• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian Lapangan

4.2.2. Pemahaman Pemberi Kerja terhadap Penyandang

Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pemberi kerja dalam lingkup penelitian ini adalah perusahaan milik pemerintah/BUMN dan perusahaan swasta yang bergerak

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016

Tentang Penyandang Disabilitas

dibidang industri makanan, jasa, dan perdagangan. Adapun pemberi kerja yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. PT. Pos Indonesia (Persero)

PT Pos Indonesia (Persero) merupakan perusahaan BUMN yang bergerak dibidang jasa pengiriman surat maupun barang. PT Pos Indonesia (Persero) memiliki kantor pusat di Kota Bandung dan memiliki 11 kantor regional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya tersebar di Provinsi Sumatera Utara. Kantor Pos Cabang Kota Pematangsiantar beralamat di Jalan Sutomo Nomor 2 Kelurahan Proklamasi Kecamatan Siantar Barat. Kantor pos ini melayani pengiriman barang, dokumen, Express Mail Service (EMS) dan paket dalam negeri dan pengiriman paket luar negeri melalui pos indonesia international. PT. Pos Indonesia (Persero) cabang Kota Pematangsiantar memiliki Jumlah karyawan sebanyak 54 orang.

2. PT. Bumisari Prima

PT. Bumisari Prima merupakan perusahaan bentuk Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) yang berlokasi di Jalan Medan Km. 7 Kelurahan Tambun Nabolon Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematangsiantar. PT. Bumisari Prima merupakan perusahaan yang telah lama berdiri sejak tahun 1977 dan memiliki reputasi yang sangat baik sebagai penghasil tepung tapioka nomor satu di Indonesia. Pemilik Perusahaan ini adalah Bapak Luasan Surianto bersuku China. Luas area perusahaan ini sekitar 60.808m. PT. Bumisari Prima mempekerjakan 196 orang karyawan dan sudah terdaftar di Perusahaan Perseroan terbatas sejak 29 Juli 2008. PT. Bumisari Prima mendapatkan

kebutuhan bahan baku Ubi kayu dengan membeli langsung dari petani lokal disekitar lokasi yakni berasal dari daerah Kota Pematangsiantar, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Dairi, dan Tanah Karo.

3. PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk

PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau lebih dikenal dengan Alfamart merupakan salah satu perusahaan terbesar yang bergerak di bidang perdagangan dan distribusi yang memasuki sektor ritel minimarket di Indonesia. PT. Alfamart sebagai salah satu usaha ritel yang terdepan melayani lebih dari 3 juta pelanggan setiap harinya di hampir 10.300 gerai yang tersebar di Indonesia. Alfamart menyediakan barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, tempat belanja yang nyaman, serta lokasi yang mudah dijangkau. Alfamart Cabang Kota Pematangsiantar memiliki 20 gerai minimarket yang tersebar di seluruh kelurahan dan kecamatan yang ada di Kota Pematangsiantar. Alfamart memiliki jumlah karyawan sebanyak 200 orang di Kota Pematangsiantar.

4. PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk

PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk merupakan salah satu perusahaan fashion sekaligus supermarket terlengkap di Kota Pematangsiantar.

Perusahaan ini berada di Jln. Sutomo Kota Pematangsiantar. PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk memiliki lebih dari 70 cabang dan gerai di berbagai daerah mulai sabang sampai marauke. PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk memiliki jumlah karyawan sebanyak 80 orang.

5. CV. Horas Kilang Padi

CV. Horas Kilang Padi merupakan pabrik beras terbesar di Kota Pematangsiantar. CV. Horas Kilang Padi beralamat di Karangsari Kota Pematangsiantar. Pemilik CV. Horas Kilang Padi adalah penduduk setempat bersuku batak. CV. Horas Kilang Padi menghasilkan beras berkualitas baik dan mutu terjamin. Kilang ini mendapatkan bahan baku gabah dari petani lokal dan petani daerah setempat. CV. Horas Kilang Padi sudah berdiri sejak Tahun 2005. Jumlah karyawan yang dimiliki adalah sebanyak 15 orang.

Pemahaman Pemberi Kerja terhadap penyandang disabilitas untuk bekerja di Kota Pematangsiantar masih rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya pengetahuan pemberi kerja terhadap penyandang disabilitas meliputi rendahnya pengetahuan pemberi kerja terhadap jenis dan derajat kecacatan penyandang disabilitas, rendahnya pandangan pemberi kerja terhadap pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan kemampuan bekerja yang dimiliki oleh penyandang disabilitas, rendahnya pengetahuan pemberi kerja terhadap jenis pekerjaan yang mampu dilakukan oleh penyandang disabilitas, dan rendahnya pengetahuan pemberi kerja terhadap Undang-Undang Penyandang Disabilitas. Penjelasan mengenai rendahnya pemahaman pemberi kerja terhadap penyandang disabilitas akan peneliti jabarkan dibawah ini.

4.2.2.1. Pengetahuan Pemberi Kerja terhadap Penyandang Disabilitas

Pengetahuan merupakan pemahaman yang bersifat mendasar dalam melatarbelakangi seseorang untuk menilai, memandang, dan melihat sesuatu berdasarkan pemikiran masing-masing. Pengetahuan merupakan proses belajar

yang dihasilkan berdasarkan pencarian informasi dan saling tukar pikiran.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan 5 (lima) informan pemberi kerja diatas, pengetahuan pemberi kerja terhadap penyandang disabilitas masih rendah. Rata-rata pemberi kerja tidak memahami siapa saja penyandang disabilitas dan bagaimana menentukan orang dengan kedisabilitasan, memandang rendah pendidikan penyandang disabilitas, kesehatan penyandang disabilitas, dan keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas.

1. Pengertian dan Jenis Penyandang Disabilitas

Pemberi kerja yang ada di Kota Pematangsiantar tidak mengetahui dan memahami pengertian dan jenis penyandang disabilitas secara umum. Pemberi kerja hanya mengetahui bahwa penyandang disabilitas adalah seseorang yang menderita cacat dari lahir dan memiliki kekurangan pada anggota tubuhnya.

Sehingga, ketika berinteraksi dan melihat penyandang disabilitas, pemberi kerja merasa kasihan/iba. Pemberi kerja juga tidak memahami siapa dan bagaimana jenis penyandang disabilitas. Jenis penyandang disabilitas yang diketahui oleh pemberi kerja adalah disabilitas fisik dan disabilitas sensorik.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Herbeth Purba, SH Supervisor PT.

Bumisari Prima sebagai berikut:

“Oh disabilitas itu orang-orang yang gak normal ya orang-orang yang cacat, contohnya orang yang nengel yang kurang-

Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang tidak normal dan cacat. Pemberi kerja hanya mengetahui bahwa jenis penyandang disabilitas adalah seseorang yang tidak dapat mendengar. Selain itu, pemberi kerja juga beranggapan bahwa penyandang disabilitas adalah

seseorang yang tidak sehat secara jasmani dan rohani. Jenis penyandang disabilitas yang diketahui adalah disabilitas mental dan fisik.

“K j h . Y mentalnya cacat itu disabilitas, yang bagian tubuhnya k .

(Gilbert P. Sirait Manager Bagian Umum PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Kota Pematangsiantar)

Pemberi kerja mengetahui bahwa penyandang disabilitas adalah seseorang yang tidak memiliki salah satu anggota tubuhnya seperti kaki putus dan tangan putus. Selain itu, terdapat ketidakberfungsiaan dari salah satu anggota tubuh tersebut seperti mata yang tidak dapat berfungsi yaitu tidak mampu melihat, kaki putus dan tangan putus yaitu tidak mampu berjalan dan mengambil sesuatu, telinga tidak dapat berfungsi yaitu tidak mampu mendengar, dan pikiran yang tidak berfungsi yaitu tidak sehat mental.

2. Pendidikan Penyandang Disabilitas

Pendidikan merupakan salah satu syarat dan kualifikasi yang dibutuhkan pencari kerja untuk melamar pekerjaan. Untuk melihat apakah pencari kerja mampu dan layak diterima bekerja di salah satu perusahaan atau swasta, pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung pencari kerja lolos atau gagal. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, rata-rata pencari kerja memiliki pandangan bahwa penyandang disabilitas tidak diterima bekerja karena memiliki pendidikan rendah. Penyandang disabilitas jarang menempuh pendidikan sampai ke jenjang kuliah bahkan SMA. Karena kondisi kedisabilitasannya mereka dianggap tidak mampu bersekolah dan tidak

memiliki pendidikan tinggi. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rizki Fauzi Nasution HRD Alfamart Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“Ya, kalau dari segi pendidikan kita lihat mereka tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Rata-rata kandidat kemarin itu tamat SMP bahkan ada yang gak h

Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas hanya tamatan SMP bahkan ada yang tidak mengemban pendidikan. Pemberi kerja menganggap bahwa penyandang disabilitas memiliki kondisi yang lemah sehingga menganggap wajar bahwa mereka tidak memiliki pendidikan.

Pemberi kerja juga menganggap bahwa untuk bekerja di suatu perusahaan atau instansi pemerintah yang paling dibutuhkan adalah kompetensi. Dimana kompetensi diperoleh dari pendidikan. Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak cocok bekerja di perusahaan BUMN/swasta. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Gilbert P. Sirait Manager Bagian Umum PT.

Pos Indonesia (Persero) Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“Saya rasa mereka tidak cocok kalau untuk ditempatkan bekerja disini karena kan disini pekerjaannya minimal kualifikasi SMA. Kalau orang yang begitu kadang kan tidak sekolah bahkan mereka susah mobilitasnya. Ya jadi saya pikir kalau untuk membuat karya gitu boleh b h j z h.

Pemberi kerja kurang memiliki pengetahuan terhadap pendidikan penyandang disabilitas. Pemberi kerja beranggapan bahwa semua penyandang disabilitas tidak memiliki pendidikan yang tinggi dan yang sesuai dengan kualifikasi perusahaan. Pemberi kerja menganggap bahwa kondisi disabilitas

berbanding lurus dengan pendidikan rendah karena tidak yakin dan percaya dengan kondisi kedisabilitasan mereka. Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas lebih cocok untuk membuat prakarya atau kerajinan dibandingkan bekerja tanpa memiliki modal ijazah. Ijazah adalah salah satu modal yang wajib dimiliki oleh penyandang disabilitas ketika melamar pekerjaan. Sehingga, apabila penyandang disabilitas tidak berpendidikan maka pemberi kerja menganggap bahwa wajar penyandang disabilitas ditolak bekerja atau dinyatakan tidak lolos ketika melamar kerja.

Kurangnya pemahaman pemberi kerja akan pendidikan yang ditempuh penyandang disabilitas menyebabkan pemberi kerja menilai sebelah mata dan menyudutkan penyandang disabilitas. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, pemberi kerja tidak mengetahui bahwa ada penyandang disabilitas yang berpendidikan sampai jenjang SMA. Pemberi kerja tidak mengetahui informasi baik berupa data kuantitatif maupun data kualitatif jumlah penyandang disabilitas di Kota Pematangsiantar. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Zulmi Irawan Supervisor PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“K b j SMA tinggi badan dan penampilan. Jadi kalau yang disabilitas gitu belum pernah ada di semua cabang. Karena ada perhitungan untung rugi, teknik penjualanan, analisis kepuasan konsumen, banyak yang perlu dilakukan jadi susah kalau tidak pernah sekolah biasanya mereka kan sakit jadi tidak paham seperti itu.

Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas memiliki kondisi sakit sehingga disimpulkan tidak pernah bersekolah. Pemberi kerja menganggap bahwa jenis pekerjaan yang ada di perusahaan tersebut membutuhkan pemikiran yang cukup memadai sehingga kondisi penyandang disabilitas dianggap tidak mampu memahami dan mengerti hal-hal yang bersifat akademik dan praktis di dunia kerja. Hal ini tentunya akan menghambat produktivitas pelayanan dan pekerjaan yang dilakukan oleh setiap perusahaan.

3. Kondisi Kesehatan Penyandang Disabilitas

Pemahaman Pemberi kerja terhadap kondisi penyandang disabilitas untuk bekerja dianggap tidak mampu dan tidak memenuhi kriteria persyaratan kualifikasi pekerjaan di perusahaan. Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas adalah seseorang yang tidak sehat baik secara fisik dan mental. Rata-rata pemberi kerja menganggap bahwa penyandang disabilitas adalah seseorang yang lemah, sakit, dan memerlukan bantuan sosial. Kondisi penyandang disabilitas dianggap tidak cocok untuk bekerja di perusahaan karena pekerjaan yang dilakukan akan menghambat kondisi kedisabilitasan mereka. Pemberi kerja merasa kasihan dan iba jika beberapa pekerjaan di perusahaan dikerjakan oleh penyandang disabilitas. Hal ini tentunya akan menyebabkan penyandang disabilitas merasa lelah, capek, dan tidak berdaya.

Skut Pardomuan Sibarani CV. Horas Kilang Padi mengungkapkan pernyataan sebagai berikut:

“Pekerjaan disini kan membutuhkan tenaga, harus bergerak cepat, dan paham mesin karena semuanya sudah pakai sistem teknologi. Kalau yang cacat itu bekerja sudah pasti semakin menggangu kondisinya menjadi lemah. Kalau yang tidak punya kaki kan pasti capek dia kerja memikul, mengangkat barang, mempacking, dsb perlu tenaga yang kuat .

Pemberi kerja beranggapan bahwa kondisi penyandang disabilitas adalah lemah, mudah capek, dan tidak mampu mengerjakan pekerjaan seperti mengangkat barang, mengepak barang, dsb. Pemberi kerja tidak yakin akan kemampuan penyandang disabilitas. Kondisi fisik penyandang disabilitas dianggap sebagai kelemahan karena tidak menarik dipandang untuk pekerjaan dibidang layanan dan kasir.

“M b b h j harus menarik. Karena kita melayani pelanggan, kalau kondisi yang cacat begitu kan kasihan ya mereka b b h.

(Zulmi Irawan Supervisor PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk Kota Pematangsiantar)

Pemberi kerja memberikan penilaian negatif mengenai kondisi kesehatan penyandang disabilitas meskipun tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan. Seseorang akan dinyatakan sehat jika terdapat pemeriksaan berupa jenis penyakit, suhu tubuh, tekanan darah, dan golongan darah dari tenaga kesehatan. Penentuan kondisi sehat bukan ditentukan dari cara pandang melihat keadaan seseorang secara sekilas atau berdasarkan pemikiran masing-masing, melainkan disertai pemeriksaan tenaga kesehatan atau dokter.

Kondisi penyandang disabilitas dianggap sebagai kondisi sakit meskipun pada

kenyataannya banyak penyandang disabilitas yang sehat tanpa penyakit lain yang menyertainya tubuhnya.

4. Keterampilan yang dimiliki Penyandang Disabilitas

Pemberi kerja memberikan pandangan dan penelian terhadap keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. berdasarkan hasil wawancara dengan 5 perusahaan yang ada di Kota Pematangsiantar, rata-rata pemberi kerja tidak paham dan mengetahui bahwa penyandang disabilitas memiliki keterampilan. Pemberi kerja beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak cocok bekerja di perusahaan mereka karena tidak memiliki keterampilan yang memadai dan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Pemberi kerja menganggap penyandang disabilitas tidak mampu melakukan pekerjaan di kantor seperti presentasi, mengetik, mengoperasikan komputer, melayani konsumen, mengemudi, dsb. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Gilbert P. Sirait Manager Bagian Umum PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“P j b h skill minimal ya wajib la bisa berkomunikasi dengan baik kepada pelanggan. Kalau kita pekerjakan yang disabilitas bagaimana. Pelanggan kan gak paham apa yang mereka katakan. Mereka juga harus bisa menghitung, mengoperasikan komputer, dsb pekerjaan dikantor. Mereka kan gak bisa melakukan itu.

Butuh waktu yang lama untuk mereka beradaptasi.

Pemberi kerja memberikan pandangan negatif terhadap keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. Pemberi kerja juga beranggapan bahwa penyandang disabilitas perlu beradaptasi dengan waktu lama untuk

melakukan keterampilan kerja seperti menghitung dan mengoperasikan komputer. Selain itu, pemberi kerja juga menilai bahwa kondisi penyandang disabilitas akan menghambat produktivitas pekerjaan di perusahaan. Jika dibutuhkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas di perusahaan akan menghabiskan waktu dan merupakan hal yang merugikan.

“Ya kalau keterampilan rendah diberikan pelatihan lagi akan lama dan menghabiskan waktu tentunya. Memerlukan anggaran juga dong. Kita kan gakmau perusahaan rugi. lebih baik mencari yang sudah ahli dan . Herbert Purba, SH Suvervisor PT. Bumisari Prima,Tbk) Pemberi Kerja menganggap bahwa keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas tidak kompeten dengan pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan. Mempekerjakan penyandang disabilitas yang memiliki keterampilan kurang memadai akan memakan waktu lama untuk memberikan pelatihan kerja dan menambah anggaran perusahaan lebih banyak. Pemberi kerja memilih untuk mempekerjaan tenaga kerja normal/nondisabilitas dibandingkan penyandang disabilitas.

4.2.2.2. Pengetahuan Pemberi Kerja terhadap Jenis Pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Penyandang Disabilitas

Jenis pekerjaan di suatu perusahaan terdiri dari berbagai macam posisi dengan tugas dan pekerjaan yang berbeda. Jenis pekerjaan tidak ditentukan oleh kondisi sehat atau sakit, cantik atau jelek, tinggi atau pendek, dsb melainkan ditentukan dari kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan

pekerjaan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan 5 (lima) perusahaan yang dijadikan informan dalam penelitian ini, pemberi kerja tidak yakin dan ragu akan kemampuan penyandang disabilitas untuk bekerja. Pemberi kerja menganggap bahwa jenis pekerjaan yang ada diperusahaan mereka tidak cocok untuk dilakukan oleh penyandang disabilitas. Pemberi kerja tidak paham bahwa terdapat jenis pekerjaan tertentu yang dapat diisi oleh penyandang disabilitas.

Rata- rata pemberi kerja menolak dan tidak menerima tenaga kerja penyandang disabilitas karena pekerjaan yang dibutuhkan tidak sesuai dengan kondisi penyandang disabilitas.

Kurangnya pemahaman pemberi kerja terhadap jenis pekerjaan yang cocok dan dapat dilakukan oleh penyandang disabilitas juga dipengaruhi oleh kurangnya informasi mengenai dari mana menemukan penyandang disabilitas yang sesuai dengan kualifikasi perusahaan.

“K h w h j b bergabung di PT. Alfamart ini dan sesuai dengan kriteria yang b h h . Rizki HRD PT. Alfamart Kota Pematangsiantar)

Selain itu, pemberi kerja juga beranggapan bahwa jenis pekerjaan yang cocok dilakukan oleh penyandang disabilitas adalah pekerjaan yang tidak memerlukan tenaga ekstra, tidak mengedepankan penampilan, tidak melakukan pekerjaan di bidang produksi, dan pekerjaan bidang jasa.

“K j j disini. Karena kalau ditaroh didepan mereka tidak mampu komunikasi dan dari segi penampilan kurang etis. Kalau di gudang kan itu perlu tenaga ekstra untuk mensortir barang. Kalau di kantor mereka tidak bisa

mengoperasikan komputer. Jadi kita tidak bisa tentukan pekerjaan yang b b j . Gilbert P. Sirait Manager Bagian Umum PT. Pos Indonesia Persero Kota Pematangsiantar)

Jenis pekerjaan yang cocok dilakukan oleh penyandang disabilitas memerlukan pertimbangan yang lebih dari perusahaan. Perusahaan beranggapan vahwa mempekerjakan penyandang disabilitas memiliki risiko dan penanganan yang lebih ekstra. Selain itu, untuk menentukan jenis pekerjaan yang cocok dilakukan oleh penyandang disabilitas diperlukan persetujuan dan wewenang dari pemilik perusahaan. Hal ini berkaitan dengan keuntungan dan kerugiaan yang akan diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian masih banyak perusahaan di Kota Pematangsiantar yang belum mempekerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas.

4.2.2.3. Pengetahuan Pemberi Kerja terhadap Undang-Undang Penyandang Disabilitas

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas Bagian Keempat Pekerjaan, Kewirausahaan, dan Koperasi Pasal 53 menyebutkan bahwa (1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja; (2) Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Berdasarkan Hasil wawancara dan observasi ke 5 perusahaan yang dijadikan informan dalam penelitian ini, kelima perusahaan tidak ada yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Pengetahuan pemberi kerja terhadap undang-undang penyandang disabilitas yang mewajibkan perusahaan

mempekerjakan penyandang disabilitas masih rendah. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Herbert Purba, SH Suvervisor PT. Bumisari Prima sebagai berikut:

“K w j b -undang itu saya belum pernah tau dan dengar sebelumya. Tidak ada pemberitahuan dari atasan dan Dinas Ketenagakerjaaan j .

Terdapat 3 (tiga) Perusahaan di Kota Pematangsiantar yakni PT. Bumisari Prima, PT. Ramayana Sentosa Lestari,Tbk, dan CV. Horas Kilang Padi dimana pimpinannya tidak mengetahui dan tidak pernah mendengar Undang-Undang Tentang Penyandang Disabilitas terutama mengenai kewajiban kuota 1% untuk mempekerjakan penyandang disabilitas dari keselurahan jumlah karyawan.

Sedangkan 1 (satu) Perusahaan yakni PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Kota Pematangsiantar hanya pernah mendengar mengenai ketentuan mempekerjakan kuota 1% penyandang disabilitas dari jumlah karyawan. Namun, PT. Pos Indonesia tidak mengetahui bagaimana teknis pelaksanaan dan kelanjutannya. Hal ini juga merupakan keputusan perusahaan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas atau tidak.

“K % h secara spesifik ya bagaimana teknis dan isi pasti Undang-Undang tersebut. Pernah dengar dari medsos dan televise juga.

PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Kota Pematangsiantar menyatakan bahwa pernah mendengar Undang-Undang Penyandang Disabilitas mengenai kuota 1% mempekerjakan penyandang disabilitas namun belum secara spesifik memahami dan melaksanakannya. Sedangkan PT. Alfamart mengetahui dan sudah paham mengenai Undang-Undang tersebut. PT. Alfamart juga menyatakan

bahwa perusahaannya sudah menjalankan aturan tersebut dan mendukung program pemerintah. Namun, pelaksanaannya masih dilakukan di Pulau Jawa dan sekitar. Alfamart yang ada di Kota Pematangsiantar khususnya belum ada yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rizki Fauzi Nasuition HRD Alfamart sebagai berikut:

“Y h dari 4 tahun yang lalu dan bahkan itu diberbagai daerah sudah diterapkan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas seperti di pulau-pulau jawa sudah ada yang bergabung, kalau sumatera b . U b .

PT. Alfamart sudah paham dan mengetahui kewajiban mempekerjakan penyandang disabilitas di perusahaan. Namun, hal ini belum terlaksana di Kota Pematangsiantar karena belum menemukan penyandang disabilitas yang memiliki kualifikasi yang sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan. Sebelumnya, PT.

Alfamart pernah melakukan perekrutan tenaga kerja penyandang disabilitas di Kota Pematangsiantar pada Tahun 2019. Berdasarkan informasi HRD PT.

Alfamart tidak ada kandidat penyandang disabilitas yang lolos disebabkan oleh persyaratan kerja yang tidak sesuai yakni usia, status perkawinan, pendidikan, dan keterampilan yang dimiliki penyandang disabilitas tidak cocok dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan.

Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pemberi kerja terhadap Undang-Undang Penyandang Disabilitas masih rendah.

Tiga perusahaan di Kota Pematangsiantar tidak mengetahui dan belum pernah mendengar terkait Undang-Undang Penyandang Disabilitas tersebut, Sedangkan 1 Perusahaan pernah mendengar namun tidak memahami Undang-Undang tersebut,

dan 1 perusahaan lainnya sudah memahami namun tidak melaksanakan kewajiban Undang-Undang tersebut.

Kurangnya pemahaman pemberi kerja mengenai Undang-Undang Penyandang Disabilitas disebabkan oleh kurangnya informasi yang mereka miliki dan kurangnya pengawasan dari pemerintah setempat. Pemberi kerja menyatakan bahwa tidak ada anjuran untuk melaksanakan kewajiban tersebut dari pemerintah daerah setempat. Selain itu, belum pernah ada sanksi dan teguran dari pemerintah terkait tidak dilaksanakannya kewajiban mempekerjakan penyandang disabilitas di perusahaan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman