• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

3. Kedudukan status sosial

Pernyataan MP (56) sesuai dengan YP (52) yang

menyatakan bahwa pangkat dan jabatan dalam kepolisian tidak memiliki pengaruh pada upacara rambu solo’. Menurut MP (56), seseorang yang memiliki pangkat yang tinggi tidak harus memotong banyak kerbau saat upacara rambu solo’.

Oo tidak tidak mempengaruhi pangkat dan jabatan di dalam kepolisian itu. (line 91-92)

Jadi ndak mutlak itu bahwa orang tinggi pangkatnya itu berarti dalam pesta adatnya nanti itu bahwa banyak juga kerbau di potongkan, tidak, ndak begitu. (line 92-95)

c. Gambaran mengenai pensiun 1. Masa pensiun

MP (56) menyatakan bahwa akan ada waktunya untuk

pensiun dan kembali pada masyarakat. Hal ini berdasarkan

dengan pernyataan berikut:

…… memang dari awal itu kita sudah tau bahwa ada saatnya kita masuk polisi, ada saatnya kita keluar. Tentu kita kembali ke masyarakat. (line 123-126)

2. Kesiapan pensiun

Hal yang dialami YP (52) dan YB (56) jjuga terjadi pada

MP (56) yang merasa siap untuk pensiun. Usaha sampingan yang

dilakukan MP (56) ketika pensiun nanti yaitu bertani dan

berternak. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut:

Pensiun ya kita siap. (line 2)

Mungkin ee yang dapat kita lakukan nanti kalau om sudah pensiun, bisa bertani, bisa beternak, kita siap-siap saja itu menyangkut masalah pensiun. (line 9-12)

77 Skema Informan 3 (MP) Menghadapi: - Memiliki usaha sampingan - Rencana memakamkan keluarga - Pertimbangan tentang kemampuan

- Merasa biasa saja menghadapi pensiun Rambu solo’ wajib

Menghindar:

- Mendukung rambu solo’ - Koordinasi dengan

keluarga

- Penyesuaian kemampuan finansial

Tidak ada beban rambu solo’ Permasalahan yang dihadapi

Gambaran tentang pensiun Masa pensiun 2 tahun lagi Memiliki persiapan pensiun • Tana’ Bulaan

• Tidak ada perbedaan pada pelaksanaan rambu solo’ • Tidak ada pengaruh

pangkat dan jabatan pada rambu solo’

• Memiliki pandangan religi Gambaran

78 4.4. Kesimpulan Analisis Ketiga Informan

Berdasarkan analisis di atas, dapat ditemukan tiga tema besar pada penelitian ini, yaitu gambaran mengenai rambu solo’, permasalahan -permasalahan yang dihadapi informan, dan strategi coping yang digunakan.

Pada gambaran mengenai rambu solo’ ditemukan ada beberapa subtema yang dijabarkan oleh para informan, yaitu tentang pelaksanaan rambu solo’, pengaruh dari rambu solo’, penyesuaian pada rambu solo’, pengaruh kasta pada rambu solo’, dan kepercayaan yang dianut.

Temuan lain yang ditemukan pada penelitian ini yaitu pada YP (52) yang mengungkapkan bahwa alasan membuat upacara rambu solo’ yang besar dengan memotong banyak kerbau dikarenakan adanya gengsi dan untuk

menunjukkan status sosial. YP (52) dan MP (56) juga mengungkapkan bahwa

pangkat dan jabatan yang mereka miliki tidak berpengaruh pada kegiatan rambu solo’. Lain halnya dengan YB (56) yang mengungkapkan bahwa ada pengaruh dari pangkat dan jabatan terhadap kegiatan rambu solo’. Menurutnya, ada perasaan malu apabila seseorang datang pada acara rambu solo’ tanpa membawa sesuatu atau datang pada acara tersebut dengan tangan hampa.

Perasaan malu tersebut telah mendarah daging dalam tubuh masyarakat Toraja.

Dari gambaran tersebut menimbulkan permasalahan khususnya bagi YP (52) dan MP (56) yang menganggap pelaksanaan rambu solo’ merupakan kewajiban bagi mereka. Berbeda dengan yang dialami oleh YB (56) yang

mengganggap bahwa dirinya sudah tidak memiliki kewajiban untuk melakukan adat rambu solo’ karena YB (56) memiliki keyakinan pada agamanya yang melarang untuk ikut melaksanakan adat rambu solo’ tersebut. Selain itu, tema permasalahan lainnya yaitu tentang beban pikiran yang dimiliki oleh YP (52)

dan YB (56) mengenai pendidikan dan masa depan anaknya.

Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut, para informan

memiliki strategi coping yaitu dengan cara menghadapi atau menghindari

masalah tersebut. Pada YP (52) dan MP (56), menghadapi kegiatan rambu solo’ dengan cara menghindari permasalahan seperti mendukung kegiatan rambu solo’, berkoordinasi dengan keluarga, tidak memaksakan diri mengikuti kegiatan rambu solo’, dan menyesuaikan dengan kemampuan finansial. Lain halnya dengan yang dilakukan oleh YB (56) yang memilih untuk menghadapi permasalahan secara langsung dengan cara menolak kegiatan rambu solo’ karena adat tersebut bertentangan dengan keyakinan yang dianut. Namun,

ketiga informan memiliki persamaan dalam menghadapi permasalahan lainnya

yaitu memiliki usaha sampingan. YP (52) dan YB (56) mengatasi beban pikiran

yang dimilikinya yaitu dengan memilih untuk membiayai pendidikan anaknya dibandingkan dengan membiayai pesta rambu solo’.

Pada YP (52), dirinya memiliki perasaan gembira karena merasa telah

mencapai kesuksesan hingga saat ini. Sedangkan YB (56) merasa ringan karena

4.5. Pembahasan

Adat merupakan norma-norma yang sah dan berfungsi mengatur

ketertiban dan keserasian hidup masyarakat (Tallulembang, 2012). Sejalan

dengan teori ini, adat budaya Toraja wajib untuk dilakukan oleh masyarakat

setempat karena diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang sehingga

perlu untuk dilestarikan. Masyarakat Toraja memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi adat budayanya, salah satunya budaya rambu solo’. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa para informan memiliki perbedaan perspektif terkait rambu solo’ seperti pengaruh dari pangkat dan jabatan, adanya gengsi dan status sosial, dan pandangan religi. Seperti yang diungkapkan oleh

informan YB (56) bahwa pangkat dan jabatan yang dimiliki oleh orang Toraja memiliki pengaruh pada acara rambu solo’. Adanya pengaruh kedudukan sosial menyebabkan timbulnya perasaan malu apabila datang dengan tangan hampa

pada acara tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Tangdilintin (2014) bahwa

upacara rambu solo’ ditentukan oleh kedudukan sosialnya dan kemampuan keluarganya mengadakan kurban pada upacara tersebut. Penelitian ini telah

memperlihatkan adanya gengsi yang dimiliki oleh orang Toraja, yang ditunjukkan dengan melaksanakan upacara rambu solo’ yang meriah dan besar seperti memotong banyak kerbau (informan YP). Perbedaan perspektif mengenai rambu solo’ muncul karena adanya proses yang dialami oleh para informan dalam melakukan upacara rambu solo’ sesuai dengan adat yang berlaku di daerahnya masing-masing.

Kedudukan sosial yang dimiliki oleh individu tidaklah berlangsung lama

karena akan ada masa akhir, yaitu pensiun. Masa pensiun tidak datang secara

tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses (Fardila, Rahmi, Putra, 2014). Proses

tersebut dialami oleh setiap orang yang bekerja sebagai bagian dari perjalanan

karir mereka. Begitu pula yang dialami oleh para informan ketika dihadapkan

pada masa akhir dari pekerjaan mereka yaitu masa pensiun. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa ketiga informan sedang menanti masa pensiunnya dengan

perasaan bahagia dan tidak sabar untuk segera pensiun. Perasaan gembira

dirasakan oleh informan YP (52) karena telah mencapai kesuksesan dan

menunggu untuk masa pensiun agar dirinya bebas dari pekerjaannya. Hal ini

juga dialami oleh YB (56) merasa lebih tenang dan ringan karena akan segera

pensiun sehingga beban yang dimilikinya telah berkurang. Berbeda dengan

yang dirasakan oleh MP (56) yang merasa biasa saja karena dirinya sadar

bahwa masa pensiun merupakan masa akhir dari pekerjaannya dan pada

akhirnya akan kembali dalam lingkungan masyarakat. Hal ini sejalan dengan

yang dikatakan Carver, Scheier, dan Weintraub (1989) mengekspresikan

perasaan terhadap masalah atau tekanan yang dialami disebut focusing on and

venting of emotion. yaitu. Respon yang ditunjukkan oleh ketiga informan sebagai salah satu bentuk strategi coping mereka dengan mengungkapkan rasa

Namun, ketika para informan pensiun nanti, mereka masih dihadapkan oleh tuntutan sosial yaitu membiayai upacara adat rambu solo’. Pelaksanaan upacara yang mahal membuat mereka perlu memikirkan strategi agar

mendapatkan penghasilan tambahan selain mengandalkan gaji pensiun yang

akan terima nanti. Hal ini sesuai dengan yang diungkapan oleh Paidi (2013)

bahwa masa pensiun adalah saat seseorang tidak lagi mendapatkan upah atau

gaji secara penuh karena sudah memasuki usia pensiun. Dalam penelitian ini,

ketiga informan mencari penghasilan tambahan dengan cara memiliki pekerjaan

sampingan seperti usaha kendaraan truck dan memelihara kerbau dan babi

(informan YP). Begitu pula dengan informan YB (56) dan MP (56) yang

memiliki pekerjaan sampingan yaitu bertani dan beternak.

Pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh ketiga informan sejalan

dengan yang dikatakan oleh Carver, Scheier, dan Weintraub (1989) salah satu

bentuk strategi coping yaitu problem focus coping berupa perencanaan

(planning). Planning adalah usaha yang dilakukan individu dengan berpikir

mengenai bagaimana cara mengatasi suatu masalah yang ada. Informan tidak

hanya merencanakan tetapi telah merealisasikannya dengan memiliki usaha

pada saat ini sebagai persiapan sejak dini yang akan dilanjutkan saat pensiun

nanti. Persiapan pensiun yang dilakukan yaitu dengan penerimaan, kesiagaan,

dan kesediaan individu terhadap keseluruhan perubahan yang terjadi dimana

2014). Teori tersebut sejalan dengan perilaku yang ditunjukkan para informan

dengan memiliki pekerjaan sampingan. Adanya pekerjaan sampingan membuat para informan dapat mengantisipasi jika ada pelaksanaan upacara rambu solo’ atau membayar hutang hewan kurbannya. Hewan ternak yang mereka miliki

dapat digunakan untuk diberikan pada upacara tersebut. Selain itu, istri dan

anak yang bekerja mampu meringankan beban dari tuntutan sosial yang

menekan informan. Kondisi ini membuat ketiga informan lebih siap

menghadapi masa pensiunnya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa coping telah dilakukan oleh

para informan, namun tidak mereka sadari. Coping yang digunakan sebagai

usaha untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh para informan

menjelang masa pensiunnya. Sejalan dengan teori Hapsari (2002, dalam

Wardani, 2009) bahwa coping merupakan reaksi terhadap tekanan yang

berfungsi memecahkan, mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh

tekanan. Orang Toraja pun mengunakan strategi coping untuk mengatasi tuntutan sosial seperti adat rambu solo’ harus dipenuhi karena merupakan kewajiban bagi mereka. Begitu pula yang dialami oleh para informan yang

harus memenuhi tuntutan adat tersebut yang saat ini berada dalam masa pra

pensiunnya. Situasi yang menekan membuat mereka menggunakan strategi

Menjelang masa pensiun, para informan dihadapkan pada berbagai

masalah yang harus mereka hadapi. Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan salah satu adat budayanya yaitu rambu solo’. Permasalahan yang dihadapi para informan kurang lebih sama yaitu mengenai kewajiban mengikuti adat rambu solo’, pendidikan anak dan keyakinan pada agama. Para informan pun mengatasi permasalahan yang mereka alami dengan menggunakan strategi

coping. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Papalia (2009) menyatakan

bahwa coping adalah cara berpikir atau perilaku adaptif yang bertujuan

mengurangi atau menghilangkan stres yang timbul dari kondisi berbahaya,

mengancam, atau menantang.

Pada penelitian Tumirin & Abdurahim (2015) memaparkan bahwa pengorbanan biaya yang besar untuk rambu solo’ memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Tana Toraja karena berdampak jangka panjang.

Hasil penelitian tersebut juga dialami oleh YP (52) dan MP (56) yang dapat

merasakan makna tersebut karena memiliki kewajiban untuk melaksanakan adat tersebut. Bagi mereka, pelaksanaan upacara adat rambu solo’ sebagai bentuk penghormatan terakhir pada salah satu anggota keluarganya yang meninggal. Rambu solo’ wajib untuk dilakukan karena merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun sehingga harus dilakukan oleh seluruh orang Toraja

sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, pelaksanaan upacara

memaksakan diri untuk mengikuti upacara rambu solo’. Perilaku yang ditunjukkan oleh YP (52) dan MP (56) tersebut sejalan dengan teori active

coping sebagai usaha untuk menghilangkan atau mengatasi masalah maupun memperbaiki dampak dari masalah tersebut dengan cara langsung (Carver,

Scheier, dan Weintraub, 1989). Selain itu, active coping yang dilakukan oleh

para informan yaitu lebih mengutamakan membiayai pendidikan anak dibandingkan acara rambu solo’.

Temuan unik dalam penelitian ini terlihat pada informan dua (YB) yang

menolak untuk mengikuti adat rambu solo’ (denial). Bagi informan, upacara rambu solo’ merupakan kewajiban bagi orang Toraja, tetapi dirinya dengan tegas menolak untuk mengikuti rangkaian adat tersebut. Adat rambu solo’ merupakan kegiatan yang berhala karena membuat pesta untuk orang yang

sudah meninggal. Adanya keyakinan pada agamanya membuat dirinya memutuskan untuk tidak lagi mengikuti kegiatan rambu solo’ dan meminta pengertian serta dukungan dari rumpun keluarga tentang keputusannya tersebut.

Keputusan untuk menolak menjalani adat rambu solo’ dilakukan sebagai bentuk pilihan hidupnya karena dirinyalah yang mengontrol kehidupannya sendiri untuk mengatur adat. Perilaku menolak adat rambu solo’ karena memiliki keyakinan pada agamanya ditunjukkan oleh informan YB (56) sejalan dengan

teori turning to religion, yaitu usaha individu menenangkan dan menyelesaikan

mengindikasikan bahwa informan tidak sepenuhnya menolak untuk melakukan upacara rambu solo’ tetapi tetap menghormati budayanya itu dengan ikut berperan dalam memberikan sumbangan seperti materi sesuai dengan

kemampuan finansialnya.

Menurut Paranoan (1990, dalam Guntara dan Ruja, 2016), rambu solo’ sebagai tempat bergotong royong, artinya salah satu ciri khas orang Toraja

adalah gotong-royong, hal ini terlihat dalam tradisi sembangan ongan (bantuan

keluarga atau kenalan sebagai ungkapan belasungkawa) yang ditujukan untuk

membantu pelaksanan ritus rambu solo’. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pada pelaksanaan upacara rambu solo’ dilakukan secara bergotong royong dan mendapat bantuan dari seluruh rumpun keluarga. Sifat gotong royong dan

bantuan dari keluarga merupakan strategi yang digunakan untuk mengatasi

masalah yang dihadapi ketiga informan. Hal ini sejalan dengan teori seeking

social support for instrumental reasons, yaitu usaha individu untuk mencari dukungan sosial seperti meminta pendapat, bantuan atau informasi untuk

menyelesaikan masalah (Carver, Scheier, dan Weintraub, 1989). Hal ini dikarenakan rambu solo’ merupakan upacara yang besar sehingga segenap rumpun keluarga berkoordinasi dan saling membantu untuk dapat melaksanakannya. Sebelum melaksanakan rambu solo’, informan satu (YP) berkoordinasi dengan keluarga untuk menentukan waktu yang sesuai agar dapat

ajang berkumpulnya keluarga sebagai suatu kesatuan. Dengan berkoordinasi

dengan keluarga, informan dua (YB) merasakan beban yang dimilikinya

berkurang karena pada saat pelaksanaan rambu solo’ untuk anggota keluarganya, informan masih membiayai pendidikan anak-anaknya. Keluarga

informan pun dapat memahami kondisi yang dialami oleh informan. Walau

demikian, informan tetap memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang

dimilikinya.

Strategi coping yang digunakan oleh informan tidak terlepas dari adanya

faktor-faktor pendukung coping tersebut. Menurut Lazarus dan Folkman (dalam

Huffman, et al. 2000), faktor-faktor pendukung coping terdiri dari health and

energy, positive beliefs, problem-solving skills, an internal locus of control, social skills, social support, dan material resources. Pada penelitian ini, faktor-faktor pendukung coping yang digunakan cenderung pada positive beliefs dan

social support. Hal ini dapat dilihat dari keyakinan pada agama (turning to religion) yang dimiliki oleh informan YB (56) yang memutuskan untuk tidak mengikuti adat rambu solo’. Keputusan tersebut dikarenakan adanya larangan dari agamanya. Walau demikian, keluarga menghormati dan berusaha

88

Skema Pembahasan

Deskripsi tentang Rambu Solo’ :

Deskripsi tentang pensiun:

Permasalahan yang dihadapi: - Rambu solo’ yang

wajib

- Pendidikan anak

- Keyakinan pada agama

- Tidak ada beban pada rambu solo’

PFC