• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Pengintegrasian Pendidikan Karakter

2) Kegiatan Spontan

a. Integrasi dalam Program Pengembangan Diri 1) Kegiatan Rutin Sekolah

Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya, pemeriksaan kebersihan badan, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, mengucap Salam.

2) Kegiatan Spontan

Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru atau tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik, yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Misalnya, mengkoreksi kesalahan ketika ada anak didik yang membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak, berkelahi. Selain itu, memberikan pujian ketika anak didik memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi 3) Keteladanan

Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik, sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. Misalnya, berpakaian rapi, datang tepat waktu, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan.

27 4) Pengkondisian

Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan itu. Sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang diinginkannya. Misalnya, toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat, dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi, dan alat belajar ditempatkan teratur.

b.Pengintegrasian dalam Mata Pelajaran

Pengembangan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Pengembangan Nilai- nilai-nilai itu dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini:

1) mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada Standar Isi untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang tercantum itu sudah tercakup didalamnya,

2) menggunakan tabel yang memperlihatkan keterkaitan antara SK dan KD dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan,

3) mencantumkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam tabel itu ke dalam silabus,

4) mencantumkan nilai-nilai yang sudah tertera dalam silabus ke RPP, mengembangkan proses pembelajaran secara aktif yang emungkinkan

28

peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai,

5) memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan untuk menginternalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku.

Thomas Lickona menyarankan agar pendidikan karakter berlangsung efektif maka guru dapat mengusahakan implementasi berbagai metode (Muchlas Samani, 2011:147).

1) Metode bercerita atau mendongeng (Telling Story)

Metode ini pada hakikatnya sama dengan metode ceramah, tetapi guru lebih leluasa berimprovisasi. Misalnya melalui perubahan mimik, gerak tubuh, mengubah intonasi suara seperti keadaan yang hendak dilukiskan dan sebagainya. Penggunaan alat bantu sederhana seperti bel kelinting, beberapa boneka, serta perangkat simulasi penunjang cerita. Ketika guru mendongeng, siswa diperbolehkan berkomentar atau bertanya, tempat duduk juga diatur bebas karena suasana dibuat santai, dan hal terpenting guru harus membuat kesimpulan bersama siswa (tidak dalam kondisi terlalu formal). Karakter apa saja yang diperankan para tokoh protagonis maupun antagonis yang dapat ditiru dan tidak boleh ditiru siswa atau harus dihindari.

2) Metode diskusi dan berbagai varian

Dalam pembelajaran umumnya diskusi terdiri dari dua macam, diskusi kelompok dan diskusi kelas (whole group). Diskusi kelas

29

umumnya dipimpin guru, bentuk diskusi ini tepat bagi siswa kelas tinggi. Sedangkan diskusi kelompok, berupa kelompok kecil yang anggotanya terdiri dari 2-6 orang, atau kelompok yang lebih besar. Pada akhir diskusi guru mempersilahkan setiap kelompok untuk memaparkan hasil diskusinya dalam waktu tertentu, memberi tanya jawab dengan kelompok lain, dan pada akhirnya guru membuat penekanan terhadap hal-hal yang penting tentang masalah yang sudah dipecahkan, menambahi hal-hal yang luput dari diskusi, dan membuat kesimpulan akhir bersama siswa. Ada beberapa metode diskusi kelompok yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter, antara lain adalah buzz group, panel dan diskusi panel, kelompok sindikat, curah pendapat, serta model mangkuk ikan atau model akuarium.

3) Metode simulasi (Bermain Peran/Role Playing dan Sosiodrama)

Dalam pembelajaran suatu simulasi dilakukan dengan tujuan agar peserta didik memperoleh keterampilan tertentu, pemahaman suatu konsep atau prinsip, serta bertujuan untuk memecahkan suatu masalah yang relevan dengan pendidikan karakter. Langkah-langkah permainan simulasi umumnya terdiri dari.

a) Penentuan tema dan tujuan permainan simulasi.

b)Menentukan bentuk simulasi berupa bermain peran, psikodrama, atau sosiodrama.

c) Guru sebagai “sutradara”, memberi gambaran secara garis besar

30

d)Kemudian guru menunjuk siapa berperan menjadi apa atau sebagai siapa.

e) Guru memberi waktu kepada para pemeran untuk mempersiapkan diri, untuk meminta keterangan kepada guru jika kurang jelas tentang perannya.

f) Melaksanakan simulasi pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. g)Guru dapat memberi saran perbaikan dan nasihat yang berharga bagi

siswa selama permainan berlangsung. 4) Metode pembelajaran kooperatif

Pada implementasi metode kooperatif ini dianggap paling efektif, karena pada pelaksanaannya saja sudah mengembangkan nilai karakter. Nilai-nilai tersebut antara lain adalah kerja sama, mandiri, terbuka, tenggang rasa, menghargai pendapat orang lain, berani berpendapat, santun berbicara, analitis, kritis, logis, kreatif, dan dinamis. Mata pelajaran apa saja jika menerapkan metode ini sudah mengimplentasikan pendidikan karakter. Pada umumnya dalam implementasi metode pembelajaran kooperatif para siswa saling berbagi (sharing), sebagai berikut:

a) Siswa bekerja sama tentang suatu tugas bersama, atau kegiatan pembelajaran yang akan tertangani dengan baik melalui karya suatu kerja kelompok.

b)Siswa bekerja sama dalam suatu kelompok heterogen yang terdiri dari 2-6 orang.

31

c) Siswa bekerja sama, berperilaku pro-sosial untuk menyelesaikan tugas bersama atau kegiatan pembelajaran.

d)Siswa saling bergantung secara positif, aktivitas pembelajaran terstruktur membuat siswa saling membutuhkan satu sama lain untuk menyelesaikan tugas bersama.

e) Setiap siswa bertanggung jawab secara individu terhadap tugas yang menjadi bagiannya.

5)Metode siswa aktif

Metode siswa aktif menekankan pada proses yang melibatkan anak sejak awal pelajaran. Guru memberikan pokok bahasan dan anak dalam kelompok mencari dan mengembangkan proses selanjutnya. Anak melakukan pengamatan, pembahasan, analisis sampa pada proses penyimpulan atas kegiatan mereka.

6)Metode penjernihan nilai

Metode ini dilakukan dengan dialog aktif dalam bentuk sharing atau diskusi mendalam dan intensif sebagai pendampingan agar anak tidak mengalami pembelokan nilai hidup. Peserta didik diajak untuk secara kritis melihat nilai-nilai hidup yang ada dalam masyarakat dan bersikap terhadap situasi tersebut. Penjernihan nilai dalam kehidupan amat penting, sebab apabila kontradiksi atau bias tentang nilai dibiarkan dan seolah dibenarkan maka akan terjadi kekacauan pandangan dalam hidup bersama. Banyaknya metode-metode yang digunakan dalam pendidikan karakter harus disesuaikan dengan mata pelajaran yang ingin disampaikan,

32

yang penting nilai-nilai karakter yang ditanamkan dapat disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

c. Pengintegrasian dalam Budaya Sekolah

Kemendiknas mengemukakan bahwa pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut (Jamal Ma’mur Asmani, 2012: 55-56).

Doni Koeoema menyatakan bahwa desain pendidikan karakter berbasis cultur sekolah mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa (Masnur Muslich, 2011: 91).

Marijan (2012: 257-258) menyebutkan bahwa sekolah hendaknya membangun budaya berkarakter dengan strategi sebagai berikut:

1) Menyusun program praktik pendidikan karakter di sekolah sebagai perilaku yang dibiasakan

2) Memberikan ruang dan kesempatan kepada warga sekolah untuk mengekspresikan perilaku-perilaku yang berkarakter baik

3) Guru tak henti-hentinya memberikan motivasi untuk mengembangkan karakter yang baik, motivasi mencintai karakter baik dan motivasi melakukan aksi berkarakter baik

4) Memperkuat kondisi sebagai wahana terlaksananya praktik pembiasaan bertindak sebagaimana karakter yang diharapkan dengan mmenerapkan reward dan sanksi yang tegas

5) Kepala sekolah, guru dan segenap tenaga kependidikan senantiasa memberikan tauladan sebagai kiblat peserta didik dalam bertindak pada rel pendidikan karakter.

Agus Wibowo (2012: 93) menyatakan bahwa cultur atau budaya sekolah dapat dikatakan sebagai pikiran, kata-kata, sikap, perbuatan, dan hati setiap

33

warga sekolah yang tercermin dalam semangat, perilaku, maupun simbol serta slogan khas identitas mereka.

Pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter dalam budaya sekolah mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah.

1)Kelas, melalui proses belajar setiap mata pelajaran atau kegiatan yang dirancang sedemikian rupa. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

2)Sekolah, melalui berbagai kegiatan sekolah yang di ikuti seluruh peserta didik, guru, kepala sekolah, dan tenaga administrasi di sekolah itu, dirancang sekolah sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam Kalender Akademik dan yang dilakukan sehari-hari sebagai bagian dari budaya sekolah.

3)Luar Sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain yang diikuti oleh seluruh atau sebagian peserta didik, dirancang sekolah sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam Kalender Akademik.

Dengan demikian, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai karakter di sekolah dapat dilakukan dalam program pengembangan diri, mata pelajaran, dan budaya sekolah. Bentuk pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam program pengembangan diri meliputi kegiatan rutin sekolah, kegiatan spontan, keteladanan, dan

34

pengkondisian. Selanjutnya, pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam budaya sekolah meliputi kegiatan kelas, sekolah, dan luar sekolah.