LANDASAN TEORI
2. Kedudukan Poligami dalam Hukum di Indonesia
Pelaksanaan perkawinan di Indonesia sebagaimana telah disebutkan diatas, baru akan dianggap sah jika sudah memenuhi syarat-syarat tertentu. Salah satunya adalah kesesuaian dengan ketentuan hukum agama dari calon suami isteri.
Bagi umat Islam, banyak para ulama yang berpendapat bahwa pelaksanaan poligami diatur dalam Al-Quran surat An-Nisaa ayat 3. Terjemahan dari ayat dalam surat tersebut menyebutkan bahwa:
“Dan jika kamu khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak
yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu sukai: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu (masih) khawatir tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak
berbuat aniaya.” (Terjemahan surat An-Nisaa ayat 3, Al Quran).
Penggalan ayat dari surat tersebut menunjukkan bahwa umat Islam yang laki-laki boleh kawin sampai memiliki empat orang isteri dalam waktu yang bersamaan (poligami), namun dengan syarat harus mampu berlaku adil. Kata ‘Adil’ yang dimaksud ternyata bukan hanya mencakup pemberian materi (nafkah lahiriah/bersifat kuantitatif) seperti sandang,
pangan, papan dan giliran mengunjungi bagi para isteri dan anak-anaknya secara adil, namun juga mencakup keadilan dalam hal-hal yang mencakup pengembangan pribadi isteri dan anak-anak (nafkah batiniah/bersifat kualitatif) seperti pendidikan budi pekerti dan agama anak-anak dan isteri-isterinya, keadilan dalam masalah seks bagi para isteri serta keadilan dalam pemberian kasih sayang terhadap isteri dan anak-anaknya. Jadi atas pertimbangan beratnya syarat yang harus dipenuhi seorang suami untuk dapat beristeri lebih dari satu, maka agama Islam hanya membolehkan poligami dengan batas jumlah isteri maksimal hingga empat orang dalam waktu yang bersamaan.
Atas dasar hukum dalam Agama Islam itulah kemudian negara mengatur undang-undang tentang perkawinan. Hal ini dilakukan karena perkawinan adalah sesuatu hal yang memiliki hubungan yang erat sekali dengan masalah kerohanian, bukan hanya memiliki unsur lahir/jasmani saja, namun juga memiliki unsur batin/rohani. Negara Indonesia, yang bangsanya memegang falsafah bahwa ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa berada diatas segala-galanya, menempatkan masalah perkawinan dalam suatu posisi yang memiliki kedudukan dan kekuatan hukum.
Hal tersebut dituangkan dalam UU RI no. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan yang mengatur tentang beristeri lebih dari seorang (Poligami). Sesuai dengan Penjelasan UU RI no.1 tahun 1974, bahwa RI menganut asas monogami terbuka, dan poligami yang tertutup (dibatasi maksimal empat orang isteri dalam waktu yang bersamaan) bagi masyarakat
pemeluk agama Islam. Secara khusus, ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 3 ayat 1 dan 2, pasal 4 ayat 1 dan 2, serta pasal 5 ayat 1 dan 2, yaitu:
Pasal 3
(1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri, seorang isteri hanya boleh mempunyai seorang suami.
(2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
Pasal 4
(1) Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana
tersebut dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.
(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:
a.isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri
b.isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
c.isteri tidak dapat melahirkan keturunan. Pasal 5
(1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
a.adanya persetujuan dari isteri/isteri;
b.adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka;
c.adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.
(2) Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan
isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun atau karena sebab-sebab
lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.
Berdasarkan pasal-pasal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengaturan tentang poligami di Indonesia menyangkut dua hal, yaitu sebab-sebab yang membuat suami boleh berpoligami dan syarat-syarat yang harus dipenuhi suami jika ingin berpoligami.
Adapun beberapa sebab yang membuat suami boleh berpoligami adalah:
1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri.
Menurut Naseef terdapat beberapa kewajiban isteri dalam rumah tangga Islam diantaranya yaitu:
a. Isteri harus secara tulus ikhlas patuh terhadap suami.
Isteri harus mematuhi suami selama hal itu adalah hal yang baik, beralasan dan tidak melanggar hukum. Seorang isteri juga harus menjaga harta benda suami yang dipercayakan kepada isterinya termasuk anak-anaknya. Selain itu, isteri juga tidak boleh mengijinkan siapapun masuk ke dalam rumah tanpa ijin dari suaminya atau jika diperkirakan tamu tersebut adalah orang yang tidak disukai suami, sekalipun orang tersebut adalah keluarga isteri.
b. Isteri harus memenuhi keinginan suami kapanpun suami ingin berhubungan sex.
karena larangan yang sah. Pada saat isteri berpuasa wajib, salah satunya, adalah saat seorang suami tidak boleh meminta isteri untuk berhubungan seks dengannya, atau pada saat isteri sedang dalam masa haid.
c. Seorang isteri harus selalu bersih, rapi, dan ceria dalam penampilan di hadapan suaminya.
Penampilan seorang isteri yang paling baik adalah jika bisa membuat suami senang saat melihatnya.
d. Seorang isteri harus memenuhi tugasnya untuk mengatur rumah. Kewajiban seorang isteri untuk mengatur rumahnya adalah suatu hal yang sifatnya kondisional. Seorang isteri harus membantu membersihkan rumah dan mengatur urusan rumah tangganya karena suami tidak berada di rumah dan harus bekerja mencari nafkah. Jadi dalam mengatur kehidupan berkeluarga sehari-harinya suami dan isteri berkolaborasi mengatur semuanya.
2. Isteri memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau menderita seumur hidup.
3. Isteri tidak dapat memberikan keturunan.
Sedangkan beberapa syarat yang kemudian harus dipenuhi oleh suami jika hendak berpoligami diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mendapat persetujuan isteri.
2. Adanya kepastian mampu menjamin keperluan hidup semua isteri dan anak-anaknya.
3. Adanya jaminan bahwa suami akan bersikap adil.
Sikap adil yang dimaksud adalah adil dalam hal yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Menurut Abduh (Nurohmah, 2003) keadilan yang bersifat kualitatif meliputi perasaan sayang, cinta dan kasih. Lain halnya menurut para ahli fiqih, yang hanya mempertimbangkan keadilan yang bersifat kuantitatif, yaitu yang meliputi pemberian nafkah secara merata diantara isteri-isteri dan pembagian hari giliran.