• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Sumber Daya Energi yang Efisien dan Menurunkan Emisi GRK

PERTUMBUHAN HIJAU BERKELANJUTAN DI

4.1 Implementasi di Bidang Energi

4.1.1 Penggunaan Sumber Daya Energi yang Efisien dan Menurunkan Emisi GRK

Sebagai modal pembangunan ekonomi masing-masing jenis energi memiliki keterbatasan, dan karenanya harus dikelola secara lebih bijak dan bertanggungjawab.

energi tinggi dan penggunaan yang mudah memiliki kelemahan mendasar, yaitu keterbatasan sumber daya yang ada serta lokasi yang tidak merata di seluruh Indonesia. Hal ini akan meningkatkan biaya produksi dengan berjalannya waktu selain biaya transportasi dari lokasi sumber ke lokasi pemanfaatannya. Selain itu, energi berbasis fosil pasti akan menghasilkan emisi GRK yang tinggi karena kandungan karbon yang ada di dalamnya.

Di sisi lain, sumber daya berbasis energi terbarukan di Indonesia jumlahnya relatif berlimpah dan beberapa di antaranya tersedia di seluruh wilayah Indonesia, seperti energi surya. Energi terbarukan juga pada umumnya tidak menghasilkan emisi GRK. Namun, energi terbarukan juga memiliki beberapa kelemahan, seperti rendahnya intensitas energi yang dihasilkan jika dibandingkan dengan energi fosil. Sebagai contoh, untuk menghasilkan jumlah listrik yang sama akan diperlukan antara 3-6 kali kapasitas terpasang PLTS dibandingkan PLTU. Selain itu, beberapa jenis energi terbarukan, dalam hal ini surya dan bayu (angin), akan menghasilkan energi yang berfluktuasi akibat variasi intensitas sinar matahari maupun variasi kecepatan angin yang terjadi.

Menyadari tantangan dan dampaknya, maka pemanfaatan energi berbasis fosil perlu dibatasi hanya untuk kebutuhan yang memang belum dapat digantikan oleh energi terbarukan, seperti bahan bakar transportasi laut dan udara, minyak solar atau avtur (kerosin) yang memiliki spesifikasi kualitas tertentu yang belum dapat sepenuhnya memanfaatkan sumber energi terbarukan serta kebutuhan intensitas energi tinggi untuk proses pembakaran di industri besi dan baja.

Secara bertahap bahan bakar untuk transportasi darat mulai memanfaatkan energi terbarukan yang dikonversi menjadi listrik sehingga diharapkan dalam waktu dekat tidak lagi dibutuhkan

emisi GRK, penggantian ini juga akan menghemat anggawran belanja negara yang selama ini digunakan untuk mengimpor maupun memberikan subsidi BBM dan BBG.

Dalam FGD dan rangkaian Distas, disampaikan beberapa

strategi, rencana, dan kebutuhan di bidang energi sebagai berikut.

Dalam pertumbuhan dan ekonomi hijau:

• Sumber energi bagi sektor transportasi, pemukiman domestik, dan industri harus didorong untuk menggunakan energi terbarukan, hingga 100%, dalam 30-40 tahun ke depan. Dalam rangka mencapai target NZE sektor energi, khususnya ketenagalistrikan, Kementerian ESDM dan PLN mengupayakan digantikannya penggunaan batubara secara bertahap dan dengan menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan dalam skala yang lebih masif dan dalam waktu yang lebih singkat. Saat ini, pemanfaatan gas dan minyak menjadi opsi transisi karena pertumbuhan energi terbarukan belum cukup agresif.

• Di sektor industri, Kementerian Perindustrian telah menerapkan standar industri hijau yang mensyaratkan proses produksi yang efisien sumber daya, rendah limbah/polutan/emisi, pemanfaatan energi terbarukan, dan implementasi strategi proses zero-waste.

• Kemampuan sumber daya manusia dalam memahami dan menerapkan strategi kerja yang efisien sumber daya perlu dibarengi dengan keahlian tertentu, termasuk untuk melakukan monitoring-pelaporan-verifikasi (MRV) emisi GRK sebagai upaya untuk memantau tingkat pencapaian target emisi GRK nasional.

• Penerapan instrumen nilai ekonomi karbon (NEK), termasuk melalui mekanisme pasar domestik, pembayaran berbasis kinerja, maupun penerapan pungutan atau pajak

opsi yang lebih bersih dan rendah emisi GRK.

• Adanya perkembangan global seperti perdagangan dan pasar karbon internasional, baik di bawah Persetujuan Paris, di bawah ICAO (International Civil Aviation Organization) melalui CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan rencana implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Uni Eropa.

Indonesia harus memanfaatkan perkembangan ini untuk mendukung pertumbuhan hijau dan pembangunan rendah karbon di Indonesia.

Dalam pertumbuhan dan ekonomi biru:

• Pemanfaatan BBN atau teknologi alternatif rendah karbon lainnya akan mengurangi konsumsi energi fosil dan mengurangi emisi GRK dari sarana transportasi air dan laut.

• Pengelolaan pelabuhan dengan aplikasi teknologi maju, baik di sisi perairan (sea-side) maupun di sisi darat (land-side) akan meningkatkan efisiensi waktu, dan menghemat konsumsi bahan bakar.

• Peningkatan keterampilan sumber daya manusia untuk penerapan praktik manajemen pelabuhan yang baik (port-management) pada gilirannya akan berkontribusi positif terhadap sektor ekonomi lainnya dengan adanya pelayanan pelabuhan yang hemat biaya, hemat waktu, dan hemat sumber daya.

• Di sisi lain, sarana dan prasarana maritim dan pelabuhan sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti peningkatan intensitas cuaca ekstrem yang mengakibatkan gelombang tinggi, hingga dampak yang bersifat permanen seperti kenaikan muka air laut. Diperlukan peningkatan ketahanan iklim (resiliensi) serta aksi adaptasi, terutama di kota pelabuhan, masyarakat pesisir dan kepulauan, serta

menekan dampak negatif terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan ketahanan iklim ini adalah dengan pemanfaatan energi terbarukan yang sesuai dengan kondisi setempat sehingga ketergantungan pada pasokan energi dari luar wilayah (terutama bagi masyarakat kepulauan) dapat dihilangkan.

• Secara global, saat ini sedang dilakukan pembahasan mengenai penerapan carbon pricing untuk pelayaran internasional di bawah International Maritime Organization (IMO). Diperlukan posisi yang kuat untuk mendapatkan manfaat dari dana yang akan dikutip dari berbagai maskapai pelayaran internasional yang ada untuk membantu aksi iklim di Indonesia.

Sebagaimana disampaikan, kebutuhan pendanaan dan pembiayaan untuk mendukung transisi energi menjadi energi rendah emisi merupakan tantangan terberat bagi implementasinya di Indonesia.

Indonesia dapat memanfaatkan janji negara maju dalam melaksanakan upaya ini. Opsi pertama adalah menagih janji ODA sebesar 0,7 persen GNI dari negara maju, hal ini dapat dilakukan bukan hanya dalam bentuk dana tetapi juga dalam bentuk kerja sama teknologi dan pengembangan teknologi rendah karbon yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Kementerian Luar Negeri, sesuai dengan UU Nomor 37 Tahun 1999 dan Perpres Nomor 116 Tahun 2020, memegang peran kunci dalam mengoordinasikan diplomasi internasional ini dengan masukan terutama dari Kementerian ESDM dan para pelaku usaha di bidang energi.

Opsi lain yang dapat dimanfaatkan adalah pengaturan yang ada di bawah Persetujuan Paris, baik di bawah Pasal 9 yang memberikan kewajiban pendanaan iklim dari negara maju ke negara berkembang, maupun melalui Pasal 6 yang merupakan bentuk kerja sama internasional dalam pencapaian target NDC dan peningkatannya. Namun demikian, karena NDC dalam

maka diperlukan koordinasi di dalam negeri untuk memastikan seperti apa dan kapan Indonesia akan memanfaatkan Pasal 6 Persetujuan Paris ini. Diplomasi multilateral di bawah UNFCCC, termasuk di bawah Persetujuan Paris, perlu diikuti dengan baik untuk menghindari dampak negatif dari inisiatif kerja sama internasional yang akan dipilih.