3.4 Teknik Analisis Data
4.1.2 Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan rasa aman merupakan segala bentuk usaha untuk memperoleh perlindungan fisik dan perlindungan psikologis sehingga seseorang memperoleh ketenteraman, kepastian, dan keteraturan dari lingkungannya. Kebutuhan rasa aman pada dasarnya merupakan upaya pertahanan hidup dalam jangka panjang. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan jaminan, stabilitas, proteksi, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan, dan struktur hukum (Minderop,2013:283).
Pemenuhan kebutuhan rasa aman tersebut dalam Novel Kenanga berupa mempertahankan status sosial, mendapatkan ketenteraman hidup dan mendapatkan kestabilan keuangan
a. Mempertahankan status sosial
Pemenuhan kebutuhan rasa aman untuk mempertahankan status sosial dalam Novel Kenanga ditunjukkan oleh tokoh Kenanga dan para perempuan brahmana lainnya yang dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Jangan, Kenanga. Tolong. Biar tiang yang merawatnya, mencarikannya pengasuh, membiayainya. Dia berhak untuk hidup. Lagi pula aborsi risikonya lebih tinggi daripada melahirkan. Siapa yang akan bertanggungjawab kalau ada apa-apa? Pikirkan lagi baik-baik Kenanga.
Please. Biarkan anak kita hidup.” (hlm.49)
Kenanga yang sedang hamil di luar nikah dengan Bhuana, memutuskan akan menggugurkan kandungannya karena Kenanga merasa tidak sanggup jika harus melahirkan janin yang ada di rahimnya. Di satu sisi Kenanga takut aibnya diketahui orang sekitarnya, di sisi lain Kenanga berpikir bahwa banyak risiko yang harus dialami ketika memutuskan untuk membiarkan janinnya hidup, risiko terburuk adalah kehilangan nyawanya sendiri. Bagi Kenanga melahirkan bayi bukan pekerjaan sembilan bulan sepuluh hari tetapi pekerjaan seumur hidup banyak beban hidup yang harus ditanggung Kenanga untuk membesarkan anak sendiri. Sebab itu menggugurkan kandungan dirasa cara yang tepat untuk membebaskan segala masalah yang menjerat Kenanga, aborsi adalah jalan agar Kenanga tetap aman berstatus sosialnya sebagai Ida Ayu, perempuan terhormat kasta brahmana seperti sedia kala tanpa ada yang mengetahui kehamilannya.
Seorang perempuan Ida Ayu wajib mendapat pasangan Ida Bagus.
Aturan dari manakah itu? Siapa yang mengumandangkannya? Sementara aturan itu tidak berlaku seBaliknya. Para lelaki griya bebas memilih dengan siapa pun dia menikah. Bahkan banyak perempuan Ida Ayu rela dijadikan istri ke-2 atau ke-3, semata-mata agar tidak jatuh derajat. Derajat apa pula itu? Harga diri macam apakah yang sesungguhnya sedang diusung? Hidup macam apakah itu? (hlm. 187)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa banyak perempuan kasta brahmana mau dijadikan sebagai istri kedua atau ketiga seorang laki-laki yang penting berasal dari kasta brahmana. Para perempuan kasta brahmana rela membagi hati kepada perempuan lain demi mempertahankan gelar kebangsawanan. Menjadi istri kedua atau ketiga merupakan suatu bentuk kebutuhan rasa aman untuk mempertahankan posisi dan melindungi status sosial para perempuan brahmana agar tidak turun kasta.
Apa sesungguhnya arti menjadi perempuan bangsawan itu? Bagaimana kalau laki-laki yang seharusnya menjadi haknya tak memilihnya untuk dijadikan permaisuri? Kenapa tak ada satupun perempuan di griya ini yang memberontak? Kawin dengan sembarang lelaki, kalau perlu dengan lelaki sembarangan! Kenapa mereka semua jadi begitu penurut? (hlm.221) Menikah dengan laki-laki bukan dari kasta yang sama dalam agama hindu adalah sebuah pantangan, maka dari itu para perempuan brahmana yang tinggal dilingkungan griya seperti Galuh, menjadi perempuan yang penurut yang tetap mempertahankan tradisi menikah dengan laki-laki yang berasal dari derajat kebangsawanan yang sepadan. Hal tersebut terjadi karena para perempuan brahmana ingin mempertahankan status sosialnya sebagai seorang bangsawan yang dihormati.
b. Mendapatkan ketenteraman hidup
Pemenuhan kebutuhan Ketentraman Hidup dalam Novel Kenanga ditunjukkan oleh tokoh Kenanga dan Dayu Ratna yang dapat dilihat pada kutipan berikut.
Keputusan Kenanga untuk pindah ke Yogyakarta sungguh tidak masuk akal. Kota tua itu adalah sesosok saksi bisu bagi aib yang dialaminya. Bukannya lari menjauh, Kenanga justru nekad memasuki liang luka dan
trauma yang telah mengubah jalan hidupnya untuk selamanya. Bisa dibayangkan tekanan batin yang harus ditanggungnya tatkala jejak-jejak pengalaman kelam itu seakan kekal mengepung setiap jengkal ruang. (hlm. 47)
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa Kenanga mencari pelarian saat sedang hamil. Pelarian tersebut berupa keputusan untuk pindah tempat tinggal sementara waktu. Kenanga yang awalnya tinggal di Bali memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta secara tiba-tiba, padahal Kenanga memiliki Kenangan buruk yang terjadi di Yogyakarta. Kenanga tetap memutuskan pindah ke Yogyakarta karena dirasa cukup aman untuk menyembunyikan kehamilannya dari keluarga dan masyarakat tempat tinggalnya. Kepindahan Kenanga ke Yogya dilakukan agar keluarganya tidak mengetahui bahwa janin yang dikandung Kenanga merupakan hasil dari hubungannya dengan Bhuana, calon adik iparnya. Selain itu Kenanga yang tinggal di griya (kompleks perumahan untuk kasta brahmana) yang sangat menjunjung tinggi adat budaya akan menjadi bahan cibiran jika orang griya mengetahui seorang perempuan terhormat berasal dari kasta brahmana seperti Kenanga hamil di luar nikah dan dengan calon ipar sendiri. Sehingga Kenanga membutuhkan ketentraman jiwa, terbebas dari pergunjingan orang-orang disekitarnya saat sedang hamil.
Secara pribadi, Mahendra menghargai keputusan Dayu Ratna. Memang lebih baik hengkang, ketimbang bertahan makan hati. Lagi pulam bukankah amat manusiawi kalau orang membutuhkan ketenangan? Membutuhkkan rasa rindu untuk pulang ke hangat rumah sendiri, perasaan yang mustahil diperoleh dari griya.(hlm. 209)
Lingkungan adalah salah satu faktor pembentuk kepribadian baik secara fisik maupun perilaku. Lingkungan yang kurang baik akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi seseorang. Dalam hal ini untuk Dayu Ratna yang
merupakan seorang perempuan lajang yang sukses dalam pekerjaannya namun belum menikah. Belum menikah diusianya yang matang menjadikan Dayu Ratna sebagai sasaran pergunjingan orang griya. Dayu Ratna merasa stress dan menutup diri dengan lingkungannya, karena takut apa yang dilakukannya selalu dianggap salah termasuk dalam pilihan hidupnya sendiri yang belum memutuskan menikah diusia lima puluh tahun. Pada akhirnya Dayu Ratna memutuskan keluar dari griya untuk pindah ke sebuah yang telah dibangunnya sendiri melalui kerja kerasnya. Tindakan yang dilakukan Dayu Ratna merupakan sebuah kebutuhan agar dapat hidup lebih damai dan mendapatkan ketenangan dari lingkungannya.
Aku (Galuh) tahu, banyak perempuan modern memilih hidup melajang, dan meraih sukses. Tapi bahagiakah mereka? Bagaimana dengan tanggung jawab mereka kepada hidup itu sendiri? Sanggupkah mereka untuk tak membohongi diri sendiri, jika pada suatu pesta melihat perempuan lain bergayut pada lelakinya? Sementara dia melangkah sendirian, ditengah hutan belantara tatapan mata? Berjuta-juta mata yang melotot menelanjangi kehadirannya? Sanggupkah dia untuk bertahan bahagia? Aku sendiri tidak. Takkan sanggup. (hlm. 222)
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan rasa aman bagi perempuan dapat diperoleh jika memiliki pendamping. Galuh sebagai seorang perempuan yang beranggapan bahwa mendapatkan pendamping adalah sebuah keharusan agar tidak mendapatkan pandangan negatif dari orang sekitarnya. Sesukses apapun perempuan jika tidak melajang pasti akan sakit hati dengan perempuan yang berpasangan, terlebih lagi dengan cara pikir masyarakat tentang perempuan pada umumnya yang harus hidup sesuai ketentuan kodratnya yaitu menikah dan memiliki keturunan, perempuan lajang dipandang kurang lazim dalam masyarakat. Ketidak berpihakan pandangan mengenai perempuan melajang
tersebut menjadikan perempuan harus memiliki pasangan sehingga dapat memenuhi kebutuhan ketenangan, dan keteraturan dengan lingkungannya.
c. Mempertahankan kestabilan keuangan
Pemenuhan kebutuhan rasa aman untuk mempertahankan kestabilan keuangan dalam Novel Kenanga ditunjukkan oleh keluarga Galuh dan Gelung yang berusaha memikat Mahendra karena Mahendra merupakan laki-laki brahmana yang sukses dan mapan, hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
Masa depannya amat cerah. Masih muda sudah menangani proyek-proyek besar pembangunan tata kota Denpasar. Dia bahkan menangani kontrak kerja sama bernilai raksasa dengan pemerintah Jerman. (hlm. 187)
kutipan (di atas menggambarkan bahwa Mahendra merupakan sosok laki-laki yang mandiri dan mapan dengan prospek pekerjaan yang menjanjikan dalam segi keuangan. Hal tersebut membuatnya menjadi idaman para perempuan brahmana disekitarnya termasuk Gelung dan Galuh berlomba untuk memperoleh hati Mahendra. Perlombaan merebut hati Mahendra itu juga didukung oleh ibu Galuh dan Ibu Gelung yang ikut turut andil dalam menyodorkan anak mereka ke Mahendra seperti pada kutipan berikut.
“Gus, Dayu Galuh memang baaru semester lima. Tapi, kalau Gus mau mengambilnya, tiang setuju saja. Bukankah kuliah bisa dilanjutkan kapan-kapan? Nanti-nanti sajalah. Tidak tamat juga tidak apa-apa. Asal Galuh bisa jadi istri yang baik untuk Gus." (hlm. 188)
Dari kutipan di atas terlihat Ibu Dayu Galuh tidak segan berbicara secara langsung kepada Mahendra menawarkan anak perempuannya layaknya benda kepada calon pembeli. Tanpa sungkan Galuh disodorkan kepada Mahendra untuk diperistri, Ibu Galuh menganggap jadi istri Mahendra lebih penting daripada
kuliah. Tidak lain dari ibu Galuh, keluarga Gelung juga memiliki cara sendiri untuk menjadikan Mahendra suami anaknya yang dapat dilihat pada kutipan berikut.
Mahendra ingat, karena disuruh dan demi menghormati ibunya, ia pernah bertandang ke Griya Pedampel di kawasan Sanur. Diantar neneknya, Mahendra merasa seperti bocah ingusan yang tengah diperkenalkan ke dunia percintaan orang dewasa. Orang-orang tua itu sengaja mempertemukannya dengan Gelung, lalu sengaja meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. (hlm. 129)
Keluarga Gelung melakukan pendekatan kepada Mahendra dengan cara perjodohan. Dengan cara orang tua Gelung meminta kepada orang tua Mahendra agar mengatur pertemuan dengan Mahendra. Sehingga Gelung dapat mendekati dan mendapatkan hati Mahendra melalui pertemuan tersebut.
Berdasarkan kutipan (di atas terlihat bahwa keluarga Gelung dan Galuh bersaing menarik perhatian Mahendra, dengan saling berlomba membuat nyaman dengan penerimaan secara terbuka terhadap Mahendra. Persaingan yang melibatkan para orang tua ikut andil itu dilakukan agar anak mereka (Galuh dan Gelung) mendapatkan suami yang pantas dan mapan dalam keuangan sehingga mereka tidak akan merasa khawatir anaknya akan hidup susah jika menjadi istri Mahendra.