• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian Lapangan

4.2.3. Kebijakan Pemerintah terhadap Aksesibilitas

Kebijakan pemerintah merupakan faktor pendukung keberhasilan atas pemenuhan aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar. Kebijakan dibuat oleh pemerintah setempat yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam pemenuhan aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan. Hal ini merupakan tugas dan tanggung jawab dari dinas Ketenagakerjaan, Dinas Sosial P3A, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Pematangsiantar.

1. Program Kerja di Dinas Ketenagakerjaan

Pemenuhan aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar masih rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah daerah dalam merespon masalah penyandang disabilitas. Kurangnya dukungan pemerintah dilihat dari upaya Dinas Ketenegakerjaan dalam mensosialisasikan Undang-Undang Ketenagakerjaan mengenai kuota bekerja bagi penyandang disabilitas baik di perusahaan BUMN/swasta masih minim. Peningkatan angka partisipasi penyandang disabilitas di dunia kerja juga sangat rendah. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya upaya Dinas Ketenagakerjaan memasarkan tenaga kerja penyandang disabilitas dan memberikan informasi lowongan pekerjaan kepada penyandang disabilitas. Program pelatihan dan keterampilan kerja yang tersedia juga belum pernah diberikan kepada penyandang disabilitas. Namun,

sudah ada perencanaan program pelatihan hidroponik kepada penyandang disabilitas di Bulan Oktober Tahun 2021.

2. Program Kerja di Dinas Sosial P3A

Program di Dinas Sosial P3A terkait penanganan penyandang disabilitas dalam pemenuhan aksesibilitas memperoleh pekerjaan belum pernah dibentuk dan dilaksanakan selama empat tahun terakhir. Dinas Sosial P3A belum memiliki anggaran yang cukup terkait penanganan masalah penyandang disabilitas. Program penanganan masalah penyandang disabilitas yang ada diperoleh dari Kementerian Sosial RI melalui program rehabilitasi sosial penyandang disabilitas berupa pengadaan Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas. Program Aspd ini berupa pemberian bantuan uang tunai senilai 2.000.000 rupiah yang diberikan kepada 16 orang penyandang disabilitas sebagai penerima manfaat di Kota Pematangsiantar. Program ASPD ini merupakan program kementerian sosial yang dianggarkan berdasarkan APBN.

Program penanganan penyandang disabilitas yang bersumber dari APBD Kota Pematangsiantar belum pernah terlaksana dan dibuat pemerintah setempat.

3. Program Kerja Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Pematangsiantar Pemerintah Kota Pematangsiantar sudah membuka kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas untuk melamar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pengadaan ASN bagi penyandang disabilitas dilakukan pada Tahun 2019. Penyandang disabilitas yang diterima sebagai ASN di Sekretariat Daerah Kota Pematangsiantar berjumlah satu orang. Penyandang Disabilitas yang diterima sebagai ASN merupakan warga Tapanuli Selatan dan bukan

penduduk asli Kota Pematangsiantar. Penyandang disabilitas tersebut memiliki kualifikasi yang sesuai saat melamar yakni formasi Verifikator Keuangan dengan syarat pendidikan S-1 Ekonomi.

“S h ASN b b v di sekretariatan. Beliau bukan warga siantar dan memiliki kualifikasi b h . M h B Hasibuan, ST Subdit informasi dan data Badan Kepegawaian Daerah Kota Pematangsiantar)

Pengadaan CPNS untuk penyandang disabilitas baru pertama kali dibuka pada tahun 2019 lalu dan sebelumnya belum pernah dilaksanakan pengadaan CPNS bagi pelamar penyandang disabilitas. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah daerah Kota Pematangsiantar yang belum membuka formasi CPNS dilingkup kerjanya selama 10 tahun terakhir. Hal yang mendasari dilaksanakannya pengadaan CPNS bagi pelamar Penyandang Disabilitas di Kota Pematangsiantar pada tahun 2019 yakni merupakan anjuran dari Menteri Pendayagunaan Reformasi Birokasi melalui Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2019 yang mewajibkan untuk membuka formasi CPNS bagi pelamar penyandang disabilitas. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Muhammad Basri Hasibuan, ST Subdit informasi dan data Badan Kepegawaian Daerah Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“P CPNS b b b kebijakan KemenpanRB melalui peraturan menteri ya. Jadi harus dilaksanakan. dan baru tahun ini terlaksana karena udah 10 tahun h K P b b CPNS.

Pengadaan CPNS bagi pelamar penyandang disabilitas sudah mulai dilakukan oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar. Namun pelaksanaannya masih belum sesuai dengan amanat Undang-Undang yang mewajibkan pemerintah daerah memberikan kuota kerja 2% bagi penyandang disabilitas.

Angka ini masih jauh dari harapan jika melihat jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Pematangsiantar sebanyak 4.273 orang pada Tahun 2020 terakhir. Jumlah penyandang disabilitas yang dibuka formasinya untuk CPNS seharusnya sekitar 85 orang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase pengadaan CPNS bagi penyandang disabilitas di Kota Pematangsiantar masih jauh dari angka yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Kurangnya dukungan kebijakan Pemerintah Kota Pematangsiantar baik Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Sosial P3A, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Pematangsiantar dalam memberikan aksesibilitas kepada penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan adalah sebagai berikut:

a. Partisipasi penyandang disabilitas rendah

Pencari kerja adalah angkatan kerja yang sedang menganggur atau mencari pekerjaan maupun yang sudah bekerja tetapi ingin pindah atau alih pekerjaan, baik didalam atau luar negeri dengan mendaftarkan diri kepada pelaksana penempatan tenaga kerja atau secara langsung melamar pekerjaan kepada pemberi kerja. Dinas Ketenagakerjaan memberikan pelayanan penempatan tenaga kerja bagi pencari kerja yang mendaftar di Dinas Ketenagakerjaan sesuai lowongan kerja yang tersedia. Selama proses pencarian kandidat dan calon pekerja, belum pernah ada

penyandang disabilitas yang melamar sebagai Pencari kerja (pencaker) di Dinas Ketenagakerjaan selama 4 (empat) tahun terakhir. Keikutsertaan penyandang disabilitas sebagai pencari kerja sangat rendah. Hal ini diperjelas oleh Tumpal Pasaribu, SH Kepala Seksi Informasi Pasar Kerja dan Bursa Kerja sebagai berikut:

“T b tenaga kerja. Bagaimana kami tau kalau mereka perlu kerja? Kalau mereka ada mendaftar kan kami b .

Penyandang disabilitas belum pernah ada yang mendaftar untuk mencari pekerjaan ke Dinas Ketenagakerjaan Kota Pematangsiantar sehingga pihak Dinas Ketenagakerjaan tidak paham dan mengetahui akan kebutuhan pekerjaan yang diperlukan oleh penyandang disabilitas tersebut.

b. Lemahnya peran Organisasi Penyandang Disabilitas

Organisasi Penyandang Disabilitas yang ada di Kota Pematangsiantar berjumlah 3 Organisasi yaitu Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin). Ketiga organisasi ini sudah terbentuk dan terdaftar di Kesbangpol sejak tahun 2019. Organisasi Penyandang Disabilitas yang ada di Kota Pematangsiantar kurang berperan dalam mendorong dan mengadvokasi hak-hak penyandang disabilitas yang tergabung dalam organisasi ini kepada Pemerintah setempat. Peran organisasi sebagai wadah untuk menyuarakan hak dan kebutuhan penyandang disabilitas masih belum berjalan dengan baik.

Organisasi Penyandang disabilitas yang sudah ada masih pasif dan kurang

merespon keluhan-keluhan setiap anggotanya. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syahrul Dalimunte Ketua PPDI Kota Pematangsiantar:

“Organisasi kita ini kan masih baru disiantar, jadi kita belum pernah memang untuk audiensi ke pemerintah. Tapi sudah ada rencana bu.

Cuman karena sekarang kondisi juga lagi pandemik makanya h b .

Kurangnya peran organisasi penyandang disabilitas yang ada di Kota Pematangsiantar disebabkan oleh belum adanya pengalaman ketua organisasi dalam menjembatani kebutuhan anggota kepada pemerintah.

Organisasi disabilitas yang terbentuk di Kota Pematangsiantar baru berjalan selama 2 tahun sehingga masih fokus dalam kegiatan penguatan kapasitas anggota. Organisasi penyandang disabilitas yang ada di Kota Pematangsiantar juga masih terhambat anggaran karena belum memiliki donatur tetap dan bantuan pengembangan sehingga masih mengandalkan uang kas dari setiap anggota.

c. Kurang koordinasi

Kurangnya dukungan yang diberikan Dinas Ketenagakerjaan terkait penempatan kerja bagi tenaga kerja penyandang disabilitas juga dipengaruhi oleh kurangnya koordinasi dan kolaborasi yang terjalin antara Dinas Sosial P3A, Perusahaan-perusahaan, dan masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan berbagai informan baik dari Dinas Sosial P3A, Dinas Ketenagakerjaan, Perusahaan, dan Organisasi Penyandang disabilitas sendiri menyatakan bahwa tidak pernah menjalin hubungan kerja atau koordinasi satu dengan yang lainnya.

“B h D K j terkait disabilitas yang bekerja ini. Karena yang saya tau ini program b b . j . Risbon Sinaga, MM Kepala Bidang Sosial Dinas Sosial P3A Kota Pematangsiantar)

Dinas Sosial P3A menyatakan belum pernah melakukan koordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan terkait program tenaga kerja penyandang disabilitas. Dinas Sosial P3A belum pernah melaporkan atau berdiskusi terkait data penyandang disabilitas yang membutuhkan pekerjaan ataupun pelatihan kerja. hal ini merupakan sasaran baru bagi Dinas Sosial P3A dan akan segera diupayakan untuk menjalin hubungan kerja yang lebih baik.

Selanjutnya, empat perusahaan yang ada di Kota Pematangsiantar juga menyatakan bahwa belum pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Dinas Ketenagakerjaan maupun Dinas Sosial P3A. Hal ini seperti yang dikatakan Zulmi Irawan Supervisor PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“Belum pernah ada kerjasama dengan pemerintah atau Dinas Ketenagakerjaan begitu. Dinas Ketenagakerjaan juga tidak ada b h h h .

PT. Ramayana Lestari Sentosa menyatakan belum pernah menjalin komunikasi dengan Dinas Ketenagakerjaan. Hal ini juga serupa yang dinyatakan oleh PT. Bumisari Prima, PT. Pos Indonesia, dan CV. Horas Kilang padi bahwa tidak pernah berhubungan dengan Dinas Ketenagakerjaan. Hanya satu Perusahaan yakni PT. Alfamart yang pernah

melakukan kerjasama terkait perekrutan karyawan dengan Dinas Ketenagakerjaan Kota Pematangsiantar.

“K j w b pihak pemerintah di berbagai daerah. Kita selalu libatkan Dinas Ketenagakerjaan diberbagai daerah untuk merekrut karyawan. Semua prosesnya sama jadi kita menghubungi Dinas Ketenagakerjaan lalu pencari kerja mendaftar dan diadakan seleksi di Dinas Ketenagakerjaan sendiri. Saya langsung datang ke Dinas Ketenagakerjaan di daerah masing-masing untuk prosesnya. Rizki Fauzi Nasution HRD PT. Alfamart)

Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai informan terkait koordinasi dan komunikasi yang dilakukan belum terlaksana dengan baik.

Hubungan timbal balik tidak terjadi antara pihak yang terlibat dalam memberikan aksesibilitas pekerjaan bagi penyandang disabilitas baik dari Pemerintah Daerah, Perusahaan, dan Masyarakat. Hal ini menyebabkan kurang tersedianya kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan secara layak.

d. Anggaran

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Sosial Dinas Sosial P3A, masalah mendasar yang menyebabkan belum terlaksananya program kemandirian bagi penyandang disabilitas untuk bekerja adalah kurangnya anggaran yang dimiliki oleh Dinas Sosial P3A. Dinas Sosial menyatakan kesulitan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan bidang dan tupoksinya. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya sasaran penerima manfaat yang tidak sebanding dengan jumlah anggaran yang dimiliki oleh

Dinas Sosial P3A. Dinas Sosial P3A mengakui bahwa untuk mengatasi permasalahan 26 jenis PMKS dibutuhkan anggaran yang memadai agar setiap jenis permasalahan sosial dapat ditangani dengan baik termasuk permasalahan penyandang disabilitas.

“C h j . D kan masih gabung dengan P3A jadi kita kesulitan untuk menggunakan anggaran yang ada sementara ada 26 jenis PMKS yang harus ditangani. Jadi kita akan upayakan ya program ini terlaksana di anggaran 2022 karena pemko sudah mencanangkan program spm salah satunya bagi disabilitas diluar panti. Risbon Sinaga, MM Kepala Bidang Sosial P3A Kota Pematangsiantar)

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui belum pernah ada program kerja penanganan penyandang disabilitas dalam empat tahun terakhir yang dilakukan oleh Dinas Sosial P3A, khususnya masalah aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar. Anggaran yang tersedia belum cukup memenuhi pelaksanaan penanganan penyandang disabilitas. Anggaran yang tersedia lebih sering digunakan untuk penanganan bencana alam, pembuatan KIS, pemakaman, razia gelandangan dan pengemis, serta perjalanan dinas.

Jumlah anggaran yang kecil juga disebabkan oleh gabungnya dua instansi antara Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuaan serta Perlindungan Anak. Hal ini menyebabkan tupoksi pekerjaan yang diemban semakin berat namun sumber daya manusia rendah dan terbatas.

e. Kurang perencanaan

Pemerintah Kota Pematangsiantar belum memiliki komitmen dan kepedulian terhadap permasalahan aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan. Hal ini terlihat dari belum adanya perencanaan program yang dicanangkan pemerintah setempat untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Pemerintah kurang memahami kebutuhan dan hak penyandang disabilitas. Program kerja untuk pemenuhan pekerjaan penyandang disabilitas belum pernah direncanakan oleh Dinas Sosial P3A, Dinas Ketenagakerjaan, ataupun Bappeda Kota Pematangsiantar. Pemerintah setempat masih fokus pada pelayanan-pelayanan dasar yang belum terselesaikan dengan baik. Hal ini menyebabkan permasalahan penyandang disabilitas belum pernah direncanakan upaya dan solusi penanganannya. Kajian-kajian atau penelitian-penelitian mengenai permasalahan penyandang disabilitas di Kota Pematangsiantar diketahui masih rendah. Pihak pemerintah maupun masyarakat setempat belum banyak yang melakukan penelitian dan fokus pada permasalahan penyandang disabilitas. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab kurangnya perencanaan program penanganan penyandang disabilitas di Kota Pematangsiantar.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar masih kurang memadai. Program kerja dari Dinas Ketenagakerjaan belum mampu memberikan aksesibilitas yang

baik bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam dunia kerja. Terdapat banyak penyandang disabilitas yang tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran dan kesulitan akses untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Hal yang sama terjadi pada Dinas Sosial P3A yang belum berupaya maksimal untuk menangani permasalahan penyandang disabilitas khususnya dalam memberikan akses pekerjaan. Badan Kepegawain Daerah (BKD) Kota Pematangsiantar juga belum maksimal memenuhi kuota kerja sebesar 2% bagi penyadang disabilitas dalam pengadaan CPNS dilingkup Pemerintahan Kota Pematangsiantar. Ringkasan temuan lapangan kebijakan pemerintah terhadap aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar disajikan pada tabel dibawah.

Tabel 4.22 Temuan lapangan kebijakan pemerintah terhadap aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar

Pembahasan Temuan Lapangan

Program Dinas Ketenagakerjaaan, Dinas Sosial P3A, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Pematangsiantar

Program kerja dari Dinas Ketenagakerjaan dan Dinas Sosial P3A Kota Pematangsiantar belum telaksana dan memadai dalam memenuhi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan secara layak. BKD Kota Pematangsiantar baru membuka kesempatan kerja bagi pelamar penyandang disabilitas pada pengadaan CPNS Tahun 2019. Namun, jumlah penyandang disabilitas yang diterima sebagai ASN belum sesuai dengan kewajiban yang telah ditentukan. Perbandingan angkanya sekitar 1:85 dan dipersentasekan sekitar 0.001%.

Penyebab kebijakan pemerintah terkait Aksesibilitas Penyandang Disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar belum telaksana dengan baik

 Partisipasi Penyandang Disabilitas rendah

Penyandang Disabilitas belum pernah terdaftar sebagai pencari kerja di Dinas Ketenagakerjaan sehingga tidak memperoleh informasi lowongan pekerjaan dan perluasan pasar kerja

 Lemahnya Peran Organisasi Penyandang Disabilitas Organisasi Disabilitas yang ada di Kota Pematangsiantar masih pasif dan kurang respon untuk mengadvokasi hak-hak penyandang disabilitas kepada pemerintah setempat.

Tabel 4. 22 Lanjutan

 Kurang Koordinasi

Belum pernah dilakukan koordinasi antara Dinas Ketenagakerjaan dan Dinas Sosial P3A terkait pemenuhan lowongan kerja bagi penyandang disabilitas. Dinas Ketenegakerjaan kurang berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Pematangsiantar dalam memasarkan tenaga kerja penyandang disabilitas. sehingga tidak terjalin hubungan dan komunikasi yang baik

 Anggaran Tidak Memadai

Kurangnya anggaran Dinas Sosial P3A dalam menangani permasalahan Penyandang Disabilitas disebabkan oleh banyaknya sasaran program kerja namun anggaran tidak sesuai dan masih gabungnya dua dinas.

 Kurang Perencanaan

Komitmen dan kepedulian pemerintah terhadap permasalahan penyandang disabilitas masih kurang sehingga tidak ada perencanaan program untuk penanganan masalah penyandang disabilitas.

kurangnya kajian dan penelitian tentang penyandang disabilitas juga turut mempengaruhi rendahnya pemahaman pemerintah.

Sumber: Olahan Penelitian Tahun 2021

4.2.4. Pandangan Penyandang Disabilitas terhadap Aksesibilitas