2.2. Persepsi, Sikap dan Perilaku Terhadap Lingkungan
2.4.2. Kebijakan pengelolaan sampah di perkotaan
Solusi dalam mengatasi masalah sampah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi terhadap semua program pengelolaan sampah yang dimulai pada skala kawasan (tingkat kecamatan/kawasan permukiman), kemudian dilanjutkan pada skala yang lebih luas lagi. Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah dengan cara membuang sampah
sekaligus memanfaatkannya sehingga selain membersihkan lingkungan juga menghasilkan kegunaan baru. Hal ini secara ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya (Murthado dan Said 1987). Oleh karenanya model pengelolaan sampah perkotaan secara menyeluruh salah satunya adalah meliputi penghapusan model TPA secara bertahap.
Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Cohen dan Uphoff (1997) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan terbagi atas 4 (empat) tahap, yaitu (1) partisipasi pada tahap perencanaan, (2) partisipasi pada tahap pelaksanaan, (3) partisipasi pada tahap pemanfaatan hasil-hasil pembangunan, dan (4) partisipasi dalam tahap pengawasan dan monitoring.
Masyarakat senantiasa ikut serta berpartisipasi terhadap proses-proses pembangunan apabila terdapat faktor-faktor yang mendukung, antara lain: kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasarana, dorongan moral, dan adanya kelembagaan baik non-formal maupun formal. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu faktor kebijakan untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan atau lingkungan permukiman dari tahun ke tahun yang semakin kompleks.
Sebagai contoh, Pemerintah Jepang membutuhkan waktu 10 tahun untuk membiasakan masyarakatnya memilah sampah. Reduce (mengurangi), reuse
(penggunan kembali) dan recycling (daur ulang) adalah model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah. Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini.
Untuk mendapatkan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi dalam penanganan sampah di kota maka pengelolaannya harus cukup layak diterapkan yang sekaligus disertai upaya pemanfaatannya sehingga diharapkan mempunyai keuntungan berupa nilai tambah. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu
pemilihan cara dan teknologi yang tepat, perlu partisipasi aktif dari masyarakat yang merupakan sumber sampah berasal dan mungkin perlu dilakukan kerjasama antarlembaga pemerintah yang terkait Diperlukan aspek legal untuk dijadikan pedoman berupa peraturan-peraturan mengenai lingkungan demi menanggulangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah.
Sistem pengelolaan yang dilakukan di beberapa kota memiliki karakteristik masing-masing, yang disesuaikan dengan jenis umum sampah, keadaan budaya, serta kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya. Beberapa sistem pengelolaan di beberapa negara atau kota dijelaskan berikut ini.
a. Canberra
Kota Canberra (Ananta 1997) memiliki program bebas sampah tahun 2010 (No waste 2010 Canberra). Kota yang memproduksi sampah sebesar 250 ribu ton per tahun ini menumpukkan sampahnya pada dua Tempat Pembuangan Akhir yang berada di daerah Mungga Lande dan Belconnen. Total sampah terdiri dari 60 persen kertas, karton kemas, sampah organik, puing, dan batuan sisa bangunan. Kota Canberra menerapkan sistem landfill yang dikelola oleh Dinas Pelayanan kota (Departement of Urban Services) dengan ijin Kantor Pengontrolan Polusi (Pollution Control Authority Office of the Environment). Pengumpulan sampah dan kegiatan daur ulang dikontrakkan kepada swasta.
Terdapat tiga program yang dilakukan oleh pemerintah dengan memberdayakan masyarakat seperti mendaur ulang sampah pekarangan, daur ulang yang dikoordinir kelompok yang disebut REVOLVE dan sebuah jaringan pertukaran materi yang dapat menggunakan kembali sumber sampah yang dikenal dengan nama Canberra Resource Exchange Network (CERN). CERN ini tersedia
database yang lengkap beserta suppliernya, dan jika sebuah sampah belum didapatkan, warga tersebut dapat mendaftar secara gratis sebagai pencari sampah jenis tersebut.
b. Jepang
Sekitar 75 persen sampah di Negara Jepang (P u d j i a t m o k o 2 0 0 7 ) diolah dengan cara dibakar. Selebihnya dengan cara lain. Pada awalnya pengolahan sampah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tokyo, akan tetapi saat ini pengolahan
sampah telah diambil alih oleh Asosiasi Pemrosesan Sampah Kota/Kecamatan. Asosiasi tersebut tidak bertujuan mencari laba.
Tempat Pengolahan sampah di bangun di atas tanah seluas 44.400 m2, dengan rincian untuk bangunan pengolah sampah seluas 28.548 m2 dan bangunan administrasi 2.236 m2. Bangunan pengolah sampah dilengkapi dengan Stack
berupa silinder bertulang baja setinggi 130 m. Fasilitas Slag stock dengan konstruksi bertulang baja setinggi 9,6 m. Tempat Pengolahan sampah dibangun dengan modal 29 milyar yen dengan pegawai 36 orang.
Metode pembakaran sampah menggunakan sistem Fully continuous combustion dengan kapasitas 600 ton per hari. Dilengkapi dengan Boiler dengan maksimum tekanan/suhu untuk Boiler drum sebesar 5,00 MPa, 266oC sedangkan
Superheater outlet sebesar 4,15 MPa, 420oC. Jumlah maksimum penguapan
Boiler tersebut 47,9 t/h setiap incenerator. Pada Steam turbine besar Rated out put
13.200 kW, jumlah penguapan sebanyak 67,38 t/h, tekanan / suhu uap 3,65 MPa, 398.9oC. Bahan bakar utama untuk pembakaran sampah adalah sampah itu sendiri. Penggunaan gas hanya pada saat pembuatan api pertama kali. Hasil pembakaran sampah berupa debu, kemudian dipanaskan lagi dengan suhu 3000oC sehingga dapat diperoleh material bangunan yang disebut slag. Material tersebut sangat bernilai sebagai material baru untuk konstruksi bangunan. Satu pabrik pengolahan sampah dapat menampung sampah yang berasal dari 600.000 penduduk di wilayah Tokyo. Sedangkan di Tokyo terdapat 21 pabrik pengolahan sampah. Tidak semua kota/kecamatan mempunyai pabrik pengolahan sampah sehingga TPS Itabashi juga mengolah sampah berasal dari kota/kecamatan lain. Sehari terdapat 600 truk yang datang membawa sampah ke TPS ini. TPS tersebut dapat mengumpulkan dan mengolah 600 ton sampah per hari yang berasal dari wilayah kota Itabashi
c . H a n o i V i e t n a m
Hasil penelitian Richardson (2003) di Hanoi Vietnam menunjukkan bahwa sebagian besar kota kota besar Asia, masyarakat dan sistem pelayanan yang ada hanya mampu mengumpulkan sampah padat sebesar 30 sampai dengan 50 persen. Lainnya membuang sampah dengan cara yang sangat merugikan lingkungan. Pengelolaan sampah merupakan suatu hal yang komplek yang
melibatkan berbagai organisasi dan kerjasana antar rumah tangga, masyarakat, perusahaan swasta, serta pemerintah dalam melakukan proses daur ulang dan menghasilkan nilai tambah secara ekonomis.
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Hanoi Vietnam menunjukkan bahwa keberhasilan program ditentukan oleh keterlibatan masyarakat lokal,
stakeholders dan pengambil keputusan. Dengan demikian pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan model pemberdayaan yang melibatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan.
d. Dhaka-Bangladesh (Action Research)
Pertumbuhan penduduk Bangladesh yang tinggi (Dhaka Ahsania Mission 2006) menyebabkan peningkatan volume sampah yang luar biasa. Permasalahan utama di kota besar adalah sulitnya mengatasi penumpukan sampah yang semakin meningkat. Sementara di perdesaanpun tidak terlepas dari masalah tersebut. Baik di perkotaan maupun di perdesaan menghadapi masalah lingkungan yang sangat serius, kecuali ada strategi dan kebijakan yang dapat diadopsi secara tepat. Tanggung jawab pemerintah lokal untuk mengelola sampah sangat terbatas untuk menyediakan jasa pelayanan karena masih menggunakan sistem konvensional.
Di daerah perkotaan, disediakan jasa layanan pengelolaan sampah, sementara di perdesaan tidak tersedia. Akibatnya sampah dibuang di pinggir jalan, saluran terbuka, lahan yang rendah dan halaman rumah, sehingga hal tersebut akan berdampak pada rendahnya kualitas hidup dan lingkungan. Oleh sebab itu pengelolaan sampah menjadi perhatian yang sangat serius, baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, yakni adanya pengelolaan yang efektif berupa pengangkutan, daur ulang, peningkatan sumberdaya, dan penjualan hasil daur ulang. Untuk menghindari dan memperkecil efek yang membahayakan adalah dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman warga masyarakat serta memotivasi semua unsur yang terkait dalam pengelolaan sampah. Selain itu juga perlu ditingkatkan kesadaran dan pemahaman institusi dan semua anggota masyarakat turut bertanggung jawab untuk mengelola sampah, baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Program ini sangat membantu untuk menumbuhkan kesadaran kolektif. Adapun cara yang digunakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui paket yang terdiri atas pembuatan poster, buklet, videocasseet. Selain itu juga dilakukan pelatihan pemandu dan fasilitator yang bertugas sebagai pendampingan masyarakat.
e. Jakarta (Zero Waste Rawasari)
Proyek zero waste (Suhli 2001) untuk kawasan ini diterapkan dengan melibatkan warga dalam pengelolaan sampah dengan prinsip dari warga untuk warga. Pengelolaan sampah dilakukan hanya per kawasan, sehingga biaya angkut menjadi nol persen. Sampah yang dihasilkan langsung dipilah dan diolah sesuai dengan peruntukannya. Kegiatan ini dapat mengolah sampah hingga 6 – 20 m3/hari dengan hasil kompos sebanyak 12 ton/bulan serta menghasilkan kertas daur ulang, biji plastik, logam serta bahan konstruksi sebanyak 8,4 ton/bulan
f. Bandung
Tempat Pembuangan Akhir sampah di Kota Bandung (Sukendar dan Abriansyah 1999) ditempatkan di Desa Karang Pamulang - Pasir Impun dengan luas 7 ha. Struktur kontruksi dilakukan sedemikian rupa hingga tumpukan bau dapat diatasi dengan menggali lubang sedalam 7 meter dengan ukuran 14 x 30 meter. Dasarnya dilapisi dengan tanah liat kedap air, lubang tersebut dilengkapi pipa yang dapat mengalirkan cairan limbah dan biogas.
Tempat Pembuangan Akhir Sampah ini mampu mengelola sampah 500 - 1000 m3/hari. Hasil pengelolan sampah tersebut menghasilkan daya listrik 40.000 watt, serta sampah busuk dijual berupa kompos. Dari hasil pengelolaan sampah berupa kompos tersebut Tempat Pembuangan Akhir sampah menghasilkan Rp 10 juta dalam waktu satu tahunnya