• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDAULATAN PANGAN

Dalam dokumen i (Halaman 194-200)

Sri Warjiyati1 , Suyanto2

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Jl. Ahmad Yani No. 117, Surabaya ; Jl. Semolowaru No. 84, Surabaya

[email protected]1), [email protected] 2) Abstrak

Masyarakat Samin adalah sekelompok masyarakat yang menganut ajaran Saminisme. Ajaran Masyarakat Samin di dusun Jepang, desa Margomulyo, kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu dari sekian keturunan pengikut ajaran Samin Surosentiko. Permasalahan yang diangkat adalah

kearifan local masyarakat dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Ada keunikan masyarakat Samin di dalam membangun kedaulatan pangan. Masyarakat Samin memiliki prinsip bahwa untuk bertahan hidup mereka tidak harus makan nasi, tetapi juga dapat memelihara keanekaragaman pangan. Hal ini menarik untuk diteliti bagaimana strategi-strategi komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat Samin untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Penelitian ini dilaksanakan di dusun Jepang, desa Margomulyo, kabupaten Bojonegoro. Teknik analisis

menggunakan metode penelitian bersama masyarakat (CBR). Langkah-langkah pendampingan yang dilakukan dalam pengabdian ini melalui inkulturasi (pembauran kepada masyarakat secara langsung), mapping (baik mapping geografis dan sosial untuk memetakan kondisi fisik dan sosial masyrakat dampingan), pengorganisasian masyarakat secara partisipatif, FGD, dan melakukan aksi program dengan

mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan

partisipatoris bersama masyarakat Samin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi-strategi komunikasi masyarakat Samin di dalam mempertahankan tradisi dan

mewujudkan ketahanan pangan adalah direfleksikan di dalam tradisi arisan lumbung. Arisan lumbung ini salah satu pewarisan nilai tradisi antara lain tercermin kelestarian tradisi budaya Samin yang masih diterapkan masyarakat Samin sampai sekarang.

kata kunci : masyarakat samin, hukum adat lokal, lumbung pangan.

Abstract

The Samin community is a collection of people who adhere to the teachings of Saminism. The teachings of the Samin Society in the Japanese hamlet, Margomulyo village, Bojonegoro district are one of the many followers who follow the teachings of Samin Surosentiko. The problem raised is the wisdom of the local community in realizing food sovereignty. There is the uniqueness of the Samin community in building food sovereignty. The Samin community has the principle to survive. They don't have to eat rice, but can also support a variety of foods. This is interesting to talk about, communication strategies undertaken by the Samin community for food sovereignty. The research was conducted in the Japanese hamlet, Margomulyo village, Bojonegoro district. The analysis technique uses the joint community research (CBR) method. Mentoring steps undertaken in this service through inculturation (assimilation to the community through direct), mapping (both geographical and social mapping to map the physical and social conditions of the

assisted community), organizing community in a

participatory manner, FGD, and conducting an action program involving the community in participatory activities with the Samin community. The results showed that the communication strategies of the Samin community in the tradition of maintaining and realizing food security in the tradition of arisan barns. This arisan food barn is one of the inheritance of traditional values among others about the preservation of the Samin cultural traditions that are still applied by the Samin community to this day.

183 keywords: Samin community, local customary law, food barn.

A. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sember daya alam dan keragamaan budaya. Kebudayaan tersebut meliputi seni sastra, seni rupa, pengetahuan, filsafat atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan masyarakat (Abu Ahmadi, 1986:83). Masyarakat Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa baik yang sudah mengenal kebudayan luar ataupun yang belum terjemah nilai-nilai kehidupannya. Suku-suku bangsa yang mendiami Indonesia meskipun berbeda, namun memiliki satu kesatuan yang tidak dapat sipisahkan. Indonesia yang terdiri dari berbagai bangsa berhasil disatukan (Darmiyati Zuchdi, 2009:23) negara Indonesia sebagai wadah pemersatu beragam suku bangsa yang memebentang dari sabang sampe Meroke. Khazanah budaya tersebut yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia di mata dunia secara umum

Kebudayaan yang ada di Indonesia sangatlah beragam karena pulau-pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Dari keberagaman kebudayaan tersebut masing-masing budaya memiliki ciri khas tersendiri. Dengan keberagaman yang dimiliki, tata cara atau adat yang ada akan

menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda bagi kebudayaan lainnya.

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah seluruh sistem, gagasan dan rasa, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijdikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat, 1996). Dengan demikian kebudayaan merupakan perilaku yang muncul dari sebuah daerah atau suku yang perilakunya timbul dari masyarakat lokal itu sendiri.

Samin adalah sekelompok masyarakat yang menganut ajaran Saminisme. Ajaran ini berasal dari seorang tokoh bernama Samin Surosentiko yang lahir pada tahun pada tahun 1859 di Desa Ploso Kedhiren, Klopodhuwur, Randublatung, Blora. Ajaran Saminisme muncul sebagai reaksi terhadap pemerintah Kolonial Belanda yang sewenang-wenang terhadap orang-orang pribumi. Masyarakat Samin dikenal memegang prinsip kejujuran dengan teguh, yang bertujuan mencegah menyakiti orang lain.

Ajaran Masyarakat Samin di dusun Jepang, desa Margomulyo, kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu dari sekian keturunan pengikut ajaran Samin Surosentiko. Saat ini di dusun Jepang, masih ada sekitar 47 KK masyarakat Samin yang hidup berkelompok. Masyarakat Samin yang dulunya terisolasi dari dalam, sejak tahun 1990 mulai terbuka

185 dengan masyarakat luar. Selain berdirinya sekolah dasar sebagai tonggak pendidikan, program pemerintah baik fisik, sosial maupun budaya terus mengalir ke Dusun Jepang sebagai wujud perhatian pemerintah kepada masyarakat Samin (Munawaroh, 2015: 15).

Kepribadian yang dimiliki masyarakat Samin sejatinya polos dan jujur. Artinya, mereka terbuka kepada siapa pun, termasuk kepada orang-orang yang belum dikenalnya. Mereka menganggap semua orang sebagai saudara sehingga sikap kebersamaan selalu diutamakan. Sifat jujur dan terbuka tercermin dari perilaku, sikap maupun bahasa yang digunakan, serta selalu memiliki sikap terbuka kepada siapapun. Apa yang dikatakan sesuai dengan realita yang dialaminya. Segala sesuatu yang dilakukan tidak pernah direkayasa. Jujur merupakan satu dari sekian wujud sifat masyarakat Samin dari ajaran yang dianutnya (Mumfangati & Titi, 2004).

Masyarakat Samin di Dusun Jepang kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro, berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa lugu atau Jawa ngoko alus yang kadang bercampur bahasa krama. Oleh karena itu, pembicaraan mereka terdengar agak kasar seperti layaknya karakter orang Jawa Timuran. Masyarakat Samin mengejawantahkan kehidupan dengan solidaritas sosial. Pada masa pemerintahan sekarang ini, masyarakat Samin

menggunakan kiat atau strategi ngumumi, diam, tidak melawan pemerintah, tetapi tetap mengkritisi secara pasif. Pendeknya, dalam hidup masyarakat Samin tidak pernah menolak segala bentuk bantuan dari pemerintah, tetapi mereka juga tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun (Munawaroh, 2015 : 2).

B. METODE PENELITIAN

Teknik analisis menggunakan metode penelitian

bersama masyarakat (CBR). Langkah-langkah

pendampingan yang dilakukan dalam pengabdian ini melalui inkulturasi (pembauran kepada masyarakat secara langsung), mapping (baik mapping geografis dan sosial untuk memetakan kondisi fisik dan sosial masyarakat dampingan), pengorganisasian masyarakat secara partisipatif, FGD, dan melakukan aksi program dengan mendorong keterlibatan

masyarakat dalam kegiatan partisipatoris bersama

masyarakat Samin. Pandangan yang menganggap bahwa kebudayaan dan masyarakat suku-suku bangsa yang dideskripsi adalah kebudayaan masyarakat yang sederhana dan primitif (Koentjaraningrat, 1996 : 57)

1. Mengumpulkan data pada tahap ini, peneliti mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan deskriptif dengan melakukan observasi umum, dan mencatat hasil tersebut dalam catatan lapangan. Dalam penelitian ini, data yang terkumpul merupakan hasil

187 observasi lapangan melalui wawancara,

dokumentasi, dan pencarian literatur.

2. Menganalisis data setelah data lapangan terkumpul, tahap selanjutnya yang dilakukan adalah

menganalisis. Analisis ini meliputi pemeriksaan ulang catatan lapangan untuk mencari simbol-simbol budaya adat.

C. PEMBAHASAN

Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah Suku Samin. Pada pembahasan selanjutnya, peneliti menyebut Suku Samin dengan masyarakat Samin. Hal ini dirasa lebih tepat untuk menggambarkan kehidupan sosial dan budayanya. Namun sekitar tahun 1905 terjadi perubahan, karena para pengikut Samin mulai menarik diri dari kehidupan umum di desanya, menolak memberikan sumbangan pada lumbung desa dan menggembalakan ternaknya bersama ternak yang lain (Widiyanto, 1983). Sehingga pada waktu itu masyarakat Samin dapat diidentifikasikan sebagai masyarakat yang ingin membebaskan dirinya dari ikatan tradisi besar yang dikuasai oleh elit penguasa yaitu pemerintahan kolonial. Masyarakat Samin terkesan lugu, bahkan lugu yang amat sangat, berbicara apa adanya, dan tidak mengenal batas halus kasar dalam berbahasa karena bagi mereka tindak-tanduk orang jauh lebih penting daripada halusnya tutur kata. Kelompok

Dalam dokumen i (Halaman 194-200)