KEBERSIHAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN KOTA BANDAR LAMPUNG
7.2. Transformasi TPA Menuju Pusat Daur Ulang Terpadu (PDUT)
Pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan, khususnya sampah perkotaan di Bandar Lampung memerlukan perubahan secara adaptif dengan mempertimbangkan aspek karakteristik masyarakat, kondisi sosial dan budaya
masyarakat Bandar Lampung yang pluralistik, aspek lingkungan sekitar, volume sampah, dan jenis sampah yang dihasilkan. Untuk perubahan ini memerlukan waktu dan cara pandang terhadap sampah. Mengubah mind set dari sampah tidak berguna bahkan mengganggu menjadi sampah sebagai renewable resource
melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh stakeholders (pemerintah, masyarakat perguruan tinggi, masyarakat wirausaha/pihak swasta, masyarakat yang tergabung dalam LSM lingkungan, dan warga masyarakat lainnya). Perubahan cara pandang tersebut melalui proses pendidikan, pelatihan dan proses sosialisasi secara intensif kepada seluruh lapisan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan pemanfaatan sampah yang didukung oleh regulasi dan atau peraturan daerah tentang kebersihan lingkungan yang tegas, akan dapat mengurangi volume sampah, dan dapat menambah pendapatan masyarakat, sekaligus dapat mewujudkan zero waste management
menuju kebersihan lingkungan berkelanjutan.
Sebagai contoh, Pemerintah Jepang (Cohen dan Uphoft 1997) memerlukan waktu 10 tahun untuk membiasakan masyarakatnya memilah sampah. Pendekatan sistem reduce (mengurangi), reuse (penggunaan kembali) dan recycling (daur ulang) adalah suatu model relatif aplikatif yang dianjurkan dan bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah
Program “Ayo Bersih-Bersih” kota Bandar Lampung secara konsep belum memenuhi mekanisme pengelolaan sampah seperti di Bangalore India, Hanoi, Surabaya, dan di Rawasari Jakarta. Hal ini, disebabkan di Bandar Lampung belum menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Pola kemitraan dalam pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan dengan memberdayakan masyarakat secara terpadu dan holistik dari berbagai kalangan stakeholders
(pemerintah, para pengusaha/swasta, para akademisi di perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan seluruh warga masyarakat yang terkait) untuk membentuk lingkungan yang bersih, aman, sehat, asri, dan lestari.
Undang-Undang tentang pengelolaan sampah telah menegaskan berbagai larangan seperti membuang sampah tidak pada tempatnya, membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis, dan melakukan pengelolan sampah
dengan cara pembuangan terbuka di TPA. Penutupan TPA dengan pembuangan terbuka harus dihentikan dalam waktu lima tahun setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, termasuk TPA Bakung.
Visi ke depan pemberdayaan masyarakat, adalah mendorong lahirnya konsep pengelolaan sampah yang tidak mengenal adanya Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tetapi adanya Tempat Pengolahan Sampah terpadu (TPST) dalam rangka menuju konsep Manajemen SampahTerpadu (MST). Dengan demikian transformasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung menuju Pusat Daur Ulang Terpadu Bakung (PDUT) memerlukan peranserta dari seluruh pemangku kepentingan dan dukungan secara nyata dari wakil rakyat di lembaga legislatif. Dalam proses transformasi tersebut, juga menyangkut konsep transformasi pengelolaan keanekaragaman sampah. Dalam perkembangannya, sampah akan beragam, tidak hanya sampah organik dan anorganik, tetapi juga sampah bahan-bahan elektronik dan sampah lainnya. Selain itu, dalam perkembangannya akan terjadi proses transformasi mekanisme pembiayaan dalam pengelolaan sampah. Terwujudnya pusat daur ulang terpadu Bakung, diperlukan langkah-langkah perencanaan jangka panjang (sekitar 10 – 15 tahun) yang terpadu dengan beberapa tahapan rencana strategis lima tahunan. Proses tranformasi TPA menuju Pusat Daur Ulang Terpadu (PDUT) Bakung dapat digambarkan sebagai berikut.
TPA Bakung
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)
Manajemen SampahTerpadu (MST)
Pusat Daur Ulang Terpadu Bakung
(PDUT)
Gambar 22. Transformasi TPA menuju pusat daur ulang terpadu (PDUT) Bakung kota Bandar Lampung
Rencana strategis (Renstra) lima tahun pertama
Langkah awal yang diperlukan adalah regulasi yang berupa peraturan daerah tentang kemitraan, meliputi ketentuan pola kerjasama dengan masyarakat seperti pihak swasta, perguruan tinggi, LSM, dan pihak-pihak lain yang terkait. Perencanaan program pemberdayaan masyarakat lebih dititikberatkan pada upaya peningkatan peranserta masyarakat sejak awal, dari perencanaan sampai pelaksanaan program pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan melalui berbagai cara, seperti pembentukan forum-forum kebersihan lingkungan, konsultasi publik, sosialisasi dan komunikasi, pendampingan, pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain. Upaya ini harus diterapkan secara konsisten, terus menerus, terintegrasi dengan sektor lain yang sejenis dan kelompok masyarakat sebagai stakeholders diberi kepercayaan untuk mengambil peran dalam pengambilan keputusan. Kunci pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan, khususnya sampah perkotaan sebenarnya terletak pada tahap proses sosialisasi, pengembangan opini, sehingga menjadi perilaku dan kebiasaan, yang akhirnya akan membudaya di tingkat rumahtangga dan di tingkat lingkungan/ kelurahan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik serta kegiatan 4 R lainnya. Dengan demikian dalam kurun lima tahun pertama ini TPA Bakung menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Rencana strategis (Renstra) lima tahun kedua
Selanjutnya penerapan peraturan daerah yang didahului dengan proses sosialisasi dan uji coba di kawasan tertentu yang secara bertahap dikembangkan ke kawasan lain serta mempersiapkan program law of enforcement. Perancangan aspek kemitraan yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah terutama yang mempunyai nilai investasi tinggi dan membutuhkan penanganan yang lebih profesional meliputi pemilihan kegiatan yang secara teknis dan ekonomis layak dilakukan oleh pihak swasta dan kalangan masyarakat lainnya dengan pola kemitraan yang jelas dan terukur serta bersifat win-win solution. Dalam kurun waktu lima tahun kedua ini, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bakung akan berkembang menuju Manajemen Sampah Terpadu (MST) kota Bandar Lampung.
Rencana strategis (Renstra) lima tahun ketiga
Implementasi konsep pemberdayaan masyarakat sebagai mitra pemerintah daerah dalam kebersihan lingkungan berkelanjutan, tergantung dari perubahan sikap dan perilaku seluruh masyarakat yang terlibat langsung dalam memperlakukan sampah dengan metode 4 R (recycle, reuse, reduce, dan replace). Untuk itu, peran pemerintah kota Bandar Lampung dan didukung stakeholders
lainnya secara sinergis dalam suatu wadah/manajemen sampah terpadu untuk mengimplementasikan konsep pemberdayaan masyarakat secara intensif dan berlanjut serta dilengkapi dengan penerapan peraturan perundang-undangan yang lebih tegas, ketersediaan sarana-prasarana, dan jumlah petugas kebersihan lingkungan yang mencukupi, serta penggunaan teknologi daur ulang yang adaptif dengan lingkungan; pada akhirnya TPA Bakung akan menjadi Pusat Daur Ulang Terpadu (PDUT) Bakung kota Bandar Lampung.
8.1 Simpulan
Secara ringkas simpulan penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut:
1 Kebijakan dan program pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan di kota Bandar Lampung, termasuk penyediaan sarana - prasarana, kapasitas daya tampung TPA dan petugas kebersihan, khususnya pengelolaan sampah masih kurang efektif, selain masih terbatasnya jumlah fasilitas dan kualitasnya. 2 Karakteristik masyarakat memberikan kontribusi (kecuali pendidikan yang tidak signifikan) terhadap program kebersihan lingkungan berkelanjutan dan
belum terpenuhinya harapan masyarakat dalam pengelolaan sampah di kota Bandar Lampung.
3 Adanya peran dari perguruan tinggi, pihak swasta, petugas/ pamong, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terhadap pemberdayaan masyarakat sebagai mitra pemerintah daerah dalam pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan, khususnya pengelolaan sampah kota di Bandar Lampung. 4 Pola kemitraan antara pemerintah kota, pihak swasta dan kelompok masyarakat merupakan konsep pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan, khususnya pengelolaan sampahkota Bandar Lampung secara terpadu dan holistik.
8.2 Rekomendasi
Hasil penelitian yang diusulkan sebagai rekomendasi, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Segera diimplementasikan konsep pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah kota Bandar Lampung, pihak swasta, dan masyarakat (termasuk masyarakat perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan warga masyarakat) dengan membentuk suatu Komisi atau Dewan Kebersihan Lingkungan Kota..
2. Tingkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung pengelolaan kebersihan lingkungan berkelanjutan kota Bandar Lampung serta program pemantauan
pelaksanaan kegiatan pengelolaan kebersihan lingkungan dengan melibatkan seluruh stakeholders.
3. Tumbuhkembangkan keberdayaan masyarakat melalui sosialisasi program 4R (reduce, reuse, recycling, dan replace) dan diterapkan mulai dari tingkat rumahtanggga yang diikuti mekanisme sanksi bagi yang tidak melaksanakan dan imbalan bagi yang melaksanakan.
4. Visi ke depan pemberdayaan masyarakat adalah mendorong lahirnya konsep Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dalam rangka menuju konsep Manajemen Sampah Terpadu (MST) sehingga TPA Bakung akan menjadi Pusat Daur Ulang Terpadu (PDUT) Bakung Bandar Lampung.
Ananta, S. 1997. Manajemen Sampah yang Berkelanjutan (Sustainable Waste Management). Tidak diterbitkan. Melbourne University. Australia.
Anschütz, J. 1996."Community-based solid waste management and water supply projects: problems and solutions compared, a survey of the literature
Working Document 2, Urban Waste Expertise Programme, accessible online at www.waste.nl.
Azwar, S. 2005. Sikap Manusia & Pengukurannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta Bandaragoda, D.J. 2000. A Frame for Institutional Analysis for Water Resource
Management in a River Basin Context. Working Paper 5. International Water Management Institute. Silverton.
Bappenas. 2002. Infrastruktur Indonesia Sebelum, Selama dan Pasca Krisis. Deputi Bidang Sarana dan Prasarana. Jakarta
Baron, R.A and D. Byrne. 2004. Social Psychology. (10th ed). Allyn & Bacon, Inc. Boston.
Bell, P.A, J.D. Fisher,R.J. Loomis.1978.Environment Psychology. W.B.Sauders Co.Phil
[BOBP] Bay of Bengal Program. 1990. Helping Fisherfolk to Help Themselves A Stufy in People’s Participation.
[BPPLH] Badan Pemantauan dan Pengembangan Lingkungan Hidup.2009. Status Lingkungan Hidup Daerah. Bandar Lampung
[BPPT] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2002. Model Pengelolaan Persampahan Perkotaan, Jakarta
Buana. 2004. Bergulat Melawan Sampah. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kota Depok. Depok.
Budiharsono, S. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Laut. Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta
Bulle, S. 1999. Issue and results of community participation in urban environment, comparative analysis of nine projects on waste management. UWEP Working Document 11.Waste. http://www.waste.nl
Chambers, R. 1995. Paradigm Shifts and the Practice of Participatory Research and Development in Wrights. Nelson. eds. Power and Paeticipatory Development Theory and Practice. London. ITDG.
Cohen, J.M. and T.Uphoff. 1997. Rural Development Participation; Concepts and Measures for Project Design. Implementation and Evaluation. Cornell University, Ithaca. New York.
Cullivan, D., B. Tippett, D.B. Edwards, F. Rosensweig and J. McCaffery. 1988.
Guidelines for Institutional Assessment Water and Wastewater Institutions. WASH Technical Report. US Agency for International Development. Washington DC.
Damanhuri, E. dan T. Padmin. 2005. Suami-Isteri yang Menggeluti Sampah. http:// www.digilib-ampl.net./detail.php.21 Agustus 2010.
Daniel, T. S., P. Hasan, dan S. Vonny. 1985. Teknologi Pemanfaatan Sampah Kota dan Peran Pemulung Sampah: Suatu Pendekatan Konseptual. PPLH ITB. Bandung.
Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Edisi Kedua. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Balai Pustaka. Jakarta.
Dhaka Ahsania Mission (DAM). 2006. “Community Empowerment For Waste Management” (Completion Report). in Collaboration with Asia/Pacific Cultural Centre For UNESCO (ACCU) Japan. Dhaka, Bangladesh (1-13) Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial. 2005. Acuan Klasifikasi Tanggung
Jawab Sosial Dunia Usaha. Departemen Sosial RI. Jakarta.
Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandar lampung.2010. Profile dan Sejarah. Bandar Lampung.
Dyah, A.S. 1983. Persepsi Staf Pengajar dan Pimpinan Tiga Perguruan Tinggi tentang Pengabdian pada Masyarakat [Tesis]. Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor.
Fisher, J.D. P.A. Bell and A. Baum. 1984. Environmental Psychology. 2nd ed. NY: Holt. Rinehart & Winston.
Handono, M. 2010. Model Pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah secara Berkelanjutan di TPA Cipayung Kota Depok-Jawa Barat [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Helmi. 2002. Tantangan Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air di Indonesia. P3-TPSLK BPPT dan HSF. Jakarta.
Hendargo, I.I. 1994. Kamus Istilah Lingkungan. Bina Rena Pariwara. Jakarta. Hidayat, B. 2008. Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di
Indonesia. Pembelajaran dari Berbagai Pengalaman. Penerbit Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL). Jakarta. Hornby, A.S. 1995. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English.
C. Jonathan, K. Kavanagh, and M. Ashby (Eds.). Oxford University Press, Oxford.
Ife, J. 1995. Community Development: Creating Community Alternatives-vision. Analycis and Practice. Longman Australia Pty Ltd, Melbourne.
Iyer, A. 2001. Community participation in waste management, experiences of a pilot project in Bangalore India, case study report. Urban Waste Expertise Program (UWEP). The Netherland. http://www.waste.nl
Kantor Menteri Lingkungan Hidup dan JICA. 2003. Draft Naskah Akademis Peraturan Perundang-Undangan Pengelolaan Sampah. Kementerian
Lingkungan Hidup. Jakarta.
Kartasasmita,G. 1996. Pembangunan untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Cides, Jakarta.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2007. Buku Panduan Implementasi 3R. Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Usaha Kecil Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.
[KNLH] Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2005. Program Warga Madani (Program Pemberdayaan Masyarakat). Menuju Indonesia Hijau. Jakarta.
[KNLH] Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia. 2008. Statistik Persampahan Indonesia. Jakarta.
Manahan, S.E. 1994. Environmental Chemistry. Ed. ke-2. Lewis Publisher. New York
Mar’at. 1982. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Matsunaga, K., and M.J. Themelis. 2002. Effects of affluence and population density on waste generation and disposal of municipal solid wastes. Colombia University. New York. www.columbia.edu/cu/wtert/waste-affluence-paper.pdf [28 Mei 2010]
Mokoginta, L.F. 2006. Kendala Menghadapi Pengrusakan Lingkungan, dalam Buletin Khusus Warta untuk Desa. Gerakan Indonesia Bersatu. Jakarta. Moningka, L. 2000. Community Participation in Solid Waste Management.
http://www.waste.nl. [ 15 Mei 2010].
Moore, D.S. and Mc.G.P. Cabe. 1989. Introduction to The Practice Statistics. 3rd.edition. WH. Freeman and Company. New York
Muchtar, T. 1998. Hubungan Karakteristik Elit Formal dan Elit Informal Desa dengan Persepsi dan Tingkat Partisipasi Mereka dalam Program P3DT di Kabupaten Sukabumi [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor
Mueller-Glodde, U. 1994. Poor, But Stong: Women in the People’s Economy of Bangladesh. Germany. German Commission for Justice and Peace.
Murdyarso, D. 2003. Protokol Kyoto. Implikasinya Bagi Negara Berkembang, Buku Kompas. Jakarta.
Murthado, D. dan S. Gumbira. 1987. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Padat. Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta.
Muthmainnah, A. 2008. Pengelolaan Sampah Kota Berbasis Partisipasi Masyarakat Menuju Zero Waste di TPA Galuga Kecamatan Cibungbulan Kabupaten Bogor [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor
Naria, E. 1996. Pengelolaan Sampah Padat [Tesis]. Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. Medan
Neolaka, A. 2008. Kesadaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
Pap, R. 2003.Household and Institutional Perspectives on Solid Wast eManagement in Jamaica. Natural Resourceand Environment, University of Michigan
Michigan.
Payne, M. 1997. Modern Social Work Theory. Second Edition. Mac Millan Press Ltd. London.
Pemerintah Kota Bandar Lampung. 2008. Bandar Lampung Selayang Pandang, Kota Tapis Berseri. Bandar Lampung,
Pemerintah Kota Bandar Lampung. 2010. Basis Data Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Bandar Lampung
Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No.03 Tahun 2008. Bagan Struktur Organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Bandar Lampung.
PPS IPB. 2003. Sampah: Dari Bencana Menjadi Berkah, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Pranarka, A.M.W. dan V. Moeljarto. 1996. Pemberdayaan (Empowerement), Pemberdayaan Konsep dan Implementasi. CSIS. Jakarta.
Pudjiatmoko. 2007. Teknik Pengolahan Sampah di Jepang, Jurnal Lingkungan (Jurnal Atani Tokyo, XI : 3-6, 10 April 2007).
Race, D. and J. Millar. 2006. Training Manual: Social and community dimensions of ACIAR Projects. Australian Center for International Agricultural Research – Institute for Land, Water, and Society of Charles Sturt University, Australia.
Richardson, D.W. 2003. Community-Based Solid Waste Management Systems in Hanoi, Vietnam (A Research Paper Submitted to the Faculty of Forestry), University of Toronto In partial fulfilment of the requirements for the degree of Master of Forest Conservation Toronto, Ontari, Canada. January 10, 2003 (1-71)
Royadi. 2006. Analisis Pemanfaatan TPA Sampah Pasca Operasi Berbasis Masyarakat (Studi Kasus TPA Bantar Gebang, Bekasi) [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor
Saaty, T.L. 1993. Pengambilan Keputusan bagi Para Pemimpin: Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks (terjemahan). Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.
Sadli, S. 1976. Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Menyimpang [Tesis] Program Pascasarjana UI. Jakarta
Sajogyo and A. Sheperd. 1998. Modernization Without Development Sustainable Rural Development. Macmillan. Basingstabe andLondon
Salvato, J.A. 1992. Environmental Enginering and Sanitation – Third Edition. John Wiley and Sons inc. New York.
Sanderson, S. K. 1993. Sosiologi Makro (terjemahan). Rajawali Press. Jakarta Santosa, M.A. 2001. Good Governance dan Hukum Lingkungan. Indonesia
Center for Environmental Law (ICEL). Jakarta
Saribanon, N. 2007. Perencanaan Sosial Partisipatif dalam Pengelolaan Sampah Permukiman Berbasis Masyarakat (Kasus di Kotamadya Jakarta Timur) [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.
Sarwono, S.W. 1992. Psikologi Lingkungan. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Sattar, A.L. 1985. Persepsi Masyarakat Pedesaan Terhadap Usaha Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan di DAS Bila Walanae Sulawesi Selatan [Tesis]. Fakultas Pascasarjana KPK IPB-UNHAS. Bogor
Satria, A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Cicesindo. Jakarta. Schubeler, P., K. Wehrle and J. Christen. 1996. Conceptual Framework for
Municipal Solid Waste Management in Low-Income Countries. UNDP/UNCHS (Habitat)/World Bank/SDC Collaborative Programme on Municipal Solid Waste Management in Low-Inconme Countries. Washington DC.
Scott, W.R. 2001. Institution and Organizations. Second edition. Sage Publications. London.
Setiawan, M.D. 2001. Penerapan konsep zero waste dalam pengelolaan sampah perkotaan. http//.www.geocities.com.0-zero.waste.doc. [10 Mei 2010]. Sidik, M.A.D. Herumartono, dan H.B. Sutanto. 1985. Teknologi pemusnahan
Sampah dengan Incinerator dan Landfill. Direktorat Riset Operasi dan Manajemen. Deputi Bidang Analisa Sistem Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta.
Slamet, J.S. 2000. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Gajah Mada University Press Yogyakarta
Soeriatmadja, R.E. 1985. Etika Lingkungan dalam Pengembangan Permukiman. Kantor Menteri KLH. Jakarta.
Soerjani, M. dan A. Rofiq. 2008. Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. UI Press. Jakarta
Soma, S. 2010. Pengantar Ilmu Teknik Lingkungan. Seri: Pengelolaan Sampah Perkotaan. IPB Press. Bogor.
Sudrajat, A. 2003. Persepsi Birokrasi Tentang Otonomi Bidang Kehutanan [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor
Suhli, M. 2001. Menyulap Sampah Jadi Rupiah, Rineka Cipta. Jakarta.
Sukendar, E. dan T. Abriansyah. 1999. Jangan Cuma Mengeluh. Gatra, Desember 1999. Jakarta.
Suparlan, P. 2004. Masyarakat & Kebudayaan Perkotaan: Perspektif Antropologi Perkotaan. Penerbit YPKIK. Jakarta.
Sugiyanto. 1996. Persepsi Masyarakat tentang Penyuluhan dalam Kelompok Pengelola dan Pelestari Hutan. Kasus di Kawasan Hutan Lindung Register 19 Gunung Betung Lampung [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif.Alfabeta. Bandung Talashilkar, S.C., P.P. Bhangarath, and V.B. Metha. 1999. Changes in chemical
properties during composting of organic residues as influenced by earthworm activity. Journal of the Indian Society of Soil Science 47(1):50-53. Tasrial. 1998. Sampah dan Pengelolaannya. PPPGT / VEDC. Malang
Tchobanoglous, G, H. Theisen dan S. A. Vigil. 1993. Integrated Solid Waste Management. McGraw-Hill. New York.
Tuomela, M., M. Vikman, A. Hatakka, and M. Itavaara. 2000. Biodegradation of lignin in a compost environment: a review. Bioresource Technology
72:169-183
Universitas Lampung. 2005. Permasalahan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Suatu Seri Monograf. PPLH, Lembaga Penelitian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008. Tentang Pengelolaan Sampah. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 32 Tahun 2009. Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta.
Utami, B.D. 2008. Reformulasi Pengelolaan Sampah Rumahtangga pada Sumbernya Berbasis Komunitas [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Wardhani, C. 2004. Partisipasi Masyarakat pada Kegiatan Pemilahan Sampah Rumahtangga: Studi Kasus di Kampung Banjarsari, Kecamatan Cilandak Barat, Jakarta Selatan [Tesis]. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Jakarta.
Wibowo, A. dan D.T. Djajawinata. 2003. Penanganan Sampah Perkotaan Terpadu, Jurnal KKPPI: 1-4, 10-11.
Wilson, D.C., A. Whiteman, and A. Tormin. 2001. Strategic Planning Guide for Municipal Solid Waste Management. International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. Washington DC.
Identitas Responden No
Jenis
Kelamin Pekerjaan Kelurahan Pendidikan
Pendapatan (Rp/Bln)/000 Jarak ke TPS Jarak ke TPA
1 Laki-laki Karyawan Bakung SLTA f 5.001 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 2 Laki-laki PNS Bakung SLTA 1001 - 2.000 201-500 m 0 - 2.000 m 3 Perempuan Pedagang Bakung SLTP < 500.000 201-500 m 0 - 2.000 m 4 Laki-laki Guru Bakung PT 1001 - 2.000 201-500 m 0 - 2.000 m 5 Laki-laki Pedagang Bakung SLTA < 500.000 201-500 m 0 - 2.000 m 6 Laki-laki Penjaga Masjid Bakung SLTP < 500.000 201-500 m 0 - 2.000 m 7 Perempuan IRT Bakung SLTA < 500.000 201-500 m 0 - 2.000 m 8 Laki-laki Juru Parkir Bakung SD 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 9 Laki-laki PNS Bakung SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 0 - 2.000 m 10 Laki-laki PNS Bakung SLTA 2001 - 4.000 0-200 m 0 - 2.000 m 11 Laki-laki Buruh Bakung SLTP 1001 - 2.000 0-200 m 0 - 2.000 m 12 Laki-laki Tukang Ojek Bakung SLTP 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 13 Perempuan IRT Bakung SD 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 14 Perempuan IRT Bakung SD < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 15 Laki-laki Wiraswasta Bakung SLTP < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 16 Perempuan IRT Bakung SD < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 17 Perempuan Buruh Bakung SLTP < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 18 Laki-laki Buruh Bakung SLTP 1001 - 2.000 0-200 m 0 - 2.000 m 19 Laki-laki Buruh Bakung SD < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 20 Laki-laki Buruh Bakung SLTP < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 21 Perempuan IRT Bakung SD < 500.000 0-200 m 0 - 2.000 m 22 Perempuan Wiraswasta Bakung SLTP 501 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 23 Laki-laki Buruh Bakung SD < 500.000 201-500 m 0 - 2.000 m 24 Laki-laki Wiraswasta Bakung SLTP 501 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 25 Laki-laki Wiraswasta Bakung SD 501 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 26 Laki-laki Buruh Bakung SD 501 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 27 Laki-laki Wiraswasta Bakung SLTA 501 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 28 Laki-laki Wiraswasta Bakung SLTP 501 - 1.000 201-500 m 0 - 2.000 m 29 Laki-laki Pedagang Bakung SLTP 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 30 Perempuan IRT Bakung SLTP 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 31 Laki-laki Wiraswasta Bakung SLTA 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 32 Laki-laki Mahasiswa Bakung SLTA 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 33 Perempuan IRT Bakung SLTA 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 34 Perempuan IRT Bakung SLTA 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 35 Laki-laki Pedagang Bakung SLTP 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 36 Perempuan IRT Bakung SLTP 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 37 Laki-laki Pemulung Bakung SD 501 - 1.000 501-750 m 0 - 2.000 m 38 Laki-laki Pemulung Bakung SD 1001 - 2.000 0-200 m 0 - 2.000 m 39 Laki-laki Pemulung Bakung SD 501 - 1.000 501-750 m 0 - 2.000 m 40 Laki-laki Pemulung Bakung SD 501 - 1.000 501-750 m 0 - 2.000 m 41 Laki-laki Pemulung Bakung SLTP 501 - 1.000 501-750 m 0 - 2.000 m 42 Perempuan Pemulung Bakung SD < 500.000 501-750 m 0 - 2.000 m 43 Perempuan Pemulung Bakung SD 501 - 1.000 0-200 m 0 - 2.000 m 44 Laki-laki PNS Keteguhan SLTA 2001 - 4.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 45 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 46 Perempuan Wiraswasta Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 47 Perempuan Karyawan Keteguhan SLTP 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 48 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan PT 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 49 Laki-laki Nelayan Keteguhan SLTP < 500.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 50 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 51 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 52 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 53 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 54 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 55 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 56 Perempuan IRT Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 57 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 58 Perempuan Wiraswasta Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 59 Perempuan PNS Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 60 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 61 Perempuan IRT Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 62 Perempuan IRT Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m
Identitas Responden No
Jenis
Kelamin Pekerjaan Kelurahan Pendidikan
Pendapatan (Rp/Bln) Jarak ke TPS Jarak ke TPA
63 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 64 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 65 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 66 Perempuan IRT Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 67 Perempuan Wiraswasta Keteguhan SD 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 68 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 69 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 70 Laki-laki Karyawan Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 71 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 72 Perempuan Karyawan Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 73 Laki-laki Buruh Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 74 Perempuan Nelayan Keteguhan SLTP < 500.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 75 Perempuan IRT Keteguhan SLTA < 500.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 76 Perempuan IRT Keteguhan SLTP 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 77 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 78 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 79 Laki-laki Buruh Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 80 Perempuan IRT Keteguhan SLTP 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 81 Laki-laki PNS Keteguhan PT 1001 - 2.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 82 Laki-laki Nelayan Keteguhan SD 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m 83 Laki-laki Wiraswasta Keteguhan SLTA 501 - 1.000 0-200 m 2.001 - 5.000 m