BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
PERMODALAN PERSEROAN TERBATAS DAN PERMODALAN DALAM KOPERASI
C. Permodalan dalam PT Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
Ada 3 (tiga) jenis modal dalam Perseroan Terbatas, yaitu: a. Modal dasar
b. Modal ditempatkan c. Modal disetor
Ketiga modal diatas berbeda bukan karena berasal dari mana modal itu berasal akan tetapi lebih kepada strukturalnya, yaitu modal yang ditujukan/diarahkan kepada persero itu sendiri. Modal PT berasal tetap dari pendiri perseroan itu sendiri, tidak dari pihak lain, berbeda dengan koperasi yang mengklasifikasikan modal yang diberikan kepada diarahkan ke koperasi dan dari mana modal itu berasal.
1) Modal dasar
Modal dasar dalam Peseroan Terbatas diatur dalam Pasal 31 ayat (1) UU PT, yaitu modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham.
38
Perkataan modal memberikan variasi makna tergantung dari sudut pandang akan tetapi apabila dihubungkan dengan perseroan, modal memiliki arti sesuatu yang diperoleh perseroan dalam bentuk uang melalui penerbitan saham (issued of shares). Uang itulah yang digunakan perseroan melancarkan kegiatan susah dan bisnis yang ditentukan dalam Anggaran Dasar.39
(1) Saham yang telah dibayar penuh oleh pemegang atau pemiliknya
Modal dasar perseroan pada prinsipnya merupakan total jumlah saham yang dapat diterbitkan oleh Perseroan. Anggaran Dasar sendiri yang menentukan berapa banyak jumlah saham yang dijadikan modal dasar. Jumlah yang ditentukan dalam Anggaran Dasar, merupakan nilai nominal yang murni.
2) Modal dikeluarkan/ditempatkan
Modal ditempatkan memiliki arti jumlah sahan yang sudah diambil pendiri atau pemegang saham, dan saham yang diambil itu ada yang sudah dibayar dan ada pula yang belum dibayar.dengan demikian modal ditempatkan adalah modal yang disanggupi pendiri atau pemegang saham untuk dilunasinya dan saham itu telah diserahkan kepadanya untuk dimiliki.
3) Modal disetor
Modal disetor memilki makna:
39
M. Yahya Harahap. Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Penerbit Sinar Grafika, 2009), hlm. 233.
(2) Jadi modal disetor adalah modal yang sudah dimasukkan pemegang saham sebagai pelunasan pembayaran saham yang diambilnya sebagai modal yang ditempatkan dari modal dasar Perseroan
2. Ketentuan Besaran Modal PT
Besaran modal PT masih tergantung pada struktural dari modal yang telah disebutkan namun besaran modal tersebut dapat saja berubah sesuai dengan Anggaran Dasar atau peraturan pemerintah. Ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Modal dasar
Jumlah nominal modal disetor yang dimaksud di dalam Pasal 31 ayat (1) UU PT adalah sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Dalam lanjutan Pasal 31 ayat (2) dan (3), dinyatakan bahwa undang-undang yang mengatur kegiatan usaha tertentu dapat menentukan jumlah minimum modal Perseroan yang lebih besar daripada ketentuan modal dasar dan perubahan besarnya modal dasar ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Nominal modal disetor dapat tidak sejumlah Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) tergantung dengan kegiatan usaha yang telah ditentukan dengan peraturan pemerintah akan tetapi apabila sesuai dengan UU PT, maka harus sesuai dengan Pasal 31 ayat (1) diatas. Dapat diberi contoh modal disetor yang nilai nominalnya lebih dari Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah), yaitu modal disetor dalam persyaratan membentuk bank umum. Dalam Pasal 4 ayat (1) SK Direksi BI No: 32/33/Kep/Dir tentang Bank Umum tanggal 12 Mei 1999, dikatakan bahwa modal disetor untuk mendirikan bank ditetapkan sekurang-kurangnya sebesar Rp.3.000.000.000,00 (tiga triliun rupiah).
Anggaran Dasar PT juga dapat mempengaruhi jumlah nominal modal disetor tersebut, namun tidak dapat dibawah dari Rp.50.000.000,- (lima puluh juga rupiah) karena sudah ditentukan nilai minimalnya dalam Pasal 31 ayat (1) diatas. Modal dasar
b. Modal dikeluarkan/ditempatkan
Menurut UU PT menyatakan bahwa paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar harus ditempatkan. Pada Pasal 33 ayat (1) UU PT mengatakan bahwa paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 harus ditempatkan dan disetor penuh. Modal ditempatkan merupakan kesanggupan pemegang saham untuk menanamkan modalnya ke perusahaan, sehingga ini dapat dikatakan bukanlah modal riil yang benar-benar sudah ada di perusahaan.
c. Modal disetor
Mengenai jumlah modal disetor adalah sama dengan modal yang ditempatkan yaitu 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar, ini sesuai dengan Pasal 33 ayat (1), “Paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 harus ditempatkan dan disetor penuh”. Dapat diberikan contoh mengenai modal disetor ini, yaitu apabila modal dasar berjumlah Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah) maka modal disetor adalah dari pemegang saham adalah 25% dari modal dasar tersebut yaitu Rp.12.500.000 (dua belas juta rupiah). Modal disetor adalah adalah modal riil yang benar-benar disetorkan oleh pemengang saham ke perusahaan. Modal dasar
bukanlah modal riil, karena ini merupakan modal yang masih dalam bentuk kesanggupan perusahaan semata dalam memiliki secara keseluruhan modal yang dimiliki.
3. Penambahan dan Pengurangan Modal PT
Perseroan dapat meningkatkan modalnya dengan cara melakukan penambahan yang prosesnya berdasarkan atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut Pasal 41 UU PT, RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris guna menyetujui pelaksanaan keputusan RUPS tersebut dalam rangka peningkatan modal Perseroan untuk jangka paling lama 1 (satu) tahun, dengan catatan bahwa penyerahan kewenangan teresbut sewaktu-waktu dapat ditarik oleh RUPS.
Penambahan modal dapat dilakukan pada modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor. Pada modal dasar berdasarkan Pasal 42 ayat (1), RUPS untuk penambahan “modal dasar” disamakan kualitas dan bentuknya dengan RUPS “perubahan” anggaran dasar. Oleh karena itu agar keputusan RUPS untuk menambah modal dasar sah:
a. Harus tunduk kepada ketentuan Pasal 88 jo. Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 21 ayat (2) huruf d UU PT
b. Oleh karena itu, RUPS dilakukan dengan memperhatikan persyaratan kuorum 2/3 bagian dari jumlah seluruh saham dengan haks suara, hadir atau diwakili dalam RUPS dan keputusan sah jika disetujui paling sedikit 2/3 dari jumlah suara yang dikeluarkan (Pasal 88 ayat (1) UU PT).
c. Keputusan RUPS harus mendapat “persetujuan menteri” (Pasal 21 ayat (1) UU PT).
Penambahan modal ditempatkan dan modal disetor berbeda dengan RUPS penambahan modal dasar. RUPS penambahan modal ditempatkan dan disetor, tidak dikategorikan RUPS perubahan anggaran dasar, tetapi disamakan dengan RUPS biasa sebagaimana uang diatur dalam Pasal 86 UU PT dengan demikian keputusan RUPS sah apabila RUPS dilakukan dengan kuorum kehadiran lebih dari ½ bagian dari seluruh jumlah saham dengan hak suara dan disetujui oleh lebih ½ bagian dari jumlah seluruh suara yang dikeluarkan kecuali ditentukan lebih besar dalam anggaran dasar. Wajib memberitahukan penambahan modal ditempatkan dan disetor kepada menteri untuk dicatat dalam Daftar Perseroan serta untuk diumumkan oleh Menteri dan TBN RI.
Pengurangan modal yang dimaksud adalah sesuai dengan Pasal 44 ayat (1) UU PT Terbatas yaitu keputusan RUPS untuk pengurangan modal perseroan adalah sah apabila dilakukan dengan memperhatikan persyaratan ketentuan kuorum dan jumlah suara setuju untuk perubahan anggaran dasar sesuai ketentuan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar”.
Penjelasan Pasal 44 UU PT adalah pengurangan yang menyagkut dengan pengurangan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor. Sama halnya dengan penambahan modal, pengurangan juga mempengaruhi anggaran dasar suatu perseroan.