• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kultur Masyarakat Hukum Adat Samin dan Sedulur Sikep

Dalam dokumen i (Halaman 159-167)

DALAM MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang

2. Kultur Masyarakat Hukum Adat Samin dan Sedulur Sikep

Ajaran Samin (saminisme) yang disebarkan oleh Samin Surosentika (1859-1914), sesungguhnya adalah sebuah konsep penolakan terhadap budaya kolonial Belanda dan penolakan terhadap kapitalisme yang muncul pada masa penjajahan Belanda abad XIX di Indonesia. Sebagai gerakan yang cukup besar Saminisme tumbuh sebagai perjuangan melawan kesewenangan Belanda yang merampas tanah-tanah dan digunakan untuk perluasan hutan jati. Ajaran Saminisme muncul sebagai reaksi terhadap pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang kolonial tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri.

Ajaran Samin bersumber dari agama Hidhu-Dharma. Beberapa sempalan ajaran Kyai Samin yang ditulis dalam bahasa Jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional

147 (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha sebagai sinkretisme antara Hindhu dan Budha. Namun pada perjalanannya ajaran di atas dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. Pada prinsipnya, ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu.

Dalam hal kekerabatan Masyarakat Hukum Adat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada umumnya. Hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah kakek atau nenek. Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan Masyarakat Hukum Adat Samin memiliki tradisi untuk saling berkunjung terutama saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh.

Pandangan mereka terhadap lingkungan sangat positif, mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai alam pikiran Masyarakat Hukum Adat Samin yang sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Hal itu tidak

lepas dari filosofi tanah dalam kehidupan mereka, yaitu (Andi Setiono, 2011: 8-9) :

Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, yang memberi penghidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional, tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tanaman apa yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Hukum Adat Samin menyadari isi dan kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.”

Prinsip ajaran Samin Surosentika pada hakikatnya menyangkut tentang nilai kehidupan manusia, yang sempuma dan juga yang tidak sempurna. Ajaran itu digunakan sebagai pedoman bersikap dan tingkah laku manusia, agar selalu hidup dengan baik dan jujur untuk anak keturunan kelak. Ajaran yang hingga kini masih diugemi atau dilakukan, seperti: "Aja drengki srei, dahwen, kemeren, tukar padu, bedhog colong, begal kecu aja dilakoni, apa maneh kutil jupuk, nemu wae emoh" (jangan berbuat jahat, iri hati, bertengkar mulut, merampok mencuri dan menjambret, menemukan barang di jalan yang bukan miliknya tidak mau). Ajaran Samin Surosentika dihayati oleh para pengikutnya. Piwulang (ajaran) Samin Surosentiko, memberikan tuntunan dan membimbing manusia untuk berbuat baik dan jujur, tidak boleh panjang tangan, membenci kepada sesama, dan menyakiti hati orang lain.

149 Mereka percaya dengan melakukan ajaran Samin akan terlepas dari "hukum karma". Siapa yang melanggarakan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatannya. "sopo nandur pari thukul pari ngundhuh pari, nandur rawe thukul rawe ngundhuh rawe, ora bakal nandur pari thukul jagung ngundhuh rawe" (siapa menanam padi, tumbuh padi menuai padi, menanam rawe tumbuh rawe memetik rawe, tidak akan menanam padi, tumbuh jagung, memetik rawe). Setiap orang Samin meyakini betul adanya "hukum karma" tersebut Karena itu untuk bebas dari hukum karma ini manusia harus: "Nglakoni sabar trokal, sabare dieling-eling, trokale dilakoni" (Melaksanakan sabar tawakal, sabarnya selalu diingat, tawakalnya dijalankan).

Kontrol sosial yang dikembangkan dalam Masyarakat Hukum Adat Samin bersumber pada hati nurani atau cenderung pada pengendalian yang bersifat intern. Nilai-nilai yang dikembangkan antara lain, aja nglaraniyen ora pengin dilarani (jangan menyakiti jika tidak ingin disakiti), wong nandur bakal panen (siapa yang menanam akan memetik hasil), wong nyilih kudu mbalekna (orang meminjam wajib mengembalikan), wong kang utang kudu nyaur (orang yang berhutang harus membayar). Saminisme mempunyai kaidah dasar yang berupa pedoman hidup berprinsip sami-sami, artinya sebagai sesama manusia harus bersikap dan bertindak sama-sama, maksudnya sama-sama jujurnya, sama-sama adilnya, sama-sama saling menjaga,

sama-sama saling menolong, dalam bahasa kontemporer adalah terciptanya masyarakat yang homogen dan guyub. Oleh karena itu, mereka menggunakan istilah sedulur (saudara) untuk membahasakan diri sendiri kepada orang lain. Mereka mempunyai prinsip dhuwekmuya duwekku, duwekku ya duwekmu, yen dibutuhaken sedulur ya diikhlasake (milikmu juga rnilikku, milikku juga milik kamu, apabila diperlukan oleh saudaranya maka akan diikhlaskan.

Pada umumnya, masyarakat luar menyebut "Wong Samin", meskipun orang Samin sendiri tidak suka bila dikatakan Wong Samin. Sebab Samin dikonotasikan dengan perbuatan yang tidak terpuji yaitu (Mohammad Jamin dan Mulyanto, 2012: 19) :

“(1) dianggap sekelompok orang yang tidak mau membayar pajak; (2) sering membantah dan menyangkal peraturan yang telah ditetapkan; (3) sering keluar masuk penjara; (4) sering mencuri kayu jati; (5) perkawinannya tidak dilakukan menurut tatacara agama Islam.”

Para pengikut Saminisme lebih suka menyebut dirinya Wong Sikep. Dalam hal ini Masyarakat Hukum Adat Samin mengenal istilah: "Wong Sikep kukoh wati Adam, Wong Sikep kukoh nabi Adam (orang Sikep sangat kuat pertalian laki-laki dengan perempuan). Istilah sikep mempunyai arti yang masing-masing berbeda bergantung cara mengartikannya, diantaranya berasal (1) dari terjadinya manusia; (2) dari

151 kebatinan atau ngilmu Jawa dan (3) berdasarkan bahasa atau kertabasa. Berdasarkan asal terjadinya manusia, istilah sikep selalu dikaitkan dengan kata sikep rabi, maksudnya perbuatan seks: ngepyakke wiji isine manungsa sing sakbenere (menebarkan benih manusia yang sebenarnya). Maksudnya, sikep rabi diartikan sebagai tindakan yang bertanggungjawab. Orang yang belum bertanggungjawab disebut Adam Timur, Adam Birahi, dan Adam Tunggu (https://etnis.id/mengenal-ajaran-samin-dan-sedulur-sikep/).

Dari ngilmu tuwa sikep berarti isine sing diakep (intinya yang dipakai). Maksudnya untuk mencari isi diperlukan wadah, isi tersebut adalah kebajikan. Menurut pengertian ketiga, sikep adalah golek isene kekep (mencari makan), maksudnya mencari nafkah yang jujur. Antara pertengahan abad XIX dan awal abad XX orang Sikep ini sering mengadakan pembangkangan untuk menentang sistem pajak yang dirasakan sangat membebani. Berdasarkan pengertian di atas, Sikep dapat diartikan sebagai orang mempunyai rasa tanggung jawab atau orang yang bertanggung jawab. Oleh sebab itulah orang Samin lebih suka kalau disebut sebagai wong sikep. Artinya "orang yang bertanggung jawab"; suatu sebutan untuk orang yang berkonotasi baik, jujur. Bagi Masyarakat Hukum Adat Samin yang tinggal di Desa Klopoduwur, lebih suka menyebut dirinya "wong paniten".

Menurut Suripan Sadi Hutomo, Samin dan para pengikutnya mengidentifikasikan diri sebagai penganut Agama Adam atau The Religion of Adam, sebuah agama kawitan (permulaan) yang mengutamakan hubungan baik dengan alam dan hubungan bagi antar sesama manusia. Kitab sebagai pedoman agama ini adalah Jamuskalimasada yang terdiri dari 5 buku: Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, dan Serat Lampahing Urip (Suripan Sadi Hutomo, 1996 : 11-40). Pada lima serat inilah perjalanan spiritualitas Samin dan pengikutnya disandarkan. Manifestasi agama Adam terlihat dalam prinsip hidup sehari-hari. Dalam hubungan sosialnya, Samin menganggap semua orang adalah saudara, sinten mawon kulo aku sedulu (Nurudin et.all., Ed., 2003 : 55-60). Sedangkan terhadap alam, mereka memiliki prinsip lemah podo duwe, banyu podo duwe, kayu podo duwe, artinya tanah, air, dan kayu menjadi milik bersama.

Setelah Samin Surosentika meninggal di Padang - Sumatera Barat, tahun 1914, muncul tokoh-tokoh baru yang melanjutkana ajaran-ajaran dan perjuangannya: misalnya Wongsoreja, Pak Engkrek Surohidin, dan Karsiyah (Pangeran Sendang Janur). Wongsoreja pengikut Samin yang setia tahun 1908 menghasut penduduk Jiwan Madiun untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah Belanda. Surohidin menantu Samin Surosentika menyebarkan ajaran Samin di Grobogan-Purwodadi. Karsiyah (Pangeran Sendang Jamur)

153 pengikut Samin Surosentika menyebarkan ajaran Samin di Kajen, Pati.

Sikap perbuatan orang Samin diikuti dengan bukti-bukti yang nyata dan konsekuen menurut ajaran yang mereka terima. Berdasarkan sikap dan perbuatan ini dalam perkembangan berikut ada dua aliran Samin: Samin Lugu dan dan Samin Sangkak. Samin Lugu adalah orang-orang Samin yang bersikap sabar tidak pernah gentar sedikit pun, tidak pernah mendendam dan tidak suka membalas dendam terhadap siapa yang menyakiti meskipun itu lawan sekalipun. Segala sesuatu mereka hadapi dengan tenang, "sabar". Keyakinan mereka ialah hukum karma, becik ketitik ala ketara, "siapa yang berbuat baik/benar atau jelek/jahat, pasti akan berakibat yang selaras dengan perbuatannya". Samin Lugu adalah Samin "murni", penuh dengan tepa selira. Samin Lugu juga disebut Jomblo-lto, artinya lahirnya bodoh dan tidak mengerti, tetapi batin hatinya suci dan murni laksana emas.

Samin Sangkak adalah Samin pemberani, apabila mendapat serangan lawannya ia akan menangkis untuk melindungi diri. Menghadapi Samin Sangkak lebih sulit daripada menghadapi Samin Lugu atau Jomblo-lto. Samin Sangkak tidak mempunyai rasa tepa selira. Mereka mudah menaruh curiga kepada orang yang belum atau tidak mereka kenal, suka membantah dengan banyak alasan yang kurang masuk akal (nalar) maksudnya hanya untuk menangkis atau

menghindari serangan lawan. Untuk menghadapi orang Samin Sangkak perlu mendapat kepercayaan mereka, sekali mereka percaya, jangah kepercayaan mereka di langgar. Apalagi memberikan janji, harus ditepati atau paling tidak disertai dengan bukti-bukti yang nyata. Baik orang Samin Lugu maupun orang Samin Sangkak mempunyai perasaan dan budi yang halus. Mereka tidak suka bohong (ngapusi) dan jujur yang diutamakan (Andi Setiono, 2011: 52).

Dalam dokumen i (Halaman 159-167)