Pranarka dan Moeljarto (1996) menyatakan permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dewasa ini, khususnya dalam pengelolaan di bidang pelestarian lingkungan hidup mempunyai beberapa ciri khas, yaitu tingginya potensi konflik, tingginya potensi ketidaktentuan (uncertainty), kurun waktu yang sering cukup panjang antara kegiatan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan, serta pemahaman masalah yang tidak mudah bagi masyarakat luas. Karena ciri-ciri ini, usaha pelestarian akan selalu merupakan suatu usaha yang dinamis, baik dari segi tantangannya yang dihadapi maupun jalan keluarnya.
Untuk itu, direkomendasikan agar menerapkan prinsip-prinsip good environmental governance secara konsisten dengan menegakkan prinsip-prinsip
rule of law, tranparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat. Dalam hubungan ini, perlu diusahakan agar masyarakat umum sadar dan mempunyai kesadaran pada kelestarian lingkungan hidup, mempunyai informasi yang cukup tentang masalah yang dihadapi, dan mempunyai keberdayaan dalam berperanserta pada proses pengambilan keputusan demi kepentingan orang banyak.
Sejalan dengan otonomi daerah, pelimpahan wewenang kepada pemerintah daerah di bidang pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan mengandung maksud untuk meningkatkan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan lingkungan hidup. Peranserta dalam intensitas tinggi oleh masyarakat umum inilah yang dapat menjamin dinamisasi dalam pengelolaan lingkungan, sehingga mampu menjawab tantangan tersebut di atas. Mekanisme peranserta masyarakat perlu termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui mekanisme demokrasi.
Pemberdayaan (empowerment) merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat, utamanya Eropa. Konsep pemberdayaan mulai tampak ke permukaan sekitar dekade 1970-an, dan terus berkembang sepanjang dekade 1980-an hingga akhir
abad ke 20. Pemberdayaan masyarakat sebagai strategi pembangunan digunakan dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia.
Sebagai suatu strategi pembangunan, Payne (1997) menyatakan pemberdayaan didefinisikan sebagai kegiatan membantu klien untuk memperoleh dayaguna mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan, terkait dengan diri mereka termasuk mengurangi hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki dengan mentransfer daya dari lingkungannya.
Sementara itu Ife (1995) menyatakan bahwa pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan mempengaruhi kehidupan komunitas mereka.
Pada mulanya, paradigma modernisasi telah mendominasi dalam perencanaan maupun praktek pembangunan. Dalam paradigma modernisasi, menurut Sanderson (1993), paling tidak terdapat tiga asumsi pokok sebagai berikut: (1) keterbelakangan cenderung dilihat sebagai suatu keadaan asli (original state), sebagai suatu keadaan masyarakat yang telah ada dalam aneka bentuknya. Keterbelakangan itu terjadi akibat belum masuknya kapitalisme, sehingga untuk keluar dari ketertinggalan, kapitalisme jawabannya, (2) keterbelakangan akibat dari banyaknya kekurangan yang ada di dalam suatu masyarakat seperti kekurangan kapital sehingga untuk mengatasinya diperlukan formasi kapital baru melalui fungsi modal dan teknologi; dan (3) masyarakat terkebelakang biasanya tidak mempunyai semacam kesadaran atau mentalitas yang menawarkan perkembangan. Kemajuan baru terjadi jika orang telah mengadopsi pemikiran rasional, nilai-nilai yang berorientasi masa depan dan sistem etika. Sementara itu, umumnya nilai-nilai lokal masyarakat dianggap tidak kondusif bagi pencapaian kemajuan.
Satria (2002), menyatakan bahwa menurut paradigma modernisasi, masalah keterbelakangan suatu masyarakat bersumber pada masyarakat itu sendiri sehingga solusinya adalah bantuan dari pihak luar. Pihak luar inilah yang
melakukan rekayasa sosial suatu proyek pembangunan dengan sejumlah keyakinan bahwa model yang akan dikerjakan bersifat universal sehingga bebas dari dimensi ruang dan waktu. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pencangkokan model koperasi perikanan ke semua wilayah secara homogen serta tidak diakuinya kearifan tradisional untuk pengelolaan sumberdaya.
Sajogyo dan Sheperd (1998), lebih akrab dengan istilah modernization without development memahami modernisasi (modernisme) sebagai suatu ideologi pembangunan sudah saatnya ditinggalkan, karena secara empiris modernisme
gagal dalam mengapresiasi nilai-nilai dan sistem sosial lokal sehingga program-program pembangunan cenderung teknokratis, sentralistik, dan tidak membumi. Sebagai kritik terhadap ideologi pembangunan, modernisme telah berkembang menjadi paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat (people centered development), yang lebih memberikan tempat bagi rakyat untuk turut serta dalam merencanakan, melaksanakan, serta mengawasi proses pembangunan. Dalam payung paradigma inilah wacana pemberdayaan (empowerment discourse) mulai tumbuh.
Pemberdayaan merupakan upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat (Wahyono 2004), yang selanjutnya dasar dari pemberdayaan adalah helping the poor to help themselves (BOBP 1990). Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan suatu paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat people-centered, participatory, empowering, and sustainable (Chambers 1995). Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses terjadinya pemiskinan lebih lanjut (safety net), yang pemikirannya belakangan ini banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap konsep-konsep pertumbuhan di masa yang lalu.
Berdasarkan konsep demikian, maka pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan berikut: pertama, upaya itu harus terarah (targetted). Ini yang secara populer disebut keberpihakan. Upaya itu ditujukan langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang untuk mengatasi masalah dan sesuai kebutuhannya; kedua, program ini harus langsung mengikutsertakan atau
dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran. Mengikutsertakan masyarakat yang akan dibantu mempunyai beberapa tujuan, yakni agar supaya bantuan tersebut efektif karena sesuai dengan kehendak, kemampuan, dan kebutuhan warga masyarakat.
Selain itu sekaligus meningkatkan keberdayaan (empowering) warga masyarakat dengan pengalaman dalam merancang, melaksanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan peningkatan ekonomi; ketiga, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Ruang lingkup bantuan akan menjadi terlalu luas kalau penanganannya dilakukan secara individual. Karena itu, pendekatan kelompok adalah yang paling efektif, dan dilihat dari penggunaan sumberdaya juga lebih efisien. Disamping itu, kemitraan usaha antarkelompok tersebut dengan kelompok yang lebih maju harus terus-menerus dibina dan dipelihara secara saling menguntungkan dan memajukan.