• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PERMODALAN PERSEROAN TERBATAS DAN PERMODALAN DALAM KOPERASI

A. Kedudukan PT sebagai Badan Hukum

Perseroan terbatas merupakan suatu subjek hukum yang diakui oleh pemerintah Indonesia dalam bentuk badan hukum. Perkumpulan dari beberapa orang yang kemudian membuat suatu ikatan yang kemudian menjalankan fungsinya sesuai dengan tujuan dari dibentuknya badan hukum tersebut. Secara pengertian, PT memiliki arti “badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.23

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) sebagai aturan awal dari PT tidak mengatakan secara tegas akan keberadaan PT sebagai badan hukum akan tetapi memberikan penjelasan pertanggung jawaban suatu saham dalam perseroan, “Modal perseroan dibagi atas saham-saham atau Sero-sero atas nama atau blangko. Para persero atau pemegang saham atau sero tidak bertanggung jawab

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa perseroan terbatas adalah sebuah badan hukum yang didalamnya terdapat persekutuan modal yang dibentuk berdasarkan adanya perjanjian terhadap suatu kegiatan tertentu yang memiliki jumlah saham.

23

lebih daripada jumlah penuh saham-saham itu”.24

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagai aturan yang digunakan sekarang secara tegas menyebutkan bahwa PT adalah sebagai badan hukum yang terkandung dalam Pasal 1 UU PT, dengan demikian tidak perlu diragukan akan kedudukan Perseroan Terbatas sebagai badan hukum. Berikut arti dari badan hukum menurut beberapa ahli:

Kemudian pada Pasal 45 KUHD “para pengurus tidak bertanggung jawab lebih daripada untuk menunaikan sebaik-baiknya tugas yang diberikan kepada mereka; mereka tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap pihak ketiga atas perikatan perseroan”, kembali lagi tidak ada pernyataan tegas akan bentuk dari perseroan terbatas tersebut namun KUHD mengakui adanya kekayaan terpisah dari modal dan kekayaan pribadi dan juga mengenai pertanggung jawaban modal di perseroan terbatas sebatas jumlah modal/saham yang dimiliki oleh tiap-tiap pemiliki saham.

25

1. Teori Fictie dari von Sasvigny, badan hukum adalah semata-mata buatan negara saja. Sebetulnya menurut alam hanya manusia sajalah sebagai subjek hukum, badan hukum itu hanya suatu fictie saja, yaitu sesuatu yang sesungguhnya tidak ada, tetapi orang menciptakan dalam bayangannya suatu pelaku hukum (badan hukum) yang sebagai subjek hukum diperhitungkan sama dengan manusia

2. Teori Harta Kekayaan bertujuan dari Brinz, menurutnya hanya manusia saja yang dapat menjadi subjek hukum. Namun, juga tidak dapat dibantah adanya

24

Pasal 40 KUHD

25

Agus Budiarto,Keudukan Hukum Dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas (edisi kedua) (Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 21.

hak-hak atas suatu kekayaan, sedangkan tiada manusia pun yang menjadi pendukung hak-hak itu. Apa yang kita namakan hak-hak dari suatu badan hukum sebenarnya adalah hak-hak yang tidak ada yang mempunyainya dan sebagai penggantinya adalah suatu harta kekayaan yang terikat oleh tujuan atau kekayaan kepunyaan suatu tujuan

3. Teori Organ Daro Otto Van Gierke, bahwa badan hukum adalah suatu realitas sesungguhnya sama seperti sifat kepribadian alam manusia ada di dalam pergaulan hukum. Tidak hanya suatu pribadi yang sesungguhnya, tetapi badan hukum ini juga mempunyai kehendak atau kemauan sendiri yang dibentuk melalui alat-alat perlengkapannya (pengurus, anggota-anggotanya). Apa yang mereka putuskan adalah kehendak atau kemauan dari badan hukum. Teori ini menggambarkan badan hukum sebagai suatu yang tidak berbeda dengan manusia.

4. Teori Propriete Collective dari Planiol yaitu hak dan kewajiban badan hukum itu pada hakikatnya adalah hak dan kewajiban anggota bersama-sama. Disamping hak milik pribadi, hak milik serta kekayaan itu merupakan harta kekayaan itu merupakan harta kekayaan bersama. Anggota-anggota tidak hanya dapat memiliki masing-masing untuk bagian tidak dapat dibagi, tetapi juga sebagai pemilik bersama-sama untuk keseluruhannya. Disini dapat dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun itu semuanya merupakan suatu kesatuan dan membentuk suatu pribadi yang dinamakan badan hukum. Maka dari itu, badan hukum adalah suatu konstruksi yuridis saja.

Perseroan Terbatas t dijalankan dan dilaksanakan oleh Direksi. Pengelolaan atau pengurusan dilaksanakan oleh Direksi, ini sesuai dengan Pasal 1 angka 5 UU PT direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. Dalam Pasal 92 ayat (1) UU PT dikemukakan mengenai fungsi direksi dalam pengurusan PT untuk kepentingan PT yaitu direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.

Perseroan terbatas sebagai badan hukum berdasarkan tugas dan fungsi Direksi, bahwa badan hukum PT itu memiliki kehendak atau kemauan sesuai dengan kepentingan PT melalui alat-alatnya. Ini sesuai dengan teori organ yang dikemukakan oleh Daro Otto Van Gierke. Direksi yang merupakan bagian organ atau alat dari badan hukum, dibentuk dan dipilih untuk menjalankan segala kepentingan PT, baik kepentingan itu untuk melakukan perjanjian atau melakukan hal yang lain berhubungan dengan kepentingan PT. Berikut organ-organ yang ada di dalam suatu perseroan terbatas, yaitu:

1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

RUPS adalah organ perusahaan yang memegang kekuasaan,yang mana kewenangannya tersebut tidak diserahkan kepada direksi dan dewan komisaris. RUPS sebagai organ perusahaan merupakan wadah para pemegang saham untuk

mengambil keputusan penting yang berkaitan dengan modal yang ditanam dalam perusahaan, dengan memperhatikan ketentuan Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan. Keputusan yang diambil dalam RUPS didasari pada kepentingan usaha perseroan dalam jangka panjang.

Dapat dikatakan bahwa keputusan-keputusan yang menyangkut struktur organisasi perseroan misalnya perubahan anggaran dasar, penggabungan, peleburan, pemisahan, pembubaran dan likuidasi perseroan, hak dan kewajiban para pemegang saham, pengeluaran saham baru dan pembagian atau penggunaan keuntungan yang dibuat perseroan sepenuhnya termasuk wewenang RUPS. Dikatakan bahwa RUPS mempunyai kekuasaan tertinggi dalam perseroan, RUPS menjalankan kekuasaan perseroan secara de facto, secara eksklusif kewenangan diatur dalam anggaran dasar dan pembatasan tertentu bagi direksi yang memerlukan persetujuan RUPS. Tetapi perwakilan untuk pengurusan perseroan di dalam maupun di luar pengadilan tidak termasuk wewenang RUPS. Berikut wewenang RUPS sesuai UU PT, yaitu :

a. Memutuskan penyetoran saham dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya, misalnya dalam bentuk benda tidak bergerak (Pasal 34)

b. Menyetujui dapat tidaknya pemegang saham dan kreditor lainnya yang mempunyai tagihan terhadap perseroan menggunakan hak tagihnya sebagai kompensasi kewajiban penyetoran atas harga saham yang telah diambilnya (Pasal 35)

c. Menyetujui pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan (Pasal 38) d. Menyetujui penambahan modal perseroan (Pasal 41 ayat (1))

e. Memutuskan pengurangan modal perseroan (Pasal 44 ayat (1)

f. Menyetujui rencana kerja yang diajukan oleh direksi. (Pasal 64 ayat (3)) g. Memutuskan penggunaan laba bersih termasuk penentuan jumlah

penyisihan untuk cadangan. (Pasal 71)

h. Mengatur tata cara pengambilan deviden yang telah dimasukkan ke cadangan khusus. (Pasal 73)

i. Memutuskan tentang penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan, pengajuan permohonan agar perseroan dinyatakan pailit, perpanjangan waktu berdirinya, dan pembubaran perseroan. (Pasal 89 ayat (1))

j. Memutuskan pembagian tugas dan wewenang pengurusan di antara direksi dalam hal direksi terdiri atas 2 anggota direksi atau lebih. (Pasal 92 ayat (5))

k. Mengangkat anggota direksi. (Pasal 94 ayat (1))

l. Memutuskan ketentuan tentang besarnya gaji dan tunjangan anggota direksi. (Pasal 96 ayat (1))

m. Memutuskan tentang kewenangan direksi untuk mewakili perseroan dalam hal direksi lebih dari 1 orang. (Pasal 98 ayat (3))

n. Menyetujui untuk mengalihkan kekayaan perseroan, atau menjadikan jaminan utang kekayaan perseroan, yang merupakan lebih dari 50% jumlah kekayaan bersih perseroan dalam satu transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak. (Pasal 102 ayat (1))

o. Menyetujui dapat atau tidaknya direksi mengajukan permohonan pailit atas perseroan kepada Pengadilan Niaga. (Pasal 104)

p. Memberhentikan anggota direksi sewaktu-waktu dengan menyebutkan alasannya. (Pasal 105)

q. Mencabut atau menguatkan keputusan pemberhentian sementara anggota Direksi yang telah ditetapkan oleh dewan komisaris. (Pasal 106 ayat (6)) r. Mengangkat anggota dewan komisaris. (Pasal 111)

s. Menetapkan ketentuan tentang besarnya gaji atau honorarium dan tunjangan bagi anggota dewan komisaris. (Pasal 113)

t. Memutuskan dapat atau tidaknya dewan komisaris melakukan tindakan pengurusan perseroan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu. (Pasal 118 ayat (1))

u. Mengangkat komisaris independen. (Pasal 120 ayat (2))

v. Memutuskan tentang pengambilalihan saham oleh badan hukum berbentuk perseroan. (Pasal 125 ayat (4))

w. Memutuskan tentang penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan perseroan. (Pasal 127 ayat (1))

x. Memutuskan tentang pembubaran perseroan. (Pasal 142 ayat (1))

2. Dewan komisaris

Dewan komisaris adalah sebuah dewan yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direktur PT. Dewan komisaris merupakan organ perusahaan yang bertugas dan bertanggung jawab secara

kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi. Dalam melaksanakan tugas, dewan komisaris bertanggung jawab kepada RUPS. Pertanggungjawaban dewan komisaris kepada RUPS merupakan perwujudan akuntabilitas pengawasan atas pengelolaan perusahaan. Kinerja dewan komisaris dievaluasi berdasarkan unsur-unsur penilaian kinerja yang disusun secara mandiri oleh dewan komisaris. Pelaksanaan penilaian dilakukan pada tiap akhir periode tutup buku.

Dewan komisaris adalah organ pengawas mandiri. Menurut ketentuan Pasal 1 angka 6 UU PT jelas bahwa ada keharusan bagi setiap perseroan mempunyai dewan komisaris. Tugas utama dewan komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan yang dijalankan direksi, jalannya pengurusan tersebut pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan, dan memberi nasehat kepada direksi. Dewan komisaris tidak mempunyai peran dan fungsi eksekutif. Sekalipun anggaran dasar menentukan bahwa perbuatan-perbuatan direksi tertentu memerlukan persetujuan dewan komisaris, persetujuan dimaksud bukan pemberian kuasa dan bukan pula perbuatan pengurusan.

Tugas dan kewenangan pengawasan dipercayakan kepada dewan komisaris demi kepentingan perseroan, bukan kepentingan satu atau beberapa orang pemegang saham. Hal ini ditegaskan dalam pasal 85 ayat (4) UU PT yang melarang anggota dewan komisaris untuk bertindak selaku kuasa pemegang saham dalam pemungutan suara sewaktu RUPS. Dalam pengurusan perseroan kedudukan direksi dan dewan komisaris adalah setara. Komisaris adalah pengawas kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perseroan serta sebagai

penasihta direksi. Untuk mencapai efektifitas fungsi komisaris tersebut maka ditetapkan pula persyaratan untuk menjadi komisaris yang adalah sama untuk menjadi direksi.26

Dewan komisaris melakukan pengawasan, maka dewan komisaris bertanggung jawab atas pengawasan perseroan. Pertanggung jawaban tersebut diberikan sekali setahun pada waktu RUPS tahunan. Sedangkan tanggung jawab keluar, berkaitan dengan kerugian yang diderita oleh pihak ketiga. Dalam dal ini berlaku pula tanggung jawab seperti halnya direksi. Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 115 UU PT yang mengatur bahwa setiap anggota dewan komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng ikut bertanggung jawab dengan direksi atas kewajiban (utang) perseroan yang belum dilunasi bilamana terjadi kepailitan perseroan karena kesalahan atau kelalaian dewan komisaris dalam melakukan pengawasan terhadap pengurusan yang dilakukan direksi. Selanjutnya diatur pula dalam Pasal 115 ayat (2) bahwa tanggung jawab tersebut berlaku juga Tanggung jawab dewan komisaris mirip dengan tanggung jawab direksi. Perbedaannya adalah bahwa tanggung jawab dewan komisaris terdapat dalam bidang pengawasan atas kebijakan pengurusan yang dilakukan direksi dan pemberian nasehat kepada direksi, sedangkan tanggung jawab direksi terdapat dalam bidang pengurusan dan perwakilan perseroan. Tanggung jawab dewan komisaris terbagi atas tanggung jawab ke luar dan tanggung jawab ke dalam.

26

bagi anggota dewan komisaris yang sudah tidak menjabat 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan. Ketentuan serupa ditetapkan pula bagi mantan anggota direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya selagi menjabat telah menyebabkan perseroan dinyatakan pailit. Berikut rincian wewenang dewan komisaris dalam UU PT, yaitu:

a. Dewan komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan maupun usaha, dan memberi nasihat kepada direksi. (Pasal 108 ayat (1))

b. Dewan komisaris bertanggung jawab atas pengawasan perseroan. (Pasal 114 ayat (1))

c. Dalam hal terjadi kepailitan karena kesalahan atau kelalaian dewan komisaris dalam hal melakukan pengawasan terhadap pengurusan yang dilaksanakan oleh direksi dan kekayaan perseroan tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban perseroan akibat kepailitan tersebut, setiap anggota dewan komisaris secara tanggung renteng ikut bertanggung jawab dengan anggota direksi atas kewajiban yang belum dilunasi. (Pasal 115 ayat (1)).

Dewan komisaris wajib (Pasal 116), yaitu :

a. Membuat risalah rapat dewan komisaris dan menyimpan salinannya; b. Melaporkan kepada perseroan mengenai kepemilikan sahamnya dan/atau

keluarganya pada perseroan tersebut dan perseroan lain;

c. Memberikan laporan tentang tugas pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku yang baru lampau kepada RUPS

3. Direksi

Direksi adalah organ perusahaan yang bertanggungjawab penuh atas pengurusan perusahaan untuk kepentingan dan tujuan perusahaan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.27

Tugas dan wewenang untuk melakukan pengurusan perseroan adalah tugas dan wewenang setiap anggota direksi. Ditegaskan dalam tanggung jawab pribadi secara tanggung renteng yang diatur dalam Pasal 97 ayat (4) UU PT. Namun tugas dan wewenang direksi dibatasi oleh peraturan undang-undang, maksud dan tujuan perseroan dan pembatasan-pembatasan dalam anggaran dasar. Sehubungan dengan pembatasan-pembatasan yang mengikat direksi tersebut di atas UU PT dengan tegas dan jelas mengatur bahwa pembatasan dimaksud pada dasarnya tidak mempunyai akibat keluar yaitu bahwa perbuatan hukum yang dilakukan direksi tanpa persetujuan RUPS atau dewan komisaris tetap mengikat perseroan Dalam melaksanakan tugasnya, direksi bertanggung jawab kepada RUPS. Pertanggungjawaban direksi kepada RUPS merupakan perwujudan akuntabilitas pengelolaan perusahaan.

Kinerja direksi dievaluasi oleh dewan komisaris baik secara individual maupun kolektif berdasarkan unsur-unsur penilaian kinerja yang disusun oleh Komite Nominasi. Pelaksanaan penilaian dilakukan pada tiap akhir periode tahun buku. Hasil penilaian kinerja direksi oleh dewan komisaris disampaikan dalam RUPS.

27

sepanjang pihak lain dalam perbuatan hukum tersebut beritikad baik. Berarti bahwa pihak lain dimaksud dilindungi oleh praduga itikad baik yang merupakan suatu asas dalam Hukum Perdata Indonesia.

Perseroan adalah subyek hukum dan perseroan sebagai ciptaan hukum adalah orang buatan yang mutlak memerlukan direksi yang ditugaskan untuk menjalankan pengurusan dan perwakilan perseroan. Pasal 92 ayat (1) dan Pasal 98 ayat (2) UU PT menetapkan bahwa direksi adalah pengurus dan wakil perseroan. Tugas tersebut melahirkan kewajiban pada setiap anggota direksi untuk senantiasa menjaga dan membela kepentingan perseroan. Kelalaian dalam melaksanakan tugas tersebut berakibat bahwa setiap anggota direksi secara tanggung renteng dapat dipertanggungjawabkan. Selama anggota direksi menjalankan kewajibannya dalam batas-batas kewenangannya, anggota direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian perseroan. Berikut kewenagan beserta kewajiban direksi, yaitu :

a. Menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. (Pasal 92 ayat (1))

b. Direksi bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan. (Pasal 97 ayat (1)) c. Direksi mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan.

(Pasal 98 ayat (1))

Direksi wajib (Pasal 100 ayat (1)):

a. Membuat daftar pemegang saham, daftar khusus, risalah RUPS, dan risalah rapat direksi;

b. Membuat laporan tahunan dan dokumen keuangan perseroan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang tentang Dokumen Perusahaan;

c. Memelihara seluruh daftar, risalah, dan dokumen keuangan perseroan dan dokumen perseroan lainnya

d. Anggota direksi wajib melaporkan kepada perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam perseroan dan perseroan lain untuk selanjutnya dicatat dalam daftar khusus. (Pasal 101 ayat (1))

Direksi wajib meminta persetujuan RUPS untuk (Pasal 102 ayat (1)):

a. Mengalihkan kekayaan perseroan;

b. Menjadikan jaminan utang kekayaan perseroan, yang merupakan lebih dari 50% jumlah kekayaan bersih perseroan dalam satu transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak.

c. Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada satu orang karyawan Perseroan atau lebih atau kepada orang lain untuk dan atas nama perseroan melakukan perbuatan hukum tertentu sebagaimana yang diuraikan dalam surat kuasa. (Pasal 103)

Penjelasan mengenai tugas dari masing-masing organ perseroan terbatas membuktikan bagaimana organ-organ tersebut adalah suatu kesatuan yang memiliki tanggung jawab dan saling bekerjan sama dalam menjalankan perseroan agar tercapai perseroan yang sehat serta mandiri. Perseroan sebagai badan usaha yang berbentuk badan hukum berbeda dengan badan usaha seperti CV atau firma,

tidak memiliki hak tanggung jawab seperti subjek hukum lainnya, perorangan, maka berikut ciri-ciri dari bentuk badan hukum tersebut, yaitu:

1. Memiliki harta kekayaan yang terpisah

Perseroan Terbatas mempunyai harta kekayaan tersendiri yang terpisah dari harta kekayaan para perseronya dan didapat dari pemasukan para persero (pemegang saham), yang berupa modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor penuh. Harta kekayaan ini sengaja diadakan dan memang diperlukan sebagai alat untuk mengejar tujuan perseroan dalam hubungan hukumnya di masyarakat, misalnya dalam rangka membuat perjanjian-perjanjian dengan pihak ketiga. Kekayaan terpisah membawa akibat sebagai berikut:28

a. Kreditur pribadi dari persero dan atau para pengurusnya tidak mempunyai hak untuk menuntut harta kekayaan badan hukum itu

b. Para persero dan juga para pengurusnya secara pribadi tidak dapat menagih piutang badan hukum dari pihak ketiga

c. Kompensasi antara hutang pribadi dan hutang badan hukum tidak diperkenankan

d. Hubungan hukum, baik perikatan maupun proses-proses antara para persero dan atau para pengurusnya dengan badan hukum dapat terjadi, seperti halnya antara badan hukum dengan pihak ketiga

28

e. Pada kepailitan, hanya kreditur badang hukum itu saja yang dapat menuntut harta kekayaan yang terpisah itu.

2. Mempunyai tujuan

Perseroan terbatas merupakan subjek hukum yang memiliki tujuan tertentu, ini dapat dilihat dari anggaran dasarnya.29

Kepentingan sendiri yang dimaksud adalah merupakan hak-hak subjektifnya sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa hukum yang dialaminya dan kepentigan itu adalah kepentingan yang dilindungi hukum.

Ini dapat dilihat dari usaha perusahaan tersebut seperti PT. Bank BRI. Secara jelas perseroan ini bergerak di bidang perbankan.

3. Mempunyai kepentingan sendiri

30

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, perseroan terdiri dari organ-organ perseroan yang memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing. Masing-masing organ akan mempertanggung jawabkan setiap tindakannya kepada Maka dengan demikian peseroan memiliki kepentingan sendiri yang dapat mempertahankan kepentingannya terhadap pihak ketiga.

4. Mempunyai organisasi yang teratur

29

Ibid.

30

organ yang lain karena masing-masing organ akan selalui diawasi. Dengan demikian patutlah dikatakan bahwa perseroan terbatas memiliki organisasi yang teratur.