• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

4 Kegiatan beribadah menurut agama

masing-masing - - Jumlah 96 100 %

Sumber: hasil jawaban responden

Berdasarkan tabel nomor diatas, menunjukkan kegiatan manortor bersama merupakan jawaban yang paling banyak dipilih responden untuk memperkuat / menjaga solidaritas antar kelompok marga . Persentasi dari jawaban ini sebanyak

70 %. Kegiatan manortor bersama ini merupakan tarian (tor-tor) yang dilakukan secara keseluruhan pomparan Raja Silahisabungan dengan musik yang gembira penuh semangat dan pada kesempatan ini mereka berbaur dengan marga lain lewat tor-tor bersama ini. Kegiatan manortor bersama ini memang diadakan untuk menjaga solidaritas antar kelompok marga.

Gambar 17

Keterangan gambar: Acara manortor bersama semua keturnan Raja Silahisabungan

Sedangkan responden yang menjawab kegiatan berjiarah bersama sebanyak 14%. Jawaban responden yang paling rendah ada pada opsi D yaitu kegiatan beribadah masing-masing sebanyak 0 % . Tidak ada satu responden yang menjawab bahwa kegiatan beribadah menurut agama masing-masing akan memperkuat keutuhan diantara mereka. Karena mereka sangat mengetahui bahwa masalah agama sangat sensisitif dan mampu menciptakan konflik diantara mereka. Kegiatan beribadah menurut agama mereka masing-masing hanya akan

menciptakan sikap fanatisme dan sikap peduli hanya kepada sesama mereka yang satu keturnan Raja Silahisabungan dan seaagama dengan mereka.

Tor-tor yang diiringi dengan Gondang Sitolupulu Tolu dalam pelaksanaan pesta tugu sangat memiliki peranan penting sebagai alat untuk mengintegrasikan kelompok keturunan raja Silahisabungan ini, sehingga Gondang tersebut sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan Upacara. Upacara pesta tugu raja silahisabungan bukan hanya dilaksanakan oleh keturunan raja silahisabungan yang berada di kecamatan Silahisabungan saja. Para keturunan raja Silahisabungan yang berada diluar kampung induk , kecamatan Silahisabungan, seperti yang berada di pulau Kalimantan, Jawa, Papua. Fungsi Gondang Sitolupulu Tolu sebagai media integritas keturunan Raja Silahisabungan dapat terlihat pula pada Gondang Sitolupulu Toludisajikan dalam prosesi upacara pesta tugu. Dengan pelaksanaan upacara pesta tugu yang menggunakan Gondang Sitolupulu Tolu, maka integritas dapat terjalin antara para keturunan Raja Silahisabungan yang berada di luar daerah ditanah perantauan dengan keturunan yang berada di daerah kampung induk di desa Silahisabungan. Gondang Sitolupu Tolu menjadi bagian yang sangat penting dalam pelaksanaan pesta Tugu. Selain digunakan sebagai sarana ritual, Gondang ini juga dapat sebagai hiburan bagi masyarakat yang melaks anakan pesta tugu. Gondang Sitolupulu Tolu juga digunakan untuk mengiringi tor-tor dalam pelaksanaan pesta tugu. Pada saat manortor (menari) diiringi Gondang Sitolupulu Tolu, sangat terlihat kepuasan hati dari para peserta acara pada saat manortor. Acara yang dilaksanakan satu tahun sekali tersebut, membuat rasa rindu para keturunan raja Silahisabungan yang berada di luar daerah terhadap kampung

halaman untuk manortor bersama dengan diiringi Gondang Sitolupulu Tolu pada pelaksanaan pesta tugu berikutnya.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan oleh penulis, dimulai dari Bab I sampai dengan Bab III, banyak hal yang telah ditemukan oleh penulis baik masalh teoritis maupun masalah teknis yang berkaitan dengan judul yang telah diteliti oleh penulis maupun kesimpulan dari hasil pengolahan data dan wawancara terhadap keturuanan Raja Silahisabungan maka diperoleh kesimpulan yaitu: pertama, latar belakang dibentuknya pesta tugu luhutan bolon makam raja Silahisabungan ini adalah dalam rangka memelihara dan melestarikan “hamoraon, hagabeon, hasangapon”, atau nilai keberhasilan para pomparan/keturunan Raja Silahisabungan yang sudah diraih sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu yang patut disyukuri maka diperlukan juga upaya untuk terpeliharanya rasa persaudaraan diantara seluruh pomparan/keturunan Raja Silahisabungan, kerinduan untuk berjiarah dan mengenang jasa-jasa Raja Silahisabungan yang telah sejak dahulu mempersatukan kedelapan anaknya adalah merupakan alasan yang melatar belakangi pesta tugu luhutan bolon makam Raja Silahisabungan ini.

Kedua, pesta Luhutan Bolon Tugu Makam Raja Silahisabungan ini merupakan alat integrasi sosial, karena dapat menyatukan seluruh keturunan dari Raja Silahisabungan, baik yang berada di kampung induk yaitu di desa Silalahi Nabolak, serta di perantauan. Dalam hal ini pesta luhutan bolon tugu makam ini

sangat mempunyai fungsi yang mampu mengintegrasikan seluruh keturunan tersebut.

Ketiga, faktor-faktor yang mampu mendukung berjalannya integrasi sosial dalam pesta tugu luhutan bolon makam raja Silahisabungan ini antara lain, sikap saling menghormati terhadap segala perbedaan yang ada, baik perbedaan agama, status sosial, dan suku, selain itu adanya sikap musyawarah mufakat dalam menyelesaikan maupun mengambil keputusan, adanya berbagai kegiatan seperti menari (manortor) bersama yang mampu membuat antar keturunan raja Silahisabungan menjalin interaksi sosial serta komunikasi menjadi lebih initim, selain itu juga adanya perilaku untuk gotong-royong dalam mendanai biaya pesta tugu, maupun perilaku gotong-royong dalam marhobas (melayani para tamu dalam menyediakan makanan), serta sikap loyal terhadap hukum poda sagu-sagu marlangan yang mereka junjung tinggi.

Keempat, fungsi pesta tugu luhutan bolon dalam upaya mempertahankan intrgrasi sosial pomparan/keturunan Raja Silahisabungan, mampu mempererat ikatan kekeluargaan antar pomparan/ keturunan Raja Silahisabungan mengingat pesta tugu yang diadakan setiap tahunnya, membuat pertemuan yang intensif diantara mereka sehingga ikatan kekeluargaan yang terjalin dapat semakin erat, selain itu, pesta tugu juga mampu memungkinkan proses interaksi sosial antar marga keturunan raja Silahisabungan menjadi sangat terbuka, menjaga ketahanan, keutuhan keturunan raja Silahisabungan dari perpecahan, serta mampu membangun sikap loyal terhadap adat mereka yang tentunya mempunyai fungsi untuk mempersatukan keturunan raja Silahisabungan.

Kelima, konflik atau ancaman dari kelompok luar, dalam hal ini Silahi raja, ternyata mampumembuat ikatan persaudaraan, solidaritas keturunan raja Silahisabungan semakin erat dan bersatu untuk menjaga silsilah sah / tarombo pomparan/keturunan raja Silahisabungan.

5.2 Saran

Melihat hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, pesta tugu luhutan bolon makam Raja Silahisabungan ini ternyata bersifat positif bagi pomparan/keturunan raja Silahisabungan. Peneliti mempunyai beberapa saran bagi pomparan/keturunan Raja Silahisabungan, antara lain:

1. Pesta tugu luhutan bolon memang sebuah alat yang mampu mengintegrasikan pomparan/keturunan Raja Silahisabungan, namun sebaiknya tidak dilakukan sebagai ajang untuk gengsi sosial terhadap kelompok marga lain dalam etnis Batak Toba.

2. Secara nyata, pesta tugu ini juga dapat mempererat persatuan dan kesatuan pomparan/keturunan raja Silahisabungan baik yang berada di kampung induk di desa Silalahi nabolak maupun di perantauan, untuk itu pesta tugu luhutan bolon ini harus terus dipertahankan.

3. Pomparan /keturunan raja Silahisabungan yang terdiri dari suku yang berbeda, dan agama yang berbeda-beda memang mampu memicu konflik antar marga Silahisabungan tersebut, untuk itu diperlukan sikap saling menghormati dan menghargai terhadap perbedaan yang ada, maupun tenggang rasa.

4. Dalam pengadaan pesta tugu luhutan bolon makam raja Silahisabungan ini, kesatuan hati dari seluruh panitia bolahan amak (panitia pelaksana) maupun seluruh pomparan/ keturunan Raja Silahisabungan harus diutamakan, hal ini di tujukan agar pesta tugu ini dapat berjalan dengan baik.

5. Poda sagu-sagu marlangan sebagai norma hukum pomparan/keturunan Raja Silahisabungan harus tetap dijunjung tinggi oleh keturunan Raja Silahisabungan karena mempunyai makna untuk mengatur mereka hidup dalam tali persaudaraan, terhindar dari perpecahan serta menyatukan mereka sebagai keturunan Raja Silahisabungan.

6. Sosialisasi tentang silsilah sah keturunan Raja Silahisabungan sangat diperlukan melalui pesta tugu ini agar generasi muda keturunan Silahisabungan tidak terkecoh atau bingung mengingat kelompok Silahi Raja yang senantiasa mengaku dan menuntut status mereka sebagai anak pertama dari Raja Silahisabungan.