• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: Analisis Pengaruh Neoliberalisme di Amerika Serikat dan Korea Selatan

5.2. Korea Selatan

5.2.1. Kebijakan Neoliberalisme Korea Selatan

Deregulasi pemerintah yang bersifat neoliberalisme telah berjalan bahkan sebelum hadirnya structural adjustment program di Korea Selatan. Pada tahun 1993-1997, Presiden Kim

Yong-sam, presiden yang menjabat sebelum krisis 1997, sudah memiliki agenda deregulasi dalam program “New Economy Five Year Plan” atau Rencana Lima Tahun Ekonomi Baru.

Berbagai komite yang dibuat oleh Kim Young-sam untuk meregulasi berbagai sektor diteruskan sampai ke Presiden Kim Dae-Jung yang menjabat pada tahun 1997. Seluruh komite ini dinaungi dalam Regulatory Reform Committee (RRC). Di bawah Kim Dae-Jung, RRC ditetapkan sebagai baan tetap yang memiliki fokus dalam sembilan tugas utama dan empat belas reformasi regulasi.

Secara garis besar, ada 3.918 deregulasi pemerintah selama di masa pemerintahan Kim Young-Sam, dan ada 5.888 deregulasi di pemerintahan Kim Dae-Jung. Fokus dari program yang diambil selama deregulasi bukanlah pemangkasan birokrasi. Melainkan, fokus yang diambil adalah yang bersifat neoliberalis untuk meningkatkan profit bisnis melalui kebijakan privatisasi. Namun, deregulasi dari kedua presiden ini memiliki perbedaan. Deregulasi dari Kim Young-sam merupakan inisiatif pemerintah yang dibentuk berdasarkan kerja sama dengan ekspert dan juga memasukkan pendapat publik. Sedangkan, deregulasi dari Kim Dae-Jung merupakan hasil dari structural adjustment program.

Korea secara resmi mengumumkan peminjaman dari IMF pada tanggal 21 November 1997.

Dari peminjaman sebesar 9.7milyar SRD, IMF memberikan sepaket kebijakan reformasi yang harus dilakukan oleh Korea (Saito, 1998). Selama pemerintahan Kim Dae-Jung, pihak-pihak dari sektor privat menggunakan momentum dari program SAP untuk membela kepentingan mereka masing-masing. Secara agresif, pihak privat menekan pemerintah untuk

melonggarkan regulasi tentang pekerjaan, dan juga melemahkan posisi dari serikat pekerja.

Menurut Saito (1998), secara garis besar paket pinjaman dari IMF ketika krisis mengharuskan Korea untuk melakukan perubahan pada tiga hal utama (Saito, 1998). Paket pertama adalah stabilisasi dari bursa efek. Paket kedua adalah kebijakan finansial. Paket ini ditandai dengan adanya pajak-pajak baru seperti barang-barang mewah, dan juga pajak untuk bahan bakar. Di saat yang bersamaan, pengeluaran dari negara berkurang. Paket ketiga adalah reformasi struktural yang ditandai dengan transparasi dari perusahaan swasta, dan penghapusan regulasi tenaga kerja.

Tabel 5.3 Kebijakan Neoliberalis di Sektor Kesehatan Korea Selatan

Kelompok Kebijakan

Jenis Kebijakan Dampak

Austerity: Dana Kesehatan

Asuransi Kesehatan Universal Hampir seluruh masyarakatnya memiliki 2020: COVID-19 penambahan jumlah staff di KDCA

Austerity: Faktor 1994: 77% kasur milik privat, 95,15 RS

privat

Fasilitas kesehatan dan obat yang mahal diberikan ke masyarakat

Tenaga medis berperan sebagai pemilik RS

Penggunaan sistem outsourcing Banyak yang kehilangan pekerjaan

Pemecatan masal Penurunan jumlah serikat

kerja yang bisa muncul Pembatasan perekrutan tenaga medis

pemerintah

Penurunan regulasi keselamatan kerja + Penambahan mekanisme untuk perusahaan sebelum melakukan

+ National Basic Livelihood Security Act dibentuk untuk memperluas cangkupan asuransi dan uang pensiun

+ Pengumpulan data oleh pemerintah PPE cukup + Penguatan peraturan untuk menjaga

privasi

Informasi Protokol Kesehatan yang jelas + Pemerintah melarang ekspor Tenaga medis cukup + Pemerintah mengontrol harga masker

dengan membeli 80% stok di dalam negeri

+ RS pemerintah dijadikan rujukan utama untuk COVID-19

5.2.2.1. Austerity: Asuransi

Pemerintah dari Korea Selatan sudah mengusahakan terbentuknya asuransi kesehatan universal sejak lama. Menurut Chun et al. (2009), pembentukan asuransi ini bisa dikelompokan menjadi tiga gelombang utama. Periode pertama adalah periode perkenalan

yang terjadi pada tahun 1963-1977. Periode ini ditandai dari pemerintah yang kuat mempertahankan asuransi walaupun negara sedang harus memprioritaskan ekonomi. Periode kedua adalah periode pengembangan yang terjadi pada tahun 1977-1989. Periode ini ditandai dengan mulai terlibatnya sektor privat dalam urusan asuransi. Periode institutionalisasi, atau periode ketiga, dimulai dari tahun 1990. Periode ini ditandai dengan masuknya serikat pekerja dalam mengadvokasikan kepentingan mereka di bidang kesehatan.

Tabel 5.4 Kebijakan Asuransi Kesehatan di Korea Selatan

Tahun Kebijakan

1997 Asuransi wajib untuk perusahaan dengan jumlah pekerja 500 orang 1979 Asuransi wajib untuk perusahaan dengan jumlah pekerja 300 orang 1981 Asuransi wajib untuk perusahaan dengan jumlah pekerja 100 orang 1982 Asuransi wajib untuk perusahaan dengan jumlah pekerja 16 orang 1988 Asuransi wajib untuk perusahaan dengan jumlah pekerja 5 orang

1989 Asuransi wajib berubah menjadi universal dalam National Health Insurance (NHI)

1992 94% masyarakat memiliki NHI

2008 Pembentukan Long-term Care Insurance (LTCI)

Pemerintah dari Korea Selatan sudah mengusahakan terbentuknya asuransi kesehatan universal sejak lama. Menurut Chun et al. (2009), pembentukan asuransi ini bisa dikelompokan menjadi tiga gelombang utama. Periode pertama adalah periode perkenalan yang terjadi pada tahun 1963-1977. Periode ini ditandai dari pemerintah yang kuat mempertahankan asuransi walaupun negara sedang harus memprioritaskan ekonomi. Periode

kedua adalah periode pengembangan yang terjadi pada tahun 1977-1989. Periode ini ditandai dengan mulai terlibatnya sektor privat dalam urusan asuransi. Periode institutionalisasi, atau periode ketiga, dimulai dari tahun 1990. Periode ini ditandai dengan masuknya serikat pekerja dalam mengadvokasikan kepentingan mereka di bidang kesehatan.

Bentuk pertama dari asuransi adalah asuransi kesehatan wajib yang belum bersifat universal.

Unifikasi asuransi di Korea dimulai pada masa pemerintahan Park Chun-hee di tahun 1977 (Lee, 2003). Asuransi di Korea mengikuti model Jepang yang terdiri dari dua kelompok:

asuransi dari pemerintah dan asuransi antara pekerja dan perusahaan. Untuk kelompok yang kedua, sistem pembayarannya adalah setengah pekerja dan setengah dari perusahaan. Sistem asuransi dilaksanakan oleh Medical Insurance Society.

Mulai tahun 1977, semua perusahaan dengan karyawan lebih dari 500 orang harus menyediakan asuransi kesehatan (Schwak, 2020). Namun, aturan ini terus diperluas mulai dari menurunkan ambang batas karyawan sampai memasukkan sektor informal juga. Pada tahun 1979, batas karyawan perusahaan yang harus menyediakan asuransi diturunkan menjadi 300 orang (Chun et al. 2009). Tahun 1981, 1982, 1988, batas anggota perusahaan diturunkan dari 100 orang, ke 16 orang, hingga ke 5 orang pada masing-masing tahun. Syarat asuransi kemudian diperluas untuk wiraswasta di pendesaan pada tahun 1986, dan untuk wiraswasta di kota pada tahun 1989. Pada periode 1984, asuransi juga mulai menutup keluarga inti seperti (suami atau istri, anak, orang tua, dan saudara) sampai dengan keluarga besar (mertua dan adik/kakak ipar).

Korea menciptakan asuransi wajib mulai tahun 1977. Hanya butuh waktu 12 tahun untuk akhirnya Korea menciptakan asuransi universal pada tahun 1989. Menurut Kim (2005), Korea adalah negara yang berhasil untuk melepaskan “jeratan” neoliberalisme dengan

menciptakan asuransi universal di tengah-tengah krisis. Pada tahun 1992, 94% populasi di Korea sudah memiliki asuransi dan 6% sisanya masuk ke dalam program Medicaid (Yang 1996).

Pada tahun 1989, nama dari asuransi berubah menjadi National Health Insurance (NHI) dengan satu institusi yaitu National Health Insurance Corporation (NHIC) (Chun et al. 2009).

NHI adalah bentuk asuransi yang sudah universal. NHI berada dalam satu skema nasional dan dibiayai oleh penggabungan dana pemerintah, pajak dari tobako, dan kontribusi para pekerja dan perusahaan (Schwak, 2020). Asuransi juga memiliki program khusus untuk penyakit tertentu dan kelompok rentan seperti lansia dan yang kesulitan secara finansial.

Pendapatan swasta didapatkan dari bayaran premium masyarakat dan juga rumah sakit swasta (Chun et al. 2009). Dana dari pemerintah lebih disalurkan untuk asuransi wiraswasta dan orang miskin.

Pemerintah menetapkan copayment yang rendah untuk menjangkau orang sebanyak-banyaknya agar tidak takut membayar asuransi yang tinggi (C.-Y. Kim, 2005).

Untuk menekan biaya sebagai gantinya, pemerintah hanya menyediakan fasilitas yang terbatas untuk masyarakat. Dampak dibalik keterbatasan ini adalah biaya informal yang tinggi yang harus ditanggung masyarakat, sehingga tujuan awal dari NHI untuk menjangkau sebanyak orang tidak tercapai.

Korea meminjam sebanyak 21 juta dollar terhadap IMF pada saat krisis tahun 1997 dan hanya sekitar 2 juta dollar saja yang belum lunas pada tahun 2001 (J.-C. Lee, 2003).

Walaupun hutang bisa terbayar dengan cukup cepat, structural adjustment program yang mengiringi pinjaman dari IMF telah mempengaruhi kesehatan di Korea bertahun-tahun setelah pandemi.

Kim (2005) menjelaskan tentang asuransi dan kebijakan kesehatan pada tahun 1997 ketika terjadi krisis Asia (C.-Y. Kim, 2005). Selama krisis, pengangguran meningkat dan ekonomi jatuh. Untuk menyelamatkan masyarakat, pemerintah memperluas manfaat dari asuransi masyarakat dengan menurunkan kewajiban premi dan memperpanjang masa asuransi.

Namun, di saat yang bersaman, Kim Dae-Jung yang menjabat sebagai presiden di masa krisis mulai mengimplementasikan kebijakan-kebijakan neoliberalis.

Pada era krisis ekonomi di 1997, NHI mengalami defisit. Padahal selama dua puluh tahun, asuransi di Korea berjalan dengan baik melalui pimpinan pemerintah. Menurut Lee (2003), defisitnya NHI terjadi dikarenakan adanya intervensi dari IMF (J.-C. Lee, 2003). Setelah IMF, pemerintah menjadi aktor tunggal pengatur asuransi. Namun, regulasi yang diterapkan saat krisis tidak disertai dengan kotrol harga dan juga jenis fasilitas yang diberikan.

Hal ini terjadi karena tiga hal. Pertama, asuransi masih belum membedakan skema pembayaran farmasi dan pelayanan kesehatan pada saat itu. Farmasi pada saat itu masih bebas memberikan antibiotik dan obat-obat penting lain tanpa adanya resep dokter. Defisit yang tinggi juga terjadi karena tingginya jumlah dokter spesialis di Korea. Dokter spesialis biasanya menimbulkan tinggi biaya akibat penggunaan mesin-mesin mahal. Alasan kedua dari tingginya defisit adalah rendahnya partisipasi pemerintah dalam penyediaan fasilitas, di mana pemerintah hanya menyediakan 10% dari total kasur rumah sakit. Artinya, 90% dari fasilitas rumah sakit adalah untuk profit karena dimiliki oleh swasta.

Berdasarkan analisis dari Son et al (2012), ketimpangan tingkat kematian pada masyarakat semakin meningkat setelah masuknya SAP. Padahal, pada periode 1995-2005, kesehatan masyarakat terhitung stabil dengan adanya 655% peningkatan dari dana kesehatan dan juga pengeluaran masyarakat yang jumlahnya terhitung sama. Penelitian dari Son et al. (2012)

menghipotesakan bahwa yang membuat terjadinya peningkatan tingkat kematian di Korea adalah kehadiran IMF (Son et al., 2012).

Struktur masyarakat Korea didominasi oleh orang lanjut usia yang merupakan kelompok rentan untuk terinfeksi virus COVID-19. Semenjak tahun 2008, NHI ditambahan dengan program baru yang bernama long-term care (LTCI) (Jeon & Kwon, 2017). LTCI adalah fasilitas medis untuk orang-orang di atas usia 65 tahun yang memerlukan perawatan lebih dari 6 bulan. Program ini dimulai dalam pemerintahan Kim Dae Jung tahun 1996 dan akhirnya dilegalisasi pada pemerintahan Roh Moo Hyun tahun 2003.

Kriteria dari asuransi ini ditentukan oleh 52 kriteria, yang sebagian besar menekankan terhadap kemampuan fisik seseorang. Namun, institusi pemerintah hanya memiliki sekitar

25% institusi yang melayani fasilitas untuk lansia, dan sisanya dimiliki oleh institusi privat.

Selama berjalan LTCI masih memiliki banyak kekurangan di antaranya adalah ketergantungan lansia terhadap asuransi, dan kualitasnya masih dianggap cukup lemah karena pendeknya pelatihan terhadap staff dan kurangnya fasilitas rumah sakit. Namun, LTCI berhasil untuk meningkatkan ekspektasi umur dari lansia.

Medicaid sendiri adalah program bantuan untuk kaum tidak mampu. Berbeda dengan NHI, Medicaid sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah pusat dan lokal (Doh and Cole 2009). Untuk menentukan kriteria penerima, pemerintah bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan.

Berdasarkan laporan dari OECD (2016), di Korea 37% pengeluaran kesehatan berasal dari uang masyarakat sendiri. Jumlah ini dari pengeluaran masyarakat ini 1,7 lebih besar dari rata-rata anggota OECD lainnya. Walaupun asuransi dari Korea memiliki banyak kelebihan, namun asuransi menyebabkan fasilitas yang tidak diperlukan untuk dipakai. Misalnya,

rata-rata lama pasien untuk dirawat di rumah sakit di Korea itu dua kali dari rata-rata di negara OECD lainnya. Selain itu, banyak juga jumlah perawatan rumah sakit yang sebetulnya tidak diperlukan.

Pada tahun 1999 sebelum krisis, jumlah tanggungjawab negara dalam pengeluaran dana kesehatan total di negara adalah sebesar 37,2% (Jeong, 2005). Sedangkan, di tahun 2001, jumlah pengeluaran negara meningkat menjadi 54,6% dari total pengeluaran negara. Artinya, sebagian besar pengeluaran masih ditanggung oleh pihak privat dan langsung dari masyarakat sendiri.

Struktur asuransi Korea secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu NHI dan juga Medical Aid. Medical Aid sendiri adalah asuransi untuk orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut Minsung et al. (2020), salah satu kelemahan dari sistem asuransi di Korea adalah rendahnya orang yang menerima Medical Aid. Adanya batasan dari harga fasilitas kesehatan yang bisa mereka akses membuat sekelompok orang ini menjadi tidak bisa mengambil fasilitas yang paling baik. Kelompok-kelompok yang rentan adalah mereka yang wiraswasta dan juga yang tinggal di bawah garis kemiskinan.

Korea memiliki pusat kesehatan yang berfokus pada virus-virus menular dan penyakit kronis.

Institusi ini bernama Korea Disease Control and Prevention Agency atau KDCA. KCDA telah menciptakan program edukasi virus menular untuk anak-anak. Bentuk-bentuk dari programnya adalah vaksin, pelayanan penyakit kronis pada anak, dan juga berbagai kebijakan berdasarkan pendataan anak-anak (Chun et al., 2009).

Kebijakan IMF selama krisis di Korea Selatan lebih menekankan terhadap deregulasi kebijakan pekerja. Selama implementasi program-program dari IMF, pemerintah malah terus

menginjeksi berbagai dana ke masyarakat terutama dalam bidang pengangguran. Lorenzo et al. (2019) melakukan penelitian tentang pengeluaran dana kesehatan pemerintah di negara-negara OECD. Penelitian ini membagi pengeluaran menjadi dua periode yaitu periode 2000-2015, dan periode prediksi yaitu periode 2015-2030. Berdasarkan hasil penelitian, Korea memiliki rata-rata peningkatan dari dana kesehatan sekitar 7,5% dari GDP. Sedangkan, peningkatan diproyeksikan akan menurun menjadi 4,5% pada periode 2015-2030. Menurut Han et al. (2013), dana yang dikeluarkan pemerintah untuk asuransi selalu meningkat sebanyak 11% per tahunnya selama 2001-2010 (Han et al., 2013).

Pada tahun 2015, Korea Selatan terkena serangan virus Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) yang berjalan sekitar 6 bulan dan membunuh sekitar 2000 orang. Serangan dari virus MERS ini menjadi titik poin pelajaran penting yang membuat Korea Selatan menjadi memiliki infrastruktur yang kuat dalam menghadapi pandemi COVID-19 di tahun 2020. Riset dari Oh et al. (2021) dan juga S. Lee (2020) menemukan bahwa pendanaan kesehatan di Korea Selatan meningkat karena kerugian dari pandemi MERS di tahun 2015 lalu. Investasi dari pemerintah Korea digunakan untuk pembangunan sarana simulasi, isolasi, dan kolaborasi dari masyarakat dan pemerintah (Oh et al., 2020). Dana untuk karantina ditingkatkan hampir tiga kali lipat dari 58 ke 135 juta dollar Amerika (S. Lee, 2020). Pendanaan ini diprioritaskan untuk pembelian produk antiviral dan PPE, teknologi preventif penyebaran virus, dan juga riset dan pengembangan (R&D) dari berbagai proyek untuk menghadapi pandemi. Peningkatan dana ini terus terjadi. Selama periode 2016-2020, terjadi peningkatan investasi dana hampir empat kali lipat. Saat perkembangan COVID-19 di September 2020, KDCA dilepas oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan sehingga berdiri sendiri (Oh et al.,

2020). Pelepasan ini ditandai dengan semakin banyaknya jumlah staff.

5.2.2.2. Austerity: Investasi dalam Faktor Determinan Kesehatan

Ada berbagai bentuk deregulasi yang dialami di sektor kesehatan dan keselamatan kerja (Jhang, 2011). Secara umum, deregulasi bersifat pengurangan kriteria untuk menjadi penjabat pengatur seperti manajer perusahaan atau proyek. Selain kriteria untuk pekerja, deregulasi juga terjadi dengan mengurangi level keamanan. Misalnya, pemerintah mengurangi batas minimal cek keamanan di fasilitas-fasilitas yang berbahaya. Seiring dengan turunnya level keamanan ini, pemerintah juga mengurangi sanksi terhadap keamanan yang terjadi.

Penurunan dari keselamatan kerja ini tergabung dalam program ‘Special act on Measures to Ease Regulations on Business Activity’. Salah satu program yang dilaksanakan adalah penghapusan syarat untuk memiliki supervisor dalam keselamatan kerja. Syarat ini telah menurunkan pekerja supervisor keamanan sebanyak 41,3% dan supervisor kesehatan sebanyak 15,2%. Pada tahun 1998, korban dari kecelakaan kerja ada 51.514 orang dan persentase kecelakaannya sebanyak 0,77%. Persentase kecelakaan untuk tiga tahun berikutnya adalah 0,73; 0,74; 0,77. Total korbannya pun meningkat pada 2001 menjadi sebanyak 81.434. Berkurangnya pengawasan terhadap keselamatan pekerja, ditambah dengan ketatnya tuntutan kerja seiringan dengan deregulasi lain, telah meningkatkan angka muscular-skeletal disorder (MSD) atau penyakit yang berhubungan dengan otot manusia.

Selain deregulasi secara signifikan pada 1997, sektor ini mengalami pengurangan investasi dana pada tahun 1998.

Pada tahun 2002, pemerintah mengeluarkan “Act on Designation and Operation of Free Economic Zones.” Seperangkat peraturan ini menghapuskan berbagai kewajiban dari perusahaan luar negeri yang ada di Korea Selatan. Berbagai kebijakan ini bersifat neoliberalisme. Salah satu contohnya adalah melonggarkan 34 peraturan mengenai perusakan

alam yang dibuat oleh perusahaan. Mereka juga dibebaskan dari kewajiban untuk merekrut orang-orang difabel. Pajak yang dibayarkan oleh perusahaan dari luar negeri ini pun direndahkan persyaratan dan jumlahnya. Para pekerja yang ada di perusahaan ini juga dilepaskan dari berbagai manfaat seperti cuti berbayar, dan jumlah cuti. Akibatnya adalah penurunan gaji masyarakat sebanyak 20%.

5.2.2.2. Privatisasi Sektor Kesehatan

Menurut Yang (1996), jumlah kasur rumah sakit yang dimiliki oleh sektor publik ada sebanyak 53,2% pada tahun 1977. Pada tahun 1994, 77% kasur rumah sakit dimiliki oleh sektor privat. Artinya, peningkatan kepemilikan kasur di sektor privat ada sekitar 50%. Penurunan angka kasur yang dimiliki pemerintah ini terjadi karena adanya peningkatan dari privatisasi rumah sakit. Pada tahun 1977, 65,5% rumah sakit adalah privat. Namun di tahun

1994, 95,1% rumah sakit dimiliki oleh sektor privat. Yang berargumen bahwa tingginya angka privatisasi rumah sakit di Korea Selatan terjadi karena profit lebih mudah didapatkan melalui sektor privat. Selain itu, banyaknya dukungan dari sektor privat juga membuat pemerintah membiarkan privatisasi.

Selama krisis, pemerintahan Kim Dae-jung banyak melakukan privatisasi. Bentuk privatisasi yang dijalankan tidak hanya perubahan dari publik ke privat. Bentuk-bentuk privatisasi lainnya misalnya adanya pengurangan biaya operasional, pemotongan jumlah pekerja, dan juga pembagian sebagian porsi pekerjaan kepada bagian privat (Kim, n.d). Fokus yang diambil oleh pemerintah adalah kontrol pekerja.

Efek dari privatisasi ini adalah peningkatan angka rumah sakit swasta. Menurut Kim (2005), hal ini terjadi karena ketika krisis rumah sakit harus bergantung terhadap pembiayaan pemerintah. Akibatnya adalah rumah sakit umum kebanyakan memiliki benefit return yang

lebih sedikit. Jumlah staff yang tidak terlalu banyak, reputasi yang tidak sebaik rumah sakit privat, dan juga kerugian yang lebih tinggi menjadikan pemerintah memiliki insentif untuk memprivatisasikan banyak rumah sakit umum ini.

Menurut Yang, privatisasi dari rumah sakit menciptakan kondisi komersialisasi sektor kesehatan. Yang menunjukkan tindakan komersialisasi ini dengan angka operasi sesar yang meningkat sebanyak 21% dalam kurun waktu 10 tahun. Peningkatan ini diasumsikan terjadi karena operasi sesar menghasilkan profit yang lebih besar untuk rumah sakit.

Hal yang serupa juga terjadi pada dokter-dokter yang menduduki jabatan tinggi di rumah sakit. Karena adanya komersialisasi kesehatan, dokter-dokter ini memiliki kebiasaan untuk memberikan fasilitas yang menghasilkan uang dibandingkan menyelamatkan pasien sebagai dokter (D. K. Kim, 2019). Efek dari sistem yang pro-komersialisasi adalah pekerja medis yang bekerja dalam kadar terlalu intens. Staf medis bisa bekerja dengan jam yang berlebih, atau menangani jumlah pasien yang lebih banyak. Hal ini berakibat pada menurunnya kualitas dari dokter dan keselamatan dari pasien juga terancam.

Selain itu, komersialisasi dari kesehatan ini juga membuat tingginya pengeluaran kesehatan masyarakat. Penggunaan obat-obatan di masyarakat sangatlah tinggi, sehingga pengeluaran tetap tinggi walaupun sudah ada asuransi. Hal ini terjadi karena rumah sakit bisa mendapatkan keuntungan lebih dengan menerima reimburse tinggi dari pemerintah jika obat dijual setelah konsultasi dengan dokter (Jeong, 2005). Maka dari itu, dokter-dokter lebih cenderung memberikan obat dan dalam kadar yang lebih dari yang pasien butuhkan.

Sektor kesehatan Korea Selatan sangat bergantung pada sektor privat dilihat dari kepemilikan rumah sakit yang hampir seluruhnya dari perusahaan privat. Namun, di sisi lain, tingginya keterlibatan pihak privat ketika pandemic COVID-19 membantu penanganan COVID-19 di

Korea Selatan. Pada tanggal 27 Januari 2020, sebelum kasus pertama di Korea ditemukan, KCDA telah berkolaborasi dengan perusahaan swasta (Oh et al., 2020). Hasil kolaborasi ini membantu Korea mampu untuk mengirimkan 100.000 alat, dan melaksanakan tes sampai dengan 200.000 per hari di bulan Maret. Kapasitas ini terus meningkat hingga Korea berhasil melakukan 110.000 tes per hari pada November 2020. Pengetesan juga berjalan sangat cepat di mana Korea Selatan menerapkan model tempat pengecekan “drive-through”. Model ini bekerja dengan efektif karena masyarakat di tes sambil duduk di mobil sehingga terjadinya minim kontak. Selain itu, model ini tidak mengurangi kapasitas rumah sakit yang dipakai untuk kasus-kasus yang lebih penting (Thompson, 2020).

Salah satu bukti utama dari besarnya peran kerja sama antara pemerintah dan bisnis adalah organisasi Research Investment for Global Health Technology (RIGHT). Melalui program RIGHT, pemerintah bersama dengan organisasi global, perusahaan farmasi dan perusahaan konglomerasi seperti LG berinvestasi dalam penelitian yang terkait dengan pandemi.

Program RIGHT sendiri sudah berjalan semenjak tahun 2018, yakni dua tahun sebelum pandemi.

Selain dalam pembuatan alat-alat kesehatan, kerjasama dari pemerintah dengan pihak swasta juga lanjut hingga urusan ruang isolasi (Oh et al., 2020). Pemerintah menggunakan ruang-ruang umum yang dimiliki oleh pihak swasta sebagai ruang isolasi. Untuk meningkatkan kemampuan dalam contact tracing, pemerintah merekrut 300 epidemiologis dari pihak swasta.

Pemerintah juga bekerja sama dengan Google dan Facebook untuk mengurangi misinformasi di internet. Pemerintah memberikan subsidi bagi perusahaan-perusahaan yang berpotensi menjadi pemain besar dalam ekonomi korea. Dalam

pandemi ini, pemerintah memberikan subsidinya pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi alat-alat tes (Schwak, 2020).

5.2.2.3. Deregulasi: Peraturan Pekerja

Menurut Kim (2012), paket deregulasi dari IMF membuat pemerintah melakukan pemecatan

Menurut Kim (2012), paket deregulasi dari IMF membuat pemerintah melakukan pemecatan

Dokumen terkait