• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Moneter

Dalam dokumen KHAIRINA TAMBUNAN EKNI 91214043375 (Halaman 68-78)

LANDASAN TEOR

A. Kerangka Teoritis

3. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah salah satu kebijakan perekonomian yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara dalam hal pengendalian jumlah uang yang beredar di masyarakat. kebijakan moneter ini berfungsi untuk menjaga kestabilan moneter dan pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa aspek yang dapat dilakukan bank sentral dalam membahas kebijakan moneter, yaitu langkah- langkah yang mempengaruhi suku bunga dan langkah-langkah yang mempengaruhi penawaran uang.

90

Metwally, Op. cit, hlm. 77. 91

Ibid, hlm. 51.

Tingkat Keuntungan Yang Diharapkan (r)

r1

Konsep penawaran uang (money supply) atau yang lebih dikenal dengan jumlah uang yang beredar memiliki beberapa bentuk, yaitu M1, M2 dan M3. Yang membedakan konsep jumlah uang beredar menjadi beberapa bentuk adalah jenis uangnya. Penawaran uang M1 didefinisikan sebagai uang beredar dalam arti sempit yang meliputi uang kartal (uang kertas dan uang logam) yang ada dalam peredaran ditambah dengan uang giral atau uang bank yaitu deposito yang disimpan dalam bank-bank umum dan dapat dikeluarkan dengan menggunakan cek. Penawaran uang M2 didefinisikan sebagai uang beredar yang lebih luas meliputi M1 ditambah dengan tabungan dan deposito berjangka di bank-bank umum. Tabungan dan deposito berjangka tersebut dinamakan juga sebagai uang kuasi. Penawaran uang M3 didefinisikan sebagai uang beredar yang lebih luas lagi yang meliputi M2 ditambah lagi dengan deposito dan tabungan berjangka dalam lembaga-lembaga keuangan yang lain di luar dari bank-bank umum.92 Di Indonesia jenis uang beredar digolongkan dengan dua jenis, yaitu M1 dan M2.

a. Pandangan Golongan Klasik

Pemikiran klasik ini dipelopori oleh Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill dan Jean Baptiste Say. Dalam ekonomi klasik menganggap bahwa suku bunga riil tidak dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter karena suku bunga dipengaruhi oleh investasi riil dan tabungan riil.93

Dalam menjalankan kebijakan moneter, bank sentral dapat mempengaruhi penawaran uang dengan cara mencetak uang baru atau dengan menggalakkan lembaga-lembaga keuangan terutama bank perdagangan, menciptakan pinjaman yang lebih banyak yaitu dengan menurunkan suku bunga atas pinjaman yang dibuat lembaga-lembaga keuangan. Hal ini akan menyebabkan kenaikan harga, menaikkan tingkat upah nominal, suku bunga nominal dan pendapatan nasional nominal. Namun tidak berpengaruh terhadap tingkat upah riil, suku bunga riil dan pendapatan riil masyarakat sebagai efek inflasi akibat kebijakan mencetak uang baru. Kebijakan mencetak uang baru yang dilakukan oleh bank sentral akan menyebabkan penawaran uang dalam perekonomian akan bertambah dan

92

Sadono Sukirno, h. 421. 93

akibatnya akan menyebabkan permintaan agregat94 meningkat dan harga pun mengalami kenaikan. Sebagai efeknya suku bunga, tabungan nominal dan investasi nominal juga mengalami peningkatan. Namun nilai riil tetap tidak berpengaruh.

b. Pandangan Keynes

Kebijakan menurunkan suku bunga yang rendah hingga 0% elastisitas terhadap permintaan uang menjadi tidak terhingga. Masyarakat pun tidak ingin memegang surat berharga karena akan adanya spekulasi perkiraan keuntungan dari surat berharga di masa datang karena masyarakat berpikir bahwa tingkat suku bunga akan mengalami kenaikan karena kebijakan tingkat suku bunga yang begitu rendah tidak akan mungkin turun lagi. Akibatnya tak seorang pun yang ingin membeli surat berharga, setiap orang ingin memegang uang dalam bentuk tunai sehingga hal ini menimbulkan permintaan uang menjadi elastis sempurna. Inilah yang disebut Liquidity Trap.95

Munculnya kebijakan moneter sebagai alat stabilisasi kegiatan ekonomi yang dianggap lebih baik dari pada kebijakan fiskal dikarenakan beberapa hal, yaitu:

1) Tidak menimbulkan masalah crowding out96

2) Decision lag97-nya tidak terlalu lama sehingga timing pelaksanaan kebijakannya dapat disesuaikan dengan masalah ekonomi yang sedang dihadapi

3) Tidak menimbulkan beban kepada generasi yang akan datang dalam bentuk keperluan untuk membayar bunga dan mencicil hutang pemerintah.98

94

Permintaan agregat (AD) adalah keseluruhan permintaan atau keinginan untuk membeli barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Penawaran agregat (AS) adalah keseluruhan penawaran barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Sadono Sukirno dalam bukunya Makroekonomi Modern hlm. 81 menjelaskan secara rinci bagaimana para ahli ekonomi klasik menganalisis keseimbangan ekonomi lebih dahulu melalui kurva permintaan agregat dan penawaran agregat.

95

John Maynard Keynes. The General Theory of Employment, interest, and money.(Florida: Harcourt Brace Jivanovich, 1953), hlm. 194 – 209.

96

Crowding out maksudnya bahwa kenaikan tingkat suku bunga ternyata tidak berpengaruh terhadap investasi. Hal ini terjadi sebagai efek kebijakan fiskal dengan menaikkan belanja negara. 97

Decision lag adalah jarak waktu antara saat diketahuinya ada masalah dan saat diputuskannya suatu tindakan.

Kebijakan moneter bertujuan untuk melakukan perubahan terhadap dua variabel makroekonomi utama, yaitu suku bunga dan penawaran uang. langkah bank sentral untuk menjalankan operasi terbuka dan mengubah rasio cadangan bank umum (perdagangan) adalah untuk mempengaruhi penawaran uang. Sedangkan mengubah suku bunga diskonto atau Bank Rate adalah alat untuk mempengaruhi tingkat suku bunga. Namun kebijakan menetapkan suku bunga dan jumlah uang beredar tidak dapat dilaksanakan serentak sebab, perubahan yang satu dapat mempengaruhi perubahan yang lain. Sehingga dalam menjalankan kebijakan moneternya, bank sentral perlu memutuskan jenis variabel yang akan diawasi dan dikendalikan, apakah tingkat suku bunga atau penawaran uang.99

Menurut Sadono Sukirno, analisis kebijakan moneter dengan mempertahankan suku bunga melalui perubahan-perubahan penawaran uang ternyata akan menimbulkan fluktuasi yang besar dalam pendapatan nasional dan kegiatan ekonomi. Namun apabila kebijakan moneter melalui pengendalian jumlah penawaran uang maka efeknya terhadap kestabilan ekonomi lebih besar.100

Bank sentral sebagai pemegang otoritas moneter dalam mengimplementasikan kebijakannya memiliki instrumen-instrumen yang utama, yaitu101:

1) Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation/OMO)

OMO yaitu pembelian dan penjualan sekuritas pemerintah yang dilakukan bank sentral dengan tujuan untuk mempengaruhi penawaran uang melaui perubahan basis moneter (uang berkuasa tinggi). Kebijakan moneter melalui OMO dapat dibedakan menjadi dua yaitu102:

Kebijakan Moneter Longgar (Easy Monetary Policy)

Kebijakan moneter ini ditempuh dengan menambahkan jumlah uang beredar, sehingga pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Namun, memiliki efek terjadinya inflasi dan dapat menekan keseimbangan neraca pembayaran.

98 Ibid, hlm. 221. 99 Ibid. hlm. 202-207. 100

Sadono Sukirno. Op. cit. hlm. 541-542. 101

Ibid, hlm. 437-439. Adapun instrumen kebijakan moneter berupa himbauan moral merupakan kebijakan moneter kualitatif. Lebih jelas mengenai instrumen himbauan moral dapat dilihat pada Adiwarman A. Karim Ekonomi Makro Islam, hlm. 224.

102

M. Ridwan, MA, Isnaini Harahap dan Yusrizal. Ekonomi: Pengantar Mikro dan Makro Islam, (Bandung: Citapustaka Media, 2013), hlm. 171.

Kebijakan Moneter Ketat (Tight Money Policy)

Kebijakan moneter ini dilakukan dengan cara mengurangi jumlah uang yang beredar. Namun, hal ini akan memperkecil pertumbuhan ekonomi suatu negara. Walaupun kebijakan ini dapat menjaga kestabilan harga dan dapat membantu keseimbangan neraca permbayaran.

2) Tingkat Diskonto (Discount Rate)

Instrumen ini berkaitan dengan fasilitas yang dimiliki oleh bank-bank untuk meminjam uang secara langsung kepada bank sentral. Biaya peminjaman (bunga) dari pinjaman disebut sebagai discount rate. Peminjaman yang dilakukan bank-bank adalah untuk kepentingan memenuhi pembayaran dana pencairan simpanan yang dilakukan oleh nasabah atau deposan serta arus cadangan keluar sehingga peminjaman tersebut hanya dilakukan dalam jangka waktu beberapa hari saja. Namun, tingkat diskonto ini membuat bank-bank kesulitan dalam memenuhi kekurangan cadangan musimannya dengan penyesuaian-penyesuaian.

3) Ketentuan Cadangan Minimum (Reserve Requirement)

Untuk menjaga kestabilan bank dan kepercayaan nasabah-nasabahnya, bank sentral membuat berbagai peraturan yang bertujuan untuk mengatur dan mengawasi kegiatan lembaga-lembaga keuangan termasuk bank. Salah satunya mewajibkan bank untuk menyimpan rasio tertentu di antara dana yang tersedia dengan jumlah deposito yang diterimanya. Rasio cadangan ini disebut cadangan minimum. Cadangan minimum ini sangat penting terhadap penciptaan uang giral. Semakin rendah persentase cadangan minimum maka semakin besar penciptaan uang giral103 yang berlaku. Pada saat resesi, bank sentral harus menurunkan persentasi cadangan wajib minimum sehingga jumlah penawaran uang bertambah.

4) Himbauan Moral (Moral Suasion)

Bank sentral menggunakan pengaruhnya dalam kekuatan himbauan moral untuk mendorong institusi finansial agar cenderung berpihak kepada publik. Bank

103

Uang giral adalah depsosito yang disimpan dalam bank dan dikeluarkan melalui cek, giro. Menurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992, definisi uang giral adalah tagihan yang ada di bank umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Biasanya uang giral ini digunakan dalam jumlah yang besar.

sentral menggunaka instrumen ini untuk meyakinkan para bankir dan manajer finansial agar lebih memerhatikan kepentingan jangka panjang dari pada jangka pendek lembaganya. Contoh, saat inflasi bank sentral menghimbau untuk mengurangi pemberian kredit sehingga dapat mendinginkan perekonomian yang panas. Bank sentral juga dapat melarang penggabungan (merger) bank-bank dalam mencapai sasaran kebijakan moneter.

c. Kebijakan Moneter Islam

1) Madzhab Iqtishoduna

Mengenai uang beredar, pendukung mazhab ini mengatakan bahwa jumlah uang beredar bersifat elastis sempurna. Pemerintah sebagai pemegang otoritas moneter tidak mampu memengaruhi jumlah uang beredar. Pendapat ini didasarkan pada perekonomian zaman Rasulullah. Pada saat itu mata uang yang beredar adalah dinar dan dirham.

kebijakan moneter tidak diperlukan karena pada masa awal Islam hampir tidak ada sistem perbankan dan minimnya penggunaan uang. Kredit juga dianggap tidak memiliki peran dalam penciptaan uang, karena kredit hanya digunakan di antara para pedagang saja serta peraturan pemerintah tentang peminjaman (promissory notes) dan instrumen negosiasi dirancang sehingga tidak memungkinkan sistem kredit tersebut menciptakan uang. Surat berharga ini dapat diterbitkan untuk membeli barang dan jasa ataupun untuk mendapatkan dana segar, namun surat ini tidak dapat digunakan untuk kredit. Kreditur dapat menjual surat tersebut namun debitur tidaka dapat menjualnya. Sehingga tidak terjadi spekulasi dan pasar uang. Aturan-aturan ini, menurut mazhab ini, memengaruhi keseimbangan antara pasar barang dan pasar uang berdasarkan uang tunai. Transaksi seperti judi, riba, jual-beli superficial promissory notes dilarang dalam Islam sehingga keseimbangan arus uang dan barang/jasa dapat dipertahankan.

Mazhab ini juga mengemukakan, bahwa sistem yang diterapkan oleh pemerintah yang berhubungan dengan konsumsi, tabungan dan investasi serta perdagangan telah menciptakan instrumen otomatis untuk kebijakan moneter. Dan menjamin keseimbangan uang dan barang.jasa dan mencegah penggunaan tabungan selain untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Adanya imbalan

pahala dari Allah SWT untuk usaha dan kegiatan perekonomian lainnya menambahkan nilai untuk kaum muslimin. Al Qur’an memberi gambaran tentang perhatian kaum muslimin untuk penggunaan sumber daya yang telah disediakan Allah SWT sehingga memperluas pandangan kaum muslimin untuk berpartisipasi dalam kegiatan perekonomian seperti investasi dan menyalurkan kekayaan melalui qard hasan104, infaq dan waqaf.105

2) Mazhab Mainstream

Metwally mengatakan bahwa penawaran uang dalam Islam sepenuhnya dikontrol oleh negara sebagai pemegang monopoli dari penerbitan uang yang sah. Keberadaan Baitul Mal pada masa Rasulullah adalah prototype dari bank sentral. Di mana keberadaan bank sentral adalah untuk menerbitkan mata uang dan menjaga nilai tukarnya agar dapat berada pada tingkat harga yang stabil. Tujuan kebijakan moneter yang dilakukan adalah maksimalisasi sumber daya yang ada untuk kegiatan perekonomian yang produktif. Menurut mazhab ini, instrumen dues of idle fund dapat digunakan untuk memengaruhi permintaan agregat. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan permintaan agregat sehingga mendorong laju pertumbuhan pendapatan nasional.

3) Mazhab Alternatif

Mazhab ini mengemukakan sistem kebijakan moneter dengan menggunakan syuratiq process yaitu di mana suatu kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter berdasarkan musyawarah sebelumnya dengan otoritas sektor riil. Keputusan-keputusan kebijakan moneter dituangkan dalam bentuk instrumen moneter yang merupakan harmonisasi dengan kebijakan-kebijakan di sektor riil. Menurut mazhab ini, kebijakan moneter adalah repeated games in game theory di mana bentuk kurva penawaran dan permintaan uang seperti tambang melilit dengan slope positif sebagai akibat knowledge induced process dan information sharing yang amat baik.Adanya harmonisasi antara kebijakan moneter dengan

104

Qard hasan (pinjaman kebaikan) yaitu pinjaman dengan kewajiban hanya pengembalian pinjaman pokoknya saja atau pihak menerima tidak wajib mengembalikan pinjaman karena kondisi force majeure (keadaan terpaksa atau di luar dugaan).

105

Adiwarman A. Karim. Ekonomi Makro Islami.(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 225-226.

kebijakan di sektor riil, menurut Choudhury, akan menghasilkan suatu interaksi kurva permintaan dan penawaran uang dengan harmonisasi terhadap pertumbuhan pendapatan nasional (Y).106

Instrumen Kebijakan Moneter dalam Sistem Moneter Islam

Menurut Umar Chapra, ada beberapa instrumen moneter dalam melaksanakan kebijakan moneter, yaitu:

1) Target Pertumbuhan dalam M dan Mo

Target pertumbuhan dalam uang beredar (M) harus dianalisis ulang setiap waktu tertentu dengan melihat kinerja perekonomian dan trend variabel penting lainnya. Pertumbuhan M berkaitan erat dengan pertumbuhan Mo (uang berdaya tinggi) yang didefinisikan sebagai mata uang dalam sirkulasi plus deposito bank sentral, sehingga bank sentral harus mengatur ketersediaan dan pertumbuhan Mo. Mo ini dibagikan untuk dimanfaat secara produktif.

2) Saham Publik Terhadap Deposito Unjuk (Uang Giral)

Sebagian uang giral harus diberikan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek sosial.

3) Cadangan Wajib Resmi

Cadangan wajib ini membantu menjamin keamanan deposito dan likuiditas yang memadai bagi sistem perbankan.

4) Pembatas Kredit

Pembatasan kredit pada bank komersial diperlukan untuk menjamin bahwa penciptaan kredit total konsisten dengan target moneter. Dalam alokasi batasan antara bank-bank komersil individual, perlu melakukan kehati-hatian sehingga terjamin terwujudnya kompetisi yang sehat antara bank.

5) Alokasi Kredit yang berorientasi pada nilai

Kredit bank harus dialokasikan untuk membantu merealisasikan kemaslahatan sisal secara umum.

6) Moral Suasion

106

Instrumen ini memiliki kedudukan penting dalam perbankan sentra Islam. bank sentral melalui kontak personel, konsultasi dan rapat dengan bank-bank komersial, dapat saling membahu untuk menjaga kekuatan dan memecahkan persoalan perbankan.

d. Kebijakan Moneter Di Indonesia

Di Indonesia, Bank Indonesia sebagai bank sentral membuat kebijakan- kebijakan moneter yang dalam rangka mencapai kestabilan pertumbuhan ekonomi. Saat ini Bank Indonesia memiliki dua sistem moneter dalam melakukan pengendalian jumlah uang beredar. Yang pertama operasi moneter dengan instrumen-instrumennya seperti BI rate, Operasi Pasar Terbuka (OPT), dan sertifikat Bank Indonesia (SBI). Yang kedua, Bank Indonesia menambah operasi moneter yang dinamakan Operasi Moneter Syariah (OMS). Berdasarkan peraturan yang dikeluarkan Bank Indonesia nomor 16/12/PBI/2014 tanggal 24 Juli 2014, OMS ini memiliki beberapa instrumen di antaranya operasi pasar terbuka syariah (OPTS), transaksi penempatan berjangka syariah, dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).

1) Aplikasi Instrumen Moneter Konvensional di Indonesia

Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia memiliki beberapa instrumen moneter dalam menjalankan kebijakan moneter, yaitu:

OMO melalui jual beli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di pasar uang. BI Rate

BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI rate per 17 Desember 2015 adalah 7,5%.107

Reserve requirement yang ditentukan oleh BI

107

Siaran Pers BI tanggal 17 Desember 2015, Judul: BI Rate Tetap 7,5%.

GWM Primer dalam Rupiah sebesar 7,5% (delapan persen).108

Rasio kecukupan modal (CAR) ditentukan oleh BI sekitar 8% per Juli 2014.109

Plafon kredit untuk sektor-sektor prioritas tertentu Sistem pengawasan perbankan

Fit and Profit Test kepada para bankir atau manajer senior perbankan BPMK (Batas Maksimum Pemberian Kredit) ditujukan untuk membatasi pemberian kredit kepada kelompok usaha sendiri oleh bank-bank.

2) Aplikasi Instrumen Moneter Islam di Indonesia

Peraturan perbankan syariah yang dikeluarkan pada tahun 1998 menggantikan peraturan tahun 1992 telah memungkinkan perkembangan perbankan syariah secara cepat. Hal ini membuat Bank Indonesia harus menaruh perhatian dan lebih berhati-hati dalam menjalankan fungsi pengawasannya sebagai bank sentral yang mengawasi bank-bank umum yang ada di bawahnya dan tidak mengganggu momentum pertumbuhan bank-bank syariah.

Dalam menjalankan fungsinya, Bank Indonesia memiliki beberapa instrumen syariah, yaitu:

Giro Wajib Minimum

OPTS (operasi pasar terbuka syariah) melalui penerbitan SBIS (Sertifikat Bank Indonesia Syariah) yaitu surat berharga berdasarkan prinsip syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh BI.

Standing Facilities Syariah adalah fasilitas yang disediakan BI sesuai prinsip syariah yang dilakukan dengan cara penyediaan fasilitas simpanan (FASBI) dan penyediaan fasilitas pembiayaan (Repo).

108

Http://www.bi.go.id/id/peraturan/moneter/documents/pbi_172115. Peraturan Bank Indonesia

No. 17/21/PBI/2015 tanggan 26 November 2015 109

Dalam dokumen KHAIRINA TAMBUNAN EKNI 91214043375 (Halaman 68-78)