• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOTA BANDAR LAMPUNG

5 Lembaga/unit pengelola RTH

3.3.5. Partisipasi masyarakat

Partisipasi merupakan suatu keterlibatan masyarakat untuk berperan secara aktif dalam suatu kegiatan pembangunan untuk menciptakan, melaksanakan serta memelihara lingkungan yang bersih dan sehat, khususnya dalam melakukan pengelolaan sampah. Partisipasi masyarakat tidak dapat dipaksakan. Partisipasi dari masyarakat memerlukan waktu, sehingga pada tahap pertama partisipasi masyarakat dianggap sebagai komponen lingkungan.

Berhasilnya program-program di bidang pelestarian lingkungan banyak tergantung kepada partisipasi masyarakat itu sendiri. Partisipasi masyarakat dapat dimulai sedini mungkin. Masyarakat mempunyai motivasi kuat untuk senantiasa memberikan saham terhadap keberhasilan program. Secara umum sekurang-kurangnya terdapat 5 (lima) bentuk partisipasi masyarakat yaitu sebagai (1) pengawas, (2) pengelola, (3) pengolah, (4) pemanfaatan, dan (5) pembiayaan. Sistem mekanisme partisipasi masyarakat dapat dilakukan seperti pada Gambar 5.

Gambar 5 Sistem mekanisme partisipasi masyarakat (KMLH dan JICA 2003)

Lothar Gundling diacu Soerjani dan Rofiq (2008) menyatakan bahwa dasar adanya partisipasi tersebut adalah: (1) memberi informasi kepada pemerintah, (2) meningkatkan kesediaan masyarakat untuk menerima keputusan, (3) membantu perlindungan hukum, (4) mendemokratisasikan pengambilan keputusan. Partisipasi masyarakat dalam sampah sangat diperlukan karena dapat mengurangi beban pengelola, karena itu diperlukan suatu program untuk meningkatkan partisipasi masyarakat secara terpadu, teratur dan terus menerus serta bekerjasama dengan organisasi-organisasi yang ada sehingga partisipasi masyarakat dapat diubah dari komponen lingkungan menjadi sub sistem. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilaksanakan beberapa tindakan berikut.

Pengawas MASYARAKAT Pembiayaan Bea jasa pengolahan sampah Pengelola - Reduksi sampah - Pemakaian kembali - Daur ulang Pemisahan -Sampah organik -Sampah anorganik -B3 Pengolah SDM pada pengoperasian dan pemeliharaan : - Armada pengangkutan - Anaerobik/biogasplant - Insinerator - TPA Pemanfaatan Komposting Kegiatan ekonomi - Kerajinan - Daur ulang - Bahan baku produksi Kerjasama dengan dunia usaha Sistem Pengawasan

a. Memberikan penerangan tentang pentingnya kebersihan dan pengelolaan persampahan yang dilakukan.

b. Melaksanakan pengawasan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan. c. Memberikan contoh cara hidup yang bersih kepada masyarakat.

Bentuk partisipasi masyarakat yang diharapkan adalah biaya pelaksanaan penanganan sampah. Hal tersebut dilaksanakan dengan menarik retribusi dari masyarakat sebesar Rp 5.000 – Rp 10.000/bulan atau kerjasama dalam teknis penanganan sampah. Kerjasama dinyatakan dengan ikut sertanya masyarakat dalam melaksanakan sebagian dari kegiatan operasi penanganan sampah, misal dalam kegiatan pengumpulan, dan atau ikut sertanya masyarakat bertanggungjawab dalam penanganan sampah dengan mengikuti peraturan kebersihan yang ditetapkan, dan melaksanakan reduksi sampah (seperti daurulang, pengomposan). Hasil wawancara dengan responden, kerjasama ini dapat dilaksanakan dalam bentuk: (a) bertanggungjawab terhadap kebersihan rumah dan lingkungan, (b) aktif dalam program-program kebersihan, (c) turut memperhatikan kebersihan rumah dan lingkungan, (d) turut terlibat aktif dalam program-program kebersihan, (e) secara informal turut menerangkan arti kebersihan pada anggota masyarakat lainnya, dan (f) mengikuti prosedur kebersihan yang ditetapkan pemerintah.

A. Peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah

Peranserta masyarakat adalah segala tindakan masyarakat, langsung atau tidak langsung yang membantu ataupun mengurangi tugas pengelola kebersihan dalam pengelolaan persampahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mengamanatkan bahwa pengelolaan sampah dilakukan melalui kegiatan pemilahan, pemanfaatan dan pengolahan sampah pada sumbernya. Peranserta masyarakat pada tataran teknis operasional dapat berupa kegiatan pengolahan sampah dalam skala rumahtangga. Selain itu, partisipasi masyarakat dapat berupa penyediaan sarana kebersihan seperti mesin kompos, bak sampah, truk sampah (masyarakat industri), dan operasi pembersihan lingkungan melalui gotongroyong antarorganisasi (TNI, Polri, organisasi kepemudaan, Karang Taruna, Mahasiswa Pencinta Alam) dan pembetukan kader lingkungan di setiap kelurahan untuk melakukan pemantauan kebersihan lingkungan.

Menurut BPPLH (2009) peranserta masyarakat dalam pengelolaan kebersihan dan persampahan di kota Bandar Lampung dapat dibagi dalam dua

bentuk yaitu peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dan sosialisasi secara berkala tentang penanganan sampah dengan metode 4R, yaitu sebagai berikut.

1. Recycle (daur ulang), memanfaatkan sampah atau limbah melalui pengolahan fisik atau kimia, untuk menghasilkan produk lain.

2. Reuse (penggunaan kembali), memanfaatkan sampah atau limbah dengan cara menggunakannya kembali untuk keperluan yang sama tanpa mengalami perubahan bentuk.

3. Reduce (mengurangi), meminimumkan barang atau material yang digunakan karena semakin banyak menggunakan material maka akan semakin banyak sampah yang dihasilkan.

4. Replace (mengganti), mengganti barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Upayakan untuk memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, mengganti kantong plastik dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan menggunakan styrofoam karena dua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.

BPPLH (2009) mengemukakan bahwa perlu disadari bahwa program pengelolaan kebersihan lingkungan, khususnya sampah tidak akan berhasil dengan baik bila hanya mengandalkan peran pemerintah. Peranserta masyarakat merupakan kunci keberhasilan untuk mewujudkan kota yang bersih, sehingga perlu digalang partisipasi publik untuk mewujudkan kota yang bersih, hijau dan teduh sekaligus meraih Adipura. Peningkatan peranserta masyarakat terhadap lingkungan, dapat diwujudkan melalui program P2WKSS, PKK, dan pelatihan kader lingkungan. Kegiatan lain yang melibatkan unsur masyarakat adalah pengelolaan sampah 4R, dengan memanfaatkan sampah yang dapat didaur ulang dan pengomposan sampah. Adanya pemisahan sampah tersebut dapat mengurangi jumlah timbunan sampah, selain mengoptimalkan sumberdaya masyarakat untuk menambah penghasilan dengan melakukan pengomposan sampah.

Hasil survei Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung tahun 2009 terhadap cara pembuangan sampah yang dilakukan oleh rumahtangga di Kota Bandar lampung menunjukkan bahwa cara pembuangan sampah yang paling

banyak dilakukan adalah diangkut sebanyak 49,30%,ditimbun sebanyak 40,83%, dibakar sebanyak 6,55%, dan dibuang ke sungai sebanyak 3,32%. Hasil survei tersebut menunjukkan masih perlunya peningkatan kesadaran masyarakat dalam hal memelihara lingkungan mengingat masih adanya rumahtangga yang membuang sampah tanpa memperhatikan lingkungan.

Suparlan (2004) mengemukakan rendahnya tingkat partisipasi sebagian besar masyarakat dalam pengelolaan sampah di perkotaan dapat terjadi sebagai hasil dari: (a) kondisi kemiskinan yang melilit warga; (b) sikap masa bodoh; dan (c) kombinasi dari keduanya. Kondisi kemiskinan dan sikap masa bodoh tersebut telah membentuk tradisi kehidupan kota yang bercorak individualistik dan egosentrik serta menjadikan masyarakat perkotaan terkotak-kotak. Sedangkan menurut Neolaka (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran terhadap lingkungan diantaranya adalah: (a) faktor ketidaktahuan, (b) faktor kemiskinan, (c) faktor kemanusiaan, dan (d) faktor gaya hidup.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Saribanon (2007) dimana masyarakat lebih mudah diajak berperanserta mengatasi permasalahan sampah dilingkungannya, meskipun untuk golongan tertentu perlu disertai dengan penyampaian aspek ekonomi atau keuntungan sebagai bagian dari tawaran implementasi program. Hal tersebut sejalan dengan pengalaman salahsatu perusahaan multinasional dalam memperkenalkan program pengelolaan sampah mandiri di DKI Jakarta, yang menilai bahwa dengan menyentuh rasa tanggungjawab dan keprihatinan warga terhadap kondisi lingkungan saat ini, ternyata respon mereka cukup baik. Meskipun demikian, dalam mewujudkan partisipasi masyarakat, tidak cukup berhenti pada tahap menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggungjawab saja, tetapi perlu ditindaklanjuti dengan pembinaan dalam implementasinya.

B. Peranserta melalui pembayaran retribusi sampah oleh masyarakat

Peranserta masyarakat melalui pembayaran retribusi pengelolaan sampah tampaknya masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari realisasi pemungutan retribusi yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2001 sampai 2004 retribusi sampah mencapai 100 persen. Setelah tahun 2005 sampai 2008 terus

mengalami penurunan. Penurunan realisasi dari target retribusi disebabkan beberapa hal, antara lain: (1) kurang efektifnya bentuk pemungutan oleh petugas, (2) sebagian dari pedagang pasar memilih menggunakan tenaga perseorangan untuk mengangkut sampah akibat sering terlambatnya petugas mengangkut sampah, dan (3) banyaknya pedagang kakilima yang engan membayar retribusi sampah. Target dan realisasi retribusi pelayanan persampahan dan pelayanan pasar dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Target dan realisasi retribusi persampahan kota Bandar Lampung

Tahun Jenis Penerimaan Target (Rp) Realisasi (Rp) Persentase (%) 2001 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 550.000.000 840.500.000 550.610.750 843.552.500 100,10 100,40 2002 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 598.000.000 921.111.000 599.428.500 922.213.500 100,20 100,10 2003 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 610.000.000 1.005.000.000 610.592.500 1.005.568.000 100,10 100,10 2004 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 610. 000.000 1.005.000.000 611.300.500 1.006.771.000 100,20 100,20 2005 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 799.644.300 1.313.022.750 642.655.000 1.033.828.500 8,.40 78,70 2006 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 642.064.500 1.040.026.500 509.708.500 1.000.964.750 94,96 96,24 2007 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 642.064.500 1.040.089.400 509.708.500 1.000.964.750 94,96 96,38 2008 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 642.064.500 1.040.089.500 500.173.000 821.208.000 77,90 78,95 2009 Pelayanan persampahan Pelayanan pasar 516.840.000 863.938.000

Sumber : Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandar Lampung 2010

3.4. Implementasi Pengelolaan Sampah di kota Bandar Lampung

Sampai saat ini, pengelolaan sampah pasar dan permukiman di kota Bandar Lampung yang menerapkan sistem 3R baru dilakukan oleh sebagian kecil warga masyarakat. Untuk skala pasar, penerapan 3R telah dilakukan di pasar Panjang, pasar Tamin, dan pasar Cimeng yang pada masing-masing pasar itu terdapat unit pengolah sampah. Pengolahan sampah di TPS berasal dari sampah yang belum diolah di rumah, atau sampah pasar, sampah dari kantor, dan sampah dari tempat lainnya. Di ketiga pasar tersebut di atas, masing-masing memiliki TPS. Oleh karena itu petugas melakukan pemilahan sampah untuk kebutuhan daur ulang dan

pengomposan sampah yang diperlukan dalam membuat pupuk/kompos yang memiliki nilai ekonomis. Sedangkan sampah yang tidak bisa diolah, diangkut ke Bakung sebagai tempat pembuangan akhir.

Untuk pengolahan sampah di permukiman, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan ada sebagian kecil dari kepala rumahtangga sudah melakukan pemilahan sampah antara sampah basah dan sampah kering, seperti di kelurahan Kemiling, Kedaton, dan Rajabasa. Hasil pemilahan sampah basah dijadikan pupuk atau kompos untuk kebutuhan sendiri dan sebagian di pasarkan melalui kelompok PKK, sedangkan sampah kering dijadikan kerajinan tangan seperti vas bunga, gantungan kunci, asbak dan lain-lain.

Proses pengomposan sampah secara aerobik adalah cara yang paling banyak digunakan karena murah dan mudah dilakukan. Peralatan dasar yang diperlukan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari (1) peralatan untuk penanganan bahan dan ( 2) peralatan keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi pekerja. Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, misalnya kotoran hewan, sampah hijau, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian.

Tahap pengomposan secara aerobik yang telah dilakukan oleh masyarakat adalah sebagai berikut: (1) pemilahan sampah, dilakukan untuk memisahkan sampah organik dari sampah anorganik dan sampah B3, (2) penyusunan tumpukan, sampah bahan organik yang telah dipilah disusun menjadi tumpukan. Bahan baku yang kering ditempatkan di atas tanah dengan lapisan pertama, lapisan berikutnya adalah lapisan sampah rumahtangga dan sampah pasar, dan yang terakhir adalah lapisan dari limbah atau kotoran. Pada tiap tumpukan diberi terowongan bambu yang berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan, (3) pembalikan dan pergeseran, dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan, dan memasukkan udara segar kedalam tumpukan bahan. Pembalikan dilakukan dengan membongkar tumpukan, kemudian memindahkannya ke tempat baru di sebelahnya. Tempat tumpukan yang lama ditinggalkan dan dipakai sebagai tempat bagi tumpukan baru yang lain, (4) penyiraman dengan air, dilakukan pada saat pembalikan atau dilakukan pada saat tumpukan terlalu kering, (5) pematangan,

setelah pengomposan berjalan sekitar 40-50 hari, pada saat itu tumpukan sampah telah lapuk, berwarna kecoklatan tua atau kehitaman. Pada saat ini dianggap bahwa kompos telah matang benar dan aman untuk digunakan pada tanaman, (6) penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai dengan kebutuhan, (7) pengemasan dan penyimpanan. Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantong sesuai dengan kebutuhan pemasaran (5-40 kg.

Pada saat penelitian, kondisi TPA Bakung yang hampir penuh dan dekat dengan permukiman padat penduduk, mendorong pemerintah kota Bandar Lampung untuk melaksanakan kerjasama dengan pihak ketiga dalam mengolah sampah di TPA Bakung. Kerjasama dilaksanakan dalam bentuk pemusnahan gas metana yang dihasilkan di TPA Bakung dengan program CDM (Clean Development Mechanism). Pada tahun 2009, sebuah perusahan swasta PT. Bionersis Indonesia menawarkan kerjasama untuk pengurangan gas metana.

Sistem pemusnahan ini, sampah organik dibusukkan dalam landfill sehingga dihasilkan gas metana, dan kemudian melalui pipa, dialirkan dan diolah menjadi energi listrik. Berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan oleh PT Bionersis Indonesia, pemusnahan gas metana yang dihasilkan di TPA Bakung dengan program CDM (Clean Development Mechanism) layak dilakukan di TPA Bakung. Namun pada sampah yang tidak dapat diolah dan diproses secara khusus, dibuang dengan cara sanitary landfill yaitu pelapisan sampah dengan tanah. Sesuai kondisi di lapangan, sampah dengan ketebalan 1,5m-2,0m dipadatkan dengan alat berat (buldozer), kemudian dilapisi tanah setebal 10 cm - 15 cm. Pelaksanaan sanitary landfill harus benar dan ketat karena yang terjadi di lapangan

sebagian ada yang dilakukan dengan cara open dumping yaitu pengelolaan sampah dengan menumpuk sampah pada suatu area terbuka.

Sistem pengolahan sampah ini diharapkan dapat mengurangi gas emisi dan air lindi yang dihasilkan sampah. Selain itu, tanah di lokasi TPA Bakung dapat digunakan kembali dan akan didapatkan sumber energi baru. Pada saat penelitian ini, bentuk kerjasama pemerintah kota Bandar Lampung dengan PT. Bionersis Indonesia tersebut masih dalam tahap pembahasan.

Pengomposan sampah dan daur ulang merupakan sistem alternatif. Banyak komunitas masyarakat, seperti di Rawasari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta yang telah mampu mengurangi 50 persen penggunaan landfill atau insinerator bahkan beberapa sudah mulai mengubah pandangan dari tempat pembuangan sampah menjadi tempat pengolahan sampah, dan akhirnya menjadi tempat pengelolaan sampah terpadu sehingga dapat menerapkan zero waste atau sampah tanpa sisa.

Menurut Handono (2010) alternatif lain pengelolaan sampah yang telah banyak dilakukan oleh masyarakat adalah daur ulang. Metode yang telah dicoba dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri baik komunal maupun domestik, antara lain: (1) keranjang takakura. Metode ini cukup berhasil untuk diterapkan pada masyarakat, namun karena kapasitasnya kecil maka lebih cocok digunakan untuk skala domestik (rumahtangga). Desain yang bagus dan tidak makan tempat, seperti halnya keranjang plastik biasa membuat alat tersebut fleksibel untuk ditempatkan di dapur; (2) tong komposter semi aerob. Tong komposter semi aerob ini mempunyai ukuran lebih besar, dan mempunyai lubang-lubang pengeluaran udara (exhause) untuk mendukung sistem semi aerob (an-aerob fakultatif) pada proses fermentasi dan dekomposisi. Kapasitas tampung lebih besar karena dibuat dari bahan dasar tong plastik berkapasitas 50 liter. Tong untuk skala rumahtangga, tetapi dengan jumlah banyak maka bisa diterapkan untuk skala komunal. Desain tong tersebut memiliki lubang di bagian dasarnya yang sangat sesuai untuk diterapkan dengan kombinasi penggunaan bakteri pengurai pada campuran bahan sampah organik sebelum dimasukkan ke dalam tong komposter ini. Lubang di bagian dasar dan di bagian exhause (pengeluaran udara) diharapkan bisa menjaga kondisi kelembaban yang optimum bagi proses pengomposan; (3) tong komposter aerob. Tong komposter aerob terbuat dari plastik dengan kapasitas 50 liter yang dilengkapi dengan cerobong asap sepanjang ± 2 meter, yang berfungsi menyalurkan gas buang/bau yang diproduksi selama proses pengomposan berlangsung. Sebagian besar masyarakat membuat barang-barang kreasi dari sampah anorganik yang sudah tidak dipakai lagi, misalnya, membuat tirai dari gelas plastik bekas minuman, membuat tas dari sisa plastik, dan lainnya.

Hambatan terbesar dari penerapan daur ulang adalah banyak produk alat rumahtangga tidak dirancang untuk dapat didaur ulang jika sudah tidak terpakai lagi. Hal ini karena para pengusaha tidak mendapat insentif ekonomi yang menarik untuk melakukannya. Perluasan tanggungjawab produsen (extended producer responsibility - EPR) adalah suatu pendekatan kebijakan yang meminta produsen menggunakan kembali produk-produk dan kemasannya.

3.5. Hubungan Kebijakan dan Program Pengelolaan Kebersihan Lingkungan