2.2 Landasan Teoretis
2.2.3 Psikologi Humanistik Abraham Maslow
Psikologi humanistik Abraham Maslow merupakan salah satu cara untuk dapat memahami manusia sebagai individu yang dapat mewujudkan cita-citanya, mencapai suatu keberhasilan dan prestasi yang digambarkan dalam tokoh cerita yang ada di sebuah karya sastra. Maslow sebagai bapak dari psikologi humanistik beranggapan bahwa manusia adalah makhluk mulia yang mampu menunjukkan kemampuannya yang terbaik dalam kehidupan di masyarakat, bukan hanya sekedar individu yang dipenuhi dorongan-dorongan tidak sadar ataupun suatu produk dari stimulus-stimulus yang ada di lingkungan sekitar. Manusia bertingkah-laku untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya hirarki atau bertingkat untuk menjadi lebih maju dan memaksimalkan potensinya, percaya diri terhadap dunia luar dan juga menerima dirinya sendiri.
Dalam teori aliran humanistik, manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat, selalu bergerak ke arah pengungkapan potensi yang dimiliki apabila lingkungan memungkinkan. Humanistik merupakan suatu gerakan yang berakar pada eksistensialisme (setiap individu memiliki kekuatan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib/wujud keberadaan serta bertanggungjawab atas pilihan dan keberadaannya).
Maslow menyatakan bahwa setiap manusia adalah satu kepribadian secara keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi, yang menunjukkan eksistensi
manusia memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaanya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya itu. Akan tetapi manusia yang berupaya memenuhi dan mengekspresikan potensi dan bakatnya kerap kali terhambat oleh kondisi masyarakat yang menolaknya. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan seseorang mengalami problem kejiwaan dan ketimpangan perilaku (Krech, dalam Minderop, 2013: 48).
Salah satu teori pada psikologi humanistik adalah teori kepribadian Abraham Maslow, yang menekankan pada hierarki kebutuhan dan motivasi. Maslow meyakini bahwa manusia dimotivasi oleh kecenderungan atau kebutuhan untuk mengaktualisasikan, memelihara, dan meningkatkan dirinya. Kebutuhan-kebutuhan ini bersifat bawaan sebagai Kebutuhan-kebutuhan dasar jiwa manusia, yang meliputi kebutuhan fisik dan psikis. Menurut Maslow tingkah laku manusia lebih ditentukan oleh kecenderungan individu untuk mencapai tujuan agar kehidupan si individu lebih berbahagia dan sekaligus memuaskan.
Maslow menyampaikan teorinya tentang kebutuhan betingkat yang tersusun sebagai berikut: fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan dasar (fisik) yaitu kebutuhan dasar fisiologis yang meliputi kebutuhan makanan/minuman, pakaian, istrahat, seks, dan tempat tinggal harus lebih dulu dipenuhi sebelum beranjak pada pemenuhan kebutuhan psikis (cinta, rasa aman, dan harga diri).
Menurut Maslow kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemenuhannya karena terkait dengan kelangsungan hidup manusia secara fisik. Kebutuhan yang pemenuhannya tidak mungkin ditunda. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta akan terlebih dahulu memburu makanan dan menekan kebutuhan lain sampai kebutuhan fisiologisnya terpenuhi (goble, 87:71).
Adapun kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis yang dimaksud antara lain kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal dan seks. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan tentunya merupakan masalah yang terpenting apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka, seseorang akan cenderung bergerak untuk berusaha mencapai kebutuhan di atasnya demi untuk memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya karena besar kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis (goble, 87:71).
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah potensi paling dasar dan besar bagi semua pemenuhan kebutuhan di atasnya. Adapun kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan Makanan Dan Minuman
Manusia yang lapar akan selalu termotivasi untuk makan dan minum, bukan untuk mencari teman atau dihargai. Manusia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan lain sampai kebutuhan fisiologisnya itu terpuaskan agar memperoleh keseimbangan dalam berpikir untuk kebutuhan selanjutnya.
b. Kebutuhan Pakaian
Kebutuhan Fisiologis selain makan manusia memerlukan pakaian agar memudahkannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang termasuk kebutuhan mendesak dalam pemenuhannya dan diusahakan harus dipenuhi oleh manusia sebisa mungkin, sebab bila tidak terpenuhi seseorang akan merasa tidak percaya diri dalam menjalani kesehariannya. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan ini, tidak selamanya bisa terpuaskan sepenuhnya atau minimal bisa diatasi.
c. Kebutuhan Tempat Tinggal
Tempat tinggal merupakan kebutuhan yang termasuk kebutuhan dasar fisiologis. Pemenuhan kebutuhan ini paling mendesak untuk didahulukan oleh setiap individu agar memudahkannya memperoleh ketenangan dalam mempertahankan kehidupannya secara fisik. Tanpa tempat tinggal, seseorang akan merasa terusik kehidupannya dari keadaan sekelilingnya. Hal tersebut dapat mempengaruhi pemikiran individu dalam menjalani kehidupannya, seperti tidak tenang karena merasa tidak terlindungi secara fisik. Seseorang akan berusaha memenuhi kebutuhan ini dengan cara apa pun agar memperoleh ketenangan dalam berpikir untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dengan tujuan dapat mencapai kehidupan yang lebih baik.
d. Kebutuhan Seks
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh sesuatu yang akan diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan. Salah satu kebutuhan mendasar adalah kebutuhan seks karena
kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar fisiologis yang benar-benar harus terpenuhi dan apabila tidak terpenuhi semestinya maka akan terjadi sesuatu penyimpangan seksual. Kebutuhan ini merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Kebutuhan ini berhubungan lansung dengan kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai makhluk seksual. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan ini, perlu pemikiran yang sehat agar dapat terpenuhi dengan baik. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktifitas seksual genital. Seks di lain pihak adalah istilah yang lebih luas. Seks diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda atau sama dan mencangkup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi.
2) Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan dasar yang kedua adalah kebutuhan rasa aman. Ketika kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi, kebutuhan akan keamanan menjadi aktif. Kebutuhan rasa aman ini mendorong individu untuk memperoleh ketenteraman, kepastian, dan keteraturan dari lingkungannya. Kebutuhan rasa aman pada dasarnya merupakan upaya pertahanan hidup dalam jangka panjang. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan jaminan, stabilitas, proteksi, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan, dan struktur hukum (Minderop,2013:283).
Kebutuhan rasa aman ini banyak ditemui pada anak-anak karena kesadaran mereka terhadap batasan diri masih kurang serta pada orang dewasa pada keadaan situasional tertentu (goble, 87:73). Sebagai contoh kebutuhan akan rasa aman bisa
diamati pada anak-anak karena ketidakberdayaan mereka. Sehingga perlu ada orang lain untuk memberikan keamanan bagi mereka. Seorang anak akan memberi respon ketakutan salah satunya dengan menangis apabila ia tiba-tiba melihat sesuatu yang asing dan meyeramkan. Pada orang dewasa kebutuhan rasa aman dibutuhkan dalam keadaan darurat, bencana atau situasi kegagalan organisasi dalam struktur sosial. Kebutuhan rasa aman dapat berbentuk usaha untuk memperoleh perlindungan fisik dan perlindungan psikologis. Perlindungan fisik meliputi perlindungan dari ancaman terhadap tubuh dan kehidupan seperti kecelakaan, penyakit, bahaya lingkungan, dll. Perlindungan psikologis dapat berupa perlindungan dari ancaman peristiwa atau pengalaman yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang. Adanya situasi yang tidak menyenangkan membuat seseorang mencari tempat atau orang lain yang dapat memenuhi kebutuhan rasa amannya.
3) Kebutuhan Cinta dan Rasa Memiliki
Kebutuhan cinta dan rasa memiliki merupakan kebutuhan yang muncul setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, seseorang akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang. Maslow menyatakan bahwa seseorang mencari cara untuk mengatasi rasa kesepian atau kesendirian. Kebutuhan ini meliputi dorongan untuk bersahabat, keinginan memiliki pasangan dan keturunan, kebutuhan untuk dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta.
Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki adalah suatu kebutuhan yang mendorong seseorang untuk mengadakan hubungan efektif atau ikatan emosional
dengan orang lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlawanan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kelompok di masyarakat. Kebutuhan rasa cinta adalah kebutuhan untuk saling menghargai, menghormati, dan saling mempercayai. Menurut Maslow cinta adalah hubungan sehat antara pasangan manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai. Dicintai dan diterima adalah jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga, sebaliknya tanpa cinta menimbulkan kesia-siaan, kekosongan, dan kemarahan (Goble, 87:75)
Dengan demikian, kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki ini merupakan kebutuhan yang pemenuhannya tidak bisa ditolak sebab dalam menjalani kehidupan baik di lingkungan keluarga mau pun di masyarakat diperlukan hubungan yang baik dan tentunya erat kaitannya dengan perasaan saling menghargai, menghormati dan saling mempercayai dan jika kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki ini sudah terpenuhi dengan baik maka individu akan merasa percaya diri, dengan perasaan yang sehat dan berharga untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
4) Kebutuhan Penghargaan
Setelah kebutuhan cinta dan rasa memiliki manusia membutuhkan penghargaan. Kebutuhan penghargaan bisa termasuk kebutuhan harga diri maupun penghargaan dari orang lain. Harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, dan kebebasan. Penghargaan dari orang lain meliputi prestise, pengakuan, pemberian perhatian, kedudukan, nama
baik, dll (Goble, 87:76). Manusia memiliki kebutuhan untuk dihormati oleh orang lain, dipercaya oleh orang lain dan kestabilan diri. Ketika kebutuhan ini sudah dicapai maka tingkat percaya diri seseorang tersebut juga akan meningkat dan memiliki harga diri yang tinggi. Hal ini akan berpengaruh terhadap peran sosial. Apabila kebutuhan penghargaan tidak bisa dicapai, maka orang menjadi depresi, tidak percaya diri, harga diri rendah, dan merasa tidak berharga atau berguna. Kebutuhan penghargaan dibagi menjadi dua bagian, antara lain:
1) Penghargaan diri sendiri, mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, kemandirian, dan kebebasan.
2) penghargaan dari orang lain, meliputi antara lain prestasi. Individu membutuhkan penghargaan atas apa yang telah dilakukannya.
5) Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan selanjutnya yang perlu dipenuhi setelah keempat kebutuhan yang lain terpenuhi adalah kebutuhan aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan tigkatan terakhir dari hierarki kebutuhan Maslow yang merupakan hasrat untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri, keinginan untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dapat dilakukan, dan keinginan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Apapun profesi seseorang apabila dilaksanakan secara maksimal maka akan mencapai kebutuhan ini.
Menurut Maslow, seseorang akan mampu mencapai kebutuhan ini apabila mampu melewati masa-masa sulit yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar.
Hambatan dari diri sendiri misalnya timbul rasa ragu-ragu, takut, malu dan sebagainya. Sedangkan kendala dari luar yang bisa menghambat pencapaian kebutuhan ini misalnya tidak ada kesempatan, diskriminasi dan sikap represif dari lingkungan (Minderop, 2013: 307)
Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini akan menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasaan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Apabila kebutuhan ini tidak bisa dicapai akan muncul kegelisahan, tidak tenang, tegang, dan merasa harga diri kurang. Jika kebutuhan akan rasa kasih sayang, tidak dicintai, lapar, tidak aman, maka akan mudah mengetahui apa yang membuat gelisah. Namun, kurangnya aktualisasi diri sulit untuk memehami dengan jelas apa yang seseorang inginkan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teori hirearki kebutuhan Maslow memiliki lima tingkatan kebutuhan dasar. Untuk mencapai kebutuhan dasar yang lebih tinggi, manusia tidak perlu memenuhi tingkatan sebelumnya. Kebutuhan dasar menurut Maslow meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih dan sayang, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.