• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Sumber Daya Hutan Indonesia

Dalam dokumen i (Halaman 33-40)

Sebagaimana laut menyimpan keanekaragaman hayati bahari, hutan menyimpan banyak keanekaragaman hayati di

21 darat. Indonesia diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan hutan tropis terluas di dunia yang menyimpan berbagai keanekragaman hayati baik flora maupun fauna. Puluhan juta rakyat Indonesia hidup dari hutan, misalnya suku Dayak di Kalimantan, suku Anak Dalam di Sumatera, suku-suku di Papua, dan berbagai suku-suku di Sulawesi, Jawa, dan Nusa Tenggara. Sejak zaman nenek moyang, para leluhur Bangsa Indonesia hidup dari dan bersama dalam hutan. Bahkan setiap penelitian baru di Indonesia selalu ditemukan spesies baru.

Para leluhur Bangsa Indonesia itu hidup dari berburu dan meramu. Berburu binatang-binatang hutan, besar atau kecil, burung, reptil, maupun mencari ubi-ubian, daun-daunan untuk dimakan, obat-obatan, jamu, bahan pakaian, maupun batang-batang pohon untuk bahan bangunan, perahu atau kayu bakar. Dari yang paling sederhana maupun yang paling besar dan berharga diperoleh dari hutan. Hutan Indonesia telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan anggota masyarakat adat. Hutan telah menjadi habitat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Pada tahun 1999, Presiden Suharto mencanangkan Kalimantan Tengah sebagai lumbung pangan nasional dengan melalui lahan gambut satu juta Ha. Dengan Keputusan Presiden 26 Desember 1995, yaitu Keputusan Presiden No. 82 Tahun 1995 Tentang Pengembangan Lahan Gambut Untuk Pertanian Tanaman Pangan di Kalimantan

Tengah. Dalam Keputusan Presiden itu lahan gambut bakal ditanami padi untuk mewujudkan cita-cita swasembada pangan.16 Namun, proyek itu gagal, dan dihentikan tahun 1999. Kegagalan itu disebabkan karena Pemerintah kurang memahami kondisi sosial-budaya Masyarakat Adat Dayak. Masyarakat Adat Dayak adalah masyarakat dengan habitat hutan dan dengan demikian, tidak memahami budaya sawah. Kebijakan yang top down ini mengakibatkan kegagalan itu.

Kalimantan Tengah yang semula mempunyai

keanekaragaman hayati baik tanaman pangan hutan, ubi-ubian, buah-buah, daun-daunan, obat-obatan, rotan, kayu hancur oleh proyek tersebut. Hutan dibabat, kehidupan rakyat yang bukan habitat petani sawah, dipaksa menjadi petani sawah. Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah kehilangan habitat budaya hutan. Menurut Marko Mahin17 yang melakukan survey ketahanan pangan Oktober – November 2017 di 3 (tiga) Desa yaitu Desa Tewang Karangan, Desa Dahian Tunggal, dan Desa Tumbang Lawang di Kabupaten Katingan, menyatakan bahwa di Desa Tewang Karangan terdapat 34 jenis padi yang ditanam di sawah tadah hujan atau tegalan (padi gogo). Dari 3 jenis itu, 5 (lima) jenis di antaranya sudah langka, 5 (lima) jenis mulai langka, dan 24 jenis lainnya terbatas persediannya. Di Desa Dahian Tunggal

16. Christopel Paino, “Hutan Sebagai Sumber Ketahanan Pangan, Bisa Diwujudkan? Dalam Mongabay, Situs Berita Lingkungan,” (https://www.mongabay.co.id 25 Juli 2018) diakses 06 Juli 2020

23 terdapat 62 jenis padi sawah tadah hujan dan padi gogo. Di desa ini padi gembulus sudah menjadi jenis padi langka. Sedangkan 58 jenis lainnya masih tersedia. Di Desa Tumbang Lawang terdapat 79 jenis padi, 9 (sembilan) jenis jarang ditanam, dan 60 jenis lainnya selalu ditanam petani.

Menurut Arief Rachman menyatakan bahwa di Kalimantan mempunyai sistim pertanian yang dia sebut Kalimantan System. Kalimantan system ini disebabkan oleh perbedaan lingkungan sosial-budaya masyarakat adat Dayak yang berbeda dengan masyarakat Sumatera, Sulawesi, Jawa dan Bali. Kalimantan system ini disebabkan oleh beberapa faktor, a.l: a) tanahnya kurang subur sehingga dibutuhkan konservasi yang luas, b) kondisi alamnya berkaitan dengan kualitas air sungai dan air tanah asam, c) pola pemukiman penduduk yang dibentuk oleh aliran sungai, d) pantai yang berdekatan dengan rawa yang luas, dan e) pendapatan pendudukan secara personal, sebagian besar masih rendah.

Pada tahun 1976, industri kayu (pulp) masuk ke Kalimantan. Industrilisasi pulp ini membuat pengetahuan lokal masyarakat terhadap hutan mengalami degradasi (penurunan kualitas), kearifan lokal warisan leluhur mengalami penurunan. Hal ini berpengaruh pada perlakuan masyarakat lokal terhadap pangan lokal, juga mengalami penurunan. Padahal pendudukan asli bangsa Indonesia sudah sejak lama telah mampu melakukan adaptasi

lingkungan sekalgus menyatu dengan alam sebagai habitat hidup mereka.

Masyarakat petani di pedesaan sudah mengenal tamanan tumpangsari sebagai biodiversity dalam upaya mempertahankan kedaulatan pangan. Yang dimaksud dengan kedaulatan pangan adalah konsep pemenuhan pangan melalui produksi lokal. Kedaulatan pangan merupakan konsep pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.18 Menurut Syahyuti, dkk bahwa hingga kini konsep kedaulatan pangan merupakan suatu strategi dasar untuk melengkapi ketahanan pangan sebagai tujuan akhir pembangunan pangan. Kedua konsep itu yaitu kedaulatan pangan dan ketahanan pangan saling berkaitan satu sama lain. Ketahanan pangan berkenaan dengan hak akses petani atas seluruh sumber daya pertanian yang mencakup lahan, air, sarana produksi, teknologi, pemasaran serta produksi.

Hutan Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia sebab menghasilkan oxigen yang bermanfaat untuk pernapasan. Oxigen adalah produksi dari pohon-pohon sebagai hasil foto sintesa dengan panas matahari. Macam-macam hasil hutan Indonesia, seperti kayu kalimantan, Kayu hitam Papua. Macam-macam kayu, misalnya ulin, agathis 18. Syahyuti, dkk, Kedaulatan Pangan Sebagai Basis untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan. Journal Forum Agro Ekonomi, Vol. 33 No. 2, ISSN 0216-4361, E-ISSN 2580-2674 (2015).

25 (alba), meranti, sengon, jati, damar, rotan, bambu, eukaliptus (kayu putih), dan kapur barus. Di Timor ada kayu khas yaitu kayu cendana, gaharu.

Hasil hutan lainnya sebagai bahan makanan pokok masyarakat hutan adalah ubi-ubian. Ada macam-macam ubi, yaitu bawang, ubi talas, singkong (ubi kayu), gembili, wortel, bengkuang, kentang, ubi jalar (ubi tatas), suweg (Bahasa Inggeris disebut elephant foot yam), uwi (ubi), ganyong, gadung, dan garut. Ubi jalar ada bermacam-macam juga, yaitu ubi jalar berwarna putih, kuning, ungu, oranye, dan ubi cilembu. Bawang ada bermacam-macam juga, bawang putih (allium sativum atau garlic), bawang merah (shallot), bawang bombai (yellow onion), bawah merah besar (red onion), sweet onion (vadalias), white onion.

Selain ubi-ubian juga bahan makanan pokok, terutama untuk masyarakat NTT adalah jagung. Ada macam-macam jagung yaitu jagung mutiara (flint corn), jagung gigi kuda (dent corn), jagung manis (sweet corn), jagung brondong (pop corn), jagung tepung (flory corn), jagung ketan (waxy corn), dan jagung polong (pod corn). Untuk jenis padi, khusus padi lokal (selain hasil hibdrida) di Jawa saja, misalnya varietas kebo, dharma ayu, pemuda idaman (Indramayu), gropak (Kulon Progo), ketan tawon, gundelan (Malang), merong (Pasuruan), simenep, srimulih, andel jaran, ketan lusi, ekor kuda, angkong, bengawan, engseng, melati, markoti, longong, rejung kuning, umbul-umbul, tunjung, rijal, sri kuning, untup,

tumpang karyo, rangka madu, sawah kelai, tembaga, cina.19 Di Banyuwangi ada 3 (tiga) varietas unggul padi organik yaitu beras merah Blambangan (didaftarkan dengan nama Beras Merah Varietas Blambangan A3), Beras Hitam (didaftarkan dengan nama Beras Merah Varietas Hitam Melik A3), dan Beras Putih (didaftarkan dengan nama Beras Putih Varietas SOJ A3).20 Selain itu ada beras punal (enak) misalnya beras pandan wangi asal Cianjur (pulen dan wangi), ramos (IR64) khas Jawa Barat (pulen, gurih, dan tidak lengket), beras raja lele dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, beras pera (IR42), mentik (rendah kalori/kandungan gula), mentik susu, mentik wangi, dan solok dari Sumatera Barat.

Beberap jenis tanaman diatas hanyalah contoh dari jenis-jenis tanaman di Indonesia. Masih ada banyak varietas unggul maupun padi lokal asli Indonesia yang tidak dicatat dalam artikel ini. Yang ditulis dalam tulisan ini untuk menunjukkan bahwa kekeyaan alam Indonesia ini sangat bervariasi di setiap daerah, dengan nama, ragam, dan rasa. Berbagai macam tanaman pangan diatas dapat hidup subur jika memenuhi syarat seperti tanahnya subur, udaranya segar dan iklimnya stabil, airnya berlimpah. Ketiga syarat diatas terjamin jika hutannya sebagai penyimpan air, pengatur suhu

19. Nurman Insan, “Jenis-jenis Padi yang Ditanam Petani,” (https://ceritanurmanadi.wordpress.com 2011) diakses 5 Juli 2020.

20. Mohamad Taufik, “Tiga Varietas Padi Organik Asli Banyuwangi sudah Didaftarkan di Kementan,” (https://banyuwangi.merdeka.com, 2016), diakses 2 Juli 2020.

27 udara (CO2) terjamin. Sekalipun tanaman-tanaman tersebut tidak ditanam atau dibudidayakan di hutan seperti jenis ubi, pohon, fauna liar, akan tetapi tanaman pangan itu dapat hidup subur karena peranan hutan yang sangat penting.

Dalam dokumen i (Halaman 33-40)