• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.6. Pemeriksaan Keabsahan Data

Pemeriksaan keabsahan data pada penelitian ini didasarkan pada empat kriteria yang disebutkan dalam (Moleong,2012) yaitu kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). Menurutnya, untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Data yang sudah diperoleh dari hasil penelitian perlu diabsahkan untuk memastikan apakah data tersebut valid dan bisa dipertanggung jawabkan. Setiap kriteria memiliki teknik penggunaan, berikut adalah penjelasannya:

3.6.1. Kepercayaan (Credibility) atau Kredibilitas

Uji kredibilitas merupakan pengujian kepercayaan terhadap data hasil penelitian. Cara pengujian yang dilaksanakan adalah:

1. Ketekunan pengamatan

Ketekunanan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan-persoalan atau isu-isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tesebut secara lebih mendetail. Peneliti langsung kelapangan penelitian dan melakukan pengamatan secara teliti, rinci dan berkesinambungan, dimulai dari awal penjajagan sampai pada berakhirnya penelitian. Setelah itu, peneliti menguraikan secara rinci hasil pengamatan atau proses penemuaan dan penelaahannya.

2. Triangulasi Data

Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber yang ada.

pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data yang ada.

a. Triangulasi sumber adalah teknik untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Hal ini dilakukan dengan melakukan pencarian data diluar informan, seperti keluarga atau kerabat informan, pegawai Pemerintah Kota Pematangsiantar diluar informan penelitian, pendamping

penyandang disabilitas, dan pengurus LSM yang peduli dengan permasalahan penyandang disabilitas.

b. Triangulasi teknik adalah teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan wawancara, studi observasi dan studi dokumentasi terhadap informasi yang diberikan.

c. Triangulasi waktu adalah pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan melakukan wawancara dan studi observasi di hari atau tanggal berbeda saat pengumpulan data dilakukan.

3. Menggunakan Bahan Referensi

Bahan referensi adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Bahan referensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekaman wawancara, foto-foto, alat bantu perekam data (camera, handycam, tape recorder, dan lain-lain). Pentingnya referensi ini adalah agar data yang dikemukakan lebih otentik dan dapat dipercaya. Bahan-bahan yang tercatat atau terekam dapat digunakan sebagai patokan untuk menguji sewaktu diadakan analisis dan penafsiran data.

3.6.2. Keteralihan (Transferability)

Pada teknik ini peneliti berusaha memberikan uraian secara rinci, jelas, dan secermat mungkin. Selain itu, peneliti juga memberikan uraian yang dapat dipercaya sehingga pembaca mengetahui secara jelas atas hasil penelitian ini dan dapat memutuskan bisa atau tidaknya untuk mengaplikasikan hasil penelitian.

3.6.3. Kebergantungan Data (Dependability)

Peneliti melakukan uji kebergantungan data dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian melalui kegiatan bimbingan dengan dosen pembimbing. Audit ini dilakukan oleh pembimbing terhadap aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian mengenai aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar. Hal tersebut sesuai dengan konsep uji kebergantungan dalam (Moleong, 2011:17) yakni uji kebergantungan dapat dilakukan melalui teknik pemeriksaan dengan cara audit.

3.6.4. Kepastian (Confirmability)

Peneliti melakukan uji kepastian data dengan menggunakan konsep Objektivitas menurut Moleong (2011:174) yang menjelaskan bahwa pemastian sesuatu itu objektif atau tidak, bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat dan penemuan seseorang hasil penelitian. Oleh karena itu untuk melakukan uji kepastian data, peneliti melakukan audit kepada dosen pembimbing, masyarakat sekitar tempat tinggal informan, Staff/pegawai Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Sosial P3A, PT. Alfamart, PT. Bumisari, PT.Ramayana Sentosa Lestari, Kilang Padi CV. Horas dan PT. POS Indonesia (Persero) diluar dari informan penelitian. Audit tersebut dilakukan pada dasarnya untuk meminta persetujuan/ komentar terhadap hasil penelitian.

3.7. Jadwal dan Langkah-langkah Penelitian 3.7.1. Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam waktu kurang lebih 8 (delapan) bulan dengan memperhatikan aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar.

3.7.2. Langkah-langkah Penelitian

Penelitian dilakukan sesuai dengan jadwal dan situasi yang ada di lapangan. Berikut ini adalah garis besar dari tahapan-tahapan yang dilakukan:

1. Tahap Pralapangan

Tahap ini dilakukan sebagai persiapan peneliti sebelum turun dan meneliti tentang aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar. Tahap ini dilakukan pada bulan Desember hingga April yang meliputi kegiatan:

a. Seleksi judul.

b. Studi pustaka.

c. Bimbingan proposal dan penyusunan proposal penelitian.

d. Seminar proposal penelitian.

e. Mempersiapkan instrumen penelitian yang diperlukan.

f. Penjajakan lokasi penelitian di Kota Pematangsiantar.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahapan ini dilakukan di Kota Pematangsiantar sebagai pelaksanaan penelitian. Tahap ini dilakukan pada bulan April 2021 hingga Juni 2021 yang meliputi kegiatan:

a. Membangun relasi dan koordinasi dengan informan penelitian.

b. Berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh informan.

c. Menghubungi informan.

d. Melakukan wawancara kepada informan.

e. Melakukan observasi kepada informan.

f. Melakukan studi dokumentasi yang berkaitan dengan informan.

3. Tahap Penyusunan Tesis

Tahap ini merupakan proses penyusunan laporan hasil penelitian berupa penulisan Tesis. Tahap ini dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2021 yang meliputi kegiatan:

a. Pengolahan dan analisis data.

b. Penyusunan Tesis.

c. Pelaksanaan Seminar hasil dan Sidang Tesis.

Berikut ini jadwal dan langkah-langkah penelitian, peneliti susun dalam sebuah tabel dibawah ini:

Tabel 3.2 Matriks jadwal penelitian aksesibilitas penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar Tahun 2021 No Jadwal Kegiatan 2020 2021

Desemberr Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus

1 Studi Literatur dan Penjajakan 2 Pengajuan Judul

3 Penyusunan dan pengajuan Proposal

4 Seminar Kolokium 5 Perbaikan Proposal 6 Pengumpulan Data 7 Pengolahan Data

8 Bimbingan Penulisan Tesis 9 Seminar Hasil

10 Sidang Tesis

Sumber: Hasil Studi Dokumentasi Peneliti Tahun 2021

3.8. Keterbatasan Penelitian

Penelitian yang dilakukan masih memiliki keterbatasan dan kekurangan terutama terkait dengan waktu penelitian. Pada proses penelitian, masyarakat global sedang dihadapkan dengan pandemik COVID19. Hal ini secara langsung berdampak pada penelitian yang sedang dilakukan terutama durasi waktu dan kondisi pada tatanan perubahan masyarakat yang berubah sehingga peneliti mengalami hambatan untuk melakukan proses penelitian, terutama saat melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam yang harus memenuhi protokol Kesehatan.

70

4.1. Gambaran Umum Profil Kota Pematangsiantar 4.1.1. Kondisi Geografis Kota Pematangsiantar

Kota Pematangsiantar merupakan wilayah yang berada di tengah-tengah Kabupaten Simalungun, yakni pada ketinggian 400-500m - U - 6 B j T . K P daerah tropis dan daerah datar, beriklim sedang dengan suhu maksi 4℃

dan suhu minimum 21,10 C. Selama tahun 2013, kelembapan udara rata-rata 85%.

Rata-rata tertinggi pada bulan Januari dan Oktober, masing-masing mencapai 88%, sedangkan curah hujan rata-rata 314mm dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai 560mm.

Luas daratan Kota Pematangsiantar adalah 79.971 Km², yang secara Administratif terdiri dari 8 Kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Siantar Marihat 2. Kecamatan Siantar Marimbun 3. Kecamatan Siantar Selatan 4. Kecamatan Siantar Barat 5. Kecamatan Siantar Utara

6. Kecamatan Siantar Timur 7. Kecamatan Siantar Martoba 8. Kecamatan Siantar Sitalasari

Adapun luas daerah berdasarkan Kecamatan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Luas daerah berdasarkan Kecamatan

No. Kecamatan Jumlah

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.1 bahwa Kecamatan Siantar Sitalasari merupakan kecamatan dengan ukuran wilayah yang paling luas dengan luas 22,723 Km² atau dengan 28,41% luas wilayah Kota Pematangsiantar. Sedangkan kecamatan dengan ukuran wilayah yang paling kecil adalah Kecamatan Siantar Selatan dengan luas 2,020 Km² atau sekitar 2,53% dari luas wilayah Kota Pematangsiantar.

4.1.2. Komposisi Penduduk Kota Pematangsiantar

Kota Pematangsiantar dihuni oleh masyarakat asli setempat dan pendatang, dengan total jumlah penduduk sebanyak 255.317 jiwa dengan kepadatan penduduk 3.193 jiwa per Km². Penduduk perempuan di Kota Pematangsiantar lebih banyak dari penduduk laki-laki. Pada tahun 2019, penduduk Kota

Pematangsiantar yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 124.533 jiwa dan penduduk perempuan 130.784 jiwa. Dengan demikian sex ratio penduduk Kota Pematangsiantar sebesar 95,22. Berikut adalah jumlah penduduk di Kota Pematangsiantar, berdasarkan masing-masing kecamatan:

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Perkecamatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2019 Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Ratio Jenis

Kelamin

Siantar Marihat 9.734 10.008 19.822 96,49

Siantar Marimbun 7.893 8.305 16.189 95,04

Siantar Selatan 8.693 9.646 18.339 89,56

Siantar Barat 18.897 19.543 38.440 96,60

Siantar Utara 24.173 25.713 49.886 94,01

Siantar Timur 19.680 21.636 41.316 90,96

Siantar Martoba 20.973 20.795 41.768 100,86

Siantar Sitalasari 14.490 15.058 29.548 96,23

124.533 130.784 255.317 95,22

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.2 diatas, diketahui bahwa Kecamatan Siantar Utara merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling banyak dengan jumlah 24.173 orang laki-laki dan 25.713 orang perempuan. Diikuti dengan Kecamatan Siantar Martoba dengan jumlah penduduk sebanyak 20.973 orang laki-laki dan 20.795 orang perempuan.

4.1.3. Tenaga Kerja

Pertumbuhan tenaga kerja di Kota Pematangsiantar sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Namun pertumbuhan ini tidak sebanding dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan sehingga mengakibatkan tingginya jumlah pengangguran. Pada tahun 2019, jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas

Ketenagakerjaan Kota Pematangsiantar sebanyak 1.291 orang, dimana pencari kerja terbesar dari tingkat pendidikan SMK sebanyak 467 orang atau sekitar 36,17 persen dari total pencari kerja.

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk berumur 15tahun keatas menurut jenis kegiatan selama seminggu yang lalu dan jenis kelamin di Kota Pematangsiantar

Tahun 2019

Kegiatan Utama Laki-Laki Perempuan Jumlah Angkatan Kerja

Bekerja 62.781 55.111 117.892

Pengangguran Terbuka 8.778 5.934 14.712

Bukan Angkatan Kerja

Sekolah 8.768 10.249 19.197

Mengurus Rumah Tangga 4.520 22.834 27.354

Lainnya 4829 2.499 7.328

Jumlah 89.676 96.807 186.483

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

79,80 63,18 71,11

Tingkat Pengangguran 12,27 9,72 11,09

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.3 diatas diketahui bahwa jumlah angkatan kerja lebih banyak dibandingkan bukan angkatan kerja yakni 132.604 orang dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) mencapai 71,11%. Tingkat partisipasi angkatan kerja didominasi oleh laki-laki. Sedangkan tingkat penggangguran di Kota Pematangsiantar pada Tahun 2019 mencapai angka 11,09%. Tingkat pengganguran di Kota Pematangsiantar merupakan angka tertinggi dibandingkan daerah lain di Provinsi Sumatera Utara.

Angkatan kerja diatas memiliki jenjang pendidikan yang berbeda-beda.

Berikut disajikan jumlah angkatan kerja menurut tingkat pendidikan:

Tabel 4.4 Jumlah angkatan kerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan jenis kegiatan selama seminggu yang lalu di Kota Pematangsiantar

Tahun 2019

Tidak/Belum Tamat Sekolah 15.215 1.308 16.523

Sekolah Menengah Pertama 21.743 1.766 23.509

Sekolah Menengah Atas 37.666 6.334 44.000

Sekolah Menengah Atas Kejuruan

20.182 3.018 23.200

Diploma I/II/III/Akademi 8.259 150 8.409

Universitas 14.827 2.136 16.963

Jumlah 117.892 14.712 132.604

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.4 diatas diketahui bahwa angkatan kerja di Kota Pematangsiantar rata-rata mengemban pendidikan sampai ke jenjang Universitas.

Jumlah angkatan kerja yang menamatkan pendidikan sampai ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih banyak dibandingkan jenjang lainnya yakni berkisar 44.000 orang. Angkatan kerja di Kota Pematangsiantar juga didominasi oleh angkatan kerja yang sudah bekerja dengan jumlah 117.892 orang sedangkan untuk pengangguran terbuka mencapai 14.712 orang.

Selanjutnya, Jumlah pencari kerja berdasarkan pendidikan di Kota Pematangsiantar lebih kecil dibandingkan jumlah angkatan kerja. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.5 Jumlah pencari kerja menurut tingkat pendidikan Tahun 2019

Jenjang Pendidikan Terdaftar

Laki-laki Perempuan Jumlah

Tidak Tamat SD - - -

SD 8 6 14

SMP 11 42 53

SMA 96 283 379

Tabel 4.5 Lanjutan

Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Pematangsiantar Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.5 diatas diketahui bahwa jumlah pencari kerja di Kota pematangsiantar sebanyak 1.291 orang. Pencari kerja tersebut di dominasi oleh jenis kelamin perempuan sebanyak 882 orang. Pencari kerja diatas merupakan data yang terdaftar di Dinas Ketenagakerjaan Kota Pematangsiantar.

Kumulatif jumlah pendaftaran pencari kerja, penempatan dan pemenuhan tenaga kerja di Kota Pematangsiantar pada tahun 2019 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Kumulatif jumlah pendaftaran pencari kerja, penempatan dan pemenuhan tenaga kerja menurut jenis kelamin Tahun 2019

Uraian Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan

Pendaftaran Pencari Kerja 409 882 1291

Permintaan Tenaga Kerja 2029 2649 4.678

Penempatan/pemenuhan tenaga kerja 103 717 820

Penghapusan Pencari Kerja 37 26 63

Pencari Kerja Yang Belum Ditempatkan 269 139 408

Permintaan Tenaga Kerja Yang Dihapuskan

1.515 611 2.126

Lowongan yang belum dipenuhi 411 1.321 1.732

Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Pematangsiantar Tahun 2019

Berdasarkan data diatas, permintaan tenaga kerja di Kota Pematangsiantar tinggi yakni sebanyak 4.678 orang. Namun, jumlah pendaftar hanya sedikit sehingga banyak lowongan kerja yang belum terpenuhi. Selanjutnya, jumlah pencari kerja yang sudah ditempatkan/terpenuhi sebanyak 820 orang atau sekitar 63% sudah ditempatkan untuk bekerja. Tingkat keberhasilan penempatan kerja tergolong tinggi.

4.1.4. Kondisi Sosial Kota Pematangsiantar 4.1.4.1. Penduduk Miskin dan PMKS

Permasalahan sosial di Kota Pematangsiantar meliputi penduduk miskin dan Pemerlu Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), masalah pendidikan, kesehatan, Keluarga Berencana, keamanan, ketertiban, dan agama.

Tabel 4.7 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kota Pematangsiantar Tahun Garis Kemiskinan

Sumatera Utara 466.122 1.282,04 8,83

Sumber: BPS, Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 4.7 diatas diketahui bahwa penduduk Kota Pematangsiantar masih banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan dengan jumlah 21,99 ribu penduduk dengan penghasilan rata-rata mencapai 502.726 Rupiah/Kapita/Bulan. Jumlah penduduk miskin di Kota Pematangsiantar mengalami penurunan sekitar 0,07% dari tahun sebelumnya yakni mencapai angka 8, 63%.

Banyaknya Permasalahan Pemerlu Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) menurut Peraturan Menteri Sosial akan dijabarkan pada tabel dibawah berikut.

Tabel 4.8 Jumlah Pemerlu Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Pematangsiantar Tahun 2020

No Jenis PMKS Jumlah Populasi

1 Anak Balita Terlantar 1 Orang

2 Anak Terlantar 214 Orang

3 Anak Berhadapan dengan Hukum 42 Orang

4 Anak Jalanan 80 Orang

5 Anak dengan Kedisabilitasan (ADK) 71 Orang

6 Anak Korban Tindak Kekerasan atau diperlakukan salah

2 Orang

7 Anak Memerlukan Perlindungan Khusus 12 Orang

8 Lanjut Usia Terlantar 2 Orang

9 Penyandang Disabilitas 285 Orang

10 Tuna Susila 15 Orang

11 Gelandangan 5 Orang

12 Pengemis 10 Orang

13 Pemulung 20 Orang

14 Kelompok Minoritas -

15 Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWBLP)

-

16 Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) 25 Orang

17 Korban Penyalahgunaan NAPZA 40 Orang

18 Korban Traffiking -

19 Korban Tindak Kekerasan -

20 Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS) -

21 Korban Bencana Alam 88

22 Korban Bencana Sosial 9

23 Perempuan Rawan Sosial Ekonomi -

24 Fakir Miskin 21.404 KK

25 Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis 1

26 Komunitas Adat Terpencil (KAT) -

Sumber: Dinas Sosial P3A Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel diatas, dapat diketahui bahwa Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang terdapat di Kota Pematangsiantar adalah 18 Jenis meliputi Anak Balita Terlantar, Anak Terlantar, Anak Berhadapan dengan

Hukum, Anak Jalanan, Anak dengan Kedisabilitasan (ADK), Anak Korban Tindak Kekerasan atau diperlakukan salah, Anak Memerlukan Perlindungan Khusus, Lanjut Usia Terlantar, Penyandang Disabilitas, Tuna Susila, Gelandangan, Pengemis, Pemulung, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Korban Penyalahgunaan NAPZA, Korban Bencana Alam, Korban Bencana Sosial, Fakir Miskin, dan Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis. Fakir Miskin merupakan permasalahan terbesar dan terbanyak dengan jumlah 21.404KK.

4.1.4.2. Penduduk Penyandang Disabilitas

Penyandang Disabilitas merupakan Penduduk Kota Pematangsiantar yang berada di berbagai kecamatan yang ada di Kota Pematangsiantar. Adapun jumlah penyandang disabilitas berdasarkan kecamatannya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.9 Jumlah penyandang disabilitas berdasarkan Kecamatan Tahun 2020

No Kecamatan Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1 Siantar Marihat 28 16 44

2 Siantar Marimbun 2 3 5

3 Siantar Selatan 21 7 28

4 Siantar Barat 15 26 41

5 Siantar Utara 33 32 65

6 Siantar Timur 19 11 30

7 Siantar Martoba 31 18 49

8 Siantar Sitalasari 36 25 61

185 138 323

Sumber: Dinas Sosial P3A Anak Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.9 diatas, diketahui bahwa jumlah penyandang disabilitas terbanyak berada di Kecamatan Siantar Utara dengan jumlah penyandang disabilitas sebanyak 65 orang. Selanjutnya disusul oleh Kecamatan

Sitalasari sebanyak 61 orang dan Kecamatan Siantar Martoba sebanyak 49 orang.

Jumlah Penyandang Disabilitas di Kota Pematangsiantar Tahun 2020 mencapai 323 orang dan didominasi oleh jenis kelamin laki-laki yakni 185 orang. Jumlah Penyandang Disabilitas diprediksi akan meningkat dari tahun ke tahun.

Jumlah Penyandang Disabilitas di Kota Pematangsiantar berdasarkan Usia akan dijabarkan pada tabel berikut:

Tabel 4.10 Jumlah penyandang disabilitas berdasarkan usia Tahun 2020

No Rentang Usia Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1 0-5Tahun 3 5 8

2 6-17 Tahun 46 30 76

3 18-35 Tahun 46 38 84

4 36-60 Tahun 83 56 139

5 60 Tahun keatas 7 9 16

Jumlah 185 138 323

Sumber: Dinas Sosial P3A Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel diatas, diketahui bahwa jumlah Penyandang Disabilitas lebih banyak berada pada usia produktif yakni rentang usia 18 tahun keatas hingga usia 60 tahun. Jumlah keseluruhan penyandang disabilitas usia produktif adalah 223 orang sedangkan jumlah Penyandang Disabilitas balita, usia anak dan lansia lebih kecil yakni sebanyak 8 orang, 76 orang dan 39 orang. Hal ini menunjukkan bahwa Penyandang Disabilitas di Kota Pematangsiantar memerlukan kebutuhan akan pekerjaan yang layak agar mampu memenuhi kebutuhan hidup secara memadai.

Penyandang Disabilitas terdiri dari 5 jenis yakni disabilitas fisik, disabilitas sensorik, disabilitas intelektual, disabilitas mental, dan disabilitas

ganda. Jumlah Penyandang Disabilitas berdasarkan jenis kedisabilitasannya diuraikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.11 Jumlah penyandang disabilitas berdasarkan jenis disabilitas Tahun 2020

Jenis Disabilitas Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

Disabilitas Fisik 55 40 95

Disabilitas Sensorik

Netra 16 8 24

Rungu 2 2 4

Wicara 4 3 7

Rungu Wicara 10 12 22

Disabilitas Intelektual

Grahita 19 25 44

Downsyndrom 7 8 15

Disabilitas Mental

Gangguan Mental 27 15 42

Autis 17 6 23

Disabilitas Ganda 29 23 52

185 138 323

Sumber: Dinas Sosial P3A Anak Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.11 diatas dapat diketahui bahwa Disabilitas Fisik lebih banyak dibandingkan disabilitas lainnya yakni sebanyak 95 orang.

Selanjutnya disusul oleh disabilitas mental sebanyak 67 orang dan disabilitas intelektual sebanyak 59 orang.

Berdasarkan jenis pendidikan yang pernah ditempuh oleh Penyandang Disabilitas, Jumlah Penyandang disabilitas yang tidak sekolah lebih banyak dibandingkan yang sudah bersekolah atau tamat. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.12 Jumlah penyandang disabilitas berdasarkan pendidikan Tahun 2020

No Jenjang Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

Sumber: Dinas Sosial P3A Anak Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Penyandang Disabilitas masih banyak yang belum menempuh pendidikan yakni sekitar 144 orang. sedangkan jumlah penyandang disabilitas yang mampu menempuh pendidikan sampai tingkat universitas hanya 7 Orang. Penyandang disabilitas yang menempuh pendidikan hingga jenjang SMA sebanyak 66 orang, SMP sebanyak 41 orang dan SD sebanyak 65 orang. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Penyandang disabilitas masih belum mendapatkan pendidikan dasar yang layak.

Selanjutnya, Jumlah Penyandang Disabilitas yang tidak bekerja lebih banyak jika dibandingkan yang bekerja. Jumlah Penyandang disabilitas berdasarkan status pekerjaannya akan dijabarkan pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.13 Jumlah penyandang disabilitas berdasarkan status pekerjaan Tahun 2020

No Pekerjaan Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

Sumber: Dinas Sosial P3A Anak Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.13 diatas, diketahui bahwa sebanyak 260 orang Penyandang Disabilitas yang tidak bekerja atau penggangguran. Penyandang disabilitas yang bekerja yakni sebanyak 63 orang terdiri dari jenis pekerjaan sebagai buruh, pedagang, petani, PNS, dan lainnya. Penyandang disabilitas yang bekerja didominasi oleh pekerjaan sebagai buruh dengan jumlah 38 orang. Jumlah penyandang disabilitas yang tidak bekerja terdiri dari beragam usia. Yakni usia balita, usia anak, usia produktif, dan usia lanjut usia. Penyandang disabilitas usia produktif lebih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan atau tidak bekerja.

Oleh karena itu, penyandang disabilitas usia produktif memerlukan aksesibilitas yang mudah untuk memperoleh pekerjaan di Kota Pematangsiantar.

Jumlah Penyandang Disabilitas berdasarkan usia produktif yang tidak bekerja dijabarkan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.14 Jumlah penyandang disabilitas usia produktif tidak bekerja

No Jenis Disabilitas Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1 Disabilitas Fisik 19 15 34

2 Disabilitas Sensorik 11 13 24

3 Disabilitas Intelektual 15 20 35

4 Disabilitas Mental 32 19 51

5 Disabilitas Ganda 9 12 21

86 79 165

Sumber: Dinas Sosial P3A Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan Tabel diatas, diketahui bahwa jumlah penyandang disabilitas usia produktif dengan rentang usia 18 Tahun sampai dengan 60 tahun adalah 165 orang dengan rincian jumlah laki-laki 86 orang dan jumlah perempuan 79 orang.

Berdasarkan jenis disabilitas, jumlah penyandang disabilitas mental lebih banyak

tidak bekerja atau pengganguran dibandingkan jenis disabilitas lainnya yakni sebesar 51 orang dan dilanjut oleh disabilitas intelektual, disabilitas fisik, disabilitas sensorik, dan disabilitas ganda.

Adapun berdasarkan data diatas, jumlah penyandang disabilitas usia produktif usia 18-35 tahun dan usia 36-60 tahun berdasarkan pendidikan yang ditempuh adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 15 Jumlah penyandang disabilitas usia produktif berdasarkan pendidikan

No Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1 Tidak Sekolah 29 32 61

2 SD/Sederajat 15 21 36

3 SMP/Sederajat 12 14 26

4 SMA/Sederajat 28 11 39

5 D1/D2/D3 2 - 2

6 D4/S1 - 1 1

86 79 165

Sumber: Dinas Sosial P3A Kota Pematangsiantar Tahun 2020

Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa penyandang disabilitas usia produktif masih banyak yang belum menempuh pendidikan hingga ke jenjang SMA/sederajat sampai sarjana. Jumlah penyandang disabilitas usia produktif yang tidak bersekolah adalah 61 orang dengan rincian yang tidak bersekolah usia 18-35 tahun berjumlah 36 orang dan usia 36-60 tahun tidak bersekolah berjumlah 25 orang. Penyandang disabilitas yang telah menempuh pendidikan wajib belajar hingga SMA/sederajat hanya berjumlah 39 orang dengan rincian usia 18-35 tahun adalah 12 orang dan usia 36-60 tahun adalah 27 orang. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa penyandang disabilitas usia produktif memerlukan akses pendidikan yang setara dengan yang lain agar mampu bersaing dengan tenaga kerja pada umumnya.

4.1.4.3. Pendidikan

Peningkatan partisipasi sekolah penduduk tentunya harus diimbangi dengan Pemberian sarana fisik pendidikan maupun tenaga guru yang memadai..

Ditingkat pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), jumlah sekolah pada tahun 2019 ada sebanyak 44 buah dengan jumlah guru sebanyak 291 orang dan murid sebanyak 2.824 orang. Jumlah Sekolah Dasar ada sebanyak 162 sekolah dengan jumlah guru sebanyak 1.804 orang dan jumlah murid sebanyak 29.125 orang.

Sementara jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) ada sebanyak 42 sekolah dengan jumlah guru sebanyak 1.208 dan jumlah murid sebanyak 17.783 orang. Pada tahun yang sama, jumlah Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) ada sebanyak 30 sekolah dengan jumlah guru sebanyak 873 orang dan murid sebanyak 15.796 orang.

4.1.4.4. Kesehatan dan Keluarga Berencana

Ketersediaan sarana kesehatan berupa rumah sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Jumlah rumah sakit yang ada di Kota Pematangsiantar pada tahun 2019 ada sebanyak 7 buah. Puskesmas di Kota Pematangsiantar pada tahun 2019 berjumlah 19 unit dan Puskesmas

Ketersediaan sarana kesehatan berupa rumah sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Jumlah rumah sakit yang ada di Kota Pematangsiantar pada tahun 2019 ada sebanyak 7 buah. Puskesmas di Kota Pematangsiantar pada tahun 2019 berjumlah 19 unit dan Puskesmas