• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberlanjutan Agroindustri Perikanan Tangkap

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Keberlanjutan Agroindustri Perikanan Tangkap

Merujuk pada definisi yang diberikan Austin (1992) agroindustri perikanan tangkap dapat diartikan sebagai industri yang mengolah komoditas hasil perikanan tangkap untuk meningkatkan nilai tambahnya. Berdasarkan UU Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dinyatakan bahwa hasil perikanan tangkap adalah komoditas ikan yang dihasilkan dari kegiatan penangkapan ikan di perairan umum yang tidak dalam keadaan dibudidayakan.

Agroindustri perikanan tangkap adalah salah satu industri strategis. Menurut Dahuri (2003) hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, yaitu 1) menggunakan sumber daya lokal yang merupakan keunggulan komparatif bangsa Indonesia; 2)

mempunyai keterkaitan yang kuat (backward dan forward lingkage) dengan industri

perikanan dan aktivitas ekonomi lainnya; dan 3) menggunakan sumber daya kelautan dan perikanan yang bersifat dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keberlangsungannya dapat dipertahankan. Industri dengan karakter seperti ini mempunyai prospek yang baik untuk dijadikan penggerak roda perekonomian masyarakat sehingga dapat berperan penting dalam menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagaimana UKM (usaha kecil dan menengah) lainnya, agroindustri perikanan tangkap juga mempunyai banyak hambatan dalam aktifitas usahanya sehingga perkembangannya pun kurang terlalu menggembirakan. Hal ini disebabkan kebijakan pengembangan agroindustri perikanan masih bersifat sektoral dan kurang mempertimbangkan kompleksitas dan dinamika beragam komponen yang mempengaruhinya. Menurut Eriyatno (1999) agroindustri, termasuk agroindustri perikanan tangkap, adalah satu kesatuan sistem yang mencakup gugus dari berbagai hubungan komponen yang kompleks dan saling mempengaruhi, sehingga dalam pengembangannya seharusnya diperlukan cara pandang yang lebih menyeluruh dan integratif. Keterkaitan pelaku dalam sistem agroindustri perikanan tangkap ditunjukkan pada Gambar 3.

Sumber Daya Perikanan Usaha Penangkapan Ikan (Nelayan) Usaha Pengolahan Ikan (Agroindustri) Ekspor Produk (Eksportir) Pasar TPI; Pedagang Pengumpul Pedagang Pengumpul

Gambar 3 Keterkaitan pelaku dalam sistem agroindustri perikanan tangkap (sumber: modifikasi dari Gunani 2007)

Berkaitan dengan penilaian tingkat keberlanjutan agroindustri perikanan tangkap, jenis dimensi dan indikator yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik sistem keberlanjutannya. Menurut Madlener et al. (2006) dimensi menggambarkan keadaan sistem terkait dengan pemenuhannya terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan sebagai acuan penilaian apakah suatu sistem berlanjut atau tidak. Sementara indikator dinyatakan sebagai variabel yang mempunyai nilai yang mengindikasikan tingkat pelaksanaan dimensi. Indikator keberlanjutan berfungsi sebagai berikut: 1) menggambarkan kondisi sistem yang ada yang seringkali kompleks dan dinamis; 2) dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja suatu kebijakan dalam mencapai keberlanjutan; dan 3) dapat digunakan sebagai early warning system terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masa mendatang.

McCool dan Stankey (2004) menjelaskan bahwa penentuan indikator harus selalu terkait dengan tujuan dari keberlanjutan itu sendiri (what is to be sustained). Beberapa kriteria yang digunakan dalam pemilihan indikator adalah sebagai berikut: 1. Indikator merupakan bagian dari sistem atau seperangkat variabel kunci/khusus

yang mampu menggambarkan kinerja sistem yang kompleks secara efektif.

2. Dapat digunakan untuk melakukan pengukuran sistem secara efektif. Sebagai

contoh kesejahteraan dapat diukur melalui indikator distribusi pendapatan.

3. Dapat menggambarkan keadaan masa mendatang (predictable) sehingga dapat

digunakan sebagai alat bantu pengambilan kebijakan.

Menurut Hemphill et al. (2004) karakteristik indikator yang layak adalah sebagai berikut: 1) sesuai dengan maksud pengukuran (relevant); 2) pengukuran dapat dilakukan oleh semua orang, bahkan yang bukan pakar pun dapat melakukannya (understandable); 3) akurat dan terpercaya (accurate and reliable);

dan 4) informasinya mudah diperoleh (accesible data). Kerangka keberlanjutan yang

mencakup dimensi dan indikator sebagaimana yang dijelaskan di atas menjadi pijakan bagi sejumlah kajian tentang keberlanjutan usaha pada berbagai industri walaupun dimensi serta indikator yang digunakan telah disesuaikan dengan tujuan kajian secara khusus.

Merujuk kepada konsep keberlanjutan agroindustri yang dinyatakan oleh Soekartawi (2002), keberlanjutan agroindustri perikanan tangkap dapat terwujud apabila agroindustri tersebut mampu melakukan fungsi bisnisnya secara optimal sehingga secara ekonomi dapat memberikan keuntungan yang terus menerus, bersahabat dengan lingkungan dan secara sosial menyejahterakan. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut agroindustri perikanan tangkap harus mampu mencapai keberlanjutan pada aspek sumber daya, ekonomi, sosial, lingkungan dan teknologi.

Keberlanjutan sumber daya adalah menjaga pasokan bahan baku agroindustri perikanan tangkap agar dapat berlangsung secara berkesinambungan. Bahan baku agroindustri perikanan tangkap yang berasal dari aktivitas penangkapan dilaut

(perikanan laut) mempunyai karakteristik yang unik karena sifatnya yang open acces

dan common property, di mana pemanfaatannya bersifat terbuka oleh siapa saja dan kepemilikannya bersifat umum. Hal tersebut menyebabkan sumber daya ikan sangat

rentan (vulnerable) dan mudah mengalami degradasi dari segi jumlah (stock). Walaupun, sumber daya ikan bersifat dapat diperbaharui (renewable), akan tetapi akibat perkembangan aktivitas perikanan tangkap dan industri yang sangat pesat menyebabkan sumber daya ikan mengalami over fishing sehingga jumlahnya terus mengalami penurunan (Murillas dan Chamorro 2005). Gejala tersebut tidak saja terjadi di Indonesia, akan tetapi telah terjadi pada berbagai perairan di seluruh dunia (Syme 2005; Roberts et al. 2005; Hilborn 2007). Di samping itu sumber daya ikan bersifat migratif yaitu tidak menetap pada suatu kawasan saja. Hal ini berbeda dengan sifat sumber daya terresterial (daratan) di mana pengelolaannya cenderung lebih mudah (Sparee dan Venema 1999). Oleh karena itu menjaga agar tingkat eksploitasi sumber daya laut tidak melebihi potensi lestarinya merupakan upaya agar pasokan bahan baku agroindustri ini dapat terus berkelanjutan.

Keberlanjutan ekonomi terwujud jika agroindustri perikanan tangkap mempunyai daya saing yang tinggi dan mampu bersaing secara kompetitif di pasaran sehingga akan memberikan manfaat atau keuntungan ekonomi secara maksimal dalam waktu yang relatif lama. Menurut Tambunan (2008) agroindustri perikanan yang berdaya saing tinggi dapat dicirikan dengan nilai produktivitasnya yang tinggi, ketrampilan tenaga kerja yang memadai, teknologi yang efisien dan produk yang

berkualitas. Abdullah et al. (2001) menekankan daya saing kepada kemampuan

perusahaan untuk berkompetisi dengan lingkungannya. Porter (1993) menyatakan bahwa daya saing dapat dicapai melalui strategi keunggulan bersaing yaitu menciptakan keunggulan biaya, diferensiasi produk dan fokus terhadap pasar. Dalam operasionalisasinya keunggulan biaya lebih berfokus pada produktivitas yang diartikan sebagai nilai output yang dihasilkan oleh seorang tenaga kerja atau tingkat efisiensi suatu perusahaan.

Keberlanjutan sosial terwujud apabila agroindustri mampu mendistribusikan keuntungan ekonomi yang diterimanya untuk peningkatan sumber daya dan kesejahteraan tenaga kerja secara terus menerus (Glavicv dan Krajn 2003; Seijo et al. 1998; Kennedy 2002). Keberlanjutan sosial akan semakin tinggi apabila keberlanjutan ekonomi dapat dicapai.

Keberlanjutan lingkungan merupakan paradigma dari pembangunan berkelanjutan yang dicoba untuk diterapkan pada sektor industri dan bidang-bidang

lainnya. Hal ini disebabkan karena aktivitas industri, termasuk agroindustri perikanan, pada umumnya mempunyai dampak buruk terhadap lingkungannya. Dengan mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam entitas industri diharapkan akan menimbulkan kepedulian industri terhadap keberadaan lingkungan disekitarnya (Glavic dan Lukman 2007). Keberlanjutan lingkungan dapat terwujud apabila agroindustri mampu menanggulangi dampak buruk yang ditimbulkannya terhadap lingkungan disekitarnya (Defra 2006; Halog dan Chain 2006).

Keberlanjutan teknologi terkait erat dengan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Menurut Dunlop et al. (2004) teknologi merupakan faktor pendorong (driver of change) bagi tercapainya efisiensi produksi sehingga mengurangi tingkat kebahayaannya terhadap lingkungan. Porter (1993) menyatakan bahwa pembaharuan teknologi diperlukan apabila secara nyata mampu menekan biaya produksi. Dengan demikian teknologi yang berkelanjutan dapat diartikan sebagai teknologi yang mampu meningkatkan keuntungan menyeluruh bagi agroindustri baik dari segi peningkatan efisiensi dan produktivitas produksi maupun penurunan limbah dan dampak buruknya terhadap lingkungan.

Di era liberalisme ekonomi seperti sekarang ini, diperlukan langkah-langkah yang strategis untuk mengembangkan keberlanjutan agroindustri perikanan tangkap. Upaya peningkatan kesejahteraan harus menjadi perhatian utama, bukan hanya bagi tenaga kerja agroindustri saja, akan tetapi juga bagi nelayan agar kesejahteraan mampu dirasakan secara lebih adil dan merata. Di samping itu, upaya tersebut merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan pasokan bahan baku agroindustri lebih terjamin dan berkesinambungan.

Dengan menggunakan paradigma keberlanjutan tersebut diharapkan pengembangan keberlanjutan agroindustri perikanan tangkap akan mempunyai implikasi yang lebih luas terhadap kemanfaatan agroindustri secara keseluruhan. Dengan demikian harapan untuk menjadikan agroindustri perikanan sebagai prime mover pembangunan di sektor perikanan yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat akan dapat diwujudkan.