3.4 Teknik Analisis Data
4.1.1 Kebutuhan Fisiologis
Menurut Maslow, kebutuhan paling dasar yang paling kuat di antara kebutuhan manusia lainnya adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup secara fisik yaitu makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal dan seksualitas.
a. Kebutuhan makanan dan minuman
Kebutuhan dasar fisiologis ditandai dengan kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani atau fisik, misalnya makanan, minuman. Pemenuhan kebutuhan ini berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup individu. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
“Lama sekali Mbok tidak sadar. Bhuana yang menunggui Mbok. Dia sampai tak tidur-tidur, tidak praktik. Katanya Mbok sakit maag kronis. Makanya kalau makan yang teratur. Istirahat yang cukup. Jangan kerja terus saja,” cerocos Kencana. (hlm. 61)
Pemenuhan kebutuhan akan makanan sangat mendesak untuk dilakukan sebab kebutuhan menentukan kelangsungan hidup seseorang. kebutuhan akan makanan tidak bisa ditunda-tunda, seseorang harus berusaha untuk memenuhinya. Terlihat dari kutipan di atas menunjukkan bagaimana penderitaan lapar yang dialami oleh Kenanga. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan akan makanan sangat diperlukan karena makanan merupakan sumber tenaga bagi setiap makhluk hidup,
kekurangan makanan dapat menimbulkan masalah kesehatan yang terganggu seperti yang dialami oleh tokoh Kenanga yang jatuh pingsan karena sakit maag kronis yang kambuh.
Kebutuhan akan makanan dan minuman juga terlihat menjadi dasar kebutuhan yang harus terpenuhi sehingga muncul kebutuhan lain, dapat dilihat dari kutipan berikut.
Kenanga merasa agak aneh Bhuana mengajaknya ke tempat seperti itu. Lelaki itu memesan steik. Tangannya sibuk bermain pisau dan garpu, menyantap daging setengah matang dengan hati-hati sekali. Dia seolah tidak peduli di depannya ada seorang perempuan yang sedang menuntut perhatiannya. (hlm. 42)
Kutipan (di atas menunjukkan bahwa seseorang yang merasa lapar akan lebih dahulu memenuhi kebutuhan makanannya dari pada kebutuhan yang lainnya, dalam hal ini Bhuana yang lebih mendahulukan makan daripada kebutuhan cinta, meskipun Bhuana sangat mencintai Kenanga tetapi saat perutnya lapar, Bhuana lebih memilih makan terlebih dahulu kemudian baru merespon kehadiran Kenanga tanpa memikirkan perasaan cintanya dan kesusahan jika ingin bertemu Kenanga. Hal tersebut membuktikan bahwa kebutuhan akan makanan dan minuman adalah faktor yang menjadi penyebab seseorang berreaksi dan berperilaku terhadap orang lain.
b. Kebutuhan pakaian
Kebutuhan fisiologis lainnya yaitu kebutuhan akan pakaian. Pakaian merupakan kebutuhan dasar manusia selain makanan dan minuman. Pakaian adalah alat penutup tubuh yang selalu memberikan kepantasan, kenyamanan serta
keamanan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan akan pakaian ditunjukkan pada kutipan berikut.
Betapa lama kau bertahan, Jero. Tanpa anak, tanpa sentuhan kejantanan laki-laki. Kau telah bawa cintamu pergi menghandap-Nya, bersama gulungan kain putih yang membungkusmu. Orang-orang memberimu kasa putih, karena kau adalah istri. Tapi, kelak kalau aku mati, mereka akan membungkus mayatku dengan kain kuning, karena aku tidak kawin. Dan kain kuning adalah untuk perawan. Mereka tak tahu aku pernah melahirkan. Bahwa aku memiliki anak. Intan. (hlm.119)
Kutipan diatas menunjukkan peran penting pakaian bagi perempuan Bali, hal itu terlihat ketika salah satu tokoh perempuan bernama Kemuning atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Jero meninggal dunia. Dalam adat masyarakat Bali pakaian mayat menunjukkan status perkawinan seorang perempuan. Seperti yang dijelaskan pada kutipan di atas, kain putih digunakan untuk mayat perempuan yang sudah menikah. Sedangkan kain kuning untuk perempuan yang belum menikah yang meninggal.
Pakaian juga dapat menunjukan identitas atau status sosial seseorang dalam bermasyarakat. Hal tersebut terlihat dari kutipan berikut.
Rasanya waktu itu Intan masih kelas satu SMA. Gadis itu menghadiri
petoyan di Pura Dalem. Tubuhnya yang indah terbungkus kebaya
transparan kuning yang dipadu dengan sehelai kain songket...sanggulnya rapi berhiaskan susuk permata. Sekuntum bunga kembang sepatu bertengger anggun di sisi kiri kepalanya. Dimata Mahendra, gadis itu telah sempurna menenggelamkan kecantikan seluruh dayu dan para bajang, para gadis yang ada disana. (hlm 128)
Dari kutipan (di atas terlihat bahwa pakaian dapat menunjukkan identitas serta status sosial seseorang, terlihat dari tokoh Intan yang mengenakan kebaya dan bunga sepatu sebagai hiasan kepala yang identik dengan kebudayaan Bali, sehingga setiap orang dapat mengenali bahwa sang pemakai kebaya dengan
hiasan kepala bunga sepatu adalah perempuan Bali. Selain itu, dari susuk sanggul yang dipakai juga dapat terlihat status sosial perempuan Bali, biasanya semakin bagus susuk yang dikenakan berarti semakin tinggi status sosial sang pemakai. Hal tersebut terbukti ketika tokoh Intan berpakaian dan berdandan seperti perempuan bangsawan membuat pesonanya terlihat sebanding dengan perempuan bangsawan lainnya.
Selain digunakan untuk menunjukkan identitas dan status sosial, kebutuhan akan pakaian juga dibutuhkan berdasarkan acara yang akan dihadiri. Terlihat dalam kutipan berikut.
Intan menarik napas panjang. Perempuan terbaik dalam hidupnya itu memang biasa berubah jadi sosok si pengatur yang menyebalkan. Mana
bisa pergi ke pesta anak muda pakai gaun gaya humas hotel begini? Alangkah malunya! Gadis itu tahu, Kenanga ingin agar ia tampil beda, dan
kalau mungkin, menjelmakannya jadi perempuan sempurna yang melebihi para perempuan lain dalam segalanya. (hlm.229)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pakaian harus disesuaikan berdasarkan konsep acara dan lokasi acara. Pakaian yang tidak sesuai dengan acara yang dihadiri dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak percaya diri seperti yang dialami Intan ketika akan pergi ke pesta namun tidak memiliki gaun yang cocok untuk dipakai. Pemenuhan atas kebutuhan pakaian ini menjadi salah satu penyebab terciptanya individualisme dalam novel dan terdorong untuk pemenuhan hierarki kebutuhan selanjutnya.
c. Kebutuhan tempat tinggal
Kebutuhan tempat tinggal merupakan kebutuhan seseorang memperoleh tempat untuk merasa tenang dalam berpikir demi mempertahankan kehidupannya secara fisik. Kebutuhan akan tempat tinggal terlihat dalam kutipan berikut.
Di Balik wajahnya yang selalu gemerlap oleh sepuhan kosmetik mahal, Mahendra dapat merasakan kesulitannya. Dayu Ratna jadi lebih pendiam, hanya bicara seperlunya saja. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar griya. Pindah ke rumah yang diam-diam dibangunnya sendiri di perumnas. Sebuah rumah besar yang asri, jauuh dari mulut nyinyir para perempuan
griya. (hlm. 209)
Kebutuhan tempat tinggal sangat mendesak dibutuhkan oleh setiap orang agar dapat berpikir dengan baik untuk kelanjutan hidupnya. Kondisi seperti apa pun tempat tinggal tidak akan membuat seseorang merasa terusik apabila diterima dengan ikhlas dan apa adanya. Begitu pun dengan Dayu Ratna yang memutuskan keluar dari griya dan pindah ke rumah barunya. Dari kutipan tersebut terlihat bahwa kebutuhan tempat tinggal Dayu Ratna terpenuhi yaitu rumah yang ia bangun sendiri dari hasil kerja kerasnya, rumah tersebut membuatnya tenang dan tidak mengeluh untuk menjalani hari-harinya dan dapat lebih fokus memenuhi kebutuhannya yang lain demi mencapai kehidupan yang lebih baik.
d. Kebutuhan seksual
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh sesuatu yang akan diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan. Seks diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda atau sama dan mencangkup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Kebutuhan fisiologis lain yaitu
kebutuhan akan seks. Sebagai perempuan normal, kebutuhan akan pemenuhan hawa nafsu dalam novel Kenanga ditunjukkan oleh Galuh, Kenanga dan Kencana. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
Dayu Galuh mengusap peluh yang menetes di dahinya yang putih. Tubuhnya yang mulai sering lapar memang makin menggelisahkannya. Dan baginya kelaparan itu hanya bisa dipuaskan oleh laki-laki yang pantas. Oleh Mahendra! Hanya dia, dia dan dia semata! (hlm.221)
Kutipan tersebut menampilkan kebutuhan fisiologis yang berkaitan langsung dengan aspek biologis setiap orang. Berdasarkan kutipan tersebut menggambarkan keinginan Galuh bersanding dengan Mahendra yang dianggapnya seseorang yang pantas untuk memenuhi kebutuhan fisiologis seksualnya, laki-laki yang sederajat dengannya. namun keinginannya terhambat karena cinta Galuh bertepuk sebelah tangan.
Kenanga, Kenanga, alangkah munafiknya kamu! Alangkah liciknya dirimu! Kau pakai anakmu sebagai dalih untuk memuaskan kerinduanmu sendiri. Rasa lapar wujud perempuanmu sendiri. Kenapa tidak kau katakan saja bahwa kaulah yang membutuhkan laki-laki itu? (hlm.109)
Kebutuhan fisiologis yang berkaitan langsung dengan aspek biologis setiap orang juga ditunjukkan oleh tokoh Kenanga yang sembunyi-sembunyi terus bertemu Bhuana untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Selain itu, agar dapat bertemu dengan Bhuana, Kenanga juga menggunakan ananknya (Intan) sebagai alasan agar Bhuana berkunjung ke rumahnya.
Andai kau tahu betapa sakitnya memiliki seonggok dagingyang sempurna, tapi terpuruk dan tercampakkan. Betapa aku serasa gila menjajal daging tubuhku sendiri, agar aku tetap yakin bahwa ia tak merana tak sia-sia. (hlm.101)
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh sesuatu yang akan diwujudkan melalui suatu usaha atau
tindakan. Seks diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda atau sama dan mencangkup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Kebutuhan akan seksual dialami juga oleh tokoh Kencana yang merasa kekurangan pemenuhan seks karena sering diabaikan oleh Bhuana, sehingga Kencana mengekspresikan kebutuhan seks dengan cara masturbasi agar dapat memenuhi kebutuhan biologisnya.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa kebutuhan fisiologis makanan, pakaian, tempat tinggal dan seksual mejadi faktor penyebab individualisme perempuan brahmana. Hal tersebut didasari oleh kebutuhan fisiologis perempuan brahmana merupakan kebutuhan yang kompleks sehingga para perempuan brahmana berusaha memenuhi dan mencari kebutuhan tersebut dari seseorang yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan fisiologisnya.