisme insentif harus diberikan bagi pengelolaan hutan secara berkelanjutan, termasuk insentif pasar sebagai bagian tidak terpisahkan dari sertifikasi dan standar produksi untuk mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan bukan menjadi hambatan perdagangan;

• Sertifikasi, metodologi, dan standar harus didasarkan pada parameter yang diakui secara multilateral, tidak dipaksakan secara unilateral dan berubah-ubah;

• Sertifikasi harus berkeadilan dan harus mempertimbangkan semua aspek TPB, sehingga pengelolaan hutan sejalan dengan pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan

kesejahteraan para petani kecil;

• Mobilisasi dukungan pendanaan dan teknologi bagi negara berkembang merupakan kunci karena komitmen harus dilakukan melalui aksi nyata, implementasi nyata, bukan retorika;

• Memberikan bantuan bukan berarti dapat mendikte, apalagi melanggar hak kedaulatan suatu negara atas wilayahnya.

Dukungan harus country-driven, didasarkan pada kebutuhan riil negara berkembang;

• Indonesia akan terus melangkah maju, dengan atau tanpa dukungan. Hal ini dilakukan dengan pengembangan sumber-sumber pendanaan inovatif, di antaranya pendirian Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, penerbitan green bond dan green sukuk, serta pengembangan mekanisme Nilai Ekonomi Karbon sebagai insentif bagi pihak swasta dalam menurunkan emisi GRK;

• Penyalahgunaan isu climate change sebagai hambatan perdagangan adalah kesalahan besar dan akan menggerus kepercayaan terhadap kerja sama internasional mengatasi perubahan iklim, dan menghalangi pembangunan berkelanjutan yang justru sangat dibutuhkan. Pengelolaan hutan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan menjadi satu-satunya pilihan;

• Pengelolaan hutan harus dilakukan dengan pendekatan yang pro-environment, pro-development, dan people centered Untuk sektor energi, hingga saat ini Indonesia terus berusaha mengembangkan energi terbarukan mengingat tingginya potensi energi terbarukan di Indonesia. Pengembangan panas bumi terus dilakukan dengan segala tantangannya, termasuk tingginya biaya akibat risiko tinggi saat eksplorasi. Saat ini, total kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP)

peningkatan yang signifikan sebesar 510 MW dibandingkan tahun 2015 dengan total kapasitas terpasang 1.438,5 MW di 10 lokasi17. Selain panas bumi, capaian di sektor energi terbarukan juga dalam hal pemanfaatan energi surya dan energi bayu dalam jaringan listrik nasional, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di waduk Cirata dengan kapasitas 145 MWp dengan proyeksi produksi listrik hingga 200 GWh per tahun18. Selain pemanfaatan PLTS terpusat, dalam dua tahun terakhir telah terjadi perkembangan pesat pemanfaatan PLTS Atap, yang diharapkan akan semakin pesat dengan telah dikeluarkannya Peraturan Menteri ESDM tentang PLTS Atap. Di sisi lain, upaya transisi energi juga dilakukan dengan mengurangi konsumsi batubara di PLTU melalui program co-firing (dengan melakukan pencampuran biomasa sebagai bahan bakar sehingga akan menurunkan konsumsi batubara dan mengurangi emisi GRK yang dihasilkan).

Hingga saat ini, khususnya bagi daerah yang tidak terjangkau jaringan listrik nasional milik PT PLN, penyediaan listrik dilakukan dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Program penggantian PLTD dengan listrik berbasis energi terbarukan saat ini dilakukan melalui program Mentari (Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia). Penggantian ini bukan hanya akan menurunkan emisi GRK tetapi juga akan mengurangi belanja negara mengingat subsidi yang selama ini harus diberikan atas minyak diesel yang digunakan. Sejak tahun 2021, upaya di sektor energi juga dilakukan melalui program SINAR (Sustainable Energy for Indonesia’s

17 https://www.geothermal-energy.org/pdf/IGAstandard/WGC/2020/01073.pdf

18 https://www.esdm.go.id/id/berita-unit/direktorat-jenderal-ketenagalistrikan/plts-terapung-cirata-tingkatkan-bauran-ebt

miliar pendanaan publik dan privat untuk investasi di bidang energi terbarukan, efisiensi energi, dan sistem energi bersih terkini, (ii) mendukung pembangunan 2.000 MW energi terbarukan, serta (iii) meningkatkan akses energi bagi 5 juta penduduk. Saat ini, Kementerian ESDM melakukan koordinasi transisi energi melalui Friend of Indonesia Renewable Energy (FIRE Dialogue) untuk dukungan internasional bagi transisi energi di Indonesia.

Kementerian Luar Negeri terus memantau berbagai kesepakatan multilateral, mendorong kebijakan pertumbuhan ekonomi hijau serta mencapai tujuan TPB yang merata dan inklusif. Konsep pembangunan berkelanjutan yang dijelaskan di bab terdahulu, dalam kerangka Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan 5P (people, planet, prosperity, peace, partnership), terus menjadi prioritas dalam penerapannya di Indonesia. Di samping itu, upaya pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19 atau sering disebut build back better, perlu disertai dengan dorongan pemulihan ekonomi global yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, POJK Nomor 51 Tahun 2017, OJK telah meminta kepada lembaga keuangan jika memiliki dana CSR dapat dialihkan kepada proyek yang berkelanjutan (sustainable).

Untuk pasar global, POJK Nomor 51 Tahun 2017 telah memberikan perubahan yang cukup signifikan terkait transparansi dalam pembiayaan ramah lingkungan. Indonesia meraih peringkat tertinggi dari 27 negara akan kepercayaan publik terhadap keterbukaan informasi dalam Sustainable Report menurut hasil survei GlobeScan dan Global Reporting Initiative (GRI)

3.2 Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam

Mendukung Pertumbuhan Hijau Berkelanjutan

dalam menyampaikan laporan keberlanjutan. Hal ini juga akan meningkatkan kepercayaan investor yang lebih tinggi. Meskipun dunia dilanda krisis karena pandemi, namun proyeksi green bond tahun 2020 melebihi penerbitan green bond di tahun 2019.

Jika Indonesia dapat menawarkan produk green tadi ke pasar internasional maka pendanaan tidak menjadi masalah.

OJK juga sudah mengeluarkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II (Sustainable Finance Roadmap Phase II) 2021-2025 dengan mengembangkan ekosistem yang terdiri dari 7 (tujuh) komponen untuk mempercepat transisi sektor keuangan ke arah berkelanjutan, yang meliputi: kebijakan, produk, infrastruktur pasar, koordinasi Kementerian/Lembaga, dukungan non-pemerintah, sumber daya manusia, dan awareness. Pembentukan komponen dalam ekosistem keuangan berkelanjutan juga merupakan komitmen OJK dalam menciptakan regulasi yang transparan, membangun sinergi dengan Kementerian/Lembaga, dan meningkatkan kapabilitas industri keuangan.

Di sisi penawaran, OJK akan mengembangkan infrastruktur pendukung berupa produk pendanaan/investasi, teknologi dan informasi, kapasitas sumber daya manusia industri keuangan serta insentif. Di sisi permintaan, perlukan transformasi pasar untuk meningkatkan permintaan produk/

layanan keuangan serta dukungan program riil, pengembangan industri pendukung, dan sertifikasi green. Berbagai program juga akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan produk dan layanan keuangan berkelanjutan.

Beberapa prioritas yang akan menjadi landasan pengembangan keuangan berkelanjutan ke depan, termasuk: pengembangan taksonomi hijau, implementasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, pelaksanaan program riil, inovasi produk dan layanan keuangan, serta kampanye nasional keuangan berkelanjutan.

Beberapa badan usaha milik negara (BUMN), seperti Pertamina, PLN dan Semen Indonesia, telah memberikan dukungan terhadap