Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
3.1. Stabilitas Moneter
3.1.1. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia pada triwulan IV-2012 dan keseluruhan tahun 2012, diarahkan untuk mengelola keseimbangan eksternal menuju tingkat yang berkesinambungan (sustainable), dengan tetap memberi dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan mengutamakan pencapaian sasaran inflasi. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut maka selama 2012, Bank Indonesia menempuh bauran kebijakan yang terdiri dari kebijakan suku bunga, kebijakan nilai tukar dan kebijakan makroprudensial. Kebijakan tersebut juga didukung dengan memperkuat strategi komunikasi dan mempererat koordinasi dengan pemerintah. Berbagai kebijakan yang ditempuh tersebut secara umum dapat mengelola inflasi sesuai sasaran dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, di tengah pelemahan ekonomi global yang masih berlanjut pada tahun 2012. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia diarahkan agar pergerakan inflasi ke depan berada dalam sasaran yang telah ditetapkan yaitu 4,5%+1% pada 2012 dan 2013 serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pada Februari 2012, Bank Indonesia menurunkan BI Rate sebesar 25 bps sebagai langkah antisipatif untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah menurunnya kinerja ekonomi global. Sebelumnya, pada Januari 2012 Bank Indonesia menurunkan koridor bawah suku bunga operasi moneter (suku bunga Deposit Facility) sebesar 50 bps menjadi 3,75%. Penurunan koridor bawah suku bunga operasi moneter dimaksudkan untuk mendorong pembiayaan antarbank dan mengurangi risiko likuiditas bank sekaligus memperluas sumber pendanaan bank.
Pada Maret 2012, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada tingkat 5,75% guna merespons meningkatnya ekspektasi inflasi yang sempat meningkat saat itu. Level BI Rate 5,75% kemudian dipertahankan hingga Desember 2012 karena masih konsisten dengan upaya mencapai sasaran inflasi 4,5%+1%. Untuk memperkuat efektivitas kebijakan suku bunga tersebut, Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan operasi moneter dengan menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps dari 3,75% menjadi 4% pada Agustus 2012.
Kebijakan nilai tukar yang dilakukan oleh Bank Indonesia diarahkan agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga pada tingkat yang sesuai dengan kondisi fundamental. Kebijakan nilai tukar tersebut dilakukan melalui intervensi secara terukur dan pendalaman pasar valuta asing (valas) sehingga dapat mendukung upaya pengendalian inflasi, neraca pembayaran, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam implementasinya, Bank Indonesia terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah di pasar dan melakukan intervensi sesuai kebutuhan. Dalam rangka penguatan pasokan valas yang lebih berkesinambungan, Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan terkait penerimaan Devisa Hasil Ekspor
(DHE) dan penarikan Devisa Utang Luar Negeri (DULN) yang mulai efektif pada Januari 2012.4 Sesuai dengan kebijakan tersebut, eksportir wajib menerima seluruh DHE melalui bank devisa di dalam negeri. Kebijakan yang sama juga diterapkan untuk penarikan DULN oleh debitur.
Guna meningkatkan pasokan devisa, pada Juni 2012 Bank Indonesia menerbitkan instrumen Term
Deposit berdenominasi valuta asing (TD valas), yang merupakan instrumen penempatan devisa oleh
perbankan domestik di Bank Indonesia. Selain memperkaya instrumen operasi moneter, instrumen TD valas memberikan alternatif penempatan valas bagi perbankan dalam negeri. Instrumen tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai outlet penempatan devisa oleh perbankan domestik seiring dengan masuknya DHE pasca-penerapan ketentuan Bank Indonesia mengenai Penerimaan DHE dan Penarikan DULN.
Sejalan dengan langkah peningkatan pasokan valas melalui pendalaman pasar valas domestik, Bank Indonesia juga melakukan relaksasi ketentuan Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank.5 Perubahan ketentuan tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memberikan fleksibilitas bagi pelaku pasar dalam melakukan lindung nilai (hedging) atas kegiatan ekonomi di Indonesia dan meminimalkan transaksi valas yang bersifat spekulatif.
Kebijakan makroprudensial yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia ditujukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung keseimbangan eksternal. Kebijakan makroprudensial yang dikeluarkan pada tahun 2012 adalah pengaturan besaran rasio Loan-To-Value (LTV) dan
minimum Down Payment (DP)6, untuk mencegah terjadinya risiko pada stabilitas sistem keuangan
yang bersumber dari melonjaknya kredit perbankan, khususnya di sektor perumahan dan otomotif. Kebijakan tersebut mengatur besaran rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh Bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian kredit untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) dan
minimum down payment (DP) untuk kredit kendaraan bermotor (KKB) yang berlaku pada Juni 2012.
Kebijakan makroprudensial LTV dan minimum DP juga ditujukan untuk mendukung upaya menekan impor guna mengurangi tekanan terhadap defisit transaksi berjalan.
Bank Indonesia juga terus mempekuat peran komunikasi dalam mendukung efektivitas kebiijakan moneter. Dalam kaitan ini, selama 2012 Bank Indonesia telah melaksanakan 92 kegiatan dengan melibatkan berbagai stakeholders Bank Indonesia. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada saat pelaksanaan program diseminasi, terdapat peningkatan indeks tingkat pemahaman audience terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia. Pada 2012, indeks tersebut mencapai 4,93 meningkat dari indeks tahun sebelumnya yang mencapai 4,77 (skala 1 s.d. 6).
Bank Indonesia juga melakukan koordinasi dengan pemerintah guna memperkuat efektivitas kebijakan. Koordinasi tersebut dilakukan antara lain melalui forum Tim Pengedali Inflasi (TPI) dan Tim Pengedali Inflasi Daerah (TPID). Penjelasan lengkap mengenai koordinasi dalam forum Tim Pengedali Inflasi (TPI) dan Tim Pengedali Inflasi Daerah (TPID) akan disampaikan pada sub bab 3.1 tentang Koordinasi dengan Pemerintah dalam Pengendalian Inflasi.
4 PBI No. 13/20/PBI/2011 tanggal 30 September 2011 tentang Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri.
5 PBI No. 14/ 10/PBI/2012 tanggal 8 Agustus 2012 tentang Perubahan Atas PBI No. 7/14/PBI/2008 tentang Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank.
6 SE BI No.14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor.
Koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah dan otoritas juga dilakukan terkait dengan upaya memperkuat Protokol Manajemen Krisis (PMK) tingkat nasional melalui Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). Dalam kaitannya dengan pemantapan koordinasi PMK Nasional maka telah dilakukan beberapa hal antara lain penerbitan Nota Kesepahaman antara Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan tentang Koordinasi Dalam Rangka Stabilitas Keuangan dan Surat Keputusan Bersama tentang Sekretariat Forum Koordinasi SSK yang ditandatangani pada tanggal 7 Juni 2012. Nota Kesepahaman tersebut diperbaharui pada tanggal 1 Oktober 2012, dengan melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pasca terpilihnya Anggota Dewan Komisioner OJK. Selain itu, telah dilaksanakan simulasi krisis skala mini (fire drill simulation) PMK Nasional pada tanggal 12 Desember 2012 dengan fasilitator World Bank dan Kementerian Keuangan dan diikuti perwakilan peserta dari anggota FKSSK.
Terkait dengan upaya pemantapan PMK, Bank Indonesia pada 2012 juga menjadikan PMK sebagai salah satu program inisiatif. PMK yang dipersiapkan oleh Bank Indonesia akan menjadi pedoman mekanisme koordinasi dan pengambilan keputusan yang terintegrasi dalam melaksanakan langkah-langkah pencegahan dan/atau penanganan krisis. PMK Bank Indonesia meliputi subprotokol nilai tukar dan subprotokol perbankan. PMK Bank Indonesia tersebut sekaligus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari PMK tingkat nasional. Hingga akhir tahun 2012, seluruh kegiatan yang terkait dengan pemantapan PMK Bank Indonesia dan koordinasi dengan PMK Nasional telah dapat diselesaikan sesuai dengan tenggat waktunya.
Kegiatan yang telah dilaksanakan Bank Indonesia meliputi pemantapan PMK Bank Indonesia dan PMK Nasional. Pemantapan PMK Bank Indonesia antara lain: (i) penyusunan Crisis Binder versi 1 yang merupakan kompilasi prosedur kerja, alat kebijakan (policy tool-kit), dan mekanisme koordinasi yang diperlukan guna pencegahan dan penanganan krisis, (ii) penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) Komunikasi dan rancangan SOP Aktivasi Jaring Pengaman Keuangan Internasional (International
Financial Safety Net) Bank Indonesia dan Nasional, dan (iii) penyesuaian indikator surveillance pasar
keuangan domestik dan global, serta pengembangan sistem informasi PMK.
Berbagai kebijakan yang telah ditempuh Bank Indonesia pada 2012 tersebut juga diperkuat dengan melanjutkan program kerja inisiatif penguatan kerangka kerja bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi: (i) desain kerangka kebijakan moneter, (ii) pengembangan riset untuk mendukung perumusan kebijakan moneter, (iii) pengendalian inflasi daerah, dan (iv) asemen implementasi ketentuan DHE dan pengembangan sistem informasi dan statistik untuk mendukung kebijakan lalu lintas devisa.
Secara keseluruhan, penyelesaian program inisiatif tersebut berjalan sesuai rencana, antara lain menghasilkan Laporan Reviewer Eksternal terhadap Flexible Inflation Targeting Framework (FITF), konsep Peraturan Dewan Gubernur (PDG) tentang (i) Kerangka Kerja Kebijakan Moneter, dan (ii) Kerangka Kerja dan Proses Perumusan Kebijakan Bank Indonesia, Model Makro dan Working Paper “Aggregate Rational Inflation Targeting Model for Bank Indonesia (ARIMBI) with Macroprudential
Policy”, dan Laporan Hasil Kajian Pusat Informasi Harga Pangan Strategis.
Secara keseluruhan, berbagai kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia pada 2012 dapat dipahami oleh berbagai pemangku kepentingan. Pemahaman ini penting dalam upaya memperkuat
efektivitas dan meningkatkan kredibilitas kebijakan moneter. Berdasarkan pengukuran persepsi pemangku kepentingan terhadap kredibilitas kebijakan moneter Bank Indonesia, pemangku kepentingan cukup yakin dengan indeks keyakinan mencapai 4,51 dari skala 1 s.d 6. Hasil tersebut mengkonfirmasikan bahwa secara umum pemangku kepentingan menilai perumusan kebijakan moneter Bank Indonesia telah didasarkan pada hasil kajian, diimplementasikan secara konsisten dan ditujukan untuk mendukung stabilitas perekonomian Indonesia.