SKRIPSI
RESPON KOREA UTARA TERHADAP LATIHAN MILITER AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN TAHUN 2010
Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata-1 Jurusan Hubungan Internasional
Oleh :
NICHO PRASETYO NIM : 09260098
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur yang tak terhingga pada Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, sumber segala ilmu pengetahuan. Shalawat serta salam untuk
junjungan kita Rasulullah SAW yang telah membawa umat manusia ke arah kebaikan
dan kedamaian.
Karya tulis ilmiah atau skripsi ini membahas mengenai permasalahan antara
Korea Utara dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang terfokus pada konflik
militer 23 November 2010. Konflik itu terjadi paska insiden Cheonan dan serangkaian
latihan militer yang diadakan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. Latihan tersebut
dianggap sebagai kamuflase untuk menyerang Korea Utara yang kemudian ditandai
dengan penembakan artileri ke wilayah perairan Korea Utara oleh Korea Selatan dari
Pulau Yeonpyeong. Merasa keamanan nasionalnya terancam, Korea Utara segera
membalas serangan tersebut. Dengan teori immediate deterrence, peneliti ingin menjelaskan mengapa Korea Utara bertindak seperti itu.
Namun peneliti merasa bahwa penelitian ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu peneliti mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna
kebaikan penelitian ini sehingga layak dijadikan sebuah rujukan karya ilmiah lainnya
dan berimplikasi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bagi ilmu
hubungan internasional dan studi kawasan Asia Timur.
Malang, 3 Mei 2014
LEMBAR PERSEMBAHAN
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah hadir dalam kehidupanku; kepada mereka yang membawa angin segar perubahan; kepada mereka yang penuh kasih; kepada mereka yang senantiasa memotivasi; kepada mereka yang mengajari arti kehidupan; kepada mereka yang berarti; dan kepada mereka yang aku sayangi, aku cintai.
Ibu ku, Suliani, seperti udara kasih yang engkau berikan. Seorang yang rela berbaju seadanya demi studi anaknya. Ibu, engkaulah gambar kesederhanaan. Meski Ibu sudah tak ada di dunia, doa dan jiwamu masih melekat di diriku. Ibu, aku rindu...
Bapak ku, Sunaryo, keriput tulang pipimu gambaran perjuangan, bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari. Seseorang yang sejatinya baru aku kenali belakangan ini. Seseorang yang tak pernah „memperlihatkan’ kasih sayangnya yang begitu dalam. Pak, ijinkan aku untuk menjadi seorang yang dapat disyukuri kehadirannya yang
mampu membuatmu bangga. Engkaulah lelaki yang paling ku hormati, ku banggakan, dan ku cintai di dunia ini. You are my best Daddy...
Mbakyu ku, Ninik Ari Kristiani & family, terima kasih untuk setiap cucuran keringatmu yang membantuku meraih mimpi. Aku berhutang budi padamu Mbakyu.
Kang Mas ku, Deddy Kristianto, S.Tp, seorang yang aku banggakan, yang ingin aku „kejar’ (meski tak pernah bisa mengejarnya). Terima kasih untuk segala pengorbananmu dengan menungguku segera lulus. Maaf, beribu maaf tak kan mampu mengobati penyesalanku yang tak bisa segera lulus ketika ragamu masih di sini. Saiki wayahku nerusno
perjuanganmu sam.
Adik ku, Roby Oktaviano Prasetyo, pecinta Smack Down sejati. Thanks sudah buat „gebrakan’ yang menyadarkanku untuk segera lulus. Semoga gak niru Mas e iki, ndang lulus seperti targetmu, 3,5 tahun...
Guru ku, Pak Victory Pradhitama, terima kasih untuk bimbingan mental dan ilmu darimu. Pak Suyatno, guru yang selalu menginspirasi dan mengajari cara memandang suatu masalah. Pak Ruly Inayah Ramadhoan, terima kasih atas bimbingannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Nanti kita mancing lagi ya Pak. Pak Tonny Dian Effendi, terima kasih sudah mengenalkan saya dengan Asia Timur sebagai cikal bakal terciptanya skripsi ini dan terima kasih untuk bimbingan skripsinya. Bu Ayushia Kusuma, dosen tercantik yang pernah ada di HI, terima kasih untuk saran dan kritikanmu atas proposal skripsiku. Bu Yuli Kesos, terima kasih untuk pecutan motivasinya dan maaf tak bisa segera lulus seperti apa yang Ibu harapkan di awal 2013. Pak Syaprin Zahidi & Pak Hafid Adim Pradana, thanks sudah berkenan memberi kritikan atas skripsi ini.
Arya Kanda & Derry Sefriansyah, SE., dua sejoli sejak SMA (guyon rek... hha), yang telah memberi semangat untuk aku segera menyelesaikan skripsiku dan kemudian kembali berjuang bersama-sama kembali untuk mendapatkan pekerjaan dan membangun masa depan. Semoga kalian cepet dapet kerja kawan..
Ganar Timur, si kriwul acak adul yang membawa angin kesegaran pada jiwa yang tengah rapuh. Terima kasih untuk pengalaman spiritualnya dan thanks
juga untuk segalanya kawan. Semoga segera lulus dan membanggakan orang tuamu...
Rizki Adi Nugroho, teman SMP yang kembali dipertemukan di bangku perkuli-ahan, sang maniak Moto GP.
Thanks sobat, untuk segala kebaikanmu, berteduh di rumahmu ketika menunggu jam kuliah...
Muhammad Benjamin dan Mama nya, sahabat sejak SD, thanks motivasi dan tegurannya untuk segera lulus. Dari teguran ibumu, aku jadi merasa bahwa Ibu ku sendiri yang menegur.
Pasutri, Ferry Jubair & Wahdlatul Aulia, danke schone für dass mein Kamerad der Regenbogen bringen zur mein Leben. Jij bent keygek Ferry... hhaha
Khoirul Amin, S.IP & Najamuddin Khairurrijal, S.IP, bagiku, kalian adalah sahabat yang selalu menginspirasiku dalam segala hal, terutama bidang akademik, thanks untuk
„setrum’ annya kawan. Nanti aku susul kalian berdua. Aulia Akmalia, thanks nasihat
keibuanmu sehingga aku bisa mengejar impianku untuk segera lulus. Terima kasih juga untuk kawan-kawan HI 2009: Bunga, Rara, Thea, Lisvy, Epo, Widya, Widad, Trisna, Ayu Muslimah, Awik, Sigit, Makhrus, Sholeh, Tata, Uwik, Mbak Cuwi, Lestari, Intan, Risco dan lainnya. Kenangan bersama kalian tak kan pernah aku lupakan.
Aditya Maulidana, S.IP, hampir setengah jam kamu memarahi dan menceramahiku untuk segera lulus Dit. Xie xie Adit... hhe HIMAHI 2010, Mbak Shanah, Haryo Prasodjo, Idan, Yuyun, Rara, dan kawan-kawan lainnya. Bersama kalian adalah suatu momen kebersamaan yang tak
tergantikan... Faikha Fairuz Firdhausi, thanks untuk segala nasihatnya dan juga dasi nya ya Mbak... hhe
Kakanda & Ayunda, Mas Viki, Bang Erry Mega Herlambang, Kak Dyah, Mbak Fitri, Mbak Astri. BEMFA 2010, Mas Fredy, Mbak Lemu-Elmo, Mbak April, dan kawan-kawan lainnya. Thanks sudah diijinkan untuk menjadi „freelancer’ dalam beberapa kegiatan. Bersama kalian adalah sesuatu yang mengasyikkan.
DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan Skripsi... i
Lembar Pengesahan... ii
Berita Acara Bimbingan... iii
Pernyataan Orisinalitas... iv
Kata Pengantar... v
Lembar Persembahan... vi
Abstraksi... ix
Abstract... x
Daftar Isi... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang... 1
1.2Rumusan Masalah... 5
1.3Tinjauan Pustaka... 5
1.4Landasan Pemikiran... 11
1.4.1 Kerangka Teori dan Konsep... 11
1.4.1.1Immediate Deterrence... 11
1.4.1.2Konsep Aliansi... 20
1.5Metode Penelitian... 22
1.5.1 Metodologi Hubungan Internasional... 22
1.5.1.1Tingkatan Analisa... 23
1.5.1.2Jenis Penelitian... 23
1.5.2 Metodologi Penelitian Sosial... 23
1.5.2.1Teknik Pengumpulan Data... 23
1.5.2.2Teknik Analisa Data... 25
1.5.2.3Jenis Penelitian... 25
1.5.3 Ruang Lingkup Pembahasan... 26
1.5.3.1Batasan Materi... 27
1.5.3.2Batasan Waktu... 27
1.6Hipotesa... 27
1.7Sistematika Penulisan... 28
BAB II LATIHAN MILITER AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN 2.1 Latihan Militer Amerika Serikat-Korea Selatan... 31
2.1.1 Latar Belakang... 32
2.1.2 Gambaran Latihan Militer... 39
2.1.3 Tujuan Latihan Militer... 44
BAB III ANALISA RESPON KOREA UTARA TERHADAP LATIHAN MILITER AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN TAHUN 2010
3.1 Penembakan Pulau Yeonpyeong Oleh Korea Utara... 49
3.2 Penembakan Pulau Yeonpyeong Oleh Korea Utara Sebagai Bentuk
Respon Immediate Deterrence... 55
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan... 65
4.2 Saran... 66
DAFTAR PUSTAKA
Literatur Buku
Burchill, Scott dan Andrew Linklater dkk. 2005. Theories of international relations, 3rd ed. Hampshire: Palgrave MacMillan.
Danilovic, Vesna. 2002. When The Stake Are High: Deterrence and Conflict Among Major Powers. USA: The University of Michigan Press.
Mas’oed, Mohtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.
Jakarta: LP3ES.
Morgan, Patrick M. (1977). Deterrence : A Conceptual Analysis. California: Sage Publication, Inc.
Morgan. Patrick M. (2003). Deterrence Now. Cambridge: University of Cambridge Press.
Waltz, Kenneth. 1979. The Theory of International Politics. Canada: Addison-Wesley Publishing Company, Inc.
Zagare, Frank C. dan D. Marc Kilgour, 2000, Perfect Deterrence, New York : Cambridge University Press
Karya Tulis Ilmiah
Between the U.S. and the Republic of Korea Regarding the Mutual Defense Treaty. Signed at Washington October 1, 1953. Entered into force November 17, 1954, dalam
http://photos.state.gov/libraries/korea/49271/p_int_docs/p_rok_60th_int_14.pdf, (diunduh 24 Oktober 2013, 11.09 WIB).
Bruce E. Bechtol Jr., The Implication of the Cheonan Sinking: A Security Studies Perspective, International Journal of Korean Unification Studies, Vol. 19 No. 2, 2010, KINU,
http://www.marineclub.com/calendar/content/BruceBechtolIJKUS.pdf, (diunduh 10 Januari 2014, 09.02 WIB).
Bruce E. Bechtol, Maintaining a Rogue Military: North Korea’s Military Capabilities and Strategy at the End of Kim Jong-Il Era, International Journal of Korean Studies, Volume XVI No. 1, dalam http://www.icks.org/publication/pdf/2012-SPRING-SUMMER/8.pdf (diunduh 13 Februari 2014, 13.27),
James Blackwell. Deterrence at the Operational Level of War. Dalam
http://www.au.af.mil/au/ssq/2011/summer/blackwell.pdf (diunduh 04 Juni 2011)
Congressional Research Services, 15 Mei 2012, U.S.-South Korea Relations,
http://fpc.state.gov/documents/organization/191602.pdf (diunduh 28 Oktober 2013, 13.23 WIB).
Ellen Kim, The Year in Review: South Korea in 2010, CSIS, dalam
http://csis.org/files/publication/110113_korea_platform.pdf, 13 Januari 2011, (diunduh 13 Februari 2014, 13.32 WIB).
International Crisis Group. Asia Report. 23 Desember 2012. North Korea: The Risks of War in The Yellow Sea. Di unduh melalui
http://www.securitycouncilreport.org/atf/cf/%7B65BFCF9B-6D27-4E9C-8CD3-
CF6E4FF96FF9%7D/DPRK%20198%20North%20Korea%20---%20The%20Risks%20of%20War%20in%20the%20Yellow%20Sea.pdf
(diakses 10 April 2012, 16.30 WIB).
Ken E. Gause, North Korean Calculus in the Maritime Environment, CNA,
http://www.cna.org/sites/default/files/research/COP-2013-U-005210-Final.pdf
(diunduh 28 Januari 2014, 12.40 WIB).
Mark E. Manyin, dkk, November 2011, U.S.-South Korea Relation.
http://www.fas.org/sgp/crs/row/R41481.pdf, (diunduh 10 April 2012, 16.40 WIB).
Mark E. Mayin, North Korea: Back on the Terrorism List?, dalam
https://www.fas.org/sgp/crs/row/RL30613.pdf, Congressional Research Service, 29 Juni 2010, 18 Maret 2014, 13.20).
Mark J. Valencia, 2011, Foreign Military Activities in Asian EEZs: Conflict Ahead?, National Bureau of ASEAN Research, dalam
http://kms1.isn.ethz.ch/serviceengine/Files/ISN/129493/ipublicationdocument_si ngledocument/d86764ed-ab25-40c1-8170-0e649f58d286/en/SR27_EEZs.pdf, (diunduh 11 Mei 2012, 09.53 WIB).
Mustikasari. 2013. Analisa Respon Korea Selatan Terhadap Pemboman Pulau Yeonpyeong Oleh Korea Utara. Skripsi HI UMM.
North Korea Nuclear Technology. NTI.
http://www.nti.org/media/pdfs/north_korea_nuclear.pdf?_=1316543714, (diunduh 21 Januari 2014, 13.43 WIB).
Paul B. Stares. November 2010. Military Escalation in Korea.
http://www.cfr.org/content/publications/attachments/CPA_china_security_mem o2_Snyder.pdf (diunduh tanggal 10 April 2012, 16.56 WIB).
Robert F. Ogden. 2007. United States National Security Interest and North Korea: Leveraging Common Interest.
Scott Snyder dan See-Won Byun. “Cheonan and Yeonpyong : The Northeast Asia Response to North Korea’s Provocations”. Dalam Rusi Journal April/May 2011 Vol. 156 No. 2 pp. 74-81. Dalam
http://asiafoundation.org/resources/pdfs/201104SnyderandByun.pdf (diunduh 5 Februari 2013, 08.12 WIB).
Scott Snyder, dkk. June 2010. U.S. Policy Towards Korean Peninsula. Council of Foreign Relations.
http://iis-db.stanford.edu/pubs/22935/Korean_PeninsulaTFR64-1.pdf (diunduh tanggal 10 April 2012, 16.51 WIB).
Statement of General Waalter L. Sharp Commander, United Nations Command;
Commander, United States-Republic of Korea Combined Forces Command; and Commander, United States Forces Korea Before the House Armed Services Committee 6 April 2011, dalam
http://armedservices.house.gov/index.cfm/files/serve?File_id=9b5e6d68-fa2f-4257-ba99-299e7f4ee6b0, 6 April 2011, (diunduh 18 Februari 2014, 10.38 WIB).
Stefano Felician, 2011, North and South Korea: A Frozen Conflict on the Verge of Unfreezing?, http://www.iai.it/pdf/DocIAI/iaiwp1124.pdf, (diunduh 10 April 2012, 16.37 WIB).
The Korea Peninsula: Rising Military Tensions and the ROK’s Changing Foreign and Defence Policy,
http://www.nids.go.jp/english/publication/east-asian/pdf/2011/east-asian_e2011_03.pdf, (diunduh 21 Januari 2014, 14.09 WIB).
Zhu Ziqun, The Sinking of the Cheonan, the Shelling of Yeonpyeong and China-North Korea Relations, http://www.eai.nus.edu.sg/Vol2No4_ZhuZhiqun.pdf, (diunduh 21 Januari 2014, 13.56 WIB).
“2010 Exports of NAICS Total of Merchandise”,
http://tse.export.gov/TSE/MapDisplay.aspx, (diakses 18 Desember 2013, 10.31 WIB).
Jurnal Elektronik
Hilary Keenan, Shock Wave and Bubble: the Untruth About the Cheonan,
GlobalSecurity, http://www.globalresearch.ca/shock-wave-and-bubble-the-untruth-about-the-cheonan/20408, (diakses 29 Januari 2014, 12.25 WIB).
Jack A. Smith, “Behind the U.S.-North Korea Conflict”, dalam
http://www.foreignpolicyjournal.com/2013/04/03/behind-the-u-s-north-korea-conflict/, 3 April 2013, (diakses 28 Januari 2014, 13.01 WIB).
Mark E. Caprio, Plausible Denial? The Evidence of DPRK Culpability for the Cheonan Warship Incident, The Asia-Pacific Journal : Japan Focus,
More War Games, Rising Tensions: US, South Korea to Stage Another Military
Exercise, dalam http://www.globalresearch.ca/more-war-games-rising-tensions-us-south-korea-to-stage-another-military-exercise/20628, Global Research, 15 Agustus 2010, (diakses 14 Februari 2014, 10.35 WIB).
Skirmish Between North and South Korea: South Korea Fired the First Shot, dalam
http://www.globalresearch.ca/skirmish-between-north-and-south-korea-south-korea-fired-the-first-shot/22066, Global Research, 23 November 2010, (diakses 17 Februari 2014, 13.34 WIB).
Song-Chool Lee. The ROK-U.S. Joint Political and Military Response to North Korea Armed Provocations, CSIS Report,
http://csis.org/files/publication/111006_Lee_ROKUSJointResponse_web.pdf, (diunduh 5 Februari 2013, 04.40 WIB),
Stuart Smallwood, The Cheonan Incident adn the Continued International Isolation of North Korea”, GlobalResearch, http://www.globalresearch.ca/the-cheonan-incident-and-the-continued-international-isolation-of-north-korea/32075, (diakses 16 Januari 2014, 13.13 WIB).
Tanakai Sakai, “韓国軍艦 天安 没の深層, diterjemahkan oleh Kyoko Selden, Who Sank the South Korea n Warship Cheonan? Destabilization of the Korean Peninsula, http://www.globalresearch.ca/who-sank-the-south-korean-warship-cheonan-destabilization-of-the-korean-peninsula/19375, (diakses 14 Januari 2014, 14.05 WIB).
Tim Beal, Fire Fight at Yeonpyeong: The Manufacturing of Crisis, dalam
http://www.timbeal.net.nz/geopolitics/Manufacturing15.pdf, November 2010, (diunduh 6 Februari 2014, 13.32 WIB),
Artikel dan Berita Internet
Antisipasi Korut, AS & Korsel Latihan Perang, dalam
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/153800-antisipasi_korut__as___korsel_latihan_perang, Vivanews, 27 Mei 2010, (diakses 13 Februari 2014, 09.58 WIB).
Another Korean War?, dalam http://www.realtruth.org/articles/101126-002-asia.html, (diakses 1 Februari 2014, 13.53 WIB).
B Kunto Wibisono. AS Sebut Korea Utara Ancaman Nyata.
http://www.antaranews.com/berita/1279828861/as-sebut-korea-utara-ancaman-nyata (diakses 17 April 2011, 16.54 WIB)
BBC, 2010, Korut Tuntut Bukti Soal Torpedo, dalam
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2010/05/100519_nkoreaccused.shtml, (diakses 28 November 2013, 10.14 WIB).
Chosun Ilbo, Kim Jong-un „Ordered Attack in Early November’, dalam
http://english.chosun.com/site/data/html_dir/2010/12/02/2010120200946.html, 2 Desember 2010, (20 Maret 2014, 12.49 WIB).
CS Monitor, Impatience Deepens in South Korea over Cheonan Sinking,
http://www.csmonitor.com/World/Asia-Pacific/2010/0401/Impatience-deepens-in-South-Korea-over-Cheonan-ship-sinking, 1 April 2010, (diakses 9 Januari 2014, 21.22 WIB).
CNN, U.S., South Korea begin military exercises, 25 July 2010,
http://edition.cnn.com/2010/WORLD/asiapcf/07/24/south.korea.drills/index.htm l?iref=allsearch, 25 Juli 2010, (diakses 11 November 2013, 09.44 WIB).
Mark McDonald, „Crisis Status’ in South Korea After North Shells Island,
http://www.nytimes.com/2010/11/24/world/asia/24korea.html?pagewanted=all& _r=0, NYTimes, 23 November 2010, (diakses 20 Maret 2010, 12.58 WIB).
DPRK Media Warns Against U.S.-South Korea Military Exercise, dalam
http://news.xinhuanet.com/english2010/world/2010-08/16/c_13447559.htm, 16 Agustus 2010, (diakses 18 Maret 2014, 13.51 WIB).
Exercising Restrain in South Korea, dalam
http://www.defencereviewasia.com/articles/67/EXERCISING-RESTRAINT-IN-SOUTH-KOREA, 17 Desember 2010, (diakses 19 Februari 2014, 13.11 WIB).
Torie Natallova. Serangan Korut Dapat Kecaman Dunia. Media Indonesia.
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/24/183696/39/6/Serangan-Korut-Dapat-Kecaman-Dunia- (diakses 16 April 2011, 18.43 WIB).
Indopos. Korut Meradang. http://www.indopos.co.id/index.php/internasional/39-internasional-news/1879-korut-meradang.html (diakses 15 April 2011, 15.31 WIB).
Indosmarin.com, 2010, Bersiap Hadapi Korut, AL Korsel Lakukan Latihan Anti Kapal Selam, http://indosmarin.com/bersiap-hadapi-korut-al-korsel-lakukan-latihan-anti-kapal-selam/, (diakses 28 November 2013, 00.24 WIB).
Jean H. Lee dan Kwang Tae-Kim, AP Enterprise: Alleged N. Korea Submarine Attack Came Near US-South Korea Anit-Subs Maneuver, Associated Press,
Jim Garamone, U.S.-Korean Defense Leaders Announce Exercise Invincible Spirit, dalam http://www.defense.gov/news/newsarticle.aspx?id=60074, 20 Juli 2010, (diakses 13 Februari 2014, 11.38 WIB).
John H. Kim, The Artillery Duel in Korea: Basic Facts ang Historical Context,
http://forusa.org/blogs/john-h-kim/artillery-duel-korea-basic-facts-historical-context, 3 Januari 2011, (diakses 22 Maret 2014, 09.54 WIB).
John M. Glionna dan Ju-min Park, U.S., South Korea Enter Second Day of Joint Drills, dalam http://articles.latimes.com/2010/jul/25/world/la-fg-korea-war-games-20100725, 25 Juli 2010, (diakses 8 Februari 2014, 12.01 WIB).
John D. Banusiewicz, Gates Plans Visit to South Korea for „2-Plus-2 Talks’, dalam
http://www.defense.gov/news/newsarticle.aspx?id=60048, 16 Juli 2010, (diakses 12 Februari 2014, 12.08 WIB).
John Pomfret, U.S. Debates Joining S. Korean Military Exercise, Washington Post,
http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/06/18/AR2010061804344.html (diakses 14 Januari 2014, 09.42 WIB).
JR Potts, 2013, ROK Cheonan (PCC-772) Patrol Combat Corvette, Military Factory, dalam http://www.militaryfactory.com/ships/detail.asp?ship_id=ROKS-Cheonan-PCC772 (diakses 9 Januari 2014, 23.51 WIB).
KCNA: Who is to Wholly Blame for Armed Clash in West Sea of Korea, dalam
http://www.kcna.co.jp/item/2010/201011/news27/20101127-13ee.html, KCNA, 27 November 2010, (diakses 17 Februari 2014, 12.18 WIB).
KCNA, KPA Command Vows to Counter S. Korean Drill by Physical Retaliation, dalam http://www.kcna.co.jp/item/2010/201008/news03/20100803-04ee.html, 3 Agustus 2010, (diakses 20 Maret 2014, 12.26 WIB).
Keith Porter, The US-South Korean Relationship,
http://usforeignpolicy.about.com/od/countryprofile1/p/usskoreaprofile.htm, (diakses 18 Desember 2013, 10.28 WIB).
Kelly Olsen, “South Korea Begins Large-Scale Military Exercise”, dalam
http://www.huffingtonpost.com/2010/05/27/south-korea-begins-larges_n_591974.html, Huffington Post, 27 Mei 2010, (diakses 13 Februari 2014, 10.40 WIB).
Kevin Grey. Desember 2010. Conflict on the Korean Peninsula.
http://londonprogressivejournal.com/article/view/788 (diakses 30 Maret 2012, 16.37 WIB).
Korea Utara: Konflik Korea Karena Provokasi AS.
Koreas on „brink of war’ Because of Seoul, Pyongyang Says, CNN,
http://www.cnn.com/2010/WORLD/asiapcf/11/24/nkorea.skorea.military.fire/, 24 November 2010, (diakses 29 Januari 2014, 12.42 WIB).
Korut: Suasana di Semenanjung Korea di Ambang Perang.
http://metrotvnews.com/metromain/newscat/internasional/2010/11/26/35113/Ko rut-Suasana-di-Semenanjung-Korea-di (diakses 15 April 2011, 20.10 WIB). Korsel-AS Siap Lakukan Latihan Perang.
http://metrotvnews.com/read/news/2010/11/27/35185/Korsel-AS-Siap-Lakukan-Latihan-Perang/ (diakses 15 April 2010, 17.51 WIB).
Korut menyangkal terlibat dalam kasus tenggelamnya kapal Cheonan, Korsel terus berupaya untuk membawa kasus kapal Cheonan ke DK PBB, dalam
http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/now_02_detail.htm?No= 741, (diakses 13 Februari 2014, 12.34 WIB).
Korut Peringatkan Latihan Militer AS Ancam Kedaulatannya, dalam
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/07/24/126373-korut-peringatkan-latihan-militer-as-langgar-kedaulatannya, 24 Juli 2010, (diakses 3 Februari 2014, 09.45 WIB).
Latihan Militer Picu Perang di Semenanjung Korea. Media Indonesia.
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/11/184182/39/6/Latihan_Militer_ Picu_Perang_di_Semenanjung_Korea (diakses 15 April 2011, 18.27 WIB).
Latihan Korsel di Perbatasan Berpotensi Panaskan Tensi,
http://international.okezone.com/read/2010/12/16/18/404187/latihan-korsel-di-perbatasan-berpotensi-panaskan-tensi, 16 Desember 2010, (diakses 6 Maret 2014, 16.17 WIB).
Marines Recall Yeonpyeong Shelling With New Perspective, dalam
http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2011/11/117_99175.html, 21 November 2011, (diakses 17 Februari 2014, 12.51 WIB).
Michael Hickey. The Korean War: An Overview.
http://www.bbc.co.uk/history/worldwars/coldwar/korea_hickey_01.shtml
(diakses tanggal 8 Oktober 2013, pukul 13.39 WIB).
National Campaign to End the Korean War, 2010, Factsheet: West Sea Crisis in Korea, http://www.endthekoreanwar.org/factsheet2--west_sea_crisis_in_korea--2010-12-011.pdf, (diunduh tanggal 10 April, pukul 17.04 WIB),
N.Korea Denies Sinking S.Korea Warship, Space Daily,
http://www.spacedaily.com/reports/NKorea_denies_sinking_SKorea_warship_9 99.html, (diakses 16 Januari 2014, 12.33 WIB).
North Korea Denies Sinking Warship; South Korea Vows Strong Response, CNN,
North Korea Offers Torpedoe Sample, The Right Perspective, dalam
http://www.therightperspective.org/2010/11/02/north-korea-offers-torpedo-sample/, (diakses 16 Januari 2014, 12.50 WIB).
North Korea Artillery Hits South Korean Island, dalam
http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-11818005, BBC, 23 November 2010, (diakses 12 Februari 2014, 10.49 WIB).
Obama: Korut Ancaman Serius, dalam
http://international.okezone.com/read/2010/11/24/18/396386/obama-korut-ancaman-serius, 24 November 2010, (diakses 6 Maret 2014, 15.12 WIB).
Okezone.com. 2010. AS Ajak Aliansi Bersatu Lawan Korut.
http://international.okezone.com/read/2010/06/07/18/340150/redirect (diakses 28 November 2013, 02.58 WIB).
Okezone.com, 2010, Korut Ancam Aksi Militer,
http://international.okezone.com/read/2010/06/17/18/343756/redirect, (diakses 28 November 2013, 05.29 WIB).
Panmunjom Mission of Sends Notice to U.S. Forces Sides, dalam
http://www.kcna.co.jp/item/2010/201011/news25/20101125-01ee.html, KCNA 25 November 2010, (diakses 17 Februari 2014, 11.59 WIB).
Korut Ancam Aksi Militer, dalam
http://international.okezone.com/read/2010/06/17/18/343756/redirect, (diakses 28 November 2013, 05.29 WIB).
S.Korea, US Begin Joint Navy Drills off East Coast of Korean Peninsula, dalam
http://www.globaltimes.cn/world/asia-pacific/2010-07/555624.html, Xinhua, 25 Juli 2010, (diakses 18 Februari 2014, 12.17 WIB).
S. Korea, US Stage Anti-sub Exercises in 2nd Day of Joint Naval Drills, dalam
http://www.globaltimes.cn/world/in-depth/2010-07/556300.html, Xinhua, 27 Juli 2010, (diakses 18 Februari 2014, 12.22 WIB).
S Korea, U.S. Start Annual Ulchi Freedom Guardian Exercise, dalam
http://english.cntv.cn/20100816/101993.shtml, 16 Agustus 2010, (diakses 19 Februari 2014, 12.48 WIB).
S. Korea Conducts Anti-Terrorism Drills as Part of UFG Exercise, dalam
http://news.xinhuanet.com/english2010/world/2010-08/17/c_13449108.htm, Xinhua, 17 Agustus 2010, (diakses 19 Februari 2014, 11.58 WIB).
S. Korea deploys missiles on Yeonpyeong Island, dalam
http://english.yonhapnews.co.kr/national/2010/12/01/44/0301000000AEN20101 201008800315F.HTML, 1 Desember 2010, (diakses 22 Februari 2014, 07.03 WIB).
US, South Korea Plan Anti-Submarine Exercise, dalam
http://www.navy.mil/submit/display.asp?story_id=56184, 24 September 2010, (diakses 14 Februari 2014, 10.59 WIB).
USS Columbia Returns to Pearl Harbour, NAVY,
http://www.navy.mil/submit/display.asp?story_id=53074, (14 Januari 2014, 14.18 WIB).
“Why China Oppose US-South Korean Military Exercise in Yellow Sea”, dalam
http://english.peopledaily.com.cn/90001/90780/91342/7069743.html, 16 Juli 2010, (diakses 8 Februari 2014, 11.16 WIB).
Zend Gartner, Korea: Where There’s Smoke (Military Exercise) There’s Fire (False Flag Catasthope)-Once Again, http://www.zengardner.com/korea-where-theres-smoke-military-exercise-theres-fire-false-flag-catastrophe-once-again/, (diakses 14 Januari 2014, 13.57 WIB).
(LEAD) Satellite Photos Show S.Korea’s Counterfire hit N.Korea’s Barracks,
http://english.yonhapnews.co.kr/national/2010/12/02/10/0301000000AEN20101 202007000315F.HTML, 2 Desember 2010 (diakses 30 Januari 2014, 12.21 WIB).
“Kalau Diserang, Korut Siap Perang”, dalam
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/05/26/117094-kalau-diserang-korut-siap-perang, 26 Mei 2010, (diakses 3 Februari 2014, 09.55 WIB).
“Korsel-Korut Terus Perang Kata-Kata”, dalam
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/05/26/117197-korsel-korut-terus-perang-kata-kata, 26 Mei 2010, (diakses 3 Februari, 2014, 10.01 WIB).
“Korea Utara Cabut Kesepakatan”, dalam
http://metronews.fajar.co.id/read/93870/33/index.php (diakses 28 November 2013, 02.40 WIB).
http://www.polgeonow.com/2013/04/what-is-north-korea.html, (diunduh 20 Maret 2014, 11.49 WIB).
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pada bulan november tahun 2010, tepatnya tanggal 23 november 2010,
Korea Selatan mengadakan latihan gabungan dengan Amerika Serikat
diperbatasan Korea Utara yang masih dalam persengketaan secara diam-diam.
Korea Selatan dan Amerika Serikat mengklaim, latihan ini direncanakan jauh-jauh
hari sebelum serangan Korea Utara. Namun, pemerintah Korea Selatan dan
Amerika Serikat mengumumkan waktu latihan itu satu hari setelah serangan
Korea Utara. Tak ayal, latihan ini dinilai sebagai unjuk kekuatan.1 Hal ini
tentunya membuat Korea Utara berasumsi bahwa latihan militer tersebut sebagai
suatu bentuk ancaman militer yang hendak ditujukan kepada Korea Utara. Korea
Utara menanggapi latihan militer itu dengan serangan militer ke Pulau
Yeonpyeong yang termasuk dalam wilayah persengketaan dengan Korea Selatan.
Secara berlawanan, sudut pandang Korea Utara itu kemudian ditanggapi oleh
Amerika Serikat-Korea Selatan sebagai bentuk pertahanan.
Di lain pihak, pasukan Korea Selatan dan AS menyatakan, mereka
"memperagakan kekuatan persekutuan Republik Korea dan AS serta
komitmennya terhadap stabilitas regional dengan penangkisan". Apapun dalihnya,
1
Korsel-AS Siap Lakukan Latihan Perang.
2
bagi Pyongyang, latihan itu adalah ancaman kepada Pemerintah Pyongyang.2
Pernyataaan ini merupakan tanda sebagai alih-alih bahwa kedua negara itu hanya
melakukan latihan militer saja tanpa ada niatan menyerang Korut. Interpretasi
peneliti mengenai kata “penangkisan” dari statement di atas dimungkinkan
memiliki arti “menangkis serangan Korea Utara”. Pernyataan ini didasarkan pada
seringnya Korut melancarkan maneuver-manuver provokatif terhadap Korsel,
setidaknya dilihat dari sudut pandang Korsel. Hal yang sama sebagai juga
dilontarkan oleh AS melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika
Serikat Philip Crowley kepada wartawan di Washington mengenai latihan militer
pada bulan Mei. Pernyataannya adalah sebagai berikut; "Itu merupakan latihan
pertahanan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kemampuan kami bekerja
bersama-sama sebagai sekutu."3 Meskipun demikian, Korea Utara tetap
mengang-gap bahwa latihan itu merupakan suatu ancaman yang perlu untuk ditangmengang-gapi.
Serangan Korea Utara ke Pulau Yeonpyeong mendapat banyak kecaman
dari dunia internasional.4 Amerika Serikat dan Rusia mengecam tindakan Korut
ini karena serangan tersebut mengarah ke pemukiman penduduk.5 Namun Korut
menampik hal itu, seperti yang dikutip dari sebuah situs internet, "Yeonpyeong
terletak jauh di dalam wilayah perairan Korea Utara dan jauh dari garis demarkasi
2
Ibid.
3
B Kunto Wibisono. AS Sebut Korea Utara Ancaman Nyata.
http://www.antaranews.com/berita/1279828861/as-sebut-korea-utara-ancaman-nyata (diakses17 April 2011, 16.54 WIB).
4
Torie Natallova.Serangan Korut Dapat Kecaman Dunia. Media Indonesia.
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/11/24/183696/39/6/Serangan-Korut-Dapat-Kecaman-Dunia- (diakses 16 April 2011, 18.43 WIB)
5
Korea Selatan Ancam Korea Utara, dalam
3
maritim militer. Jika mortir yang ditembakkan dari pulau itu, dan tentu akan jatuh
di dalam perairan teritorial dari sisi Korea Utara tidak peduli ke arah mana mereka
ditembakkan karena fitur geografis pulau seperti itu”.6 Artinya, bahwa segala
bentuk tembakan meriam yang berasal dari Pulau Yeonpyeong tentu akan jatuh di
dalam wilayah perairan Korea Utara. Jelas keadaan itu akan mengancam
keama-nan nasionalnya dan mengundang kebijakan untuk mencegah terjadinya hal yang
tidak diinginkan, seperti penyerangan ke daratan Korea Utara. Terbukti dengan
peringatan yang diikuti ancaman oleh Korea Utara yang turut mengiringi latihan
militer Amerika Serikat dan Korea Selatan. Begitu pula dengan rencana latihan
militer yang dilaksanakan menyusul konflik militer Yeonpyeong oleh Amerika
Serikat-Korea Selatan.
Pada tanggal 28 november 2010 Korea Selatan dan Amerika Serikat akan
melakukan latihan kelautan besar. Mendengar kabar demikian, Korea Utara
menegaskan kondisi memanas di Semenanjung Korea yang bisa berujung pada
perang dua negara serumpun itu dipicu dengan rencana latihan perang
besar-besaran Korea Selatan dan Amerika Serikat.7 Sinyalemen dari Korea Utara itu
menggambarkan bahwa Korea Utara berada dalam keadaan terancam. Korea
Utara memperingatkan bahwa rencana pelatihan angkatan laut Korea Selatan dan
Amerika Serikat bakal membuat dua negara di Semenanjung Korea itu makin
6
Korea Utara: Konflik Korea Karena Provokasi AS.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/korea-utara-konflik-korea-karena-provokasi-as.htm (diakses 17 April 2011, 07.17 WIB).
7
Latihan Militer Picu Perang di Semenanjung Korea. Media Indonesia.
4
dekat ke perang.8 Korea Utara berusaha untuk tidak gentar, maka oleh sebab itu
Korea Utara mengancam Korea Selatan.
Tindakan Korea Utara memang bukan tanpa alasan. Keamanan
nasional-nya menjadi penting demi menjaga keamanan wilayahnasional-nya serta kedaulatannasional-nya
sebagai suatu negara. Tindakan apapun akan dilakukan suatu negara untuk
menjaga keamanan wilayah serta kedaulatannya, dan bisa juga dalam bentuk
tindakan militer. Namun jika ada gangguan dari pihak luar tidak segera cepat
ditanggapi, seperti serangan militer, maka akan merugikan Korut sendiri.
Serangan yang dilakukan merupakan bentuk dari pengamanan teritorialnya.
Menurut para teoritisi realis, keamanan nasional menjadi salah satu pertimbangan
utama setiap negara dalam berinteraksi dengan negara lain.
Melalui latar belakang masalah penelitian ini, penulis berusaha
menyampaikan ketertarikan dalam memilih topik ini dengan menjelaskan
krono-logi kejadian serangan militer Korea Utara ke Yeonpyeong dalam menanggapi
latihan militer Korea Selatan dengan Amerika Serikat sebagai bentuk kerjasama
dibidang militer. Dengan demikian, peneliti mengangkat dan mengusulkan
“Respon Korea Utara Terhadap Latihan Gabungan Amerika Serikat – Korea
Selatan Pada Tahun 2010” sebagai judul penelitian. Kemudian penulis memiliki
pertanyaan “kenapa Korea Utara sampai melancarkan serangan militer ke Pulau
Yeonpyeong, bukankah yang dilakukan Korea Selatan dan Amerikat Serikat
hanya sebatas latihan militer saja?”. Pertanyaan kedua adalah “apa efek latihan
8
Korut: Suasana di Semenanjung Korea di Ambang Perang.
5
militer itu sendiri terhadap Korut, sampai-sampai Korut melepaskan tembakan ke
arah Korsel?”. Pertanyaan-pertanyaan ini lah yang menjadi perumusan pada
sub-bab rumusan masalah.
1.2Rumusan Masalah
Dengan mengarah pada latar belakang masalah sebelumnya serta untuk
memenuhi aspek sainstifik, peneliti berusaha menjelaskan serta menjawab
pertanyaan “Mengapa Korea Utara menanggapi latihan gabungan antara Korea
Selatan dan Amerika Serikat dengan serangan militer ke Pulau Yeonpyeong?”. Pertanyaan ini mengacu pada pendekatan eksplanatif, dimana peneliti diharapkan
untuk mampu menjelaskan perilaku aktor hubungan internasional dalam suatu
fenomena hubunan internasional.
1.3Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka atau literature review digunakan sebagai alat untuk membedakan suatu hasil penelitian dengan penelitian lain dalam tema yang sama,
termasuk penelitian ini. Membedakan hasil penelitian ditujukan agar tercipta suatu
pandangan dan pengetahuan yang baru dalam menganalisa suatu obyek penelitian.
Jika suatu peneliti meneliti suatu obyek yang sama dengan peneliti lain
menggunakan pendekatan, teori, dan sudut pandang yang sama, maka tidak akan
memunculkan pengetahuan atau pandangan yang baru dalam melihat suatu obyek.
6
pengetahuan. Oleh karena itu, tinjauan pustaka menjadi penting dalam skripsi ini.
Dalam sub-bab ini akan disampaikan tiga hasil penelitian yang dijadikan tinjauan
pustaka dalam penelitian ini.
Tinjauan pustaka pertama, peneliti menggunakan sebuah penelitian dari
International Crisis Group yang berjudulkan “North Korea: The Risks of War in
The Yellow Sea”.9 Penelitian ini cenderung mengarah pada jenis penilitian
deskriptif, yang mana menjelaskan peningkatan konflik di semenanjung Korea
tahun 2010.
Pada bagian awal, penelitian ini menjelaskan secara ringkas sejarah batas
laut antara Korea Utara dengan Korea Utara. Artikel ini menyebutkan bahwa
Korea Utara memiliki pandangan yang berbeda mengenai garis batas negara.
Korea Utara bersikukuh dengan garis batas yang telah ditentukan sendiri.
Kemudian, mengenai UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the
Sea), bahwasannya Korea Utara telah menandatangani perjanjian tersebut tetapi tidak di amandemen. Setelah itu, penelitian ini menjelaskan sejarah konflik di
Laut Kuning. Konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan sering terjadi di
perbatasan sekitar Laut Kuning. Berbeda dengan perbatasan yang berada di Laut
Jepang. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa Pulau dan masih belum adanya
perjanjian mengenai perbatasan di wilayah Laut Kuning yang sepakati bersama
oleh Korea Utara dan Korea Selatan. Lainnya, dikarenakan Korea Utara
9
International Crisis Group. Asia Report. 23 Desember 2012. North Korea: The Risks of War in The Yellow Sea. http://www.securitycouncilreport.org/atf/cf/%7B65BFCF9B-6D27-4E9C-8CD3-
7
menentukan garis batas wilayahnya secara sepihak dan tidak mengakui Northern
Limit Line yang dibuat oleh United Nations Commission.
Di perairan sekitar Pulau Yeonpyong setidaknya terjadi tiga kali
bentrokan, yakni pada tahun 1999, 2002, dan 2010. Bentrokan ini seringkali
merupakan bentrokan yang bersifat balas dendam. Piagam PBB artikel 51 yang
membahas mengenai self-defense, yang mana memperbolehkan suatu negara untuk membalas serangan yang dilakukan oleh negara lain untuk
mempertahankan kedaulatannya. Artikel ini menjelaskan bahwa semenanjung
Korea berada dalam krisis dan hendak menuju pada situasi peperangan. Situasi ini
dipicu oleh tenggelamnya kapal perang Korea Selatan, Cheonan, pada 26 maret
2010. Diduga, dikarenakan serangan kapal selam Korea Utara. Setelah peristiwa
itu, Korea Selatan meningkatkan kerjasamanya dengan Amerika Serikat di bidang
militer. Dari itu, kemudian terselenggara latihan militer Korea Selatan dan
Amerika Serikat pada 23 november 2010. Latihan perang tersebut dianggap
sebagai upaya preemptive strike atas Korea Utara. Bahasan mengenai konflik militer itu juga menjadi objek penelitian pada tinjauan pustaka ke dua.
Hasil penelitian ke dua yang saya gunakan di sini berjudul “Cheonan and
Yeonpyeong : The Northeast Asia Response to North Korea’s Provocations”.10
Artikel ini ditulis oleh Scott Snyder dan See-Won Byun. Penelitian ini
menjelaskan keterkaitan antara peristiwa Cheonan dan Yeonpyeong dengan
10
Scott Snyder dan See-Won Byun. “Cheonan and Yeonpyong : The Northeast Asia Response to
North Korea’s Provocations”. Dalam Rusi Journal April/May 2011 Vol. 156 No. 2 pp. 74-81.
8
hubungan di antara negara-negara Asia Timur dan Amerika Serikat sebagai
intruisif sistem. Penelitian ini cenderung menitikberatkan kepada keamanan
regional. Setelah peristiwa Cheonan dan Yeonpyong, Korea Selatan bersama
Jepang dan Amerika Serikat (trilateral commission) meningkatkan hubungan
kerjasama militernya untuk memberikan efek deterrence kepada Korea Utara yang sering melakukan tindakan-tindakan provokatif. Sedangkan China berusaha
untuk membantu Korea Utara dalam perekonomian dan diplomatic, serta
kesediaan China untuk mencegah segala bentuk hukuman internasional yang
dijatuhkan kepada Korea Utara. Penelitian ke dua ini juga memiliki kesamaan
bahasan dengan tinjauan penelitian ke tiga, namun perbedaan bahwasannya
tinjauan pustaka ke tiga tidak mengkaji mengenai keamanan regional Asia Timur.
Tinjauan pustaka yang ke tiga yakni dari skripsi karya Mustikasari,
mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah angkatan
2008. Skripsi tersebut berjudul “Analisa Respon Korea Selatan Terhadap
Pemboman Pulau Yeonpyeong Oleh Korea Utara”. Skripsi tersebut menggunakan
teori Decision Making Proses (Model Aktor Rasional) dengan sudut pandang realisme serta konsep deterrence. Skripsi oleh Mutikasari ini mencoba
menganalisa mengapa respon balik Korea Selatan atas penyerangan di Pulau
Yeonpyeong lebih kecil dari penyerangan oleh Korea Utara.11 Hasil penelitiannya
mengarah pada bahwa keputusan yang diambil oleh presiden Korea Selatan pada
saat itu adalah sebagai upaya untuk menghindari peperangan dengan
men-deterrence Korea Utara melalui jalan show of force (latihan perang dengan
11
9
Amerika Serikat). Latihan perang tersebut ditujukan untuk memunculkan efek
gentar pada pihak Korea Utara. Keputusan-keputusan tersebut dipandang sebagai
keputusan yang rasional. Penelitian ini menggunakan sudut pandang yang
berbanding terbalik dari penelitian yang diajukan oleh penulis.
Pada penelitian ini nantinya mengambil bahasan yang sama seperti pada
ketiga tinjauan pustaka yang telah disampaikan sebelumnya. Bahasan yang
dimaksud ialah mengenai konflik militer antara Korea Utara dengan Korea
Selatan tertanggal 23 November 2010. Adapula perbedaan yang dapat diambil
dari ketiga tinjauan pustaka tersebut dengan penelitian ini. Dengan tinjauan
pustaka yang pertama, penelitian ini memiliki sudut pandang yang sama mengenai
situasi krisis yang terjadi paska insiden Cheonan, namun tidak membahas
mengenai konflik antar dua Korea di masa lalu. Kemudian tinjauan pustaka yang
kedua turut mempertergas bahwa konflik militer Yeonpyeong itu merupakan
keberlangsungan dari insiden Cheonan. Tinjauan pustaka yang kedua itu juga
memberikan analisa mengenai respon Amerika Serikat dan Korea Selatan
mengenai insiden Cheonan dan Yeonpyeong yang mampu memberikan kontribusi
mengenai data dan juga pemikiran yang perlu dikritisi. Begitu pula dengan
tinjauan pustaka ke tiga, dapat dijadikan sebagai lawan daripada penelitian ini.
Tinjauan ketiga itu memiliki kesamaan pada fokus permasalahan yang dibahas,
yakni mengenai konflik militer Yeonpyeong. Penelitian itu menjelaskan mengenai
aksi balasan Korea Selatan yang lebih terlihat lembek daripada aksi serangan
Korea Utara. Penelitian yang menjadi tinjauan pustaka ketiga berlawanan sudut
10
dari sisi Korea Utara. Kemudian dengan menggunakan teori immediate deterrence, penelitian ini menjadi berbeda dengan penelitian sebelumnya yang telah disampaikan di atas. Untuk meringkas persamaan dan perbedaan antara
ketiga hasil penelitian di atas dengan penelitian ini, maka perlulah kiranya penulis
[image:30.595.108.524.276.748.2]membuat tabel posisi penelitian berikut ini.
Tabel 1.1 Posisi Penelitian
No. Judul dan Nama Peneliti Pendekatan Hasil 1 North Korea: The Risks of
War in The Yellow Sea
Oleh: International Crisis Group
Eksplanatif
Pendekatan: Historical Data
Konflik militer Yeon-pyeong dikarenakan per-bedaan sudut pandang mengenai perbatasan an-tara Korea Uan-tara dan Ko-rea Selatan.
2 Cheonan and Yeonpyeong: The Northeast Asia Res-ponse to North Korea’s Provocations
Oleh: Scott Snyder dan See-Won Byun
Eksplanatif
Pendekatan: Keamanan
Regional
Insiden Cheonan dan Pulau Yeonpyeong melatarbelakangi
peningkatan kerjasama militer antara Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Sedangkan China berupaya agar PBB tidak menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara.
3
Skripsi: Analisa Respon Korea Selatan Terhadap Pemboman Pulau Yeon-pyeong Oleh Korea Utara
Oleh : Mustikasari
Eksplanatif Pendekatan: Decision Making Process (Model Aktor Rasional), Deterrence
- Keputusan membalas serangan dengan level lebih kecil sebagai keputusan yang paling rasional
- Show force merupakan bagian dari paket balasan yang diberikan oleh Korea Selatan.
11
terhadap Korut
4 Respon Korea Utara Terhadap Latihan Militer Amerika Serikat dan Korea Selatan Tahun 2010
Oleh: Nicho Prasetyo
Eksplanatif
Pendekatan: -. Immediate Deterrence
-. Aliansi
Aksi penembakan artileri oleh Korea Utara sebagai bentuk respon immediate deterrence terhadap ancaman.
1.4Landasan Pemikiran
Landasan pemikiran mempunyai arti suatu landasan peneliti dalam
mengkaji suatu fenomena yang telah terjadi. Landasan pemikiran biasanya berupa
hasil pemikiran para ahli sebelumnya, seperti teori dan konsep. Landasan
pemikiran ditujukan sebagai pengatur pembahasan dan menjawab pertanyaan
pada rumusan masalah.
1.4.1 Kerangka Teori dan Konsep
Kerangka teori dan konsep ini berusaha menyajikan tentang teori dan
konsep yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantu merumuskan
fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas
temuan - temuan penelitian.
1.4.1.1 Teori Immediate Deterrence
Dalam kamus bahasa Inggris, deterrence mempunyai makna sebagai suatu
penolakan, penangkisan, pencegahan. Deterrence adalah suatu strategi dimana suatu negara “defender” membuat negara “aggressor” mempertimbangkan
12
yang diharapkan. Menurut Zagare dan Kilgour biaya perang dapat ditentukan oleh
jumlah dan karakteristik dalam setiap gudang senjata negara dan oleh siasat-siasat
strategis dari masing-masing pembuat kebijakan.12 Patrick M. Morgan dalam
karyanya yang berjudul Deterrence : A Conceptual Analysis menyatakan :
“… deterrence is a matter of convincing someone not to do something by threatening him with harm if he does. … but deterrence is more forcible in that the person is not meant to have much of a choice…”13
Logikanya dalam melaksanakan deterrence, Negara defender tidak hanya melakukan ancaman dengan vokalitasnya saja tetapi juga dengan
tindakan-tindakan yang menurut Negara agressor merupakan sebuah respon yang serius terhadap tindakannya. Jika hanya sekedar menggertak saja tanpa ada realisasinya
maka defending state akan dengan mudah diserang karena dianggap kurang mempunyai kapabilitas oleh opponent state dan deterrence – nya akan dinyatakan
gagal. Deterrence juga hendaknya dilakukan dengan cermat dan
mempertimbang-kan kapabilitas serta kredibilitasnya dengan Negara agressor.
“The success or failure of deterrence in those cases had more to do with perceptions of capability and willingness; what matters most is the here and now, not past behavior.”14
Komitmen diperlukan defending state dalam meyakinkan Negara agressor
secara vokalitas, atau dalam kata lain “menggertak”, bahwasannya Negara
defender ini mampu bertahan dan juga menyerang balik jika Negara agressor mewujudkan ancamannya. Komitmen tersebut harus jelas dan tegas agar Negara
12
Frank C. Zagare dan D. Marc Kilgour, 2000, Perfect Deterrence, New York : Cambridge University Press, Hal 11.
13
Patrick M. Morgan. 1977. Deterrence : A Conceptual Analysis. California: Sage Publication, Inc. hal. 26.
14
13
agressor mempertimbangkan kembali untung dan ruginya menyerang atau membuat defending state merasa terancam. Apabila komitmen tersebut tidak jelas
maka deterrence akan gagal.15
“If the threat of retaliation prevents an attack, then surely the implication is that in the absence of the threat an attack would occur. This suggests the existence of serious intent or even a plan to attack, not an idea that comes to mind now and then.”16
Dari pernyataan di atas, ke dua pihak yang bertikai saling serius baik
dalam niatan menyerang maupun membalasnya. Bentuk dari perilaku negara
agresor bisa saja menimbulkan bias makna. Jika negara deterrer tidak melakukan
upaya deterrence, bisa jadi negara agresor menyerang negara deterrer. Keseriusan
ini datang dari niatan dan perencanaan penyerangan dengan memper-timbangkan
hubungan ke dua pihak.
Kapabilitas merupakan suatu realisasi dari komitmen negara deterrer itu sendiri. Komitmen yang jelas tidak akan berguna apabila negara tidak mempunyai
cara atau sarana untuk menunjukkannya. Ketika deterrer state telah menyakinkan
aggressor bahwa kerugian dari tindakan tidak sebanding dengan keuntungannya,
defender harus menyakinkan pula bahwa dia juga memiliki kemampuan untuk
membalas bahkan menyerang balik. Sekalipun bila kemampuan deterrence negara
lemah, dia tetap mencoba meyakinkan bahwa kemampuan untuk mem-balas yang
dimiliki lebih kuat. Hukuman yang akan dihasilkan tidak tentu, untuk menjadi
dugaan dari kapabilitas militer penangkis, termasuk di dalamnya adalah kapasitas
15
Patrick M. Morgan. 2003. Deterrence Now. Cambridge: University of Cambridge Press. Hal. 17.
16
14
untuk mempertahankan diri sendiri dan memberikan hukuman kapada pihak
lawan.17
Kredibilitas, suatu negara harus menyakinkan aggressor tentang keputusan
dan keinginannya untuk menunjukkan komitmennya untuk menghukum atau
membalas. Walaupun defender telah menyatakan komitmen dan menunjukkan kemampuannya untuk membalas, deterrence masih mungkin mengalami
kegagalan jika aggressor meragukan keinginan defender mengambil resiko perang. Kredibilitas ini sendiri didapatkan dari penilaian Negara lain terhadap
kekuatan militer dan aliansinya. Seperti Korea Utara yang mempunyai senjata
nuklir, tentunya kredibilitasnya patut diperhitungkan oleh negara lawan.
Deterrence merupakan persoalan di antara negara, termasuk di dalamnya adalah tindakan kekerasan untuk mencegah terjadinya aksi militer. Aksi militer ini
dispesifikan kepada aksi penyerangan oleh negara B. Hal ini karena negara B
dapat menggunakan kekuatan militernya dalam segala bentuk, dan melakukan
mobilisasi, manuver, mengancam untuk menyerang, dan juga mempertahankan
dirinya. Negara A dapat pula mengancam untuk mencegah segala bentuk aksi
militer negara B. Dengan demikian, tindakan penyerangan menjadi objek dari
ancaman pencegah.18
Teori deterrence ini sendiri ,menurut Patrick M. Morgan, dibagi menjadi dua kondisi, yaitu General Deterrence dan Immediate Deterrence atau Pure
17
Patrick M. Morgan. 1977. Op.Cit. hal. 21
18
15
Deterrence. Penelitian ini berusaha menjelaskan fenomena yang dibahas dengan menggunakan teori Immediate Deterrence.
Kondisi immediate deterrence berbeda dengan kondisi general deterrence.
Cara kerja immediate deterrence merupakan tindak lanjut dari pemakaian teori general deterrence (lihat bagan 1.1). Pada general deterrence, sebuah negara mempersiapkan dirinya untuk melakukan upaya deterrence, namun negara itu
tidak memiliki lawan yang pasti. Dengan begitu, upaya deterrence dapat ditujukan
pada setiap negara yang hendak menyerangnya. Tetapi general deterrence tidak selalu mengakibatkan situasi immediate deterrence.19 Sedangkan pada immediate deterrence, negara lawan sudah diketahui dan hendak melancarkan serangan
dengan memberi ancaman-ancaman. Negara defender ini akan memberikan
peringatan atau upaya deterrence untuk meminimalisir perang atau kerugian yang
diderita negara defender.
Dalam operasional teori deterrence ini, apabila kondisi pada general deterrence gagal, tidak langsung dapat memicu immediate deterrence kecuali jika pihak deterrer atau defender bereaksi atas general deterrence-nya.20 Kegagalan general deterrence didapatkan dari adanya indikasi suatu negara yang ingin
menyerang negara defender.
19
Vesna Danilovic. 2002. When The Stake Are High: Deterrence and Conflict Among Major Powers. USA: The University of Michigan Press. Hal. 56.
20
16
Bagan 1.1 Operasionalisasi Teori Immediate Deterrence21
Teori immediate deterrence memiliki empat syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan syarat-syarat itu
menjadi satu kesatuan untuk dapat menjelaskan fenomena yang ada. Syarat
bekerjanya teori ini adalah:
1. Didapati hubungan saling bermusuhan antara negara satu dengan
negara lainnya. Bentuk dari saling bermusuhan ini yakni salah satu
negara dengan serius berniat menyerang teritorial negara lain atau area
dimana dirasa penting bagi negara lain itu.
2. Pemerintah negara yang hendak diserang mengetahuinya.
21
17
3. Mengetahui bahwa akan terjadi kemungkinan penyerangan, pejabat
negara yang hendak diserang mengancam menggunakan kekerasan
dalam upaya mencegah serangan dari negara lain.
4. Pemimpin negara penyerang merencanakan untuk membatalkan
penyerangan terutama karena ancaman pembalasan.22
Situasi immediate deterrence adalah krisis, atau hampir mendekatinya, dan
besar kemungkinannya mengarah pada kondisi perang.23 Usaha menyerang lawan
dalam teori ini dapat dibenarkan karena tujuan dari deterrence adalah untuk menghindari negara lawan menyerang wilayah dan atau fasilitas yang dimiliki
negara deterrent. Negara defender dapat menyerang terlebih dahulu jika didapati bahwa negara agressor akan menyerang. Kondisi krisis yang dimaksud ditujukan
pada mobilisasi armada militer kedua negara yang saling berhadapan di garis
depan perbatasan.
Pada teori ini berlaku bahwa ancaman tidak hanya berbentuk gertakan atau
sebatas ancaman saja tetapi juga dengan tindakan. Tindakan yang dimaksud
adalah seperti :
1. Ancaman penggunaan kekuatan militer, termasuk di dalamnya adalah
ancaman memblokade, menduduki wilayah negara lain, menyatakan
perang, dan menggunakan kekerasan.
2. Menunjukkan kekuatannya, bentuknya adalah memberikan peringatan,
pergerakan, dan mempertunjukkan kekuatan militer.
22
Patrick M. Morgan. 1977, Op.Cit, hal. 33-36.
23
18
3. Penggunaan kekuatan, yakni diantaranya memblokade, menduduki,
menyita, menggunakan kekuatan secara terbatas, atau perang.24
Teori ini menjelaskan perilaku dua negara atau lebih yang saling
bermusuhan dan didapati bahwa salah satu negara itu akan menyerang dan yang
lainnya dalam posisi mengancam. Immediate deterrence menaruh perhatian terhadap hubungan antar negara yang saling bermusuhan dimana terdapat di salah
satu pihak dengan serius mempertimbangkan suatu penyerangan sementara yang
lain memasang sebuah ancaman pembalasan untuk mencegah terjadinya
serangan.25 Teori ini tentunya akan gagal jika di antara negara-negara tersebut
tidak didapati unsur permusuhan. Sebuah negara tidak lah akan mengancam
negara lain yang tidak menggambarkan keinginan untuk menyerang.
Alasan penggunaan teori ini ialah karena pertama hubungan antara Korea
Utara dengan Korea Selatan – Amerika Serikat (sebagai aliansi) tidaklah harmonis
dan cenderung saling berseteru. Hubungan itu diwarnai konflik yang memanas
lantaran sikap Korea Utara yang ingin mengembangkan program nuklirnya sejak
akhir abad 19. Selain itu juga dikarenakan selisih pendapat mengenai wilayah
perairan di Laut Kuning. Hubungan tersebut semakin kritis setelah kapal perang
Korsel tenggelam dengan dugaan Korut yang telah menenggelamkannya.
Kedua, Korea Utara telah melayangkan keberatannya akan latihan militer
kedua negara tersebut dan mengancam untuk menyerang karena Korut
menganggap latihan militer tersebut merupakan upaya untuk melakukan invasi
24
Vesna Danilovic, 2002, Op.Cit, Hal. 59.
25
19
militer ke wilayahnya. Meskipun telah diperingatkan, Korea Selatan tidak
mengindahkannya. Latihan tembak menembak dengan artileri sungguhan itu
melintasi garis perbatasan yang dipersengketakan. Alhasil Korea Utara
menembakkan artileri ke arah Pulau Yeonpyeong dari arah Kaemori, lokasi
dimana pasukan artileri Korea Utara dipersiapkan menindaklanjuti peringatannya
untuk menghentikan latihan tembak-menembak. Dengan begitu, berarti Korea
Selatan menantang ancaman yang telah diberikan oleh Korea Utara. Hal itu
kemudian menentukan pada kondisi deterrence manakah tepat digunakan dalam
kasus ini.
Tembakan Korea Selatan tersebut dapat dianggap bahwa kondisi general deterrence telah terlewati atau gagal. Indikasi general deterrence gagal tersebut didapat dari adanya perlawanan atau serangan menanggapi peringatan dari Korea
Utara. Kemudian kondisi pada waktu itu berlanjut pada krisis atau adanya
ketegangan yang bisa memicu kembalinya Perang Korea, mengingat kondisi
Perang Korea diakhiri dengan gencatan senjata dan bisa berlanjut. Keempat,
Korea Selatan merespon aksi Korea Utara dengan membalas serangan artileri ke
arah Kaemori. Selain itu, Amerika Serikat dan Korea Selatan menghentikan
latihan berjuluk “Hoguk” sebagaimana tuntutan Korea Utara sebelum terjadinya
baku tembak antar dua negara tersebut.
Korea Utara tentu tidak akan menyerang Pulau Yeonpyeong terlebih
dahulu jika latihan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat tersebut tidak
20
suatu negara tidak dapat menghalangi suatu negara yang tindakannya tidak
menimbulkan pikiran yang mengancam, dalam hal ini adalah penyerangan.26
Hal ini berarti jika Negara A yang tidak membuat Negara lawannya
merasa terancam, maka teori ini tidak dapat berjalan. Namun dalam kasus yang
penulis bahas, perilaku Amerika Serikat-Korea Selatan yang menyelenggarakan
latihan bersama diperbatasan dengan Korut itu merupakan suatu bentuk ancaman
bagi Korut sehingga Korut melancarkan serangan militernya.
Dari berbagai macam penjelasan di atas, hemat penulis adalah Negara
yang merasa terancam atas tindakan Negara lain (musuhnya) maka deterrence dapat menggunakan segala cara untuk mengimbangi ancaman tersebut. Deterrent dalam hal ini berusaha menjaga national security nya dari ancaman Negara lain. Sehingga jika ada ancaman dari luar, maka deterrent dengan rasionalitas mempersiapkan strategi bertahan ataukah menyerang terlebih dahulu.
1.4.2 Konsep Aliansi
Aliansi merupakan suatu formasi formal maupun informal untuk
kerjasama dua negara atau lebih. Stephen M Walt membagi aliansi menjadi dua,
yakni ballancing dan bandwagoning. Terdapat karakteristik yang berbeda diantaranya. Dalam ballancing, suatu negara akan bekerjasama dengan negara lain
untuk menghadapi ancaman militer bersama. Sedangkan pada bandwagoning,
26
21
suatu negara cenderung mendekatkan diri dan bekerjasama dengan negara yang
dianggap sebagai sumber ancaman.27
Negara dengan kekuatan yang besar memiliki kapasitas dalam
menghukum musuh atau bermanfaat bagi pertemanan.28 Tentu hal ini akan
menarik negara yang lebih lemah dan merasa terancam akan hadirnya negara
besar tersebut akan melakukan upaya bandwagoning. Bagi negara yang melihat adanya ancaman eksternal, maka negara tersebut dapat mengusahakan menjadikan
negara great power sebagai sekutunya sebagai upaya balancing dari negara yang mengancam.
Menurut Walt, suatu negara akan menggunakan instrumen-instrumen
kebijakan luar negerinya untuk mencari sekutu. Cara yang pertama ialah melalui
bantuan luar negeri. Dengan adanya bantuan luar negeri maka negara yang diberi
bantuan akan terikat dengan negara pemberi bantuan.
Cara yang kedua yakni melalui penetrasi politik, yakni yang didefinisikan
sebagai manipulasi secara sembunyi-sembunyi atau secara tidak langsung atas
sistem politik suatu negara oleh negara lainnya. Bentuknya antara lain adalah (1)
pejabat publik yang loyalitasnya terpecah mungkin menggunakan posisinya untuk
mendekatkan negaranya dengan negara lain; (2) melobbi organisasi-organasasi
yang mungkin bisa digunakan untuk mengubah kebijakan dan persepsi publik
27
Stephen M. Walt, Alliance Formation and Balance of Power, dalam Jurnal International Security, Vol. 9, No. 4 (Spring, 1985), 3-43.
28
22
mengenai persekutuan; (3) propaganda dimungkinkan untuk digunakan untuk
menggoyang sikap kaum elit dan media massa.29
Penggunaan konsep aliansi ini ditujukan untuk menjelaskan bahwa Korea
Selatan bersekutu dengan Amerika Serikat. Persekutuan ini dimulai sejak akhir
perang dunia kedua dan bersifat informal karena pada saat itu belum ada
perjanjian yang mengatur kerjasama dalam keamanan. Perjanjian Pertahanan
Bersama atau Mutual Defense Treaty antara Amerika dan Korea Selatan baru ada
pada tahun 1953.
Aliansi antara Amerika dan Korea Selatan terjadi lantaran adanya ancaman
eksternal dari Korea Utara. Hal itu terjadi setelah berakhirnya Perang Korea
dengan gencatan senjata sampai saat ini. Korea Utara dianggap mengancam Korea
Selatan lantaran keinginan Korea Utara menyatukan Korea dibawah rezimnya.
Selain itu juga adanya kesamaan sistem politik antara kedua negara tersebut,
yakni demokrasi.
1.5Metode Penelitian
1.5.1 Metodologi Hubungan Internasional
Metodologi hubungan internasional adalah suatu kumpulan peraturan,
kegiatan dan prosedur ilmiah yang digunakan oleh ilmuwan (peneliti) hubungan
internasional untuk mengkaji suatu fenomena hubungan internasional. Dengan
menggunakan metodologi akan membantu peneliti dalam menyingkirkan
29
23
hambatan dalam penelitian dan membantu memahami dan menilai informasi yang
mempengaruhi keputusan yang dibuat dalam hidup sehari-hari.30
1.5.1.1Tingkatan Analisa
Penjelasan tingkat analisa ini dimaksudkan untuk lebih bisa memahami
fenomena yang akan dibahas. Dalam menetapkan tingkat analisa, pertama – tama
peneliti menetapkan unit analisa sebagai variabel dependen dan unit eksplanatif
sebagai variabel independen.31 Peneliti hendak membahas perilaku Korut terhadap
kerjasama militer AS dengan Korsel, dalam studi kasus latihan militer kedua
negara tersebut diperbatasan Korut pada tanggal 23 November 2010.
Dilihat dari bahasan penelitian ini, unit analisanya terdapat pada perilaku
Korut dan unit eksplanasinya pada kerjasama militer Korsel-AS. Tingkatan
analisa ada lima tingkatan, yaitu; perilaku individu, perilaku kelompok,
Negara-Bangsa, Pengelompokan Negara-Negara-Bangsa, dan sistem Internasional.32 Dalam unit
analisa, peneliti memasukkannya dalam tingkatan Negara-Bangsa. Tingkatan ini
menunjukkan perilaku negara secara utuh. Sedangkan pada tataran unit
eksplanasinya adalah tingkatan pengelompokan Negara-Bangsa, dimana
kerjasama militer antara Korsel dan AS dinilai sebagai perilaku suatu kelompok
negara. Analisis pengelompokan Negara-Bangsa dipilih tidak lain karena
negara-bangsa tidak bertindak secara sendiri-sendiri, tetapi sebagai suatu kelompok
30Mohtar Mas’oed
, Ilmu Hubungan Internasional, Disiplin dan Metodologi, (LP3ES : 1994) Hal. 2.
31
Ibid, Hal. 35.
32
24
negara-bangsa.33 Pengelompokan negara-bangsa dalam hal ini bukan terletak pada
sistem yang mengikat kedua negara tersebut, melainkan adanya tindakan antar
kedua negara itu.
Setelah menetapkan tingkatan masing-masing variabel, dapat diketahui
jenis atau model pendekatan apa yang hendak digunakan. Melihat dari unit analisa
penelitian ini lebih rendah daripada unit eksplanasi, maka model analisa yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan analisa induksionis.
1.5.1.2Jenis Penelitian
Mengacu pada Sub – Bab Rumusan Masalah, jenis penelitian ini tergolong
pada jenis penelitian eksplanatif. Dalam hal ini yang disebut dengan jenis
penelitian eksplanatif adalah upaya menjelaskan pertanyaan “mengapa?”34
1.5.2 Metodologi Penelitian Sosial 1.5.2.1Teknik Pengumpulan Data
Data-data yang dikumpulkan peneliti kebanyakan bersifat kualitatif serta
sebagian lagi bersifat kuantitatif untuk membantu memperjelas data kualitatif
yang kurang jelas. Dalam penelitian ini pengumpulan data dibedakan menjadi dua
yaitu studi kepustakaan dan searching via internet. Studi kepustakaan yang
dimaksud peneliti adalah peneliti mengumpulkan data melalui buku, jurnal,
artikel, dan media massa yang telah tercetak. Selain itu juga peneliti
menggunakan teknologi internet untuk mendapatkan data yang relevan dengan
33
Ibid, hal. 41.
34
25
tema yang dibahas. Data yang didapatkan oleh peneliti melalui internet berbentuk
soft file atau belum tercetak.
1.5.2.2Teknik Analisa Data
Data – data penelitian yang telah didapat kemudian diolah melalui proses
pengolahan data kualitatif. Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang
memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan
konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu
pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif
sebab tidak diformulasi dan distandardisasi. Tujuan dari analisis data, dengan
mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi yang sudah dipakai
pada koleksinya, apakah untuk menentukan beberapa pesanan dalam jumlah besar
informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan dikomunikasikan.
1.5.2.3Jenis Penelitian
Pada sub-bab sebelumnya yaitu sub-bab teknik pengumpulan data,
penelitian ini telah menggambarkan sebagai penelitian kualitatif. Dari fenomena
yang terjadi di semenanjung Korea pada november 2010 yang diangkat sebagai
bahasan pokok penelitian dapat diartikan penelitian ini digolongkan sebagai
penelitian study case. Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya
dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh diskripsi yang utuh dan
26
dianalisis untuk menghasilkan teori. Sebagaimana prosedur perolehan data
penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan
arsif. 35
Menjelaskan dengan menggunakan studi kasus akan berguna ketika
melakukan penelitian yang memiliki sifat kausalitas.36 Adapun sifat kausalitas
(sebab akibat) yang terdapat dalam penelitian ini. Penyerangan Pulau Yeonpyeong
oleh Korea Utara merupakan akibat dari latihan militer yang dilakukan oleh Korea
Selatan dan Amerika Serikat di sekitar perbatasan yang disengketakan antar dua
Korea.
1.5.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam suatu penelitian ilmiah, ruang lingkup pembahasan menempati
faktor yang penting sekali. Ru