ANALISIS NEOLIBERALISME, SEKTOR KESEHATAN, DAN PENANGANAN PANDEMI COVID-19:
STUDI KASUS DUA NEGARA (AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN)
S K R I P S I
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Ekonomi
Oleh:
Nanda Ayu Untari NIM: 172314048
PROGRAM STUDI EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2021
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR TANDA TANGAN DOSEN PENGUJI
Nanda Ayu Untari
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul ANALISIS NEOLIBERALISME, SEKTOR KESEHATAN, DAN PENANGANAN
PANDEMI COVID-19:
STUDI KASUS DUA NEGARA (AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN) Yang dimajukan untuk diuji pada tanggal 9 Juli 2021 adalah hasil karya saya.
Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin, atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.
Apabila saya melakukan hal tersebut di atas, baik sengaja maupun tidak sengaja, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijazah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.
Yogyakarta, 9 Juli 2021 Yang membuat pernyataan
Nanda Ayu Untari
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Nanda Ayu Untari NIM : 1712314048
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas
Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
ANALISIS NEOLIBERALISME, SEKTOR KESEHATAN, DAN PENANGANAN PANDEMI COVID-19:
STUDI KASUS DUA NEGARA (AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN) Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lainnya untuk kepentingan akademis tanpa perlu memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 9 Juli 2021 Yang membuat pernyataan,
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan bagi Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini diberi judul “ANALISIS NEOLIBERALISME, SEKTOR KESEHATAN, DAN PENANGANAN PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS DUA NEGARA (AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN) .”
Terselesainya skripsi ini pun tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dukungan dan keterlibatan semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan skripsi ini. Maka dari itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Laurentius Bambang Harnoto, M.Si. selaku Kepala Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan juga Dosen Pembimbing Skripsi yang telah membantu dan memberikan bimbingan untuk semua kesulitan selama menjadi mahasiswa.
Selain itu, terima kasih yang terkhusus karena telah berkenan untuk dengan tulus membimbing penyelesaian skripsi ini hingga membantu dalam persiapan kelulusan.
2. Bapak Eri Kusuma, M.Si selaku Dosen dan juga Pembimbing Skripsi di Semester 7 yang telah membantu penulis untuk berkembang. Selain itu, terima kasih yang terkhusu atas bantuannya dalam menajamkan, dan membentuk kerangka dasar dari skripsi yang akhirnya sudah selesai ini.
3. Romo Angga Indraswara yang telah melihat potensi penulis dan percaya terhadap potensi-potensi tersebut.
4. Segenap dosen pengampu mata kuliah penulis selama berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
5. Keluarga tercinta Ayah, Mamah, Dinda, dan Our Baby Angel, Miko.
6. Enam orang yang memberi warna dan cara pandang baru terhadap hidup.
Abstrak Bahasa Indonesia
ABSTRAK
ANALISIS NEOLIBERALISME, SEKTOR KESEHATAN, DAN PENANGANAN PANDEMI COVID-19:
STUDI KASUS DUA NEGARA (AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN) Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kaitan paham neoliberalisme dengan kualitas sektor kesehatan dan kebijakan pemerintah selama pandemi. Teori mengenai neoliberalisme mengasumsikan bahwa hidup bersama dengan aturan pasar dan peran negara yang minimal berpotensi meningkatkan kesejahteraan. Namun, sejumlah riset terbaru yang terkait dengan masalah pandemi menemukan bahwa keberhasilan dari penanganan atas dampak pandemi terhubung dengan besarnya campur tangan pemerintah. Dengan menggunakan studi literatur mengenai penanganan pandemi di Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang dipandang sebagai negara pro-pasar, penelitian ini mendekati persoalan melalui analisis terhadap (1) Global Health Security Index (GHSI) sebagai pengukur kualitas sektor kesehatan, (2) Government Response Index (GRI) sebagai pengukur kualitas kebijakan pemerintah, serta (3) kebijakan privatisasi, austerity, dan deregulasi sebagai pengukur pengaruh neoliberalisme yang terkait dengan kedua negara tersebut. Hasilnya, teridentifikasi bahwa paham neoliberalisme yang terkandung pada kebijakan negara cenderung melemahkan efektivitas penanganan dampak pandemi. Walaupun GRI dan GHSI Amerika Serikat lebih tinggi daripada Korea Selatan, persentase kematian dan jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan lebih rendah, dan kualitas penanganan pandeminya di atas rata-rata global. Korea Selatan juga memiliki berbagai kebijakan yang mengurangi dampak negatif dari kebijakan neoliberalisme sehingga pemerintahannya bisa memiliki fleksibilitas untuk mengintervensi pasar. Berdasarkan penemuan, saran untuk menangani pandemi yang baik adalah peningkatan peran pemerintah pusat, pembangunan asuransi universal, dan kerjasama pemerintah pusat dengan pihak privat yang tepat untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek pada masa pandemi seperti masker, ruang isolasi, dan alat pengecekan.
Kata kunci: neoliberalisme, Amerika Serikat, Korea Selatan, sektor kesehatan, penanganan pandemi
Abstrak Bahasa Inggris
ABSTRACT
ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF NEOLIBERALISM IN RESPONDING TO THE COVID-19 PANDEMIC:
CASE STUDY OF TWO COUNTRIES (UNITED STATES OF AMERICA AND SOUTH KOREA)
This study aims to identify the link between neoliberalism and the quality of the health sector and government policies during the pandemic. The theory of liberalism assumes that social life under market rules and state’s minimal intervention potentially increase the welfare degree. However, recent studies on the COVID-19 pandemic show that governmental intervention has correlation to the high achievement of dealing with the impact of the pandemic. Using literature studies on the United States and South Korea settings, which are considered pro-market countries, this research explores the issue by analysing (1) the Global Health Security Index (GHSI) as a measure of the quality of the health sector, (2) the Government Response Index (GRI) as a measure of the quality of government policies, and (3) policies about privatization, austerity, and deregulation as measures of the influence of neoliberalism linked to the two countries. This research finds that neoliberal state policies tend to weaken the effectiveness of responses to the pandemic by degenerating the community and various institutions, including hospitals and the government. Although the United States’ GHSI and GRI is higher than South Korea’s, the percentage of both COVID-19 mortality rate and cases in South Korea is lower than the United States’ coupled with its pandemic protocol’s quality that is above the global average. South Korea also has various policies that can reduce the negative impacts of neoliberalism policies, encouraging higher intervention of the government in the market. Based on the findings, to properly respond the pandemic, this study suggests that countries should increase the central government’s intervention, develop universal insurance, and collaborate with the correct private institutions to meet short-term needs during pandemic such as masks, isolation rooms, and checking equipment.
Keywords: neoliberalism, the United States of America, South Korea, health sector, pandemic response
Daftar Isi
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR TANDA TANGAN DOSEN PENGUJI ... ii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
Abstrak Bahasa Indonesia ... vi
Abstrak Bahasa Inggris ... vii
Daftar Isi ... viii
Daftar Tabel ... xi
Daftar Grafik ... xii
Bab I: Pendahuluan ... 1
1.1. Pendahuluan ... 1
1.2. Neoliberalisme dan Kesehatan ... 3
1.3. Perumusan Masalah ... 5
1.4. Pertanyaan Penelitian ... 6
1.5. Tujuan Studi ... 6
1.6. Batasan Studi ... 6
1.7. Manfaat Penelitian ... 7
1.8. Sistematika Penelitian ... 7
Bab II: Tinjauan Literatur ... 10
2.1. Teori Neoliberalisme ... 9
2.2. Sejarah Neoliberalisme ... 12
2.3. Elemen dari Neoliberalisme ... 15
2.3.1. Privatisasi ... 16
2.3.2. Austerity ... 18
2.3.3. Deregulasi ... 21
2.4. Neoliberalisme dan Kebijakan Kesehatan Publik ... 23
2.5. Keadaan Pandemi Saat Ini ... 25
2.6. Kerangka Analisis dan Model Penelitian ... 28
Bab III: Metode Penelitian ... 35
3.2. Alat Analisis dan Data Penelitian ... 37
Bab IV: Analisis Indikator Kualitas Sektor Kesehatan dan Kebijakan Pemerintah ... 40
4.1. Kualitas Sektor Kesehatan: Global Health Security Index (GHSI) ... 40
4.1.1. Global Health Security Index (GHSI): Amerika Serikat dan Korea Selatan ... 42
4.1.2. Perbandingan Global Health Security Index (GHSI) ... 44
4.2. Kualitas Kebijakan Pemerintah ... 45
4.2.1 Government Response Index ... 45
4.2.1.1. Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian: Amerika Serikat46 4.2.1.2. Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian: Korea Selatan . 47 4.2.1.3. Tingkat Kematian (CFR) Dua Negara ... 49
4.2.1.4. Government Response Index setelah Kasus ke-100 ... 51
4.2.2. Response-Risk Ratio ... 52
4.2.3. Risk of Openness Index (RoOI) ... 53
4.2.4. Kesimpulan ... 56
BAB V: Analisis Pengaruh Neoliberalisme di Amerika Serikat dan Korea Selatan ... 60
5.1. Amerika Serikat ... 60
5.1.1. Kebijakan Neoliberalis di Sektor Kesehatan Amerika Serikat ... 61
5.1.2.1 Austerity: Asuransi ... 64
5.1.2.2. Austerity: Pemotongan Dana Kesehatan ... 73
5.1.2.3. Austerity: Investasi dalam Faktor Determinan Kesehatan ... 76
5.1.2.4. Privatisasi Sektor Kesehatan ... 77
5.1.2.5. Deregulasi: Peraturan Pekerja ... 80
5.1.2.6. Deregulasi: Peran Pemerintah Pusat ... 82
5.1.2. Kebijakan Neoliberalisme dan Kualitas Sektor Kesehatan dan Kebijakan Selama Pandemi: Amerika Serikat ... 83
5.2. Korea Selatan ... 85
5.2.1. Kebijakan Neoliberalisme Korea Selatan ... 86
5.2.2.1. Austerity: Asuransi ... 89
5.2.2.2. Austerity: Investasi dalam Faktor Determinan Kesehatan ... 97
5.2.2.2. Privatisasi Sektor Kesehatan ... 98
5.2.2.3. Deregulasi: Peraturan Pekerja ... 101
5.2.2.4. Deregulasi: Peran Pemerintah Pusat ... 104 5.2.2. Kebijakan Neoliberalisme dan Kualitas Sektor Kesehatan dan Kebijakan Selama
5.3. Perbandingan Kebijakan Neoliberalisme dan Kualitas Sektor Kesehatan dan Kebijakan Selama Pandemi Kedua Negara ... 109 Bab VI: Kesimpulan dan Saran ... 115 Daftar Pustaka... 119
DAFTAR TABEL
Table 4.1 Perbandingan GHSI Amerika Serikat dan Korea Selatan ... 42
Table 4.2 Perbandingan Kualitas Sektor Kesehatan dan Kebijakan Pemerintah ... 56
Tabel 5.1 Kebijakan Neoliberalis di Sektor Kesehatan Amerika Serikat ... 61
Tabel 5.2 Kebijakan Asuransi Kesehatan di Amerika Serikat ... 64
Tabel 5.4 Kebijakan Neoliberalis di Sektor Kesehatan Korea Selatan ... 87
Tabel 5.3 Kebijakan Asuransi Kesehatan di Korea Selatan ... 90
DAFTAR GRAFIK
Grafik 2.1 Metode Penelitian ... 31
Grafik 4.1 Perbandingan Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian dari Amerika Serikat ... 46
Grafik 4.2Perbandingan Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian dari Korea Selatan ... 48
Grafik 4.3 Perbandingan Tingkat Kematian (CFR) Dua Negara ... 50
Grafik 4.4 Government Response Index Setelah Kasus ke-100 ... 51
Grafik 4.5 Response-Risk Ratio ... 52
Grafik 4.6 Risk of Openness Index ... 54
BAB I: PENDAHULUAN
1.1. Pendahuluan
Saat ini dunia sedang menghadapi pandemi yang disebabkan oleh virus corona atau COVID-19. COVID-19 tergabung bersama dengan virus Ebola, HIV, H1NI (flu babi), H1N5 (flu burung), dan MERS dalam kategori zoonosis atau virus yang berasal dari hewan dan berpindah ke manusia (Vidal, 2020). Virus ini berasal dar binatang liar yang dijual di salah satu pasar hewan liar atau “wet market” bernama Huanan Seafood Wholesale Market di Wuhan. Melalui wet market yang menjual hewan liar, virus yang awalnya berada di daerah yang tidak terjangkau oleh manusia seperti hutan menjadi dekat dengan manusia melalui hewan seperti kelelawar dan trenggiling (Shield, 2020).
Walau pertama berkembang di Kota Wuhan, China, virus ini telah menyebar dan menjadi pandemi. Sampai hari ini (9/18), menurut European Centre for Disease Prevention and Control ada lebih dari tiga puluh juta kasus COVID-19, yang di mana hampir satu juta orang di seluruh dunia telah meninggal akibat virus ini (European Centre for Disease Prevention and Control , 2020). Lebih dari setengah kasus ini berasal dari negara-negara dengan jumlah populasi tertinggi: India, Amerika Serikat dan Brazil (Gan, et al., 2020).
Indonesia sendiri merupakan negara dengan tingkat kematian kasus COVID-19 paling tinggi di Asia Tenggara (Sari, 2020) dan Asia. Tingginya kasus COVID-19 di Indonesia bisa disebabkan karena berbagai hal, salah satunya adalah sifat penanganan ketika virus masih belum ditemukan di Indonesia. Ketika negara-negara tetangga sudah menutup diri dari pengunjung asing, Indonesia malah membuka diri sebagai destinasi wisata ’alternatif‘ bagi
warga asing yang ingin berlibur (Almuttaqi, 2020). Kekurangan data saintifik membuat Indonesia dipertanyakan infrastruktur kesehatan dan pemerintahannya. Sebelum terbentuknya Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, penanganan kasus masih belum sesuai dengan keperluan lapangan. Selain itu, akses data mengenai COVID-19 hanya ada setelah terbentuknya website covid.go.id (Djalante, et al., 2020). Sampai saat ini, data pemerintah mengenai COVID-19 pun masih bermasalah karena adanya perbedaan dengan data dari insitusi lain seperti data dari pemerintah daerah ataupun hasil penelitian perguruan tinggi. Hal ini diakibatkan dari kurangnya pengerahan penelitian terhadap COVID-19 di Indonesia (Setiati & Azwar, 2020).
Amerika Serikat adalah negara yang sering dianggap gagal dalam menangani pandemi COVID-19. Banyak dana kesehatan yang terus dipangkas seiring berjalannya waktu.
Misalnya saja, dana dari pusat pengontrolan dan pencegahan penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah dipangkas selama hampir dua dekade terakhir (Kapczynsk
& Gonsalves, 2020). Padahal, CDC adalah institusi penting yang melayani kesehatan publik terutama dalam keadaan genting seperti pandemi sekarang ini. Selain memiliki kemampuan fasilitas publik yang kurang memadai, Amerika Serikat juga masih semakin dilemahkan dengan adanya ’corporate lobbysits‘ yang berusaha untuk menolak kebijakan yang memberikan pemerintah hak untuk meminta perusahaan swasta memproduksi keperluan kesehatan (Assa, 2020). Akibatnya, Amerika Serikat memiliki angka kasus terbesar di dunia dengan jumlah mencapai 6.674.458 dengan 202.557 kematian.
Di sisi lain, Korea Selatan adalah salah satu negara yang dianggap berhasil dalam menangani pandemi. Pada awal pandemi, Korea Selatan merupakan negara dengan angka kasus COVID-19 yang paling tinggi di dunia. Namun, angka tersebut terus menurun dan proses
selanjutnya diikuti dengan tingkat pengetesan yang tinggi. Setelah kasus ke 100, rasio perbandingan antara hasil tes yang positif dibandingkan yang negatif berada di 2,9%, sedangkan Amerika Serikat rasionya berada di 17,4% (Oh et al., 2020). Penambahan kasus per hari di Korea Selatan juga berada di angka 2,9% sedangkan Amerika Serikat berada di 25,7%. Dibandingkan dengan Korea Selatan, Amerika Serikat memiliki penduduk tujuh kali lebih banyak tapi kasus COVID-19-nya 300 lebih banyak (Johnson, 2020).
1.2. Neoliberalisme dan Kesehatan
Perbedaan hasil pandemi antara Amerika Serikat dan Korea Selatan menarik perhatian karena kedua negara tersebut merupakan negara yang terpengaruh dengan konsep neoliberalisme.
Negara neoliberalisme adalah negara yang memiliki beberapa karakteristik lemahnya peran negara yang relatif dengan semakin menguatnya pasar (Fitzpatrick & Wolfson, 2020). Di dalam paham neoliberalisme, kesehatan dianggap sebagai barang privat yang harus dibayar oleh orang-orang secara pribadi dibandingkan dialokasikan melalui dana pemerintah (Fouskas & Gokay, 2020). Selain itu, neoliberalisme meyakinkan adanya ’roll-back‘ atau mundurnya peran pemerintah dalam mengatur kegiatan negara. Hal ini ditujukan dengan pemotongan dana dari berbagai sektor masyarakat termasuk dana kesehatan. Negara juga difokuskan untuk membangun ekonomi dengan mengorbankan aspek lain misalnya kesejahteraan masyarakat yang berkaitan erat dengan kerentanan masyarakat terhadap penyakit.
Paradigma adalah perspektif manusia terhadap dunia yang kemudian mempengaruhi cara manusia bersikap terhadap dunia sendiri (Rushton & Williams, 2012). Di abad ke dua puluh satu ini, neoliberalisme telah menjadi paradigma utama yang mengatur kegiatan manusia secara global karena bantuan dari institusi global seperti World Bank dan International
Monetary Fund (IMF) dalam penyebarannya ke berbagai negara di penjuru dunia. Menurut
Foucoult, salah satu aspek penting dari neoliberalisme yang berbeda dengan liberalisme adalah semakin berkurangnya fasilitas publik dan perhitungan moneter yang dijadikan dasar pengukuran setiap kebijakan (Brown, 2015).
Pada tahun sekitar tahun 1997-1998, Korea Selatan mendapatkan injeksi neoliberalisme yang signifikan dari structural adjustment program. Pemerintahan Korea Selatan mengurangi perannya dalam kehiduan masyarakat dan lebih memfokuskan diri untuk mengembangkan mekanisme-mekanisme pasar yang belum optimal agar semakin banyak inovasi yang berkembang di pasar (Pirie, 2008). Pilihan yang diambil oleh Pemerintah Korea Selatan ini memiliki tujuan agar terciptanya lingkungan yang cocok untuk investor datang. Korea Selatan adalah negara yang telah mengadopsi elemen neoliberalisme walau perkembangannya tidak sematang neoliberalisme yang ada di Amerika Serikat.
Di sisi lain, Amerika Serikat adalah negara yang paling berpengaruh dalam mengkonstruksi dan menyebarkan neoliberalisme. Neoliberalisme disebarkan melalui para pejabat yang belajar tentang neoliberalisme di Amerika Serikat. Selain itu, World Bank dan IMF juga menggunakan paket kebijakan neoliberalisme sebagai syarat untuk mendapatkan pinjaman dana ketika krisis. Sebelum paket kebijakan neoliberalisme ini diadopsi oleh World Bank dan IMF, neoliberalisme mulai menjadi kebijakan yang diyakini sebagai solusi untuk meningkatkan keadaan ekonomi karena dukungan berbagai ekonom di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, Amerika Serikat juga menjadi negara yang terus menggunakan paham neoliberalisme dalam hidup bernegara.
1.3. Perumusan Masalah
Sampai sekarang, banyak penelitian yang menemukan hubungan dari neoliberalisme dan kesehatan. Secara umum, penelitian-penelitian itu menunjukkan bahwa neoliberalisme menciptakan berbagai aspek keadaan yang membuat masyarakat menjadi rentan terhadap penyakit (Kentikelenis, Structural Adjustment and Health: A conceptual framework and evidence on pathways, 2017). Kebijakan neoliberalisme dapat mempengaruhi “faktor determinan kesehatan” seperti pendidikan dan juga pekerjaan yang merupakan faktor penunjang bagi kesehatan masyarakat. Selain itu, dalam konteks pandemi, banyak penelitian yang juga menunjukkan pola bahwa neoliberalisme melemahkan proses penangan pandemi dengan cara membuat pemerintah tidak bisa mengambil alih kebijakan dan terjadi juga ketimpangan dalam permintaan dan penawaran barang-barang penting seperti masker dan tabung oksigen di pasar. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa neoliberalisme mempengaruhi aspek kesehatan dan juga kualitas penanganan pandemi.
Dalam konteks negara neoliberalisme ini, hasil kualitas kesehatan dan penanganan pandeminya berbeda-beda di masing-masing negara. Hal ini dikarenakan ada aspek-aspek sosial yang tertanam di institusi-institusi negaranya yang bisa mengurangi, atau menambah efek dari kebijakan neoliberalisme. Misalnya, kebijakan penciptaan asuransi kesehatan yang universal bisa mengurangi dampak dari ketimpangan kesehatan di suatu negara (Pirie, 2008). Maka dari itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis hubungan neoliberalisme dengan aspek kesehatan dan penanganan pandemi.
Berdasarkan latar belakang ini, penelitian ini ingin menganalisis dua hal. Pertama, keadaan aspek kesehatan dan penanganan pandemi di Amerika dan Korea Selatan. Kedua, aspek neoliberalisme yang mempengaruhi aspek kesehatan dan penanganan pandemi di Amerika dan Korea Selatan. Penelitian ini memiliki hipotesa bahwa kebijakan neoliberalisme mempengaruhi kualitas sektor kesehatan dan penanganan selama pandemi secara negatif.
1.4. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan dari penelitian ini adalah
1. Bagaimanakah perbedaan kualitas sektor kesehatan dan penanganan pandemi di suatu negara?
2. Apakah neoliberalisme menentukan kualitas sektor kesehatan dan penanganan pandemi di suatu negara?
1.5. Tujuan Studi
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan dari neoliberalisme terhadap keadaan dan penanganan pandemi COVID-19 di Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
1.6. Batasan Studi
Penelitian ini membahas tentang keadaan negara Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam pandemi dan kemudian mengkaitkannya dengan analisis neoliberalisme di masing-masing negara tersebut. Pembahasan dari masing-masing negara akan berkaitan dengan kebijakan pemerintah, perilaku masyarakat dan keadaan fasilitas kesehatan yang ada di dalam negara tersebut selama pandemi. Selanjutnya, keadaan ini akan dianalisis menggunakan aspek-aspek
neoliberalisme untuk melihat seberapa besar pengaruh neoliberalisme di negara tersebut terutama bentuk-bentuk perubahan yang terjadi karena program ‘structural adjustment’.
1.7. Manfaat Penelitian
Dengan menjawab permasalahan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, penelitian ini berkontribusi dalam beberapa hal berikut:
1. Bagi perkembangan studi di sektor ekonomi dan kesehatan
Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengisi gap penelitian terkait kinerja kesehatan dan hubungannya dengan kebijakan ekonomi neoliberalisme. Penelitian ini juga sekaligus berkontribusi dalam menyediakan perbandingan dari pengaruh neoliberalisme dalam perekonomian suatu negara dan kaitannya dengan kesiapan dan sifat kebijakan dalam penanganan pandemi dari masing-masing negara-negara yang diteliti di penelitian ini.
2. Bagi perkembangan kebijakan di sektor ekonomi dan kesehatan
Penelitian ini memberikan kontribusi sebagai referensi untuk pembentukan kebijakan kesehatan yang lebih komprehensif. Penelitian ini ingin menunjukkan akar masalah dari kurang baiknya perkembangan penanganan pandemi bagi beberapa negara melalui analisis neoliberalisme dan analisis perbandingannya dengan negara lain.
1.8. Sistematika Penelitian
Penelitian tentang keterkaitan neoliberalisme dan struktur kesehatan dalam 5 negara yang diteliti dibadi menjadi 6 bab, yaitu:
Bab I Pendahuluan
Bab 1 menjelaskan latar belakang penelitian, sejarah awal dari neoliberalisme, dan gambaran umum tentang penanganan pandemi dari negara-negara yang menjadi fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan penelitian.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II menjelaskan tentang teori-teori kunci penelitian dan penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini. Bab ini akan membahas tentang sumber-sumber literatur kunci dipakai. Litetatur kunci tersebut adalah teori umum neoliberalisme, sejarah neoliberalisme, dan juga elemen neoliberalisme yang berada dalam program structural adjustment yang disebarkan oleh institusi internasional seperti IMF dan World Bank. Bab ini berfungsi sebagai landasan analisis karakteristik dari neoliberalisme dan kaitannya dengan struktur kesehatan suatu negara. Selain itu, bab ini juga akan menjelaskan indikator dan analisis pemilihan negara-negara yang diteliti pada penelitian.
Bab III Metodologi Penelitian
Bab ini menjelaskan tentang jenis studi yang dipilih, alasan dan justifikasi dari pilihan tersebut, dan penjelasan terkait tentang data yang dipakai dalam penelitian. Penjelasan tersebut termasuk subjek kajian, objek kajian, sumber data, cara pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV Keadaan dan Kebijakan dalam Konteks Pandemi di masing-masing Negara
Bab IV membahas keadaan pandemi di negara yang diteliti dan kaitannya dengan keadaan pandemi di negara tersebut. Bab ini akan menyajikan analisis dari tiga aspek masing-masing negara: pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatannya.
Bab V Analisis Indikator dari Struktur Kesehatan
Bab V membahas lebih lanjut hubungan dari kebijakan-kebijakan pandemi yang telah dibahas di Bab 4 dan menganalisisnya dari perspektif neoliberalisme. Bab ini berfungsi untuk melihat hubungan sejarah neoliberalisme masing-masing negara dan keadaan pandemi COVID-19.
Bab VI Kesimpulan dan Saran
Bab VI menyampaikan hasil penelitian secara ringkas dan menjawab permasalahan penelitian. Bab ini juga menyajikan kembali batasan dan kekurangan dari penelitian sekaligus rekomendasi bagi penelitian selanjutnya di topik yang terkait.
BAB II: TINJAUAN LITERATUR
Bab ini memaparkan teori neoliberalisme serta penelitian sebelumnya yang telah mengkaitkan teori neoliberalisme dengan struktur kesehatan suatu negara. Bab ini akan dibagi menjadi beberapa sub-bab sesuai dengan karakteristik dari neoliberalisme. Selain itu, sub-bab lain akan menjelaskan pengaruh neoliberalisme terhadap kebijakan. Sub-bab akhir bab ini akan menjelaskan model dari penelitian ini.
2.1. Teori Neoliberalisme
Neoliberalisme adalah konsep yang sulit untuk ditemukan batasan jelasnya karena proses pengaplikasiannya bergantung terhadap konteks lokasi dan waktu (Brown, 2015, p. 21).
Menurut Wendy Brown dalam bukunya Undoing the Demos: Neoliberalism’s Stealth Revolution (p. 32-35), ada tiga ciri khas neoliberalisme dengan bentuk ajaran ekonomi lain.
Pertama, neoliberalisme menganggap segala aspek kehidupan merupakan bagian suatu pasar besar. Sehingga, definisi pasar di neoliberalisme tidak hanya lagi terbatas hanya dalam proses produksi, distribusi dan konsumsi saja (p.62). Dalam konteks pasar ini, masyarakat yang ada hanyalah satu yaitu homo oeconominus atau kelompok yang berusaha untuk meningkatkan keuntungan di pasar. Dalam hal inilah neoliberalisme berbeda dengan ajaran ekonomi klasik.
Poin kedua adalah identitas masyarakat yang bertransformasi dari pemilik modal, produsen, dan konsumen menjadi “modal” itu sendiri. Perubahan identitas inilah yang membedakan neoliberalisme dengan ekonomi klasik dan neoklasik. Dalam analisis Foucault, komponen utama dari pasar dalam neoliberalisme adalah kompetisi. Hanya dengan adanya kompetisilah pertumbuhan ekonomi bisa dicapai. Dalam keadaan yang penuh kompetisi ini, maka, masyarakat harus menjadi ‘entrepreneur’ atau ‘pengusaha’ bagi dirinya sendiri. Caranya
dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti meningkatkan pendidikan, mengerjakan kegiatan internship, dan sebagainya. Ketiga, peningkatan nilai dari masing-masing individu ini juga menjangkau aspek kehidupan di luar pasar misalnya dalam hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan sehari-hari seperti dalam hal hiburan dan saat bersososialisasi. Hal ini merupakan gaya hidup yang muncul ketika manusia, sebagai modal, selalu berusaha untuk mengakumulasi nilainya.
Demi mencapai pertumbuhan ekonomi, pemerintah harus menciptakan pasar bebas di mana masyarakat bisa mengakumulasi modal. Namun, di dalam neoliberalisme, pasar bebas dianggap sebagai sesuatu yang harus dibentuk, bukan sesuatu yang natural lahir seperti yang dianggap oleh Adam Smith dan para pemikir ekonomi klasik lain (Ganti, 2014, p. 92). Maka dari itu, untuk menjaga adanya kompetisi yang bebas, diperlukan adanya peran negara. Melalui proses ini, neoliberalisme mentransformasi tujuan akhir pemerintah secara keseluruhan yaitu hanya untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi (Brown, 2015). Bahkan menurut Brown, neoliberalisme telah membuat keberhasilan ekonomi menjadi cara dan sumber pemerintah untuk mendapatkan legitimasi. Hal ini terlihat dari proses peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti pengurangan kemiskinan dan penegakan hukum yang dikerjakan dalam kerangka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Brown (2015) mengambil contoh kebijakan Obama untuk meningkatkan fasilitas kesehatan melalui medicaid yang dikemas sebagai cara untuk meningkatkan ekonomi dibandingkan menyelamatkan orang-orang.
Kebebasan pasar yang diusung pemerintah ini membiarkan agar semua orang bebas berkompetisi, dan tidak melihat adanya fakta bahwa tidak semua orang memiliki sumber daya yang sama yang bisa digunakan untuk berkompetisi di pasar. Artinya, pemerintah hanya
perlu membuat suatu struktur pasar yang bebas tetapi tidak mengatur apabila nantinya akan menghasilkan ketimpangan dan dampak lain yang disebabkan dari pertumbuhan ekonomi (p.
62). Dalam konteks ini, artinya neoliberalisme tidak mendukung adanya bentuk afirmasi terhadap suatu kelompok tertentu karena semua orang dianggap sebagai modal yang seharusnya berjuang sendiri untuk meraih keuntungan ekonomi.
2.2. Sejarah Neoliberalisme
Neoliberalisme berkembang sebagai usaha untuk melawan pergerakan sosialisme yang mulai merambat pada negara-negara di Eropa setelah Perang Dunia I (Ganti, 2014, p. 91).
Neoliberalisme menemukan momentum penyebarannya di negara-negara lain pada sekitar tahun 1970an (Birtch & Mykhnenko, 2010, p. 4). Kondisi yang melatarbelakangi dari penyebaran neoliberalisme sendiri adalah banyaknya krisis ekonomi seperti inflasi, dan bubarnya institusi keuangan dari Bretton Woods. Selain itu, saat itu terjadi juga perubahan struktur perekonomian yang berusaha untuk mengontrol biaya pekerja sebagai cara untuk akumulasi modal. Hal ini dikarenakan adanya dampak finansial dari merendahnya akumulasi modal yang diberikan dari investasi terhadap mesin-mesin.
Menurut Fourcade-Gourinchas dan Babb, neoliberalisme dapat menyebar karena adanya globalisasi ekonomi dan finansial yang membuat negara-negara menjadi lebih rentan terhadap arus pasar internasional (Fourcade-Gourinchas & Babb, 2002). Dalam keadaan seperti ini, maka, kebijakan ekonomi yang berkembang adalah ekonomi yang bebas dan terbuka terhadap pasar internasional. Kebijakan-kebijakan ini tertuang dalam karya John Williamson yang berjudul “Washington Consensus”. Awalnya, Washington Consensus sendiri adalah sekelompok kebijakan yang didukung oleh pemerintahan dan intelektual Amerika Serikat (Birtch & Mykhnenko, 2010, p. 10). Istilah ini juga berarti sepaket kebijakan yang
diterapkan kepada negara-negara yang mengalami krisis ketika mereka menyetujui perjanjian dengan berbagai institusi yang berpusat di Washington DC (Hartzell, Hoddie, & Bauer, 2010, p. 343).
Kebijakan-kebijakan yang tertuang pada Washington Consensus ini lalu melalui berbagai institusi keuangan internasional atau International Financial Institutions (IFIs) disebarkan sebagai syarat atau conditionality dalam menerima bantuan dana bagi negara-negara yang mengalami perekonomian yang buruk (Birtch & Mykhnenko, 2010, p. 9). Syarat ini biasa disebut dengan “structural adjustment program” atau suatu program yang secara garis besar berisi empat kebijakan utama: stabilisasi, liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi (Kentikelenis, Structural Adjustment and Health: A conceptual framework and evidence on pathways, 2017, p. 2). Contohnya, pada tahun 1996, World Bank mengeluarkan “From Plan to Market”, sebuah manifesto yang berisi rekomendasi World Bank tentang Washington Consensus. Menurut World Bank, pertumbuhan ekonomi akan dapat dirasakan oleh banyak negara apabila negara-negara tersebut membuka diri dengan menerapkan prinsip pasar bebas dan mengurangi intervensi pemerintah dalam pasar (Brown, 2015). Karena ajaran tersebut, neoliberalisme dianggap sebagai alat untuk eksploitasi dari negara-negara maju di bagian bumi utara kepada negara-negara berkembang di bagian bumi selatan. Melalui konsep Washington Consensus ini, IFIs mengemas bahwa intervensi pemerintah yang terlalu banyak adalah sumber masalah dari ekonomi yang tidak baik. Namun, di sisi lain, penelitian menemukan bahwa negara-negara berkembang justru mengalami dampak yang buruk setelah implementasi kebijakan ini dengan adanya pemecatan besar-besaran (Birtch & Mykhnenko, 2010, p. 8).
Walau paket kebijakan neoliberalisme disebarkan secara eksternal dari luar negara, neoliberalisme juga berkembang atas kesukarelaan masing-masing negara dalam mengadopsi paket kebijakan Washington Consensus. Dalam analisisnya terhadap perkembangan neoliberalisme di Chile, Inggris, Perancis, dan Meksiko, Fourcade-Gourinchas dan Babb (2002) menemukan bahwa negara yang memiliki keadaan ekonomi lebih buruk dan mengalami perlawanan dari masyarakat yang lebih banyak adalah negara yang melihat neoliberalisme sebagai solusi dibandingkan negara yang memiliki keadaan ekonomi yang lebih baik.
Artinya, neoliberalisme akan terkonsolidasi apabila pemerintah suatu negara memang merasa bahwa neoliberalisme merupakan solusi dari perekonomian yang bermasalah.
Salah satu pemain kunci dari penyebaran neoliberalisme tersebut adalah Mont Pelerin Society, sekelompok intelektual yang berusaha menyebarkan neoliberalisme melalui jaringan ekonom dari berbagai negara. Menurut Phlewe (2009) yang dikutip dalam Ganti (2014), para pendiri MPS adalah sekolompok ekonom asal dari Eropa dan Amerika yang menghadiri dan menerima inspirasi dari berbagai seminar tentang buku Walter Lippmann yang berjudul An Inquiry into the Principles of the Good Society. Setelah pergerakan mereka terhenti karena perang dunia I, mereka akhirnya berkumpul di Mont Pelerin, Swiss pada April 1947. Banyak lulusan dari MPS yang kembali ke negara mereka masing-masing dan menduduki posisi strategis seperti menteri, dosen, ataupun pekerja di perusahaan besar. Melalui jabatan mereka masing-masing tersebutlah, para intelektual dari MPS mulai merubah dan membentuk kebijakan-kebijakan neoliberalisme di institusi lokal negara mereka masing-masing.
Milton Friedman adalah presiden dari MPS selama tahun 1970-1972. Friedman memberikan kontribusi besar terhadap penyebaran paham neoliberalismenya yang terinspirasi dari Hayek.
Melalui posisinya sebagai kepala dari Fakultas Ekonomi di Univerity of Chicago (Ganti, 2014, p. 93), Friedman berkontribusi pada perkembangan neoliberalisme di Chile dengan mengajarkan para intelektual dari Chile yang belajar di University of Chicago atau yang kemudian biasa disebut sebagai “Chicago Boys”. Chicago Boys sendiri muncul melalui program pertukaran pelajar antara University of Chicago di Amerika Serikat dan Catholic University di Chile (Fourcade-Gourinchas & Babb, 2002, p. 547). Pertukaran ini adalah usaha dari pemerintah Amerika Serikat untuk mengurangi pengaruh ekonomi yang bersifat sayap kiri di Chile.
Melalui peran dari “Chicago Boys” ini, Chile menjadi negara pertama yang secara radikal mengimplementasikan kebijakan pasar bebas yang sesuai dengan ajaran neoliberalisme.
Dalam pemerintahan Salvador Allende, presiden yang sedang menjabat saat itu, banyak terjadi perlawanan dari masyarakat karena perekonomian Chile yang mengalami inflasi tinggi. Didukung dengan berbagai kaum elit dan pemerintah Amerika Serikat, Augusto Pinochet berhasil menggulingkan Allende dan mengimplementasikan bentuk pemerintahan yang bersifat diktatoris. Dalam pemerintahannya, Pinochet memasukkan berbagai anggota dari “Chicago Boys” dalam parlemennya. Alasannya karena “Chicago Boys” dianggap sebagai sekolompok ekonom yang mampu untuk menyelamatkan negara. Pada saat itu, Chile membutuhkan bantuan dana untuk menyelamatkan perekonomiannya dan hanya IMF yang bersedia memberikan bantuan. Momentum ini juga yang memberikan dukungan kepada para
“Chicago Boys” untuk menaiki posisi strategis di pemerintahan Chile.
2.3. Elemen dari Neoliberalisme
Neoliberalisme memiliki berbagai karakteristik. Namun, melalui analisis perjanjian dari IMF, karakteristik dari neoliberalisme bisa dikelompokan menjadi empat elemen utama. Perjanjian
dengan IMF sendiri bisa berupa dua hal (Stubbs, Reinsberg, Kentikelenis, & Lawrence, 2020, p. 31). Pertama, IMF menentukan target ekonomi yang harus dipenuhi oleh negara melalui kebijakan yang mereka rancang sendiri-sendiri. Kedua, IMF menentukan serangkaian kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah. Serangkaian kebijakan tersebut digabungkan dalam suatu program yang disebut ‘structural adjustment’. Bentuk pertama ataupun kedua dari perjanjian dengan IMF ini berbeda-beda ukuran dan kebijakannya di setiap negara.
Syarat atau perjanjian dengan IFIs bisa bersifat eksplisit berupa konvensi atau secara implisit (Daoud & Reinsberg, 2018). Namun, pengamatannya tetap ketat di kedua tipe.
Istilah ‘structural adjustment program’ atau SAP sekarang menjadi istilah untuk menjelaskan tentang pengaruh neoliberalisme secara umum (Schrecker, 2016, p. 6). Namun, awalnya istilah ini berasal dari ‘structural adjustment facility’ yang merupakan program berupa dana pinjaman dari IMF dan World Bank. Mengambil dari berbagai penelitian Kentikelenis, paket yang disebarkan oleh IMF dan World Bank ini sendiri memiliki empat elemen utama:
privatisasi, liberalisasi, deregulasi, dan penurunan pendanaan publik atau austerity.
2.3.1. Privatisasi
Privatisasi secara umum adalah pengambilalihan pihak swasta di berbagai perusahaan atau sektor usaha yang sebelumnya miliki pemerintah. Asumsi umum tentang privatisasi ada dua (Sobhani, 2019). Pertama dari para pendukungnya yang melihat bahwa dampak positif dari privatisasi bisa meningkatkan kompetisi, efesiensi dan pemberantasan korupsi pemerintah.
Kedua dari sisi kontra yang melihat bahwa privatisasi menimbulkan adanya peningkatan dari biaya administratif dan juga keuntungan besar dari korporasi-korporasi. Alasan-alasan paling umum yang mendorong privatisasi adalah keadaan ekonomi, tren liberalisasi, sifat dari
institusi masing-masing negara dan juga keadaan perekonomiannya (Breen & Doyle, 2013, p.
6).
Breen dan Doyle (2013) melakukan penelitian terhadap proses privatisasi di 77 negara berkembang dalam periode tahun 1988-1999 dan di 41 negara dalam periode 2000-2008.
Mereka menemukan cepatnya peningkatan pendapatan negara karena privatisasi dalam kurun waktu 10 tahun. Misalnya saja, selama tahun 1988-1999, satu negara berkembang bisa meghasilkan US$ 349 juta per tahunnya. Pada awal periode tersebut, hanya ada 14 negara yang menerapkan privatisasi. Namun, pada akhir periode, ada 60 negara yang menerapkan privatisasi dan pendapatannya meningkat dari US$1.2 milyar menjadi US$33 milyar. Pada awal tahun 1990an, negara-negara di Asia seperti China dan Indonesia mulai menikmati pendapatan dari privatisasi yang terus meningkat hingga setengah dari pendapatan privatisasi di dunia berasal dari Asia setelah tahun 2000an.
Breen dan Doyle juga menemukan bahwa proses privatisasi sendiri dibagi menjadi dua:
keputusan untuk mengambil langkah privatisasi, dan keputusan tentang ukuran dan sektor yang akan diprivatisasi. Keputusan untuk menerapkan ini sendiri secara umum lebih dipengaruhi oleh faktor dari luar. Sedangkan untuk proses kedua dari privatisasi sendiri lebih dipengaruhi karena pemerintah dan keadaan ekonomi di masing-masing negara. Hal ini bisa dipengaruhi karena keinginan negara untuk mengikuti negara-negara lain.
Keputusan masing-masing pemerintah untuk memilih melakukan privatisasi sendiri berkaitan dengan program ‘structural adjustment’ dari IFIs. Breen dan Doyle menemukan bahwa kemungkinan suatu negara mengimplementasikan privatisasi meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah pinjaman ke IMF. Selain karena privatisasi diharuskan oleh IFIs, privatisasi sendiri juga berhubungan dengan keberhasilan komponen dari program ‘structural
adjustment’ sendiri. Tanpa privatisasi, harga tidak akan bisa diprediksi dan hal ini akan
mempersulit investor untuk melihat prospek dari ekonomi karena banyaknya perusahaan yang berada di dalam naungan negara dan bukan pasar. Selain itu, semakin banyaknya perusahaan yang berada dalam naungan pemerintah artinya semakin banyak pembiayaan dana publik yang harus ditarik lewat pajak. Sedangkan, pajak yang meningkat dapat semakin menurunkan pertumbuhan ekonomi. Di luar dari hal ini, pemerintah sendiri bisa mengimplementasikan privatisasi karena merasa perlu untuk melaksanakan privatisasi.
Daoud dan Reinsberg (2018) meneliti dampak SAP dan kaitannya terhadap kesehatan anak-anak dan menemukan bahwa privatisasi meningkatkan angka kematian anak sebelum mencapai umur 5 tahun. Dari total penelitiannya, dampaknya terjadi paling parah di negara-negara berkembang yang demoktratis. Hal ini dikarenakan perekonomian yang masih belum maju sejak awal. Selain itu, pada negara-negara demokratis biasanya dana kesehatan lebih banyak ditanggung oleh pemerintah sehingga privatisasi artinya melepas sebagian banyak masyarakat dari fasilitas kesehatan.
2.3.2. Austerity
Awalnya, negara-negara di Eropa memutuskan untuk memakai austerity agar bisa bergabung dengan perekonomian Eropa (Alesina, Favero, & Giavazzi, 2019, p. 59). Kebanyakan dari negara-negara ini sedang memiliki hutang yang bernilai sangat tinggi. Hutangnya bisa berasal dari kesalahan kebijakan, keadaan ekonomi yang tak terprediksi, atau keadaan spesifik seperti perang atau bencana alam (p. 1-2). Sedangkan, austerity adalah solusi yang efektif untuk menyelamatkan negara yang memiliki resiko untuk tidak mampu membayar hutang atau default (p. 21-22).
Dengan mengimplementasikan austerity, pemerintah suatu negara dapat menstabilkan ekonomi dengan mengurangi kemungkinan peningkatan interest rate. Ekonomi yang stabil ini bisa membuat negara menghindari kerugian dari hutang yang lebih tinggi. Selain itu, pengimplementasian austerity dapat memberikan arah ekonomi yang jelas sehingga menurunkan kekhawatiran investor yang jika tanpa kepastian akan pergi meninggalkan investasi di dalam suatu negara (p. 22-23). Jangka waktu dari program austerity sendiri biasanya disesuaikan dengan berapa banyak defisit yang ingin dikurangi (p.32). Semakin besar target defisit yang ingin dikurangi, semakin lama jangka waktu program austerity yang harus diimplementasikan.
Kentikelenis dalam papernya “Structural Adjustment and Health: A Conceptual Evidence on Pathways” merangkum dampak-dampak dari kebijakan-kebijakan utama yang ada dari SAP.
Pelayanan kesehatan dapat berkurang karena adanya pemotongan pengeluaran pemerintah di dana kesehatan. Pemotongan dana kesehatan ini bisa dilakukan dengan menetapkan ‘wage bill ceilings’ atau batas gaji yang bisa diterima dari pekerja kesehatan. Hal ini dapat mengurangi jumlah para tenaga kesehatan yang berusaha pergi untuk mencari gaji yang lebih tinggi.
Austerity sendiri dapat memiliki dampak negatif yang secara garis besar menimbulkan semakin mahalnya harga pelayanan dan barang yang diperlukan untuk menjaga masyarakat untuk menjadi sehat. Pemotongan dana pengeluaran dari pemerintah sebagai usaha untuk menjaga stabilitas ekonomi dapat mengurangi jumlah pelayanan kesehatan, akses terhadap edukasi, dan dana sosial. Kesehatan juga berkurang karena akibat-akibat finansial yang disebabkan oleh austerity. Misalnya, austerity bisa menimbulkan devaluasi yang akan berpengaruh terhadap semakin mahalnya biaya produksi di bidang kesehatan dan harga
makanan impor. Hal ini tentu dapat mengurangi kualitas dari makanan dan juga pelayanan kesehatan bagi sekelompok orang.
Di sisi lain, austerity juga memiliki potensi untuk menyelamatkan ekonomi dan memberikan kestabilan negara. Austerity dapat memberikan dampak finansial dengan menurunkan kemungkinan inflasi dan krisis mata uang. Di sisi lain, austerity memungkinkan dampak terjadinya penurunan pendapatan masyarakat. Akan tetapi di balik itu, hal ini dapat memberikan manfaat yang baik karena akan memungkinkan juga untuk terjadinya penurunan dalam konsumsi produk yang merusak kesehatan masyarakat seperti alkohol dan tembakau.
Selain itu, austerity yang diimplementasikan dengan meninggikan pajak pada makanan yang kurang sehat juga bisa menurunkan resiko sakit masyarakat.
Alesina, Favero, dan Giavazzi (2019) meneliti sebanyak 200 kebijakan austerity selama tahun 1970-2014 di 16 negara OECD. Berdasarkan penelitian mereka, kebijakan austerity dapat mengambil dua langkah utama: pemotongan pengeluaran atau pajak (p. 64). Peningkatan dari permintaan dapat menghasilkan perekonomian yang berkembang walaupun pengeluaran dipotong (p.5). Fungsi ini berhasil bagi negara-negara yang menerapkan austerity pada pengeluaran pemerintah. Beberapa negara seperti Austria, Denmark, Kanada dan Spanyol telah menerapkan austerity dan melihat hasil pertumbuhan ekonomi yang berkembang.
Sedangkan, bagi negara-negara yang menetapkan austerity pada pajak memiliki hasil yang kurang baik.
Salah satu negara yang berhasil adalah Austria (p. 31-32). Austria sendiri menerapkan austerity dengan memotong pengeluaran negara yang 74% dari pemotongannya berpusat pada dana sosial seperti asuransi umum, subsidi barang-barang lokal, dan uang pensiun.
Walau awalnya ekonomi mengalami perlambatan, Austria bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 2 sampai 3% setelah tiga tahun penerapan austerity.
Kanada juga memiliki skenario austerity yang mirip dengan Austria. Pada tahun 1900an, Kanada sendiri memiliki utang yang rasionya terhadap GDP sebesar 80%, dan defisitnya mencapai 8% (p. 37-41). Melalui paket kebijakan austerity, pemerintahan yang baru naik saat itu berhasil mengurangi pengeluaran pemerintah sebanyak 0,5% dari GDP selama lima tahun.
Pengeluaran yang dikurangi adalah subsidi untuk bisnis dan juga subsidi daerah.
Pengurangan ini juga didampingi oleh berbagai konsolidasi fiskal melalui deregulasi, privatisasi, dan peningkatan pendapatan pajak. Hasilnya adalah perbaikan dari defisit, peningkatan pertumbuhan modal, dan peningkatan net ekspor yang stabil dan peningkatan konsumsi perkapita selama penerapan program-program ini.
Hal ini agak berbeda hasilnya dengan hasil dari negara-negara yang mengimplementasikan austerity dengan meningkatkan pajak (p. 47-49). Salah satu contohnya adalah Portugal.
Portugal memfokuskan austerity-nya dengan mengeluarkan pajak properti, pendapatan, dan pajak tidak langsung selama 1 tahun. Sedangkan untuk pengelauran pemerintah sendiri tidak terlalu dikurangi secara signifikan. Berbalik dari hasil dari Kanada sendiri konsumsi di Portugal menurun, begitupun dengan GDP-nya yang menurun.
2.3.3. Deregulasi
Deregulasi secara singkat adalah usaha untuk membuat perekonomian menjadi sangat ramah untuk para pembisnis dengan mengurangi peraturan-peraturan yang berpotensi untuk menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini membuat kesehatan menjadi dilimpahkan ke sektor swasta ataupun sektor non-publik lainnya seperti organisasi masyarakat (Kentikelenis,
Structural Adjustment and Health: A conceptual framework and evidence on pathways, 2017, p. 3). Salah satu kebijakan deregulasi pemerintah adalah adanya pembatasan jumlah pegawai pemerintah yang bisa direkrut oleh pemerintah.
Berdasarkan data panel periode 1980-2014 dari berbagai negara berkembang, Reinsberg, Stubbs, Kentikelenis, King (2019) menemukan bahwa negara yang terekspos dengan deregulasi dari perjanjian dengan IMF mengalami penurunan kualitas hak-hak bagi pekerja.
Hasil dari penelitian ini juga didukung oleh banyak penelitian lain. Pada dasarnya, hak-hak pekerja dibagi menjadi dua berdasarkan skalanya: hak kolektif dan individu. Hak kolektif adalah hak yang berhubungan dengan perkumpulan asosiasi pekerja seperti hak untuk berdemo, dan posisi dalam tawar menawar di pasar. Sedangkan hak individu adalah hak yang lebih dinikmati secara personal dan terkait dengan hubungan antara pekerja dan perusahaan terutama dalam permasalahan perekruktan dan pemecatan (hire and fire).
Sebagian besar isi dari perjanjian IMF yang berhubungan dengan regulasi lebih menekankan terhadap peningkatan fleksibilitas bagi pasar pekerja dalam proses pemecatan dan perekrutan (Reinsberg, Stubbs, Kentikelenis, & King, 2019, p. 5). Dengan adanya penurunan hak-hak individu bagi pekerja ini, persatuan pekerja dan asosiasi lain biasanya melakukan protes dan menekan pemerintah. Namun, biasanya isi dari protesnya lebih menekankan terhadap perubahan hak-hak yang bersifat kolektif karena manfaatnya bisa dinikmati lebih banyak orang. Pemerintah sendiri biasanya akan berusaha mendengarkan sebagian dari permintaan isi tolakan dari asosiasi pekerja tersebut agar tetap bisa mendapatkan legitimasi dari masyarakat.
Kentikelenis (2017) merangkum dampak-dampak yang disebabkan oleh deregulasi dan hubungannya dengan kesehatan. Beberapa dari dampak-dampak tersebut adalah peningkatan
sifat individual yang dapat mempengaruhi beberapa kelompok rentan menjadi semakin tereksklusi dari masyarakat dan berbagai fasilitas yang ada. Dengan adanya perubahan dalam bidang pekerjaan yang semakin membuat orang mudah untuk dipecat juga meningkatkan stress yang semakin tinggi.
2.4. Neoliberalisme dan Kebijakan Kesehatan Publik
Neoliberalisme dianggap bukan hanya sebagai ideologi tetapi sebagai sesuatu yang menjadi suatu “cara hidup” di berbagai aspek kehidupan. Menurut Rushton dan Williams (2012), neoliberalisme telah menjadi “deep core” dari kebijakan kesehatan global. Deep core sendiri adalah sistem kepercayaan, logika dasar, asumsi, cara dan nilai-nilai yang menjadi landasan dari perbuatan orang-orang. Hasil dari deep core termanisfestasikan dalam berbagai bentuk kebijakan yang berpaku terhadap neoliberalisme. Hal ini dapat menyebar karena difasilitasi oleh berbagai aktor kuat di ranah global yang mengemas neoliberalisme sebagai solusi dari permasalahan kesehatan global maupun lokal di masing-masing negara di dunia.
Deep core ini dapat menyebar melalui proses yang melibatkan pembingkaian dan paradigma.
Proses pembingkaian atau “frames” diawali dengan memilih suatu masalah, misalnya penyakit influenza, dan membingkainya sebagai sesuatu yang perlu untuk ditangani.
Kemudian, para aktor-aktor akan membuat kebijakan dan membingkainya sebagai jalan terbaik untuk merespon masalah tersebut. Solusi sendiri bisa digunakan sebagai alat untuk menjustifikasi kepentingan dari masing-masing aktor yang mempromosikan suatu kebijakan.
Pembingkaian ini sekaligus mengangkat suatu bentuk paradigma. Paradigma adalah cara manusia melihat dan mengerti dunia. Dengan mengangkat suatu kebijakan spesifik, orang-orang juga artinya mengangkat suatu cara pandang tertentu terhadap dunia, yang artinya paradigma atau cara pandang yang dipakai hanya ada satu.
Satu paradigma sendiri bisa melahirkan banyak solusi terhadap suatu masalah. Akan tetapi, solusi yang akhirnya ‘terpilih’ atau menjadi solusi yang paling diterima masyarakat berasal dari proses kontestasi antar aktor yang berusaha untuk mengusulkan atau mempromosikan solusi yang ingin dicapai. Kekuatan untuk memepengaruhi pihak lain, misalnya kekuatan dari suatu institusi internasional terhadap negara berkembang, memiliki peran yang besar dalam membuat suatu ide lebih unggul dibanding yang lain. Selain kekuatan material, hal lain yang juga dapat membuat ide lebih dapat diterima adalah karena kemampuan persuasif dari aktor tersebut dalam mempromosikan ide-ide mereka.
Melalui penggabungan antara pembingkaian, paradigma, dan kekuatan masing-masing aktor terbentuklah kebijakan kesehatan global yang berdasarkan tiga ajaran utama. Pertama adalah besarnya peran pasar dalam mengatur kesehatan. Hal ini dibantu dengan IMF yang mengurangi peran negara dan meningkatkan peran dari swasta melalui SAP. Kedua melalui paket kebijakan yang dikeluarkan oleh IFIs, kebijakan-kebijakan dari Washington Consensus- lah yang akhirnya mendominasi berbagai diskursus mengenai kesehatan. Ketiga adalah pelimpahan masalah kesehatan menjadi tanggungjawab individu dan bukan negara. Asumsi mengenai elemen-elemen dari IMF ini bekerja dalam konteks neoliberalisme yang menganggap bahwa di dalam pasar ada informasi, kompetisi dan pasar yang sempurna (Stiglitz, 2004, p.
59). Padahal, keadaan yang sebenarnya terjadi tidak seperti ini terutama dalam perihal krisis di mana keadaan ekonomi dan penyebaran informasi tidak akan bisa berjalan sebaik ketika tidak sedang krisis.
Hasil yang ada adalah sistem kesehatan global yang perdebatannya hanya terbatas di dalam ruang lingkup neoliberalisme (Rushton & Williams, 2012). Akhirnya, solusi yang dipikirkan dan dipilih pun akan didominasi oleh kebijakan yang bisa diambil di dalam ideologi
neoliberalisme dibandingkan kebijakan lain yang bisa lebih efektif dalam menangani masalah kesehatan. Dalam konteks ini, model kebijakan yang dibentuk untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan global tidak memperhitungkan faktor determinan sosial dan aspek-aspek pemerintahan lain yang tidak berhubungan langsung dengan kesehatan seperti kebijakan ekonomi makro. Menurut Rushton dan Williams (2012), deep core inilah yang menjadi alasan dari sistem kesehatan global yang masih belum bisa efektif dalam mengatasi permasalahan kesehatan.
2.5. Keadaan Pandemi Saat Ini
Pandemi telah menginveksi banyak korban sampai memiliki dampak yang besar dalam perekonomian global. Laporan dari Global Economic Prospects sendiri memprediksikan adanya 5,2% penurunan dari GDP global dikarenakan pandemi (The World Bank, 2020).
Sedangkan, IMF memprediksikan ekonomi global turun sebanyak 3% (Jones, Palumbo, &
Brown, 2020). Negara-negara yang memiliki ekonomi berkembang akan mengalami penurunan ekonomi dikarenakan interaksi dari berbagai faktor seperti sektor kesehatan yang tidak siap, penurunan remiten, keterbatasan modal dan lainnya. Dampak akan lebih besar lagi ditanggung oleh negara berkembang yang ekonominya bergantung pada industri non-formal.
Global Economic Prospects memprediksikan penurunan ekonomi paling parah akan dialami
oleh Amerika Latin sebanyak 7,2% sedangkan Asia Pasifik yang penurunan ekonominya paling rendah yaitu diprediksi hanya sekitar 0,5% (The World Bank, 2020).
Sampai dengan akhir Juni tahun ini sendiri, negara-negara maju di Eropa telah memecat pekerjanya dengan proporsi yang tinggi (Jones, Palumbo, & Brown, 2020). Di Inggris, jumlah pekerja yang dipecat ada sebanyak 19%. Di Itali dan Jerman, pemecatan sampai pada tingkat masing-masing 29% dan 23%. Sedangkan, pekerja di Perancis sendiri mengalami
pemecatan hingga 41%. Perekonomian di negara-negara di Amerika Latin sendiri, menurut IMF, tidak bisa dengan mudah kembali ke ekonomi sebelum pandemi. Bahkan, negara-negara ini diprediksikan tidak bisa mengembalikan tingkat pendapatan perkapitanya sampai dengan tahun 2025 (Chang, Hong, & Varley, 2020).
Bloomberg mengukur respon pandemi dari 53 negara yang tingkat ekonominya lebih dari 200 juta dolar. Hasil dari pengukuran tersebut disajikan dalam “Covid Resilience Ranking” atau daftar peringkat negara yang paling baik untuk ditinggali selama pandemi (Chang, Hong, &
Varley, 2020). Dalam daftar tersebut, New Zealand, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Finlandia berada di posisi teratas untuk periode per 23 November. Indonesia dan Amerika Serikat masing-masing ada di posisi 18 dan 19. Di posisi paling bawah, ada Argentina dan Meksiko.
Pada Februari 2019, World Health Organization memberikan kriteria yang harus dimiliki oleh negara untuk mempu menanggulangi pandemi dengan baik: sistem sosial yang mumpuni, strategi penanganan pandemi yang komprehensif, kemampuan untuk mendeteksi virus dalam masyarakat, dan penganganan yang baik untuk mereka yang telah mengontak virus (Navarro, 2020, p. 3). Poin terakhir sendiri mengartikan bahwa suatu negara harus memiliki sistem kesehatan yang cukup untuk mengangani kasus-kasus yang ada di masyarakatnya.
Negara-negara yang bisa dimasukan ke kriteria ini adalah Jepang, Hong Kong, Singapura, Korea Selatan, dan China.
Di sisi lain, berdasarkan penemuan Bloomberg, negara-negara yang sigap dalam menghadapi pandemi COVID-19 memiliki pemerintahan yang mampu menggunakan dan membangun rasa kepercayaan dari masyarakat. Jadi, kepatuhan dari masyarakat hadir karena adanya kerjasama sesama masyarakat dan pemerintah dibandingkan dengan sistem pemerintah yang
otoriter. Pembangunan kepercayaan ini dilakukan melalui kebijakan yang ketat dan cepat semenjak awal pandemi. Misalnya saja, pemerintah dari New Zealand langsung menetapkan kebijakan nasional dengan langsung menutup negara bahkan sebelum ditemukannya kasus pertama COVID-19. Taiwan yang berbatasan dengan China juga mengambil langkah cepat dalam menutup negaranya agar bisa membatasi orang yang masuk.
Negara-negara yang dianggap baik dalam menangani pandemi kebanyakan berasal dari negara ekonomi menengah ke bawah. Majalah Time sendiri memilih Taiwan, Singapura, Korea Selatan, New Zealand, Australia, Kanada sebagai negara yang penanganan pandeminya baik (Bremmer, 2020). Penemuan dari Bloomberg ini juga didukung oleh berbagai penelitian lain yang melihat bahwa negara-negara yang mampu merespon pandemi dengan cukup baik seperti Denmark, Jerman, Senegal and Thailand berhasil karena memiliki kebijakan nasional yang kuat (Ollove, 2020). Negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dan Korea bisa merespon pandemi COVID-19 dengan lebih sigap dibanding negara-negara lain karena pengalaman mereka dalam menghadapi pandemi Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di tahun 2015 lalu (Chang, Hong, & Varley, 2020).
Negara-negara ekonomi menengah lain yang juga mendapat perhatian atas baiknya penanganan pandemi adalah Taiwan dan Uni Emirat Arab (UAE) (Bremmer, 2020). Taiwan melaksanakan pelacakan kontak melalui nomor kartu individu dan mengimplementasikan standar ketat dalam karantina. Salah satu faktor keberhasilan dari Taiwan juga bisa dikarenakan wakil presidennya yang merupakan seorang epidemiolog. Sedangkan UAE sendiri melaksakan pembatasan sosial yang ketat sampai dengan melarang adanya perayaan termasuk doa Idul Fitri. Dampak-dampak dari seluruh biaya yang terkait dengan COVID-19
juga ditanggung oleh pemerintah terlepas dari status asuransi masing-masing individu (Navarro, 2020).
Hal ini berbeda dengan negara-negara maju yang malah menunjukkan kurang mapannya kemampuan dalam menangani pandemi. Navarro (2020) berargumen bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Itali dan Inggris memiliki penanganan yang parah dikarenakan pengaruh neoliberalismenya yang besar. Selain karena peran pemerintah yang sudah lemah, pemerintah di negara-negara maju ini kesulitan untuk mengimplementasikan kebijakan yang pro-kesehatan karena adanya perlawanan para “lobbyist” yang menentang kebijakan-kebijakan tersebut. Parahnya dampak dari pandemi dapat dilihat dari tingginya COVID-19 sebagai faktor kematian di negara-negara maju ini. Di Amerika Serikat, COVID-19 adalah penyebab kematian tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.
Di Perancis, Swedia dan Inggris, COVID-19 adalah penyebab kematian tertinggi keempat (Johnson, 2020). Menurut Maitra (2020), kegagalan dari negara-negara maju seperti Perancis dan Itali dalam mengendalikan virus dianggap sebagai hasil dari kebijakan austerity yang selama ini ditempuh oleh negara-negara di Eropa. Selain karena faktor pengaruh dari sektor kesehatan masing-masing negara, tingginya jumlah kasus di negara-negara dengan ekonomi maju bisa terjadi karena tingkat interkonektivitas yang tinggi dan yang ketergantungan tinggi terhadap sektor pariwisata dari negara-negara tersebut (Chang, Hong, & Varley, 2020).
2.6. Kerangka Analisis dan Model Penelitian
Sebagai institusi kesehatan yang paling signifikan di ranah global, tugas World Health Organization (WHO) dalam pandemi adalah untuk memberikan paduan pelaksanaan bagi negara-negara untuk memberikan respon yang diperlukan. WHO telah mengeluarkan “National Action Plans”, sebuah rangkaian strategi yang disarankan untuk dilaksanakan
setiap negara sebagai usaha untuk menanggulangi kasus COVID-19 di masing-masing negara (World Health Organization, 2020). National Action Plans ini memiliki lima kunci utama.
Secara garis besar National Action Plans ini menekankan pada kemampuan sektor kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang diperlukan dan kemampuan pemerintah dalam berkoordinasi dengan lini masyarakat lain untuk membangun responsibilitas dari masing-masing individu di dalam usaha pencegahan COVID-19 ini.
Kunci utama yang pertama adalah koordinasi dan perencanaan yang melibatkan semua aspek dalam masyarakat dalam penanganan COVID-19. Penekanan dalam langkah ini adalah pemetaan kelompok rentan yang harus diberikan prioritas dalam keadaan mendesak seperti perempuan dan anak-anak. Kunci kedua dari National Action Plans adalah mobilisasi masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan yang perlu dilakukan untuk menekan pandemi. Intinya adalah penyebaran informasi yang jelas dan konsisten dari pemerintah agar dapat membangun kebiasaan dan tanggung jawab individu dalam usaha melawan pandemi.
Langkah ketiga adalah pencegahan transmisi dengan melakukan pencarian, pengetesan, pengisolasian dan penaganan terhadap kasus-kasus COVID-19. Langkah ini tidak hanya dilakukan secara resmi oleh pemerintah tetapi juga harus dibantu dengan usaha masing-masing individu misalnya dengan pelaporan mandiri apabila telah mengontak orang yang terkena virus. Langkah keempat adalah memastikan adanya fasilitas kesehatan untuk tetap berjalan. Tujuan dari langkah ini adalah selain untuk melindungi masyarakat umum juga untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan. Langkah terakhir adalah pembaharuan dari strategi-strategi yang sebelumnya sudah dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan keadaan di lapangan.
Sektor kesehatan sendiri bisa dilihat dari dua hal: kemampuan sektor kesehatan dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan dan kemampuan masyarakat dalam mengakses fasilitas tersebut. Kentikelenis (2017) meneliti tentang dampak dari program ‘structural adjusment’ terhadap kesehatan yang dapat dilihat dari tiga skala: dampak langsung, dampak
tidak langsung, dampak terhaap faktor sosial kesehatan. Dampak langsung terhadap kesehatan dapat dilihat dari kebijakan yang berhubungan langsung dengan aspek kesehatan.
Empat elemen dari SAP secara garis besar mempengaruhi kesehatan secara langsung dengan adanya adanya pemotongan dana kesehatan, pemasangan wage ceilings, dan pengurangan berbagai fasilitas kesehatan yang lebih banyak diambil alih oleh sektor privat.
Kesehatan juga dipengaruhi ‘faktor determinan sosial’ atau ‘social determinants of health’.
Faktor determinan sosial adalah berbagai keadaan-keadaan yang berhubungan dengan cara hidup orang yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Yang termasuk dalam faktor determinan sosial adalah seperti hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, jaringan sosial, makanan dan sebagainya. Keberadaan SAP di negara-negara dapat mengurangi kualitas faktor determinan sosial dengan adanya peningkatan ketimpangan yang membuat orang-orang semakin tidak mampu untuk mengakses fasilitas kesehatan. Selain itu, SAP juga bisa menurunkan pendidikan masyarakat sehingga masyarakat semakin tidak bisa mendapatkan ilmu yang diperlukan untuk hidup sehat dan juga kemampuan untuk keluar dari kemiskinan, yang merupakan salah satu faktor utama orang-orang jatuh sakit.
Grafik 2.1 Metode Penelitian
Berdasarkan paduan WHO, inti dari tugas negara selama pandemi adalah membuat kebijakan dan mengkoordinasikan kebijakan tersebut agar jumlah kasus tidak melebihi kemampuan yang bisa ditampung oleh sektor kesehatan negara tersebut. Maka dari itu untuk melihat kinerja dari masing-masing negara dalam menanggapi pandemi, penelitian ini akan dibagi menjadi dua hal seperti yang ada pada Gambar 1. Masing-masing dari subjek penelitian (negara) akan dianalisis berdasarkan tiga aspek: pemerintah, masyarakat, dan struktur kesehatan. Aspek pemerintah akan berurusan dengan kebijakan yang diambil pemerintah selama pandemi. Masyarakat berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam menghadapi pandemi. Sedangkan, sektor kesehatan akan membahas tentang kemampuan sektor kesehatan dalam menagani pandemi.
Pemilihan indikator yang akan dipakai untuk ketiga aspek ini akan dikaitkan dengan penelitian dari Ketikelenis di atas. Untuk menganalisis kemampuan dari sektor kesehatan, penelitian ini akan menggunakan Global Health Security Index (GHSI). GHSI adalah analisis