• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

INDIVIDUALISME PEREMPUAN KASTA BRAHMANA

DALAM NOVEL KENANGA KARYA OKA RUSMINI

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Oleh:

Nama : Miftakhul Jannah

NIM : 2111413049

Program Studi : Sastra Indonesia

Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang, 17 Juli 2020

Pembimbing I Pembimbing II

Mulyono, S.Pd., M.Hum. Sumartini, S.S., M.A. NIP 197206162002121001 NIP 197307111998022001

(3)

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada:

Hari : Tanggal :

Panitia Ujian Skripsi

1. Ketua

Ahmad Syaifudin, S.S., M.Pd. NIP.198405022008121005 2. Sekretaris

Dr. Deby Luriawati Naryatmojo, S.Pd., M.Pd NIP 197608072005012001

3. Penguji I

Muhamad Burhanudin, S.S., M.A NIP 197906162012011043 4. Penguji II/Pembimbing II Sumartini, S.S., M.A. NIP 197307111998022001 5. Penguji III/Pembimbing I Mulyono, S.Pd., M.Hum. NIP 197206162002121001 Mengetahui,

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni

Dr. Sri Rejeki Urip, M.Hum. NIP 196202211989012001

(4)

iii

(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:

Jangan pernah lelah berbuat baik, karena tidak ada yang tahu kebaikan mana yang akan menuai hasil.

Persembahan:

1. Untuk kedua orang tua saya yang hebat, Bapak Pariman dan Ibu Sofiyatun yang selalu mendukung dan mendoakan.

2. Untuk Adik saya, Nawariya Arfa yang lucu dan selalu menghibur di rumah.

(6)

v SARI

Jannah, Miftakhul. 2020. Individualisme Perempuan Kasta Brahmana dalam

Novel Kenanga Karya Oka Rusmini. Skripsi. Program Sastra Indonesia. Jurusan

Bahasa dan Sastra Indonesia, fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Mulyono, S.Pd., M.Hum. Pembimbing II: Sumartini, S.S., M.A.

Kata Kunci : Individualisme, Perempuan Kasta Brahmana, Psikologi humanistik, Perilaku Agresif.

Karya sastra sebagai cerminan masyarakat menggambarkan banyak permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab baik itu karena faktor dari diri manusia sendiri maupun lingkungan yang terus berkembang. Permasalahan yang banyak terjadi dan kompleks salah satunya mengenai perempuan dalam belenggu adat budaya. Perempuan dalam belenggu adat budaya dihadapkan dengan modernisasi seperti sekarang ini mengakibatkan munculnya individualisme. Salah satu karya sastra yang mengangkat permasalahan tersebut adalah novel Kenanga. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana faktor penyebab individualisme perempuan kasta brahmana dalam novel (2) bagaimana wujud individualisme perempuan kasta brahmana (3) dampak individualisme perempuan kasta brahmana terhadap tokoh lain dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini.

Sumber data penelitian ini adalah novel Kenanga karya Oka Rusmini yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Widiasarana Indonesia pada tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan psikologi humanistik Abraham Maslow. Data diperoleh dengan menggunakan teknik baca-catat.

Hasil penelitian ini adalah (1) faktor penyebab individualisme perempuan kasta brahmana yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri (2) wujud individualisme perempuan kasta brahmana berupa perilaku agresif fisik berupa mencelakakan orang lain dan melanggar hak orang lain serta perilaku agresif verbal berupa mencaci-maki dan menyebarkan fitnah (3) dampak individualisme perempuan kasta brahmana terhadap tokoh lain: rasa tidak bahagia/ tertindas dan keinginan tokoh lain membalas dendam.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pemicu untuk mengembangkan pendekatan psikologi humanistik Abraham Maslow secara lebih luas. Serta menambah wawasan mengenai konsep individualisme, wujud individualisme yang terdapat dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini. sehingga para pembaca dapat lebih peduli tentang pentingnya kesehatan psikologis dan terhindar dari perilaku individualis. Bagi penulis lain dapat menambah pengetahuan bagaimana cara menganalisis novel menggunakan psikologi sastra humanistik Abraham Maslow.

(7)

vi PRAKATA

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah Swt, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dengan usaha dan doa, penyusunan skripsi yang berjudul “Individualisme Perempuan Kasta Brahmana dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini” ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

Penulis sangat menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak, baik itu bantuan secara moral maupun spiritual yang sangat membantu dalam terselesaikannya skripsi ini. Pada kesempatan ini dengan penuh penghargaan dan rasa hormat, peneliti mengucapkan terima kasih kepada Bapak Mulyono, S.Pd., M.Hum. dan Ibu Sumartini, S.S., M.A. selaku dosen Pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberi saran, bimbingan dan arahan dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab dalam penyusunan skripsi ini. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mencari bekal keilmuan yang lebih mendalam sesuai bidang keilmuan.

2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

(8)

vii

3. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kelancaran administrasi. 4. Koodinator Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni,

Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kelancaran administrasi. 5. Oka Rusmini yang telah menulis karya luar biasa.

6. Keluarga besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang angkatan 2013. 7. Semua pihak yang tidak bisa disebut satu persatu yang telah membantu dalam

penulisan skripsi ini.

Segala keterbatasan membuat penulis tidak dapat membalas kebaikan semua pihak yang membantu kelancaran proses penyusunan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Swt. Semoga membalas dengan memberi yang terbaik dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Penulis berharap semoga skripsi ini mampu memberikan manfaat bagi siapa saja yang mempelajarinya.

Semarang, 17 Juli 2020

Penulis,

(9)

viii DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING... i

PENGESAHAN KELULUSAN ... ii

PERNYATAAN ...Error! Bookmark not defined. MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...iv

SARI ... v

PRAKATA ...vi

DAFTAR ISI ... viii

BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 8 1.3 Tujuan Penelitian ... 9 1.4 Manfaat Penelitian ... 9 BAB II ... 11

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS ... 11

2.1 Kajian Pustaka ... 11

2.2 Landasan Teoretis ... 29

2.2.1 Novel dan Pemikiran Psikologis ... 29

2.2.2 Teori Psikologi Sastra ... 32

2.2.3 Psikologi Humanistik Abraham Maslow ... 35

2.2.4 Individualisme ... 43 2.2.5 Psikologi Kepribadian ... 46 2.2.6 Perilaku Agresif ... 48 BAB III ... 51 METODE PENELITIAN ... 51 3.1 Pendekatan Penelitian ... 51

3.2 Data dan Sumber Data ... 53

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 54

3.4 Teknik Analisis Data ... 54

BAB IV ... 56

(10)

ix

4.1 Faktor-Faktor Penyebab Individulisme Perempuan Kasta Brahmana dalam

Novel Kenanga Karya Oka Rusmini ... 56

4.1.1 Kebutuhan Fisiologis ... 57

4.1.2 Kebutuhan rasa aman ... 63

4.1.3 Kebutuhan Cinta dan rasa memiliki ... 69

4.1.4 Kebutuhan Penghargaan ... 72

4.1.5 Kebutuhan Aktualisasi Diri ... 77

4.2 Wujud Perilaku Individualisme Perempuan Kasta Brahmana dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini ... 79

4.2.1 Mencelakakan orang lain ... 79

4.2.2 Melanggar hak orang lain ... 81

4.2.3 Mencaci-maki... 83

4.2.4 Menyebarkan fitnah ... 85

4.3 Dampak Individualisme Perempuan Kasta Brahmana Terhadap Tokoh Lain dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini. ... 87

4.3.1 Tertindas dan tidak bahagia ... 87

4.3.2 Keinginan Balas Dendam ... 89

BAB V ... 91 PENUTUP ... 91 5.1 Simpulan ... 91 5.2 Saran ... 92 DAFTAR PUSTAKA ... 93 DAFTAR LAMAN ... 95 Lampiran ... 98

(11)

1

Karya sastra dan masyarakat merupakan dua hal yang saling berdampingan dan tidak terpisahkan. Karya sastra telah menjadi bagian dari kehidupan suatu masyarakat. Karya sastra dan masyarakat erat kaitannya karena pada dasarnya keberadaan karya sastra sering bermula dari persoalan kehidupan manusia dan lingkungannya. Lalu dengan adanya imajinasi dari pengarang terciptalah menjadi karya sastra. Karya sastra tergolong ke dalam seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Bahasa yang baik menunjukkan kecerdasan dan pengalaman pengarang dalam menyampaikan pemikirannya melalui karya sastra. Barthes (dalam Endraswara, 2013:69) mengungkapkan bahwa karya sastra adalah sebuah retorika yang memuat semua praktik dan kebiasaan yang mengatur sirkulasi tulisan dalam suatu masyarakat. Status pengarang adalah sebuah lembaga yang mempengaruhi ideologinya.

Melalui penggunaan bahasa semua gagasan, ide, perasaan pengarang dapat tertuang di dalam sebuah karya sastra pada saat proses penulisan. Bahasa yang diuntai menjadi rangkaian kalimat yang puitis dengan permainan diksi digunakan oleh pengarang membentuk kesan keindahan dalam suatu karya sastra. Bahkan, terkadang hanya dengan melalui sebuah kalimat pengarang mampu menciptakan makna yang mendalam pada karya sastra yang membuat pembaca merasakan keestetisan permainan bahasa.

(12)

Selain menggunakan bahasa sebagai medianya, karya sastra juga menggunakan manusia dan kehidupan sebagai objek. Dalam lingkup ini dapat dikatakan bahwa karya sastra merupakan representasi dari kehidupan nyata dalam masyarakat. Karya sastra adalah fenomena sosial, Sebagai fenomena sosial, karya sastra tidak terletak pada segi penciptaannya saja, tetapi juga pada hakikat karya itu sendiri. Mungkin dapat dikatakan bahwa reaksi sosial peorang pengarang terhadap fenomena sosial yang dihadapinya mendorong untuk menulis karya sastra (Semi, 1990:53).

Peristiwa dalam kehidupan nyata sering kali terdapat pula dalam sebuah karya sastra. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa karya sastra juga secara tidak langsung menggambarkan situasi dan kondisi suatu masyarakat tertentu ketika karya sastra itu dibuat, hanya saja karya sastra dibuat dengan bumbu imajinasi dari pengarang, sehingga karya sastra tergolong ke dalam karya fiktif. Namun, bukan berarti karena sifat karya sastra yang fiktif menjadi penghambat gerak karya sastra hanya terbatas pada fungsinya sebagai hiburan atau bahan bacaan semata. Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Sastra juga merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya fiksi (Wellek dan Warren, 1989:3-10).

Melalui karya sastra pembaca dapat menangkap pembelajaran yang berharga lewat sebuah pesan yang tersurat maupun tersirat yang berusaha diungkapkan oleh pengarang lewat karya sastra. Pembelajaran tersebut disampaikan dengan cara mengungkap fenomena dan gejala yang ada pada masyarakat. dalam karya sastra terdapat pengalaman, perasaan, dan pemikiran

(13)

pengarang yang secara tidak langsung dapat merepresentasikan keadaan lingkungan sosial budaya suatu masyarakat.

Swingewood (dalam Yasa, 2012:22) mengatakan bahwa sastra merupakan refleksi masyarakat. Sebagai refleksi masyarakat tentu saja banyak permasalahan yang ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tergambar dalam karya sastra. Wujud dari permasalahan yang kompleks dalam masyarakat merupakan salah satu sumber terciptanya karya sastra. Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Nurgiyantoro (dalam Rafiek 2013:10).

Beberapa permasalahan yang terjadi di masyarakat yang ada dalam karya sastra sebenarnya tidak jauh dari hal dasar manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial yang saling hidup berdampingan dalam masyarakat seringkali timbul permasalahan yang merupakan bagian dari dinamika proses kehidupan manusia. Permasalahan itu sendiri dapat terjadi karena beberapa sebab, baik itu faktor dari dalam manusianya atau dari lingkungan yang terus berkembang seiring dengan mengalirnya waktu/ modernisasi.

Sebagai contoh lain dari modernisasi, jika pada masyarakat zaman dulu misalnya, ada turis perempuan mengenakan bikini di pantai masih dianggap tidak lazim dan akan menjadi buah perbincangan dalam masyarakat karena dianggap tidak sama seperti cara berpakaian masyarakat Indonesia kebanyakan. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pola pikir masyarakat semakin terbuka terhadap hal yang baru. Gaya berbusana masyarakat yang cenderung ‘itu-itu saja’

(14)

sekarang lebih bervariatif dengan banyaknya model, warna dan bahan yang dipadu-padankan sesuai perkembangan tata busana masa kini. Sehingga, melihat turis mengenakan bikini bukanlah sesuatu yang mengagumkan lagi bahkan bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sudah umum pada masa kini.

Arus informasi, barang, uang maupun manusia bergerak sangat cepat sehingga seakan-akan tidak ada lagi batas di dunia ini. modernisasi yang terjadi memang menimbulkan berbagai efek positif bagi perkembangan dunia, namun tidak dapat dipungkiri efek negatifnya pun tidak kalah banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dapat tertarik menjadi masyarakat yang liberal. Sehingga hal ini dapat menimbulkan masalah baru mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menjunjung tinggi adat budaya. Salah satu daerah yang terkenal akan adat budaya yang masih kental yaitu Bali.

Bali merupakan satu pulau nan eksotis, kaya akan kearifan lokal serta adat istiadat. Mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk agama Hindu. Seperti yang diketahui bahwa agama Hindu merupakan salah satu agama yang diakui di negara Indonesia dalam penjelasan pasal 1 Undang-Undang No.1/PNPS/1965 disebutkan bahwa terdapat enam agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu (Confusius). Badan Pusat Statistik dalam sensus penduduk Indonesia 2010 mencatat ada 4.012.116 pemeluk Hindu di Indonesia, dan tercatat ada 3,247,283, sekitar 83,46% dari jumlah tersebut didominasi oleh masyarakat Bali.

(15)

Dalam agama Hindu terdapat sistem lapisan sosial yang disebut dengan kasta. Kasta Hindu di Bali terbagi atas kasta brahmana, kasta ksatria, kasta waisya dan kasta sudra. Keempat kasta tersebut saling berperan dan perpengaruh terhadap tatanan serta aturan adat dimasyarakat Bali. Tatanan dan aturan adat sangat melekat pada masyarakat Bali.

Kasta Brahmana merupakan kasta yang tertinggi dalam masyarakat Bali, pada kasta brahmana adalah orang-orang yang mengerti tentang kitab suci, ketuhanan dan ilmu pengetahuan. Para brahmana memiliki kewajiban mengajarkan ajaran ketuhanan dan ilmu pengetahuan ke masyarakat. Contoh dari kaum brahmana adalah para pemuka atau para tokoh agama. Dari golongan kasta brahmana biasanya seseorang yang berasal dari keturunan kasta brahmana ini akan memiliki nama depan “Ida Bagus” untuk laki-laki dan “Ida Ayu” untuk perempuan, dan untuk sebutan tempat tinggal disebut Griya.

Kasta Ksatria merupakan golongan yang memiliki sikap pemberani, jujur, tangkas dan memiliki kemampuan managerial dalam dunia pemerintahan. Mereka yang masuk ke dalam golongan ksatria antara lain: raja atau pemimpin negara, aparatur negara, prajurit atau angkatan bersenjata. Kasta Waisya merupakan golongan orang yang memiliki keahlian berbisnis, bertani dan berbagai profesi lainnya yang bergerak dalam bidang ekonomi. Dalam golongan waisya ini termasuk pedagang, petani, nelayan, pengusaha, dan sejenisnya

Kasta Sudra merupakan kasta yang paling bawah dari keempat kasta di atas, kasta ini yang mayoritas di dalam masyarakat Bali. Contoh profesi sudra

(16)

adalah pembantu rumah tangga, buruh angkat barang, tukang becak dan sejenisnya. Dari golongan kasta sudra adalah mereka yang berasal dari keturunan sudra, kasta sudra akan memiliki nama depan Gede, Putu, Wayan, Made, Kadek, Nyoman, Komang, Ketut (Mashita, 2019:07).

Hidup pada pola masyarakat yang telah terbentuk turun temurun sedemikian rupa dengan berbagai aturan adat tentu tidaklah mudah, banyak permasalahan yang timbul karena aturan adat yang harus ditaati, dijunjung, dan dihormati masyarakatnya dari anak-anak hingga dewasa. Urusan adat itu juga menjadi permasalahan yang rumit khususnya bagi para perempuan Bali. Karena dalam sistem kasta ada aturan yang membatasi perilaku perempuan, mengingat sistem garis keturunan patrilineal dan purisentris yang masih berlaku di Bali. Serta, Seperti yang diketahui Bali merupakan daerah yang menjadi daerah tujuan pariwisata dunia pasti mengalami tekanan global dengan sangat kuat dan intensif. Modernisasi merupakan bentuk perkembangan dunia yang tidak dapat dihindari dan menimbulkan berbagai pengaruh yang sangat besar pada kehidupan perempuan Bali.

Para perempuan Bali ini dihadapkan dengan peliknya kasta, adat serta relita modernisasi. hal inilah yang memicu adanya permasalahan baru bagi perempuan Bali. Di satu sisi, mereka di hadapkan oleh dunia yang semakin maju. Di sisi lain, mereka hidup dalam belenggu adat dan budaya yang harus dijalani. Sehingga menimbulkan pergolakan bagi perempuan Bali antara melawan tabu dan memenuhi kepentingan pribadi.

(17)

Salah satu pengarang yang karyanya menggambarkan kompleksnya permasalahan perempuan terhadap realitas sosial dan budaya yang ada di Bali yaitu Oka Rusmini. Oka Rusmini merupakan pengarang yang lahir di Jakarta dan tinggal di Denpasar, Bali. Karya-karya yang diciptakannya berlatarkan pulau Bali dan hampir disemua karyanya Oka Rusmini selalu menyorot kehidupan perempuan Bali. Perempuan, pulau Bali, budaya merupakan ciri khas dari Oka Rusmini yang diperkenalkan pada khalayak publik. Oka Rusmini tidak segan membicarakan adat dan budaya yang membelenggu perempuan dalam karyanya, serta tubuh dan seks yang dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat digambarkan dalam karyanya. Salah satu karyanya yang membahas perempuan dan adat budaya adalah novel Kenanga.

Dalam novel ini terdapat tokoh bernama Kenanga yang digambarkan sebagai tokoh perempuan Bali yang berasal dari kasta brahmana. Menjadi perempuan dengan tingkatan status sosial tinggi terlihat menyenangkan karena dihormati, disegani, berlimpah kekayaan dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan, namun di balik kasta yang dimilikinya tersimpan rahasia dan masalah yang berat yang harus dihadapinya. Kenanga merupakan sosok perempuan yang cerdas, gigih, dan berani. Kenanga mempertaruhkan segalanya demi kehidupannya sebagai perempuan brahmana agar terlihat sempurna, sehingga dirinya menyampingkan urusan pribadi dan perasaannya. Kenanga merupakan salah satu tokoh yang menampilkan individualisme sosok perempuan brahmana Bali. Serta ada beberapa tokoh perempuan brahmana lainnya yang digambarkan oleh Oka Rusmini sebagai sosok yang memiliki permasalahan dalam kehidupan sehingga

(18)

secara langsung maupun tidak langsung menunjukkan sisi individualisme perempuan brahmana yang tergambar dalam novel Kenanga.

Pemilihan novel Kenanga karya Oka Rusmini sebagai objek kajian dalam penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yakni, (1) novel Kenanga menyingkap Bali bukan dari wajah cantiknya, melainkan dari sisi gelap kultur dan manusia-manusianya (2) novel Kenanga menyuguhkan karakter perempuan Bali yang liar, munafik, dan bahkan sadis (3) novel Kenanga memaparkan dunia perempuan Bali berserta sejuta masalahnya. Selain itu novel Kenanga karya Oka Rusmini ini dapat diteliti menggunakan pendekatan psikologi sastra humanistik. Hal tersebut menjadi alasan penulis memilih novel Kenanga sebagai sumber data dalam penelitian ini untuk dikaji lebih mendalam.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan hasil penelitian yang terarah. Berdasarkan identifikasi masalah diatas, rumusan masalah dalam Individualisme Perempuan Kasta Brahmana dalam Novel Kenanga karya Oka Rusmini adalah sebagai berikut:

1. Faktor-faktor apa saja penyebab individulisme perempuan kasta brahmana dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini?

2. Bagaimana wujud perilaku individualisme perempuan kasta brahmana dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini?

3. Bagaimana dampak individualisme perempuan kasta brahmana terhadap tokoh lain dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini?

(19)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab individulisme perempuan kasta brahmana dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini

2. Mendeskripsikan wujud perilaku individualisme perempuan kasta brahmana dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini

3. Mendeskripsikan dampak individualisme perempuan kasta brahmana terhadap tokoh lain dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian mengenai Individualisme perempuan kasta brahmana dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoritis maupun praktis.

1. Manfaat teoritis

a. Secara teoritis, penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang pendekatan psikologi sastra dengan berbagai teori yang ada di dalamnya. Dalam penelitian ini lebih tepatnya agar memahami teori psikologi sastra humanistik Abraham Maslow sehingga dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

b. Penelitian ini juga dapat menjadi titik tolak dalam memahami karya sastra pada umumnya dan pada khususnya novel Kenanga karya Oka Rusmini.

(20)

a. Bagi penulis penelitian ini dapat menambah wawasan mengenai kajian psikologi sastra humanistik khususnya novel Kenanga karya Oka Rusmini.

b. Bagi pembaca dapat menambah wawasan tentang kajian psikologi sastra humanistik dan mampu memahami konsep individualisme, wujud individualisme yang terdapat dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini, sehingga para pembaca dapat lebih peduli tentang pentingnya kesehatan psikologis dan terhindar dari perilaku individualis.

c. Bagi penulis lain dapat menambah pengetahuan bagaimana cara menganalisis novel menggunakan psikologi sastra humanistik Abraham Maslow.

(21)

11 2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka digunakan untuk mengembangkan secara sistemik penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang penulis lakukan. Selain itu adanya kajian pustaka juga untuk menghindari kesamaan terhadap penelitian terdahulu karena suatu penelitian dibutuhkan keaslian. Dalam suatu penelitian, keaslian penting untuk dipertimbangkan. Oleh karena itu, sebuah penelitian memerlukan kajian pustaka. Keaslian penelitian ini dapat dibuktikan melalui paparan kajian pustaka berikut. Berdasarkan penelitian pustaka yang telah penulis lakukan, penulis menemukan beberapa kajian terhadap dengan objek novel

Kenanga diantaranya sebagai berikut: (1) artikel dengan judul “Seksualitas Perempuan Bali Dalam Hegemoni Kasta: Kajian Kritik Sastra Feminis Pada Dua Novel Karangan Oka Rusmini” oleh Ida Ayu Made Darmayanti (2014). (2) artikel

dengan judul “Perjuangan Kesetaraan Gender, Nilai Pendidikan Karatkter dalam

Novel Kenanga Karya Oka Rusmini dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra di Perguruan Tinggi” oleh Tripungkaningtyas (2016). (3) Artikel yang

berjudul “Representasi Perempuan Bali dalam Novel-Novel Karya Oka Rusmini” oleh Sugiyanti (2017) (4) Artikel yang berjudul “Realitas Sosial Masyarakat Bali

dalam Novel Kenanga” oleh Suprapti (2017) (5) Artikel yang berjudul “Nilai Sosial dalam Novel Kenanga Oka Rusmini” oleh Ananda (2018) (6) artikel yang

berjudul “Analisis Kearifan Lokal pada Novel Kenanga Karya Oka Rusmini dan

(22)

Artikel yang berjudul “Ketidakadilan Gender dalam Novel Kenanga Karya Oka

Rusmini” oleh Zahra (2019). Selain itu penulis juga menemukan kajian yang

menggunakan teori psikologi humanistik Maslow dengan objek novel yang berbeda diantaranya: (8) Artikel yang berjudul “Analisis Aspek Kejiwaan Tokoh

dan Nilai Pendidikan Karakter Novel Surat Dahlan Karya Krhtisna Pabichara (Kajian Psikologi Sastra)” oleh Yuniarti (2013) (9) artikel dengan judul “Aktualisasi Diri Tokoh Utama Pria dalam Novel Trilogi Makrifat Cinta Karya Taufiqurrahman Al-Azizy” oleh Juminartanti (2017). Penulis juga menemukan

beberapa artikel dalam jurnal internasional yang relevan dengan penelitian ini, antara lain : (10) artikel dengan judul “Ukrainian and U.S. American Females

Differences in Individualism / Collectivism and Gender Attitudes” oleh Shafiro

(2003) (11) Artikel dengan judul “Three Ideologies of Individualism: Toward

Assimilating a Theory of Individualisms and Their Consequences” oleh Greene

(2012). (12) artikel dengan judul “Maslow’s Need Hierarchy Theory: Applications

and Criticisms” oleh Kaur (2013). (13) artikel dengan judul “Why ‘Ritiya’ Could

Not Go To Sell Vegetables? Myth Versus Reality In Term Of Caste, Culture And Livelihood” oleh Chandrakar (2014). (14) artikel dengan judul “A Theory of

Human Motivation by Abraham H. Maslow” oleh Healy (2016) (15) artikel

dengan judul “Impact of Religion-Based Caste System on the Dynamics of Indian

Trade Unions: Evidence From Two State-Owned Organizations in North India”

oleh Pandey (2017)

artikel Darmayanti (2014) dalam Jurnal ilmu sosial dan humaniora Vol.3 No.2 yang berjudul “Seksualitas Perempuan Bali Dalam Hegemoni Kasta: Kajian

(23)

Kritik Sastra Feminis Pada Dua Novel Karangan Oka Rusmini” dalam artikel ini

terdapat dua novel yaitu novel Kenanga dan Tarian Bumi karya Oka Rusmini yang dikaji. Artikel ini membahas: (1) Adanya eksploitasi laki-laki terhadap perempuan Bali yang berupa diskriminasi dan dominasi secara seksual yang melarang perempuan Bali memilih pasangan hidupnya sendiri dan perempuan Bali harus berjodoh dengan laki-laki yang berkasta sederajat. (2) Adanya gerakan perlawanan perempuan Bali dalam memperjuangkan kebebasan seksualitas yang berupa eksploitasi seksual yang terjadi yaitu dengan cara dekonstruksi tradisi menikah dengan pasangan beda kasta dan menjalin hubungan pra-nikah.

Penelitian Darmayanti jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaannya terdapat pada teori yang digunakan untuk menganalisis tokoh. Jika dalam penelitian yang dilakukan Damayanti menggunakan teori kritik sastra feminis penelitian ini menggunakan teori psikologi sastra.

Tripungkaningtyas (2016) dalam Jurnal S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Vol.1 No.1 menulis artikel dengan judul “Perjuangan Kesetaraan Gender, Nilai

Pendidikan Karatkter dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra di Perguruan Tinggi” artikel ini

membahas mengenai (1) struktur novel yang digunakan untuk mengetahui unsur intriksik yang ada dalam novel Kenanga. (2) Ketidakadilan gender pada tokoh perempuan disebabkan oleh beberapa hal seperti kekerasan yang terjadi pada tokoh Kenanga dan Kemuning, subordinasi terjadi pada tokoh Galuh dan Dayu

(24)

Putu, beban kerja terjadi pada Biang Mayun yang harus menafkahi dua anaknya serta mengurus segala keperluan dua anaknya, dan stereotype atau pelabelan negatif terjadi pada tokoh Kenanga dan keluarga Mahendra yang menganggap bahwa perempuan yang memiliki karir tidak cocok untuk dijadikan istri karena nantinya akan menguasai laki-laki. (3) Perjuangan kesetaraan gender terjadi dalam bidang pendidikan, bidang keluarga, bidang pekerjaan, bidang publik, dan sistem kasta/budaya. (4) nilai pendidikan karakter seperti nilai kerja keras, nilai toleransi, dan nilai tanggung jawab. Namun yang memiliki kadar keutamaan adalah nilai pendidikan tanggungjawab. (5) relevansi dengan pembelajaran, terutama pembelajaran sastra di perguruan tinggi. Novel Kenanga bisa digunakan sebagai bahan bacaan ataupun bahan diskusi di dalam pembelajaran sastra di perguruan tinggi.

Penelitian Tripungkaningtyas jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaan terletak pada masalah yang dibahas dan teori yang digunakan. Penelitian yang dilakukan Tripungkaningtyas menggunakan teori kritik sastra feminis sedangkan penelitian ini mengguakan teori psikologi sastra. Perbedaan selanjutnya terdapat pada sumber data penelitian Tripungkaningtyas yang menggunakan Sumber data primer novel Kenanga karya Oka Rusmini dan sumber data sekunder berupa hasil wawancara dengan informan yaitu mahasiswa dan dosen untuk mengetahui relevansi novel Kenanga dengan menggunakan kritik sastra feminis dan nilai pendidikan karakter terkait dengan materi pembelajaran sastra di perguruan tinggi.

(25)

Artikel Sari (2017) dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol.2 No. 2 yang berjudul “Representasi Perempuan Bali dalam Novel-Novel

Karya Oka Rusmini” menganalisis gambaran perempuan Bali melalui watak

tokoh utama perempuan Bali dalam novel-novel karya Oka Rusmini. Sumber data dalam penelitian ini adalah tiga buah novel karya Oka Rusmini, yaitu novel Kenanga, novel Tarian Bumi, dan novel Tempurung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan pendekatan strukturalisme dan sosiologi sastra. Hasil dari penelitian ini adalah tokoh utama perempuan dalam novel-novel karya Oka Rusmini digambarkan sebagai perempuan berwatak (1) berani, (2) sarkastis, (3) apatis, dan (4) sabar. Penelitian Sari jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaannya terdapat pada teori yang digunakan untuk menganalisis. Jika dalam penelitian yang dilakukan Sari menggunakan teori strukturalisme dan sosiologi sastra, penelitian ini menggunakan teori psikologi sastra.

Selanjutnya, artikel Suprapti (2017) dalam Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia Vol. 2 No.4 yang berjudul “Realitas Sosial Masyarakat Bali dalam

Novel Kenanga Karya Oka Rusmini” mendeskripsikan realitas sosial masyarakat

Bali dalam novel. Metode yang penelitian ini adalah metode analisis diskriptif. Data berasal dari kata, frasa, klausa dan kalimat-kalimat dalam novel Kenanga yang mengacu pada masalah-masalah sosial dan realitas sosial masyarakat Bali. Hasil analisis bahwa stratifikasi sosial ini menempatkan kasta brahmana sebagai golongan tertinggi sedangkan kasta sudra harus mengabdi di Griya. Laki-laki dari

(26)

kasta brahmana bebas dalam hal perkawinan yaitu bebas memilih istri dari kasta manapun. Sistem kepercayaan atau religi yaitu wujud kepercayaan masyarakat terhadap Hindu masih mempertahankan adatnya yaitu upacara ngaben yaitu pembakaran mayat, percaya balian (dukun) yang bisa menyembuhkan penyakit, dan potong rambut pada saat manusia baru lahir (bayi) diyakini membawa kebaikan. Sistem kekerabatan yaitu realitas masyarakat Bali terutama dalam bentuk perkawinan. Ketentuan perkawinan pada golongan bangsawan yang menjadi kebiasaan dan tradisi sesuai dengan aturan yang ada. Dalam hal ini perkawinan menggunakan aturan yaitu golongan brahmana harus mengawini dari golongan yang sejenis. Keluarga Kenanga termasuk golongan brahmana, jadi dalam hal perkawinan Kenanga harus memilih laki-laki yang segolongan tidak boleh di bawah golongannya karena dapat merendahkan derajat keluarga. Disorganisasi Keluarga merupakan perpecahan keluarga karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan peran sosialnya. Dalam hal ini Kenanga mengalami perlakuan yang berbeda dari keluarga setelah kehadiran Kencana di dalam keluarga. Karena kehadiran Kencana merupakan kehadiran seorang bayi yang tidak wajarseperti kelahiran bayi pada umumnya. Kencana merupakan anak dari hasil permintaan kepada balian (dukun).

Penelitian Suprapti jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaannya terdapat pada teori yang digunakan untuk menganalisis. Jika dalam penelitian yang

(27)

dilakukan Suprapti menggunakan teori sosiologi sastra untuk menemukan realitas sosial yang terdapat pada novel, penelitian ini menggunakan teori psikologi sastra untuk menganalisis tokoh yang terdapat pada novel Kenanga.

Selanjutnya, artikel Ananda (2018) dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 7 No. 2 dengan artikel yang berjudul “Nilai Sosial dalam Novel Kenanga Oka

Rusmini” Menganalisis nilai sosial dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini,

untuk mengetahui relevansi penelitian ini (novel Kenanga karya Oka Rusmini) pada pembelajaran sastra di SMA. Metode penelitian yang dilakukan adalah kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra, yaitu pendekatan yang bertolak dari asumsi dasar bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan masyarakat, yang mengacu pada cara memahami dan menilai sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan (sosial). Berdasarkan hasil penelitin novel Kenangakarya Oka Rusmini, dapat disimpulkan: nilai sosial berupa nilai empati, nilai kerukunan, nilai kasih sayang, nilai keteladanan, dan nilai kesederhanaan. Nilai-nilai tersebut sudah sepantasnya untuk dikembangkan dan manfaatkan untuk kehidupan bermasyarakat. Melalui cerita dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini, pembaca dapat mengambil nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya serta dapat menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi patokan kita sebagai makhluk sosial. Hasil penelitian nilai sosialdalam novel Kenanga karya Oka Rusmini dapat dijadikan sebagai media atau sumber pembelajaran sastra di sekolah khususnya di SMA kelas XI semester 1.

(28)

Penelitian Ananda jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaannya terdapat pada teori yang digunakan untuk menganalisis. Jika dalam penelitian yang dilakukan Ananda menggunakan teori sosiologi sastra untuk menemukan nilai-nilai soaial yang terdapat pada novel, penelitian ini menggunakan teori psikologi sastra untuk menganalisis tokoh yang terdapat pada novel Kenanga.

Setiyaningsih (2018) dalam jurnal Surya Bahtera Vol.6 No.51 menulis artikel yang berjudul “Analisis Kearifan Lokal pada Novel Kenanga Karya Oka

Rusmini dan Skenario Pembelajarannya Di Kelas XII SMA” artikel ini membahas

mengenai (1) struktur novel Kenanga karya Oka Rusmini meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, amanat, sudut pandang dan bahasa dan gaya bahasa. (2) Analisis kearifan lokal yang terdapat dalam novel Kenanga karya oka rusmini meliputi bahasa (unggah-ungguh bahasa masyarakat Brahmana dengan Brahmana dan unggah-ungguh bahasa masyarakat Sudra dengan Brahmana), sistem pengetahuan (mempercayai balian yang dapat menyembuhkan segala penyakit dan permintaan-permintaan lainnya), organisasi sosial (hubungan kekerabatan antara kaum Brahmana dengan Brahamna yang sangatlah baik dan hubungan kekerabatan kaum Brahmana dengan Sudra yang tidak baik), sistem peralatan hidup dan teknologi (pakaian dan rumah pemujaan berupa kebaya dan Pura), sistem religi (upacara ngaben, upacara turun tanah, upacara potong gigi, sesajian, mempercayai balian, mempercayai adanya roh-roh halus) (3) Skenario pembelajaran struktur novel Kenanga karya Oka Rusmini di kelas XII SMA

(29)

berdasarkan kurikulum 2013 dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab dan pemodelan. Model yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model Discovery Learning. Langkah-langkah kegiatan pembelajarnnya meliputi: kegiatan pendahuluan (10 menit), kegiatan inti berupa pemberian rangsangan, identifikasi masalah, pembuktian, penarikan kesimpulan (160 menit), penutup (10 menit).

Penelitian Setyaningsih jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaan terletak pada masalah yang dibahas dan teori yang digunakan. Penelitian yang dilakukan Setyaningsih menggunakan teori antropologi sastra penelitian ini mengguakan teori psikologi sastra.

Selanjutnya, Zahra (2019) dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 yang berjudul “Ketidakadilan Gender dalam Novel Kenanga Karya

Oka Rusmini” mendeskripsikan ketidaksetaraan gender pada perempuan dalam

novel Kenanga karya Oka Rusmini. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui empat tahap: membaca dan memahami novel secara keseluruhan, menentukan karakter, mengidentifikasi data terkait jenis ketimpangan gender, faktor-faktor ketimpangan gender, dampaknya. ketidaksetaraan gender, dan inventarisasi data berdasarkan format data inventaris. hasil penelitian ini adalah (1) jenis ketimpangan gender adalah marginalisasi, subordinasi, stereotipe negatif, kekerasan dan beban; (2) faktor ketimpangan

(30)

gender yaitu faktor kasta, budaya patriarki, budaya, sosial dan ekonomi; (3) dampak ketimpangan gender adalah psikologis, hancurnya idealisme dan moral.

Penelitian Zahra jika dibandingkan dengan penelitian ini memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya terdapat pada novel yang dikaji yaitu sama-sama mengkaji novel Kenanga karya Oka Rusmini. Perbedaannya terdapat pada teori yang digunakan untuk menganalisis. Jika dalam penelitian yang dilakukan Zahra menggunakan teori feminisme, penelitian ini menggunakan teori psikologi sastra.

Selanjutnya, ada beberapa penelitian lain yang menggunakan kajian psikologi sastra humanistik yang dapat dijadikan kajian pustaka dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut:

Artikel Yuniarti (2013) dalam Jurnal Pendidikan Bahas Vol.2 No.2 yang berjudul “Analisis Aspek Kejiwaan Tokoh dan Nilai Pendidikan Karakter Novel

Surat Dahlan Karya Krhtisna Pabichara (Kajian Psikologi Sastra)” membahas

tentang aspek psikologis berdasarkan teori Abraham Maslow kebutuhan, aspek pendidikan pada Novel Surat Dahlah karya Khrisna Pabishara. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Data diambil dari kata-kata, frase, kalimat, pragraf, dan wacana yang relevan dengan aspek psikologis berdasarkan teori Abraham Maslow. Sumber data adalah Novel Surat Dahlan oleh Khrisna Pabichara. Hasil penelitian ini adalah aspek psikologis tokoh dan aspek pendidikan tokoh dalam Novel Surat Dahlan bisa analisis dari masing-masing karakter. Aspek psikologis yand terdapat dalam novel meliputi (1) kebutuhan

(31)

psikologis, (2) rasa aman, (3) rasa cinta dan kasih, (4) rasa kehormatan dan, (5) aktualisasi diri. Lima aspek tersebut saling berpengaruh terhadap kehidupan tokoh. Sedangkan aspek pendidikan meliputi nilai agama, kerja keras, mandiri, mencintai tanah air, dan tanggung jawab.

Penelitian ini terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Yuniarti. Persamaannya yaitu sama-sama menggunakan teori psikologi Humanistik Abraham Maslow. Perbedaannya terdapat pada novel yang dikaji dan rumusan masalah. Dalam penelitian ini penulis memiliki tiga rumusan masalah yang membahas wujud perilaku individualisme tokoh perempuan kasta brahmana, faktor penyebab perilaku individualisme perempuan kasta brahmana dan peran tokoh perempuan beda kasta menghadapi individualisme perempuan brahmana sedangkan dalam penelitian yang dilakukan Yuniarti dibahas aspek psikologis dan aspek pendidikan.

Juminartanti (2017) dalam jurnal Seloka Vol. 6 No.1 menulis artikel dengan judul “Aktualisasi Diri Tokoh Utama Pria dalam Novel Trilogi Makrifat

Cinta Karya Taufiqurrahman Al-Azizy” yang membahas mengenai : (1) profil

tokoh utama pria yang digambarkan dalam novel ini dikemukakan dengan menggunakan teori tokoh dan penokohan. Tokoh untuk menunjukkan individunya, sedangkan penokohan digunakan untuk meggambarkan perwatakan, sifat, dan perasaan tokoh. (2) Sifat-sifat khusus yang dimiliki tokoh pria dalam dalam mengaktualisasikan diri, seperti berorientasi realitas dengan akurat dan sepenuhnya, menerima diri sendiri, orang lain, dan alam sekitarnya, spontanitas, sederhana, dan wajar, memusatkan diri pada masalah di luar dirinya, mampu

(32)

membuat jarak dan menyendiri, lebih otonom atau berdiri sendiri, dsb. (3) cara tokoh pria mengatasi masalah sosial yang dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap identifikasi, untuk mengetahui dan mengenali masalah sosial yang terjadi, serta memberi peringatan kepada masyarakat lain akan adanya masalah sosial agar segera dilakukan penanganan selanjutnya. Kedua, tahap diagnosis, untuk mengetahui latar belakang dan faktor yang mendasari serta menyebabkan munculnya masalah sosial. Dan Ketiga, tahap treatment, untuk memecahkan masalah serta mengatasi dan menghapus masalah sosial yang terjadi. (4) mendeskripsi konteks sosial yang melatarbelakangi pengarang terhadap aktualisasi diri tokoh utama pria.

Penelitian yang dilakukan oleh Juminartanti jika dibandingkan dengan penelitian ini terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya yaitu sama-sama menggunakan teori psikologi Humanistik. Perbedaannya terdapat pada novel yang dikaji dan rumusan masalah. Dalam penelitian Juminartanti, fokus utama yang dijadikan bahasan adalah sifat tokoh utama pria mengaktualisasi diri dan cara tokoh utama pria menyelesaikan masalah sosial. Sedangkan rumusan masalah penelitian yang dilakukan penulis adalah wujud perilaku individualisme tokoh perempuan kasta brahmana, faktor penyebab individualisme tokoh perempuan kasta brahmana dan peran perempuan beda kasta menghadapi individualisme perempuan kasta brahmana.

Selain beberapa skripsi dan artikel yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat jurnal internasional yang yang relevan dengan penelitian ini. Salah satunya artikel yang ditulis oleh Shafiro (2003) dalam “Journal of Cross-Cultural

(33)

Psychology” dengan judul “Ukrainian and U.S. American Females Differences in Individualism / Collectivism and Gender Attitudes”. Fokus utama dari artikel ini

adalah untuk menguji individualisme/ kolektivisme dan sikap gender pada dua budaya yang berbeda yaitu Ukraina dan Amerika Serikat. Penelitian tersebut dilakukan pada 55 mahasiswi universitas negeri di Amerika Serikat bagian tenggara dan 50 mahasiswi di sebuah universitas perkotaan di Ukraina. Hasil temuan penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perempuan Ukraina dinyatakan lebih individualistis dan kurang kolektivis daripada perempuan Amerika Serikat, hal ini sangat mengejutkan karena Amerika Serikat secara konsisten digolongkan sebagai salah satu negara paling individualistis di dunia. Banyak penjelasan untuk temuan ini yang didasari oleh faktor independensi Ukraina yang relatif baru, sehingga warga Ukraina berpikir untuk langkah selanjutnya menuju kapitalisme, tergoda untuk berspekulasi bahwa orientasi individualistis yang diungkapkan di sini terkait dengan transisi politik dan ekonomi nasional (sistem politik dan ekonomi yang lebih kebarat-baratan, dengan penekanannya pada kebebasan dan pencapaian individu, biasanya dikaitkan dengan tingkat individualisme yang lebih tinggi). Analisis item mengungkapkan bahwa perbedaan terbesar dalam individualisme antara sampel Ukraina dan AS dikaitkan dengan item yang menilai keinginan untuk membuat keputusan independen, kebutuhan untuk menunjukkan otonomi yang lebih tinggi, dan kemandirian. Artikel tersebut relevan dengan penelitian ini karena sama-sama membahas individualisme antar perempuan, artikel ini membahas perbandingan

(34)

individualisme antara Perempuan Ukraina dan Perempuan Amerika Serikat, penelitian ini membahas individualisme perempuan kasta brahmana.

Artikel selanjutnya ditulis oleh Greene (2012) dengan judul “Three

Ideologies of Individualism: Toward Assimilating a Theory of Individualisms and Their Consequences” dalam jurnal “Critical Sociology”. Artikel ini membahas

tentang budaya individualisme yang berkembang di Amerika Serikat yeng terjadi karena dukungan terhadap kapitalisme. Individualisme mendukung kapitalisme secara langsung termasuk dalam ideologis, hal itu disebabkan karena kepentingan pribadi yang menciptakan permintaan. Selain itu dalam artikel ini dijelaskan tiga prinsip ideologi indvidualisme antara lain: (1) ideologi kekayaan berkemauan sendiri, yang dimaksudkan adalah kesuksesan ekonomi menjadi tujuan utama individu dan ukuran nilai manusia yang valid. Individu yang berkemauan keras dan tekun harus selalu dapat mencapai kesuksesan ekonomi di Amerika. (2) Teologi kemandirian penuh, kemandirian individu adalah ukuran utama dari nilai individu. Mereka yang memiliki kekuatan dan tekad dapat mengatasi hambatan apa pun tanpa perlu bergantung pada orang lain atau sistem. (3) Ideologi harga diri tinggi, mewujudkan potensi individu 'tanpa batas' dan mencintai diri sendiri adalah tujuan utama. Hambatan untuk harga diri hanya ada di pikiran. Setiap individu yang ditambang harus dapat mencapai harga diri yang tinggi. Artikel ini relevan dengan penelitian yang penulis teliti karena sama-sama membahas tentang individualisme dan prinsip ideologi individualisme yang dapat dijaikan sebagai referensi dalam penelitian ini.

(35)

Selanjutnya, artikel yang ditulis oleh Kaur (2013) dengan judul “Maslow’s

Need Hierarchy Theory: Applications and Criticisms” dalam “Global Journal of Management and Business Studies”. Artikel ini membahas mengenai teori

motivasi yang dikemukan oleh Maslow yang dikenal sebagai teori hierarki kebutuhan serta penerapan teori ini ke dalam bidang manajerial pada organisasi khususnya dalam hal ini penerapan kepada para karyawan. Dalam artikel ini dibahas pentingnya faktor motivasi dalam meningkatkan pekerjaan karyawan, karyawan dengan motivasi bekerja yang tinggi akan menghasilkan peningkatan kinerja organisasi sehingga produktivitas menjadi tinggi, hal tersebut merupakan manfaat jangka panjang dari motivasi karyawan. Karena karyawan yang termotivasi adalah aset berharga yang menciptakan nilai bagi seorang organisasi dalam memperkuat pertumbuhan bisnis dan pendapatan. Nilai terbesar dari teori kebutuhan Maslow terletak pada implikasi praktis yang dimiliki untuk setiap manajemen organisasi. Dasar pemikiran dibalik teori ini terletak pada fakta bahwa teori ini dapat menyarankan kepada manajer agar bisa membuat karyawan atau bawahan menjadi aktualisasi diri. Hal ini karena karyawan yang diaktualisasikan cenderung bekerja pada potensi kreatif maksimum mereka. strategi yang dapat diterapkan antara lain sebagai berikut: mengenali prestasi karyawan, memberikan keamanan finansial, layanan untuk membantu karyawan yang diberhentikan dalam mendapatkan pekerjaan baru. memberi kesempatan untuk bersosialisasi, menjamin tenaga kerja yang sehat. Artikel ini relevan dengan penelitian yang penulis lakukan karena pada artikel ini menggunakan teori hierarki kebutuhan Maslow yang diterapkan pada bidang ekonomi khusunya perusahaan sedangkan

(36)

dalam penelitian yang penulis lakukan menggunakan teori Maslow untuk mengkaji karya sastra yang berkaitan dengan perilaku individualisme tokoh pada novel Kenanga Karya Oka Rusmini.

Artikel selanjutnya ditulis oleh Chadrakar (2014) dengan judul “Why ‘Ritiya’ Could Not Go To Sell Vegetables? Myth Versus Reality In Term Of Caste, Culture And Livelihood” dalam “Journal of Rural Social Sciences”. Artikel ini membahas mengenai tantangan yang dihadapi oleh perempuan kasta atas brahmana di daerah pedesaan di distrik Katihar, Bihar, India pada bidang pendidikan, nilai-nilai budaya, dan mata pencaharian di daerah pedesaan yang mengalami penurunan kualitas yang berimbas pada pemertahanan kesetaraan. penelitian ini dilakukan pada 20 wanita kasta atas (usia 24 hingga 44) melalui wawancara semi-terstruktur. Dalam artikel ini diungkapkan bahwa perempuan kasta brahmana yang hidup di desa memiliki aturan dan kesulitan yang harus dialami, adanya dorongan dan tuntutan lebih pada kaum brahmana khususnya perempuan kaum brahmana misalnya dalam bidang ekonomi kaum brahmana dituntut untuk mapan, dalam bidang pendidikan tidak ada kuota beasiswa bagi kaum brahmana, dalam bidang aturan adat perempuan brahmana dituntut lebih keras untuk menaati semua aturan. Selalu ada kritikan dan pengurangan nilai bagi kaum brahmana jika tidak hidup pada patokan yang sebagaimana masyarakat umum ketahui mengenai kaum brahmana yang merupakan kaum teratas. Artikel ini relevan dengan penelitian penulis karena mengungkapkan kerasnya kehidupan menjadi kaum brahmana bagi perempuan. Sehingga penulis memiliki gambaran

(37)

mengenai penyebab individualisme perempuan kasta brahmana sesuai dengan rumusan masalah yang penulis teliti.

Artikel berikutnya ditulis oleh Healy (2016) dalam “The British Journal of

Psychiatry” dengan judul “A Theory of Human Motivation by Abraham H. Maslow”. Artikel tersebut membahas pemikiran Maslow tentang konsep motivasi

manusia mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis (hirarki kebutuhan), Maslow membangun hierarki motivasi manusia yang berdasar dari satu kebutuhan kemudian bertumpu pada kepuasan sebelumnya dari kebutuhan lain. Pengertian dalam hal ini didasarkan pada diri manusia yang memiliki sejumlah kebutuhan dasar, kebutuhan yang asasi, yang mau tidak mau harus dipenuhi. Kebutuhan itu bersifat intuitif, ada dengan sendirinya. Oleh karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut, maka manusia terdorong (termotivasi) untuk mencari upaya pemenuhan kebutuhan tersebut. Jika kebutuhannya itu terpenuhi, maka manusia akan merasa “puas” (satisfied), dan sebaliknya, menjadi unsatisfied. Jadi, kebutuhan mendorong mucnulnya motivasi. Itulah sebabnya teori kebutuhan Maslow itu disebut juga dengan teori motivasi. Kebutuhan dasar sendiri terdiri atas kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa cinta dan dimiliki, dan kebutuhan akan harga diri. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi muncullah kebutuhan akan aktualisasi diri. Jurnal tersebut relevan dengan penelitian ini karena di dalamnya mengungkapkan pokok-pokok teori Maslow dan relevan untuk meneliti psikologi sastra serta dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini.

(38)

Artikel selanjutnya ditulis oleh Pandey (2017) dengan judul “Impact of

Religion-Based Caste System on the Dynamics of Indian Trade Unions: Evidence From Two State-Owned Organizations in North India” dalam jurnal “Business & Society”. Artikel ini membahas mengenai dampak dua stratifikasi sosial ditempat

kerja. Dua stratifikasi tersebut melibatkan kasta sebagai stratifikasi sosial tertutup yang lazim dalam agama Hindu yang telah menyebabkan ketimpangan dalam masyarakat dan serikat pekerja sebagai stratifikasi terbuka yang relatif baru lebih opsional yang memberdayakan pekerja serta mendorong kesetaraan. Penelitian tersebut dilakukan menggunakan cara wawancara mendalam dengan 43 anggota serikat pekerja, tiga pemimpin serikat pekerja dari dua organisasi milik negara di India Utara yang bertujuan untuk menguraikan pengaruh dari kedua stratifikasi tersebut dalam dunia bisnis. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa ada unsur yang tidak sesuai untuk serikat pekerja pada tingkat yang bawah karena adanya klasifikasi ganda karyawan sebagai anggota serikat pekerja dan anggota kasta yang dapat menciptakan konflik dalam fungsi sebagai serikat pekerja. Perpecahan stratifikasi sosial dan pekerja serikat buruh mengarah pada semakin melemahnya gerakan serikat pekerja di India. Artikel ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis karena sama-sama dihadapkan oleh masalah yang timbul karena adanya sistem kasta, artikel ini berfokus pada serikat pekerja sebagai objek kajian sedangkangkan penelitian ini berfokus pada perempuan sebagai tokoh kasta brahmana yang menjadi objek penelitian.

Dari beberapa penelitian yang sudah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa penelitian yang penulis lakukan belum pernah diteliti sebelumnya. Oleh

(39)

karena itu, penelitian yang penulis lakukan dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra khususnya perspektif psikologi humanistik Abraham Maslow. Penelitian ini diangkat dengan judul “Individualisme Perempuan Kasta Brahmana dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini”.

2.2 Landasan Teoretis

Selain kajian pustaka, pada bab ini juga akan dipaparkan mengenai teori yang mendukung pembahasan pada bab IV sebagai landasan pokok dalam pengkajian. Teori yang digunakan dalam skripsi ini, yaitu (1) novel dan pemikiran psikologis (2) teori psikologi sastra (3) teori psikologi humanistik Abraham Maslow (4) teori individualisme (5) teori psikologi kepribadian (6) teori perilaku antisosial (agresif).

2.2.1 Novel dan Pemikiran Psikologis

Novel sering kali dijadikan sebuah objek penelitian kesusastraan. Sebagai salah satu produk sastra, muatan yang ada di dalam novel cukup padat. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata dan mempunyai kompleksitas cerita. Novel pada dasarnya merupakan bentuk penceritaan tentang kehidupan manusia yang bersifat fragmentaris. Teknik pengungkapannya bersifat padat dan antar unsurnya merupakan struktur yang terpadu. Novel menceritakan kejadian yang luar biasa dari kehidupan para tokohnya. Menurut Nurgiyantoro (2000:14) Cerita yang baik hanya akan melukiskan detail-detail tertentu yang dipandang perlu agar tidak membosankan dan mengurangi kadar ketegangan cerita. Dari uraian tersebut menjelaskan bahwa agar tercapai maksud yang dituju

(40)

pengarang maka dalam menceritakan kejadian haruslah bersifat penting, luar biasa, dan yang dianggap perlu saja agar ceritanya tidak melenceng dari tema.

Novel terdiri atas unsur-unsur pembentuk, yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur instrinsik adalah unsur struktural formal yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur-unsur tersebut antara lain tema, penokohan, alur, latar judul, sudut pandang, gaya dan suasana. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur dari dunia luar karya sastra yang berpengaruh. Unsur-unsur itu adalah ekonomi, politik, filsafat, dan psikologi (Nurgiyantoro, 2000: 23-24). Psikologi merupakan unsur ekstrinsik dari karya sastra, namun peran psikologi dalam karya sastra sangat penting. Peran psikologi dalam karya sastra yaitu digunakan untuk menghidupkan karakter para tokoh yang tidak secara sadar diciptakan oleh pengarang.

Berdasarkan penokohannya, tokoh dapat diterima jika dapat dipertanggungjawabkan dari segi fisiologis, sosiologis, dan psikologis yang menunjang pembentukan tokoh-tokoh cerita yang hidup. Secara fisiologis, rincian penampilan memperlihatkan kepada pembaca tentang usia, kondisi fisik/kesehatan dan tingkat kesejahteraan para tokoh. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari kita kerap kali terkecoh oleh penampilan seseorang, bahkan kita dapat tertipu oleh penampilannya, demikian pula dalam suatu karya sastra, faktor penampilan fisik para tokoh memegang peranan penting sehubungan dengan karakterisasi.

Dimensi fisiologis meliputi ciri tubuh, raut muka, pakaian, dan segala perlengkapan yang dikenakan oleh sang tokoh (seperti sepatu, topi jam tangan, tas, perhiasan). Dari segi sosiologis, novel tidak menampilkan tokoh sebagai

(41)

manusia secara individual, namun lebih sebagai manusia secara sosial yang saling berinteraksi dengan tokoh lainnya dalam kehidupan bermasyarakat layaknya dalam kehidupan nyata. Sebagai sistem simbol, dalam novel terkandung keberagaman tokoh sebagai representasi multikultural tokoh-tokoh sebagai spesies. Dimensi sosiologis yakni unsur-unsur status sosial, pekerjaan, jabatan, peranan dalam masyarakat, pendidikan, kehidupan pribadi dan keluarga, pandangan hidup, agama dan kepercayaan, ideologi, aktifitas sosial, organisasi, kegemaran, ketutrunan, suku bangsa.

Berdasarkan segi psikologis, ada kaitan antara penokohan dengan psikologi karena tokoh dalam cerita novel biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan tingkah laku, sifat dan kebiasaan. Kejiwaan para tokoh dalam novel merupakan penggambaran manusia yang hidup di alam nyata sebagai model di dalam penciptaan seorang pengarang. Tokoh berperan penting dalam jalannya cerita, dengan adanya tokoh timbullah suatu peristiwa. Tokoh dipergunakan pengarang untuk menyampaikan maksud melalui ucapan, tingkah laku / perilaku dari tokoh. Bisa dikatakan bahwa unsur psikologi sangat berpengaruh terhadap unsur penokohan di dalam sebuah karya sastra. Dimensi psikologis yaitu mentalitas, norma, moral yang dipakai, tempramen, perasaan, keinginan pribadi, sikap, watak, kecerdasan, keahlian, serta kecakapan khusus.

Menurut Wiyatmi (2006: 14) sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dibatasi hanya pada “mahakarya”, yaitu buku-buku yang dianggap menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya yang diterapkan pada seni sastra,

(42)

yaitu dipandang sebagai karya imajinatif. Endraswara juga mengungkapkan bahwa karya sastra yang dijadikan subyek penelitian perlu diberlakukan secara lebih manusiawi. Karya sastra bukanlah barang mati dan fenomena yang lumpuh, namun penuh daya imajinasi yang hidup. Karya sastra tak jauh berbeda dengan fenomena manusia yang bergerak, fenomena alam yang kadang-kadang ganas, dan fenomena apapun yang ada di dunia dan akherat. Karya sastra dapat menyebrang ke ruang dan waktu yang kadang-kadang jauh dari jangkauan nalar manusia karenanya membutuhkan metode sendiri.

Antara psikologi dan novel mempunyai hubungan yang fungsional yaitu sama-sama berguna sebagai sarana mempelajari aspek kejiwaan manusia. Bedanya gejala yang ada dalam karya sastra novel adalah gejala-gejala kejiwaan manusia yang imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia riil. Meski sifat-sifat manusia dalam karya sastra novel bersifat imajiner, tetapi dalam menggambarkan karakter dan jiwanya pengarang menjadikan manusia yang hidup di alam nyata sebagai model dalam penciptaannya. Berdasarkan novel, ilmu psikologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekataan untuk menelaah atau mengkaji tokoh-tokohnya. Dalam menganalisis tokoh novel dan perwatakanya seorang pengkaji harus berdasarkan pada teori dan hukum-hukum psikologi untuk menjelaskan perwatakan dan kejiwaan manusia.

2.2.2 Teori Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks

(43)

berupa drama mau pun prosa. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah kejiwaan para tokoh fiksional yang terkandung dalam karya sastra, Ratna, 2003: 343 (dalam Minderop, 2013: 54). Sebagai dunia dalam kata, karya sastra memasukkan berbagai aspek kehidupan ke dalamnya, khususnya manusia. Pada umumnya, aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra, sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh-tokoh, aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan.

Psikologi sastra merupakan pengkajian karya sastra yang berlandaskan oleh teori psikologi. Secara definitif, tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya sastra (Ratna dalam Minderop, 2013:54). Selain itu, pendekatan psikologi sastra adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai aktifitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa dan karsanya dalam menciptakan karya sastra. Disamping itu, ia juga menangkap gejala jiwa tersebut yang kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan teks kejiwaannya.

Istilah psikologi sastra memiliki empat kemungkinan pengertian, yaitu; (1) studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi, (2) studi proses kreatif, (3) studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, (4) mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Pengertian pertama dan kedua merupakan bagian dari psikologi seni, dengan fokus pada pengarang dan proses kreatifnya. Pengertian ketiga terfokus pada karya sastra yang dikaji dengan hukum-hukum psikologi. Pengertian keempat

(44)

terfokus pada pembaca yang ketika membaca dan menginterpretasikan karya sastra mengalami berbagai situasi kejiwaan (Wellek & Warren, 1989:90).

Tiga cara yang dapat dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra, yaitu (1) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (2) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra, (3) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca (Ratna dalam Minderop, 2013:54).

Cara yang digunakan untuk menghubungkan psikologi dan sastra adalah memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh fiksional dalam karya sastra. Dengan demikian, antara psikologi dan karya sastra memiliki hubungan fungsional yaitu sama-sama berguna sebagai sarana mempelajari aspek kejiwaan manusia. Bedanya, gejala kejiwaan yang ada dalam karya sastra adalah gejala kejiwaan manusia yang imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia riil. Meskipun sifat-sifat manusia dalam karya sastra bersifat imajiner tetapi di dalam menggambarkan karakter dan jiwanya, pengarang menjadikan manusia yang hidup di alam nyata sebagai model di dalam penciptaanya. Oleh karena itu, dalam sastra ilmu psikologi digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk meneladani atau mengkaji tokoh-tokohnya. Maka, dalam menganalisis tokoh dalam karya sastra dan perwatakannya seorang pengkaji sastra harus berdasarkan pada teori dan hukum-hukum psikologi yang menjelaskan perilaku dan karakter manusia.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra merupakan kajian sastra yang pusat perhatiannya pada aktivitas kejiwaan baik dari tokoh yang ada dalam suatu karya sastra, pengarang yang menciptakan karya

(45)

sastra, bahkan pembaca sebagai penikmat karya sastra. Hal tersebut dikarenakan karya sastra merupakan cerminan psikologis pengarang dan sekaligus memiliki daya psikologis terhadap pembaca.

2.2.3 Psikologi Humanistik Abraham Maslow

Psikologi humanistik Abraham Maslow merupakan salah satu cara untuk dapat memahami manusia sebagai individu yang dapat mewujudkan cita-citanya, mencapai suatu keberhasilan dan prestasi yang digambarkan dalam tokoh cerita yang ada di sebuah karya sastra. Maslow sebagai bapak dari psikologi humanistik beranggapan bahwa manusia adalah makhluk mulia yang mampu menunjukkan kemampuannya yang terbaik dalam kehidupan di masyarakat, bukan hanya sekedar individu yang dipenuhi dorongan-dorongan tidak sadar ataupun suatu produk dari stimulus-stimulus yang ada di lingkungan sekitar. Manusia bertingkah-laku untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya hirarki atau bertingkat untuk menjadi lebih maju dan memaksimalkan potensinya, percaya diri terhadap dunia luar dan juga menerima dirinya sendiri.

Dalam teori aliran humanistik, manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat, selalu bergerak ke arah pengungkapan potensi yang dimiliki apabila lingkungan memungkinkan. Humanistik merupakan suatu gerakan yang berakar pada eksistensialisme (setiap individu memiliki kekuatan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib/wujud keberadaan serta bertanggungjawab atas pilihan dan keberadaannya).

Maslow menyatakan bahwa setiap manusia adalah satu kepribadian secara keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi, yang menunjukkan eksistensi

(46)

manusia memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaanya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya itu. Akan tetapi manusia yang berupaya memenuhi dan mengekspresikan potensi dan bakatnya kerap kali terhambat oleh kondisi masyarakat yang menolaknya. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan seseorang mengalami problem kejiwaan dan ketimpangan perilaku (Krech, dalam Minderop, 2013: 48).

Salah satu teori pada psikologi humanistik adalah teori kepribadian Abraham Maslow, yang menekankan pada hierarki kebutuhan dan motivasi. Maslow meyakini bahwa manusia dimotivasi oleh kecenderungan atau kebutuhan untuk mengaktualisasikan, memelihara, dan meningkatkan dirinya. Kebutuhan-kebutuhan ini bersifat bawaan sebagai Kebutuhan-kebutuhan dasar jiwa manusia, yang meliputi kebutuhan fisik dan psikis. Menurut Maslow tingkah laku manusia lebih ditentukan oleh kecenderungan individu untuk mencapai tujuan agar kehidupan si individu lebih berbahagia dan sekaligus memuaskan.

Maslow menyampaikan teorinya tentang kebutuhan betingkat yang tersusun sebagai berikut: fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan dasar (fisik) yaitu kebutuhan dasar fisiologis yang meliputi kebutuhan makanan/minuman, pakaian, istrahat, seks, dan tempat tinggal harus lebih dulu dipenuhi sebelum beranjak pada pemenuhan kebutuhan psikis (cinta, rasa aman, dan harga diri).

(47)

Menurut Maslow kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemenuhannya karena terkait dengan kelangsungan hidup manusia secara fisik. Kebutuhan yang pemenuhannya tidak mungkin ditunda. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta akan terlebih dahulu memburu makanan dan menekan kebutuhan lain sampai kebutuhan fisiologisnya terpenuhi (goble, 87:71).

Adapun kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis yang dimaksud antara lain kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal dan seks. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan tentunya merupakan masalah yang terpenting apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka, seseorang akan cenderung bergerak untuk berusaha mencapai kebutuhan di atasnya demi untuk memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya karena besar kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis (goble, 87:71).

Kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah potensi paling dasar dan besar bagi semua pemenuhan kebutuhan di atasnya. Adapun kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Kebutuhan Makanan Dan Minuman

Manusia yang lapar akan selalu termotivasi untuk makan dan minum, bukan untuk mencari teman atau dihargai. Manusia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan lain sampai kebutuhan fisiologisnya itu terpuaskan agar memperoleh keseimbangan dalam berpikir untuk kebutuhan selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Istilah lebih baik yang cocok untuk arti luas seperti "komputer" adalah "yang mengolah informasi " atau " sistem pengolah informasi ."

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memvariasikan konsentrasi kitosan yang digunakan sebagai bahan matriks ataupun meneliti pola pelepasan obat dari matriks kitosan

Akankah esok kembali ,aku masih kau beri kehidupan yang berarti?. Wahai dunia dan

global yang terjadi saat ini, perusahaan harus tetap mampu menawarkan dengan baik kepada customer atas mobil-mobil Toyota dengan berbagai tipe yang ada di PT. Nasmoco itu

Sistem Single Sign On pada server SSO CAS telah berjalan ditandai dengan hanya membutuhkan satu kali operasi login melalui halaman web SSO CAS Server pada

Hasil pembuktian hipotesis yang ketiga dapat dijelaskan bahwa tidak terdapat perbedaan ROE (Return On Equity) yaitu besarnya jumlah laba bersih yang dihasilkan dari

Hasil analisis disimpulkan bahwa rasio profitabilitas dan rasio solvabilitas berpengaruh bagi auditor dalam memberikan opini audit going concern , sedangkan reputasi

Hasil pengujian ini sejalan dengan hasil penelitian Steffi Sigilipu (2013) yang menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi manajemen, sistem pengukuran kinerja dan sistem