Peran Negara
DINAMIKA KEBIJAKAN LUAR NEGERI CINA SEBAGAI USAHA PENYESUAIAN DIRI TERHADAP GLOBALISASI
II.1 Kebijakan Luar Negeri Cina di Era Mao (1949 – 1978): Era Sebelum Reformasi Ekonomi dan Awal Hubungan Cina dengan Negara – negara Reformasi Ekonomi dan Awal Hubungan Cina dengan Negara – negara
Afrika
Mao Zedong merupakan tokoh sentral yang memiliki peran sangat penting dalam awal pembentukan kebijakan luar negeri bagi Cina. Dimulai pada tahun 1945 ketika Mao memimpin Partai Komunis Cina dan sejak Oktober 1949 partai ini mendominasi Cina.48
48 ibid.
Pada dekade pertama Mao memperlihatkan kecenderungan kebijakan luar negeri yang kuat, yakni kedekatan dengan Uni Soviet dan kedua negara berdedikasi penuh dalam penyebaran komunisme ke
21
negara lain.49 Di saat yang sama, hubungan internasional Cina merefleksikan
kecurigaan yang mendalam terhadap negara - negara Barat, terutama Amerika Serikat, karena negara ini mendukung pemimpin Partai Nasional, Chiang Kai-Sek, yang ingin mendirikan pemerintahan baru di Taiwan setelah diasingkan dari Cina daratan.50
Persepsi kebijakan luar negeri Cina di masa awal berdirinya negara ini terhadap sistem internasional dibentuk oleh dua peristiwa yang menciptakan sebuah skeptisme mendalam mengenai keuntungan organisasi untuk negara ini.51
Peristiwa pertama adalah kegagalan usaha Cina di tahun 1949 untuk mendapat posisi di PBB. Kegagalan ini karena Amerika Serikat menolak mengakui Partai Komunis Cina dan pemerintahan Mao sebagai entitas berdaulat yang memimpin Cina, tetapi justru menganggap bahwa pemerintahan Chiang Kai-Sek sebagai pemerintahan yang sah.52 Peristiwa kedua merupakan serangan tentara
komunis Korea Utara ke Korea Selatan pada Perang Korea di tahun 1950 - 1953.53 Amerika Serikat memimpin pembentukan pasukan perdamaian PBB,
sementara Uni Soviet keluar dari Dewan Keamanan PBB.54
49 ibid. 50 ibid. 51 ibid. 52
Taiwan diberi posisi sebagai perwakilan sah oleh PBB yang mewakili negara tersebut dan Cina
(Events of 1971, diakses dari http://www.upi.com, pada 5 Januari 2012)
53 ibid. 54
ibid.
Karena pasukan yang dipimpin Amerika Serikat semakin mendekat ke Korea dan perbatasan Cina, Mao memutuskan untuk mengirim pasukan ke Korea Utara untuk membantu pasukan komunis Korea Utara. Di dalam negeri Cina sendiri berbagai kampanye besar
22
diluncurkan dengan tajuk "Lawan Amerika dan Bantu Korea".55 Di tahun 1950,
lebih dari 30% anggaran nasional Cina didedikasikan untuk membantu perang melawan agresi Amerika Serikat di Korea.56 Mao menentang keras imperialisme
Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa jika Amerika Serikat bisa melakukan agresi di Korea, maka Cina juga akan melakukan serangan ke seluruh wilayah Asia.57 Karena sikap – sikap ini maka banyak negara Barat yang mengisolasi Cina
dari pergaulan internasional yang didominasi oleh Amerika dan sekutunya.58
Di tahun 1955, Cina ikut dalam Konferensi Bandung (Konferensi Asia Afrika) yang diadakan di Bandung, Indonesia.59 Konferensi ini penting bagi
kebijakan luar negeri Cina saat itu karena di awal tahun 1950an banyak negara bangkit dari kolonialisme dan terlibat serangkaian konflik dengan imperialisme Amerika Serikat. Cina ingin bersatu dengan negara - negara ini dengan sebuah program pengembangan mutual support dan perlindungan bersama melawan Amerika Serikat serta negara imperialis lainnya, dan di konferensi inilah negara - negara tersebut bersatu dengan salah satu tujuan untuk mempersatukan kerjasama ekonomi dan budaya kawasan Asia dan Afrika.60
55
MLM Revolutionary Study Group in the US. 2007. Chinese Foreign Policy during the Maoist
Era and its Lessons for Today [pdf]. Diakses dari
http://www.cddc.vt.edu/marxists/history/erol/ncm-5/cpc-policy.pdf, pada 20 April 2011. 56 ibid. 57 Lanteigne, loc.cit. 58 ibid. 59
MLM Revolutionary Study Group in the US, loc.cit. 60
ibid.
Dalam konferensi ini pula Perdana Menteri Cina saat itu, Zhou Enlai, memperkenalkan Five Principles of Peaceful Coexistence sebagai tanggapan atas kecurigaan beberapa pemimpin negara dari Pakistan, Filipina, dan Thailand yang menganggap Cina sebagai
23
"colonialism of a new type".61 Zhou Enlai menegaskan bahwa Cina menggunakan prinsip - prinsip tersebut untuk menjamin bahwa negaranya tidak akan mencampuri urusan domestik negara - negara anggota Konferensi Bandung atau mendukung kelompok gerakan revolusi di negara - negara tersebut, seperti yang sebelumnya dilakukan terhadap beberapa negara di Afrika atau Vietnam.62
Hubungan antara pemerintah Cina dan Sudan sendiri dimulai sejak tahun 1959.63 Sudan adalah negara keempat yang mengakui kemerdekaan Cina pada 4
Februari 1959.64 Perdana Menteri Zhou Enlai sempat mengunjungi Khartoum
pada Januari 1964. Sudan memberikan dukungan kepada Cina untuk masuk menjadi anggota PBB di bawah pemerintahan Presiden Abboud. Selain memberikan suplai peralatan militer ke Sudan, pemerintah Cina juga membantu Sudan dengan memberi bantuan ekonomi, pinjaman bunga lunak, dan bantuan - bantuan teknis lainnya. Di tahun 1970 Cina membangun Friendship Hall di Khartoum sebagai simbol hubungan kedua negara yang semakin baik.65
61 ibid. 62 ibid. 63
Large, Daniel. 2008. China and the Contradictions of Non - Interference in Sudan: Review of
African Political Economy [pdf]. Department of Politics and International Studies, School of
Oriental and African Studies, Rift Valley Institute's Sudan Open Archive, London. 64
Large, Daniel. 2008. Sudan's Foreign Relations with Asia (China and the Politics of 'looking
east') [pdf]. Institute for Security Studies.Diakses dari
http://dspace.cigilibrary.org/jspui/bitstream/123456789/30875/1/PAPER158.pdf?1, pada 12 Januari 2012
65 ibid.
Pada tahun - tahun awal hubungan kedua negara lebih disebabkan karena Cina ingin membentuk aliansi dengan negara - negara Afrika untuk mencapai tujuan Cina ketika mengikuti Konferensi Bandung. Advokasi Cina dalam Konferensi Bandung membantu negara itu keluar dari isolasi dan memperlihatkan kebijakan luar negerinya secara keseluruhan: pemimpin - pemimpin negara yang baru
24
merdeka dipandang sebagai aliansi paling dasar dari usaha Cina melawan kekuatan negara Barat yang menganut imperialisme.66 Prinsip - prinsip kebijakan
luar negeri ini ditujukan khusus untuk hubungan Cina dengan negara - negara sosialis karena doktrin Mao bahwa Cina tidak akan berhubungan dengan negara - negara non - sosialis. Di era ini sangat jelas bahwa kebijakan luar negeri Cina lebih diarahkan kepada penentangan akan dominasi Amerika Serikat dalam sistem internasional, serta memperkuat aliansi dengan negara – negara sosialis yang dijajah oleh negara Barat dalam Konferensi Bandung.67 Namun, di tahun 1970an
paradoks terjadi pada kebijakan luar negeri Cina. Mao dan Zhou Enlai menjadi arsitek utama dalam pembuatan kebijakan luar negeri Cina dan memutuskan bahwa negara ini harus memperoleh posisi dalam PBB dan menggeser Taiwan. Salah satu strateginya adalah dengan menormalisasi hubungan dengan 100 negara, termasuk negara – negara Barat.68 Cina kemudian memperoleh keanggotaan PBB
di tahun 1971 yang merupakan hasil voting lebih dari dua pertiga anggota PBB.69
Dengan menjadi anggota PBB posisi Cina mengalami kenaikan yang cukup penting dalam hubungannya dengan negara lain. Selama Perang Dingin berlangsung beberapa negara di Afrika melihat Cina sebagai penyeimbang antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.70
66
Large, China and the Contradictions of Non - Interference in Sudan: Review of African Political
Economy, loc.cit.
67
Cina ikut serta memperkenalkan Five Principles of Peaceful Coexistence dalam Gerakan Non – Blok tahun 1955, yakni aliansi negara – negara di kawasan Asia dan Afrika, yang dihasilkan Konferensi Bandung, yang menginginkan pengakuan atas kedaulatan dan integritas teritori mereka serta menentang imperialisme, kolonialisme, dan rasisme. (MLM Revolutionary Study Group in the U.S, loc.cit.)
68 ibid. 69
Events of 1971, loc.cit.
70
Laporan dari Global Witness on the Democratic Republic of Congo bulan Maret tahun 2011 [pdf].
25
yang dekat dengan Cina. Sejak tahun 1971, setahun setelah masuknya Cina dalam PBB, Presiden Mobutu mengunjungi Cina sebanyak lima kali selama masa pemerintahannya. Pemerintah Cina memberikan beberapa donasi kepada Kongo, termasuk dua bangunan elit di ibukota Kongo yakni, bangunan National Assembly dan Martyrs' Stadium. Cina juga memberikan bantuan - bantuan ekonomi sebagai imbalan bagi Kongo dan beberapa negara Afrika lain karena mendukung kebijakan ‘Satu Cina’, bahwa Taiwan adalah bagian dari Cina.71
Era ini juga disebut era reformasi dan dimulai pada tahun 1978 setelah kematian Mao.
Di bawah pemerintahan Mao, kebijakan luar negeri Cina diarahkan kepada penegasan status Cina secara politik termasuk atas isu Taiwan dan posisinya di PBB, serta perlawanan terhadap imperialisme negara – negara Barat dengan diplomasi yang dilakukan terhadap negara – negara dunia ketiga termasuk Asia dan Afrika.
II.2 Kebijakan Luar Negeri di Era Deng Xiaoping (1978 – 1990): Era