• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nationally Determined Contribution (NDC)

PERTUMBUHAN HIJAU BERKELANJUTAN

3.1.1 Nationally Determined Contribution (NDC)

Indonesia telah menyampaikan dokumen Updated NDC dengan proyeksi emisi BAU nasional dan target penurunan emisi GRK nasional yang sama dengan yang tertera dalam dokumen First NDC. Emisi BAU nasional tahun 2030 diproyeksikan sebesar 2.869 juta tCO2e dengan kontribusi sektor energi mencapai 58%

(setara dengan 1.669 juta tCO2e), sebagai sektor dengan emisi tertinggi, sedangkan emisi dari sektor berbasis hutan dan lahan atau forest and other land-use (FOLU) berkontribusi sebesar 25% (setara dengan 714 juta tCO2e). Indonesia menargetkan penurunan emisi sektor energi hingga 314 juta tCO2e dengan sumber daya domestik (unconditional), dan hingga 446 juta tCO2e dengan kerja sama internasional (conditional). Target di sektor FOLU masing-masing sebesar 497 juta tCO2e (unconditional) dan hingga 692 juta tCO2e (conditional).

Dalam dokumen Indonesia Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (Indonesia LTS-LCCR 2050), Pemerintah Indonesia menyampaikan target untuk mencapai kondisi net sink13 di sektor FOLU pada tahun 2030. Pencapaian target ini akan dicapai dengan berkurangnya deforestasi dan kerusakan lahan gambut yang akan mengemisikan GRK. Selain itu, upaya ini diharapkan dapat pula dicapai dengan adanya peningkatan penyerapan dari pertambahan hutan sekunder, kegiatan aforestasi dan kegiatan reforestasi.

13 Net sink adalah kondisi dimana penyerapan GRK di sektor ini lebih besar daripada emisi GRK yang dihasilkan. Hal ini berlaku di sektor berbasis hutan dan tata guna lahan (forestry and land use atau FOLU)

GRK. Upaya di sektor energi ini akan berlangsung dengan lebih terkendali, dengan dukungan kebijakan Pemerintah dan aturan hukum yang diberlakukan pada badan usaha di sektor energi.

Dengan aturan main yang jelas dalam pengembangan proyek energi terbarukan, pelaku usaha di sektor energi dapat memahami arah kebijakan Indonesia dalam jangka menengah dan panjang (misalnya estimasi biaya energi), sehingga mampu menyusun perencanaan kerja yang efektif dengan tingkat risiko relatif terukur.

Estimasi detail target NDC Indonesia untuk penurunan emisi GRK tahun 2030 dengan sumber daya domestik (unconditional) di tiap subsektor energi digambarkan pada Peta Jalan Implementasi NDC Mitigasi (Kementerian LHK, 2019). Diagram kontribusi tiap subsektor energi dari Peta Jalan Mitigasi tersebut menggambarkan energi terbarukan yang berperan untuk menurunkan emisi GRK lebih dari 183 tCO2e, atau hampir 60% dari keseluruhan target sektor energi di tingkat nasional.

Gambar.1 Target Penurunan Emisi GRK (Unconditional) Sektor Energi Tahun 2030

Sumber: Peta Jalan Implementasi NDC Mitigasi (Kementerian LHK, 2019)

Peta Jalan Mitigasi juga menjelaskan besaran energi (dalam satuan ktoe, kilotonnes oil equivalent atau ribu ton setara minyak) dari setiap aktivitas subsektor energi pada diagram sebelumnya, yang menunjukkan target penurunan emisi GRK 2030 (dengan satuan juta ton CO2e). Secara rata-rata pada sektor energi, indikasi penurunan emisi GRK diperkirakan dapat mencapai 5.000 tCO2e untuk setiap 1 ktoe yang diperkirakan akan diimplementasikan dalam aktivitas mitigasi.

Kotak. 4 Rincian Target Penurunan Emisi GRK Sektor Energi Kegiatan Aksi Mitigasi dan Target

Penurunan Emisi GRK 2030 Rincian Aksi Mitigasi dan Target 2030 Penerapan tindakan

efisiensi energi

Penerapan tindakan efisiensi energi di rumah tangga dengan target penurunan emisi GRK indirect 25,87 juta ton CO2e

Penghematan energi rumah tangga:

• Listrik 2.245 ktoe Target penurunan emisi

GRK 2030 sebesar 41,76 juta ton CO2e

Penerapan tindakan efisiensi energi komersial dengan target penurunan emisi GRK indirect 1,91 juta ton CO2e

Penghematan energi komersial:

• Listrik 165 ktoe

Penerapan tindakan efisiensi energi industri dengan target penurunan emisi GRK 21,41 juta ton CO2e dan penurunan emisi GRK indirect 10,28 juta ton CO2e

Penghematan energi industri:

• Batubara 3.302 ktoe

• BBM 586 ktoe

• Gas 1.649 ktoe

• Listrik 892 ktoe Penerapan tindakan efisiensi

energi transportasi dengan target penurunan emisi GRK 20,35 juta ton CO2e

Penghematan energi transportasi:

BBM 6.395 ktoe

Penggunaan EBT (Energi Baru Terbarukan)

Penggunaan EBT untuk kegiatan industri dengan target penurunan emisi GRK 27,28 juta ton CO2e

Penambahan penggunaan biomasa dan BBN dibanding 2010: 4.775 ktoe dan 4.792 ktoe.

Target penurunan emisi GRK 2030 sebesar 183,66 juta ton CO2e

Penggunaan EBT untuk pembangkit listrik dengan target penurunan emisi GRK 93,71 juta ton CO2e Penggunaan EBT untuk

transportasi dengan target penurunan emisi GRK 62,66 juta ton CO2e

Penambahan penggunaan biofuel dibanding 2010: 20.041 ktoe

Penerapan teknologi pembangkit listrik energi bersih

Pembangkit listrik menggunakan clean coal technology (CCT) dengan target penurunan emisi GRK 39,34 juta ton CO2e

• Pembangkit Listrik CCT super critical sebesar 1.777 ktoe

• Pembangkit Listrik CCT ultra super critical (USC) sebesar 5.978 ktoe

Kegiatan Aksi Mitigasi dan Target

Penurunan Emisi GRK 2030 Rincian Aksi Mitigasi dan Target 2030 Target penurunan emisi

GRK 2030 sebesar 74,00 juta ton CO2e

Power gas dengan target penurunan emisi GRK 34,66 juta ton CO2e

PLTG dan PLTGU Gas 7.852 ktoe

Fuel Switching

Target penurunan emisi GRK 2030 9,59 juta ton CO2e

Penggantian minyak tanah dengan gas di rumah tangga dengan target penurunan emisi GRK sebesar 9,59 juta ton CO2e

Penambahan penggunaan gas di rumah tangga dibandingkan tahun 2010:

6.610 ktoe Reklamasi lahan bekas

tambang sektor energi (di sektor AFOLU)

Target penurunan emisi GRK 5 juta ton CO2e

Kotak. 4 Rincian Target Penurunan Emisi GRK Sektor Energi

Sumber: Peta Jalan Implementasi NDC Mitigasi (Kementerian LHK, 2019)

Penurunan emisi GRK di sektor energi telah didukung kebijakan teknis Kementerian ESDM yang dijalankan beberapa kelompok BUMN, seperti Pertamina, PLN, dan PTPN, di samping investasi swasta nasional dan asing. Subsektor energi terbarukan, seperti PLTA (pembangkit listrik tenaga air), PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi), PLTBm (pembangkit listrik tenaga biomasa), PLTBg (pembangkit listrik tenaga biogas), PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dan PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu) telah mencapai orde kapasitas Gigawatt, secara nasional.

Di samping konsumsi bahan bakar nabati, BBN (biodiesel) yang terus naik, pengembangan listrik terbarukan akan terus ditingkatkan dalam 30 tahun ke depan untuk dapat menggantikan hampir seluruh pembangkit berbasis energi fosil (batubara, gas dan minyak bumi, serta minyak diesel) yang saat ini beroperasi.

Dengan penggunaan 100% pembangkit energi terbarukan pada dekade 2050-an, diharapkan Indonesia dapat mencapai NZE di bidang ketenagalistrikan sebelum tahun 2060.

di Indonesia

Inisiatif NZE sektor energi di Indonesia diawali dengan dikeluarkannya inisiatif Menteri ESDM Arifin Tasrif (bersama Ditjen Ketenagalistrikan) dalam laporan14 April 2021 Namun demikian, inisiatif yang cukup progresif ini belum terakomodasikan dalam dokumen Long Term Strategy – Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) dan dokumen Updated NDC yang telah disampaikan Kementerian LHK kepada Sekretariat UNFCCC.

Dalam Distas, Kementerian ESDM menyampaikan bahwa:

• Upaya peningkatan kontribusi energi terbarukan di Indonesia sejalan dengan arahan Presiden untuk mendorong peralihan transisi energi dan ekonomi ke arah energi bersih dan ekonomi hijau;

• Secara umum, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia sudah cukup besar, namun implementasinya masih dapat dioptimalkan kembali, mengingat potensinya yang jauh lebih besar sebagai upaya untuk mendukung ketahanan energi;

• Dalam jangka panjang, energi terbarukan akan memainkan peran besar dalam transisi penyediaan energi menuju NZE 2060 secara nasional.

Program Pemerintah menuju NZE diterjemahkan dalam Peta Jalan yang memberikan mandat pengembangan energi terbarukan secara masif, inisiatif retirement PLTU secara bertahap, serta reduksi emisi karbon melalui pengurangan konsumsi energi fosil.

14 Kementerian ESDM,.’Strategi Cerdas Sektor Ketenagalistrikan dan Utilitas untuk Mencapai Karbon Netral Indonesia Tahun 2050’. Jakarta, April 2021

Gambar.2 Peta jalan menuju target NZE

Sumber: Ditjen EBTKE (Kementerian ESDM)15

15 Disampaikan pada Distas Pusat Strategi Kebijakan Multilateral, Kementerian Luar Negeri, 22 September 2021

Beberapa tantangan pengembangan energi terbarukan antara lain:

• Potensi yang besar, namun tersebar;

• Sifat intermiten untuk pembangkit VRE (variable renewable energy) seperti tenaga angin dan tenaga surya;

• Produk pendukung infrastruktur energi terbarukan relatif masih mahal (beberapa bahan mentah/dasar masih diimpor);

• Rendahnya ketertarikan perbankan untuk berinvestasi di proyek energi terbarukan, karena adanya persepsi risiko tinggi;

• Sumber pembiayaan dalam negeri saat ini masih menawarkan pinjaman berbunga tinggi, dan tenor pengembalian yang singkat;

menyerap pasokan listrik dari pembangkit terbarukan.

Untuk mengatasi berbagai tantangan itu, Kementerian dan Lembaga Pemerintah perlu berkoordinasi erat dalam menyusun strategi jangka panjang. Semua pemangku kepentingan diharapkan dapat berpartisipasi dan berkolaborasi dalam pengembangan energi terbarukan sebagai bagian utama dalam upaya pencapaian NZE di sektor energi. Emisi GRK sektor energi pada 2021 sekitar 519 juta tCO2e, diperkirakan puncak emisi akan terjadi pada 2040 (sekitar 686 juta tCO2e) dan setelah itu akan terjadi penurunan emisi dengan berakhirnya kontrak pembangkit fosil, terutama PLTU batubara.

Dengan kondisi ini, NZE sektor pembangkit dapat terjadi pada 2060. Namun, emisi GRK di sektor energi masih akan tetap ada (sekitar 401 juta tCO2e) akibat pemanfaatan energi langsung di luar pembangkitan listrik seperti terlihat di gambar berikut.

Gambar.3 Emisi GRK Sektor Energi

16 Disampaikan pada Distas Pusat Strategi Kebijakan Multilateral, Kementerian Luar Negeri, 22 September 2021

Sumber: Ditjen EBTKE (Kementerian ESDM)16

Dalam pelaksanaan TPB, Indonesia telah berperan aktif sejak awal dan memiliki komitmen tinggi dalam mengimplementasikannya, baik di tingkat nasional maupun subnasional. Hal ini terbukti dengan dikeluarkan dan diimplementasikannya Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah menghasilkan 3 (tiga) dokumen penting sebagai acuan pelaksanaan TPB di Indonesia, yaitu: Rencana Aksi Nasional (RAN) periode 2017-2019, Rencana Aksi Daerah (RAD) dan Peta Jalan SDGs Indonesia menuju 2030.

Perpres tersebut merupakan landasan dan payung hukum bagi semua pihak dalam melaksanakan TPB. Sebagai bagian penting dari pelaksanaan TPB, Indonesia juga telah memiliki metadata indikator TPB, peta jalan TPB, dan pedoman teknis pemantauan dan evaluasi TPB. Dengan prinsip utama TPB, yaitu memastikan tidak ada satupun yang tertinggal atau no one left behind, keberhasilan Indonesia telah diakui dan menjadi contoh bagi negara yang lain.

Indonesia telah mengeluarkan dokumen Laporan TPB tahun 2019 yang menjadi laporan tahunan kinerja TPB pertama. Pemerintah Indonesia telah secara sukarela melakukan pelaporan implementasi TPB ini di tingkat internasional melalui Voluntary National Reviews (VNR) pada tahun 2017, 2019, dan 2021 kepada High-Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF SD). VNR merupakan laporan capaian TPB atas 17 Tujuan (Goals) yang disusun berdasarkan prinsip keterbukaan dan inklusivitas. Pada tahun 2017, dokumen VNR Indonesia ditetapkan oleh PBB sebagai salah satu dokumen VNR terbaik sehingga Indonesia diminta untuk mengikuti SDGs Investment Fair pada April 2019. Pada tahun 2019, VNR Indonesia kembali mendapatkan apresiasi karena hal berikut:

• Mencakup target SDG 16 dengan data terdisagregasi.

• Spesifik menampilkan peran perempuan dalam implementasi SDG 16.

pemuda dalam pencapaian SDG16.

Capaian dari setiap Tujuan TPB Indonesia dalam VNR tahun 2019 mencakup sejumlah hal antara lain:

• Tujuan 1 tanpa kemiskinan: tingkat kemiskinan di Indonesia menurun. Penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan nasional pada tahun 2009 sebesar 14,15 persen berhasil diturunkan menjadi 9,22 persen pada tahun 2019.

• Tujuan 2 tanpa kelaparan: ketahanan pangan nasional telah meningkat selama 4 tahun terakhir. Selain itu, kualitas konsumsi pangan masyarakat Indonesia juga membaik.

• Tujuan 3 kehidupan sehat dan sejahtera: hal ini mencakup peningkatan kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, peningkatan akses kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB), serta peningkatan cakupan jaminan kesehatan nasional.

• Tujuan 4 pendidikan berkualitas: pendidikan anak usia dini menunjukkan hampir semua anak usia 6 tahun memperoleh pelayanan pembelajaran terorganisir baik di tingkat Pra-sekolah (Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD) maupun di tingkat sekolah dasar.

• Tujuan 5 kesetaraan gender: masih ada tantangan dalam isu kesetaraan gender melihat kekerasan terhadap perempuan masih meningkat. Selain itu, pencegahan perkawinan anak belum mencapai target Roadmap SDGs.

• Tujuan 6 air bersih dan sanitasi layak: akses penduduk Indonesia terhadap layanan sumber air minum layak meningkat menjadi 89,27 persen pada tahun 2019.

• Tujuan 7 energi bersih dan terjangkau: telah terjadi kenaikan konsumsi listrik nasional, di mana pada tahun 2019 menjadi 1.084 kWh/kapita dari sebelumnya di tahun 2015 sebesar

dari sebesar 84,35 persen pada tahun 2014, menjadi 98,89 persen pada tahun 2019.

• Tujuan 8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi: antara 2015-2019 Pemerintah berhasil menciptakan 11,88 juta lapangan kerja baru.

• Tujuan 9 industri, inovasi dan infrastruktur: terjadi kemajuan infrastruktur seperti peningkatan pembangunan jalan tol serta kondisi jalan nasional yang semakin membaik.

• Tujuan 10 berkurangnya kesenjangan: terlihat dari penurunan angka kemiskinan dari 11,13 pada tahun 2015 menjadi 9,22 pada tahun 2019. Selain itu, terjadi percepatan pembangunan desa.

• Tujuan 11 kota dan permukiman yang berkelanjutan: persentase rumah layak huni dan terjangkau pada tahun 2019 mencapai 56,51 persen.

• Tujuan 12 konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab:

Indonesia memiliki komitmen melaksanakan the 10-Years Framework of Programmes on Sustainable Consumption and Production Patterns. Selain itu, produk ramah lingkungan yang terdaftar mengalami peningkatan dari tahun 2016 sampai 2019.

• Tujuan 13 penanganan perubahan iklim: sampai tahun 2019 capaian penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 23,46 persen dari baseline secara akumulatif. Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) juga mengalami penurunan dari 169,6 di tahun 2015 menjadi 130,4 pada tahun 2019.

• Tujuan 14 ekosistem lautan: Indonesia telah membagi manajemen perikanan ke dalam 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), sehingga pemantauan penangkapan ikan dan kegiatan lain terkait perikanan dapat dilakukan secara seimbang.

luas kawasan konservasi terdegradasi yang telah dipulihkan terus mengalami peningkatan.

• Tujuan 16 perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh: akses bantuan hukum kepada masyarakat miskin menunjukkan peningkatan signifikan. Selain itu, jumlah penerima akta kelahiran menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Dalam VNR 2021, Indonesia mengangkat tema Sustainable and resilient recovery from the COVID-19 pandemic for the achievement of the 2030 Agenda. Laporan tersebut telah dipaparkan oleh Menteri Bappenas pada HLPF on Sustainable Development pada 15 Juli 2021. Fokus utama Laporan VNR 2021 Indonesia mencakup 9 Tujuan, yakni: Tujuan 1 (Tanpa Kemiskinan), Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan), Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 10 (Berkurangnya Kesenjangan), Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), Tujuan 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai TPB).

Secara umum, pencapaian TPB berjalan lambat sejak 2020 akibat COVID-19. Akan tetapi, Laporan VNR 2021 menunjukkan bahwa momentum ini sangat tepat untuk melakukan transformasi menuju green economy, reformasi sistem kesehatan nasional, reformasi sistem perlindungan sosial, dan reformasi sistem ketahanan bencana.

3.1.4 Keberhasilan Indonesia dalam Pelaksanaan