PENDANAAN UNTUK PENCAPAIAN
5.5 Tantangan Implementasi Skema Pendanaan
Aksi iklim yang merupakan salah satu upaya pencapaian TPB membutuhkan biaya yang sangat besar. Beberapa skema pendanaan untuk pemenuhan biaya tersebut membutuhkan kontribusi investasi swasta dan akses pendanaan internasional termasuk multilateral, untuk melengkapi sumber-sumber pembiayaan publik yang tersedia.
Tantangan bagi inisiatif pertumbuhan hijau berkelanjutan di Indonesia untuk mengakses pendanaan multilateral cukup beragam. Beberapa inisiatif yang ada telah mendapat dukungan dari program bimbingan teknis dan kelembagaan sebagai salah satu prasyarat kemampuan pengelolaan pendanaan multilateral oleh institusi penanggung jawab aktivitas, misalnya dalam menyampaikan proposal pendanaannya.
Tabel berikut memberikan gambaran berbagai tantangan dan opsi solusi pendanaan pertumbuhan hijau berkelanjutan.
## Isu Pendanaan
[Pelaku] Tantangan Dukungan yang
Diperlukan Skema Pendanaan Sederhana
AA.1 Akses ke lembaga penyedia jasa pendanaan proyek skala kecil dan skala menengah [Koperasi, BUMDes, BUMD]
Lokasi
Koperasi, BUMDes atau BUMD tidak selalu dapat menjangkau daerah yang relatif jauh dari lokasi mereka
Cakupan bidang kerja Pendanaan usaha tani atau perdagangan mungkin dilayani lembaga keuangan yang berbeda, tidak selalu sesuai kebutuhan
Perlu pendampingan program dari badan usaha/lembaga/
organisasi yang memiliki kompetensi.
Perlu menambah jumlah lembaga penyedia jasa pendanaan skala kecil/
menengah yang dapat menjangkau wilayah jauh, dan mencakup lebih banyak bidang usaha yang memerlukan pendanaan AA.2 Kapasitas tenaga
pengelola pendanaan [lembaga keuangan]
Kapasitas tenaga pengelola proyek [pemilik proyek]
Kemampuan modal lembaga pendanaan
Keterbatasan jumlah pendanaan per nasabah serta keterbatasan asesor penilai kelayakan Kemampuan pengelolaan usaha kecil
Risiko pinjaman macet, usaha gagal, atau cicilan terlalu mahal akibat bunga tinggi
Pengawasan OJK ke lembaga keuangan
Kemudahan pinjaman yang berlebihan (terutama dengan adanya pinjaman online), kredibilitas rendah, cicilan macet akibat bunga tinggi
Perlu peningkatan kapasitas lembaga pendanaan dan staf asesor penilai kelayakan (termasuk kemudahan prosedur kerja asesor) Perlu peningkatan kapasitas kelompok masyarakat yang membutuhkan pendanaan agar memahami prosedur pinjaman yang baik, termasuk risiko cicilan dan bunga Keduanya dimaksudkan untuk mencegah nasabah terlibat pinjaman yang memberatkan dengan bunga tinggi, jika analisa risiko tidak memadai
AA.3 Kepastian volume pasar dan harga, pengaruh ke nilai penerimaan usaha [pemilik proyek, pembeli/buyers]
Nilai transaksi komersial Stabilitas harga jual, misalnya pada saat panen produksi pertanian, ada kalanya terlalu fluktuatif dengan dinamika sulit
Perlu dukungan kepastian pemasaran hasil usaha (termasuk kepastian harga jual yang baik) untuk mencegah kegagalan cicilan, misalnya
## [Pelaku] Tantangan Diperlukan Antisipasi dampak
perubahan iklim, skema adaptasi/kebencanaan iklim, seperti opsi asuransi petani (benih) atau nelayan
diprediksi, misalnya akibat pengaruh harga internasional, atau logistik pemasaran kurang lancar di daerah tertentu Nilai transaksi komersial Kurangnya diversifikasi, misalnya produk pertanian, sehingga waktu panen di beberapa daerah yang berdekatan cenderung mengganggu kompetisi akibat volume panen terlalu besar sehingga harga jatuh dan terjadi disrupsi pasar
pemasaran lewat koperasi dengan harga pembelian stabil yang didukung Pemerintah Daerah atau skema tata niaga komoditas yang sesuai dengan kebutuhan (termasuk memenuhi prosedur
perlindungan lingkungan)
AA.4 Penyediaan kolateral, atau aset untuk agunan pinjaman [pemilik proyek]
Kebijakan
Aturan Menteri Keuangan mengenai penjaminan relatif baru Implementasi Lembaga/ badan usaha penjaminan pinjaman masih belum terlalu luas ke berbagai daerah (untuk skema pinjaman skala kecil/menengah) Skema Pendanaan Besar
BB.1 Keterbatasan kemampuan ekuitas [pemilik proyek]
Kapasitas keuangan badan usaha
Pengusaha nasional di luar grup usaha besar memiliki kemampuan keuangan perusahaan yang cenderung terbatas, untuk memenuhi persyaratan kesanggupan lelang (tender)
Perlu skema joint-venture untuk usulan proyek dari pengusaha daerah yang prospektif, keberadaan investor luar dapat memperbaiki risk-profile
BB.2 Besaran plafon pendanaan hutang loan-investment [Bank, investor luar]
Prosedur dan aturan persetujuan pinjaman Nilai pinjaman proyek besar perlu memenuhi kriteria risiko yang terukur, sehingga kesanggupan bank untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhan
Perlu akses ke pengusaha di tingkat provinsi untuk opsi blended-financing yang dikoordinasikan oleh lembaga jasa keuangan dengan kompetensi menstrukturkan alternative-financing
## [Pelaku] Tantangan Diperlukan pendanaan cenderung terbatas
(bank juga berharap ada pendanaan pihak ketiga untuk mendampingi risiko)
BB.3 Proposal pembiayaan proyek tidak bankable, investment returns jangka panjang [pemilik proyek, penilai proposal pinjaman]
Prosedur analisa risiko pinjaman
Investasi hijau dengan teknologi relatif baru yang belum banyak digunakan mungkin akan menambah besarnya risiko pinjaman
Perlu peningkatan kapasitas pemilik proyek untuk menyusun proposal pendanaan, termasuk kualitas engineering design, dan klausul komersial/
transaksi yang lebih transparan, juga kejelasan aturan/ hukum, untuk memperbaiki project-risks-profile
Perlu peningkatan kapasitas penilai proposal pinjaman untuk memahami isu teknis sesuai dengan teknologi yang diusulkan
BB.4 Kontrak pembelian jangka panjang market stability [pemilik proyek, offtaker company/buyer]
Pengakuan kontrak offtaker oleh bank/lembaga pemberi pinjaman
Project-financing tidak diberikan karena bank tidak menerima risiko kontrak buyer/offtaker
Perlu kejelasan risks-sharing yang lebih sesuai dan adil, antara pihak pemilik proyek (selaku seller) dan pembeli (offtaker/buyer)
Dana publik mungkin dibutuhkan untuk mendampingi pinjaman bank komersial atau pendanaan swasta, mengakomodir beberapa komponen risiko yang tidak diterima bank
Perlu dukungan kebijakan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan untuk melancarkan prosedur struktur alternative-financing (termasuk skema project-finance yang berbeda dengan corporate-finance umumnya)
Skema Pendanaan Multilateral CC.1 Implementasi prosedur
mengakses pendanaan
Kelembagaan domestik Kurangnya lembaga nasional yang terakreditasi untuk dapat
Perlu memanfaatkan peluang dana readiness, yang ada di lembaga pendanaan multilateral, bagi
## [Pelaku] Tantangan Diperlukan mengakses pendanaan
multilateral
Sumber daya manusia untuk akreditasi
Kemampuan staf lembaga nasional yang diperlukan untuk menyelesaikan prosedur akreditasi lembaga untuk akses pendanaan multilateral belum cukup memadai
upaya peningkatan kapasitas calon lembaga dan otoritas yang ditunjuk di Indonesia Pentingnya accredited entities di tingkat nasional untuk meningkatkan direct access dan memastikan proyek yang diajukan sesuai dengan kebutuhan dan strategi nasional CC.2 Implementasi prosedur
mengajukan proposal pendanaan
Kelembagaan domestik Kurangnya kemampuan lembaga nasional dalam menyusun proposal dan kelengkapannya yang sesuai dengan kriteria yang diminta oleh pendanaan multilateral
Perlu adanya pendampingan dari tim yang telah
berpengalaman secara internasional dalam memperoleh skema pendanaan, untuk menyusun persiapan proposal bagi proyek yang akan mengajukan pendanaan
CC.3 Roadmap kebutuhan pendanaan proyek pendanaan dalam negeri
Tata kelola untuk akses pendanaan
Tidak adanya country strategic program yang dapat memudahkan penentuan jenis pendanaan multilateral yang sesuai kebutuhan
Perlu adanya country strategic program dan harus disepakati oleh berbagai pihak di Indonesia Country strategic program perlu mencakup aksi mitigasi dan adaptasi lengkap dengan dukungan implementasi aksi yang diperlukan, baik multilateral maupun bilateral
Country strategic program tidak hanya berbasis isu atau sektor tetapi juga berbasis wilayah
pendanaan dan pembiayaan dari pihak internasional, Kementerian Luar Negeri memiliki peran kunci dalam negosiasi di tingkat bilateral maupun multilateral. Untuk tingkat bilateral, negosiasi yang dilakukan akan lebih bersifat straightforward berdasarkan kepentingan masing-masing pihak dengan prinsip kesetaraan dan kemitraan. Namun demikian, mengingat adanya pengaturan lain secara multilateral, misalnya terkait isu perubahan iklim, maka dalam negosiasi bilateral perlu pula diperhatikan implikasinya terhadap komitmen dan pengaturan multilateral ini. Sebagai ilustrasi, di bawah UNFCCC, negara maju diberikan kewajiban untuk memberikan dukungan pendanaan bagi negara berkembang dan hal ini harus dilaporkan secara berkala sebagai bentuk transparansi. Hal yang sama juga harus dilakukan bagi negara penerima dukungan. Oleh karena itu, perlu dipastikan apakah pendanaan tersebut akan masuk sebagai pendanaan iklim atau merupakan pendanaan pembangunan.
Sementara itu, untuk tataran multilateral (dalam hal ini berupa pendanaan iklim), selain isu utama berupa masih terbatasnya pendanaan yang berhasil didapatkan oleh Indonesia, isu lain adalah mengenai peran Indonesia sebagai anggota dari berbagai lembaga terkait dengan mekanisme pendanaan iklim multilateral tersebut.
Keanggotaan di berbagai lembaga tersebut diatur di bawah UNFCCC dan pada umumnya keanggotaan ini dalam kapasitas wakil regional PBB. Dalam hal ini, Indonesia berada di regional Asia-Pasifik yang bukan hanya terdiri dari negara berkembang tetapi juga negara maju.
Kementerian Luar Negeri bersama dengan Kementerian LHK perlu berkoordinasi dan membuat strategi pencalonan yang tepat dan paling bermanfaat bagi Indonesia. Mengingat keanggotaan ini mewakili regional, maka negosiasi yang perlu dilakukan adalah di dalam regional Asia-Pasifik yang selama ini didominasi oleh India, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan. Penguasaan peta politik isu-isu global, bukan hanya terkait perubahan iklim, merupakan kunci untuk dapat memiliki posisi tawar yang kuat dalam proses negosiasi di regional ini.