• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Penghargaan

Dalam dokumen UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (Halaman 82-87)

3.4 Teknik Analisis Data

4.1.4 Kebutuhan Penghargaan

Kebutuhan penghargaan bisa termasuk kebutuhan harga diri maupun penghargaan dari orang lain. Ketika kebutuhan ini sudah dicapai maka tingkat percaya diri seseorang tersebut juga akan meningkat dan memiliki harga diri yang tinggi. Hal ini akan berpengaruh terhadap peran sosial. Dalam novel Kenanga ada beberapa tokoh perempuan kasta brahmana yang menunjukkan adanya kebutuhan penghargaan dari orang lain yang berupa penghormatan, pemberian hadiah, memperoleh pujian serta penghargaan dari diri sendiri berupa kepercayaan diri.

a. Penghormatan dari orang lain

Penghormatan ialah suatu perwujudan dari penghargaan seseorang terhadap orang lain. Kebutuhan penghormatan dalam novel Kenanga terlihat pada kutipan berikut.

“Benar, Kenanga. Zaman sekarang susah cari wang jero. Jegeg beruntung dapat Luh Intan. Kalau ngambilnya masih kecil, gampang mendidiknya. Nanti pasti bisa santun dan hormat pada kita. Wang jero sekarang banyak yang tidak tahu aturan. Semaunya sendiri. Menyebalkan. Masa majikan harus mengalah pada mereka?” (hlm. 3)

Tuniang Kendran adalah sesepuh di griya. Sebagai orang tua dari keluarga bangsawan Tuniang Kendran masih memegang pakem budaya yang membedakan derajat orang berdasarkan kasta. Seseorang harus berperilaku sesuai derajatnya, dalam hal ini Tuniang Kendran menginginkan orang yang berkasta di bawahnya menghormati para bangsawan. Hal itu terlihat dari percakapan Tuniang Kendran dengan Kenanga yang mengagumi sosok Intan. Intan sangat rajin sebagai wang

jero (abdi). Kendran beranggapan bahwa mendapat abdi yang rajin, tahu sopan

satun adalah keberuntungan. Sopan santun yang dimaksud adalah bentuk penghormatan seorang abdi yang berasal dari kasta sudra kepada majikan yaitu para bangsawan yang berkasta brahmana. Keinginan untuk selalu dihormati tersebut merupakan bentuk kebutuhan penghargaan dari orang lain.

Kutipan lain yang menunjukkan kebutuhan penghormatan bagi perempuan kasta brahmana adalah sebagai berikut.

“Dia minta dibuatkan otonan untuk Luh Intan! Apa itu tidak gila, namanya? Dia pikir Intan itu siapa? Anak siapa? Kita ini bangsawan. Bisa jatuh harga diri kita di depan orang-orang...” (hlm. 89)

Penekanan antara brahmana dan sudra juga ditunjukkan oleh tokoh Ratu Ibu yang merasa Kenanga terlalu menyayangi dan memanjakan Intan yang hanya seorang abdi. Kutipan di atas menunjukkan bahwa masih ada tembok yang membedakan kelas sosial seseorang. Seorang brahmana harus berperilaku seperti bangsawan pada umumnya dan seorang sudra juga harus beperilaku seperti abdi.

Ketika Kenanga (brahmana) memanjakan Intan (sudra) dianggap sesuatu perlakuan yang tidak semestinya oleh Ratu Ibu. Ratu Ibu tidak ingin seorang abdi yang berasal dari kasta sudra mendapat perlakuan seperti anak seorang perempuan brahmana karena pemberian kasih sayang yang terlalu berlebih kepada Intan yang tidak semestinya menimbulkan kekhawatiran jika Intan berubah menjadi tidak hormat.

Selain tokoh Tuniang Kendran dan Ratu Ibu kebutuhan penghargaan juga ditunjukkan oleh tokoh Galuh, seperti yang terlihat pada kutipan berikut.

Masih terbakar hati Intan bila ingat betapa Galuh selalu minta diagung-agungkan sebagai seorang putri bangsawan, kalau perlu dengan paksa! Perempuan satu itu tak pernah peduli perasaan orang lain. Tak mau tahu bagaimana rasanya terlahir hanya untuk ditenggelamkan sebagai tumbal untuk gengsi, untuk martabat, untuk secebis harga diri kebangsawanan yang tidak jelas manfaatnya. (hlm. 127)

Kebutuhan untuk dihormati ditunjukkan oleh tokoh Galuh yang meminta orang lain yang berada pada kadar derajat di bawahnya untuk selalu menghormatinya, dalam hal ini Galuh selalu meminta Intan untuk memperlakukan Galuh selayaknya putri bangsawan. Penghormatan yang didapatkan Galuh berasal dari penghormatan yang dimintanya dari Intan. meskipun Intan selalu menghormati Galuh namum penghormatan yang diberikan Intan ada unsur keterpaksaan untuk mengaagung-agungkan kebangsawanan Galuh. Hal tersebut merupakan suatu bentuk kebutuhan penghargaan yang berasal dari orang lain.

b. Memperoleh pujian

Pujian merupakan salah satu bentuk penghargaan non materiil berupa pernyataan positif tentang seseorang. Kebutuhan pujian dalam novel Kenanga terlihat dalam kutipan berikut.

“Tiang ... harus ... metanding banten belabaran... tiap hari. Membantu

Tugeg Galuh... membuat tangkih.” Kalimat Intan terpatah-patah. Hyang Jagat! Pekik Kenanga dalam hati. Ditariknya napas dalam-dalam. Sama

sekali tak disangkanya bahwa dalam dunia bocah juga ada kecurangan. (hlm. 6)

Kebutuhan penghargaan berupa pujian ditunjukkan oleh tokoh Galuh yang menyuruh Intan melakukan pekerjaan metanding banten belabaran (membuatkan sesaji dari nasi warna-warni) untuk sembahyang. Dalam agama hindu banyak sekali upacara keagamaan dan adat setempat. Sesaji dan perlengkapan upacara biasa dibuat oleh para perempuan, bagi perempuan yang bisa menguasai pembuatan sesaji perlengkapan upacara menjadikan suatu kebanggaan tersendiri bagi perempuan. Hal yang Galuh lakukan dengan menyuruh Intan membuat sesaji merupakan sebuah kecurangan agar dipuji oleh Ibunya, Ibunya Galuh selalu menganggap Galuh adalah anak yang pandai membuat perlengkapan upacara, rajin menghaturkan sesaji kepada leluhur dan dewa. Padahal kenyataannya Galuh tidak terlalu pandai membuat sesaji.

c. Memperoleh hadiah

Hadiah merupakan suatu penghargaan berupa materiil yang diberikan kepada seseorang seperti uang ataupun barang. Kebutuhan penghargaan berupa hadiah dalam novel Kenanga terlihat dalam kutipan berikut.

Dia tetap menjunjung laki-laki itu tinggi di atas kepalanya. Dan, kedua orangtuanya pun justru membuat keadaan semakin parah. Mereka berjanji akan menghadiahi sedan Starlet kalau Kencana diperistri oleh Bhuana. (hlm 41)

Dari kutipan di atas terlihat bahwa kebutuhan penghargaan yang berusaha dipenuhi oleh Kencana. Jika kencana menikah dengan Bhuana, orang tuanya akan memberikan hadiah berupa mobil sedan. Mobil sedan adalah kendaraan mewah yang dapat menunjukkan status sosial. Dalam hal ini dengan mengendarai mobil sedan tersebut, Kencana akan mampu menunjukkan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang kaya, dan berstatus sosial tinggi, dan dihormati.

“Dayu Sekar suruh tiang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Tiap malam Ibu dan Aji Dayu Sekar memeriksa. Kalau semua beres, Dayu Sekar dapat hadiah uang. Dan tiang dapat seribu dari Dayu Sekar. Tiang belikan buku-buku seperti punya Dayu Sekar. Kata Ratu Ibu, orang yang ingin sesuatu harus bekerja, supaya punya uang. Kalau tiang tidak bekerja, tidak ada yang memberi uang untuk beli buku seperti Dayu Sekar.” (hlm. 95)

kutipan di atas menunjukkan bahwa Dayu Sekar menyuruh Intan mengerjakan tugasnya agar mendapatkan uang dari orang tuanya. Meskipun Dayu Sekar memperoleh uang dengan cara tidak jujur dan dapat merugikan diri sendiri, namun hal yang dilakukan oleh Dayu Sekar adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan penghargaan dalam bentuk hadiah berupa uang.

d. Kepercayaan diri

Selain penghormatan dari orang lain kebutuhan penghormatan terhadap diri sendiri juga ditunjukkan dari tokoh Kencana, terlihat dari kutipan berikut.

Aku (Kencana) bangga terlahir sebagai bangsawan. Bagian dari golongan manusia yang mulia, dihormati dan dijadikan patokan dan ukuran tata krama golongan manusia lain. (hlm. 116)

Kutipan di atas menunjukkan ciri dari penghormatan dan penghargaan juga derdapat pada diri sendiri dengan bentuk rasa percaya diri yang ada pada Kencana yang lahir dari keluarga bangsawan. Sehingga membuatnya merasa sudah sepatutnya orang-orang menghormati dan mengagung-agungkan dirinya sesuai dengan aturan kasta yang berlaku.

Dalam dokumen UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (Halaman 82-87)

Dokumen terkait